cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Al-Adyan
ISSN : 19071736     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Al-Adyan (ISSN 1907-1736) is a journal published by the Religious Studies, Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic Institute of Lampung, INDONESIA. Al-Adyan published twice a year. Al-Adyan focused on the Religious Studies, especially the basic antropology, local wisdom. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
Problem Solving Patologi Sosial Dalam Perspektif Islam Badi'ah, Siti
AL-ADYAN Vol 13, No 2 (2018): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.343 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v13i2.3294

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, minimalnya lapangan pekerjaan dan menurunnya tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap munculnya masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Masalah-masalah sosial dalam masyarakat tersebut sering disebut sebagai “patologi sosial”. Penyakit Masyarakat adalah perilaku dari anggota masyarakat yang dapat menimbulkan keresahan dan ketidaktentraman dalam kehidupan masyarakat. Penyakit masyarakat di kalangan sosial masyarakat saat ini sudah semakin marak di kalangan masyarakat khususnya pemerintah daerah dan sangat meresahkan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Contoh dari penyakit masyarakat adalah perjudian, perkelahian atau tawuran, penyalah gunaan narkoba atau NAPZA, alkoholisme atau mabuk-mabukan, pelacuran, korupsi, dan masih banyak lagi penyakit masyarakat yang terjadi di masyarakat saat ini. Patologi sosial merupakan salah satu masalah yang diperhatikan oleh Islam, berbagai macam persoalan telah dijelaskan dalam al-Qur’an untuk memecahkan masalah ini, misalnya memberikan hukuman bagi orang melakukan pencurian, mabuk - mabukan, membunuh, dan lain sebagainya merupakan ganjaran bagi orang yang melakukan suatu masalah yang bertentangan dengan hukum Islam. Penelitian ini merupakan upaya melihat masalah penyakit-penyakit masyarakat dalam kacamata al-Qur’an. Penelitian ini memiliki tiga fokus masalah yaitu: pertama; upaya untuk melihat jenis penyakit masyarakat dalam pandangan al-Qur’an, kedua; melihat hal-hal yang menjadi latar belakang munculnya patologi sosial, dan ketiga; upaya untuk menemukan solusi/pengatahuan terhadap patologi sosial menurut pandangan al-Qur’an.
Meretas Jejak Sufisme Di Nusantara Firdaus, Firdaus
AL-ADYAN Vol 13, No 2 (2018): Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (891.159 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v13i2.3854

Abstract

Sufisme yang datang dan berkembang di kepulauan nusantara adalah tasawuf yang sudah terlebih dahulu dirumuskan oleh para sufi yang ada di Timur Tengah. Para sufi yang menyebarkan ajaran tasawufnya di nusantara tinggal berusaha untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Sufi-sufi tersebut ada yang memang sengaja datang dari luar untuk berdakwah di nusantara dan ada pula putra daerah yang belajar langsung ke Timur Tengah kemudian pulang ke tanah air untuk mengembangkan ajarannya. Sejarah pemikiran tasawuf di Indonesia, Aceh menempati posisi pertama dan strategis, karena nantinya akan mewarnai perkembangan tasawuf di nusantara secara keseluruhan. Menelusuri aliran ini di nusantara, maka hal ini tidak lepas dari andil orang-orang yang melakukan belajar ke negara Timur Tengah. Diantara para pelopor berkembangnya aliran tasawuf di nusantara, sebagaimana yang disebutkan dibeberapa literatur diantaranya adalah: Hamzah Fansuri, Syamsudin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri Nuruddin Ar Raniri (wafat tahun 1658 M ), Abdur Rauf As Sinkili (1615 -1693 M ), Muhammad Yusuf Al makkasary (1629-1699 M). Abdus Shamad al Palimbani. Para pelaku tasawuf atau sufi dari awal hingga di Indonesia memperkenalkan ajaran tasawufnya juga dengan beragam polemik yang terjadi dan berkepanjangan, akan tetapi hal itu tidak menjadi pokok yang dipertentangkan oleh masyarakat.
KONSEPSI KETUHANAN SEPANJANG SEJARAH MANUSIA Baharudin, M.
AL-ADYAN Vol 9, No 1 (2014): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.691 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v9i1.1406

Abstract

Diketahui bahwa manusia, sejak mula pertama pemikiran, sudah mengetahui adanya kekuatan-kekuatan yang mengatasi manusia, suatu yang dianggap Maha Kuasa, dan mendatangkan kebaikan maupun keburukan serta dapat mengabulkan doa dan ke inginan manusia. Akan tetapi hal tersebut belum dinamai Tuhan. Tetapi baru diberikan nama-nama seperti mana, numia, dewa, dan sebagainya. Dalam sejarah manusia muncul konsepsi-konsepsi tentang Tuhan beberapa rupa antara lain muncul: (1) Paham Teisme; (2) Paham Deisme (3) Paham Panteisme; (4) Paham Penenteisme. Dari empat paham tersebut tidak ada yang benar-benar memuaskan para agamawan dan filosof. Namun demikian konsepsi-konsepsi ketuhanan di atas telah memberikan sumbangan pemikiran yang konstruktif terhadap pemikiran keagamaan. Akan tetapi tidak lepas dari kelemahan dan kritik.
MODERNISASI DALAM PERSPEKTIF PERUBAHAN SOSIAL Rosana, Ellya
AL-ADYAN Vol 10, No 1 (2015): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.591 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v10i1.1423

Abstract

Masyarakat senantiasa berubah, dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari, walaupun perubahan pada masyarakat yang satu akan berbeda dengan perubahan pada masyarakat yang lain. Demikian halnya dengan proses modernisasi. Modernisasi pada masyarakat tertentu akan berbeda dengan masyarakat yang lain baik dari prosesnya maupun pada penerimaannya, tergantung dari kebutuhan dan keinginan dari masyarakatnya. Perubahan yang terjadi karena proses modernisasi akan membelenggu masyarakat pada budaya konsumtif, hedonisme, dan lain sebagainya. Modernisasi merupakan salah satu bentuk perubahan sosial masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat yang maju mengikuti perkembangan masyarakat lainnya yang dianggap lebih dahulu maju. Masyarakat pun harus cerdas dalam memilih mana dari proses modernisasi tersebut yang akan dapat merubah masyarakat ke arah yang lebih baik, sehingga manfaat dari modernisasi tersebut dapat dirasakan.
PEMIKIRAN FARID ESACK TENTANG HERMENEUTIKA PEMBEBASAN AL-QUR’AN Sudarman, Sudarman
AL-ADYAN Vol 10, No 1 (2015): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.251 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v10i1.1424

Abstract

Teologi Pembebasan lahir dan berkembang di Amerika Latin, sebagai gerakan pemerdekaan bagi kelompok masyarakat miskin, pinggiran, dan tertindas. Teologi pembebasan tampil dengan menyerukan persamaan hak tanpa memandang latar belakang, agama, etnis, dan warna kulit. Di kalangan Islam, Farid Esack, pemikir dari Afrika Selatan, adalah salah seorang yang dengan sangat semangat mendengungkan pembebasan. Berangkat dari pengalaman pribadi dan keluarganya di Afrika Selatan, Farid Esack berhasil memformulasikan sktetsa ajaran Islam menjadi sebuah gerakan pembebasan yang berpengaruh secara signifikan terhadap dunia Islam secara umum. Menurutnya al-Qur’an memuat semangat pembebasan bagi semua manusia secara universal.
PEREMPUAN: PERSPEKTIF FILSAFAT, TASAWUF DAN FIQIH Anshori, M. Afif
AL-ADYAN Vol 10, No 1 (2015): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.118 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v10i1.1419

Abstract

Dalam tradisi pemikiran filsafat Islam, perempuan tidak dibedakan dengan laki-laki, tapi justru disetarakan, sepanjang ia mempunyai kemampuan lebih. Stressingnya adalah kemampuan intelektual dan bukan jenis kelamin. Sementara itu, dalam perspektif Tasawuf (spiritualitas Islam), relasi laki-laki perempuan juga tampak adil dan setara. Hal ini disebebkan ajaran utama tasawuf adalah kebersihan hati dalam upaya mencapai kedekatan dengan Tuhan. Persoalan utamanya adalah bagaimana mencapai Tuhan sedekat-dekatnya dan bahwa Dia semakin dirindukan dan dicintai. Untuk mencapai tingkat tersbut tidak ada syarat laki-laki, karena masing-masing orang, laki-laki maupun perempuan, mempunyai kesempatan yang sama. Oleh karena itu, pemikiran yang bias gender, lebih banyak – tidak semuanya- didapati dalam hukum (fiqih) dan tafsir yang berkaitan dengan hukum. Sementara itu, dalam kajian filsafat dan tasawuf yang tidak banyak bersentuhan dengan kepentingan penguasa, tampak lebih murni dan bebas dari bias gender. Inilah mestinya yang patut disosialisasikan.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KOMUNIKASI INTERPERSONAL Nasor, M.
AL-ADYAN Vol 11, No 1 (2016): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.236 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v11i1.1435

Abstract

Kehidupan manusia akan selalu berinteraksi dan melakukan komunikasi (termasuk komunikasi interpersonal) dengan orang lain. Melalui komunikasi interpersonal akan selalu terjadi tatap muka yang lebih mudah dalam menyampaikan pesan. Fokus komunikasi interpersonal dalam praktiknya terdapat empat arus untuk membangun masyarakat/sumber daya manusia yaitu: memberikan infomasi/nasehat pada masyarakat atas dan bawah, membangun keberlangsungan antara orang-orang yang berada pada level yang sama dalam sebuah komunitas, dan membangun keberlangsungan antara orang-orang yang berbeda pada level yang sama dalam sebuah komunitas. Pemberdayaan masyarakat yang memiliki pribadi yang luhur membutuhkan proses pembelajaran tertentu dan porses ini tidak akan berjalan tanpa komunikasi (interpersonal) antara penentu kebijakan dengan kliennya yang disiapkan untuk menjadi masyarakat yang mandiri. Jadi dapat dipahami, kontribusi komunikasi interpersonal dalam pemberdayaan masyarakat memiliki akhlakul karimah sangatlah besar. Masyarakat tidak akan bisa menjadi kader pemberdayaan yang layak dibutuhkan oleh masyarakat mestinya tidak menafikan komunikasi interpersonal. Jenis komunikasi ini dapat berjalan secara baik dan terus menerus, dapat dikatakan bahwa penentu kebijakan dalam pemberdayaan masyarakat akan memperoleh hasil yang memuaskan.
KONFLIK DAN INTEGRASI SOSIAL (Telaah Buku A. Malik MTT berjudul “Pura dan Masjid; Konflik dan Integrasi Hakiki, Kiki Muhamad
AL-ADYAN Vol 9, No 2 (2014): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.548 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v9i2.1414

Abstract

Buku yang ada dihadapan kita ini adalah merupakan hasil penelitain terkait dengan konflik dan integrasi sosial yang berada di masyarakat etnis suku Tengger. Dilihat dari pembahasannya, buku ini berupaya mengelaborasi dua permasalahan besar; Pertama, apa yang menyebabkan konflik pada masyarakat suku Tengger?. Kedua, apakah faktor-faktor pemicu konflik itu juga dapat menumbuhkan integrasi pada masyarakat Tengger?. Dari hasil penelitian dengan menggunakan teori konflik ditemukan bahwa konflik yang terjadi di Tengger dominan terjadi karena faktor pemahaman terhadap agama yang berbeda meskipun juga faktor lainnya seperti (motif ekonomi, politik, budaya) juga ikut menjadi pemicu. Faktor-faktor penyebab konflik itu juga ditemukan dengan analisa pendekatan teori fungsionalisme struktural ternyata dapat menumbuhkan integrasi sosial antar masyarakat suku Tengger.
PENGARUH PELATIHAN PENETAPAN TUJUAN (GOAL SETTING) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR AGAMA ISLAM PADA MAHASISWA Setiawan, Nugroho Arief
AL-ADYAN Vol 12, No 1 (2017): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.625 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v12i1.1443

Abstract

Motivasi belajar agama Islam adalah gejala psikologis dari dalam jiwa dalam bentuk dorongan pertumbuhan dan perubahan diri seseorang dalam tingkah laku baru berkat pengalaman dan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki serta mendapat kepuasan. Terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar agama Islam pada individu, yaitu faktor dari dalam individu (internal) dan faktor dari luar diri individu (eksternal). Faktor internal adalah adanya faktor fisiologis, faktor emosi, kebiasaan yang dapat menjadi motivator, faktor mental set, nilai dan sikap individu. Selanjutnya faktor eksternal adalah tujuan belajar, strategi belajar dan lingkungan belajar yang merangsang mahasiswa mengembangkan pemikiran ilmiahnya, penetapan tujuan, konsentrasi pada tujuan. Salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi belajar agama Islam pada mahasiswa adalah penetapan tujuan (goal setting)yaitu sebuah perlakuan yang diberikan kepada subjek dengan dasar pemikiran bahwa setiap orang memiliki suatu keinginan untuk mencapai hasil spesifik atau tujuan yang diharapkan dapat tercapai, penetapan tujuan mempengaruhi proses belajar dengan cara mengarahkan perhatian dan tindakan, memobilisasi pengerahan usaha, memperpanjang lamanya pengerahan usaha, dan memotivasi individu untuk mengembangkan strategi yang relevan untuk mencapai tujuan belajar.
METODOLOGI STUDI AGAMA-AGAMA Zarkasi, Ahmad
AL-ADYAN Vol 11, No 1 (2016): Al-Adyan
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.329 KB) | DOI: 10.24042/adyan.v11i1.1434

Abstract

Studi agama adalah suatu kajian sistematis dan metodologis terhadap agama-agama yang ada sebagai kajian yang terbuka dan netral, studi agama mengkaji baik dari segi asal usul keberadaannya sebagai suatu sistem keyakinan dan kepercayaan dalam konteks hubungan antar agama. Perkembangan dalam bidang studi agama sekitar antara tahun 1859 hingga tahun 1869 yang ditandai dengan terbitnya buku Darwin “the origin of species”. Setelah tahun 1869 muncul istilah “Perbandingan Agama”(comparative relegion), sebagai padanan kata bagi istilah “Studi Agama” (the science of religion). Akan tetapi sebagai sebuah disiplin ilmu, studi agama mulai mendapat perhatian yang luas dan sungguh-sungguh dirintis sejak tahun 60-an dan 70-an, sebagai suatu disiplin keilmuan setahap demi setahap memperkuat dan memperluas statusnya sebagai ”pengetahuan ilmiah” atau ”ilmu” sejak awal mula kemunculannya, Obyek kajian ilmu agama adalah semua agama , baik agama-agama masa lalu, maupun agama-agama masa sekarang, akan tetapi untuk keberlangsungan sebuah ilmu Studi agama memerlukan juga beberapa metodologi untuk memahami sebuah agama. Oleh karena itu dalam tulisan ini akan menguraikan beberaapa metodologi studi agama-agama: Metode; Teologi, Historis, Fenomenologis, Sosiologis, Antropologi dan Psikologis.

Page 1 of 21 | Total Record : 206