cover
Filter by Year
Sari Pediatri
Articles
1077
Articles
Serum Cystatin C dan Kreatinin dalam Mendiagnosis Gangguan Ginjal Akut pada Anak Sakit Kritis

Permatasari, Pratita Jati, Pabuti, Aumas, Yerizel, Eti, Amelin, Fitrisia

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Gangguan ginjal akut (GgGA) berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas yang tinggi di antara anak sakit kritis. Cystatin C adalah protease inhibitor yang menurut beberapa penelitian merupakan biomarker yang baik untuk mendeteksi gangguan ginjal akut pada anak sakit kritis.Tujuan. Mengetahui sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif, dan nilai prediksi negatif cystatin C serum dan kreatinin serum dalam mendiagnosis gangguan ginjal akut pada anak sakit kritis.Metode. Penelitian potong lintang pada 70 subjek di HCU dan PICU RSUP. Dr. M. Djamil Padang dari Mei 2017 – Juni 2017. Subjek penelitian laki-laki 55,71%, median usia 16,50 bulan. Subjek dipilih dengan teknik konsekutif. Dilakukan pemeriksaan cystatin C serum dengan ELISA dan kreatinin dengan kolorimetrik. Baku emas menggunakan estimasi laju filtrasi glomerulus berdasarkan formula Schwartz. Gangguan ginjal akut terjadi bila terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus minimal 25% berdasarkan kriteria pRIFLE. Kurva receiver operating characteristic (ROC) digunakan untuk menilai cystatin C dan kreatinin dalam mendiagnosis GgGA.Hasil. Rerata cystatin C dan kreatinin serum pada GgGA 0,88±0,14 mg/L, 1,13±0,59 mg/dL berturut-turut. Tiga puluh tujuh pasien didiagnosis GgGA. Cut off point cystatin C serum 0,56 mg/L, sensitivitas 85,19%, spesifisitas 60,47%, nilai prediksi positif 57,50%, nilai prediksi negatif 13,33%. Cut off point kreatinin serum 0,95 mg/dL, sensitivitas 51,85%, spesifisitas 100%, nilai prediksi positif 100%, nilai prediksi negatif 23,21%.Kesimpulan. Cystatin C serum sensitif untuk mendiagnosis GgGA tetapi kurang spesifik.

Perbedaan Laktat Serial Syok Terkompensasi dengan Syok Dekompensasi pada Sindrom Syok Dengue

Chandra, Ivan Haria, Mariko, Rinang, Arbi, Firman

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Tahapan syok sindrom syok dengue (SSD) menurut WHO terbagi dua, yaitu SSD terkompensasi dan dekompensasi. Pada SSD terjadi gangguan perfusi yang mengakibatkan hipoksia jaringan dan peningkatan produksi laktat. Kadar laktat darah dapat digunakan sebagai marker yang dapat membedakan severitas infeksi dengue.Tujuan. Untuk mengetahui perbedaan laktat serial syok terkompensasi dan syok dekompensasi pada pasien SSD. Metode. Penelitian ini merupakan studi cross sectional yang dilakukan pada Januari 2016-Januari 2017 di bangsal anak RSUP Dr. M Djamil. Sampel dikumpulkan secara consecutive sampling. Sampel dibagi atas dua kelompok, yaitu SSD terkompensasi dan dekompensasi. Setiap sampel dilakukan pemeriksaan laktat secara serial dengan alat Accutrend lactate meter, yaitu pada jam ke-0(L1), ke-6(L2), ke-12 (L3), dan ke-24 (L4). Kadar Laktat disebut hiperlaktatemia bila didapatkan nilai >2 mmol/L. Data dianalisis dengan t-test independen.Hasil. Sampel 40 orang, setiap kelompok 20 sampel. Kadar laktat tertinggi terdapat pada L1. Peningkatan kadar laktat darah pada kelompok SSD terkompensasi dan dekompensasi berturut turut mencapai 4,7+0,97 mmol/L dan 6+1,64 mmol/L. Perbandingan kedua kelompok didapatkan perbedaan bermakna (p<0,05) pada rerata kadar laktat darah L1. Tidak didapatkan perbedaan bermakna kedua kelompok pada rerata kadar laktat darah L2, L3,L4 (p>0,05).Kesimpulan. Kadar laktat didapatkan hiperlaktemia pada setiap pemeriksaan laktat serial. Rerata kadar laktat pada kelompok SSD dekompensasi lebih tinggi dibandingkan terkompensasi dengan perbedaan yang bermakna dan didapatkan pada awal penerimaan di rumah sakit.

Hiperbilirubinemia pada neonatus >35 minggu di Indonesia; pemeriksaan dan tatalaksana terkini

Rohsiswatmo, Rinawati, Amandito, Radhian

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pada bayi baru lahir terjadi kenaikan fisiologis kadar bilirubin dan 60% bayi >35 minggu akan terlihat ikterik. Namun, 3%-5% dari kejadian ikterik tersebut tidaklah fisiologis dan berisiko untuk terjadinya kerusakan neurologis bahkan kematian. Sebagai pencegahan hiperbilirubinemia berat yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis, pemeriksaan bilirubin telah menjadi rekomendasi universal bayi baru lahir yang terlihat kuning. Semakin tinggi perhatian klinisi untuk pencegahan kernikterus, semakin rendah insidensinya. Indonesia menghadapi masalah overtreatment di perkotaan, dan undertreatment di daerah terpencil. Masalah overtreatment ini dapat menyebabkan kecemasan ibu, waktu menyusui anak ke ibu berkurang, serta tidak memungkiri peningkatan biaya yang harus ditanggung. American Academy of Pediatrics (AAP) telah menyusun algoritma dan kurva untuk menyesuaikan tata laksana bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia. Kurva ini mengarahkan klinisi untuk melakukan pengukuran kadar bilirubin dengan cara yang memungkinkan untuk masing-masing fasilitas kesehatan. Pada kenyataannya, masih ada fasilitas kesehatan yang belum memiliki sarana yang memadai untuk pemeriksaan kadar bilirubin maupun terapi sinar. Saat ini ditemukan beberapa penemuan baru, seperti Bilistick, sebagai alat pemeriksaan bilirubin yang kurang invasif dan penggunaan filter atau film untuk menangani hiperbilirubinemia ringan dengan sinar matahari. Penemuan baru inilah yang diharapkan dapat membantu negara berkembang, seperti Indonesia dan lainnya, dalam tata laksana hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.

Korelasi Feritin Serum dengan Neopterin Serum pada Penyandang Talasemia-β Mayor Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin

Fadhillah, Idham, Susanah, Susi, Hakim, Dzulfikar Djalil Lukmanul

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Penyandang talasemia-β mayor berisiko lebih tinggi mengalami infeksi akibat disfungsi sistem imun karena kelebihan besi. Beban besi tubuh dapat ditunjukkan oleh kadar feritin serum (FS) sementara kadar neopterin serum (NS) merupakan penanda sensitif imunitas seluler tubuh.Tujuan. Mengetahui korelasi kadar FS dengan NS pada penyandang talasemia-β mayor anak.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada penyandang talasemia-β mayor anak secara konsekutif yang telah mengalami kelebihan besi di Klinik Talasemia Anak RSUP Dr Hasan Sadikin pada Februari 2018. Subjek penelitian dipilih secara konsekutif. Kadar FS diperiksa dengan metoda immunoassay (CLIA), sedangkan NS dengan ELISA. Analisis statistik menggunakan korelasi rank Spearman, kemaknaan ditentukan berdasarkan nilai p<0,05. Hasil. Empat puluh anak memenuhi kriteria penelitian, terdiri dari 58% laki-laki dan 48% berusia lebih dari 10 tahun. Median kadar FS dan NS adalah 3391,1 ng/mL dan 0,57 nmol/L dengan rentang FS dan NS, yaitu 1038,1–7490,2 ng/mL dan 0,118–2,220 nmol/L. Secara keseluruhan korelasi kadar FS dengan NS diperoleh r= -0,474; p=0,002, sementara pada kadar FS <2000ng/mL didapatkan korelasi positif (r= 0,250).Kesimpulan. Kadar neopterin serum berkorelasi dengan kadar feritin serum, FS tidak dapat digunakan untuk memprediksi status imun pada penyandang talasemia-β mayor anak.

Peran Kolostrum sebagai Oral Care pada Bayi Prematur

Faisal, Fetria, Roeslani, Rosalina D

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Kolostrum dari ibu yang melahirkan bayi prematur memiliki kadar faktor protektif yang lebih tinggi sehingga dapat menurunkan kejadian infeksi dibandingkan bayi prematur dengan yang tidak mendapatkan kolostrum. Tujuan. Studi ini dilakukan dengan membandingkan pemberian kolostrum dari ibu yang melahirkan bayi prematur dengan yang tanpa pemberian kolostrum melalui sebuah laporan kasus berbasis bukti yang diperoleh dari telaah sistematis.Metode. Penelusuran pustaka database elektronik, yaitu Pubmed, Cochrane, Highwire dengan kata kunci oropharyngeal”, “AND” “colostrum”, ”AND” “pretermHasil. Penelusuran awal literatur dengan metode tersebut diperoleh 28 artikel dan 4 artikel yang terpilih kemudian menjalani telaah kritis untuk menentukan apakah artikel tersebut sahih, penting dan dapat diterapkan pada pasien. Level of evidence ditentukan berdasarkan klasifikasi yang dikeluarkan oleh Oxford Centre for Evidence-based Medicine. Kesimpulan. Berdasarkan bukti ilmiah yang diperoleh, pemberian kolostrum melalui mukosa orofaring dapat menjadi alternatif terapi imun yang aman dan berpotensi menurunkan kejadian infeksi.

Hubungan Status Gizi Anak Usia 2-5 Tahun dengan Kelainan Jantung Bawaan Biru di RSUD Dr Soetomo Surabaya

Wulandari, Ayu Pisita, Ontoseno, Teddy, Umiastuti, Pirlina

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Kelainan jantung bawaan biru adalah tipe umum dari kelainan jantung bawaan yang salah satunya disebabkan oleh faktor status gizi. Malnutrisi pada anak dengan kelainan jantung bawaan biru dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas.Tujuan. Untuk menganalisis hubungan status gizi dengan kelainan jantung bawaan biru.Metode. Penelitian ini menggunakan rancangan observatif cross-sectional. Berat badan, usia, dan jenis kelamin diambil sebagai variabel penelitian. Status gizi dihitung dengan menggunakan metode z-skor dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu malnutrisi dan gizi baik.Hasil. Prevalensi kelainan jantung bawaan biru pada anak perempuan adalah 28 anak dan pada anak laki-laki adalah 16 anak. Angka kejadian terbanyak adalah pada anak usia 21-24 bulan. Tetralogi Fallot adalah tipe yang kelainan jantung bawaan biru terbanyak (68,2% dari total kelainan jantung bawaan biru). Pasien kelainan jantung bawaan biru dengan malnutrisi 63,6% dan gizi baik 36,4%. Dengan uji Chi-square diperoleh hubungan yang bermakna secara statistik (p=0,007) dan hubungan ini pada α=0,05 adalah lemah karena koefisien korelasinya sebesar 0,313.Kesimpulan. Terdapat hubungan yang lemah antara status gizi dengan kelainan jantung bawaan biru pada anak usia 2-5 tahun.

Dampak Penggunaan Gawai Terhadap Perkembangan Anak

Fajariyah, Siti Nurul, Suryawan, Ahmad, Atika, Atika

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Gawai adalah salah satu perkembangan teknologi yang digunakan secara merata pada semua kalangan usia, termasuk anak-anak berusia di bawah 5 tahun. Penggunaan gawai pada anak balita menyebabkan anak kurang tertarik untuk berinteraksi dengan lingkungannya atau bermain dengan teman sebaya sehingga mengganggu proses perkembangan secara alami. Tujuan. Mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan gawai dengan perkembangan anak usia 24-60 bulan.Metode. Penelitian analitik observasional dengan pendekatan crosssectional dilakukan pada anak usia 24-60 bulan di Kelurahan Simomulyo Surabaya. Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Intensitas penggunaan gawai diukur menggunakan kuesioner penilitian sedangkan perkembangan anak diukur dengan melakukan pemeriksaan perkembangan menggunakan formulir KPSP. Analisis dilakukan dengan uji korelasi Spearman.Hasil. Terdapat 66 anak yang ikut serta dalam penelitian. Anak-anak dengan intensitas penggunaan gawai rendah menunjukkan hasil pemeriksaan perkembangan sesuai, sedangkan intensitas penggunaan gawai tinggi menunjukkan hasil pemeriksaan meragukan. Terdapat hubungan antara intensitas penggunaan gawai dengan perkembangan anak usia 24-60 bulan (p=0,000), dengan kekuatan sedang dan arah hubungan positif (koefisien korelasi = 0,521)Kesimpulan. Intensitas penggunaan gawai yang tinggi dapat mempengaruhi proses perkembangan anak usia 24-60 bulan, dibutuhkan peran aktif orang tua dan tenaga kesehatan dalam memantau dan mendukung perkembangan anak.

Uji Diagnostik CD64 Netrofil untuk Sepsis pada Anak dengan Systemic Inflammatory Response Syndrome

Herlina, Herlina, Mayetti, Mayetti, Yetti, Husna

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada anak. Diagnosis dini sepsis sangat penting untuk menghindari keterlambatan atau overtreatment pemberian antibiotik. Kultur darah memerlukan waktu yang lama sehingga dibutuhkan suatu marker yang bisa menentukan diagnosis sepsis secara dini. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan CD64 netrofil sebagai salah satu marker untuk deteksi dini sepsis.Metode. Penelitian cross sectional dilakukan di IGD RS Dr. M. Djamil Padang. Dilakukan pemeriksaan index CD64 netrofil dan kultur bakteri darah sebagai baku emas pada anak dengan systemic inflammatory response syndrome (SIRS). Analisis stastistik dilakukan untuk menetapkan cut off point index CD64 netrofil untuk diagnosis sepsis.Hasil. Rerata index CD64 netrofil lebih tinggi pada kultur bakteri darah yang positif. CD64 netrofil memiliki sensitivitas 95,8%, spesifisitas 81,6%, nilai prediksi positif 76,7%, dan nilai prediksi negatif 96,9% dengan penetapan cut-off point 1,5. Pada penelitian ini didapatkan nilai cut off point 1,49.Kesimpulan. Indeks CD64 netrofil dapat digunakan sebagai parameter diagnostik pada sepsis. Nilai cut-off point index CD64 netrofil yang direkomendasikan sebagai batasan sepsis pada anak dengan SIRS adalah 1,49 atau 1,5.

Hubungan Faktor Sosioekonomi dengan Perawakan Pendek Anak Usia 24-60 Bulan

Agustian, Yogi, Rusmil, Kusnandi, Solek, Purboyo

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Perawakan pendek merupakan salah satu indikator kesehatan anak yang dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya sosioekonomi. Faktor sosioekonomi di antaranya pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jumlah anak kurang dari 5 tahun, dan interval usia dengan anak sebelumnya.Tujuan. Mengetahui hubungan status sosioekonomi dengan perawakan pendek.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada anak usia 24–60 bulan yang datang ke Puskesmas Sukajadi dan Tempat Penitipan Anak Bunda Ganesa pada bulan Mei 2018. Sampel dipilih secara proporsional random sampling. Tinggi badan anak diperiksa dan diambil data status sosioekonomi. Analisis statistik menggunakan Chi kuadrat dan analisis multivariat dengan regresi logistik.Hasil. Seratus tiga puluh tiga anak terdiri dari 77 anak dari Puskesmas Sukajadi dan 56 anak dari Bunda Ganesa. Prevalensi perawakan pendek di Puskesmas Sukajadi 40,3%, sedangkan di Bunda Ganesa 16,1%. Tempat penelitian, pendidikan orang tua, berat badan menurut usia, pekerjaan ayah dan pendapatan keluarga memiliki hubungan bermakna dengan perawakan pendek. Analisis multivariat ayah pendidikan menengah dan rendah, serta berat badan menurut usia yang abnormal merupakan risiko perawakan pendek. Sementara anak yang tidak mendapat ASI eksklusif berisiko lebih rendah.Kesimpulan. Prevalensi perawakan pendek lebih besar pada anak dari keluarga sosioekonomi menengah kebawah. Pendidikan ayah dan ibu, berat badan menurut usia, pekerjaan ayah dan pendapatan keluarga memiliki hubungan yang bermakna terhadap perawakan pendek.

Hubungan Pemberian ASI Eksklusif, Status Gizi, dan Kejadian Diare dengan Perkembangan Motorik pada 1000 Hari Pertama Kehidupan

Dahliansyah, Dahliansyah, Hanim, Diffah, Salimo, Harsono

Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Pemberian ASI tidak eksklusif dapat menyebabkan risiko kesehatan pada bayi, yaitu penyimpangan perkembangan motorik, serta kejadian diare. Gerakan 1000 HPK, ditujukan untuk mencegah malnutrisi dari awal kehamilan sampai anak usia 2 tahun. Tujuan. Penelitian ini untuk menganalisis hubungan pemberian ASI ekslusif, status gizi, dan kejadian diare dengan perkembangan motorik pada 1000 HPK.Metode. Subjek penelitian adalah ibu yang memiliki anak baduta (>6-24) bulan. Variabel dependen adalah perkembangan motorik, sedangkan independen adalah ASI eksklusif, status gizi, dan kejadian diare. Metode penelitian adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Jumlah subjek 138 baduta, usia >6-24 bulan dipilih secara porposive sampling. Data ASI eksklusif didapat dari buku KIA/KMS, status gizi dengan pengukuran antropometri, kejadian diare didapat berdasarkan wawancara langsung, dan data perkembangan motorik dengan kuesioner KPSP, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi square dan Regresi Logistik.Hasil. Terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta (>6-24) bulan (OR=0,45;IK95%=0,21-0,99;p=0.046). Tidak terdapat hubungan antara status gizi selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta (>6-24) bulan. Tidak terdapat hubungan antara kejadian diare selama periode 1000 HPK dengan perkembangan motorik baduta(>6-24) bulan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa baduta (>6-24) bulan yang tidak diberi ASI eksklusif selama periode 1000 HPK, berisiko 0,45 kali mengalami gangguan perkembangan motorik.Kesimpulan. Pemberian ASI eksklusif kepada baduta (>6-24) bulan selama periode 1000 HPK, memengaruhi perkembangan motorik.

Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000)