cover
Filter by Year
Sari Pediatri
Articles
1087
Articles
Faktor Prognosis Sindrom Syok Dengue pada Anak

Satari, Hindra Irawan, Mardani, Rossy Agus, Gunardi, Hartono

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Manifestasi klinis yang bervariasi, patogenesis yang kompleks, dan perbedaan serotipe virus membuat sulit memprediksi perjalanan penyakit dengue. Banyak penelitian yang telah dilakukan tentang faktor prognosis terjadinya sindrom syok dengue (SSD), tetapi semuanya menggunakan pedoman World Health Organization (WHO) tahun 1997. Tujuan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor prognosis terjadinya SSD berdasarkan pedoman WHO tahun 2011.Metode. Studi retrospektif menggunakan data rekam medik pasien anak usia 0 sampai <18 tahun dengan diagnosis demam berdarah dengue (DBD), SSD dan expanded dengue syndrome (EDS) yang memenuhi kriteria WHO tahun 2011 di RSCM dari Januari 2013 sampai Desember 2016. Variabel independen, yaitu jenis kelamin, usia, status gizi, infeksi dengue sekunder, leukopenia, nyeri abdomen, perdarahan gastrointestinal, hepatomegali dan kebocoran plasma. Syok merupakan variabel dependen. Analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik. Hasil. Subyek yang memenuhi kriteria penelitian 145 pasien, 52 (35,8%) di antaranya mengalami SSD. Lima dari 52 pasien SSD mengalami syok selama perawatan di rumah sakit. Analisis bivariat yang menghasilkan faktor-faktor signifikan di antaranya, malnutrisi, gizi lebih dan obesitas, perdarahan gastrointestinal, hemokonsentrasi, asites, leukosit ≥5.000 mm3, ensefalopati, peningkatan enzim hati dan overload. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel hemokonsentrasi dan peningkatan enzim hati merupakan faktor prognosis SSD. Kesimpulan. Hemokonsentrasi dan peningkatan enzim hati merupakan faktor prognosis terjadinya SSD.

Peran Pemeriksaan Immature Platelet Fraction dalam Imun Trombositopenia

Saidah, Fatimah, Sjakti, Hikari Ambara

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Pemeriksaan immature platelet fraction (IPF) untuk mengetahui produksi trombosit dapat membedakan trombositopenia yang disebabkan gangguan trombopoiesis atau peningkatan destruksi trombosit. Nilai diagnostik IPF pada imun trombositopenia (ITP) belum dapat dibuktikan secara konsisten. Tujuan. Mengetahui manfaat pemeriksaan IPF dalam penegakan diagnosis ITP pada anak. Metode. Pencarian artikel dilakukan menggunakan instrumen PubMed, Cochrane, dan Google Cendekia dengan kata kunci yang sesuai. Seleksi dilakukan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi serta telaah judul dan abstrak. Telaah kritis dilakukan dengan evaluasi validity, importance, dan applicability. Hasil. Diperoleh dua artikel berupa studi potong lintang dan studi retrospektif. Kedua studi melaporkan nilai IPF yang lebih tinggi pada pasien ITP dibandingkan dengan kelompok kegagalan sumsum tulang maupun kontrol (p<0,001). Studi pertama mendapatkan nilai IPF 9,4% bersifat diagnostik untuk ITP dengan sensitivitas 88%, spesifisitas 85,7%. Dari studi kedua didapatkan nilai IPF >8,45% memiliki sensitivitas 80,4% dan spesifisitas 79,9% untuk membedakan ITP dengan penyebab trombositopenia lainnya. Kesimpulan. Nilai IPF yang meningkat dapat bermanfaat untuk membantu diagnosis pada kasus ITP yang tidak disebabkan ganggguan trombopoiesis. Nilai IPF yang normal atau rendah tidak selalu dapat menyingkirkan diagnosis ITP mengingat kemungkinan adanya gangguan trombopoiesis pada ITP.

Pengaruh Pemberian Vitamin B6 dan Vitamin B12 Terhadap Konsentrasi Homosistein Serum pada Pasien Leukemia Limfoblastik Akut

Muhi, Julispen Syafruddin, Oenzil, Fadil, Izzah, Amirah Zatil

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Leukemia merupakan 35% keganasan pada anak. Persentase terbanyak adalah Leukemia limfoblastik akut (LLA) yang mencapai 80%. Pedoman kemoterapi LLA berdasarkan Indonesian Childhood ALL-Protocol 2013 menggunakan metotreksat (MTX) intratekal dan intravena, bekerja menghambat enzim dihidrofolat reduktase (DHFR) menyebabkan peningkatan konsentrasi homosistein yang mempunyai efek neurotoksisitas. Vitamin B6 dan B12 adalah kofaktor enzim yang berperan pada remethylation dan transsulferation yang dapat menurunkan konsentrasi homosistein. Tujuan. Mengetahui pengaruh vitamin B6 dan B12 terhadap konsentrasi homosistein pada pasien LLA yang mendapat MTX intratekal (MTX IT) dan MTX intravena dosis tinggi (high dose/MTX HD).Metode. Penelitian case control study pre dan post control group design pada pasien LLA yang dirawat di bagian Anak RS Dr. M.Djamil Padang dari Januari-Juni 2017. Jumlah sampel kelompok kontrol dan perlakuan 10 orang. Kelompok perlakuan mendapat vitamin B6 20 mg/hari dan B12 0,5 mg/hari selama 6 minggu. Hasil. Konsentrasi homosistein awal kelompok kontrol 11,72±1,7067 µmol/L dan setelah 6 minggu 11,630±1,4765 µmol/L, tidak berbeda bermakna secara statistik (p>0,05). Kelompok perlakuan, konsentrasi awal 12,05±2,0919 µmol/L dan setelah 6 minggu 10,07±1,6526 µmol/L, berbeda bermakna secara statistik (p<0,05). Pemberian vitamin B6 20 mg/hari dan B12 0,5 mg/hari menurunkan rerata konsentrasi homosistein 1,98±0,8108 µmol/L, bermakna secara statistik (p<0,05). Kesimpulan. Pemberian vitamin B6 dan B12 pada pasien LLA yang mendapatkan MTX IT dan MTX HD dapat menurunkan rerata konsentrasi homosistein.

Hubungan Status Gizi dan Stimulasi Tumbuh Kembang dengan Perkembangan Balita

Hairunis, Mirham Nurul, Salimo, Harsono, Dewi, Yulia Lanti Retno

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Perkembangan dasar yang terjadi pada masa balita akan memengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Status gizi dan stimulasi merupakan dua faktor yang memengaruhi tumbuh kembang balita. Tujuan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status gizi dan stimulasi tumbuh kembang dengan perkembangan anak Balita di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).Metode. Jenis penelitian ini adalah studi penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari–April 2018. Sampel dipilih secara simple random sampling sebanyak 114 subjek penelitian. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan regresi logistik.Hasil. Berdasarkan hasil analisis multivariat antara status gizi (TB/U) dan stimulasi tumbuh kembang dengan perkembangan didapatkan hasil (b=1,68; IK95%:1,10-2,57; p=0,016) untuk status gizi dan (b=3,48; IK95%:1,42-8,52; p=0,006) untuk stimulasi tumbuh kembang. Kesimpulan. Balita dengan perawakan normal memiliki peluang 1,6 kali mengalami perkembangan yang sesuai dibandingkan anak dengan perawakan pendek dan sangat pendek (stunting). Balita yang mendapatkan stimulasi tumbuh kembang sering memiliki peluang 3,4 kali mengalami perkembangan yang sesuai dibandingkan dengan anak yang mendapatkan stimulasi jarang.

Pengaruh Lactobacillus reuteri DSM 17938 Terhadap Kadar Calprotectin Feses sebagai Penanda Inflamasi Intestinal pada Bayi Kurang Bulan

Savitri, Tisa Rahmawaty, Hidajat, Sjarif, Alam, Anggraini

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Bayi kurang bulan (BKB) berisiko mengalami inflamasi intestinal akibat imaturitas fungsi saluran cerna. Penelitian terdahulu melaporkan pro-kontra probiotik yang dapat menurunkan kejadian penyakit inflamasi intestinal pada BKB, seperti enterokolitis nekrotikans dan sepsis. Pengukuran calprotectin feses sebagai penanda penyakit inflamasi merupakan metode noninvasif, cepat, dan mudah dilakukan.Tujuan. Mengetahui pengaruh Lactobacillus reuteri DSM 17938 terhadap kadar calprotectin feses pada BKB. Metode. Penelitian eksperimental acak terkontrol pada BKB yang lahir di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama bulan Maret sampai Juni 2018. Kelompok probiotik diberikan Lactobacillus reuteri DSM 17938 selama 14 hari dan kelompok kontrol diberikan plasebo. Kadar calprotectin feses diperiksa sebelum dan sesudah perlakuan. Calprotectin diperiksakan menggunakan metode enzymed-linked immunosorbent assay (ELISA). Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dan Wilcoxon Signed Rank, tingkat kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Empat puluh bayi diikutsertakan, 4 di antaranya mengalami dropout. Tiga puluh enam bayi yang dianalisis terbagi menjadi kelompok probiotik (n=18) dan nonprobiotik (n=18). Karakteristik dasar tidak berbeda antara kedua kelompok. Sebelum perlakuan, kadar calprotectin feses kedua kelompok tidak berbeda secara signifikan (p=0,88). Kadar calprotectin feses kelompok probiotik lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok nonprobiotik setelah perlakuan (p<0,001).Kesimpulan. Pemberian Lactobacillus reuteri DSM 17938 dapat menurunkan kadar calprotectin feses.

Analisis Durasi Tidur, Asupan Makanan, dan Aktivitas Fisik sebagai Faktor Risiko Kejadian Obesitas pada Balita Usia 3-5 Tahun

Tristiyanti, Wara Fitria, Tamtomo, Didik Gunawan, Dewi, Yulia Lanti Retno

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Obesitas pada balita menjadi perhatian World Health Organization (WHO) dengan menetapkan masalah obesitas sebagai salah satu indikator untuk mengatasi masalah melalui Sustainable Development Goals (SDGs). Pada tahun 2015, prevalensi obesitas balita secara global mencapai 6,2% atau 42 juta balita. Faktor penyebab obesitas di antaranya adalah durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik.Tujuan. Untuk menganalisis hubungan durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada balita usia 3-5 tahun beserta tingkat risiko di wilayah Kota Yogyakarta. Metode. Jenis penelitian ini adalah kasus-kontrol dengan jumlah total subjek adalah 144 balita di wilayah Kota Yogyakarta. Jumlah subjek pada masing-masing kelompok adalah 72 balita. Data durasi tidur diperoleh melalui kuesioner Children’s Sleep Habit Questionnaire (CSHQ) tervalidasi, data asupan makanan dikumpulkan dengan kuesioner recall makan 2x24 jam, dan data aktivitas fisik diperoleh dari kuesioner recall aktivitas fisik 24 jam. Data dianalisis menggunakan uji Chi- square dan regresi logistik. Hasil. Terdapat hubungan yang signifikan antara durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada balita usia 3-5 tahun (p<0,005). Balita dengan durasi tidur kurang (lama tidur <10 jam) berisiko menjadi obesitas 2,5 (OR=2,49; IK95%: 1,04-5,93) kali lebih besar dibandingkan dengan balita dengan durasi tidur yang cukup (lama tidur ≥10jam). Balita dengan asupan makanan lebih (asupan energi >110 % AKG) berisiko menjadi obesitas 4,4 (OR=4,42; IK95%: 2,02-9,69) kali lebih besar dibandingkan dengan balita dengan asupan makanan cukup (asupan energi 80-110% AKG). Balita dengan aktivitas fisik sangat ringan (PAL<1,5) berisiko menjadi obesitas 6,1 (OR=6,15; IK95%: 2,73-13,85) dibandingkan dengan balita dengan aktivitas fisik ringan atau sedang. Kesimpulan. Durasi tidur, asupan makanan, dan aktivitas fisik, secara signifikan berhubungan dengan kejadian obesitas pada balita usia 3-5 tahun.

Hubungan Dosis Kumulatif Doksorubisin Terhadap Fungsi Sistolik Ventrikel Kiri pada Penyintas Leukemia Limfoblastik Akut

Gunawan, Patricia Yulita, Kaunang, Erling David, Mantik, Max Frans Joseph, Gunawan, Stefanus

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Seiring meningkatnya angka harapan hidup anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA), kardiotoksisitas akibat kemoterapi seperti antrasiklin menjadi semakin penting. Evaluasi berkala fungsi sistolik ventrikel kiri melalui fraksi ejeksi (FE) dan fraksi pemendekan (FP) direkomendasikan untuk pemantauan efek samping kardiotoksisitas antrasiklin.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara dosis kumulatif doksorubisin dengan fungsi sistolik ventrikel kiri pada penyintas LLA anak. Metode. Penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif dengan menilai perubahan FE dan FP menggunakan ekokardiografi pada penyintas LLA pada bulan Juli-September 2016 di bagian Ilmu Kesehatan Anak, RSU Prof. dr. R. D. Kandou, Manado. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan korelasi Pearson.Hasil. Terdapat total 18 penyintas LLA yang diteliti, termasuk 12 risiko standar dan 6 risiko tinggi. Fungsi sistolik ventrikel kiri semua penyintas masih dalam batas normal (FE 74,20 ± 11,37 %, FP 42,61 ± 9,98 %). Ditemukan adanya hubungan negatif sedang yang bermakna antara dosis kumulatif doksorubisin dan fungsi sistolik ventrikel kiri [FE (r=-0,532, p=0,012) dan FP (r=-0,518, p=0,014)]. Kesimpulan. Terdapat hubungan negatif antara dosis kumulatif doksorubisin dan fungsi sistolik ventrikel kiri pada penyintas LLA anak. Panduan lokal diperlukan untuk evaluasi ekokardiografi secara berkala pada penyintas LLA anak di Indonesia. 

Frekuensi Ekokardiografi pada Fase Awal Penyakit Kawasaki

Advani, Najib

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Penyakit Kawasaki (PK) merupakan suatu vaskulitis akut, terutama menyerang balita. Aneurisme koroner terjadi pada 15%-25% pasien PK yang tidak diobati. Ekokardiografi merupakan sarana non-invasif dengan spesifisitas dan sensitivitas tinggi untuk mendeteksi kelainan koroner pada segmen proksimal. American Heart Association menganjurkan ekokardiografi pada tahap awal, dilakukan tiga kali, yaitu saat diagnosis, 1-2 minggu kemudian dan 4-6 minggu selanjutnya. Tujuan. Untuk mengetahui apakah pada pasien PK yang tanpa komplikasi, ekokardiografi saat awal cukup dilakukan dua kali berturut turut saja.Metode. Dilakukan studi retrospektif dari data rekam medis pasien Kawasaki di lima rumah sakit di Jakarta dan Tangerang beserta hasil ekokardiografi serial sejak Januari 2003 sampai Juli 2013. Semua pasien didiagnosis dan ditatalaksana oleh peneliti berdasarkan kriteria AHA 2004. Kriteria inklusi adalah semua pasien yang memenuhi kriteria diagnosis dan ekokardiografi pertama serta kedua hasilnya normal serta ekokardiogarfi diulang serial hingga akhir masa penelitian, minimal satu tahun.Hasil. Dari 503 pasien Kawasaki pada saat diagnosis, 163 menunjukkan dilatasi koroner dan 340 normal. Di antara 340 pasien tersebut, 228 memenuhi kriteria inklusi dan dilakukan ekokardiografi serial antara 1 hingga 10,5 tahun. Didapatkan bahwa jika hasil ekokardiografi pertama dan kedua normal maka hasil ekokardiografi selanjutnya hingga akhir masa pengamatan tidak tampak kelainan.Kesimpulan. Pada pasien Kawasaki dengan hasil pemeriksaan ekokardiografi pertama dan kedua menunjukkan arteri koroner normal, cukup dilakukan ekokardiografi dua kali dan tidak harus diulang. Hal ini terutama pada pasien yang mengalami kendala akses maupun biaya.

Pengaruh Metode Shared Medical Appointments Terhadap Perbaikan Kontrol Metabolik Penderita Diabetes Melitus Tipe-1 pada Anak dan Remaja

Faisal, Faisal, Andriana, Novina

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang. Metode sharing medical appointment (SMAs) merupakan program intervensi edukasi yang melibatkan peran keluarga, pengalaman sesama pasien, motivasi, dukungan komunikasi dari dokter dan edukator untuk pasien dengan penyakit kronik. Tujuan. Mengetahui keefektifan metode SMAs terhadap perbaikan kontrol metabolik DM tipe-1 pada anak dan remaja. Metode. Penelitian analitik dengan rancangan randomized controlled trial untuk membandingkan kontrol metabolik kelompok SMAs berdurasi 60 menit setiap pertemuan dengan kelompok individual. Data demografi, klinis, dan HbA1C dikumpulkan dan dianalisis serta dilakukan uji T untuk membandingkan perbedaan rerata kadar HbA1C dan uji repeated ANOVA untuk membandingkan rerata sekuensial HbA1C pada dua kelompok dengan nilai kemaknaan p<0,05. Hasil. Masing-masing 20 subjek kelompok SMAs dan kelompok IMA disertakan dalam penelitian dengan rerata kadar HbA1C berturut-turut untuk kelompok SMAs adalah 9,73±1,8 pada bulan ke-0, 8,7±1,3 bulan ke-3 dan 8,54±0,7 pada bulan ke-6, lebih baik dibandingkan pada kelompok IMA yaitu 9,57±1,6 pada bulan ke-0, 9,26±1,1 bulan ke-3 dan 9,86±1,2 bulan ke-6. Perbedaan rerata HbA1C didapatkan pada perbandingan bulan ke-0 vs ke-6 [p<0,05 IK95%: 1,32 (0,69-1,95)]. Pada kelompok SMAs didapatkan perbedaan rerata HbA1C antara bulan ke-0 vs ke-3 (p<0,05) dan bulan ke-0 vs ke-6 (p<0,05) tetapi tidak berbeda pada bulan ke-3 vs ke-6 (p>0,05). Kesimpulan. Metode SMAs dengan durasi 3 bulan efektif dalam memperbaiki kontrol metabolik penderita DM tipe-1 pada anak dan remaja.

Probiotik Pada Gangguan Saluran Cerna Fungsional

Andrea, Valerie, Hegar, Badriul

Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Probiotik memiliki kemampuan untuk memengaruhi komposisi mikroflora saluran cerna. Ketika dikonsumsi dalam jumlah adekuat, probiotik memiliki efek positif terhadap kesehatan pejamu. Terdapat beberapa penelitian yang menilai efek terapeutik probiotik terhadap berbagai macam penyakit, termasuk gangguan saluran cerna fungsional pada anak. Gangguan saluran cerna fungsional adalah gangguan yang dianggap terkait dengan saluran cerna, namun tidak dapat dijelaskan oleh kelainan struktural maupun biokimia. Penelitian besar menggunakan probiotik pada gangguan saluran cerna fungsional telah banyak dilakukan. Penggunaan probiotik juga dianggap aman dan hampir tidak pernah dilaporkan efek samping pada rawat jalan. Beragam strain, dosis, dan metodelogi penelitian menjadikan kesulitan dalam menerjemahkan dan menyimpulkan secara keseluruhan hasil penelitian yang ada. Walaupun demikian, beberapa penelitian dengan metodelogi yang baik memperlihatkan fakta bahwa peran probiotik terhadap beberapa gangguan saluran cerna fungsional tidak dapat diabaikan.

Issues
All Issue Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000)