Majalah Kedokteran Sriwijaya
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : -     EISSN : -
Articles 139 Documents
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN BEROBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DI RS PARU KOTA PALEMBANG

Hendesa, Angelina, Tjek Yan, Suryadi, pariyana, Pariyana

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 4 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Indonesia menempati posisi ke-3 di dunia setelah India dan Cina sebagai negara dengan jumlah pasien TB terbanyak. Angka prevalensi TB di Indonesia sebesar 647/100.000 penduduk, angka insidensi sebesar 399/100.000 penduduk dan angka mortalitas sebesar 25/100.000 penduduk. Perilaku sesorang ditentukan oleh tiga faktor yaitu predisposing factors (pengetahuan dan sikap), enabling factors, dan reinforcing factors (dukungan keluarga) yang dapat mempengaruhi kepatuhan berobat. Mengetahui hubungan pengetahuan TB paru, sikap pasien dan dukungan keluarga dengan kepatuhan berobat pada pasien Tuberkulosis Paru di RS Paru Kota Palembang Tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Sampel adalah pasien tuberkulosis paru dewasa usia ³ 15 tahun yang berobat di RS Paru Kota Palembang 01 Juni 2017 - 30 November 2017 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel 62 orang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan dengan menggunakan kuesioner, pengisisan kuesioner dilakukan secara langsung oleh peneliti dengan menggunakan teknik wawancara. Data sekunder didapatkan dari buku register TB paru di RS Paru Kota Palembang. Pengolahan data menggunakan uji statistik Chi-square yang dibantu perangkat lunak IBM SPSS Statistics.Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel yang terdapat hubungan signifikan terhadap kepatuhan berobat adalah dukungan keluarga (p=0,000). Variabel yang tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan berobat adalah pengetahuan TB paru (p=0,059) dan sikap pasien terhadap TB paru (p=0,213). Pengetahuan TB paru dan sikap pasien terhadap TB paru tidak terdapat hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan berobat di RS Paru Kota Palembang Tahun 2017. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan kepatuhan berobat di RS Paru Kota Palembang Tahun 2017.

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI, KLINIS DAN LABORATORIS DEMOGRAFI, PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 1 PADA ANAK DI RSUP DR. M. HOESIN PALEMBANG TAHUN 2010-2017

Delliana, Hestika, Aditiawati, Aditiawati, Azhar, Mutiara Budi

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 1 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Diabetes melitus tipe 1 (DMT1) adalah suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat defisiensi absolut sekresi insulin yang disebabkan oleh dekstrusi sel beta (islet) pankreas yang akhirnya dapat mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Penelitian tentang epidemiologi karakteristik DMT 1 di Sumatera Selatan masih terbatas. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik demografi, klinis dan laboratoris pasien diabetes melitus tipe 1 pada anak di RSUP Dr. M. Hoesin Palembang tahun 2010–2017. Penelitian observasional deskriptif potong lintang dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis dan data pasien di Departemen Anak RSUP dr Moh Hoesin Palembang tahun 2010-2017. Sampel penelitian ini berjumlah 57 kasus., tetapi tidak seluruh rekam medik memiliki data lengkap mengenai setiap variabelnya. Sehingga jumlah kasus tiap variabel berbeda-beda. Hasil dari penelitian ini akan di dideskripsikan dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Dari 57 kasus pasien DM tipe 1 didapatkan penderita terbanyak ditemukan pada usia 6-11 tahun (40,0%) dan terbanyak pada perempuan (59,6%) dan dengan IMT terbanyak pada kelompok IMT<18 (75,0%) yang memiliki riwayat penyakit keluarga (36,4%),  manifestasi yang sering muncul pada pasien diabetes melitus tipe 1 diantaranya poliuria (97,8%), polidipsia (97,8%), polifagia (95,6%), penurunan BB (89,5%), kussmaul (35,6%), nyeri perut (21,4%), mual muntah (20,9%) dan penurunan kesadaran (28,9%). Hasil laboratorium pasien DM tipe 1 menunujukkan kadar GDS paling banyak pada kelompok kadar GDS 301-500 mg/dL (48,6%), kadar C-Peptide terbanyak pada kelompok kadar <0,51 ng/ml sebanyak 10 orang (45,5%), kadar HBA1c terbanyak pada kelompok kadar >10% (86,8%), kadar keton urin (++) (30,0%), dosis rata-rata pasien usia 0-5 tahun adalah 0,7-1,2 IU, 6-11 tahun 0,7-1,3 IU dan 12-18 tahun 0,8-1,5 IU, komplikasi KAD saat pertama kali terdiagnosis (56,5%), datang ke RS dengan rujukan (87,2%) dan korelasi antara kejadian KAD dan kadar HBA1c menunjukkan adanya korelasi yang sangat kuat dan searah (r=1,000) serta signifikan (?=0,034). Pada penelitian ini lebih banyak penderita berumur 6-11 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki IMT <18, tidak memiliki faktor keturunan, datang ke RSUP dr. Moh Hoesin dengan manifestasi polifagi, poliuri, polidipsi dan penurunan berat badan, serta manifestasi dari komplikasi KAD seperti kussmaul, nyeri perut, mual, muntah dan penurunan kesadaran, GDS>300, HBA1c >6,5,  KAD (56,5%), adanya korelasi yang sangat kuat, searah dan signifikan antara kejadian KAD dan kadar HBA1c.

ASSOCIATION BETWEEN SERUM ALBUMIN LEVELS WITH THE PERCENTAGE AND LOCATION OF EDEMA IN CHILDREN WITH NEPHROTIC SYNDROME AT RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG 2016-2017

Mardiyyah, Ainun, Lestari, Hertanti Indah, Akbari, Atika

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 1 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.32539/MKS.v51i1.8547

Abstract

Edema merupakan gejala klinis utama pada anak penderita sindrom nefrotik (SN).Edema pada SN terbagi menjadi edema lokal dan anasarka yang dapat dijelaskan dengan teori underfill dimana hipoalbuminemia merupakan faktor kunci terjadinya edema. Selama ini persentase edema anak penderita SN hanya perkiraan, sedangkan berat badan kering anak penderita SN diperlukan untuk menghitung dosis kortikosteroid secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui hubungan antara kadar albumin serum dengan persentase dan lokasi edema pada anak penderita sindrom nefrotik di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 2016-2017. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional menggunakan data sekunder. Sampel diambil dengan menggunakan metode consecutive sampling dari seluruh data rekam medik pasien anak penderita SN di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Subjek terdiri dari 26 (56,5%) anak laki-laki dan 20 (43,5%) anak perempuan dengan usia rata-rata 7 tahun 2 bulan. Klasifikasisindrom nefrotik yang paling banyak ditemui adalah sindrom nefrotik inisial yang berjumlah 15 orang (32,6%). Rata-rata kadar albumin terendah dapat ditemui pada kelompok usia 4-6 tahun (1,55 g/dL) sedangkan tertinggi pada kelompok usia 13-15 tahun (2,06 g/dL). Rata-rata persentase edema tertinggi terdapat pada kelompok usia 1-3 tahun (17,38%) sedangkan terendah pada kelompok usia 16-17 tahun (3,98%). Pasien yang mengalami edema anasarka (56,5%) lebih banyak dibandingkan dengan edema lokal (43,5%). Analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang sangat bermakna (p=0,003) dengan kekuatan sedang (r=-0,424) antara kadar albumin serum dan persentase edema. Analisis Mann-Whitney (p=0,048) menunjukkan terdapat hubungan antara kadar albumin serum dan lokasi edema. Terdapat korelasi yang bermakna antara kadar albumin serum dan persentase edema. Terdapat hubungan yang bermakna antara kadar albumin serum dan lokasi edema.

Hubungan antara Tingkat Aktivitas Penyakit LES dan Tingkat Depresi pada Penderita Lupus Eritematosus Sistemik di Persatuan Lupus Sumatera Selatan dan Poliklinik Ilmu Penyakit Dalam

Istiqomah, Annisa, Kurniati, Nova, Liana, Phey

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 4 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Depresi merupakan salah satu manifestasi klinis yang dapat muncul pada penderita LES. Diduga tingkat aktivitas penyakit LES dapat mempengaruhi kejadian depresi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara tingkat aktivitas penyakit LES dan tingkat depresi pada penderita Lupus Eritematosus Sistemik di Persatuan Lupus Sumatera Selatan dan Poliklinik Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain studi cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2017 sampai dengan November 2017 di Persatuan Lupus Sumatera Selatan dan Poliklinik Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Diambil sampel sebesar 42 orang penderita LES dengan metode consecutive sampling. Data diambil dari pengisian kuesioner MEX-SLEDAI dan BDI serta wawancara terhadap responden penelitian. Selain itu, diambil juga data rekam medik pasien untuk melengkapi data penelitian. Uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA. Terdapat hubungan yang bermakna (p value = 0,000) antara tingkat aktivitas penyakit LES dan tingkat depresi pada penderita LES di Persatuan Lupus Sumatera Selatan dan Poliklinik Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Hubungan masing-masing kategori dari variabel penelitian, yaitu tingkat aktivitas LES ringan: 80% tidak depresi, 20% depresi ringan; tingkat aktivitas LES sedang: 44,4% tidak mengalami depresi, 33,3% depresi ringan, 22,2% depresi sedang; tingkat aktivitas LES berat: 7,1% tidak mengalami depresi, 7,1% depresi ringan, 21,4% depresi sedang, dan 64,3% depresi berat. Semakin tinggi tingkat aktivitas penyakit LES maka semakin tinggi pula tingkat depresi yang dialaminya.

Angka Kejadian Dan Faktor Risiko Hipertensi Di Kota Palembang Tahun 2013

Tjekyan, R.M. Suryadi

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tingginya prevalensi hipertensi telah lama diketahui merupakan salah satu masalah kesehatan yang dihadapi oleh negara-negara di dunia karena hipertensi merupakan the silent killer sehingga pengobatannya seringkali terlambat. Terdapat berbagai faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya gejala hipertensi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui distribusi dan hubungan antara sosiodemografik, faktor fisik, dan kebiasaan merokok, serta prevalensi hipertensi penduduk kota Palembang dengan umur lebih dari 15 tahun. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilakukan pada 16 kecamatan di Kota Palembang. Pengambilan data penelitian dilakukan bulan Maret 2013. Populasi penelitian terjangkau adalah seluruh penduduk Palembang pada 16 kecamatan (Alang-Alang Lebar, Bukit Kecil, Gandus, Ilir Barat 1,Ilir Barat 2, Ilir Timur 1, Ilir Timur 2, Kalidoni, Kemuning, Kertapati, Plaju, Sako, Seberang Ulu 1, Seberang Ulu 2, Sematang Borang, Sukarami). Sampel diambil dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian sebesar 1.210. Pengambilan sampel dilakukan secara multistage random sampling. Hasil penelitian menyatakan bahwa sebanyak 14,4 % terdiagnosa hipertensi yang berumur diatas 15 tahun. Berdasarkan uji Chi-Square, sosiodemografi yang memiliki hubungan signifikan dengan hipertensi diantaranya jenis kelamin (p<0.018), umur (p<0.001), daerah asal (p<0.05). Berdasarkan uji ressureChi-Square, keadaan fisik yang memiliki hubungan signifikan dengan hipertensi di antaranyaIMT (p<0.000), genetik hipertensi (p<0.001), keluarga dengan hipertensi (p<0.001), kebiasaan olahraga (p<0.005), penyakit penyerta (p<0.001). Berdasarkan uji Chi-Square, faktor risiko yang memiliki hubungan signifikan dengan hipertensi di antaranyakebiasaan merokok (p<0.05), jumlah rokok per hari (p<0.047), jenis rokok (p<0.019), lama merokok (p<0.05), dan merek rokok (p<0.000). Berdasarkan penelitian ini, faktor resiko yang paling berpengaruh terhadap hipertensi adalah jenis kelamin, umur, IMT dan penyakit penyerta

Hubungan Hasil Pemeriksaan Autologous Serum Skin Test Dengan Keparahan Klinis Dermatitis Atopik

Febrianti, Elvina, Thaha, M. Athuf, Rusmawardiana, Rusmawardiana, Tjekyan, R.M. Suryadi

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Autologous Serum Skin Test (ASST) adalah prosedur penapisan in vivo sederhana untuk mendiagnosis urtikaria kronik idiopatik (UKI) melalui injeksi serum autologus intradermal. Pemeriksaan ASST positif membuktikan adanya histamine releasing factor dalam serum. Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis kambuhan. European Task Force on Atopik Dermatitis (ETFA) mengembangkan suatu indeks penilaian untuk keparahan DA yang disebut Scoring Index of Atopik Dermatitis (SCORAD). Sebuah studi analitik observasional dengan rancangan cross sectional dilakukan dari awal Januari sampai Maret 2010 di klinik rawat jalan Alergi Imunologi, Kulit dan Kelamin dari Departemen Dr Mohammad Husein Rumah Sakit Umum Palembang. Sebuah enam puluh pasien DA yang memenuhi kriteria inklusi adalah merekrut oleh berturut-turut random sampling. Semua orang melakukan penilaian SCORAD dan pemeriksaan ASST , hasil yang dinilai oleh peneliti dan hasil lainnya adalah examiners.The ASST positif pada DA ringan adalah empat ( 66,7% ) subyek , DA moderat adalah 21 ( 51,2% ) subyek dan DA parah adalah 13 ( 100% ) subyek , p = 0,006. 44,82 nilai SCORAD ditentukan sebagai cut-off untuk menentukan keparahan DA . Nilai SCORAD a> : . 44,82 dianggap sebagai DA parah dan < 44,82 bukan merupakan salah satu yang parah . Kelompok DA parah memiliki hasil ASST positif 26 ( 43,3 % ) dan kelompok DA non parah memiliki hasil ASST positif dari 12 ( 20 % ) subyek . Pada nilai diagnostik cut-off dari SCORAD 44,82 ASST menghasilkan sensitivitas 68,4, spesifisitas 77.3 , rasio kemungkinan positif 3,01 , rasio kemungkinan negatif 0,41 , nilai prediksi positif 83,9 dan nilai prediksi negatif 58,6 . Hasil ini menunjukkan bahwa pada cut-off SCORAD 44,82 proporsi ofsubjects DA parah 68,4% , masih ada 31,6% negatif palsu. Kepositifan hasil ASST terkait dengan DA tujuh puluh klinis dinilai menggunakan SCORAD berdasarkan kriteria negatif palsu substansial ringan-sedang-berat, tapi di cutsoff ditentukan masih ada

Korelasi Antara Gula Darah 2 Jam Postprandial Danhba1c di Laboratorium Klinik Graha Spesialis RSMH Palembang

Ya’kub R, Kemas, Partan, Radiyati Umi, Habib, Moh

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pemeriksaan gula darah merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus. Hasil pemeriksaan gula darah pasien tidak cukup menggambarkan kondisi gula darah pasien, sehingga diperlukan pemeriksaan lain dengan menilai kadar HbA1c. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi antara kadar gula darah 2 jam postprandial dan nilai HbA1c.Jenis penelitian yang dilakukan adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah pasien yang melakukan pemeriksaan gula darah di Laboratorium Klinik Graha Spesialis RSMH Palembang. Dengan metode purposive sampling, diperoleh 121 orang sampel penelitian. Diperoleh kadar gula darah 2 jam postprandial tidak normal sebanyak 65,3% dan normal sebanyak 34,7%. Usia terbanyak subjek penelitian dengan kadar gula darah 2 jam postprandial tidak normal adalah 15-64 tahun (52,3%). Jenis kelamin terbanyak subjek penelitian dengan kadar gula darah 2 jam postprandial tidak normal adalah laki-laki (34,7%). HbA1c subjek penelitian tidak normal sebanyak 61,2% dan normal 38,8%. Usia terbanyak subjek penelitian dengan nilai HbA1c tidak normal adalah 15-64 tahun (31,5%). Jenis kelamin terbanyak subjek penelitian dengan nilai HbA1c tidak normal adalah laki-laki (31,4%).Perbandingan antara laki-laki dengan perempuan adalah 1,02:1. Rerata  simpangan baku kadar gula darah 2 jam postprandial dan nilai HbA1c berturut-turut adalah 191,1  89,3 mg/dl dan7,0  1,98 %. Hasil tabulasi silang antara kadar gula darah 2 jam postprandialdan nilai HbA1c menunjukkan bahwa pada subjek penelitianyang memiliki kadar gula 2 jam postprandial tidak normal, diperoleh sebanyak 15 (12,4%) orang memiliki nilai HbA1c normal dan 64 (52,9%) orang memiliki nilai HbA1c tidak normal. Terdapat korelasi yang kuat antara kadar gula darah 2 jam postprandialdan nilai HbA1c (r=0,638; p=0,0005).

Hubungan Profil Lipid dengan Keparahan Klinis Pasien Psoriasis di RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang

Subagiyo, Subagiyo, Thaha, M. Athuf, Rusmawardiana, Rusmawardiana, Tjekyan, RM. Suryadi

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang: Psorisasis merupakan penyakit kulit kronis ditandai perubahan kulit tipikal baik makroskopis maupun mikroskopis. Profil lipid merupakan indikator yang baik untuk menentukan apakah seseorang mempunyai risiko penyakit jantung, yang diperkirakan akan mengakibatkan respon mediator inflamasi dan hormon yang dapat mempengaruhi keparahan psoriasis. Tujuan: untuk meneliti hubungan profil lipid dan keparahan klinis psoriasis. Metoda: Penelitian laboratorik observasional analitik dengan rancangan potong lintang dilakukan dari bulan Agustus 2011 sampai Oktober 2011 di Poliklinik Alergi-Imunologi, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Enam puluh pasien yang memmenuhi kriteria inklusi diterima dengan concecutive sampling. Pemerikasaan profil lipid dilakukan pada semua pasien dan keparahan klinis psoriasis diukur dengan PASI. Hasil: Tidak ada hubungan antara kolesterol, trigliserida, HDL-kolesterol, dan VLDL-kolesterol dengan keparahan klinis psoriasi, masing-masing p=0,416, p=0,219, p=0,796, dan p=0,222. Hanya LDL-kolesterol yang berhubungan dengan keparahan klinis psoriasi (p=0,222). Kovariabel yang mempunyai hubungan dengan skor PASI adalah usia, jenis kelamin, dan durasi penyakit, masing-masing p-0,000, p=0,022, dan p=0,000. Kesimpulan: LDL-kolesterol, usia, jenis kelamin, dan durasi penyakit dapat menjadi faktor prediktor keparahan klinis psoriasis

Penilaian Sensitivitas Makula Pada Pasien Diabetes Melitus Dengan MetodePhototest Recovery Time Test

Amin, Ramzi, Septadina, Indri Seta, Hulwah A, Ashita

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Angka kejadian diabetes melitus di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya sehingga angka mortalitas akibat komplikasi diabetes melitus pun meningkat. Salah satu komplikasi dari diabetes melitus (DM) adalah makulopati diabetes. Pada makulopati diabetes akan terjadi penurunan sensitivitas makula. Penurunan sensitivitas makula dapat dinilai dengan menggunakan metode photostress recovery time test. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai rata-rata photostress recovery time (PRT) pada pasien DM. Penelitian ini merupakan studi potong lintang yang dilakukan pada pasien DM di RSUP Moh. Hoesin Palembang pada bulan September sampai Desember 2013. Besar subjek penelitian yang didapat adalah 24 orang pasien DM, yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 15 orang perempuan dengan jumlah mata yang diteliti sebanyak 48 mata. Rata-rata PRT pada pasien DM dengan retinopati diabetes adalah 50 detik (SD ±18,318). Rata-rata PRT pada pasien dengan makulopati diabetes adalah 60,83 detik (SD ± 19,783). Kedua mata yang mengalami retinopati diabetes maupun makulopati diabetes memiliki nilai PRT yang lebih panjang dibandingkan dengan pasien DM tanpa retinopati diabetes maupun makulopati diabetes.

Uji Diagnostik Skoring Centor Modifikasi pada Penderita Faringitis Akut Streptokokus Beta Hemolitikus Grup A

Sari, Diana, Effendi, Sofjan, Theodorus, Theodorus

Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 46, No 1 (2014): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penilaian klinis tanpa konfirmasi laboratoris dapat menyebabkan estimasi yang berlebihan pada kasus faringitis Streptokokus Beta Hemolitikus grup A (SBHGA). Oleh karena itu, pemberian antibiotika yang tidak rasional sering ditemukan pada kasus ini. Skoring Centor modifikasi merupakan alat diagnostik berupa sistem penilaian klinis untuk memprediksi faringitis SBHGA. Penggunaannya diharapkan dapat mereduksi pemakaian antibiotika yang tidak perlu dan mencegah efek samping akibat pemakaian antibiotika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas skoring Centor modifikasi dalam mendiagnosis faringitis SBHGA dibandingkan dengan Rapid Strep A Detection Test (RADT). Uji diagnostik telah dilakukan di poliklinik THT-KL RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang sejak bulan November 2012 sampai Februari 2013 pada penderita faringitis akut usia >3 tahun.  Penderita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan dalam penelitian. Beberapa tahapan yang dilakukan adalah anamnesis dan pengisian kuisioner, pemeriksaan fisik dan penentuan skoring serta pengambilan usap tenggorok untuk pemeriksaan Strep A rapid test strip. Semua data dicatat, dikoding dan dianalisis menggunakan piranti lunak SPSS versi 19 dan MedCalc versi 12.0.Lima puluh empat penderita usia >3 tahun diikutsertakan dalam penelitian. Karakteristik umum hasil penelitian didapatkan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuan (53,7%) dengan usia terbanyak pada kelompok usia 15-44 tahun (55,6%) dengan status gizi normal (94,4%). Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik gejala klinis berupa keluhan nyeri tenggorok ditemukan pada semua subyek (100%), demam 74,1%, sakit kepala 64,8%,  mialgia 27,8%, malaise 24,1%, coryza 14,8% dan sebanyak 75,9% tidak ada keluhan batuk. Semua subyek mengalami karakteristik tanda klinis berupa faring hiperemis dan tidak adanya eksantema (100%) sedangkan ptekie di palatum sebesar 70,4%, edema tonsil 75,9% eksudat faring 72,2% dan pembengkakan kelenjar getah bening leher anterior 55,6%. Dari penelitian didapatkan 3 orang penderita (5,56%) dengan faringitis SBHGA. Skor >4 diperoleh sebagai titik potong optimal dengan sensitivitas sebesar 100% (IK 95% 29,24 sampai 100%), spesifisitas 100% (IK 95% 93,02 sampai 100%), nilai duga positif sebesar 100% (IK 95% 29,21 sampai 100%)  dan nilai duga negatif sebesar 100% (IK 95% 93,02 sampai 100%).Skoring Centor modifikasi dapat digunakan untuk mendiagnosis  faringitis SBHGA dengan sensitivitas dan spesifisitas 100% dimana 100% penderita faringitis SBHGA memiliki skoring >4 dan 100% penderita faringitis  nonSBHGA bila skoring ≤4.

Page 1 of 14 | Total Record : 139