AGORA
Published by Universitas Trisakti
AGORA : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti merupakan ajang komunikasi segenap masyarakat arsitektur untuk melontarkan pandangan dan pemikiran ilmiah tentang berbagai aspek arsitektur. AGORA memuat berbagai karya ilmiah arsitektur dalam keluasan spektrumnya baik menyangkut teori, kritik, sejarah, teknologi bangunan, industri, etika, praktek profesi, pendidikan maupun teknologi informasi dan komunikasi. AGORA merupakan media untuk membangun pemahaman mendalam tentang arsitektur melalui telaah kritis aspek-aspek arsitektur, baik fisik maupun non-fisik pada skala mikro elemen bangunan sampai pada skala makro kawasan perkotaan dan regional. Telaah kritis dalam bentuk artikel, yang memuat ide orisinil dan disajikan dalam tulisan terorganisir yang bermuatan argumentasi ilmiah (analitis, sistematis, logis, serta akurat), merupakan ciri khas AGORA sebagai jurnal ilmiah arsitektur.
Articles
24
Articles
RELASI KENYAMANAN TERMAL DAN KONSUMSI ENERGI LISTRIK WARD DI WILAYAH TROPIS LEMBAP

Mulia, Yuyus, Karyono, Tri Harso, A Arif, Kamal

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 02 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian kenyamanan termal pada  ward  (bangunan rawat inap rumah sakit) belum banyak dilakukan. Isu pokok penelitian ini  mencakup aspek kenyamanan termal dan aspek konsumsi energi listrik ward di wilayah tropis lembap. Tujuan penelitian ini mengungkap relasi tingkat kenyamanan  termal dan tingkat konsumsi energi listrik ward di wilayah tropis lembap. Metoda penelitian ini bersifat kuantitatif dengan jumlah sampel 11  unit ward (5 unit di dataran rendah/ wilayah Cirebon dan 6  unit di dataran tinggi/ wilayah Bandung ?? Provinsi Jawa Barat, Indonesia); jumlah responden 1099 orang (500 orang berada di kelompok ward dataran rendah, dan 599 orang di kelompok ward dataran tinggi).  Peralatan yang digunakan untuk mendata kondisi parameter iklim dan pilihan sensasi termal pengguna ward adalah pengukur dan perekam digital Heat Index WBGT Meter-Model WBGT-2010SD ex Lutron dan Anemometer-Model AM-4222 ex Lutron, serta formulir survey. Uji statistik dan analisa regresi linier terhadap data yang diperoleh, menunjukkan hasil: pada ward dataran rendah dengan temperatur udara lingkungan berkisar 23.4 ?? 37.2°C;  tingkat  kenyamanan termalnya 29.2°C dan  tingkat konsumsi energi listriknya berkisar 62 kWh/m2/th. Sementara pada ward dataran tinggi dengan  temperatur udara lingkungan berkisar 18.4 ?? 32.2°C;  tingkat kenyamanan termalnya 27.4°C dan tingkat konsumsi energi listriknya berkisar 49 kWh/m2/th.  Kesimpulan; pada ward di wilayah tropis lembap ditemukan adanya fakta relasi sebagai berikut: semakin tinggi temperatur udara lingkungannya,  semakin tinggi tingkat kenyamanan termalnya, dan semakin tinggi pula jumlah konsumsi energi listriknya. Kata Kunci: Kenyamanan termal, konsumsi energi listrik, ward, tropis lembab ABSTRACTResearch on thermal comfort in the ward (hospital inpatient building) has not been widely carried out. The main issues of this study include aspects of thermal comfort and aspects of ward electrical energy consumption in humid tropical regions. The purpose of this study is to reveal the relation between thermal comfort level and ward electrical energy consumption level in humid tropical regions. This research method is quantitative with a sample of 11 ward units (5 units in the lowland / Cirebon region and 6 units in the highlands / Bandung area - West Java Province, Indonesia); the number of respondents is 1099 people (500 people are in the lowland ward group, and 599 people in the highland ward group). The equipment used to record climate parameter conditions and the choice of thermal sensations for ward users is the WBGT-2010SD Model Heat Index WBGT Meter and digital recorder ex Lutron and Anemometer-Model AM-4222 ex Lutron, as well as survey forms. Statistical tests and linear regression analysis of the data obtained showed results: in the lowland ward with ambient air temperature ranging from 23.4 - 37.2 ° C; the lowest level of comfort is 29.2 ° C and the level of electricity consumption is around 62 kWh / m2 / year. While in the highland ward with environmental air temperatures ranging from 18.4 - 32.2 ° C; the lowest level of comfort is 27.4 ° C and the level of electricity consumption is around 49 kWh / m2 / year. Conclusion; In the ward in the humid tropics, the facts of the relationship are as follows: the higher the air temperature of the environment, the higher the level of thermal comfort, and the higher the amount of electricity consumption. Keywords: thermal comfort, electrical energy consumption, ward, humid tropical

POLA SPASIAL PEMANFAATAN JALUR PEJALAN KAKI OLEH KEGIATAN SEKTOR INFORMAL (Studi Kasus Jalur Pejalan Kaki Jln. Jenderal Sudirman s/d Dukuh Atas)

Fauzi, Reza, ., Dermawati, Budi Hartanti, Nurhikmah

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 02 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKJalur pejalan kaki pada sebuah kota adalah bagian yang penting, baik sebagai kelengkapan sebuah kota maupun sebagai tempat orang untuk menuju dari satu tempat ke tempat lainnya. Kenyamanan berjalan kaki merupakan faktor utama yang harus diperhatikan sebagai bentuk pelayanan kepada pejalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh keberadaan pedagang kaki lima terhadap kualitas jalur pejalan kaki, dan mengidentifikasi pola dan waktu penyebaran kegiatan sektor informal pada area jalur pejalan kaki. Hasil penelitian menunjukan bahwa di beberapa titik keberadaan kegiatan sektor informal pada jalur pejalan kaki cukup mengganggu kegiatan formal di jalur pejalan kaki. Tetapi keberadaan kegiatan sektor informal di area tersebut juga terjadi dikarenakan adanya faktor yang memicu seperti adanya respon masyarakat terhadap keberadaan mereka dan terjadinya kegiatan jual beli antara pedagang dan pejalan kaki yang sedang melintas.Kata kunci : pejalan kaki, jalur pejalan kaki, sektor informal ABSTRACTThe pedestrian path in a city is an important part, both as a completeness of a city and as a place for people to go from one place to another. Walking comfort is the main factor that must be considered as a form of pedestrian service. This study was conducted to determine the effect of the presence of street vendors on the quality of pedestrian pathways, and to identify patterns and timing of the spread of informal sector activities in the area of pedestrian pathways. The results showed that at some point the existence of informal sector activities on pedestrian pathways was enough to disturb formal activities in the pedestrian path. But the existence of informal sector activities in these areas also occurs due to triggering factors such as the communitys response to their existence and the occurrence of buying and selling activities between traders and pedestrians who are passing.Keywords: pedestrians, pedestrian paths, informal sector 

KARAKTER PENGGUNA RUANG PUBLIK DI TAMAN AYODYA JAKARTA SELATAN

Noor, Alfiani, Winandari, M I Ririk, Ischak, Mohammad

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 02 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Taman Kota merupakan salah satu bentuk ruang terbuka publik yang berfungsi memenuhi kebutuhan warga kota dalam melakukan kegiatan sosial. Karakteristik ruang tersebut seharusnya sesuai dengan kebutuhan sosial penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami karakter pengguna dalam pemanfaatan Taman Ayodya. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik taman, yang meliputi bentuk taman, lokasi, konteks lingkungan taman, fitur taman mempengaruhi karakter pengguna, jenis kegiatan, dan perilaku pengguna. Karakteristik taman yang memberikan kenyamanan bagi pengunjung secara umum adalah kehadiran suasana alami dalam taman, adanya danau, tempat duduk dan kondisi taman yang terpelihara. Taman mudah diakses secara fisik, visual, maupun simbolis. Karakter pengguna beragam mulai dari remaja, dewasa hingga keluarga, ditemukan kecenderungan alasan minat pengguna datang ke taman untuk menghilangkan penat dan berolahraga. Kata kunci : ruang terbuka,  ruang terbuka publik, karakteristik ruang terbuka publik ABSTRACTCity Park is a form of public open space that functions to meet the needs of city residents in carrying out social activities. The characteristics of the space should be in accordance with the social needs of the users. This study aims to explore the users character in the use of Ayodya Park. This research was conducted qualitatively. The results showed that the characteristics of the park, which includes the shape of the park, the location, the context of the parks environment, the features of the park affect the users character, types of activities, and user behavior. The characteristics of the park that provide comfort for visitors in general are the presence of a natural atmosphere in the park, the presence of lakes, seating and maintained garden conditions. The park is easily accessible physically, visually, and symbolically. User characters ranging from teenagers, adults to families, found a tendency to interest users to come to the park to eliminate fatigue and exercise. Keywords: open space, public open space, characteristics of public open space

PERAN INSTITUSI PERGURUAN TINGGI DALAM MENGHADAPI FENOMENA KAMPUNG TERJEPIT PADA DAS CISADANE KABUPATEN TANGERANG

Tanumihardja, Dicky

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 02 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPengentasan kemiskinan di Indonesia merupakan sebuah isu multi dimensi yang membutuhkan pendekatan multi dimensi juga. Salah satu isu yang mendasar adalah bagaimana tidak berdayanya masyarakat berpenghasilan rendah yang menyebabkan mereka tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan atau mendapatkan manfaatnya. Kondisi ini dapat terlihat dari adanya ko-eksistensi??tapi tanpa kohesi??dari pemukiman tradisional (mis. kawasan kumuh, kampung, dsb) di antara yang modern (mis. perumahan, mixed use development, dsb). Kondisi ini juga nampak pada DAS Cisadane yang selalu menjadi salah satu tempat dengan populasi terbanyak untuk pemukiman tradisional karena rendahnya kendali dari pemerintah. Sayangnya, pembangunan yang pesat di Kabupaten Tangerang telah menyebabkan pemukiman ini dikelilingi oleh pembangunan yang lebih maju (baik secara fisik maupun ekonomi) dan menciptakan jarak sosial di antaranya. Pada awalnya Pemerintah Kabupaten melaksanakan program pengentasan kemiskinan secara mandiri, tetapi setelah pemaparan pendapat penasehat dari kalangan non-pemerintah maka diputuskan untuk melibatkan perguruan tinggi sebagai fasilitator dan pelaksana program karena perguruan tinggi dianggap mempunyai sumber daya yang lebih relevan untuk program ini. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan skema kolaborasi di antara para pemangku kepentingan dan secara khusus akan menekankan peran perguruan tinggi sebagai community developer; demikian juga tantangan yang dihadapi dan hasil pembelajarannya. Makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang peran institusi perguruan tinggi dalam menangani isu kemiskinan di sekitarnya. Kata Kunci: peran perguruan tinggi, pengentasan kemiskinan, multi dimensi, kolaborasi, ko-eksistensi tanpa kohesi. ABSTRACTPoverty alleviation in Indonesia has always been a multi dimensional issues that needs a multi dimensional approaches as well. One of the fundamental issue is how helpless are the low income community that caused them unable to participate with the progressive development or benefit from it. This situation can be pictured with the coexistence??but without cohesion??of traditional settlement (i.e. slums, kampungs, etc) among the modern ones (i.e. housing estate, mixed use development, etc). This situation is also occurred in Cisadane riverbanks which have always been one of the most populated area for traditional settlements because the lack of control from government. Unfortunately, the progressive real estate development in Tangerang region has caused these settlements surrounded with more advanced (both economically and physically) development and created the social gap in between. Initially the Regional Government (Pemerintah Kabupaten) conducted the poverty alleviation program independently, but soon after the hearing from non-governmental advisors then decided to involve universities as facilitator and conductor of the program because the universities are considered to have more relevant resources needed for the program. The purpose of this paper is to present the collaboration scheme taken among stakeholders and particularly will stressed the role of universities as the community developer; as well as the expected challenge and the lessons learned. This paper is expected to add more knowledge on how higher education institution addresses poverty issues around them. Keywords: role of universities, poverty alleviation, multi dimensional, collaboration, coexistence without cohesion

ANALISIS WAKTU DENGUNG PADA GEDUNG BALAI SARBINI

Kurniasih, Sri

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 02 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Semakin berkembangnya dunia hiburan semakin banyaknya pembangunan gedung-gedung yang membutuhkan sistem akustik salah satunya adalah gedung Balai Sarbini yang berfungsi sebagai gedung pertunjukan. Terkadang perancang hanya memfokuskan pada tampilan fasade bangunannya saja tanpa memperhatikan kenyamanan pengguna bangunan baik dari segi kenyamanan termal, kenyamanan visual maupun kenyamanan suara. Hal inilah yang terkadang menimbulkan permasalahan terutama permasalahan akustik baik permasalahan pada penerima suara maupun permasalahan pada rancangan arsitekturnya. Dengan demikian perlu diketahui tingkat nilai waktu dengung yang terjadi pada gedung Balai Sarbini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau dan menganalisis sistem akustik baik dari rancangan, penggunaan material maupun perhitungan Reverberation Time (RT) pada bangunan Balai Sarbini yang kemudian disesuaikan dengan tinjauan teori, persyaratan dan standar perhitungan akustik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, berupa uraian yang didapat dari data primer yang ada di lapangan dan teori-teori dasar terkait dari beberapa literatur, yang kemudian melakukan pengukuran dan perhitungan waktu dengung Pertunjukan sebagai objek penelitian dimana hasil pengukuran dan perhitungan tersebut akan disesuaikan dengan standar waktu dengung. Hasil penelitian waktu dengung (RT) kondisi eksisting Gedung Balai Sarbini tanpa bantuan elektro akustik adalah 0,6 detik saat kosong penonton, dan 0,72 detik saat penonton penuh (1000 orang). Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kalkulasi waktu dengung/Reverberation Time (RT) untuk gedung Concert Hall, maka gedung Balai Sarbini kurang/belum memenuhi ketentuan umum. Kata Kunci: Akustik, gedung balai Sarbini, waktu dengung ABSTRACT The development world of entertainment the more the construction of buildings that require an acoustic system one of which is the Hall Sarbini that serves as a performance building. Sometimes the designer only focuses on building façade façade alone regardless of the comfort of the building user in terms of thermal comfort, visual comfort and sound comfort. This is what sometimes causes problems especially acoustic problems both the problems on the recipients of the sound and the problems in the design of the architecture. Thus it is necessary to know the level of the time value of the buzz that occurred at Balai Sarbini building. The purpose of this research is to review and analyze the acoustic system from design, material use and Reverberation Time (RT) calculation on Balai Sarbini Hall building which is then adjusted to theoretical review, requirement and standard of acoustic calculation. The research method used is descriptive quantitative, in the form of description obtained from the primary data in the field and related basic theories from several literatures, which then perform the measurement and calculation of the time drone Performance as the object of research where the results of measurements and calculations will be adjusted with standard time drone. The result of research of the buzzer (RT) condition of existing Balai Sarbini Hall without the aid of acoustic electro is 0,6 second when empty of audience, and 0,72 second when the audience is full (1000 people). Thus it can be stated that the calculation of Reverberation Time (RT) for the Concert Hall building, the Balai Sarbini building has not fulfilled the general requirement. Keywords: Acoustics, Hall of Sarbini building, performances, buzzing time

TINJAUAN TERHADAP STRATEGI PENGHAWAAN RUANG PERKOTAAN MELALUI ATAP HIJAU

Kurniawan, M Donny, ., Suhendri

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 02 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kenyamanan termal di ruang luar menjadi isu yang penting saat ini akibat kenaikan yang signifikan pada suhu udara perkotaan. Kenaikan suhu ini diakibatkan oleh perubahan iklim global dan fenomena pulau panas perkotaan (Urban Heat Island) faktor pulau panas perkotaan ini dapat direduksi salah satunya dengan penghawaan pasif di ruang-ruang perkotaan. Dalam rancangan kota, penghawaan perkotaan dapat berupa pengaturan massa-massa bangunan, orientasi jalan, sampai ke detail desain bagunan yang dirancang untuk mengalirkan angin. Kota dengan penghawaan perkotaan yang baik dapat melepaskan panas yang terperangkap di antara bangunan melalui angin, juga dapat memberikan kenyamanan termal pada ruang luar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas strategi pengahawaan perkotaan dengan perletakan atap hijau di bangunan tinggi. Efektivitas ini ditinjau dari hasil simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) terhadap berbagai posisi perletakan atap hijau pada bangunan tinggi. Hasil simulasi didapat dari dua metode simulasi, yaitu CFD 3 dimensi pada skala kota dan CFD 2 dimensi pada urban canyon. Kedua simulasi tersebut menunjukkan bahwa atap hijau yang diletakkan pada posisi yang tepat di sebuah bangunan tinggi dapat memicu pergerakan angin yang potensial bagi reduksi pulau panas perkotaan sekaligus memberikan kenyamanan termal ruang luar di perkotaan. Kata kunci: kenyamanan termal ruang luar, pulau panas perkotaan, atap hijau, CFD  ABSTRACTCities are facing temperature increase due to global warming and urban heat island. Although the global warming needs to be solved with global acts, the urban heat island presumably can be reduced by ventilated city strategies. Ventilated cities are designed to create a preferable wind flow in the city??s spaces. Thus, it releases heat that is trapped in the urban canyon and reduces urban heat island. Wind generated by the strategy could also provide outdoor thermal comfort in the cities. One of the ventilated city strategies are by utilizing roof garden for high rise buildings. Therefore, this research is aimed to identify the effectivity of roof garden in delivering wind flow. Two computational fluid dynamics (CFD) simulation schemes had been analyzed, and this paper reviews the results. The schemes are 3D CFD simulation for urban area and 2D CFD simulation for urban canyon. Review of the result analysis shows that roof garden is potential to drive a sufficient wind flow as long as its position is appropriate. Keywords : outdoor thermal comfort, urban heat island, roof garden, CFD

PENGARUH INSTITUSI PENDIDIKAN DAN RUMAH SAKIT TERHADAP TRANSFORMASI KAWASAN PERUMAHAN MELALUI ANALISIS TIPOMORFOLOGI

Pratimi, Mariska, M.Firdausah, Azzahra

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK Fenomena menjadikan rumah tinggal sebagai rumah-usaha di beberapa kawasan perumahan, ditunjukkan dengan terjadinya masuknya fungsi baru ke dalam suatu fungsi yang homogen. Adanya aktifitas komersial pada kawasan perumahan akan mengakibatkan perubahan tatanan ruang lingkup hunian secara fisik maupun non fisik. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, tahap pertama mengidentifikasi metode-metode yang digunakan untuk menganalisis perubahan fungsi lahan. Tahap kedua yaitu menguji metode yang terpilih pada studi kasus pada sebuah perubahan fungsi kawasan perumahan di Kota Bandung. Hasil identifikasi metode ditemukan bahwa tipomorfologi dapat  digunakan untuk menerangkan perubah-perubahan dari suatu tipe, di mana suatu tipe memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat membedakannya dengan tipe-tipe yang lain. Proses perubahan fungsi yang terjadi pada Koridor Hasanudin dan Prof. Eykman sangat dipengaruhi oleh adanya aktivitas rumah sakit dan universitas sehingga pola perkembangan yang terjadi adalah pola invasi linear dan pola dominasi radial. Perubahan fungsi yang terjadi pada dua koridor memberikan dampak berupa gangguan lalu lintas akibat on street parking dan perubahan sirkulasi jalan. Kata kunci: komersial, perumahan, perubahan fungsi, tipomorfologi  ABSTRACTThe phenomenon of making a home as a business house in several residential areas is indicated by the entry of a new function into a homogeneous function. The presence of commercial activities in residential areas will result in changes in the physical and non-physical occupancy scope of the occupancy. This research was conducted in two stages, the first stage identified the methods used to analyze changes in land functions. The second stage is testing the method chosen in the case study on a change in the function of the residential area in the city of Bandung. The method identification results found that typomorphology can be used to explain changes of a type, where a type has certain characteristics that can distinguish it from other types. The function change process that occurs in the Hasanudin Corridor and Prof. Eykman is strongly influenced by the activities of hospitals and universities so that the pattern of development that occurs is a linear invasion pattern and a pattern of radial dominance. Function changes that occur in the two corridors have an impact in the form of traffic disruption due to on street parking and changes in road circulation. Keywords: commercial, housing, function change, typomorphology

FENOMENA KERUANGAN PERMUKIMAN DI PULAU PENYENGAT

Rijal, Muhammad, Setioko, Bambang, Budi Sardjono, Agung

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

 Konfigurasi ruang permukiman pesisir di Pulau Penyengat bukan hanya terbentuk dari geomorfologi fisik lingkungannya, namun terkait dengan peristiwa masa lalu dan kondisi sosial budaya masyarakat yang membentuknya. Penelitian ini penting dalam rangka mengungkapkan tema keruangan permukiman yang berimplikasi dalam menyusun konsep keruangan sehingga dapat berkontribusi terkait penyusunan kebijakan perencanaan dan perancangan kawasan permukiman bersejarah di Pulau Penyengat. Penelitian ini menggunakan pendekatan Grounded Theory dalam paradigma penelitian kualitatif untuk menjawab atas permasalahan dasar penelitian, yakni bagaimanakah fenomena keruangan permukiman pesisir terkait dengan pertumbuhannya  dalam upaya mengungkapkan tema keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat. Temuan dalam penelitian menunjukan bahwa fenomena keruangan yang terbentuk di Pulau Penyengat telah mengalami enam fase pertumbuhan yang terkait dengan konfigurasi ruang permukiman pesisir dalam empat tema penting, yakni: translasi ruang cagar budaya dan warisan; interseksi ruang sosial pada ruang pesisir; interaksi ruang sosial dalam ruang ritual dan ziarah, dan; simbolik ruang spiritual dan kekuasaan.     Kata kunci: Pertumbuhan Kota, Permukiman Pesisir, Konfigurasi Ruang, Grounded Theory, Pulau Warisan  ABSTRACTSpace configuration of coastal settlement in Penyengat Island was not formed by the physical geomorphological only, but related with historical events and socio-cultural aspects. This research is important in order to reveal the theme of spatial settlements and have implications in composing spatial concept. It can contribute to the policy of planning and design in Penyengat Island as the historic settlement area. This study uses the Grounded Theory approach in a qualitative research paradigm to answer the basic problem of research, namely how the spatial settlement phenomenon in Pulau Penyengat related to the space configuration of coastal settlement. The findings in this study show that spatial phenomena formed in Penyengat Island are not only related to the physical themes of the waterfront areas that tend to be linear, but related to four important themes: translation of cultural heritage and heritage space; intersection of social space in coastal space; the interaction of social space in ritual and pilgrim, and; symbolic of spiritual and power spaces. Keywords : Urban Growth, Coastal Settlements, Space Configuration, Grounded Theory, Herritage Island

ADAPTASI ARSITEKTUR HUNIAN ETNIK CAMPURAN DI SULAWESI UTARA

Woy, Valeria, Siahaan, Uras, R. Tobing, Rumiati

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini mengkaji tentang bagaimana adaptasi arsitektur yang terjadi pada hunian di permukiman etnik campuran. Penelitian ini menarik untuk dikaji karena pengaruh percampuran etnik menjadi dasar terbentuknya permukiman Jaton dan Mopugad. Jaton merupakan permukiman campuran etnik Minahasa sebagai etnik lokal dengan etnik Jawa sebagai etnik pendatang sementara Mopugad merupakan permukiman campuran etnik Bolaang Mongondow sebagai etnik lokal dengan etnik Bali sebagai etnik pendatang. Kedua permukiman ini menjadi permukiman adat religi karena  nilai-nilai tradisi keagaamaan yang kental di dalam permukiman ini. Kajian adaptasi arsitektur dapat menggali bagaimana terbentuknya elemen-elemen arsitektur pada hunian di Jaton dan Mopugad dan bagaimana pegaruhnya pada perubahan-perubahan yang terjadi akibat modernisasi. Menurut Ibarra, adaptasi merupakan upaya dari manusia untuk meningkatkan kecocokan antara lingkungan dan dirinya. Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan mengambil pendekatan deskriptif dan rasionalistik. Pada umumnya hunian pada permukiman jaton mengadaptasi hunian etnik lokal Minahasa sementara hunian pada permukiman Mopugad mengadaptasi hunian etnik pendatang Bali. Keterlekatan sosial masyarakat yang tinggi mengakibatkan proses adaptasi hunian lokal sangat kental pada permukiman Jaton sementara keterlekatan sosial masyarakat yang rendah mengakibatkan masyarakat Mopugad lebih memilih adaptasi hunian asal mereka Bali.Kata kunci : Adaptasi arsitektur, adaptasi hunian, etnik campuran.ABSTRACTThis study examines how architectural adaptation that occurs in settlements in mixed ethnic settlements. This research is interesting to study because the influence of ethnic mixing is the basis for the formation of Jaton and Mopugad settlements. Jaton is a mixed Minahasa ethnic settlement as a local ethnic group with Javanese ethnic as a migrant ethnic group while Mopugad is a mixed ethnic settlement of Bolaang Mongondow as a local ethnic group with ethnic Balinese as immigrant ethnic. Both of these settlements become religious custom settlements because of the thick religious tradition values in this settlement. The study of architectural adaptation can explore how the architectural elements in Jaton and Mopugad are formed and how they are influenced by the changes that occur due to modernization. According to Ibarra, adaptation is an effort from humans to increase the compatibility between the environment and himself. This research is classified as qualitative research by taking a descriptive and rationalistic approach. In general, dwelling in the Jaton settlement adapts the occupancy of local Minahasa ethnicities while occupancy in the Mopugad settlements adapts ethnic settlements of Balinese migrants. The high social attachment of the community resulted in a very thick local adaptation process in the Jaton settlement while the low social attachment of the community resulted in the Mopugad community preferring to adapt to their original Bali residence.Keywords: architectural adaptation, residential adaptation, mixed ethnicity.

RE/PRODUKSI RUANG INTERAKSI SOSIAL BERBASIS KEGIATAN PERDAGANGAN DALAM KAMPUNG KOTA DI SEKITAR KAMPUS

PASARIBU, RAMOS, Siahaan, Uras, R. Tobing, Rumiati

Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Arsitektur Usakti Vol 16, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Suatu fenomena yang menarik yang terjadi di Indonesia hingga saat ini yaitu adanya perkampungan yang berdampingan dengan pusat kota seperti kampung kota yang berdampingan dengan kampus. Kegiatan mahasiswa mencair ke dalam perkampungan mencari tempat kos mendorong warga/pemilik rumah/pemilik modal merubah fungsi bangunan menjadi tempat kos. Karakteristik kegiatan mahasiswa di dalam kampung yang tertutup dengan lingkungannya menuntut perubahan penampilan bangunan yang dibatasi dengan pagar tinggi yang membatasi interaksi sosial dengan lingkungannya. Oleh karena itu perlu diteliti tentang ??Re/produksi Ruang Interaksi Sosial Berbasis Kegiatan Perdagangan Dalam Kampung Kota Di Sekitar Kampus?. Kebutuhan mahasiswa yang meningkat seperti mencari tempat laundry, warung makan, dan sebagaimya mendorong pemilik rumah merubah fungsi lantai dasar dan halaman muka rumah menjadi fungsi perdagangan, dan mempengaruhi cara berinteraksi sosial antara mahasiswa/non mahasiwa yaitu melalui kegiatan perdagangan. Hasil studi menemukan suatu ruang interaksi sosial yang baru (berbasis kegiatan perdagangan) di dalam kampung kota di sekitar kampus. Kriteria kampung sebagai objek penelitian adalah ; kampung memiliki kepadatan > 400 jiwa/ha, pencapaian langsung dari kampung ke kampus, di dominasi homogenitas kegiatan perdagangan, kampung memiliki 2 atau lebih pencapaian ke kampung. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif ; penelitian survai yang bersifat deskriptif, dan  studi kasus. Kata kunci: komersial, perumahan, perubahan fungsi, tipomorfologi ABSTRACTAn interesting phenomenon that has occurred in Indonesia to date is the existence of settlements adjacent to the city center, such as urban villages adjacent to the campus. Student activities melt into villages looking for boarding houses encourage residents / homeowners / capital owners to change the function of the building into a boarding house. Characteristics of student activities in a closed village with its environment require changes in the appearance of buildings that are limited by high fences that limit social interaction with their environment. Therefore, it is necessary to examine the "Re / production of Space for Social Interaction Based on Trade Activities in Urban Villages Around the Campus". Increased student needs such as finding a place of laundry, food stalls, and as a matter of encouraging homeowners to change the function of the ground floor and front yard of the house into a trading function, and influence the way of social interaction between students / non-students through trading activities. The results of the study found a new social interaction space (based on trade activities) in the city kampong around the campus. Village criteria as the object of research are; The village has a density of> 400 people / ha, direct achievements from village to campus, dominated by the homogeneity of trade activities, the village has 2 or more achievements to the village. Research methods use qualitative research methods; descriptive survey research, and case studies. Keywords: commercial, housing, function change, typomorphology