cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
PETRO
Published by Universitas Trisakti
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
Evaluasi Kegiatan Pengasaman Matriks Pada Sumur A Di Lapangan Panas Bumi SG Kustono, Bambang; Yanti, Widya
PETRO Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v2i2.296

Abstract

Pada lapangan panas bumi, terutama yang berjenis dominasi air, salah satu permasalahan yang cukup sering dihadapi adalah berkurangnya produktivitas sumur akibat terjadinya scaling atau jenis kerusakan formasi lainnya. Untuk mengatasi permasalahan kerusakan formasi, umumnya dilakukan metode-metode stimulasi reservoir pada lapangan. Salah satu metode stimulasi reservoir yang cukup sering digunakan pada lapangan panas bumi untuk memperbaiki produktivitas sumur adalah pengasaman matriks.Pengasaman matriks dilakukan pada sumur “A” dikarenakan nilai II (Injectivity Index) sumur yang jauh lebih rendah daripada II sumur-sumur di sekitarnya. Kondisi ini menunjukkan keberadaan konten penyebab kerusakan formasi pada lubang sumur. Berdasarkan hasil analisa profil tekanan dan temperatur, diputuskan untuk melakukan pengasaman matriks pada dua buah feedzone di sumur “A”.Evaluasi kinerja pengasaman matriks dilakukan menggunakan analisa deliverability curve untuk menghitung nilai perolehan uap serta MDP sumur. Program asam yang paling layak untuk dilakukan berdasarkan analisa deliverability curve adalah program asam 120 gal/ft (9% HF). Program asam ini dapat meghasilkan perolehan uap sebesar 92 kph dan nilai MDP sebesar 147.2 psi. Berdasarkan evaluasi keekonomian, program asam ini juga menghasilkan nilai ekonomis yang paling baik sehingga dipilih sebagai program asam yang paling tepat untuk digunakan.
ANALISIS DATA LOG UNTUK PERHITUNGAN VOLUME GAS AWAL DI TEMPAT DENGAN METODA VOLUMETRIK Ridaliani, Onnie; trisakti, samsol
PETRO Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v4i4.286

Abstract

Perhitungan Initial Gas In Place (IGIP) pada Lapangan KIM menjadi langkah awal pengembangan sumur gas. Untuk mendapatkan nilai setiap parameter perlu dilakukan interpretasi secara kualitatif maupun kuantitatif. Interpretasi data secara kualitatif meliputiquick look pada kurva log. Sedangkan interpretasi data secara kuantitatif adalah melakukan perhitungan berdasarkan data geologi, petrofisik, dan reservoir dengan menggunakan rumus-rumus tertentu. Dalam pengerjaannya, softwarePetrel dan Interactive Petrophysics digunakan untuk membantu analisis setiap parameter.Lapangan KIM memiliki dua lapisan yang berpotensi mengandung gas yaitu b2-340 dan K-670.Jenis lithologi pada lapangan ini didominasi oleh sandstone. Volume gas awal di tempat atau Initial Gas In Place (IGIP) pada lapisan b2-340 dan K-670 adalah sebesar 4.63 bscf dan 13.01 bscf. Sehingga volume gas awal di tempatatau Initial Gas In Place (IGIP) pada kedua lapisan di lapangan KIM adalah sebesar 17.63 bscf.
PENGARUH INJEKSI PHOTASSIUM CHLORIDE (KCL) TERHADAP PERMEABILITAS BATUAN LAPANGAN X Ginting, Mulia; Ridaliani, Onnie; Wahyuni, MG Sri
PETRO Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v2i2.301

Abstract

Pada penelitian ini digunakan tiga sampel batuan sandstone dari lapangan X,.masing-masing sampel ditimbang berat kering dan berat basah kemudian diinjeksikan syntetic oil untuk mendapatkan permeabilitas awal, setelah itu dicuci dan dikeringkan kemudian sampel diinjeksi completion fluid dalam hal ini potassium chloride (KCl) dengan SG 1,16 untuk mendapatkan nilai permeabilitas akhir.Besar kecilnya faktor keberhasilan penggunaan KCL sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kualitas KCL yang digunakan, tekanan, dan konsentrasi KCL. Apabila KCL yang akan diinjeksikan ke reservoir mempunyai kualitas yang bagus, maka akan dapat diperoleh peningkatan permeabilitas yang optimal. Tekanan juga sangat berpengaruh pada KCL karena besar kecilnya tekanan pada penginjeksian KCL dapat mengakibatkan formasi di reservoir runtuh, sedangkan konsentrasi pada KCL harus dilakukan uji laboratorium terlebih dahulu untuk mengetahui perbandingan fluida yang akan diinjeksikan. Sehingga dari penelitian ini dapat memberikan data perubahan permeabilitas, besarnya tekanan injeksi, serta konsentrasi KCL yang digunakan. Oleh karena itu penelitian ini merupakan studi awal skala laboratorium yang dapat memberikan informasi data awal sebelum dilaksanakan kemudian di lapangan X.PENGARUH INJEKSI PHOTASSIUM CHLORIDE (KCL) TERHADAP PERMEABILITAS BATUAN LAPANGAN X
OPTIMALISASI PEMBORAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PEMBORAN BERARAH Akbar, Rizki
PETRO Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v4i4.291

Abstract

Pemboran berarah di Indonesia diperlukan untuk menjawab tantangan dari build-up bagian 8.5in dilakukan dengan menggunakan teknik kerekayasaan. Tantangan tersebut termasuk kebutuhan High Dogleg dengan Dogleg severity(DLS) 9o/100ft sampai 11o/100ft, panjang interval lapisan shale yang reaktif, kualitas lubang bor, kendali lintasan, pembersihan lubang dan pemasangan casing liner. Semua tantangan tersebut dapat memengaruhi pembengkakan Authorization For Expenditure (AFE) sumur dan pada kasus yang lebih ekstrim maka akan dapat mengakibatkan hilangnya satu sumur. Jenis perencanaan sumur telah didesain untuk pemboran vertical di bagian 12.25in, kemudian build pada bagian 8.5in dari vertikal ke inklinasi 90o dengan buildup rate 11o/100ft untuk memasuki zona reservoir.Kerjasama antara operator dan perusahaan penyelenggara pemboran berarah memberikan kemudahan bagi para insinyur pemboran untuk mengahadapi tantangan conventional steerable motor assemblies. Bagian 12.25in dibor vertikal dengan menggunakan motor dan bagian 8.5in dibor dengan menggunakan Rotary Steerable System (RSS). Teknologi ini ditujukan untuk membandingkan rasio penetrasi menggunakan motor dan RSS. Solusi ini memudahkan operator untuk membor bagian 8.5in dengan aman dan efisien tanpa hambatan, selama proses mengebor dan pemasangan casing, juga dapat menghemat waktu sampai dengan 3 hari dari perencanaan. Teknologi baru ini mebuktikan bahwa ada kemungkinan untuk membor dengan Dogleg Severity (DLS) sampai 17o/100ft dengan putaran penuh. Rasio penetrasi pada bagian ini juga tidak membutuhkan sliding.
EVALUASI PENANGGULANGAN KICK MENGGUNAKAN METODE DRILLER, WAIT & WEIGHT, DAN CONCURRENT PADA SUMUR X LAPANGAN Y Hamid, Abdul
PETRO Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v2i2.282

Abstract

Dalam operasi pemboran sering dijumpai adanya problem atau masalah yang menghambat jalannya operasi pemboran sumur tersebut.Salah satu hambatan yang terjadi pada operasi pemboran sumur X di lapangan Y adalah adanya influx berupa gas yang menyebabkan terjadinya kick. Usaha menanggulangi kejadian kick tersebut memerlukan biaya, waktu, dan tenaga serta akan menghambat penyelesaian sumur, yang dapat meningkatkan biaya pemboran dari yang telah direncanakan.Pada proses pengeboran sumur X yang terletak di lapangan Y mengalami beberapa masalah yang diantaranya adalah terjadinya kick pada kedalaman 5138 ft. Hal tersebut terindikasi dari adanya gas influx yang tercatat oleh mud logger di permukaan, dengan total gas influx yang tercatat sebesar 770 unit. Selain tercatatnya gas influx, di mud pit juga tercatat adanya pertambahan lumpur sebanyak 23 bbl. Kejadian tersebut terjadi pada saat menembus lapisan Formasi Upper Ujoh Bilang. Setelah diketahui secara pasti kondisi ini, maka secepatnya harus ditanggulangi agar tidak terjadi blow out. Pada penulisan tugas akhir ini, metode penanggulangan kick yang akan dibandingkan pada sumur X adalah metode driller, metode wait & weight, dan metode concurrent.Setelah dilakukannya analisa dan perhitungan dari data dilapangan ditemukan hasil dengan menggunakan metode driller membutuhkan waktu yang paling lama sedangkan dengan menggunakan metode wait & weight dan metode concurrent membutuhkan waktu yang lebih cepat. Akan tetapi dari hasil analisa kelebihan dan kekurangan ditetapkan bahwa metode concurrent lebih efektif dan efisien dibanding kedua metode yang lainnya.
PERHITUNGAN PENURUNAN TEKANAN FLUIDA MULTIFASA PADA TUBING PRODUKSI DAN OPTIMASI PRODUKSI DENGAN PEMASANGAN POMPA ESP Tamsil, Mukmin
PETRO Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v2i2.297

Abstract

Masalah penurunan tekanan pada tubing produksi dengan elevasi tertentu menjadi topik yang perlu diketahui dalam teknik perminyakan. Pada penelitian ini akan membahas korelasi multifasa yang sesuai untuk menentukan besarnya penurunan tekanan pada tubing produksi, sehingga dapat digunakan untuk optimasi produksi di masa yang akan datang.Optimasi produksi dilakukan dengan tujuan memperoleh laju alir yang lebih besar dibandingkan laju alir saat ini.Optimasi tersebut dilakukan dengan pemasangan pompa ESP pada sumur yang dilakukan pengujian.Untuk menentukan korelasi multifasa yang sesuai dalam penentuan besarnya penurunan tekanan yang terjadi dilakukan dengan membandingkan keadaan aktual dengan hasil perhitungan korelasi fluida multifasa secara simulasi.Hasil korelasi tersebut hanya sebagai pembanding dengan keadaan aktual.Dalam penelitian ini korelasi yang digunakan yaitu korelasi Beggs and Brill, Murkejee and Brill, Hagedorn and Brown, serta Korelasi Duns and Ros.Melalui hasil yang diperoleh dari perhitungan korelasi fluida multifasa, maka selanjutnya digunakan untuk perhitungan pemasangan pompa ESP pada sumur yang dilakukan pengujian. Perhitungan aliran fluida multifasa sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik fluida yang berhubungan dengan tekanan dan temperatur, sehingga diperlukan perhitungan dengan
STUDI PENENTUAN TEKANAN TERCAMPUR MINIMUM DENGAN INJEKSI GAS CO2 MENGGUNAKAN METODA SLIMTUBE TEST DAN KORELASI Setiati, Rini
PETRO Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v4i4.287

Abstract

Penggunaan gas CO2 untuk meningkatkan perolehan minyak bumi memerlukan tekanan agar terjadi kelarutan yang sempurna antara minyak dengan gas CO2 tersebut sehingga memerlukan tekanan tercampur. Oleh karena itu dilakukan penelitian terlebih dahulu sebelum dilaksanakan di lapangan, penentuan tekanan tercampur pada penelitian ini dilaksanakan dengan dua metode yaitu percobaan dan perhitungan korelasi. Penelitian penentuan tekanan terhadap tercampur minimum (TTM) pada injeksi CO2 dilakukan terhadap satu sampel dari sumur “X” dilapangan “Y” untuk reservoir “Z”. Reservoir “Z” memiliki API Gravity sebesar 390 API dan suhu reservoir sebesar 1700F. perhitungan tekanan tercampu minimum menggunakan 5 korelasi. Korelasi Holm Josendal (1980), Yellig Metcalfe (1980), National Petroleum Council, Cronquist Et Al (1978) dan Sebastian Et Al (1978). Sedangkan sebagai pembandingnya akan dilakukan dengan metode slimtube apparatus. Hasil perhitungan korelasi penentuan Tekanana Tercampur Minimum (TTM) pada sumur “X” untuk masing – masing metode adalah Holm dan Josendal (1980) sebesar 2350 psig, Yellig Metcalfe sebesar 2114 psig, National Petroleum Council 1550 psig, Cronquist Et Al sebesar 1749 psig dan Sebastian Et Al sebesar 513 psig. Percobaan Tekanan Tercampur Minimum (TTM) dengan slimtube pada reservoir “Z” menggunakan tekanan sebesar 2500 psig, 2750 psig, 3000 psig, 3250 psig, 3500psig dan 4000 psig. Dari percobaan tersebut didapatkan Tekanan Tercampur Minimum (TTM) sebesar 3150 psig dan korelasi yang paling mendekati hasil laboratorium adalah korelasi Holm dan Josendal dan Yellig dan Metcalfe dengan Tekanan Tercampur Minimum (TTM) sebesar 2350 psig dan 2114 psig.
ANALISA PENGARUH HETEROGENITAS SIFAT FISIK BATUAN DAN POLA SUMUR INJEKSI TERHADAP EFISIENSI PENDESAKAN MINYAK BASE ON DATA SIMULASI trisakti, samsol; Fathaddin, M. Taufiq; Sitaresmi, Ratnayu
PETRO Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v4i4.292

Abstract

Lapangan RMM adalah lapangan minyak dan gas dengan reservoir pada Formasi Santul dan Tabul pada sistem deltaik yang dikarakterisasi oleh perangkap struktural, stratigrafi, dan kombinasi keduanya.Maksud dari penelitian ini adalah sebagaisalah satu bagian perencanaan pengembangan lapangan tahap lanjut untukdapatmeningkatkan perolehan minyak yang ada saat ini, yaitu dengan melakukan simulasireservoir dengan peniginjeksian pada Lapangan RMM. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa keselarasan sifat fisik reservoir dan pola penginjeksian terhadap efisiensi pendesakan dan pengangkatan sisa cadangan hidrokarbon secara optimal.Penelitian ini dilakukan pada lapisan M31 diproduksikan dari 12 sumur yang terbagi dalam 2 blok 1 dan 4 memiliki sejarah produksi mulai bulan Januari 1956, blok 4 sampai sekarang belum diproduksikan. Dari 12 sumur yang berproduksi di lapisan M31 telah menguras minyak sebesar sebesar 6073.7 Mstb dengan Recovery Factor sekitar 30.61 % di blok 1 dengan OOIP 19.84 MMSTB.Case yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pola injeksi Peripheral, Normal Five Spot dan Inverted Five Spot dan dengan beberapa sensitivity rate injeksi . Prediksi dilakukan dari tahun 2014 sampai tahun 2025. Dari case yang dilakukan, yang paling optimal menghasilkan minyak adalah dengan Case 1 yaitu dengan pola peripheral. Dengan laju injeksi air sebesar 2000 bwpd dengan menghasilkan minyak sebanyak 7042.5 MSTB
PEMILIHAN MATERIAL INSULASI DENGAN MEMPERHITUNGKAN EFEK KEHILANGAN PANAS PADA PIPA UAP PANAS BUMI Ridaliani, Onnie; Kustono, bambang
PETRO Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v3i3.283

Abstract

Kehilangan panas atau sering di sebut heat loss adalah salah satu masalah yang selalu di jumpai pada bagian pipa di lapangan panas bumi.Kehilangan panas bisa terjadi akibat perbedaan suhu antara uap yang mengalir di dalam pipa dengan suhu udara di luar pipa.Dengan persamaan yang dikembangkan oleh Frank kreith, perhitungan kehilangan panas membantu dalam perencanaan pemasangan insulator pada pipa sehingga pipa tidak mengalami kehilangan panas yang tinggi. Mencegah kehilangan panas sangat penting sebab turunnya suhu akan mengakibatkanperubahan fasa, dari fasa uap menjadi fasa cair (kondensat).Selain hal tersebut, energi berada dalam bentuk panas yang di bawa oleh fluida (air atau uap) apabila kehilangan panas besar , energi yang akan masuk kedalam turbin semakin kecil sehingga pada akhirnya mempengaruhi efisiensi pembangkitan listrik. Didalam tulisan ini, sebagai bahan material di ambil 4 macam, yaitu : Aerogel, Kalsium silikat, Glasswool, dan Rockwool. Keempat material tersebut memiliki konduktivitas yang berbeda-beda dalam arti kemampuan untuk menghantarkan panas untuk setiap jenis material berbeda-beda.
PERENCANAAN CASING PADA SUMUR NANO-27 LAPANGAN CLEO SERAM Aboekasan, Widrajat; Thouriq, Ziad
PETRO Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v2i2.298

Abstract

Perencanaan casing dalam suatu kegiatan pemboran merupakan salah satu aspek yang penting.Hal ini disebabkan casing yang dipasang harus selalu berada pada tempat kedudukannya, baik selama kegiatan pemboran berlangsung maupun pada saat masa produksi.Tujuan dari perencanaan casing adalah untuk mendapatkan ukuran casing yang tepat, dimana secara teknis cukup kuat untuk menahan gaya-gaya yang terdapat di dalam lubang bor.Perencanaan casing pada sumur Nano-27 lapangan Cleo menggunakan metode korelasi dan evaluasi dari sumur di sekitarnya (offset well) dengan ketentuan, formasi yang ditembus sama. Dengan penembusan formasi yang sama, maka diprediksikan akan terjadi masalah yang sama. Pada perencanaan casing sumur ini juga memperhitungkan tekanancollapse, burst, dan tension dengan menggunakan metode maximum load.Tekanan tersebut akan mempengaruhi kekuatan casing pada saat pemasangan dan selama proses produksi berlangsung.Rangkaian casing yang didapat untuk sumur Nano-27 lapangan Cleo terdiri dari, conductor casing pada kedalaman 400 ft, surface casing pada kedalaman 1800 ft, intermediate casing pada kedalaman 5400 ft, production casing pada kedalaman 6280 ft, dan production liner diset pada kedalaman 7000 ft dengan top of liner 6080 ft.

Page 1 of 12 | Total Record : 112