cover
Contact Name
Saka Winias
Contact Email
saka.winias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dental_journal@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19783728     EISSN : 24429740     DOI : -
Core Subject : Health,
The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) (e-ISSN:2442-9740; p-ISSN:1978-3728) is published by the Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga. Its diciplinary focus is dental science and dental hygiene. The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) is published in English on a quarterly basis with each 50-60 page edition containing between nine and eleven scientific articles on research, study literature and case studies. Contributors to the Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) included: dental researchers, dental practitioners, lecturers, and students drawn from Indonesia and a wide range of other countries.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)" : 11 Documents clear
Minyak ikan Lemuru (Sardinella longicep) menurunkan apoptosis osteoblas pada tulang alveolaris tikus wistar (Fish oil of Lemuru (Sardinella longicep) reduced the osteoblast apoptosis in wistar rat alveolar bone) Indahyani, Didin Erma
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p185-189

Abstract

Background: Periodontal disease is caused by periodontopatogen bacteria resulting the alveolar bone damage. The decrease of osteoblasts and the increased of osteoclasts can cause bone destruction. The decrease of osteoblasts, due to a disturbance of differentiation, proliferation and apoptosis. Inflammatory mediators are prostaglandin E2 (PGE2), interleukin-1 (IL-1), IL-6 also tumor necrosis alpha (TNF-α) stimulates osteoblast apoptosis through gene expression, signaling molecules and receptor-forming osteoblasts. Fish oil of Lemuru, which is widely encountered in Indonesian coast, containing n-3 poly unsaturated fatty acids (n-3 PUFAs) are quite high. Consumption of fish oil shown to reduce the expression of PGE2, IL-1, IL-6 and TNF-α. Purpose: The purpose of this study was to examine the effect of Lemuru (Sardinella longicep) fish oil on osteoblast apoptosis of rat alveolar bone induced periodontal infection. Methods: Thirty Wistar rats, male, age 5 days, divided into 3 groups: group I rats induced with normal saline, group II rats induced by LPS, and group III rats induced with lemuru fish oil and LPS. Each group was divided into 2 sub-groups that would be sacrified at 13 days and 21 days of age. Fish oil was given at a dose 1ml/300-350 grams. Lipopolysaccharide (LPS) induced with the purpose to cause periodontal infection in the maxillary buccal fold molar region with dose 5μl LPS/PBS 0.03 ml. After decapitation and decalcification, the maxilla was cut in 5μm thickness. Apoptosis was analyzed on DNA and detected by TUNEL reaction (transferase-mediated digoxigenin-deoxy-UTP nick end labeling). Results: The results showed that apoptosis of osteoblast cells was significantly smaller in rats induced by Lemuru fish oil. Conclusion: The study showed that Lemuru fish oil reduced the osteoblast apoptosis of rats alveolar bone induced periodontal infection by LPS.Latar belakang: Penyakit periodontal akibat bakteri peridontopatogen, menyebabkan terjadinya kerusakan tulang alveolar. Penurunan jumlah osteoblas dan peningkatan jumlah osteoklas mengakibatkan kerusakan tulang. Penurunan jumlah osteoblas disebabkan terjadinya gangguan diferensiasi maupun proliferasi juga apoptosis. Apoptosis osteoblas dimodulasi oleh mediator-mediator inflamatori yaitu prostaglandin E2 (PGE2), interleukin-1 (IL-1), IL-6 juga tumor nekrosis alfa (TNF-α), melalui pengaruhnya pada ekspresi gen, molekul-molekul signaling maupun reseptor pembentukan osteoblas. Minyak ikan Lemuru yang banyak di pesisir Indonesia, banyak mengandung n-3 poly unsaturated fatty acid (n-3 PUFA). Konsumsi minyak ikan terbukti menurunkan ekspresi PGE2, IL-1, IL-6 maupun TNF alfa. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti pengaruh minyak ikan Lemuru (Sardinella longicep) pada apoptosis osteoblas pada tulang alveolar tikus yang diinduksi infeksi periodontal. Metode: Tiga puluh ekor tikus Wistar, jantan, umur 5 hari, dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: kelompok I tikus diinduksi dengan salin normal, kelompok II tikus diinduksi dengan lipopolisakarida (LPS), dan kelompok III tikus dinduksi dengan minyak ikan Lemuru dan LPS. Masing-masing kelompok dibagi menjadi "> 2 sub kelompok yaitu kelompok yang akan didekapitasi pada umur 13 hari dan umur 21 hari. Minyak ikan Lemuru diberikan dengan dosis 1ml/300-350 gram. Lipopolisakarida (LPS) diinduksikan dengan tujuan untuk menyebabkan infeksi periodontal pada buccal fold regio molar rahang atas, dengan dosis 5μl LPS/0,03PBS (konsentrasi 0,02 mg). Setelah didekapitasi dan dekalsifikasi, rahang atas dipotong dengan ketebalan 5μm. Apoptosis dianalisis pada DNA dan dideteksi dengan TUNEL reaction (Transferase-mediated digoxigenin-deoxy-UTP nick end labeling). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa apoptosis sel osteoblas secara bermakna lebih kecil pada tikus yang diinduksi dengan minyak ikan. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa minyak ikan Lemuru (Sardinella longicep) mampu menurunkan apoptosis sel osteoblas pada tikus Wistar yang diinduksi infeksi periodontal dengan LPS.
Antifungal effect of Sticophus hermanii and Holothuria atra extract and its cytotoxicity on gingiva-derived mesenchymal stem cell Parisihni, Kristanti; Revianti, Syamsulina
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p218-223

Abstract

Background: Sea cucumber had been acknowledged to have some medical properties Sticophus hermanii and Holothuria atra are species of sea cucumber which has been known to have antifungal properties thus potentially explored as therapeutic agent in oral candidiasis. Purpose: The aim of this study was to examine the antifungal property Sticophus hermanii and Holothuria atra extract against Candida albicans and its cytotoxicity to human gingiva-derived mesenchymal stem cell. Methods: The study was an experimental laboratories research with post test only control group design. Methanolic extract of Sticophus hermanii and Holothuria atra in concentrations of 1%, 0.5%; 0.25%; 0.13%, 0.07%; 0.03%, 0.02% and 0.01%; were tested its cytotoxicity on gingiva-derived mesenchymal stem cell. Cell viability were measured by MTT assay. The antifungal property against Candida albicans was tested by disk diffusion method. Data were analyzed by ANOVA followed by LSD. Results: Extract of Sticophus hermanii showed no cytotoxicity in all concentrations (p>0.05), while Holothuria atra showed toxicity in the concentration of 1% and not cytotoxic in the concentrations below (p<0.05). Both sea cucumber extract could inhibit the growth Candida albicans, in vitro, proved by the clear zone around the disc in all concentrations (p<0.05). Conclusion: Stichopus hermanii and Holothuria atra extract had the antifungal effect against Candida albicans. Sea cucumber extract were not cytotoxic togingiva-derived mesenchymal stem cell in the concentration of Sticophus hermanii ≤ 1% and Holothuria atra ≤ 0.5%.Latar belakang: Teripang telah diketahui mempunyai berbagai khasiat medis. Sticophus hermanii dan Holothuria atra adalah spesies teripang yang telah diketahui mempunyai sifat anti jamur sehingga santat potensial untuk diekplorasi sebagai agen terapeutik pada infeksi di rongga mulut. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti sifat anti jamur ekstrak Sticophus hermanii and Holothuria atra terhadap Candida albicans dan sitotoksisitasnya terhadap stem sel mesenkimal yang berasal dari gingiva manusia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan post test only control group design. Ekstrak metanol Sticophus hermanii dan Holothuria atra pada konsentrasi 1%, 0,5%; 0,25%; 0,13%, 0,07%; 0,03%, 0,02% and 0,01% diuji sitoksisitasnya terhadap stem sel mesenkimal yang berasal dari gingiva. Viabilitas sel diukur dengan menggunakan metode MTT. Sifat anti jamur terhadap Candida albicans diuji dengan metode difusi. Data dianalisis dengan ANOVA dan LSD. Hasil: Ekstrak Sticophus hermanii tidak menunjukkan adanya toksisitas pada seluruh konsentrasi (p>0,05), sedangkan Holothuria atra menunjukkan adanya toksisitas pada konsentrasi 1% dan tidak toksik pada konsentrasi di bawahnya (p<0,05). Kedua ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Candida albicans in vitro yang ditunjukkan dengan adanya zona jernih disekitar disk pada semua konsentrasi (p<0,05). Simpulan: Ekstrak Stichopus hermanii dan Holothuria atra mempunyai daya anti jamur terhadap Candida albicans. Ekstrak teripang bersifat tidak toksik terhadap stem sel mesenkimal yang berasal dari gingiva masing-masing pada konsentrasi Sticophus hermanii ≤ 1%, dan Holothuria atra ≤ 0,5%.
Respon inflamasi pulpa gigi tikus Sprague Dawley setelah aplikasi bahan etsa ethylene diamine tetraacetic acid 19% dan asam fosfat 37% Fatimatuzzahro, Nadie; Haniastuti, Tetiana; Handajani, Juni
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p190-195

Abstract

Background: Etching agents such as ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA) and phosphoric acid which are widely used in adhesive restoration system, are aimed to increase retention of restorative materials; however, these agents may induce inflammation of dental pulp. The major function of the inflammatory response is to remove invading pathogens or damaged tissue/ cells and therefore, initiate repair. Neutrophils and macrophages are motile phagocytes that constitute the bodys first line of defense. Purpose: The purpose of the present research was to study the effect of 19% EDTA and 37% phosphoric acid for etching application agents on the inflammatory response of the dental pulp. Methods: Forty-five male Sprague Dawley rats were divided into 3 groups. Cavity preparation was made on the occlusal surface of maxillary first molar using a round diamond bur. Nineteen percent of EDTA, 37% phosphoric acid, and distilled water were applied on the surface of the cavity of the teeth in group I, II and III respectively. The rats were sacrified at 1, 3, 5, 7, and 14 days after the application (n=3 for each day). The specimens were then processed histologically and stained with hematoxylin eosin. Results: ANOVA showed a significant difference (p<0.05) among treatment groups, indicating that etching agents application induced neutrophils, macrophages and lymphocytes infiltration in the dental pulp. Tuckey HSD test showed that application of 37% phosphoric acid increased higher number of neutrophils, macrophages and lymphocytes significantly than 19% EDTA (p<0.05). Conclusion: The study suggested that 37% phosphoric acid induced higher number of the inflammatory cells than 19% EDTA.Latar belakang: Penggunaan bahan etsa seperti ethylene diamine tetraacetic acid (EDTA) dan asam fosfat pada sistem restorasi adhesif bertujuan untuk meningkatkan retensi bagi bahan restorasi, namun penggunaan bahan-bahan tersebut dapat menginduksi inflamasi pada pulpa. Respon inflamasi berfungsi untuk menghilangkan patogen, sel-sel atau jaringan yang rusak dan menginisiasi perbaikan. Netrofil dan makrofag adalah sel fagosit yang merupakan garis pertama pertahanan tubuh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti efek EDTA 19% dan asam fosfat 37% sebagai bahan etsa terhadap respon inflamasi pada pulpa gigi. Metode: Empat puluh lima ekor tikus Sprague Dawley jantan dibagi menjadi 3 kelompok. Permukaan oklusal gigi molar satu rahang atas dipreparasi menggunakan diamond round bur. Pada kelompok I kavitas diaplikasikan EDTA 19%, kelompok II diaplikasikan asam fosfat 37% dan kelompok III diaplikasikan akuades. Hewan coba dikorbankan pada hari ke-1, 3, 5, 7 dan 14 setelah aplikasi bahan etsa (n=3). Spesimen diproses secara histologis dan dicat dengan hematoksilin eosin. Hasil: Hasil ANOVA menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0,05) antar kelompok perlakuan, mengindikasikan bahwa aplikasi bahan etsa menyebabkan infiltrasi sel inflamasi pada pulpa, baik netrofil, makrofag dan limfosit. Hasil uji Tuckey HSD menunjukkan bahwa asam fosfat 37% menstimulasi infiltrasi sel netrofil, makrofag dan limfosit signifikan (p<0,05) lebih banyak dibanding EDTA 19%. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa asam fosfat 37% menyebabkan infiltrasi sel inflamasi yang lebih banyak dibanding EDTA 19%.
Korelasi indeks morfologi wajah dengan sudut interinsisal dan tinggi wajah secara sefalometri (Cephalometric correlation of facial morphology index with interincisal angle and facial height) Sianita K, Pricillia Priska; Verenna, Verenna
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p224-228

Abstract

Background: In a disaster or criminal case, comprehensive information is needed for identification process of each victim. Especially for some cases that only leave skull without any information that could help the identification process, including face reconstruction that will be needed. One way of identifications is specific face characteristic, race, some head-neck measurements, such as facial morphology index, interincisal angle and facial height. Purpose: The aim of study was to determine the correlation of facial morphology index with interincisal angle and facial height through cephalometric measurement. Methods: The samples were cephalogram of 31 subjects (Deutro-Malayid race) who met the inclusive criteria. Cephalometric analysis were done to all samples and followed by Pearson Correlation statistical test. Results: The correlation was found between facial morphology index and facial height, but no correlation between facial morphology index and interincisal angle. Conclusion: The study showed that the cephalometric measurement of facial morphology index and facial height could be used as the additional information for identification process.Latar belakang: Dalam bencana alam atau kasus kriminal informasi yang komprehensif diperlukan untuk proses identifikasi masing korban. Khususnya pada beberapa kasus yang hanya meninggalkan tengkorak tanpa informasi yang dapat membantu proses identifikasi, termasuk rekonstruksi wajah yang akan dibutuhkan. Salah satu cara identifikasi karakteristik wajah tertentu, ras, beberapa pengukuran kepala leher, seperti indeks morfologi wajah, sudut interincisal dan tinggi wajah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan meneliti korelasi indeks morfologi wajah dengan sudut interincisal dan tinggi wajah melalui pengukuran sefalometrik. Metode: Sampel penelitian adalah cephalogram dari 31 subyek ras Deutro - Malayid ras yang memenuhi kriteria inklusif. Analisis cephalometri dilakukan pada semua sampel dan dilanjutkan dengan uji statistik korelasi Pearson. Hasil: Korelasi ditemukan antara indeks morfologi wajah dan tinggi wajah, tapi tidak ada korelasi antara indeks morfologi wajah dan sudut interincisal. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran sefalometrik indeks morfologi wajah dan tinggi wajah, dapat digunakan sebagai informasi tambahan untuk proses identifikasi.
Efek ekstrak daun singkong (Manihot utilissima) terhadap ekspresi COX-2 pada monosit yang dipapar LPS E.coli (The effect of Manihot utilissima extracts on COX-2 expression of monocytes induced by LPS E. coli) Meilawaty, Zahara
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p196-201

Abstract

Background: Periodontal disease is a common and widespread disease in the community. Gram negative bacteria have a role inperiodontitis. These bacteria secrete a variety of products such as endotoxin lipopolysaccharide (LPS), which causes the occurrenceof inflammation or infection. The body defense responses are neutrophils and mononuclear cells (monocytes and macrophages). Inresponse to defense mechanism, the body will be expressed enzyme cyclooxygenase (COX) which functions convert arachidonic acidto prostaglandins. Cassava leaf cells known to play a role in reducing inflammation, but the mechanism for inhibiting COX-2, is notknown. Purpose: The study was aimed to determine the effect of cassava leaf extract (Manihot utilissima) on expression of enzyme COX-2 in monocytes which were exposed by LPS E. coli. Methods: This study was in vitro experimental studies with the design of posttestonly control group design. The sample was the cassava leaves extract (Manihot utilissima) at concentration of 12.5 % and 25 %. Theexpression of COX-2 was determined by immunocytochemistry method. Isolated monocytes were incubated in cassava leaf extract, andthen exposed to LPS, after washing imunostaning procedure was performed using a monoclonal antibody (MAb) anti-human COX-2.The research data was the number of monocytes that express COX-2. Results: Expression of COX-2 in the group cassava leaf extractwas higher than the group that induced by LPS E. coli only. Conclusion: Cassava leaf extract did not inhibit the expression of COX-2in monocytes which were exposed by LPS E. coli.Latar belakang: Penyakit periodontal merupakan penyakit umum dan tersebar luas di masyarakat. Bakteri yang banyak berperanpada periodontitis adalah Gram negatif. Bakteri ini mengeluarkan berbagai produk antara lain endotoksin lipopolisakarida (LPS) yangmenyebabkan inflamasi atau infeksi. Respon pertahanan tubuh pertama adalah netrofil dan sel mononuklear (monosit dan makrofag).Pada respon pertahanan tubuh akan diekspresikan enzim siklooksigenase (COX) yang berfungsi mengubah asam arakidonat menjadiprostaglandin. Daun singkong diketahui berperan dalam menurunkan sel radang, tetapi mekanisme dalam menghambat COX-2, belumdiketahui. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti ekstrak daun singkong terhadap ekspresi enzim COX-2 pada monosit yangdipapar LPS E. coli. Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental in vitro dengan rancangan The posttest only control groupdesign. Sampel adalah ekstrak daun singkong (Manihot utilissima) dengan dosis 12,5% dan 25%. Ekspresi COX-2 diteliti denganmetode imunositokimia. Isolat monosit diinkubasi ekstrak daun singkong, kemudian dipapar LPS, setelah pencucian kemudian dilakukanprosedur imunostaning menggunakan antibodi monoklonal (Mab) anti human COX-2. Data penelitian adalah jumlah monosit yang mengekspresikan COX-2.Hasil: Ekspresi COX-2 pada kelompok ekstrak daun singkong lebih tinggi dibandingkan kelompok yang hanyadiinduksi LPS E.coli. Simpulan: Ekstrak daun singkong tidak menghambat ekspresi COX-2 pada monosit yang dipapar LPS E. coli.
Orthodontic-surgical treatment of a severe class III malocclusion Lamtiur, Pakpahan Evie
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p229-234

Abstract

Background: Adult patient with dentofacial deformities usually need surgical orthodontic treatment. Although case of class II dentofacial deformities are more common, the need for treatment and improvement in term of facial profile is generally greater in class III patients. When a skeletal Class III malocclusion is diagnosed, orthognathic surgery is always considered if the orthodontist and patient desire complete correction of the skeletal discrepancy. Purpose: The purpose of this article were to reported a case of severe class III malocclusion and to showed the positive effect of orthognatic surgical treatment on the patient’s profile. Case: This case report describes the surgical-orthodontic treatment of a 20 year old male patient with class III dentofacial deformity. Case managements: To allow adequate surgical movement, both maxillary first premolars were extracted, and the maxillary incisors were retracted. No extractions were performed in the mandibular arch. Surgery included a Le Fort I osteotomy with 8 mm advancement, a bilateral sagittal split osteotomy with the mandibula was set back 13 mm at right side and 11 mm at left side for the correction of dental midline and chin deviation. The genioplasty treatment also was done. Conclusion: Surgical-orthodontic treatment could be chosen as a treatment option for achieving an acceptable occlusion and a good esthetic result in a patient with a Class III dentofacial deformity. Nevertheless, it should be performed by a multidisciplinary team to ensure a satisfactory outcome.Latar belakang: Pasien dewasa dengan deformitas dentofacial biasanya ditangani dengan perawatan bedah orthodonti. Walaupun kasus deformitas dentofacial klas II lebih sering dijumpai, namun kebutuhan perawatan dan keinginan untuk memperbaiki profil muka lebih tinggi pada pasien dengan kasus klas III. Untuk koreksi kelainan skeletal secara menyeluruh pada maloklusi skeletal klas III maka dibutuhkan perawatan bedah ortodonti. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan melaporkan penanganan kasus dengan kelainan klas III maloklusion skeletal serta memperlihatkan hasil perawatan bedah ortognati yang memperbaiki profil pasien. Kasus: Perawatan bedah ortodonti dilakukan pada pasien laki-laki (20 tahun) dengan kelainan deformitas dentofacial klas III. Tatalaksana Kasus: Dilakukan pencabutan premolar pertama rahang atas kanan dan kiri, kemudian dilakukan retraksi gigi insisif rahang atas, agar didapatkan pergerakan yang adekuat. Tidak dilakukan pencabutan gigi pada rahang bawah. Perawatan bedah yang dilakukan adalah Le Fort I osteotomy dengan memajukan rahang atas sebanyak 8mm, mandibula dimundurkan dengan tehnik bilateral sagittal split ostetomy sebanyak 13 mm disebelah kanan, dan 11 mm disebelah kiri untuk koreksi dental midline dan deviasi dagu. Pasien juga mendapatkan perawatan genioplasty. Simpulan: Bedah ortognatik dapat dipilih sebagai perawatan untuk mendapatkan oklusi dan hasil estetik yang baik pada pasien dengan deformitas dentofasial kelas III. Namun demikian, perawatan perlu dilakukan oleh tim dari multidisiplin untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
The effect of CPP-ACP containing fluoride on Streptococcus mutans adhesion and enamel roughness Kristanti, Yulita; Asmara, Widya; Sunarintyas, Siti; Handajani, Juni
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p202-206

Abstract

Background: Direct contact between the bleaching agent and the enamel surface results in demineralization, alteration in surface roughness and bacterial adhesion. Many studies try to minimize this side effect through different way. Purpose: The aim of this study was to determined the effect of Calcium Phospho Peptide-Amorphous Calcium Phosphate (CPP-ACP) containing fluoride application before and after bleaching procedure on the adhesion of S. Mutans and enamel roughness. Methods: The samples were 6 teeth which were divided into 4 groups, and each tooth was cut into four pieces. Group A and C were treated with CPP-ACP after bleaching, while group B and D were treated with CPP-ACP before and after bleaching. CPP-ACP used in group C and D was the one that contain fluoride. After treatment, all samples were sterilized, immersed in steril human saliva for one hour, then immersed into S. mutans suspension of 108 CFU. Samples were incubated overnight. On the next day the samples were put into steril BHI and vortexed for one minute to detach the bacteria. Fifteen ml BHI containing bacteria was poured into TYS agar then incubated 37°Cfor 48 hours. Bacterial colony was counted with colony counter. The SEM examination was done on all samples. Results: Application of desensitizing agent reduced the S.mutans adhesion significantly among groups (p<0.05) except between group A and C. SEM evaluation revealed significant differences among groups. Conclusion: The application of CPP-ACP containing fluoride before and after bleaching was effective to reduce the accumulation of S.mutans colony and enamel roughness.Latar belakang: Kontak langsung antara bahan bleaching dan permukaan enamel menyebabkan demineralisasi, perubahan kekasaran permukaan dan berpengaruh terhadap banyaknya bakteri Streptococcus mutans (S. mutans) yang melekat. Banyak peneliti mencoba meminimalkan efek samping ini dengan cara yang beragam. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti efek aplikasi CPP-ACP mengandung fluor sebelum dan setelah bleaching terhadap adhesi S.mutans dan kekasaran enamel. Metode: Sampel penelitian adalah 6 buah gigi yang dibagi dalam 4 kelompok, kemudian masing-masing gigi dibelah menjadi 4 bagian. Kelompok A dan C diaplikasi dengan CPP-ACP setelah bleaching, sedang Kelompok B dan D diaplikasi CPP-ACP sebelum dan setelah bleaching. CPP-ACP yang digunakan pada kelompok C dan D adalah yang mengandung fluor. Setelah perlakuan, semua sampel disterilkan dan direndam dalam saliva steril, lalu direndam dalam suspensi S. mutans 108 CFU dan diinkubasi 24 jam. Hari berikutnya sampel dimasukkan dalam BHI steril, divortex 1 menit untuk melepaskan bakteri. Lima belas ml BHI yang berisi S. mutans tersebut diambil untuk dikultur dalam agar TYS dan diinkubasi 37°C selama 48 jam. Bakteri yang tumbuh dihitung dengan colony counter. Pemeriksaan SEM dilakukan untuk meneliti permukaan enamel. Hasil: Aplikasi CPP-ACP(F) menurunkan jumlah bakteri yang melekat pada enamel secara signifikan (p<0,05) pada semua kelompok, kecuali antara kelompok A dan C. Simpulan: Aplikasi CPP-ACP mengandung fluor sebelum dan sesudah bleaching efektif mengurangi akumulasi S. mutans dan kekasaran pada permukaan enamel.
Ekspresi COX-2 setelah pemberian ekstrak etanolik kulit manggis (Garcinia mangostana Linn) pada tikus wistar (COX-2 expression after mangosteen rind (Garcinia mangostana Linn) etanolic extract administration in wistar rats) Prasetya, Rendra Chriestedy; Haniastuti, Tetiana; Purwanti, Nunuk
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p173-178

Abstract

Background: Cyclooxygenase is an enzyme for prostaglandins (PGs) synthesis from arachidonic acid. Cyclooxygenase have been characterized and named as COX-1 and COX-2. COX-1 is responsible for constitutive PGs production under physiological condition and maintains normal function. On the other hand, while COX-2 expression is inducible by cytokines and endotoxin. Periodontitis is a chronic inflammatory disease caused by anaerobic bacteria especially gram negative bacteria. The periodontitis occurrence is followed by increased of COX-2 expression. Mangosteen rind (Garcinia mangostana Linn) contains gamma mangostin which inhibits the synthesis of PGE2 through inhibition of COX-2 expression. Purpose: This research was aimed to study COX-2 expression in experimental-induced periodontitis in wistar rats after mangosteen rind etanolic extract administration. Methods: Forty eight male wistar rats were induced periodontitis by putting silk ligature subgingivally around the cervical of the anterior lower teeth for 7 days. After the ligation was taken out, the rats were divided into 4 groups, and treated orally with mangosteen rind extract 60 mg/kg BB, 30 mg/kg BB, ibuprofen and saline respectively. The rats were sacrificed on the 1st, 3rd, 4th, 7th day after the treatment. The rats’ anterior lower jaws were processed for paraffin embedded tissue, cut serially and stained with immunohistochemistry. COX-2 expression were observed and counted under the microscope (400x). The data were analyzed using kruskall wallis test. Results: Kruskal wallis test showed a significant difference COX-2 expression among group indicating that mangosteen rind etanolic extract affected COX-2 expression. Conclusion: Mangosteen rind etanolic extract reduced COX-2 expression in periodontitis rats.Latar belakang: Siklooksigenase adalah enzim yang mensintesis prostaglandin (PG) dari asam arakhidonat. Siklooksigenase dibagi menjadi 2 yaitu COX-1 dan COX-2. COX-1 bertanggung jawab pada sintesis PG dalam kondisi fisiologis dan mempertahankan fungsi normal, sedangkan ekspresi COX-2 dapat terinduksi oleh sitokin dan endotoksin. Periodontitis adalah penyakit peradangan kronis yang disebabkan oleh bakteri anaerob terutama bakteri gram negatif. Terjadinya periodontitis diikuti oleh peningkatan ekspresi COX-2. Kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn) mengandung mangostin gamma yang menghambat sintesis PGE2 melalui penghambatan COX-2. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti ekspresi COX-2 pada tikus wistar jantan yang diinduksi periodontitis setelah pemberian ekstrak etanolik kulit manggis. Metode: Empat puluh delapan ekor tikus wistar jantan diinduksi periodontitis dengan meletakkan ligatur sutra pada subgingiva sevikal gigi anterior rahang bawah selama 7 hari. Setelah ligatur dilepas, tikus dibagi dalam 4 kelompok yaitu ekstrak kulit manggis dosis 60 mg/kg BB, 30 mg/kg BB, ibuprofen dan saline dengan pemberian secara peroral. Tikus didekapitasi pada hari ke-1,3, 5 dan 7 setelah perlakuan. Rahang bawah gigi depan dilakukan pemrosesan menjadi blok paraffin, dipotong serial dan dilakukan pewarnaan imunohistokimia. Ekspresi COX-2 diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x. Data pengamatan dianalisa dengan uji kruskall wallis. Hasil: Uji kruskall wallis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna ekspresi COX-2 diantara kelompok perlakuan yang mengindikasikan bahwa ekstrak kulit manggis mempengaruhi ekspresi COX-2. Simpulan: Ektrak etanolik kulit manggis menurunkan ekspresi COX-2 pada tikus dengan periodontitis.
Sifat fisik hidroksiapatit sintesis kalsit sebagai bahan pengisi pada sealer saluran akar resin epoxy (Physical properties of calcite synthesized hydroxyapatite as the filler of epoxy-resin-based root canal sealer) Mulyawati, Ema; HNES, Marsetyawan; Sunarintyas, Siti; Handajani, Juni
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p207-212

Abstract

Background: The filler addition to resin based sealers will enhance the physical properties of the polymer. Because of its biological properties, the synthetic hydroxyapatite (HA) has been proposed as filler for dental material such as composite resin. The calcite synthesized HA is the HA produced of calcite minerals that came from many Indonesian mining. Purpose: The aim of study was to determine the effect of different concentration of calcite synthesized HA as the filler of the epoxy-resin-based root canal sealer on the physical properties such as its contact angle, the film thickness and the microhardness. Methods: The crystal of the calcite synthesized hydroxyapatite with the size between 77.721-88.710 nm and the ratio of Ca/P 1.6886 were synthesized at Ceramic Laboratory, Mechanical Engineering, using wet method of hydrothermal microwave. The powders of the epoxy- resin were prepared by added the synthesized hydroxyapatite crystal in 5 different weight ratios (e.g.: HA-10%, HA-20%, HA-30%, HA-40% and HA-50%). Each of these was mixed with the paste of 3:1 ratio using spatula on a glass plate until homogen and then measuring the contact angle and the film thickness. Microhardness test was conducted after the mixture of experimental sealer was stored for 24 hrs at 37 oC to reach perfect polymerization. Results: All of contact angles were <90o and were not significantly different to each other (p= 0.510). All groups had a film thickness in accordance with ISO 6876 (<50 um) and with no statistical difference (p= 0.858). In the HA of 10%, 20%, 30% seen that the microhardness were increased, while in the HA-50% was decreased and in the HA-40% has the same microhardness to the control groups (HA-0%). Conclusion: Calcite synthesized HA as the filler did not affect contact angle and film thickness of the sealer. Microhardness of the epoxy-resin based sealer could be increased using maximum 30% of the calcite synthesized HA as the filler.Latar belakang: Penambahan bahan pengisi pada sealer berbahan dasar resin akan meningkatkan sifat fisik polimer. Karena sifat biologis bagus, hidroksiapatit (HA) sintetis digunakan sebagai bahan pengisi material kedokteran gigi seperti resin komposit. Hidroksiapatit sintesis kalsit merupakan HA yang hasilkan dari mineral kalsit berasal dari berbagai daerah pertambangan di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh berbagai konsentrasi HA sintesis kalsit sebagai bahan pengisi sealer berbahan dasar resin epoksi terhadap sifat fisiknya yaitu sudut kontak, ketebalan film dan kekerasan mikronya. Metode: Kristal HA sintesis kalsit yang berukuran 7,721-88,710 nm dengan rasio Ca/P 1,6886 diperoleh dari sintesis di Laboratorium Keramik, Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada menggunakan wet method dengan microwave hidrotermal. Serbuk resin epoksi dipersiapkan dengan menambahkan kristal HA sintesis kalsit dalam lima konsentrasi yang berbeda yaitu HA-10%, HA-20%, HA-30%, HA-40% dan HA-50% (dalam berat). Masing-masing serbuk diaduk dengan pasta resin epoksi dengan perbandingan 3:1 menggunakan spatula di atas glassplate hingga homogen, selanjutnya dilakukan pengukuran sudut kontak dan ketebalan film. Pengukuran kekerasan mikro dilakukan setelah sealer disimpan dalam inkubator 37 oC selama 24 jam sehingga mencapai polimerisasi sempurna. Hasil: Semua kelompok menunjukkan bahwa sudut kontak <90o dan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,510). Semua kelompok menunjukkan bahwa ketebalan filmnya sesuai dengan ISO 6876 (<50 um) dan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan (p=0,858). Pada kelompok HA-10%, 20% dan 30% kekerasan mikronya meningkat, sedangkan pada HA-50% menurun dan HA-40% kekerasannya sama dengan kelompok kontrol (HA-0%). Simpulan: Penambahan hingga 50% HA sintesis kalsit sebagai bahan pengisi sealer resin epoksi tidak mempengaruhi sudut kontak dan ketebalan film. Kekerasan sealer dapat ditingkatkan dengan menambahkan HA sintesis kalsit maksimum hingga 30%.
Profil jaringan lunak wajah kasus borderline maloklusi klas I pada perawatan ortodonti dengan dan tanpa pencabutan gigi (Facial soft tissue profile on borderline class I malocclusion in orthodontic treatment with or without teeth extraction) Pudyani, Pinandi Sri; Hanimastuti, Yenni
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i4.p179-184

Abstract

Background: Determination of orthodontic treatment plan with or without teeth extraction remains controversial, especially in borderline cases, so it requires more data and information to establish appropriate treatment plans in order to obtain optimal treatment results. Purpose: The study was aimed to determine the facial soft tissue changes in the borderline class I cases treated with and without tooth extraction on post-orthodontic treatment. Methods: The study was conducted on 28 lateral cephalograms, divided into two groups; 13 cases with tooth extraction, and 15 cases without tooth extraction. The subject criterias were as follows; class I malocclusion treated with straightwire technique, skeletal class I, in range of age between 18 to 30 years old, normal overjet 2-4 mm, arch length discrepancy between 2.5 to 5 mm, Index of Fossa Canine (IFC) between 37% to 44%, did not using extraoral devices, and treated with teeth extraction of 4 second premolars or without tooth extraction. The measurement of nasolabial angle, labiomental angle, and linear position of the upper and lower lip to E-Ricketts line were done on each cephalogram before and after orthodontic treatment. Results: In teeth extraction cases, there was a change on upper and lower lips positions (p<0.05), but there were no changes on nasolabial angle and labiomental angle (p>0.05). In non teeth extraction cases, there were no changes in nasolabial angle, labiomental angle, and lips positions (p>0.05). Both of groups also have indicated that there were no changes on linear position of the upper and lower lip (p>0.05). Post-orthodontic treatment indicated a significant differences between extraction and nonextraction cases on nasolabial and labiomental angle, and lips position (p<0.05). Conclusion: The facial soft tissue profile changes on teeth extraction case was more retruded than non- teeth extraction case.Latar belakang: Penentuan rencana perawatan ortodonti dengan pencabutan atau tanpa pencabutan masih menjadi kontroversi, terutama pada kasus borderline, sehingga diperlukan lebih banyak data dan informasi untuk menetapkan rencana perawatan yang tepat agar didapatkan hasil perawatan optimal. Tujuan: Studi ini bertujuan meneliti perubahan profil jaringan lunak wajah sesudah perawatan ortodonti dengan pencabutan dan tanpa pencabutan. Metode: Pengukuran dilakukan pada 28 sefalogram lateral yang terdiri dari 2 kelompok, yaitu 13 sefalogram lateral untuk kasus dengan pencabutan gigi dan 15 sefalogram lateral untuk kasus tanpa pencabutan gigi. Kriteria subjek penelitian adalah maloklusi klas I yang dirawat dengan teknik straightwire, hubungan skeletal klas I, berusia 18–30 tahun, overjet normal antara 2–4 mm, diskrepansi panjang lengkung antara 2,5–5 mm, Indeks Fossa Canina (IFC) antara 37%-44%, tidak menggunakan alat ekstraoral, dan perawatan dengan pencabutan 4 premolar kedua atau tanpa pencabutan. Pada tiap sefalogram dilakukan pengukuran sudut nasolabial, sudut labiomental, dan pengukuran linier posisi bibir atas dan bawah terhadap garis E Ricketts sebelum dan sesudah perawatan ortodonti. Hasil: Pada kelompok pencabutan terdapat perubahan posisi bibir atas dan bawah terhadap garis E Ricketts (p<0,05), namun tidak terdapat perubahan sudut nasolabial dan sudut labiomental (p>0,05). Pada kelompok tanpa pencabutan tidak terdapat perubahan pada sudut nasolabial, sudut labiomental, dan posisi bibir (p>0,05). Terdapat perbedaan sudut nasolabial, sudut labiomental, dan posisi bibir antara kelompok dengan pencabutan dan tanpa pencabutan sesudah perawatan ortodonti (p<0,05). Simpulan: Profil jaringan lunak wajah kelompok yang dirawat dengan pencabutan gigi menjadi lebih retrusi daripada profil jaringan lunak wajah kelompok yang dirawat tanpa pencabutan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2019): (June 2019): Article in Press Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Article in press Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 3 (2018): (September 2018) Vol 51, No 2 (2018): (June 2018) Vol 51, No 1 (2018): (March 2018) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017) Vol 50, No 3 (2017): (September 2017) Vol 50, No 2 (2017): (June 2017) Vol 50, No 1 (2017): (March 2017) Vol 49, No 4 (2016): (December 2016) Vol 49, No 3 (2016): (September 2016) Vol 49, No 2 (2016): (June 2016) Vol 49, No 1 (2016): (March 2016) Vol 48, No 4 (2015): (December 2015) Vol 48, No 3 (2015): (September 2015) Vol 48, No 2 (2015): (June 2015) Vol 48, No 1 (2015): (March 2015) Vol 47, No 4 (2014): (December 2014) Vol 47, No 3 (2014): (September 2014) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014) Vol 47, No 1 (2014): (March 2014) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013) Vol 46, No 2 (2013): (June 2013) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013) Vol 45, No 4 (2012): (December 2012) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012) Vol 45, No 2 (2012): (June 2012) Vol 45, No 1 (2012): (March 2012) Vol 44, No 4 (2011): (December 2011) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011) Vol 43, No 4 (2010): (December 2010) Vol 43, No 3 (2010): (September 2010) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010) Vol 42, No 4 (2009): (December 2009) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009) Vol 42, No 2 (2009): (June 2009) Vol 42, No 1 (2009): (March 2009) Vol 41, No 4 (2008): (December 2008) Vol 41, No 3 (2008): (September 2008) Vol 41, No 2 (2008): (June 2008) Vol 41, No 1 (2008): (March 2008) Vol 40, No 4 (2007): (December 2007) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007) Vol 40, No 2 (2007): (June 2007) Vol 40, No 1 (2007): (March 2007) Vol 39, No 4 (2006): (December 2006) Vol 39, No 3 (2006): (September 2006) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006) Vol 39, No 1 (2006): (March 2006) Vol 38, No 4 (2005): (December 2005) Vol 38, No 3 (2005): (September 2005) Vol 38, No 2 (2005): (June 2005) Vol 38, No 1 (2005): (March 2005) More Issue