cover
Contact Name
Saka Winias
Contact Email
saka.winias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dental_journal@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19783728     EISSN : 24429740     DOI : -
Core Subject : Health,
The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) (e-ISSN:2442-9740; p-ISSN:1978-3728) is published by the Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga. Its diciplinary focus is dental science and dental hygiene. The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) is published in English on a quarterly basis with each 50-60 page edition containing between nine and eleven scientific articles on research, study literature and case studies. Contributors to the Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) included: dental researchers, dental practitioners, lecturers, and students drawn from Indonesia and a wide range of other countries.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)" : 11 Documents clear
The effect of chitosan gel concentration on neutrophyl and macrophage in gingival ulcer of Sprague Dawley rat Adistya, Tasya; Kumalasari, Fajar; Dewi, Anne Handrini; Rachmawati, Mayu Winnie
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p152-157

Abstract

Bacground: Chitosan is polysacharide that extracted from crustaceae, widely used as a wound healing agent. It accelerates the polimorphonuclear cells infitration and increase the macrophage migration. Purpose: The aims of this study was to determine the effect of chitosan gel concentration on neutrophyl and macrophage in gingival ulcer healing process of Sprague Dawley rats. Methods: Twenty subjects were divided into treatment groups, A, B and C which was given 1%, 2% and 3% chitosan gel respectively and group D as control group. The ulcer was made by applicating the 2 x 2 mm2 Whatmann number 1 filter paper which had been soaked into the 98% acetic acid for 5 minutes on the gingival surface below the interdental of the lower incisivus of the rats for 40 seconds. One drop chitosan gel was applicated on the ulcer, twice a day for three days. The subjects were sacrificed and its gingival tissue was taken for histologically processed and stained with hematoxylin eosin. Results: The one way ANOVA test showed that significant difference neutrophyl and macrophage among all of group (p<0.05). The Pearson correlation showed that there was a strong correlation (0,979) between chitosan concentration and macrophage density. Chitosan gel with 1%, 2%, and 3% concentration influenced significantly to neutrophyl and macrophage density. The higher concentration of chitosan gel the power of neutrophyl number and the higher of macrophage number. Conclusion: These result indicated that the chitosan gel influence both of neutrofil and macrophage in gingival ulcer healing process and chitosan gel 3% has a better effect than 1% and 2% concentration.Latar belakang: Kitosan, polisakarida hasil ekstraksi dari golongan krustasea, dikenal sebagai agen pemacu penyembuhan luka. Kitosan dapat memacu infiltrasi sel-sel polimorfonuklear dan mempercepat migrasi sel makrofag. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti efek gel kitosan dalam meningkatkan jumlah neutrofil dan makrofag selama proses penyembuhan luka buatan pada gingiva mulut tikus Sprague Dawley. Metode: Duapuluh subyek dibagi atas 4 grup. Grup A dioles dengan 1% gel kitosan, grup B 2% dan grup C 3%, sedangkan grup D sebagai kontrol tidak mendapatkan perlakuan apapun. Ulkus dibuat dengan cara mengaplikasikan kertas saring Whatmann nomer 1 ukuran 2 x 2 mm2 yang telah dibasahi dengan 98% asam asetat selama 5 menit dan diletakkan pada gingiva di bawah interdental gigi anterior mandibula selama 40 detik. Satu tetes gel kitosan diaplikasikan 2 kali sehari selama 3 hari. Tikus dikorbankan pada hari ketiga dan jaringan gingivanya diambil untuk dibuat preparat histologi dengan pewarnaan HE. Jumlah neutrofil dan makrofag dianalisa dengan ANOVA satu jalur. Hasil: ANOVA satu jalur menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada neutrofil maupun makrofag antar grup (p<0,05). Korelasi Pearson menunjukkan ada hubungan positif antara konsentrasi gel kitosan dengan jumlah makrofag. Gel kitosan dengan konsentrasi 1, 2 dan 3% secara bermakna mampu menurunkan jumlah neutrofil dan meningkatkan jumlah makrofag pada hari ke 3 dibandingkan kelompok kontrol. Semakin tinggi konsentrasi gel kitosan maka jumlah neutrofil semakin menurun sedangkan jumlah makrofag semakin meningkat. Hal ini membuktikan adanya sifat antimikrobial dari gel kitosan. Simpulan: Gel kitosan terbukti mampu menurunkan neutrofil dan meningkatkan makrofag pada proses penyembuhan ulkus mulut. Konsentrasi gel kitosan 3% mempunyai efek lebih baik dibandingkan dengan konsentrasi 1% dan 2%.
Determination of fluoride content in toothpaste using spectrophotometry Hastuti, Susanti Pudji; Lestari, Devinta; Martono, Yohanes
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p124-129

Abstract

Background: Intake excessive fluoride in children’s teeth are generally marked with white and brown patches. Excessive fluoride of more than 4.0 mg/L can cause a person suffering from poisoning, fragility of the bones (osteoporosis), liver and kidney damage. Knowledge about the spectrophotometry for determination method of fluoride content in commercially available toothpaste is very few. Purpose: The purposes of study were to examine the suitable method for fluoride extraction and to determine out the accuracy, precision, linearity, and stability of the measurement method of fluoride content in toothpaste. Methods: The suitable F extraction method was determined by the comparison among 3 methods of extraction; e.g. the dried samples were immersed in (1) distilled water, (2) 96% HCl, and (3) 96% HNO3; and the validation methods of measurement were the maximum wavelength, standart curve, accuracy test, precision test, and stability test. Results: Result showed that the fluoride extraction by using the concentrated HNO3 was found to have the highest levels of fluoride, followed by hydrochloric acid dissolution (HCl) and distilled water, while the method of validation showed that SPADNS revealed the acceptable accuracy. Precision has the RSD ≤ 2.00%. Furthermore the stability test result showed that the measurement of fluoride less than 2 hours was still reliable. Conclusion: The study suggested that the best result of fluoride extraction from toothpaste could be gained by using concentrate HNO3, and the spectrophotometer (UV-Vis Mini Shimadzu U-1240) and SPADNS have the acceptable accuracy.Latar Belakang: Pemasukan fluoride yang berlebihan pada gigi anak ditandai dengan bercak putih dan coklat. Fluoride lebih dari 4.0 mg / L dapat menyebabkan seseorang menderita keracunan , kerapuhan tulang (osteoporosis), kerusakan hati dan ginjal. Pengetahuan tentang spektrofotometri untuk metode penentuan kadar fluoride dalam pasta gigi yang tersedia secara komersial sangat sedikit . Tujuan: Penelitian ini bertujuan meneliti metode yang tepat untuk mengektrak kandungan fluoride dan mengukur akurasi, presisi, linearitas dan stabilitas pengukuran kandungan fluoride pada pasta gigi. Metode: Metode ekstrak yang tepat ditentukan dengan membandingkan 3 metode, yaitu dengan perendamam sampel kering dalam (1) air destilasi, (2) HCl 96%, dan (3) HNO3 96%; dan validasi metode yang memperhitungkan panjang gelombang, kurva standar, tes akurasi, presisi, dan stabilitas. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa metode ekstrasi fluoride pada pasta gigi dengan menggunakan metode HNO3 didapatkan level fluoride tertinggi, diikuti dengan metode HCl dan air destilasi. Hasil validasi metoda menunjukkan bahwa penggunaan SPADNS akurasinya dapat diterima. Presisi mempunyai RSD ≤2,00%. Pada tes stabilitas didapatkan hasil bahwa pengukuran kadar fluorida dalam waktu tidak lebih dari 2 jam masih dapat dilakukan. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil terbaik ekstraksi fluoride dari pasta gigi dapat diperoleh dengan menggunakan HNO3, dan spectrophotometer (UV-Vis Mini Shimadzu U-1240) dan SPADNS memiliki pengukuran yang akurat.
Kadar leptin saliva dan kejadian karies gigi anak obesitas (Salivary leptin levels and caries incidence in obese children) Atzmaryanni, Elfrida; Rizal, Mochamad Fahlevi
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p158-161

Abstract

Background: Children with obesity have a lower incidence of caries. Salivary leptin levels of obese children is higher than normal children. Leptin is protein hormone, contained in saliva. Salivary proteins maintain the balance of the ecosystem in the mouth. Purpose: The article was aimed to study the correlation of salivary leptin levels with caries incidence in obese children. Review: Mouth is reflection of the health status and so many changes occur as a weight gain. Child with obesity has a low incidence of caries than normal. This condition is associated with changes in oral cavity, especially the increase in salivary leptin. Caries is a disease of hard tissues cause by the activty of microorganisms, especially Streptococcus mutans. Salivary proteins maintain the balance of the ecosystem in the mouth. Leptin is a protein saliva, produced predominantly in adipose tissue and conduct active transport to saliva. Salivary leptin works in two ways: as an antimicrobial which prevents the attachment of bacteria on tooth surface or by inducing cytokine that affect the immune system in oral cavity. Conclusion: Salivary leptin is higher in obese children than in normal children. The low incidence of caries on obesity is associated with salivary leptin. Alteration in salivary composition and flow rate also decreased caries in obesity.Latar belakang: Anak yang mengalami obesitas memiliki insiden karies yang rendah. Kadar leptin saliva anak obesitas lebih tinggi dari anak normal. Leptin merupakan salah satu protein hormon yang terdapat di saliva. Protein saliva berfungsi untuk menjaga keseimbangan ekosistem di mulut. Tujuan: Artikel ini bertujuan mempelajari hubungan antara kadar leptin di dalam saliva dengan kejadian karies anak obesitas. Tinjauan pustaka: Rongga mulut merupakan cerminan dari status kesehatan dan banyak perubahan yang terjadi seiring peningkatan berat badan seseorang. Anak Obesitas memiliki insiden karies yang rendah jika dibandingkan anak normal. Kondisi ini berhubungan dengan perubahan keadaan rongga mulut terutama peningkatan kadar Leptin di saliva. Karies adalah penyakit jaringan keras yang disebabkan oleh aktivitas dari mikroorganisme, terutama Streptococcus mutans. Protein di saliva berfungsi menjaga ekosistem rongga mulut. Leptin merupakan protein saliva, leptin terutama di sintesis pada sel adiposa dan melakukan transport aktif sehingga dapat ditemukan di saliva. Leptin di saliva bekerja dengan dua cara yaitu sebagai antimikroba yang mencegah perlekatan bakteri di permukaan gigi atau dengan cara menginduksi sitokin yang mempengaruhi sistem imun dalam rongga mulut. Simpulan: Kadar leptin dalam saliva anak obesitas lebih tinggi dibanding anak normal. Rendahnya insiden karies anak obesitas berhubungan dengan kadar leptin di dalam saliva anak obesitas yang lebih tinggi dibandingkan anak normal. Perubahan komposisi saliva dan laju alir saliva pada anak obesitas juga menyebabkan rendahnya insiden karies dibandingkan dengan anak normal.
Analisis heteroplasmy DNA mitokondria pulpa gigi pada identifikasi personal forensik (Heteroplasmy analysis of dental pulp mitochondrial DNA in forensic personal identification) K, Ardyni Febri; Rahayu, Retno Pudji; Sosiawan, Agung
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p130-134

Abstract

Background: Mitochondrial DNA (mtDNA) sequence analysis of the hypervariable control region has been shown to be an effective tool for personal identification. The high copy and maternal mode of inheritance make mtDNA analysis particularly useful when old samples or degradation of biological samples prohibits the detection of nuclear DNA analysis. Dental pulp is covered with hard tissue such as dentin and enamel. It is highly capable of protecting the DNA and thus is extremely useful. One of the diasadvantages of mitochondrial DNA is heteroplasmy. Heteroplasmy is the presence of a mixture of more than one type of an organellar genome within a cell or individual. It can lead to ambiguity in forensic personal identification. Due to that, the evidence of heteroplasmy in dental pulp is needed. Purpose: The study was aimed to determine the heteroplasmy occurance of mitocondrial DNA in dental pulp. Methods: Blood and teeth samples were taken from 6 persons, each samples was extracted with DNAzol. DNA samples were amplified with PCR and sequencing to analyze the nucleotide sequences polymorphism of the hypervariable region 1 in mtDNA and compared with revised Cambridge Reference Sequence (rCRS). results: The dental pulp and blood nucleotide sequence of hypervariable region 1 mitochondrial DNA showed polymorphism when compared with rCRS and heteroplasmy when compared between dental pulp with blood. Conclusion: The study showed that heteroplasmy was found in mithocondrial DNA from dental pulp.latar belakang: Analisis sekuens DNA mitokondria (mtDNA) regio kontrol hypervariable telah terbukti menjadi alat efektif untuk identifikasi personal. Kopi DNA yang banyak dan pewarisan maternal membuat analisis mtDNA sangat berguna ketika sampel lama atau sampel biologis yang terdegradasi menghambat deteksi analisis DNA inti. Pulpa gigi terlindung jaringan keras seperti dentin dan enamel. Hal ini membuat pulpa mampu melindungi DNA dan dengan demikian sangat berguna untuk identifikasi. Salah satu kekurangan DNA mitokondria adalah heteroplasmy. Heteroplasmy adalah adanya campuran lebih dari satu jenis genom dalam sel atau individua. Hal ini dapat menyebabkan ambiguitas pada identifikasi pribadi forensik. Oleh sebab itu, identifikasi personal menggunakan pulpa gigi harus memperhatikan kejadian heteroplasmy. tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti kejadian heteroplamy DNA mitokondria pada pulpa gigi. Metode: Sampel darah dan gigi diambil dari 6 orang, masing-masing sampel diekstraksi dengan metode DNAzol. Sampel DNA diamplifikasi dengan PCR dan sequencing untuk menganalisis polimorfisme urutan nukleotida di hypervariable region 1 mtDNA dan dibandingkan dengan revised Cambridge Reference Sequence (rCRS). hasil: Sekuens nukleotida pulpa gigi dan darah daerah pada hypervariable region 1 DNA mitokondria menunjukkan polimorfisme bila dibandingkan dengan rCRS dan heteroplasmy bila dibandingkan antara pulpa gigi dengan darah. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa heteroplasmy dapat ditemukan pada DNA mitokrondia pulpa gigi.
Restorasi mahkota logam dengan pasak fiber komposit pada molar permanen muda (Metal crown restoration with fiber composite post in young permanent molar) Pratiwi, Theresia Dhearine; Rizal, Mochamad Fahlevi
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p162-166

Abstract

Background: The first permanent molar has a high prevalence of caries with the most rapid progression in the first two years after eruption. The destruction can extend to the pulp and require endodontic treatment. After endodontic treatment the teeth should have a final restoration due to the possibilities of fracture. The teeth with a few remaining tissue need a restoration such as crown with post and core support. Fiber composite post is widely used today because it has a similar modulus elasticity as dentin. Purpose: The case report was aimed to share the endodontic treatment which was followed by fiber composite post and metal crown insertion on young permanent molar. Case: An 11 years old girls was referred to Pediatric Dentistry clinic at Universitas Indonesia Dental Hospital due to caries #36 that extend to the pulp. Case management: Endodontic treatment with metal crown supported by fiber composite post and composite core was done as final restoration. One month after procedure there was no subjective complaints or inflammation. Conclusion: The case report showed that endodontic treatment followed by fiber composite post and metal crown insertion could be done succesfully on young permanent molar of 11 years old patient.Latar belakang: Gigi molar pertama permanen muda (M1) merupakan gigi dengan angka kejadian karies yang tinggi dengan kerusakan paling cepat terjadi pada dua tahun pertama setelah gigi tersebut erupsi. Kerusakan tersebut dapat mencapai pulpa sehingga diperlukan perawatan endodontik. Gigi yang sudah dirawat memerlukan restorasi akhir yang baik, karena kemungkinan terjadi fraktur. Sisa jaringan gigi yang sedikit membutuhkan restorasi akhir berupa mahkota tiruan dengan dukungan pasak dan inti. Pasak fiber komposit merupakan pasak yang saat ini sering digunakan karena memiliki keunggulan modulus elastisitas yang menyerupai dentin. Tujuan: Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan perawatan endodontik yang diikuti dengan pemasangan pasak fiber komposit dan mahkota logam pada molar pertama permanen muda. Kasus: Anak perempuan usia 11 tahun dirujuk ke klinik Kedokteran Gigi Anak Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Indonesia dengan kerusakan gigi #36 mencapai pulpa. Tatalaksana kasus: Perawatan endodontik dengan restorasi akhir mahkota tiruan tuang logam dengan dukungan pasak fiber komposit dan inti resin komposit. Pada kontrol setelah 1 bulan tidak didapatkan keluhan subjektif serta kondisi peradangan Simpulan: Laporan kasus ini menunjukkan bahwa perawatan endodontik yang diikuti dengan pemasangan pasak fiber komposit dan mahkota logam dapat dilakukan dengan baik pada molar pertama permanen muda dari pasien berusia 11 tahun.
Effect of gestational diabetes mellitus on the expression of amelogenin in rat offspring tooth germ Dewi, Nurdiana; Syaify, Ahmad; Wahyudi, Ivan Arie
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p135-139

Abstract

Background: Amelogenin is a major protein constituent of the developing enamel matrix that is critical for enamel formation. Mutations of amelogenin cause hypoplastic enamel phenotypes. Previous research found that infant of diabetic mother has higher risk for having enamel hypoplasia. Purpose: The aim of this study was to determine the effect of gestational diabetes mellitus on the expression of amelogenin in Wistar rats offspring tooth germ. Methods: Sixteen female Wistar rats, aged 2.5-3 months, body weight 150-200 g were used in this study, Wistar rats were mated and divided into two groups and treated on day 0 of pregnancy. Group A was DM group, consisting of 8 rats, induced by streptozotocin (STZ) injection 40 mg/kg BW. Group B was control group, consisting of 8 rats received citrate buffer injection. Thirty-two rat pups were decapitated on day 5. Immunohistochemical procedures were performed on molar tooth germ of the mandibular rat pups using antibody anti-AMELX to determine the expression of amelogenin. Examination carried out on the images using ImageJ software. All data were then statistically analyzed by Mann Whitney test. Results: There was no significant difference in the expression of amelogenin in the DM group and control group (p>0.05). Conclusion: Gestational diabetes mellitus did not affect the expression of amelogenin in rat offspring tooth germ. Further study is needed to examine the pattern of amelogenin expression with measurement of glucose levels of rat pups.Latar belakang: Amelogenin merupakan protein terbanyak pada matriks email yang berperan penting dalam pembentukan email. Mutasi pada amelogenin dapat menyebabkan email menjadi hipoplastik. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan oleh ibu pengidap diabetes memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami hipoplasia email. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh diabetes mellitus gestasional terhadap ekspresi amelogenin pada benih gigi anak tikus Wistar. Metode: Enam belas ekor tikus Wistar betina, umur 2,5-3 bulan, berat badan 150-200 g digunakan dalam penelitian ini, dikawinkan kemudian dibagi menjadi dua kelompok dan diberi perlakuan pada kehamilan hari ke-0. Kelompok A merupakan kelompok diabetes mellitus, terdiri atas 8 ekor tikus diberi perlakuan diabetes mellitus dengan injeksi streptozotocin (STZ) 40 mg/kg BB. Kelompok B merupakan kelompok kontrol, terdiri atas 8 ekor tikus diberi injeksi buffer sitrat. Tiga puluh dua anak tikus yang lahir didekapitasi pada hari ke- 5. Dilakukan prosedur imunohistokimia pada benih gigi molar rahang bawah anak tikus menggunakan antibodi anti-AMELX untuk mengetahui ekspresi amelogenin. Pemeriksaan dilakukan pada hasil foto menggunakan software ImageJ. Hasil kemudian dianalisa menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Tidak terdapat perbedaan yang bemakna pada ekspresi amelogenin kelompok kontrol dan kelompok diabetes mellitus (p>0,05). Simpulan: Diabetes mellitus gestasional tidak mempengaruhi ekspresi amelogenin pada benih gigi anak tikus. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pola ekspresi amelogenin dengan pengukuran kadar glukosa darah anak tikus.
Ukuran kranial dan indeks sefalik pada anak retardasi mental (Cranial size and cephalic index of mentally retarded children) Elianora, Dewi; Sutardjo, Iwa; Rianto, Bambang Udji
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p167-172

Abstract

Background: Mental retardation is imperfect condition of mental development which resulted in delay of motoric development, speech and in adaption with the environment. The common symptoms is brain growth disorder, which affects the cranial size and the intelectual function lower than average (<70). Purpose: This study was aimed to determine the difference of cranial size and cephalic index of mentally retarded children compared with normal chilren based on antropometry and cephalometric measurement. Methods: This research was epidemiology analytic observational with case control design. The cranial size and cephalic index measurements were carried out on 168 children in range of age 7-12 years old (84 were moderate mental retarded children and 84 were normal children). Data was statistically analyzed with t-test. Results: The size of cranial and cephalic on index on mentally retarded children were smaller than normal children. S-N and G-Op size were shorter than normal children, the results of S-N differences (-4.4), S-Ar (-2.38) and G-Op (-5.5), Eu-Eu (-8.24). The results analysis of linear and angle component cranial base (S-N, S-Ar and <NSAr) was significantly smaller than normal children. Based on age and genders, and the normal child was normocephalic. Odds ratio value of the head profile based on age groups 2.10 times (CI 0.290-3.390) compared to normal children 0.99 (CI 0.025-0.375). Based on gender the odds ratio value 1.469 times (CI 0.429-5.035) compared normal child 0.562 (CI 0.19-1.65). The head length and cranial base had related with gender. Cranial size on boys were bigger than girls. Conclusion: It is concluded that the cephalic index and the size of cranial base of mentally retarded children were smaller than normal children.Latar belakang: Retardasi mental merupakan ketidaksempurnaan perkembangan mental yang mengakibatkan keterlambatan perkembangan motorik, bicara dan penyesuaian diri dengan lingkungan. Gejala umum adalah gangguan pertumbuhan otak yang berpengaruh terhadap ukuran kranial dan fungsi intelektual (Quetient Intelegence) rendah (kurang dari 70). Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengukur perbedaan ukuran kranial dan indeks cephalik anak retardasi mental umur 7-12 tahun dibandingkan anak normal berdasarkan pengukuran antropometri dan sefalometri. Metode: Penelitian epidemiologi analitik observasional dengan rancang penelitian case control. Pengukuran ukuran kepala dan indeks sefalik dilakukan pada 168 anak umur 7-12 tahun (84 anak retardasi mental sedang dan 84 anak normal). Data dianalisis dengan uji-t. Hasil: Ukuran kranial dan indeks sefalik anak retardasi mental lebih kecil, terlihat dari ukuran S-N dan G-Op lebih pendek pada anak retardasi mental dibanding anak normal. Rerata selisih perbedaan -4.4 (S-N), -2.38 (S-Ar) dan G-Op (-5.05 mm), Eu-Eu (-8.24). Hasil komponen garis dan sudut ukuran basis kranium (S-N, S-Ar dan sudut N-S-Ar) lebih pendek secara bermakna pada anak retardasi mental dibanding anak normal. Berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin pada anak retardasi mental lebih banyak ditemukan bentuk kepala brakisefalik, dan anak normal normosefalik. Nilai odds ratio bentuk kepala berdasarkan kelompok umur 2.10 kali (95% CI 0.025-0.375) dibanding anak normal 0.99 (CI 0.290-3.390). Berdasarkan jenis kelamin nilai odds ratio 1.469 kali (CI 0.429-5.035) dibanding normal 0.562 (CI 0.19-1.65). Panjang kepala dan basis kranial ada kaitannya dengan jenis kelamin, anak laki-laki ukuran kranialnya lebih besar dari anak perempuan. Simpulan: Ukuran kepala dan basis kranial anak retardasi mental lebih kecil dari anak normal.
DNA Epstein-Barr virus (EBV) sebagai biomaker diagnosis karsinoma nasofaring Sudiono, Janti; Hassan, Irma
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p140-147

Abstract

Background: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a malignant neoplasm arising from the mucosal epithelium of the nasopharynx with various cells differentiation. Nasopharyngeal carcinoma is vastly more common in certain regions of East Asia, South Asia and Africa with viral, dietary which is typically includes consumption of salted vegetables, fish, meat and genetic factors that implicated in its causation. The undifferentiated is the most common type of NPC and strongly associated with Epstein-Barr virus (EBV) infection. Purpose: This paper was aimed to review about molecular biomarker as non invasive diagnosis of NPC especially in related to EBV infection in nasopharyngeal epithelial cells. Reviews: The pathogenesis of NPC particularly the endemic type seems to follow a multi-step process, in which EBV, ethnic background, and environmental carcinogens all seem to play important role. EBV DNA plasm level is used continuously in clinic as a promise, sensitive and specific molecular marker diagnostic that reflected the stage, treatment response and prognosis of NPC. Detection of nuclear antigen associated with Epstein-Barr virus (EBNA) and viral DNA has revealed that EBV can infect epithelial cells and associated with their transformation in carcinogenesis. Latent membrane protein (LMP-1 and LMP-2) oncogenes EBV encoded related to proliferative gene expression indicated invasive and progressive growth of NPC. Conclusion: The new biomarkers for NPC, including EBV DNA in serum; EBV DNA and BamH1-A Reading Frame-1 (BARF1) mRNA in NPC brushings have been developed for the molecular non invasive diagnosis of this tumour.Latar belakang: Nasopharyngeal carcinoma (NPC), sering dikenal sebagai kanker nasofaring merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel mukosa nasofaring dengan derajat diferensiasi sel yang bervariasi. Paling banyak ditemukan di Asia Selatan, Asia Timur, dan Afrika. Virus, pola diet tipikal seperti konsumsi sayuran, ikan dan daging yang diasinkan, dan faktor genetik merupakan faktor kausatif. Tipe undifferentiated paling banyak ditemukan dan sangat berkaitan dengan infeksi virus Epstein Barr (EBV). Tujuan: Tujuan penulisan ini akan meninjau pustaka mengenai biomarker molekular sebagai alat diagnostik yang non invasif untuk NPC terutama dalam kaitannya dengan infeksi EBV pada sel epitel nasofaring. Tinjauan pustaka: Patogenesis NPC terutama pada tipe endemik, merupakan proses multi tahap, dan semua faktor seperti EBV, latar belakang etnik, dan karsinogen lingkungan berperan penting. Level plasma DNA EBV digunakan secara rutin di klinik sebagai suatu marker diagnostik molekular yang menjanjikan, sensitif, dan spesifik sebagai cerminan stadium, respon terhadap pengobatan dan prognosis NPC. Terdeteksinya antigen inti yang berkaitan dengan EBV (EBNA) dan DNA virus menyatakan bahwa EBV menginfeksi sel epitel dan terkait dengan transformasi sel dalam karsinogenesis. Protein membran laten-1 dan 2 onkogen (LMP1 dan LMP2) mengkode EBV berkaitan dengan ekspresi gen pertumbuhan sel yang mengindikasikan pertumbuhan yang sangat invasif dan progesif dari NPC. Simpulan: Biomarker NPC terkini seperti pengukuran EBV DNA dalam serum; EBV DNA dan BARF1 (BamH1-A Reading Frame-1) mRNA pada sitologi NPC telah dikembangkan untuk diagnosis molekular yang non invasif
Peran kalsium sebagai prevensi terjadinya hipoplasia enamel (The role of calcium on enamel hypoplasia prevention) Wahluyo, Soegeng
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p113-118

Abstract

Background: Fluoride is a trace element found in many natural and commonly consumed by humans in the form of fluoride salts such as Sodium Fluoride (NaF). The impacts that are most often caused by the intake of fluoride is a damage of enamel tooth/enamel hypoplasi or fluorosis. The manifestations of these effects are defects in teeth with whitish colour, brown to black colour effected on the aesthetic. So that the prevention of fluorosis is required. Purpose: The aim of this study was to analyze the effect of calcium as prevention against tooth enamel fluorosis in Wistar rats caused by exposure to fluoride through indicators of Amelogenin, Calbindin- 28kDa protein expression, the matrix of tooth enamel density and distance between ameloblast cell. Methods: This was an experimental studies, post-test only control group design. This study used three groups of rats. Group 1 (Control) was induced by sterile destilled water, group 2 (treatment 1) was induced by fluoride and group 3 (treatment 2) was induced by combination of fluoride and calcium. Each induction was done through sonde for 28 days. results: The results showed that the induction of fluoride causes the increased expression of Amelogenin protein; decreased expression of Calbindin-28kDa protein; a decrease in the density of the enamel matrix and widen the distance between cells ameloblast, while the result of the combination induced by fluoride and calcium showed increased protein expression of Calbindin-28kDa and increased density of the enamel matrix. Conclusion: Calcium can be used as an alternative preventive against the occurrence of enamel hypoplasia due to exposure of fluoride in Wistar rats.latar belakang: Fluorida adalah salah satu trace element yang ada dialam dan sering dikonsumsi manusia dalam bentuk garam fluorida yaitu sodium fluoride (NaF). Paparan fluorida biasanya berkaitan dengan asupan fluorida yang dapat membahayakan enamel gigi yaitu terjadinya hipoplasia enamel atau fluorosis. Manifestasi efek ini memberikan gambaran berupa defect pada enamel gigi ditandai dengan perubahan warna dari kecoklatan hingga kehitaman dan penyebab estetik yang tidak baik, maka diperlukan usaha pencegahan fluorosis tersebut. tujuan: Studi ini adalah menganalisis efek kalsium terhadap prevensi terjadinya fluorosis pada tikus Wistar yang terpapar fluorida, dengan indikator ekspresi protein Amelogenin, Calbindin-28kDa, densitas matriks enamel dan jarak antar sel ameloblas. Metode: Studi ini merupakan studi eksperimental dengan desain Post Test Only Control Group, yang menggunakan 3 kelompok tikus. Kelompok-1 (kontrol) di induksi dengan aquadest steril, kelompok-2 (treatmen-1) diinduksi dengan fluorida dan kelompok-3 (treatmen-2) diinduksi dengan kombinasi antara fluorioda dan kalsium. Induksi dilakukan selama 28 hari melalui sonde. hasil: Menunjukkan bahwa induksi dengan fluorida menyebabkan peningkatan ekspresi protein Amelogenin dan terjadi penurunan ekspresi protein Calbindin-28kDa, dan penurunan kepadatan matriks enamel serta pelebaran jarak antar sel. Tetapi bila diinduksi dengan kombinasi fluorida dan kalsium maka terjadi peningkatan ekspresi Calbindin-28kDa dan peningkatan densitas matriks enamel. Simpulan: Kalsium dapat digunakan sebagai alternative terhadap terjadinya hipoplasia enamel akibat paparan fluorida pada tikus Wistar.
Efek ekstrak buah delima (Punica Granatum L) terhadap ekspresi wild p53 pada sel ganas rongga mulut mencit strain swiss webster Hernawati, Sri; Rantam, Fedik Abdul; Sudiana, I Ketut; Rahayu, Retno Pudji
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i3.p148-151

Abstract

Background: Squamous cell carcinoma is the most common cancer in the oral cavity. DNA tests showed that almost 90% of cases revealed wild p53 gene mutations. Wild p53 gene mutations cause p53 inactivation so the cell cycle does not stop in G1 phase but continues to S phase and G2 and M, it makes the mutated DNA remains multiplied and apoptosis does not occur. One candidate of the cancer treatment alternatives is pomegranate extract (Punica granatum L – PGL). Purpose: The purpose of study was to examine the effect of PGL on wild p53 expression in oral cavity malignant cell of swiss webster strain mice. Methods: Thirty- two swiss webster strain mice (Balb/c) 5 months old were randomly divided into four groups. Two control groups (K0: no benzopirene exposed and untreated; K1: benzopirene exposed and untreated); and 2 treatment groups (P1: benzopirene exposed and given EA; P2: benzopirene exposed and given PGL extract). The expression of wild p53 was determined by immunohistochemical techniques. Results: The results showed that administration of PGL could increase the expression of wild p53 in malignant epithelial cells in the oral mucosa of mice, and the expression was higher than EA. Conclusion: This study suggested that the PGL extract could express wild p53 in the oral cavity malignant cells of swiss Webster strains mice.Latar belakang: Karsinoma sel skuamosa merupakan kanker yang sering terjadi pada rongga mulut. Pemeriksaan DNA menunjukkan hampir 90% kasus dijumpai adanya mutasi gen wild p53. Mutasi gen wild p53 menyebabkan inaktivasi wild p53 sehingga siklus sel tidak berhenti pada fase G1 tetapi berlanjut ke fase S dan G2 dan M, sehingga DNA yang mengalami mutasi tetap dilipatgandakan dan apoptosis tidak terjadi. Salah satu kandidat obat kanker adalah ekstrak buah delima (Punica Granatum L - PGL). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meneliti efek ekstrak PGL terhadap ekspresi wild p53 pada sel ganas rongga mulut mencit strain swiss webster. Metode: Tiga puluh dua ekor mencit (Balb/c) strain swiss webster jantan berumur 5 bulan dibagi secara random menjadi 4 kelompok, yaitu 2 kelompok kontrol (K0: tidak dipapar benzopirene dan tidak diberi perlakuan; K1: dipapar benzopirene dan tidak diberi perlakuan); serta 2 kelompok perlakuan (P1: dipapar benzopirene dan diberi EA; P2: dipapar benzopirene dan diberi ekstrak PGL). Pemeriksaan ekspresi wild p53 dilakukan dengan teknik  imunohistokimia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak PGL dapat meningkatkan ekspresi wild p53 pada sel epitel ganas pada mukosa rongga mulut mencit, dan lebih tinggi dibanding dengan pemberian EA. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak PGL dapat meningkatkan ekspresi wild p53 pada sel ganas rongga mulut mencit strain swiss webster

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2019): (June 2019): Article in Press Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Article in press Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 3 (2018): (September 2018) Vol 51, No 2 (2018): (June 2018) Vol 51, No 1 (2018): (March 2018) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017) Vol 50, No 3 (2017): (September 2017) Vol 50, No 2 (2017): (June 2017) Vol 50, No 1 (2017): (March 2017) Vol 49, No 4 (2016): (December 2016) Vol 49, No 3 (2016): (September 2016) Vol 49, No 2 (2016): (June 2016) Vol 49, No 1 (2016): (March 2016) Vol 48, No 4 (2015): (December 2015) Vol 48, No 3 (2015): (September 2015) Vol 48, No 2 (2015): (June 2015) Vol 48, No 1 (2015): (March 2015) Vol 47, No 4 (2014): (December 2014) Vol 47, No 3 (2014): (September 2014) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014) Vol 47, No 1 (2014): (March 2014) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013) Vol 46, No 2 (2013): (June 2013) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013) Vol 45, No 4 (2012): (December 2012) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012) Vol 45, No 2 (2012): (June 2012) Vol 45, No 1 (2012): (March 2012) Vol 44, No 4 (2011): (December 2011) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011) Vol 43, No 4 (2010): (December 2010) Vol 43, No 3 (2010): (September 2010) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010) Vol 42, No 4 (2009): (December 2009) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009) Vol 42, No 2 (2009): (June 2009) Vol 42, No 1 (2009): (March 2009) Vol 41, No 4 (2008): (December 2008) Vol 41, No 3 (2008): (September 2008) Vol 41, No 2 (2008): (June 2008) Vol 41, No 1 (2008): (March 2008) Vol 40, No 4 (2007): (December 2007) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007) Vol 40, No 2 (2007): (June 2007) Vol 40, No 1 (2007): (March 2007) Vol 39, No 4 (2006): (December 2006) Vol 39, No 3 (2006): (September 2006) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006) Vol 39, No 1 (2006): (March 2006) Vol 38, No 4 (2005): (December 2005) Vol 38, No 3 (2005): (September 2005) Vol 38, No 2 (2005): (June 2005) Vol 38, No 1 (2005): (March 2005) More Issue