cover
Contact Name
Saka Winias
Contact Email
saka.winias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dental_journal@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19783728     EISSN : 24429740     DOI : -
Core Subject : Health,
The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) (e-ISSN:2442-9740; p-ISSN:1978-3728) is published by the Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga. Its diciplinary focus is dental science and dental hygiene. The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) is published in English on a quarterly basis with each 50-60 page edition containing between nine and eleven scientific articles on research, study literature and case studies. Contributors to the Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) included: dental researchers, dental practitioners, lecturers, and students drawn from Indonesia and a wide range of other countries.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)" : 11 Documents clear
Odontoblast layer structure alteration as a response to carious lesions Haniastuti, Tetiana
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p164-168

Abstract

Background: Dental caries is a bacterial disease affecting the hard tissue of the teeth as well as the pulp. The human dental pulp consists of odontoblast which are organized as a densely packed cell layer. Odontoblasts is located at the periphery of the pulp; therefore, they are the first cells encountered by cariogenic bacteria and their products that are represented in the carious lesion. Purpose: This study aimed to elucidate the effect of cariogenic bacteria to odontoblasts of human teeth. Methods: Five intact third molars and 15 third molars with occlusal caries at various stages of decay were extracted because of orthodontic or therapeutic reasons. The tooth specimens were fixed, decalcified with 10% EDTA solution (pH 7.4), and embedded in paraffin. Serial sections of 5 μm thickness were cut and stained with haematoxylin eosin and Gram’s, in addition to nestin immunohistochemistry. The specimens were then examined under light microscopy. Results: In normal teeth, odontoblast layer were aligned along the pulp chamber showing normal morphology of the cells. Slight disorganization of odontoblast layer was seen in the cases of carious lesions confined to enamel. In the cases of carious lesions confined to dentin, odontoblast layer was not observed in the areas subjacent to the lesions, only single cells showing flattened cell morphology were found. Odontoblasts beneath the lesion suffered severe damage and diminished nestin immunoreaction were observed in all cases of carious lesions with pulp exposure. Conclusion: Cariogenic bacteria invasion may damage the odontoblasts by affecting the morphology and vitality of the cells. The severity of the damage of the odontoblasts may increase as the bacterial invasion progresses toward the pulp.Latar belakang: Karies merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, yang dapat memengaruhi jaringan keras gigi maupun pulpa. Pada pulpa gigi manusia terdapat sel odontoblas yang tersusun atas lapisan sel. Odontoblas terletak pada tepi kamar pulpa, sehingga sel ini merupakan sel yang pertama kali bertemu dengan bakteri kariogenik dan produk-produknya yang terdapat dalam lesi karies. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh invasi bakteri kariogenik terhadap sel odontoblas gigi manusia. Metode: Lima buah gigi molar ketiga utuh dan 15 gigi molar ketiga yang mengalami karies pada permukaan oklusal dengan berbagai tingkat keparahan diekstraksi karena akan menjalani perawatan ortodontik atau perawatan lainnya. Gigi-geligi tersebut kemudian difiksasi, didekalsifikasi dengan larutan EDTA 10% (pH 7,4), dan ditanam dalam parafin. Spesimen gigi tersebut kemudian dipotong dengan ketebalan 5 μm dan diwarnai dengan hematoksilin eosin dan Gram, serta immunohistokimia dengan nestin. Spesimen kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya. Hasil: Pada gigi normal, lapisan odontoblas terdapat di sepanjang tepi kamar pulpa dengan morfologi sel normal. Disorganisasi ringan pada lapisan odontoblas tampak pada kasus-kasus karies dengan kedalaman enamel. Pada kasus-kasus lesi karies dengan kedalaman dentin, lapisan odontoblas tidak tampak pada daerah di bawah lesi, hanya ditemukan sel odontoblas tunggal dengan dengan morfologi sel yang pipih. Odontoblas di bawah lesi mengalami kerusakan yang parah dan tidak menunjukkan nestin immunopositif merupakan gambaran dari kasus-kasus karies dengan pulpa terbuka. Kesimpulan: Invasi bakteri kariogenik dapat menyebabkan kerusakan sel odontoblas dengan menyebabkan perubahan morfologi dan memengaruhi vitalitas selnya. Kerusakan sel akan semakin parah dengan semakin dalam invasi bakteri ke arah pulpa.
Efficacy of various topical agents to prevent enamel demineralization Hendrawan, Priska Lestari; Siregar, Erwin; Krisnawati, Krisnawati
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p141-144

Abstract

Background: Enamel demineralization is a common and undesirable side effect of fixed appliance orthodontic treatment. Many sudies showed that the prevalence varied between 2–96%. There are many ways to prevent demineralization and increased remineralization such as oral hygiene instruction and by topical application such as acidulated phosphate fluor (APF) casein phospo peptide-amorphous calcium phosphate (CPP-ACP), casein phospo peptide-amorphous calcium phosphate plus (CPP-ACPF). Purpose: The purpose of this in-vitro study was to evaluate the efficacy of various topical agents to prevent enamel demineralization. Methods: Fourty extracted human premolars were allocated to 1 of 4 groups: 1.23% APF gel; 10% CPP-ACP paste; 10% CPP-ACPF paste; and untreated control. All samples were subjected to pH cycling treatment for 12 days through a daily procedure of demineralization solution with pH 4 for 6 hours and remineralization solution with pH 7 for 18 hours. Microhardness testing were done before and after pH cycling and the delta hardness values were determined. Results: APF, CPP-ACP and CPP-ACPF application significantly prevent lowering of enamel microhardness value compared with untreated control group. Kruskal-Wallis, ANOVA, Mann-Whitney U, Tukey and Bonferroni Post-Hoc multiple comparison test showed significant difference between mean delta microhardness value of CPP-ACPF and CPP-ACP group with APF group, but there is no significant difference between mean delta microhardness value of CPP-ACPF and CPP-ACP group. Conclusion: APF, CPP-ACP and CPP-ACPF prevent enamel demineralization. CPP-ACP and CPP-ACPF prevent demineralization more than APF.Latar belakang: Demineralisasi email merupakan efek samping negatif yang sering dijumpai pada perawatan ortodontik cekat. Beberapa penelitian menyatakan bahwa prevalensinya bervariasi 2–96 persen. Ada beberapa cara untuk mencegah demineralisasi dan meningkatkan remineralisasi, misalnya dengan instruksi kebersihan mulut dan menggunakan bahan topical aplikasi seperti acidulated phosphate fluor (APF) casein phospo peptide-amorphous calcium phosphate (CPP-ACP), casein phospo peptide-amorphous calcium phosphate plus (CPP-ACPF). Tujuan: Tujuan penelitian in vitro ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas berbagai agen topikal untuk mencegah demineralisi email yang dilihat dengan uji kekerasan mikro permukaan email. Metode: emapat puluh gigi premolar yang sudah di ekstraksi dibagi dalam 4 kelompok: aplikasi gel 1,23% APF; aplikasi psta 10% CPP-ACP; aplikasi pasta 10% CPP-ACPF dan kelompok Kontrol. Semua sampel diberikan perlakuan siklus pH selama 12 hari yang terdiri dari perendaman dalam larutan demineralisasi dengan pH 4 selama 6 jan dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan remineralisasi dengan pH 7 selama 18 jam. Uji kekerasan dilaku kan sebelum dan sesudah perlakuan serta diperoleh juga data delta kekerasan. Hasil: Semua aplikasi agen topikal tersebut dapat mencegah demineralisasi email secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Kesimpulan: APF, CPP, ACP, dan CPD-ACPF mencegah demineralisasi enamel. CPP-ACP dan CPD-ACPF mencegah demineralisasi lebih baik dibanding APF.
The role of probiotic on alveolar bone resorption Sari, Desi Sandra; Meilawaty, Zahara; Amin, M. Nurul
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p117-121

Abstract

Background: Probiotics are microbes derived from the group of lactic acid bacteria that work to maintain the health of hosts. Probiotics can also be used to improve oral health. Periodontal disease is usually marked with gingival inflammation and alveolar bone resorption. Gram negative anaerobic bacteria that play important role in human periodontal disease are Porphyromonas gingivalis. (P. gingivalis). P. gingivalis is a virulent bacteria in vivo or in vitro, and mostly found in subgingival plaque of periodontitis patients. Purpose: This study is aimed to know the role of probiotics to inhibit the resorption of alveolar bone induced with P. gingivalis. Methods: This study used male wistar rats divided into 4 groups. Group I was control group (without treatment); group II was induced with P. gingivalis ATCC 33277 for 5 days; group III was induced with P. gingivalis ATCC 33277 and also injected with probiotics (Lactobacillus casei ATCC 4224) for 5 days simultaneously; and group IV was induced with P. gingivalis ATCC 33277 for 5 days and also injected by probiotics (Lactobacillus casei ATCC 4224) in the next 5 days. After that, the samples were decapitated, taken their alveolar bone, and then were examined by immunohistochemistry to observe osteoclast activity in alveolar bone resorption by using tartrate-resistant acid phosphatase (TRAP) expression. All data were then analyzed statistically. Results: It is known that there were significant differences of TRAP expression among all those treatment groups (p < 0.05). Conclusion: It then can be concluded that probiotics can decrease osteoclast activity in periodontal tissue of wistar rats, so it can inhibit alveolar bone resorption.Latar belakang: Probiotik adalah mikroba dari golongan bakteri asam laktat yang bekerja mempertahankan kesehatan host dan probiotik dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan rongga mulut. Penyakit periodontal ditandai dengan adanya keradangan pada gingiva dan resobsi tulang alveolar. Bakteri Gram negatif anaerob yang sangat berperan dengan penyakit periodontal pada manusia adalah Porphyromonas gingivalis (P. gingivalis). P. gingivalis merupakan bakteri yang virulen, baik diuji secara in vivo maupun in vitro, dan banyak ditemukan pada plak subgingiva penderita periodontitis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran probiotik dalam menghambat resorbsi tulang alveolar yang diinduksi P.gingivalis. Metode: Penelitian ini memakai tikus jenis wistar jantan sebagai sampel dan dibagi menjadi 4 kelompok: Kelompok I yaitu kontrol tanpa perlakuan; kelompok II di induksi P.gingivalis ATCC 33277 selama 5 hari; Kelompok III di induksi P.gingivalis ATCC 33277 ditambah suntikan probiotik (Lactobacillus casei ATCC 4224) selama 5 hari secara bersamaan; dan Kelompok IV di induksi P.gingivalis ATCC 33277 selama 5 hari ditambah suntikan probiotik (Lactobacillus casei ATCC 4224) 5 hari selanjutnya. Setelah itu sampel didekaputasi, diambil tulang alveolar dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk melihat aktivitas osteoklas dalam resopsi tulang alveolar dengan mendeteksi tartrate-resistant acid phosphatase (TRAP). Data yang dikumpulkan dianalisis secara statistik. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok untuk ekspresi TRAP (p < 0.05). Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa probiotik dapat menurunkan aktivitas osteoklas pada wistar tikus yang mengalami periodontitis sehingga dapat mencegah resorbsi tulang alveol.
Threshold value of enamel mineral solubility and dental erosion after consuming acidic soft drinks Ilyas, Muhammad
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p145-149

Abstract

Background: Dental erosion is irreversible and can caused by acidic soft drink consumption. Dental erosion prevention had already been done, but it still has not been satisfying since the consumption of acidic soft drink is still high. There is still no explanation about the threshold value of enamel mineral solubility and the occurance of dental erosion after consuming acidic soft drink. Purpose: This research is aimed to find the threshold value of enamel mineral solubility and dental erosion before and after consuming acidic soft drinks. Methods: Subjects of the research are saliva and enamel of 12 rabbits, which have some criteria such as age > 70 days, body weight > 600 grams, and teeth considered to be healthy. The sample devided equally into 4 groups. Each of those marmooths was given a drink as much as 2.5 cc/consumption (there are 1, 2 and 3× per day) by using syringe without injection needle. Salivary minerals then were examined by using atomic absorption spectrophotometric (ASS), while dental erosion was examined using scanning electron microscop (SEM). The data were analyzed by using Paired t-test. Results: It is known that the threshold value of enamel mineral solubility (K, Na, Fe, Mg, Cl, P, Ca, F, C) has significant difference (p < 0.05) after being exposed to folic acid. Meanwhile, Fe did not have significant difference (p = 0.090) after being exposed to citric acid. Similarly, C did not have significant difference (p = 0.063) after being exposed to bicarbonate acid. Furthermore, it is also known that the threshold time value of dental erosion are on the 105th day for folic acid, on the 111th day for citric acid, and on the 117th day for bicarbonate acid. Conclusion: Threshold value of enamel mineral solubility before and after consuming soft drinks containing acid is different. Based on the threshold value of dental erosion, it is known that folic acid is the most erosive acid.Latar belakang: Erosi gigi bersifat irreversible disebabkan oleh konsumsi minuman ringan yang mengandung asam. Pencegahan erosi gigi telah dilakukan tetapi hasilnya tidak memuaskan karena masih banyak orang selalu mengkonsumsi minuman ringan yang berasam. Tidak ada satupun yang menjelaskan lebih terperinci tentang perbedaan nilai ambang kelarutan email dan waktu erosi gigi setelah konsumsi minuman ringan yang berasam. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan nilai ambang kelarutan mineral email dan erosi gigi sebelum dan setelah mengkonsumsi minuman ringan yang mengandung asam. Metode: Subjek dari penelitian ini adalah saliva dan enamel dari 12 ekor kelinci dengan criteria usia lebih dari 70 hari, berat lebih dari 600 gram, dan gigi dalam keadaan sehat. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelinci diberikan 2,5 ml minuman sekali konsumsi (1, 2, dan 3 kali sehari) menggunakan spite tanpa jarum. Mineral saliva dianalisa menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometric (ASS), sedangkan erosi gigi diperiksa dengan menggunakan Scanning Electron Microscop (SEM). Data analisa dengan Paired-t test. Hasil: Semua mineral email (K, Na, Fe, Mg, Cl, P, Ca, F, C) nilai ambang kelarutannya berbeda secara bermakna sebelum dan setelah terpapar oleh asam folat (p < 0,05). Sebelum dan setelah terpapar oleh asam sitrat nilai ambang kelarutan mineral Fe tidak bermakna (p = 0,090), sebelum dan setelah terpapar oleh asam bikarbonat nilai ambang kelarutan mineral C tidak bermakna (p = 0,063). Nilai ambang waktu erosi gigi didapatkan pada hari ke 105 untuk asam folat, hari ke 111 untuk asam sitrat dan hari ke 117 untuk asam bikarbonat. Kesimpulan: Nilai ambang kelarutan mineral email sebelum dan setelah konsumsi minuman ringan mengandung asam berbeda. Berdasarkan nilai ambang erosi gigi, dapat diketahui bahwa asam folat merupakan asam yang paling erosif.
Dental measurements of Deuteromalayid Javanese students of the Faculty of Dentistry Airlangga University Artaria, Myrtati Dyah; Herijadi, Bambang Soegeng
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p122-126

Abstract

Background: Dental anthropology is a new field of study in Indonesia, hence there are few numbers of research that can be found in this field. Knowledge in this field is needed due to the large area and diversity of the people. Moreover, knowledge regarding the possibility to differentiate the sexes of skeletons is still needed for the purpose of identification. Purpose: This research intended to study the differences in mesio-distal measurements of the teeth of Deuteromalayid Javanese males and females studying in the Faculty of Dentistry in Airlangga University. Methods: This study used mesiodistal metric dental data, using dental caliper, to test the existence of sexual dimorphism. Sample were teeth of freshman students of the Airlangga University, from 52 individuals comprising 26 males and 26 females Deuteromalayid originated from Java (Indonesia) studying in the Faculty of Dentistry Airlangga University. Measurements were not performed on damaged casts due to caries or other reasons. Differences between males and females were tested using independent t-test. Results: The mean of mesiodistal measurements in males and females differs, where the males have greater size of mesiodistal measurements. The results showed that there were significant differences between sexes in the sample, in all field of teeth except the second upper and lower premolars. Reverse sexual dimorphism-female teeth measurement is larger than those of males-has not been found in these samples. The result of this study revealed that the range of mesiodistal measurements of every tooth in males and females overlapped. Conclusion: It is concluded that teeth measurement of males is bigger than females, except maxillary and mandibular second premolars. Latar belakang: Antropologi dental adalah bidang studi baru di Indonesia, dan karenanya penelitian di bidang ini masih sedikit dijumpai di Indonesia. Apalagi masih dibutuhkan pengetahuan mengenai apakah jenis kelamin dapat dilihat dari geligi tengkorak manusia, untuk keperluan identifikasi. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan ukuran mesiodistal gigi antara laki-laki dan perempuan Deuteromalayid dari Jawa. Metode: Penelitian ini menggunakan data pengukuran mesio-distal gigi untuk mengetahui apakah ada perbedaan antar jenis kelamin pada ukuran gigi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga keturunan Deuteromalayid dari Jawa. Penelitian ini merupakan penelitian tahap awal dengan jumlah sampel yang masih terbatas. Sampel diambil dari 52 orang individu yang bersedia dicetak giginya dengan jumlah 26 laki-laki dan 26 perempuan. Pengukuran dilakukan dari mesial ke distal gigi. Pengukuran tidak dilakukan mesial gigi yang mengalami kerusakan seperti misalnya karena karies atau aus yang parah. Signifikansi perbedaan antar jenis kelamin dianalisis menggunakan independent t-test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antar laki-laki dan perempuan di semua jenis gigi, kecuali pada premolar ke dua atas dan bawah. ”Reverse sexual dimorphism” di mana rata-rata ukuran gigi perempuan lebih besar dari lakilaki, tidak ditemukan pada sampel ini. Pada penelitian ini meskipun dijumpai ”overlap” pada ukuran gigi laki-laki dan perempuan, tetapi sebagian besar rata-rata ukuran gigi berbeda secara bermakna antar kedua jenis kelamin pada sampel mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga yang berasal dari Jawa keturunan Deuteromalayid. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa pengukuran gigi laki-laki lebih besar daripada perempuan, kecuali premolar kedua maksila dan mandibula.
Anterior makeover on fractured teeth by simple composite resin restoration Prasetyo, Eric Priyo
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p150-153

Abstract

Background: In daily practice dentists usually treat tooth fractures with more invasive treatments such as crown, veneer and bridges which preparation require more tooth structure removal. While currently there is trend toward minimal invasive dentistry which conserves more tooth structure. This is enhanced with the vast supply of dental materials and equipment in the market, including restorative materials. Provided with these supporting materials and equipment and greater patient’s demand for esthetic treatment, dentists must aware of the esthetics and basic principle of conserving tooth which should retain tooth longevity. Purpose: This article showed that a simple and less invasive composite resin restoration can successfully restore anterior esthetic and function of fractured teeth which generally treated with more invasive treatment options. Case: A 19 year-old female patient came with fracture on 21 and 22. This patient had a previous history of dental trauma about nine years before and was brought to a local dentist for debridement and was given analgesic, the involved teeth were not given any restorative treatment. Case management: The fractured 21 and 22 were conventionally restored with simple composite resin restoration. Conclusion: Fracture anterior teeth would certainly disturbs patient’s appearance, but these teeth could be managed conservatively and economically by simple composite resin restoration.Latar belakang: Dalam praktek sehari-hari pada umumnya dokter gigi merawat fraktur dengan restorasi invasif seperti mahkota, veneer dan jembatan yang semuanya memerlukan pengambilan jaringan gigi lebih banyak, sedangkan saat ini trend perawatan gigi lebih menuju kearah invasif minimal yang mempertahankan jaringan gigi sebanyak mungkin. Keadaan ini ditunjang oleh tersedianya berbagai macam bahan dan peralatan kedokteran gigi di pasaran, termasuk bahan restorasi. Dengan tersedianya bahan dan peralatan yang mendukung serta tingginya permintaan pasien akan perawatan estetik, dokter gigi harus mengetahui estetik dan prinsip dasar dari konservasi gigi yaitu mempertahankan gigi selama mungkin. Tujuan: Laporan kasus ini menunjukkan bahwa restorasi resin komposit sederhana yang tidak invasif dapat memperbaiki estetik dan fungsi geligi fraktur yang umumya dirawat dengan macam restorasi yang lebih invasif. Kasus: Seorang wanita berusia 19 tahun datang dengan fraktur pada gigi 21 dan 22. Pasien tersebut memiliki riwayat trauma pada giginya sejak sembilan tahun sebelumnya dan telah dibawa ke dokter gigi untuk debridemen dan pemberian analgesik saja, tanpa perawatan restoratif. Tatalaksana kasus: Gigi fraktur pada 21 dan 22 diperbaiki dengan restorasi resin komposit sederhana. Kesimpulan: Fraktur pada gigi anterior akan sangat mengganggu penampilan pasien, akan tetapi fraktur tersebut dapat dirawat secara konservatif dan ekonomis dengan restorasi resin komposit sederhana.
Recent pharmacological management of oral bleeding in hemophilic patient Setiawan, Monica Widyawati
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p127-131

Abstract

Background: Hemophilia is a hereditary bleeding disorder that can increase the risk of disease in oral cavity. Sometimes hemophilia is not always established already in a patient. The lack of awareness of hemophilia presence can cause serious problem. Purpose: The purpose of this review is to explain about dental bleeding manifestation and management in hemophilic patient. Reviews: Hemophilia can be manifested as dental bleeding that cannot stop spontaneously. It should be treated with factor VIIII either by giving whole blood, fresh plasma, fresh frozen plasma, cryoprecipitate, and factor VIII concentrate. Factor VIII dose for hemophilia treatment can be calculated based on factor VIII present in hemophilia patient’s body. Factor VIII can also be given as prophylaxis to prevent bleeding. Complications that can be caused by factor VIII replacement therapy are the presence of factor VIII inhibitor and transfusion related diseases. Treatment of dental bleeding due to hemophilia consists of factor replacement therapy and supportive therapy. Conclusion: Treatment of dental bleeding due to hemophilia consists of factor replacement therapy and supportive therapy. There are complications that can happen due to factor VIII replacement therapy that should be considered and anticipated.Latar belakang: Hemofilia adalah kelainan pembekuan darah yang diturunkan. Hemophilia dapat meningkatkan resiko penyakit rongga mulut. Hemofilia tidak selalu sudah terdiagnosa saat penderita melakukan kunjungan ke dokter gigi. Kurangnya kewaspadaan akan adanya hemofilia dapat menyebabkan masalah serius. Tujuan: Tujuan dari kajian pustaka ini adalah memaparkan tentang manifestasi dan penanganan perdarahan gigi pada penderita hemofilia. Tinjauan pustaka: hemofilia dapat bermanifestasi sebagai perdarahan gigi yang tidak dapat berhenti secara spontan. Pada keadaan perdarahan tersebut, pemberian faktor VIII yang diberikan sebagai whole blood, fresh plasma, fresh frozen plasma, cryoprecipitate, dan konsentrat faktor VIII. Dosis faktor VIII sebagai terapi hemofilia dapat dihitung berdasarkan kadar faktor VIII yang terdapat dalam tubuh penderita hemofilia. Faktor VIII juga dapat diberikan sebagai terapi profilaksis untuk mencegah perdarahan. Komplikasi yang dapat terjadi pada pemberian factor VIII replacement therapy adalah timbulnya inhibitor faktor VIII dan penyakit yang terkait transfusi. Terapi perdarahan gigi pada penderita hemofilia terdiri dari factor replacement therapy dan terapi suportif. Kesimpulan: Terapi perdarahan gigi pada penderita hemofilia terdiri dari factor replacement therapy dan terapi suportif. Komplikasi factor VIII replacement therapy harus diwaspadai dan ditatalaksana dengan baik.
Management of horizontal crown fracture caused by traumatic injury with endorestoration treatment Zubaidah, Nanik
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p154-158

Abstract

Background: Traumatic injuries of teeth are the main cause of emergency treatment in dental practice. The horizontal crown fracture more frequently observed usually occurs in maxillary anterior region and young male patients. The most common type of coronal fracture is in the middle third, followed by root and apical part. Purpose: The aim of this case report is to present the management of crown fracture of teeth with pulp exposure caused by dental trauma with endorestoration treatment in order to reconstruct the shape and the function of the teeth. Case: A 22 years old male with horizontal crown fracture of anterior teeth. The patient asked for aesthetic dental treatment both for its form and function. Case management: This horizontal crown fracture of anterior teeth with pulp exposure caused by dental trauma still could be reconstructed, mainly by endorestoration treatment. The endodontic treatment with post and core insertion in the root canal then would increase its retention. Later, the porcelain crown would aesthetically recover its original form and function, therefore, it would improve the patient’s confidence and teeth function. Conclusion:  Endorestoration treatment on anterior teeth with harizontal crown fractures and pulp exposure is able to recover the normal function, aesthetic, and self-confidence.Latar belakang: Trauma pada gigi merupakan penyebab utama perawatan darurat dalam praktek dokter gigi. Fraktur mahkota horisontal pada umunya terjadi pada gigi anterior rahang atas dan terjadi pada penderita pria muda. Jenis yang paling sering dari fraktur mahkota adalah pada sepertiga tengah, daerah akar dan apical. Tujuan: Laporan kasus ini menjelaskan penatalaksanaan fraktur mahkota gigi dengan pulpa terbuka akibat trauma dengan perawatan endorestorasi untuk mengembalikan bentuk dan fungsi gigi. Kasus: Penderita pria umur 22 tahun dengan fraktur mahkota horizontal pada gigi anterior. Penderita tersebut menginginkan perawatan estetik untuk mengembalikan bentuk dan fungsi giginya. Tatalaksana kasus: Fraktur akar horisontal gigi anterior dengan pulpa terbuka oleh karena trauma gigi dapat direstorasi dengan perawatan endorestorasi. Perawatan endodontic dengan pasak dan inti dimasukkan ke dalam saluran akar dapat meningkatkan retensi. Kemudian mahkota porselen dapat mengembalikan bentuk dan fungsinya, karena itu dapat meningkatkan percaya diri pasien dan fungsi giginya. Kesimpulan: Perawatan endorestorasi pada gigi anterior dengan fraktur mahkota harizontal dan pulpa terbuka dapat mengembalikan fungsi estetik dan percaya diri pasien.
Treatment of lingual traumatic ulcer accompanied with fungal infections Sella, Sella; Rizal, Mochamad Fahlevi
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p132-136

Abstract

Background: Traumatic ulcer is a common form of ulceration occured in oral cavity caused by mechanical trauma, either acute or chronic, resulting in loss of the entire epithelium. Traumatic ulcer often occurs in children that are usually found on buccal mucosa, labial mucosa of upper and lower lip, lateral tongue, and a variety of areas that may be bitten. To properly diagnose the ulcer, dentists should evaluate the history and clinical description in detail. If the lesion is allegedly accompanied by other infections, such as fungal, bacterial or viral infections, microbiological or serological tests will be required. One of the initial therapy given for fungal infection is nystatin which aimed to support the recovery and repair processes of epithelial tissue in traumatic ulcer case. Purpose: This case report is aimed to emphasize the importance of microbiological examination in suspected cases of ulcer accompanied with traumatic fungal infection. Case: A 12-year-old girl came to the clinic of Pediatric Dentistry, Faculty of Dentistry, University of Indonesia on June 9, 2011 accompanied with her mother. The patient who had a history of geographic tongue came with complaints of injury found in the middle of the tongue. The main diagnosis was ulcer accompanied with traumatic fungal infection based on the results of swab examination. Case management: This traumatic ulcer case was treated with Dental Health Education, oral prophylaxis, as well as prescribing and usage instructions of nystatin. The recovery and repair processes of mucosal epithelium of the tongue then occured after the use of nystatin. Conclusion: It can be concluded that microbiological examination is important to diagnose suspected cases of ulcer accompanied with traumatic fungal infection. The appropriate treatment such as nystatin can be given for traumatic fungal infection.Latar belakang: Ulkus traumatic merupakan bentuk umum dari ulserasi rongga mulut yang terjadi akibat trauma mekanis baik akut maupun kronis yang mengakibatkan hilangnya seluruh epitel. Ulkus traumatic sering terjadi pada anak-anak, biasanya ditemukan pada mukosa bukal, mukosa labial bibir atas dan bawah, lateral lidah, dan berbagai daerah yang mungkin dapat tergigit. Untuk mendiagnosis ulkus dengan tepat, dokter gigi harus mengevaluasi riwayat dan gambaran klinis secara detil dan jika lesi tersebut diduga disertai infeksi lainnya seperti fungal, bakteri atau virus maka diperlukan tes mikrobiologi atau serologi. Salah satu terapi awal jika diketahui adanya keterlibatan fungal dapat digunakan nystatin untuk mendukung pemulihan dan perbaikan jaringan epitel pada ulkus traumatic tersebut. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menekankan pentingnya pemeriksaan mikrobiologi pada kasus ulkus traumatic yang diduga disertai infeksi fungal. Kasus: Seorang anak perempuan usia 12 tahun datang ke klinik Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pada tanggal 9 Juni 2011 diantar ibunya. Pasien dengan riwayat geographic tongue datang dengan keluhan terdapat luka di bagian tengah lidah. Diagnosis utama adalah ulkus traumatic yang disertai infeksi fungal. Penegakan diagnosis ditetapkan dari hasil pemeriksaan swab. Tatalaksana kasus: Kasus ulcus traumatic ini diatasi dengan Dental Health Education, oral profilaksis, pemberian resep dan instruksi pemakaian nystatin. Terjadi pemulihan dan perbaikan epitel mukosa lidah setelah penggunaan nystatin. Kesimpulan: Pemeriksaan mikrobiologi penting dilakukan untuk menegakkan diagnosa ulkus traumatic yang diduga disertai infeksi fungal. Pengobatan yang tepat seperti pemberian nystatin dapat diberikan pada kasus ulkus traumatic yang disertai infeksi fungal.
Sensitivity difference of Streptococcus viridans on 35% Piper betle linn extract and 10% povidone iodine towards recurrent apthous stomatitis Apriasari, Maharani Laillyza; Soebadi, Bagus; Hendarti, Hening Tuti
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i3.p159-163

Abstract

Background: Oral ulceration often becomes the main reason for the patients to see a dentist. Therapy of the oral ulceration is by giving the palliative therapy with topical antiseptic. Nowadays, there are many researches concerning with the traditional medicines as alternative therapy. One of them is Piper betle linn which contains the antiseptic agent. Purpose: This research is aimed to observe the sensitivity difference of Streptococcus viridans on 35% Piper betle linn extract and 10%povidone iodine. Methods: This laboratory research was conducted by the post test only design with random complete design. The research sampel is Streptococcus viridans culture that was scrapped from the ulcer of the recurrent aphthous stomatitis patient, then it was replicated by using the Federer theory. Results: Inhibitory zone of 35% Piper betle linn extract is bigger than 10% povidone iodine. Conclusion: Streptococcus viridans are more sensitive to 35% Piper bittle linn extract than 10% povidone iodine. 35% Piper betle linn extract has more antibacterial effect than 10% povidone iodine.Latar belakang: Ulserasi rongga mulut seringkali menjadi alasan utama bagi pasien untuk memeriksakan diri ke dokter gigi. Terapi ulserasi rongga mulut adalah pemberian terapi paliatif kepada penderita, seperti: pemberian obat topikal yang mengandung antiseptik. Saat ini banyak penelitian dalam pengembangan obat tradisional yang dapat dijadikan sebagai obat alternatif. Salah satu diantaranya adalah daun sirih yang mengandung zat antiseptik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan sensitivitas Streptococcus viridans terhadap ekstrak daun sirih 35% jika dibandingkan dengan povidone iodine 10%. Metode: Penelitian laboratoris yang dilakukan dengan post test only design dengan rancangan acak lengkap. Sampel penelitian adalah kultur Streptococcus viridans yang diambil melalui swab dari hapusan ulser pada pasien yang menderita stomatitis aftosa rekuren, kemudian dilakukan replikasi dengan rumus Federer. Hasil: Zona hambat ekstrak daun sirih 35% lebih besar daripada zona hambat povidone iodine 10%. Kesimpulan: Streptococcus viridans lebih sensitif terhadap ekstrak daun sirih 35%. Ekstrak daun sirih 35% memiliki efek daya antibakteri yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan povidone iodine 10%.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2019): (June 2019): Article in Press Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Article in press Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 3 (2018): (September 2018) Vol 51, No 2 (2018): (June 2018) Vol 51, No 1 (2018): (March 2018) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017) Vol 50, No 3 (2017): (September 2017) Vol 50, No 2 (2017): (June 2017) Vol 50, No 1 (2017): (March 2017) Vol 49, No 4 (2016): (December 2016) Vol 49, No 3 (2016): (September 2016) Vol 49, No 2 (2016): (June 2016) Vol 49, No 1 (2016): (March 2016) Vol 48, No 4 (2015): (December 2015) Vol 48, No 3 (2015): (September 2015) Vol 48, No 2 (2015): (June 2015) Vol 48, No 1 (2015): (March 2015) Vol 47, No 4 (2014): (December 2014) Vol 47, No 3 (2014): (September 2014) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014) Vol 47, No 1 (2014): (March 2014) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013) Vol 46, No 2 (2013): (June 2013) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013) Vol 45, No 4 (2012): (December 2012) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012) Vol 45, No 2 (2012): (June 2012) Vol 45, No 1 (2012): (March 2012) Vol 44, No 4 (2011): (December 2011) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011) Vol 43, No 4 (2010): (December 2010) Vol 43, No 3 (2010): (September 2010) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010) Vol 42, No 4 (2009): (December 2009) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009) Vol 42, No 2 (2009): (June 2009) Vol 42, No 1 (2009): (March 2009) Vol 41, No 4 (2008): (December 2008) Vol 41, No 3 (2008): (September 2008) Vol 41, No 2 (2008): (June 2008) Vol 41, No 1 (2008): (March 2008) Vol 40, No 4 (2007): (December 2007) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007) Vol 40, No 2 (2007): (June 2007) Vol 40, No 1 (2007): (March 2007) Vol 39, No 4 (2006): (December 2006) Vol 39, No 3 (2006): (September 2006) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006) Vol 39, No 1 (2006): (March 2006) Vol 38, No 4 (2005): (December 2005) Vol 38, No 3 (2005): (September 2005) Vol 38, No 2 (2005): (June 2005) Vol 38, No 1 (2005): (March 2005) More Issue