cover
Contact Name
Saka Winias
Contact Email
saka.winias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dental_journal@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19783728     EISSN : 24429740     DOI : -
Core Subject : Health,
The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) (e-ISSN:2442-9740; p-ISSN:1978-3728) is published by the Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga. Its diciplinary focus is dental science and dental hygiene. The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) is published in English on a quarterly basis with each 50-60 page edition containing between nine and eleven scientific articles on research, study literature and case studies. Contributors to the Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) included: dental researchers, dental practitioners, lecturers, and students drawn from Indonesia and a wide range of other countries.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)" : 11 Documents clear
Saliva as a future potential predictor for various periodontal diseases Hamzah, Zahreni
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p77-81

Abstract

Background: There are many diagnostic biomarkers have been found in saliva. Saliva contains a wide variety of proteins, including bacteria and products, enzymes, inflammatory mediators and host response modifiers, products of tissue breakdown. Purpose: The purpose of the study was studied current development of diagnostic biomarkers in saliva that will lead to the development of simple and accurate diagnostic tools for periodental disease. Reviews: Specifically, the salivary biomarkers divided for three aspects of periodontitis i.e. inflammation, collagen degradation and bone turnover, correlated with clinical features of periodontal disease. The diagnostic biomarkers is in saliva, such as enzyme, immunoglobulin, cytokines, bacteria and bacterial products, hormones. For the past two decades, oral health researchers have been developing salivary diagnostic tools to monitor oral diseases. Conclusion: The indicators of acute periodontitis can detect with ß-glucuronidase and AST, IL-1β, and MMP-8, whereas indicators for chronic periodontitis can detect with ALP. The indicators for collagen degradation and bone turnover suggest ICTP, fibronectin fragments, and osteonectin. The indicators of severity of periodontitis especially can be predict by B. forsythus.Latar belakang: Banyak biomarker telah ditemukan dalam saliva. Saliva terdiri dari berbagai protein unik meliputi bakteri dan produk bakteri, enzim, mediator inflamasi dan modifikasi respon host (immunoglobulin, sitokin), produk kerusakan jaringan (telopeptida kolagen, osteokalsin, proteoglikan, fragmen fibronectin). Tujuan: Mengkaji biomarker dalam saliva untuk pengembangan metode diagnostik sederhana dan akurat untuk penyakit periodontal. Tinjauan Pustaka: Secara khusus, biomarker saliva pada periodontitis dibagi dalam tiga aspek yaitu inflamasi, dan degradasi kolagen serta pergantian tulang. Biomarker diagnostik dalam saliva, meliputi enzim, imunoglobulin, sitokin, bakteri dan produk-produk bakteri, hormon. Selama dua dekade terakhir, para peneliti kesehatan mulut telah mengembangkan alat diagnostik melalui saliva yang tepat untuk memonitor beberapa penyakit periodontal. Kesimpulan: Indikator periodontitis akut dapat dideteksi dengan β-glucuronidase dan AST, IL-1β,dan MMP-8, whereas indikator untuk periodontitis kronis dapat dideteksi dengan ALP. Indikator untuk degradasi kolagen dan penggantian tulang dideteksi melalui ICTP, fibronectin fragments, dan osteonectin. Sedang indikator untuk keparahan periodontitis terutama dapat diprediksi melalui B. forsythus.
Effect of soybean extract after tooth extraction on osteoblast numbers Suhono, Rosa Sharon; Pramono, Coen; Asmara, Djodi
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p111-116

Abstract

Background: Many researches were done to find natural materials that may increase and promote bone healing processes after trauma and surgery. One of natural material that had been studied was soybean extract which contains phytoestrogen, a non-steroidal compounds found in plants that may binds to estrogen receptors and have estrogen-like activity. Purpose: The aim of this study was to investigate the effect of soybean extract feeding on the number of osteoblast cells in alveolar bone socket after mandibular tooth extraction. Methods: This study was studied on male Rattus norvegicus strain Wistar. Seventeen rats divided into three groups were used in this study. Group 1 fed with carboxy methyl cellulose (CMC) solution 0,2% for seven days, and the left mandibular central incisivus was extracted; group 2 fed with soybean extract for seven days and the left mandibular central incisives was extracted; group 3 received the left mandibular central incisives extraction followed by soybean extract feeding for seven days after the extraction. All groups were sacrificed on the seventh day post-extraction, and the alveolar bone sockets were taken for histopathological observation. The tissues were processed and stained using hematoxylin and eosin to identify the amount of osteoblast cells. The number of osteoblast cells was counted using an Image Tool program. The data was analyzed statistically using the One-Way ANOVA test. Results: Significant differences were found on the number of osteoblast cells in alveolar bone after tooth extraction between groups. Group 2 (fed with soybean extract) is higher than group 1 (fed with CMC) and group 3 (fed with soybean extract after extraction). Conclusion: Soybean extract feeding that given for seven days pre-tooth extraction can increase the number of osteoblast cells compared with the group that were not given soybean extract feeding and also with the group that were given soybean extract feeding for seven days post-tooth extraction.Latar belakang: Pada masa sekarang, banyak dilakukan penelitian-penelitian untuk menemukan bahan-bahan alami yang dapat mendukung dan meningkatkan proses remodeling tulang untuk mengembangkan perawatan penyakit osteoporosis dan juga untuk mengembangkan penyembuhan tulang pasca trauma dan pasca pembedahan. Salah satu bahan alami yang banyak diteliti adalah ekstrak kedelai yang mengandung fitoestrogen, suatu senyawa non-steroid yang terdapat dalam tumbuhan, yang dapat berikatan dengan reseptor estrogen dan memiliki bioaktivitas yang sejenis dengan hormon estrogen. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti pengaruh ekstrak kedelai yang mengandung fitoestrogen terhadap jumlah sel osteoblas pada tulang alveolar pasca pencabutan gigi. Metode: Penelitian ini dilakukan pada tikus wistar jantan. Tujuh belas ekor tikus dibagi menjadi tiga kelompok sampel dalam penelitian ini. Kelompok sampel tersebut mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda. Kelompok 1 dilakukan feeding larutan CMC 0,2% selama tujuh hari, kemudian dilakukan pencabutan satu gigi insisivus sentral kiri rahang bawah, kelompok 2 dilakukan feeding ekstrak kedelai selama tujuh hari, kemudian dilakukan pencabutan satu gigi insisivus sentral kiri rahang bawah, kelompok 3 kelompok yang dilakukan pencabutan satu gigi insisivus sentral kiri rahang bawah, kemudian diberikan feeding ekstrak kedelai selama tujuh hari pasca pencabutan gigi. Semua kelompok dikorbankan pada hari ketujuh pasca pencabutan gigi, dan soket bekas pencabutan gigi tersebut diambil untuk dibuat sediaan histopatologis. Jaringan tersebut diproses dan dilakukan pengecatan dengan hematoxylin and eosin untuk melihat sel osteoblas. Setiap preparat diperiksa di bawah mikroskop cahaya dan sel osteoblas dihitung dengan menggunakan program Image Tool. Data hasil penelitian kemudian dianalisa dengan uji statistik One-Way ANOVA. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah sel osteoblas pada tulang alveolar pasca pencabutan gigi, antara kelompok sampel yang mendapatkan feeding ekstrak kedelai sebelum pencabutan gigi (Kelompok 2) dibandingkan dengan (Kelompok 1) dan (Kelompok 3). Kesimpulan: Pemberian ekstrak kedelai selama tujuh hari sebelum pencabutan gigi dapat meningkatkan jumlah osteoblas.
Relieving idiopathic dental pain without drugs Utomo, Haryono; Rulianto, M.
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p82-87

Abstract

Background: Teeth are commonly obvious source of orofacial pain. Sometimes the pain source is undetectable, thus called as idiopathic dental pain. Since dentist wants to alleviate or eliminate the pains with every effort in their mind, a lot of drugs could be prescribed. Moreover, it is make sense that endodontic treatment or even tooth extraction will be done. Unfortunately, endodontic treatment may also initiate neuropathic tooth pain that is caused by nerve extirpation, thus worsen the pain. Therefore, another cause of dental pain such as referred pain, periodontal disease, or stress which related to psychoneuroimmunology should be considered. In order to prevent from unnecessary drugs or invasive treatment such as root canal treatment and extraction, correct diagnosis and preliminary non-invasive therapies should be done. Purpose: This review elucidates several therapies that could be done by dentists for relieving idiopathic dental pain which includes massage, the “assisted drainage” therapy, modulation of psychoneuroimmunologic status and dietary omega-3. Reviews: Understanding the basic pathogenesis of pain may help in elucidating the effects of non-drug pain therapy such as muscle massage, the “assisted drainage” therapy, omega-3 and psychological stress relieving. These measures are accounted for eliminating referred pain, reducing proinflammatory mediators and relieving unwanted stress reactions consecutively. Psychological stress increases proinflammatory cytokines and thus lowered pain threshold. Conclusion: As an individual treatment, this non-drug therapy is useful in relieving idiopathic dental pain; nevertheless, if they work together the result could be more superior.Latar belakang: Gigi adalah suatu penyebab umum dari nyeri orofasial. Kadang kala penyebab nyeri tidak dapat ditemukan, sehingga disebut sebagai nyeri gigi idiopatik. Karena dokter gigi berupaya untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dengan segala cara maka banyak obat akan diresepkan ke pasien. Bila gagal maka sangat mungkin dilakukan perawatan saraf gigi bahkan pencabutan gigi. Akan tetapi, perawatan endodontik juga dapat menimbulkan nyeri neuropatik yang disebabkan oleh ekstirpasi saraf gigi, sehingga nyeri makin parah. Sebab itu, penyebab lain nyeri gigi seperti nyeri yang dialihkan (referred pain), penyakit periodontal atau stres yang berhubungan dengan psikoneuroimunologi perlu dipertimbangkan.Untuk mencegah kejadian konsumsi obat yang tidak perlu ataupun perawatan endodontik dan pencabutan gigi maka diagnosis yang tepat dan terapi non-invasif harus dilakukan terlebih dahulu. Tujuan: Studi pustaka ini menerangkan beberapa terapi yang dapat dilakukan dokter gigi untuk mengurangi nyeri gigi idiopatik yaitu masase, terapi assisted drainage,modulasi status psikoneuroimunologi dan diet omega-3. Tinjauan Pustaka: Pengetahuan mengenai patogenesa nyeri dapat menerangkan efek terapi nyeri non-medikamentosa seperti masase otot, terapi assisted drainage, diet omega-3 dan mengurangi stres psikologis. Berbagai terapi ini dapat mengurangi nyeri alihan, mediator proinflamasi dan mengurangi stres. Stres psikologis akan mengingkatkan sitokin proinflamasi yang menurunkan ambang nyeri. Kesimpulan: Sebagai terapi individual, terapi non-medikamentosa ini berguna untuk mengurangi nyeri gigi idioaptik, akan tetapi bila bekerja sama dapat lebih baik lagi.
The effectivity of toothpick tooth brushing method on plaque control Prahasanti, Chiquita; Ruhadi, Iwan; Mulyana, Agus Sobar
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p59-62

Abstract

Background: Periodontal diseases are associated with bacteria species which present in biofilms that colonize on dental surfaces. Several tooth brushing methods had been known and proved to be effective in maintaining oral hygiene. Among them, tooth pick technique was a relatively new method and its superiority in removing interproximal plaque was better than other methods. Purpose: The purpose of this study was to examine the effectivity of toothpick tooth brushing method to conventional method on periodontal health. Methods: This research was designed as an analytical observational study. Thirty samples selected from five hundred and twelve males Indonesian Air-force members in Malang, aged 18–40 yrs, with periodontal pockets (≤ 5 mm) in upper or lower teeth, without crowding, gingival index minimal > 1 (moderate gingivitis), OHI-S score minimal ≥ 1.3 (moderate), without systemic diseases, do not undergone medical therapy/drug prescriptions, without using mouth rinse during study, and without prosthesis. There were thirty samples in this research and devided to two groups, fifteen samples easch. The groups were toothpick tooth brusing method and conventional method (control group). In this study oral hygiene index simplified (OHI-S), gingival index (GI), bleeding on probing (BOP) and pocket depth were examined. Results: There were significant differences (p = .001) in OHI-S, GI, BOP, and PD before and after conducting each toothbrushing method, as well as differences between means (quarrel means), that were p = .003; p = .001; p = .001 and p = .001 consecutively. Conclusion: Toothpick brushing method was more effective in plaque control compared to conventional method.Latar belakang: Penyakit periodontal berhubungan dengan bakteri yang berkoloni dalam biofilm yang terdapat di permukaan gigi. Saat ini telah dikenal berbagai macam metode menyikat gigi tetapi masih belum ada penelitian tentang efek metode tersebut terhadap OHI-S. Penelitian in ingin menunjukkan efek menyikat gigi dengan metode toothpick terhadap kesehatan jaringan periodontal. Tujuan: Tujuan dan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas metode toothpick dibandingkan metode konvensional dalam kontrol plak. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik observasional. Sampel sejumlah tiga puluh orang diseleksi dari 512 anggota TNI Angkatan Udara Skadron Pasukan Khas 464 Wing II Lanud Abdulrahman Saleh Malang, usia 18–40 tahun, dengan kedalaman poket periodontal (≤ 5 mm) pada gigi rahang atas/bawah dengan, susunan gigi yang tidak berdesakan, memiliki skor gingival indeks minimal > 1 (gingivitis sedang), memiliki skor OHI-S minimal ≥ 1,3 (sedang), tanpa ada kelainan sistemik, tidak dalam perawatan dokter/mengkonsumsi obat-obatan, tidak menggunakan obat kumur selama penelitian, tidak menggunakan protesa. Sampel dibagi menjadi dua kelompok, lima belas orang menggunakan metode toothpick sedangkan lima belas orang menggunakan metode konvensional sebagai kelompok kontrol. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna (p = .001) pada OHI-S, GI, BOP dan kedalaman poket sebelum dan sesudah menyikat gigi dengan masing-masing metode menyikat gigi yang ditetapkan. Selain itu, terdapat perbedaan bermakna antara selisih rerata sebelum dan sesudah menyikat gigi (p = .003; p = .001; p = .001 and p = .001) antara kedua kelompok tersebut. Kesimpulan: Metode toothpick brushing lebih efektif uuntuk kontrol plak dibanding dengan kelompok kontrol.
Effectivity of 0.15% benzydamine on radiation-induced oral mucositis in nasopharynx carcinoma Prasetyo, Remita Adya
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p88-92

Abstract

Background: Nasopharynx carcinoma is the most common malignant tumour in head and neck region. Radiotherapy is the first choice of treatment for nasopharynx carcinoma that had not been metastases. The most common oral complications in radiotherapy is mucositis (± 80%). 0.15% benzydamine hydrochloride (HCl) oral rinse can be used to prevent radiation-induced oral mucositis. Purpose: The aim of this research was to study the effectivity of 0.15% benzydamine HCl oral rinse for prevention of radiation-induced oral mucositis in nasopharynx carcinoma. Methods: Samples were divided into 2 groups. Group A was using 0.15% benzydamine HCl oral rinse for 10 days. Group B was using placebo oral rinse for 10 days. Evaluation was conducted 3 times: first day, fifth day and tenth day of radiotherapy. The scoring used Spijkervet’s mucositis α score. Results: Independent t test analysis for initial occurrence of oral mucositis showed no significant difference between 2 groups. Paired t test analysis showed significant difference between initial mucositis α score and mucositis α score in tenth day in each group. Independent t test analysis showed no significant difference in mucositis α score in tenth day between 2 groups. Conclusion: In conclusion 0.15% benzydamine HCl oral rinse was not effective to prevent radiation-induced oral mucositis in nasopharynx carcinoma.Latar belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas terbanyak di daerah kepala-leher. Radioterapi merupakan terapi pilihan utama KNF yang belum mempunyai metastasis jauh. Komplikasi akibat radioterapi dalam rongga mulut yang terbanyak adalah mukositis (± 80%). Salah satu obat untuk pencegahan mukositis akibat radioterapi adalah benzydamine hydrochloride (HCl) 0,15%. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari efektivitas penggunaan obat kumur benzydamine HCl 0,15% sebagai pencegah mukositis akibat radioterapi pada karsinoma nasofaring. Metode: Sampel dibagi ke dalam 2 kelompok. Kelompok A yang menggunakan obat kumur benzydamine HCl selama 10 hari. Kelompok B menggunakan obat kumur plasebo selama 10 hari. Evaluasi dilakukan pada tahap awal, hari ke-5 radioterapi dan hari ke-10 radioterapi. Alat ukur adalah skor mukositis α Spijkervet. Hasil: Analisis Independent t-test menunjukkan awal terjadinya mukositis antara kedua kelompok tersebut tidak berbeda bermakna. Hasil uji t berpasangan antara skor mukositis α awal dengan skor mukositis α evaluasi II pada masing-masing kelompok tersebut menunjukkan perbedaan yang bermakna. Berdasarkan uji t, skor mukositis α evaluasi II antara kelompok A dengan B tersebut tidak berbeda bermakna. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa obat kumur benzydamine HCl 0,15% tidak efektif sebagai pencegah mukositis akibat radioterapi pada penderita KNF.
Effects of different saliva pH on hybrid composite resin surface roughness Pribadi, Nirawati; Soetojo, Adioro
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p63-66

Abstract

Background: Currently, hybrid composite resin is the mostly used filling material to restore esthetic and function. During function, this material is in contact with various pH from food consumption, which is acidic and alkali which may effect the physical properties of composite resin, including surface roughness. Purpose: The research was conducted to determine the effect of pH in saliva on surface roughness of hybrid composite resin. Methods: This research used artificial saliva and composite resin samples divided into 3 groups based on different pH of immersion (pH 4, pH 7 and pH 10) for 30 days. Results: There were significant differences (p > 0.05) among those three treatment groups of hybrid composites soaked in artificial saliva with different pH for 30 days. And, with LSD test it is also known that there were significant differences between the artificial saliva with pH 4 and pH 7, whereas there was no significant difference between pH 4 and pH 10 and between pH 7 and pH 10. Conclusion: It can concluded that the changes of salivary pH affect the surface roughness of the hybrid composite resin. Acidic pH has increase the surface roughness of hybrid composite resin, whereas alkaline pH has no effects on the surface roughness of hybrid composite resin.Latar belakang: Saat ini tumpatan komposit merupakan bahan tumpatan yang paling sering digunakan untuk memperbaiki estetik dan fungsi. Dalam rongga mulut, bahan ini kontak dengan berbagai macam pH dari konsumsi makanan, baik asam maupun basa yang dapat mempengaruhi perubahan sifat fisik resin komposit, diantaranya yaitu kekasaran permukaan. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang efek pH saliva terhadap kekasaran permukaan tumpatan resin komposit hybrid. Metode: Penelitian ini menggunakan saliva buatan yang dibagi dalam 3 kelompok sampel yaitu masing-masing dengan perendaman pH yang berbeda (pH 4, pH 7 dan pH 10)selama 30 hari. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna (p > 0,05) antara kelompok perlakuan komposit hybrid yang telah direndam saliva buatan dengan berbagai pH selama 30 hari. Uji LSD menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara perendaman pada saliva buatan antara pH4 dengan pH 7, sedangkan perbedaan yang tidak signifikan antara pH4 dengan pH 10 dan pH 7 dengan pH 10. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa perubahan pH saliva berpengaruh terhadap kekasaran permukaan resin komposit hybrid, pH asam meningkatkan kekasaran permukaan resin komposit hybrid, sedangkan pH basa tidak berpengaruh terhadap kekasaran permukaan resin komposit hybrid.
Constraints on the performance of school-based dental program in Yogyakarta, Indonesia: A qualitative study Amalia, Rosa; Widyanti, Niken; Groothoff, Johan W.; Schaub, Rob M.H.
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p93-100

Abstract

Background: A high prevalence of caries at ages ≥ 12 in Yogyakarta province (DMFT = 6.5), raises the question of the effectiveness of the school-based dental program (SBDP) which, as a national oral health program in schools, is organized by community health centers (CHCs). Purpose: The aim of this study is to explore the possible constraints on work processes which might affect the performance of SBDPs in controlling caries. Methods: In-depth interviews was conducted in twelve CHCs, covering all five districts both in urban and rural areas. Subjects were 41 dentists and dental nurses working in these CHCs. The interviews were structured according to the following themes: resources and logistics; program planning; target achievement; monitoring and evaluation; and suggestions for possible improvements. The data were analyzed using content analysis. Results: The main constraints identified were limited resources and inflexible regulations for resource allocation in the CHC, and inadequate program planning and program evaluation. Inadequate participation of parents was also identified. Another constraint is thatpolicy at the district level orientates oral health towards curative intervention rather than prevention. Suggestions from interviewees include encouraging a policy for oral health, task delegation, a funding program using school health insurance, and a reorientation towards prevention. Conclusion: The weakness of management processes and the unsupported policy of the SBDP at the local level result in a lack of effectiveness. The constraints identified and suggestions for improvements could constitute a basis for improving program quality.Latar Belakang: Tingginya prevalensi karies pada usia ≥ 12 tahun (DMFT = 6.5) di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menimbulkan pertanyaan akan efektifitas Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). UKGS adalah salah satu program nasional di bidang kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan oleh Puskesmas. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi hambatan pada pelaksanaan UKGS yang dapat mempengaruhi kinerja dari UKGS untuk mengontrol karies. Metode: Penelitian kualitatif dengan menggunakan in-depth interview dilakukan di 12 Puskesmas, meliputi lima kabupaten di DIY baik di daerah pedesaan maupun perkotaan. Subyek terdiri dari 41 dokter gigi dan perawat gigi di Puskesmas. Struktur tema dari wawancara adalah sumber daya dan logistik; perencanaan program; pencapaian target; monitoring dan evaluasi; saran untuk perbaikan program. Data dianalisis menggunakan analisis konten. Hasil: Hambatan pada program UKGS yang teridentifikasi adalah sumber daya yang terbatas dan regulasi yang tidak fleksibel untuk alokasi sember daya di Puskesmas, perencanaan dan evaluasi program yang tidak memadai dan rendahnya peran serta orang tua. Hambatan lain adalah kebijakan pada tingkat kabupaten yang berorientasi pada pelayanan kuratif daripada preventif. Saran yang dikemukakan adalah penguatan kebijakan untuk kesehatan gigi, delegasi tugas, asuransi kesehatan sekolah dan reorientasi pelayanan preventif. Kesimpulan: Proses manajemen yang lemah dan kurangnya dukungan kebijakan untuk UKGS pada tingkat daerah menjadi salah satu sebab kurang efektifnya program. Hambatan dan saran yang teridentifikasi pada studi ini dapat menjadi dasar untuk meningkatkan mutu program.
Endothelial cell cultured on HA/TCP/chitosan scaffold for bone tissue engineering EW, Bachtiar; LR, Amir; B, Abbas; S, Utami
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p67-71

Abstract

Background: Angiogenesis is crucial for the success of bone reconstruction through tissue engineering. Currently, is still not known the activity of endothelial cells that is responsible for blood vessel formation, cultured in HA/TCP/chitosan scaffold. The ability of the scaffold to facilitate the proliferation and migration of endothelial cell to form blood vessel is essential for cell survival especially in the inner area of the scaffold that is susceptible for cell death if adequate vascularization is not occurred. Purpose: The purpose of this study was to evaluate the porosity of HA/TCP/chitosan scaffold and the biocompatibility of HA/TCP/chitosan scaffold to endothelial cells. Methods: Endothelial cells were isolated from umbilical vein (human umbilical vein endothelial cells/ HUVEC). HA/ TCP/chitosan scaffold was made from two gelling agents and various basic washing solutions. The characteristic of scaffold was examined by scanning electron microscopy. The activity of HUVEC was evaluated by MTT assay. Results: Initial average scaffold porosity size range from 68 μm and increased up to 134 μm after 7 days incubation with 10 mg/L lysozyme. There was no significant difference in the viability of HUVEC incubated with the scaffold compared to control. Conclusion: HA/TCP/chitosan has a good biocompatibility for HUVEC. This condition supports the activity of HUVEC in the scaffold for angiogenesis process, to provide oxygen and nutrient necessary for osteoblast.Latar belakang: Angiogenesis merupakan proses yang penting untuk keberhasilan rekonstruksi tulang melalui rekayasa jaringan. Saat ini, aktifitas sel endotel pembentuk dinding pembuluh darah pada HA/TCP/chitosan scaffold belum diketahui. Kemampuan scaffold sebagai tempat proliferasi dan migrasi sel endotel untuk membentuk pembuluh darah penting untuk kelangsungan hidup sel osteoblast terutama di bagian dalam scaffold. Tujuan: Mengevaluasi porositas HA/TCP/chitosan scaffold serta sifat biokompatibilitas scaffold terhadap sel endotel. Metode: Sel endotel diisolasi dari vena tali pusat (human umbilical vein endothelial cells/HUVEC). HA/TCP/ chitosan scaffold dibuat dengan variasi gelling agents dan dicuci dengan berbagai larutan basa. Karakter scaffold dievaluasi dengan scanning electron microscope. Aktifitas HUVEC dievaluasi dengan MTT assay. Hasil: Pada tahap awal, rata-rata ukuran porus 68 μm dan meningkat menjadi 134 μm setelah inkubasi dengan 10 mg/mL lysosyme selama 7 hari. Kultur HUVEC pada scaffold selama 24 jam tidak menunjukkan tingkat viabilitas yang berbeda dibandingkan dengan kontrol. Kesimpulan: HA/TCP/chitosan memiliki sifat biokompatibilitas yang baik terhadap sel HUVEC. Kondisi ini memberikan dukungan terhadap aktifitas sel HUVEC pada scaffold untuk proses angiogenesis yang akan memberikan oksigen dan nutrisi untuk osteoblas.
Orthodontic treatment with skeletal anchorage system Brahmanta, Arya; Sjamsudin, Jusuf
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p101-105

Abstract

Background: Correction of class I malocclusion with bimaxillary dental protrusion and unilateral free end right upper ridge in adult patient is one of difficult biomechanical case in orthodontics. Due to this case that needs proper anchorage for upper incisor retraction with missing teeth in the right posterior segment. Purpose: The aim of this study to find an effective therapy for correction of bimaxillary protrusion with unilateral free and ridge. Case: A female patient, 36 year old complaining for the difficulty of lip closure due to severe bimaxillary protrusion with incompetence lip. Case management: Firstly correction of the maxillary and mandibular incisor proclination were done by extraction of the mandibular first premolar, the maxillary second premolar on left side and finally placement of miniplates implant in the zygomatic process on right side as an absolut anchorage. Conclusion: Skeletal anchorage system (SAS) can be considered as an effective therapy for corection of bimaxillary protrusion with unilateral free end ridge.Latar belakang: Koreksi dari maloklusi klas I dari penderita dewasa yang disertai protrusi bimaksiler dengan kehilangan gigi posterior pada regio kanan atas merupakan salah satu kasus sulit untuk dikerjakan terutama berhubungan dengan biomekanik pergerakan giginya dalam perawatan ortodonti. Tujuan: Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menemukan terapi yang efektif untuk perbaikan protrusi bimaksiler dan kehilangan gigi posterior pada satu sisi. Kasus: Seorang penderita wanita usia 35 tahun datang dengan keluhan utama kesulitan untuk menutup mulut oleh karena gigi rahang atas dan rahang bawahnya maju dan bibirnya tidak kompeten. Tatalaksana kasus: Koreksi pada gigi insisivus rahang atas dan insisivus rahang bawah yang protrusi dilakukan dengan melakukan pencabutan terlebih dahulu pada gigi premolar pertama dirahang bawah sisi kanan dan sisi kiri serta pencabutan pada gigi premolar kedua di rahang atas sisi kiri dan pemasangan miniplate implant di regio prosesus zigomatikus di sisi kanan sebagai penjangkar absolut. Kesimpulan: Sistem penjangkar absolut pada perawatan ortodonti merupakan pilihan terapi perawatan yang efektif pada kasus penderita dewasa dengan protrusi bimaksiler dan kehilangan gigi posterior pada regio kanan atas.
Elderly nutritional status effection salivary anticandidal capacity against Candida albicans Puspitawati, Ria; Soedarsono, Nurtami; Putri, Elisabeth A; Putri, Anissha D; Bachtiar, Boy M
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i2.p72-76

Abstract

Background: Elderly often suffer malnutrition and oral candidiasis. Candida albicans (C. albicans) which is the most prominent cause of oral candidiasis, is one of commensal oral micro-flora. Nutritional status affect the characteristic of saliva. Saliva is the regulator in the development of C. albicans from comensal into pathogen. Purpose: The purpose of this study was to determining the correlation between elderly nutritional status with salivary total protein and its activity in inhibiting C. albicans growth and biofilm formation. Methods: Using mini nutritional assessment 30 elderly were classified into normal and malnutrition groups. Total protein of unstimulated saliva was measured using Bradford protein assay. The colony forming unit (CFU) of C. albicans was counted on 72 hours on SDA cultures without (control) or with 2 hour saliva exposure. Biofilm formation was analyzed from the optical density of 10–5 C. albicans suspension without saliva exposure (control) or with exposure of 10.000 μg/ml saliva and incubated in 37° C for 2 days. The suspension was put into 96 well plates, stained with crystal-violet dye, and analyzed using microplate reader. Differences between groups were analyzed using independent t-test or Kruskall-Wallis. Correlation between variables was analyzed using Spearman test. Results: Salivary total protein of normal elderly (1.113.5 ± 1.1143.3) was higher than those of malnutrition (613.6 ± 253.6) but not statistically significant (p > 0.05). The CFU of C. albicans exposed to saliva of normal samples (2.060 cfu/ml) was significantly lower than control (24.100 cfu/ml) and those exposed to malnutrition saliva (5.513.3 cfu/ml). C. albicans biofilm formation is highest in controls (0.177), lower in those exposed to malnourished saliva (0.151) and lowest in those exposed to saliva of good nourished elderly (0.133). Conclusion: Although does not cause significant decrease of salivary total protein, malnutrition in elderly results in lower capacity of saliva in inhibiting the growth and declining the virulence of C. albicans.Latar belakang: Lansia sering menderita malnutrisi dan kandidiasis oral. Candida albicans yang merupakan penyebab utama terjadinya candidiasis, adalah salah satu mikroflora rongga mulut yang bersifat konvensional. Malnutrisi memengaruhi karakteristik saliva. Saliva merupakan regulator utama perkembangan Candida albicans (C. albicans) dari sifat konvensional menjadi bersifat patogen.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan korelasi antara status gizi lansia dengan total protein dan aktivitas saliva dalam menghambat pertumbuhan dan pembentukan biofilm C. albicans. Metode: Menggunakan mini nutritional assessment, 30 lansia diklasifikasikan menjadi kelompok gizi baik dan gizi buruk. Total protein unstimulated saliva diukur dengan metode Bradford protein assay. Colony forming unit (CFU) dihitung pada kultur C. albicans pada saburaud dextrose agar (SDA) berusia 72 jam yang sebelumnya telah dipaparkan saliva selama 2 jam. Kontrol adalah kultur C. albicans tanpa paparan saliva. Pembentukan biofilm adalah pengukuran optical density suspensi 10–5 C. albicans tanpa paparan saliva (kontrol) atau dengan paparan saliva 10.000 μg/ml dan diinkubasi pada suhu 37° C selama 2 hari. Suspensi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam 96 well plates, diberi pewarna crystal violet, dan diukur menggunakan microplate reader. Analisis data menggunakan uji beda t Independen atau Kruskall-Wallis, dan uji korelasi Spearman. Hasil: Total protein saliva lansia gizi baik (1.113,5 ± 1.1143,3) lebih tinggi dari lansia gizi buruk (613,6 ± 253,6) tetapi tidak bermakna secara statistik (p > 0,05). Pembentukan koloni C. albicans yang terpapar saliva lansia gizi baik (2.060 cfu/ml) secara signifikan lebih rendah dari kontrol (24.100 cfu/ml) dan daripada yang terpapar saliva lansia gizi buruk (5.513,3 cfu/ml). Pembentukan biofilm C. albicans tetinggi pada kontrol (0,177), lebih rendah pada yang terpapar saliva gizi buruk (0,151) dan terrendah pada yang terpapar saliva gizi baik (0,133). Kesimpulan: Meskipun malnutrisi tidak menyebabkan penurunan total protein saliva lansia, tetapi menurunkan kapasitasnya dalam menghambat pertumbuhan dan mengurangi virulensi C. albicans.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2019): (June 2019): Article in Press Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Article in press Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 3 (2018): (September 2018) Vol 51, No 2 (2018): (June 2018) Vol 51, No 1 (2018): (March 2018) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017) Vol 50, No 3 (2017): (September 2017) Vol 50, No 2 (2017): (June 2017) Vol 50, No 1 (2017): (March 2017) Vol 49, No 4 (2016): (December 2016) Vol 49, No 3 (2016): (September 2016) Vol 49, No 2 (2016): (June 2016) Vol 49, No 1 (2016): (March 2016) Vol 48, No 4 (2015): (December 2015) Vol 48, No 3 (2015): (September 2015) Vol 48, No 2 (2015): (June 2015) Vol 48, No 1 (2015): (March 2015) Vol 47, No 4 (2014): (December 2014) Vol 47, No 3 (2014): (September 2014) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014) Vol 47, No 1 (2014): (March 2014) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013) Vol 46, No 2 (2013): (June 2013) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013) Vol 45, No 4 (2012): (December 2012) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012) Vol 45, No 2 (2012): (June 2012) Vol 45, No 1 (2012): (March 2012) Vol 44, No 4 (2011): (December 2011) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011) Vol 43, No 4 (2010): (December 2010) Vol 43, No 3 (2010): (September 2010) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010) Vol 42, No 4 (2009): (December 2009) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009) Vol 42, No 2 (2009): (June 2009) Vol 42, No 1 (2009): (March 2009) Vol 41, No 4 (2008): (December 2008) Vol 41, No 3 (2008): (September 2008) Vol 41, No 2 (2008): (June 2008) Vol 41, No 1 (2008): (March 2008) Vol 40, No 4 (2007): (December 2007) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007) Vol 40, No 2 (2007): (June 2007) Vol 40, No 1 (2007): (March 2007) Vol 39, No 4 (2006): (December 2006) Vol 39, No 3 (2006): (September 2006) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006) Vol 39, No 1 (2006): (March 2006) Vol 38, No 4 (2005): (December 2005) Vol 38, No 3 (2005): (September 2005) Vol 38, No 2 (2005): (June 2005) Vol 38, No 1 (2005): (March 2005) More Issue