cover
Contact Name
Saka Winias
Contact Email
saka.winias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dental_journal@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19783728     EISSN : 24429740     DOI : -
Core Subject : Health,
The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) (e-ISSN:2442-9740; p-ISSN:1978-3728) is published by the Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga. Its diciplinary focus is dental science and dental hygiene. The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) is published in English on a quarterly basis with each 50-60 page edition containing between nine and eleven scientific articles on research, study literature and case studies. Contributors to the Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) included: dental researchers, dental practitioners, lecturers, and students drawn from Indonesia and a wide range of other countries.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)" : 11 Documents clear
TNF- α expression on rats after Candida albicans inoculation and neem (Azadirachta indica) extract feeding Dewanti, I Dewa Ayu Ratna
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p49-53

Abstract

Background: Neem is a known traditional medicine from trees which function as immunomodulator. Candidiasis found in mouth is 80% caused by Candida albicans (C. albicans). Immunity is important to limit C. albicans since medicine price is relatively traditional medicine may become a good choice. In the other side the medicine price may not be reached by the citizen, cause citizen choose the traditional medicine. Purpose: The research is aimed to explain of TNF-α expression on rats after inoculated by C. albicans and fed with neem extract (Azadirachta Indica). Methods: There were 5 groups, the first group which was called as control group (KO) hadn’t been fed aqueous extract from neem leaves and was not inoculated by C. albicans, the other group (treatment) was classified into 4 groups. The first group was inoculated by C. albicans only (KP1), second group was fed with 50 mg/day/kg body weight aqueous extracts from Neem leaves, then inoculated with C. albicans starting from day 8 until day 21 (KP2), third group was fed with 100 mg/day/kg body weight aqueous extract from Neem leaves, then inoculated with C. albicans start from day 8 until day 21 (KP3), fourth group was fed with 200 mg/day/kg body weight aqueous extract from Neem leaves, then inoculated by C. albicans start from day 8 until day 21 (KP4). The data was collected from by swabbing the rat’s tongue to calculate C. albicans colonies. The rats were acclimated and collected for immunohistochemistry measurement. Results: The study showed that there were different result on ANOVA, HSD test, and linier regression. ANOVA showed significant difference (p < 0.01) between groups. The HSD test showed significant difference (p < 0.05) between each groups. TNF-α was the stimuli sensor from environment, and used as parameter to see the effect from the change of innate immunity component to C. albicans. Conclusion: Aqueous extract from neem leaves increased the macrophage TNF-α expression on in rat in oculated with C. albicans. Latar belakang: Mimba merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang telah dikenal masyarakat dan berfungsi sebagai imunomodulator. Penyakit infeksi yang paling banyak dijumpai di rongga mulut (80%) adalah kandidiasis dengan penyebab utama Candida albicans (C. albicans). Di mana peran imunitas sangat penting pada C. albicans. Di sisi lain harga obat yang semakin mahal semakin tidak terjangkau masyarakat, menyebabkan masyarakat memilih obat tradisional. Tujuan: Riset ini untuk menjelaskan tentang ekspresi TNF-α makrofag pada tikus wistar yang diinokulasi C. albicans dan diberi konsumsi ekstrak cair daun mimba. Metode: Penelitian ini terbagi menjadi 5 kelompok, kelompok kontrol (KO) tidak diberi perlakuan, kelompok yang diinokulasi C. albicans (KP1), kelompok yang diberi konsumsi 50 mg/hari/kg dan diinokulasi C. albicans mulai dari hari 8 sampai hari 21 (KP2), kelompok yang diberi konsumsi 100 mg/hari/kg dan diinokulasi C. albicans mulai dari hari 8 sampai hari 21 (KP3), kelompok yang diberi konsumsi 200 mg/hari/kg dan diinokulasi C. albicans mulai dari hari 8 sampai hari 21 (KP4). Data dikumpulkan dari swabbing lidah untuk dihitung koloni C. albicans dan jaringan lidah dengan metode immunohistochemistry untuk penghitungan sel makrofag yang mengekspresikan TNF-α. Hasil: Studi menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dari hasil ANOVA, uji HSD, regresi linier. ANOVA menunjukkan perbedaan (p < 0,01) antar kelompok. Uji HSD menunjukkan perbedaan (p < 0,05) antar kelompok. Hal ini dapat dikatakan bahwa TNF-α adalah sensor stimuli dari lingkungan, yang digunakan sebagai parameter untuk melihat pengaruh dari > perubahan dari komponen respons innate terhadap C. albicans. Kesimpulan: Ekstrak cair daun mimba dapa meningkatkan ekspresi makrofag TNF-α dari tikus yang diinokulasi C. albicans.
Acupuncture analgesia: The complementary pain management in dentistry Abdurachman, Abdurachman
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p25-29

Abstract

Background: Pain is the most common reason for medical consultation in the United States. Pain is a major symptom in many medical conditions, and can significantly interfere with a person’s quality of life and general functioning. One of the very unpleasant pain is toothache. Conventional treatments for toothache are improving oral hygiene, prescribing analgesics, anti-inflammatory, and also antibiotics if there are infection even extractions are performed if necessary. Another way to conventional approaches, patients may consider acupuncture method. Acupuncture involves the insertion of needles with the width of a human hair along the precise points throughout the body. This process triggers body’s energy normal flow through extra anatomy pathway called meridian. Purpose: This case report is aimed to emphasize the existence of teeth-organ relationships through communication channels outside the lines of communication that has been known in anatomy. Case: Two patients with toothache complaints in the lower right molars came to an acupuncturist who was a medical practitioner. In these cases pain were relieved by acupuncture analgesia. Case management: Two patients were subjected to acupuncture analgesia with different acupuncture points that were customized to the affected tooth, case 1 with the large intestine-4 (Li-4) which located in the hand and case 2 with bladder-25 (Bl-25) which located in the back of the body. Ninety percent of pain was relieved in 40 seconds. Conclusion: Pain in toothache can be relieved using acupuncture analgesia technique, using meridian as an extra anatomy pathway. Nevertheless, treating the source of pain by dental practitioner is mandatory.Latar belakang: Nyeri adalah alasan paling umum yang menyebabkan orang datang berkonsultasi kepada profesional medis di Amerika Serikat. Nyeri merupakan gejala utama dalam kasus medis, dan dapat mengganggu kualitas hidup dan kegiatan umum seseorang secara signifikan. Salah satu nyeri yang sangat tidak menyenangkan adalah nyeri gigi. Pengobatan selalu diarahkan kepada menjaga kebersihan mulut, memberikan analgesik, mengurangi inflamasi dan menambahkan antibiotik jika ada infeksi bahkan jika perlu dilakukan ekstraksi gigi. Cara lain dari pendekatan konvensional di atas adalah pasien dapat mempertimbangkan metode akupunktur. Akupunktur dilakukan dengan menusukkan jarum seukuran rambut manusia di sepanjang titik yang tepat di seluruh tubuh. Proses ini memicu aliran normal energi tubuh melalui jalur ekstra anatomi disebut meridian. Tujuan: Laporan kasus ini untuk menekankan adanya hubungan gigi-organ melalui jalur komunikasi di luar jalur komunikasi yang telah dikenal dalam anatomi. Kasus: Dua penderita dengan keluhan nyeri gigi geraham kanan bawah dilakukan terapi analgesia akupunktur oleh akupunkturis yang adalah dokter umum. Dalam kasus ini ditunjukkan bahwa rasa nyeri pada gigi dapat dihilangkan menggunakan teknik akupunktur. Tatalaksana kasus: Pasien dengan keluhan nyeri gigi, kasus #1 pada rahang bawah dilakukan terapi akupunktur pada titik Li-4 pada tangan dan kasus #2 pada titik Bl-25 pada pinggang. Pemilihan titik disesuaikan dengan keluhan pasien, menurut teori meridian dalam akupunktur. Nyeri berkurang sampai 90% dalam 40 detik. Kesimpulan: Keluhan nyeri pada gigi dapat dihilangkan menggunakan teknik akupunktur analgesia, menggunakan meridian sebagai jalur komunikasi di luar jalur komunikasi anatomi. Walaupun demikian perawatan kedokteran gigi pada penyebab nyeri yang utama adalah yang paling penting.
Expression of matrix metalloproteinase-8 gene in fixed orthodontic patients Susilowati, Susilowati; Nasir, Mansjur; Mudjari, Imam; Hamid, Thalca
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p54-58

Abstract

Background: Orthodontic treatment with fixed appliance produces structural and biochemical changes and breaking the balance between the synthesis and the breakdown of the collagen in the periodontium. Matrix metalloproteinase-8 (MMP-8) plays an important role in the remodeling of periodontal ligament during orthodontic movement. Purpose: The purpose of this study was to observe the expression of MMP-8 gene in the gingival crevicular fluid (GCF) of fixed orthodontic patients. It is expexted that the result can be used as a reference to decide the proper time for elastomeric chain to be reactivated. Methods: Orthodontic fixed appliances were placed on 8 patients and elastomeric chains exerting 75 grams were attached to produce canine distalization. GCF samples were collected from the distal side of upper canines before force application, 1-, 2-, 3-, and 4 weeks after application consecutively. The samples were analyzed by using RT-PCR. Statistical analyses used were univariate analysis and Mann-WhitneyU test. Results: The expression of MMP-8 in the GCF at t0 was 31.3% but the force application elevated its expression to 65.6% at t1, and then decreased continously at t2, t3, and t4. There was no statistically significant difference of MMP-8 gene expression between t0 and t3. Conclusion: The highest level of MMP-8 gene expression due to orthodontic forces was occured in the first week, but it declined continously in the following weeks. The proper time to reactivate an elastomeric chain was 3 weeks after application.Latar belakang: Perawatan ortodontik dengan peranti cekat menghasilkan perubahan-perubahan stuktural dan biokimiawi pada jaringan periodontal dan mengganggu keseimbangan antara sintesis dan pemecahan kolagen pada periodonsium. Matrix metalloproteinase-8MMP-8 memainkan peran yang penting dalam remodeling ligamentum periodontal selama pergerakan gigi ortodontik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengamati ekspresi gen MMP-8 dalam cairan krevikuler gingiva (GCF) dari pasien ortodontik cekat. Diharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan waktu yang paling tepat untuk mengaktivasi kembali rantai elastomer. Metode: Peranti ortodontik cekat dipasang pada 8 pasien dan rantai elastomer dengan kekuatan 75 gram dipasang untuk menarik gigi kaninus ke distal. Sampel GCF dikumpulkan dari bagian distal gigi kaninus atas berturut-turut sebelum aplikasi gaya, 1-, 2-, 3-, dan 4 minggu setelah aplikasi. Sampel dianalisis dengan menggunakan RT-PCR. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis univariat dan uji Mann-Whitney U. Hasil: Ekspresi gen MMP-8 di dalam GCF pada t0 adalah 31.3%, tetapi pemberian tekanan menaikkan ekspresinya menjadi 65,6% pada t1 dan kemudian menurun secara kontinyu pada t2, t3, dan t4. Tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik antara ekspresi gen MMP-8 pada to dan t3. Kesimpulan: Tingkat ekspresi tertinggi dari gen MMP-8 akibat tekanan ortodontik terjadi pada minggu pertama, tetapi kemudian menurun pada minggu-minggu berikutnya. Waktu yang paling tepat untuk mengaktivasi kembali rantai elastomer adalah 3 minggu setelah aplikasi.
Management of anterior teeth damage caused by complex caries through aesthetic endorestoration Zubaidah, Nanik
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p30-34

Abstract

Background: Dental caries is a microbiological disease that result in localized dissolution and destruction of the calcified tissue. It is multifactorial, therefore prevention must be based on a multifactorial approach. The damage of anterior teeth due to complex caries, for certain person may interfere their performance and decrease their self confidence aesthetically. Restoration of tooth form and function, especially on anterior teeth is highly valuable. Purpose: To present a case of maxillary anterior teeth with complex caries, through endorestoration treatment for recovering its original function and aesthetic. Case: The 21 years old male patient with complex carries on maxillary anterior teeth number 12, 11, 21, 22 and 23. The patient felt bad about his performance and affect his self confidence. The patient visited the clinic to repair his teeth and to get its form and function aesthetically. Case management: The endorestoration treatment was performed for carious teeth through pulpectomy followed by insertion of post retention and porcelain fused to metal crowns. Conclusion: Anterior teeth with severed complex caries can be managed through endorestoration treatment to recover its performance and function aesthetically.Latar belakang: Dental karies adalah penyakit infeksi yang berakibat kerusakan jaringan kalsifikasi dan bersifat multifactorial. Oleh karena itu pencegahan dilakukan dengan pendekatan multifactorial. Kerusakan gigi anterior karena karies kompleks untuk orang-orang tertentu mungkin berdampak pada penampilan dan penurunan kepercayaan diri karena factor estetik. Perbaikan gigi anterior dari berbagai kerusakan baik dalam hal bentuk maupun fungsinya sangat besar nilainya. Tujuan: Untuk menunjukkan kasus gigi anterior rahang atas karena karies kompleks melalui perawatan endorestorasi untuk mengembalikan fungsi gigi asli dan estetik. Kasus: Laki-laki usia 21 tahun dengan karies kompleks pada gigi anterior rahang atas 12, 11, 21, 22, dan 23. Penderita dating ke klinik untuk perawatan tentang giginya dan mengembalikan bentuk maupun fungsi estetiknya. Tatalaksana kasus: Perawatan endorestorasi dilakukan untuk gigi karies melalui pulpektomi, insersi pasak dan mahkota porselen fuse to metal. Kesimpulan: Gigi dengan karies kompleks yang berat dapat diperbaiki melalui perawatan endorestorasi untuk mengembalikan penampilan dan fungsi estetiknya.
Posterior transverse interarch discrepancy on HbE β thalassemia patients Zen, Yuniar; Sjahruddin, Loes D.
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p1-6

Abstract

Background: One of the symptoms that often arises on thalassemia patients is disharmony dentofacial, class II skeletal malocclusion, as a result of the malrelation of maxilla and mandible. This malrelation can be affected by either maxillary bone position, dentoalveolar maxillary position, mandibular bone position, dentoalveolar mandibular position, or combinations of those components. Purpose: The study was aimed to examine whether there is posterior transverse interarch discrepancy on the HbE β thalassemia patients or not. Methods: This study is an observational research with cross-sectional design. The sample consisted of 33 HbE β thalassemia patients and 33 non-thalassemia patients as a control group aged 12–14 years. Lateral cephalogram was carried out and dental casts of maxillary and mandibular dental arches were also taken in all of those patients. Results: There was no difference between the maxillary intermolar width of the HbE β thalassemia patients and that of the normal ones, but the mandibular intermolar width of the HbE β thalassemia patients was significantly smaller than that of the normal ones. Beside that, posterior transverse interarch discrepancy of of the HbE β thalassemia patients was significantly greater than that of the normal ones, which showed great difference between maxillary and mandibular intermolar widths. Conclusion: Posterior transverse interarch discrepancy of the HbE β thalassemia patients was different from that of the normal ones. The dentofacial abnormalities on the HbE β thalassemia patients aged 12–14 years primarily was due to disporposional dentofacial growth in the vertical, sagittal, and transversal directions, especially in the posterior region.Latar belakang: Salah satu akibat yang sering timbul pada penderita talasemia adalah disharmoni dentofasial berupa maloklusi skeletal kelas II yang merupakan kelainan hubungan maksila dan mandibula. Malrelasi ini dapat dipengaruhi oleh posisi maksila, posisi dentoalveolar maksila, posisi mandibula, dan posisi dentoalveolar mandibula atau kombinasi komponen ini dalam banyak variasi. Tujuan: Penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada diskrepansi antar rahang arah tranversal di regio posterior pada penderita talasemia beta HbE. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan disain potong lintang. Sampel terdiri atas 33 penderita talasemia beta HbE dan 33 subjek normal (non talasemia) usia 12–14 tahun. Dilakukan pengambilan foto sefalogram lateral dan pembuatan model studi gigi RA dan RB pada semua subjek penelitian. Hasil: Jarak intermolar maksila tidak berbeda dengan subjek normal, namun jarak intermolar mandibula lebih kecil secara bermakna dibandingkan dengan subjek normal. Selain itu, diskrepansi antar rahang dalam arah transversal di regio posterior lebih besar secara bermakna dibanding subjek normal, yang menunjukkan besarnya selisih jarak antara jarak intermolar maksila dan jarak intermolar mandibula. Kesimpulan: Diskrepansi antar rahang arah transversal di regio posterior antara penderita talasemia beta HbE dengan subjek normal usia 12–14 tahun. Kelainan dentofasial pada penderita talasemia beta HbE usia 12–14 tahun disebabkan oleh pertumbuhan disporposional dentofasial berbeda arah vertikal, sagital dan transversal terutama di regio posterior.
Changes of the sweet taste sensitivity due to aerobic physical exercise Wardhani, Ni Luh Putu Ayu; Irmawati, Anis; Sunariani, Jenny
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p35-38

Abstract

Background: Sweet taste is a pleasant sensation. Sweet taste is mostly consumed and fancied by many people. Physiologically, glucose is bodys source of energy, but if over used it can be affected to the bodys metabolism. This can be worsen if the persons not doing a healthy lifestyle. One way to implement a healthy lifestyle is by doing physical exercises. Purpose: The aim of this study was to determine changes in sensory sensitivity of sweet taste due to aerobic physical exercise. Methods: This study was conducted on subjects aged 20 to 30 years. The subjects did aerobic exercise using 80% load of MHR. The measurement sensitivity of the senses of the sweet taste was done for three times before the subject take aerobic physical exercise, four weeks after doing aerobic physical exercise, and eight weeks after doing aerobic physical exercise. Results: There was significant difference towards sensitivity of sweet taste sense before doing aerobic physical exercise, 4 week after doing the aerobic physical exercise, and 8 week after doing aerobic physical exercise. Conclusion: Aerobic physical exercise during eight weeks increase sweet taste sensitivity.Latar belakang: Rasa manis memberikan sensasi yang menyenangkan. Rasa manis merupakan jenis rasa yang paling banyak dikonsumsi dan disukai oleh sekelompok orang. Secara fisiologis, glukosa bisa berperan sebagai sumber energi, namun apabila dikonsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan efek patologis. Hal ini dihubungkan dengan individu yang mempunyai gaya hidup yang tidak sehat. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membiasakan gaya hidup sehat adalah dengan latihan fisik (olah raga). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya perubahan sensitivitas indera kecap rasa manis setelah melakukan latihan fisik aerobik. Metode: Penelitian ini melibatkan subyek laki-laki, berusia 20–30 tahun. Subjek melakukan latihan fisik aerobik dengan intensitas sebesar 80% maximal heart rate. Sensitivitas indera kecap rasa manis diukur 3 kali, yaitu sebelum melakukan latihan fisik aerobik, dan 4 serta 8 minggu setelah latihan fisik aerobik. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan pada sensitivitas indera kecap rasa manis sebelum 4 dan 8 minggu sesudah latihan fisik aerobik. Kesimpulan: Latihan fisik aerobik selama 8 minggu menyebabkan peningkatan sensitivitas indera kecap rasa manis.
Cytotoxicity difference of 316L stainless steel and titanium reconstruction plate Sumarta, Ni Putu Mira; Danudiningrat, Coen Pramono; Rachmat, Ester Arijani; Soesilawati, Pratiwi
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p7-11

Abstract

Background: Pure titanium is the most biocompatible material today and used as a gold standard for metallic implants. However, stainless steel is still being used as implants because of its strength, ductility, lower price, corrosion resistant and biocompatibility. Purpose: This study was done to revealed the cytotoxicity difference between reconstruction plate made of 316L stainless steel and of commercially pure (CP) titanium in baby hamster kidney-21 (BHK-21) fibroblast culture through MTT assay. Methods: Eight samples were prepared from reconstruction plates made of stainless steel type 316L grade 2 (Coen’s reconstruction plate®) that had been cut into cylindrical form of 2 mm in diameter and 3 mm long. The other one were made of CP titanium (STEMA Gmbh®)) of 2 mm in diameter and 2,2 mm long; and had been cleaned with silica paper and ultrasonic cleaner, and sterilized in autoclave at 121° C for 20 minutes.9 Both samples were bathed into microplate well containing 50 μl of fibroblast cells with 2 x 105 density in Rosewell Park Memorial Institute-1640 (RPMI-1640) media, spinned at 30 rpm for 5 minutes. Microplate well was incubated for 24 and 48 hours in 37° C. After 24 hours, each well that will be read at 24 hour were added with 50 μl solution containing 5mg/ml MTT reagent in phosphate buffer saline (PBS) solutions, then reincubated for 4 hours in CO2 10% and 37° C. Colorometric assay with MTT was used to evaluate viability of the cells population after 24 hours. Then, each well were added with 50 μl dimethyl sulfoxide (DMSO) and reincubated for 5 minutes in 37° C. the wells were read using Elisa reader in 620 nm wave length. Same steps were done for the wells that will be read in 48 hours. Each data were tabulated and analyzed using independent T-test with significance of 5%. Results: This study showed that the percentage of living fibroblast after exposure to 316L stainless steel reconstruction plate was 61.58% after 24 hours and 62.33% after 48 hours. And after exposure to titanium reconstruction plate, the percentage of living fibroblast was 98.69% after 24 hours and 82.24% after 48 hours. Based on cytotoxicity parameter (CD50%), both reconstruction plate made of 316L stainless steel or titanium showed as a non-toxic materials to fibroblast. Conclusion: Both reconstruction plate made of stainless steel and CP titanium were non-toxic to fibroblast, although the stainless steel plate showed lower cytotoxicity level compared to titanium. Therefore a reconstruction plate made from stainless steel type 316L can be used as a safe material for mandibular reconstruction. Latar belakang: Titanium murni adalah bahan yang paling biokompatibel saat ini dan digunakan sebagai standar emas implan logam. Saat ini stainless steel masih digunakan karena kekuatan, ductility, harganya yang murah, tahan terhadap korosi dan cukup biokompatibel. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan sitotoksisitas antara plat rekonstruksi yang terbuat dari titanium murni komersial dan plat rekonstruksi yang terbuat dari stainless steel pada kultur sel fibroblas baby hamster kidney-21 (BHK-21) menggunakan MTT assay. Metode: Delapan sampel yang masing-masing tipe 316L terbuat dari stainless steel 316L grade 2 (Coen’s reconstruction plate®) yang dipotong berbentuk silinder diameter 2 mm dan panjang 3 mm, serta yang terbuat dari titanium murni komersial (STEMA Gmbh®) diameter 2 mm dan panjang 2,2 mm; dan dibersihkan dengan kertas silika dan pembersih ultrasonik serta disterilkan dengan autoclave pada suhu 121° C selama 20 menit. Kedua sampel dimasukkan ke dalam sumur mikroplat yang mengandung 50 μl sel fibroblas dengan kepadatan 2 × 105 dalam media Rosewell Park Memorial Institute-1640 (RPMI-1640), diputar dengan kecepatan 30 rpm selama 5 menit. Sumur mikroplat diinkubasi selama 24 dan 48 jam pada suhu 37° C. Setelah 24 "> jam, pada tiap sumur yang akan dibaca pada jam ke 24 ditambahkan 50 μl cairan yang mengandung 5mg/ml MTT dalam phosphat buffer saline (PBS), kemudian diinkubasi kembali selama 4 jam dalam CO2 10% pada suhu 37° C. Assay kolorimetri dengan MTT digunakan untuk mengetahui viabilitas populasi sel setelah 24 jam. Setiap sumur ditambahkan pelarut dimetil sulfoksida (DMSO) dan diinkubasi kembali selama 5 menit pada suhu 37° C. sumur-sumur tersebut kemudian dibaca dengan Elisa reader dengan panjang gelombang 620 nm. Langkah yang sama dilakukan pada sumur-sumur yang akan dibaca pada jam ke 48. Data kemudian ditabulasi dan dianalisis dengan menggunakan independent T-test dengan signifikansi 5%. Hasil: Penelitian ini menunjukkan presentase fibroblas hidup setelah terpapar plat rekonstruksi yang terbuat dari stainless steel adalah 61,58% setelah 24 jam dan 62,33% setelah 48 jam. Dan setelah paparan dengan plat rekonstruksi yang terbuat dari titanium murni adalah 98,69% setelah 24 jam dan 82,24% setelah 48 jam. Berdasarkan pada parameter sitotoksisitas (CD50%) kedua plat rekonstruksi baik yang terbuat dari titanium murni maupun yang terbuat dari stainless steel tipe 316L merupakan bahan yang tidak bersifat toksik terhadap fibroblas. Kesimpulan: Kedua plat rekonstruksi baik yang terbuat dari stainless steel maupun CP titanium tidak bersifat toksik terhadap fibroblas, walaupun plat stainless steel menunjukkan level sitotoksisitas yang lebih rendah daripada titanium murni. Dengan demikian plat rekonstruksi yang terbuat dari stainless steel 316 L aman digunakan sebagai bahan untuk rekonstruksi mandibula.
Plaque index between blind and deaf children after dental health education Carissa, Cynthia; Runkat, Jakobus; Herdiyati, Yetty
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p39-42

Abstract

Background: Difficulty in mobility and motor coordination could affect the health at teeth and mouth. Dental health education of the blind and deaf children differs according their limitation. Blind and deaf children need a particular guidance in dental health education to promote oral hygiene as normal children do. Purpose: The objective of this study was to observe the difference of plaque index between blind and deaf children before and after dental health education. Methods: This research used purposive sampling technique. Twenty-three blind children were taken as samples from SLB-A Negeri Bandung and 31 deaf children from SLB-B Cicendo Bandung. The data were then collected through plaque index examination using modified patient hygiene performance (PHP) test. Results: The result descriptively showed that plaque index average value of 23 blind children before dental health education was 3.0725 and after, was 1.7970. On the other hand, the plaque index average of deaf children before dental health education was 2.7474 and after was 1.5. Conclusion: It is concluded that plaque index of deaf children is better than blind children before and after dental health education.Latar belakang: Kesulitan dalam pergerakan dan koordinasi motorik akan memengaruhi kesehatan gigi dan mulut. Pendidikan kesehatan gigi dan mulut anak buta dan tuli akan berbeda tergantung tingkat kekurangan mereka. Anak tunanetra dan anak tunarungu membutuhkan pendidikan khusus berupa pendidikan kesehatan gigi untuk meningkatkan kebersihan gigi dan mulut serupa dengan anak normal. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan indeks plak antara anak-anak buta dan tuli sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan gigi. Metode: Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Dua puluh tiga anak tunanetra diambil sebagai sampel dari SLB-A Negeri Bandung dan 31 anak tunarungu dari SLB-B Cicendo Bandung. Data tersebut kemudian dikumpulkan melalui pemeriksaan indeks plak menggunakan indeks patient hygiene performance (PHP) modifikasi. Hasil: Hasil penelitian secara deskriptif menunjukkan bahwa nilai indeks plak rata-rata 23 anak tunanetra sebelum pendidikan kesehatan gigi adalah 3,0725 dan sesudah pendidikan kesehatan gigi adalah 1,7970. Sedangkan, indeks plak rata-rata anak tunarungu sebelum pendidikan kesehatan gigi adalah 2,7474 dan sesudah pendidikan kesehatan gigi adalah 1,5. Kesimpulan: Indeks plak anak tunarungu lebih baik dibandingkan dengan anak tunanetra sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan gigi.
Calcium hydroxide as intracanal dressing for teeth with apical periodontitis Dewiyani, Sari
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p12-16

Abstract

Background: Root canal infection and periapical diseases are caused by bacteria and their products. Long term infection may spread bacteria throughout the root canal system. Apical periodontitis caused by infectious microbe that persistent in root canals can cause radiographic and histopathology periapical changes. Chemomechanical preparation and intracanal dressing then are recommended to be conducted and used in between visits to eliminate microbes in root canals. Calcium hydroxide (Ca(OH)2) can be used as intracanal dressing since it can be used as musical physical defense barrier to eliminate re-infection in root canal and to disturb nutrition supply for bacterial development. Purpose: The aim of this study is observe the effectiveness of Ca(OH)2 in treating endodontic teeth with apical periodontitis. Cases: Case 1 and 3 are about patients whose left posterior mandibular teeth had spontaneous intermittent pain. Case 2 is about a patient whose left posterior maxillary teeth had gingival abscess and fracture history. Based on the radiographic examination, it was known that the filling of root canal was incomplete and there was radiolucency in the apical area. Case management: The cases were treated with triad endodontics, which involves preparation, disinfection by using 2.5% NaOCl as irrigation substance and calcium hydroxide as intracanal dressing, and then the filling of root canal with gutta percha and endomethasone root canal cement. Evaluations were conducted one month, 12 months, and 24 months after the treatment. Conclusion: Calcium hydroxide is effective to be used as intracanal dressing in apical periodontitis cases.Latar belakang: Infeksi saluran akar dan penyakit periapeks disebabkan oleh mikroba dan produknya. Infeksi yang berlangsung lama memungkinkan bakteri masuk ke dalam seluruh sistem saluran akar. Periodontitis apikal disebabkan oleh infeksi persisten mikroba di dalam sistem saluran akar disertai perubahan radiografik dan histopatologik periapeks. Preparasi kemomekanis dan penggunaan obat saluran akar antar kunjungan sangat dianjurkan untuk mengeleminasi mikroba dalam saluran akar. Kalsium hidroksida merupakan obat saluran akar karena dapat berperan sebagai barrier pertahanan fisik, mencegah infeksi ulang dan mengganggu suplai nutrisi untuk perkembangan bakteri. Tujuan: Untuk membuktikan efektifitas kalsium hidroksida pada perawatan gigi dengan periodontitis apical yang disertai dengan keluhan sakit dan adanya gambaran radiolusensi di periapikal. Kasus: Kasus 1 dan 3 adalah penderita dengan keluhan gigi belakang bawah kiri sakit dengan nyeri spontan hilang timbul, kasus 2 adalah penderita yang gigi depan atas terdapat benjolan di gusi dan riwayat fraktur. Pada pemeriksaan radiografis terlihat pengisian saluran akar yang tidak sempurna dan gambaran radiolusensi di apikal. Tatalaksana kasus: Pada kasus ini dilakukan tindakan triad endodontik, yaitu preparasi saluran akar, desinfeksi dengan larutan irigasi NaOCl 2,5% dan obat intrakanal kalsium hidroksida disertai dengan pengisian saluran akar dengan gutta percha dan semen saluran akar endomethason. Evaluasi dilakukan 1 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan. Kesimpulan: Kalsium hidroksida efektif sebagai obat intrakanal pada kasus periodontitis apikal.
Cost effectiveness and quality of life assessment on dental filling and tooth extraction in Balongsari Public Health Center Bramantoro, Taufan; R, Thinni Nurul
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p43-48

Abstract

Background: Dental health services program implementation in Balongsari Public Health Center during three years, 2006 until 2008, have a high average ratio of filling treatment compared to tooth extraction treatment (1:1.79) as compared to the standard set by the Ministry of Health (1:1). Cost effectiveness analysis and quality of life is needed as a form of economic evaluation of costs incurred by the consequences or impacts of health care programs, especially dental filling and tooth extraction, use to help in supporting the process of policy making in health care. The objective of this study was to assess cost effectiveness analysis (CEA) and quality of life (QoL) on dental filling and extraction treatment in Public Health Center. Methods: The study was conducted on 31 respondents who received filling treatment and 38 respondents who received tooth extraction. All of the respondents carried out to evaluate the total costs incurred in obtaining treatment and QoL between before and after treatment, which consist of the physical aspects, psychological, social, and economic. Results: The average total cost of dental filling treatment of the 31 respondents was Rp. 27,934.45, and in tooth extraction of the 38 respondents at Rp. 22,406.83. The average difference in the QoL, before and after dental filling treatment amounted to 121.25. In extractions, QoL difference in value before and after treatment at 132.36. Cost effectiveness ratio value in dental filling treatment amounted to 230.37, and in tooth extraction at 169.63. Conclusion: It is concluded that cost effectiveness ratio in the filling treatment is higher than the extraction, that the tooth extraction treatment is considered more cost effective than filling treatment.Latar belakang: Pelaksanaan program pelayanan kesehatan gigi di Puskesmas Balongsari selama tiga tahun, yaitu tahun 2006 hingga 2008, memiliki rata-rata rasio perbandingan perawatan tumpatan dengan pencabutan gigi (1:1,79) yang lebih tinggi dibandingkan dengan standar rasio yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan (1:1). Analisis efektifitas biaya dan kualitas hidup, dibutuhkan sebagai bentuk dari evaluasi secara ekonomi, dilihat dari biaya yang dibandingkan dengan dampak program pelayanan kesehatan, khususnya perawatan tumpatan dan pencabutan gigi, untuk mendukung proses pengambilan kebijakan dalam pelayanan kesehatan. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai cost effectiveness analysis (CEA) dan quality of life (QoL) pada perawatan tumpatan dan pencabutan gigi di Puskesmas Balongsari. Metode: Penelitian ini dilakukan terhadap 31 orang pasien yang mendapatkan perawatan tumpatan dan 38 orang pasien yang mendapatkan pencabutan gigi. Pada seluruh responden dilakukan evaluasi total biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan perawatan dan pengukuran kualitas hidup sebelum dan sesudah perawatan, yang terdiri dari aspek fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi. Hasil: Rata-rata total biaya perawatan tumpatan gigi dari 31 responden adalah Rp. 27,934.45, dan pada pencabutan gigi sejumlah 38 responden sebesar Rp. 22,406.83. Rata-rata nilai selisih QoL, sebelum dengan sesudah perawatan tumpatan gigi sebesar 121.25. Pada pencabutan gigi, nilai selisih QoL sebelum dengan sesudah perawatan sebesar 132.36. Nilai cost effectiveness ratio pada perawatan tumpatan gigi adalah sebesar 230.37, dan pada pencabutan gigi adalah sebesar 169.63. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa cost effectiveness ratio pada perawatan tumpatan gigi lebih tinggi dibandingkan pada pencabutan gigi, sehingga pencabutan gigi dinilai lebih cost effective atau efektif secara biaya, dibandingkan dengan perawatan tumpatan gigi.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2019): (June 2019): Article in Press Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Article in press Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 3 (2018): (September 2018) Vol 51, No 2 (2018): (June 2018) Vol 51, No 1 (2018): (March 2018) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017) Vol 50, No 3 (2017): (September 2017) Vol 50, No 2 (2017): (June 2017) Vol 50, No 1 (2017): (March 2017) Vol 49, No 4 (2016): (December 2016) Vol 49, No 3 (2016): (September 2016) Vol 49, No 2 (2016): (June 2016) Vol 49, No 1 (2016): (March 2016) Vol 48, No 4 (2015): (December 2015) Vol 48, No 3 (2015): (September 2015) Vol 48, No 2 (2015): (June 2015) Vol 48, No 1 (2015): (March 2015) Vol 47, No 4 (2014): (December 2014) Vol 47, No 3 (2014): (September 2014) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014) Vol 47, No 1 (2014): (March 2014) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013) Vol 46, No 2 (2013): (June 2013) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013) Vol 45, No 4 (2012): (December 2012) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012) Vol 45, No 2 (2012): (June 2012) Vol 45, No 1 (2012): (March 2012) Vol 44, No 4 (2011): (December 2011) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011) Vol 43, No 4 (2010): (December 2010) Vol 43, No 3 (2010): (September 2010) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010) Vol 42, No 4 (2009): (December 2009) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009) Vol 42, No 2 (2009): (June 2009) Vol 42, No 1 (2009): (March 2009) Vol 41, No 4 (2008): (December 2008) Vol 41, No 3 (2008): (September 2008) Vol 41, No 2 (2008): (June 2008) Vol 41, No 1 (2008): (March 2008) Vol 40, No 4 (2007): (December 2007) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007) Vol 40, No 2 (2007): (June 2007) Vol 40, No 1 (2007): (March 2007) Vol 39, No 4 (2006): (December 2006) Vol 39, No 3 (2006): (September 2006) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006) Vol 39, No 1 (2006): (March 2006) Vol 38, No 4 (2005): (December 2005) Vol 38, No 3 (2005): (September 2005) Vol 38, No 2 (2005): (June 2005) Vol 38, No 1 (2005): (March 2005) More Issue