cover
Contact Name
Saka Winias
Contact Email
saka.winias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dental_journal@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19783728     EISSN : 24429740     DOI : -
Core Subject : Health,
The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) (e-ISSN:2442-9740; p-ISSN:1978-3728) is published by the Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga. Its diciplinary focus is dental science and dental hygiene. The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) is published in English on a quarterly basis with each 50-60 page edition containing between nine and eleven scientific articles on research, study literature and case studies. Contributors to the Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) included: dental researchers, dental practitioners, lecturers, and students drawn from Indonesia and a wide range of other countries.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)" : 11 Documents clear
Optimum dose of 2-hydroxyethyl methacrylate based bonding material on pulp cells toxicity Saraswati, Widya
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p62-66

Abstract

Background: 2-hydroxyethyl methacrylate (HEMA), one type of resins commonly used as bonding base material, is commonly used due to its advantageous chemical characteristics. Several preliminary studies indicated that resin is a material capable to induce damage in dentin-pulp complex. It is necessary to perform further investigation related with its biological safety for hard and soft tissues in oral cavity. Purpose: The author performed an in vitro test to find optimum dose of HEMA resin monomer that may induce toxicity in pulp fibroblast cells. Method: The method of this study was experimental laboratory with post test control group design. Primary cell culture was made from dental pulp fibroblast cells, and was given with HEMA resin bonding material in various concentrations (5 µg/ml–2560 µg/ml), and then subjected to toxicity test (MTT assay). Result: HEMA optimum concentration was 320 µg/ml to induce cytotoxicity in pulp fibroblast cells. Conclusion: The used of HEMA - base bonding material with the concentration of 200 µg/ml may induced pulp fibroblas cell toxicity.Latar belakang: Keberhasilan suatu bahan bonding secara klinis tergantung pada kandungan fisik, kimia dan keamanan secara biologis. HEMA (2-hydroxyethyl methacrylate) adalah bahan resin yang paling banyak digunakan karena memiliki sifat fisik-kimia yang baik. Beberapa penelitian pendahuluan menyebutkan bahwa resin merupakan bahan yang mampu menyebabkan gangguan pada kompleks dentin pulpa sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut menyangkut segi keamanan secara biologis bagi jaringan keras dan jaringan lunak di rongga mulut. Tujuan: Penelitian ini akan menguji secara in vitro (pada kultur sel fibroblas pulpa gigi) untuk mengetahui dosis optimal monomer resin HEMA yang dapat menyebabkan toksisitas pada sel fibroblas pulpa. Metode: Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian post test control group design. Kultur sel primer dibuat dari sel fibroblas pulpa gigi, dan diberi bahan bonding resin HEMA dengan berbagai konsentrasi (5 µg/ml–2560 µg/ml) kemudian dilakukan uji toksisitas (MTT assay) Hasil: Didapatkan konsentrasi optimal HEMA adalah 320µg/ml untuk dapat menginduksi terjadinya sitotoksisitas pada sel fibroblas pulpa. Kesimpulan: Penggunaan bahan dasar bonding HEMA dengan konsentrasi mulai 320 µg/ml dapat menyebabkan toksisitas pada sel fibrosis pulpa.
Integrated orofacial therapy in chronic rhinosinusitis management for children with sleep bruxism Utomo, Haryono
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p97-101

Abstract

Background: The prevalence of rhinosinusitis was 20% in ambulatory patients and was mostly affected by viral infections and allergy. If conservative treatments of rhinosinusitis failed, surgical procedure is an alternative choice. Previous case report revealed that the rhinosinusitis symptoms were successfully relieved by the "assisted drainage" therapy only. Nevertheless, this therapy was less successful in children with sleep bruxism (SB). Purpose: To report an integrated orofacial therapy for management of rhinosinusitis children with sleep bruxism (SB) which consisted of the assisted drainage, night-guard and masseter muscle massage therapies. Case: Two boys who suffered from rhinosinusitis with bruxism were unsuccessfully treated with conventional treatment. Case management: Patients was subjected to the assisted drainage therapy that was scaling and root planning combined with gingival massage, and masseter muscle massage; night guard was worn in night sleep. They successfully relieved the rhinosinusitis symptoms. Conclusion: Based on the successful result, this integrated therapy could be suggested as an adjuvant in rhinosinusitis management.Latar belakang: Prevalensi rinosinusitis adalah 20% pasien rawat jalan dan umumnya disebabkan oleh infeksi virus dan alergi. Apabila terapi konservatif rinosinusitis mengalami kegagalan maka pilihan terakhir adalah operasi. Pada laporan kasus yang ada telah terjadi perbaikan gejala rinosinusitis setelah dilakukan terapi “assisted drainage” saja. Akan tetapi, terapi ini kurang berhasil pada anak dengan sleep bruxism (SB). Tujuan: Melaporkan suatu terapi orofasial terintegrasi untuk tatalaksana rinosinusitis pada anak dengan sleep bruxism (SB) yang terdiri dari terapi assisted drainage, night guard dan masase otot masseter. Kasus: Dua anak laki-laki yang menderita rinosinusitis dengan bruxism telah mengalami kegagalan pada perawatan konsvensional. Tatalaksana kasus: Pasien dilakukan terapi assisted drainage yang adalah scaling dan root planning yang dikombinasikan dengan masase gingiva dan masase otot masseter; sedangkan nightguard dipakai saat tidur malam. Terapi ini berhasil mengurangi gejala rinosinusitis. Kesimpulan: Berdasarkan keberhasilan terapi, terapi terintegrasi ini dapat digunakan sebagai ajuvan dalam tatalaksana sinusitis.
Ankylosis of the temporomandibular joint and mandibular growth disturbance caused by neglected condylar fracture in childhood Endrajana, Endrajana
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p67-71

Abstract

Background: Fractures of the mandibular condyle may lead to complications such as disturbance of occlusal function, internal derangement of the joint, ankylosis and mandibular growth disturbance. When treating young patients with the history of mandible trauma, ankylosis of the temporomandibular joint and mandibular growth disturbance are two most important complications of condyle fracture that should be considered. Purpose: This case report attempts to emphasize the long term complication of neglected condylar fracture in children i.e. ankylosis of the temporomandibular joint and subsequently lead to mandibular growth disturbance. Case: A case of right temporo-mandibular joint ankylosis and mandibular growth disturbance in a 28 years old male patient is presented. He had a history of trauma to the mandible after a traffic accident when he was 8 years old. Since then, he experienced difficulty in mouth opening which eventually developed into severe trismus. Case management: The case was treated surgically with gap and interpositional arthroplasty using Mersilen mesh™. Conclusion: Mandibular fractures involving temporomandibular joint in young children should be examined thoroughly and treated adequately in order to prevent ankylosis of the TMJ and the subsequent mandibular growth disturbance.Latar belakang: Fraktur pada kondilus mandibula dapat menyebabkan beberapa komplikasi berupa: gangguan oklusi, internal derangement sendi, ankilosis serta gangguan pertumbuhan mandibula. Pada perawatan penderita usia muda dengan riwayat trauma pada mandibula, perlu diwaspadai dua macam komplikasi akibat fraktur pada kondilus, yaitu ankilosis sendi temporo mandibula dan adanya gangguan pertumbuhan mandibula. Tujuan: Laporan kasus ini bertujuan untuk menekankan bahwa fraktur kondilus pada anak-anak yang tidak mendapatkan perawatan yang semestinya akan mengakibatkan komplikasi jangka panjang berupa ankilosis sendi temporomandibula yang diikuti dengan gangguan pertumbuhan tulang mandibula. Kasus: Penderita laki-laki umur 28 tahun dengan keadaan tidak dapat membuka mulut dan adanya gangguan pertumbuhan tulang mandibula. Terdapat riwayat trauma pada mandibula akibat kecelakaan lalu lintas saat penderita berumur 8 tahun. Semenjak kecelakaan tersebut penderita merasakan kesulitan membuka mulut dan akhirnya sama sekali tidak dapat membuka mulut. Tatalaksana kasus: Untuk merawat kasus ini dilakukan tindakan pembedahan dengan bius umum yaitu gap arthroplasty dengan memakai Mersilen mesh™ sebagai interposisional graft. Kesimpulan: Fraktur kondilus mandibula pada penderita anak-anak memerlukan pemeriksaan dan perawatan yang adekuat untuk menghindari terjadinya ankilosis sendi temporomandibula dan gangguan pertumbuhan tulang mandibula.
The apical leakage of mineral trioxide aggregate as the retrograde filling material with various mixing agents Mulyawati, Ema
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p102-106

Abstract

Background: Mineral trioxide aggregate (MTA) is relatively considered as a new material in endodontic. It even has been used as retrograde filling material due to its biocompatibility, antibacterial effect, sealing ability and anti-moist effect. Some materials have been used as mixing agent to achieve an appropiate setting of MTA. Purpose: The aim of this study is to investigate the effect of the mixing agents of MTA towards the apical leakage when they are used together as retrograde filling materials. Method: The samples of this research consist of 30 human extracted upper central incisors. First, the crown of each tooth is sectioned. The root canals are prepared by using the conventional technique and then are obturated with gutta percha. After cutting the root apex, 2 mm from apical, class 1 cavities are prepared by using fissure bur with the depth of 3 mm. The samples then are divided into 3 groups with 10 teeth for each. Group I uses aquabidest as mixing agent of MTA (MTA-aquabidest), group II uses saline (MTA-saline), while group III uses 0.12% chlorhexidine (MTA-chlorhexidine). The apex of each group then is filled with the mixing MTA determined already. Afterwards, clearing method is used to evaluate the apical leakage. The apical leakage actually is determined by measuring the depth of methylene blue penetration with stereomicroscope. The statictical analyses of the linear dye penetration then are performed with analysis of varians ANOVA. Result: The dye penetration for both MTA-aquadest and MTA-saline groups indicates the lowest penetration, and there is even a significant difference compared with MTA-0.12% chlorhexidine group (p<0.005). Conclusion: It can be concluded that aquabidest and saline as mixing agents of MTA produce less apical leakage compared with 0.12% chlorhexidine.Latar belakang: Mineral trioxide aggregate (MTA) merupakan bahan yang relatif baru dalam bidang endodontik. Bahan tersebut diindikasikan sebagai bahan pengisi retrograd karena bersifat biokompatibel, antibakteri, kerapatannya bagus dan tidak terpengaruh kelembaban.Untuk mendapatkan settingnya, beberapa bahan telah digunakan sebagai bahan pencampur MTA. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan pencampur MTA sebagai bahan retrograd terhadap kebocoran apikal. Metode: Bahan penelitian berupa 30 gigi insisivus sentral atas bekas cabutan. Mahkota gigi dipotong dan saluran akar dipreparasi menggunakan teknik konvensional dan diobturasi dengan guta perca. Akar dipotong dengan jarak 2 mm dari apeks dan dibuat preparasi kavitas kelas I menggunakan bur fisura dengan kedalaman 3 mm pada ujung akar tersebut. Akar gigi tersebut dibagi dalam 3 kelompok masing-masing 10. Kelompok I menggunakan akuabides sebagai bahan pencampur MTA (MTA-akuades), kelompok II menggunakan salin (MTA-salin) dan kelompok II menggunakan Chlorhexidine 0,12% (MTA-chlorhexidine). Ujung akar kemudian diisi campuran MTA sesuai kelompoknya. Evaluasi kebocoran apikal menggunakan teknik clearing. Kebocoran apikal ditentukan dengan mengukur kedalaman penetrasi larutan biru metilen menggunakan mikroskopstereo. Hasil pengukuran dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA). Hasil: Penetrasi warna pada kelompok MTA-akuades maupun MTA-salin menunjukkan hasil yang paling kecil dan kedua kelompok tersebut berbeda secara signifikan dengan kelompok MTA-chlorhexidine 0,12% (p<0,005). Kesimpulan: Bahan pencampur akuades dan salin menghasilkan MTA dengan kebocoran apikal yang lebih kecil dibandingkan chlorhexidine.
The effect of monofluorophosphate implant in white rat mothers towards the level of fluor in the incisors of their young babies (Rattus-rattus) Widjijono, Widjijono
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p72-75

Abstract

Background: Fluoride has been widely used in the prevention of dental caries for a long time. To prevent dental caries, fluoride must be induced in low amount at high frequency. Inducing it through implantation process even make slow release of small concentration of fluoride. Purpose: The aim of this research was to analyze whether the induction of monofluorophosphate (MFP) implant into the white rat mothers affects the level of fluoride in the incisors of their young babies. Method: The objects of the research were twenty white rat mothers in two days of pregnancy which then were divided into four groups (n=5). First, those mothers have been induced with implant under their back skin until their born young babies in the age of 35 days (n=5). The level of fluoride in the incisors of those young babies then is measured with Potentiometer. The obtained data were finally analyzed with One-Way ANOVA test and continued by with LSD test (p=0.05). Result: The result of this research showed that the means of the fluoride level in the incisors of those babies divided into those four groups in series were about 11956.16±201.35 ppb (K), 27328.04±234.56 ppb (P1), 37267.21±248.86 ppb (P2), and 18103.50±267.11 ppb (P3). The result of ANOVA test then showed that the induction of various MFP implant levels significantly affected the level of fluoride in the incisors of the babies. The mean differences among the treatment groups after being tested with LSD 0.05 were also significant. Conclusion: The finding confirm that the significant increasing of the optimal fluoride retention in the incisors of white rat babies can be achieved with the induction of fluoride with MFP ions implant in about 52.98 mg.Latar belakang: Pencegahan karies gigi menggunakan senyawa fluor telah banyak dilakukan dan berlangsung dalam jangka waktu lama. Pemberian fluor dalam jumlah rendah dan frekuensi tinggi merupakan pemenuhan kebutuhan pencegahan karies gigi. Pemberian dengan cara implantasi memberikan keluaran fluor jumlah kecil dan waktu lama. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah induk tikus yang diberi implan-MFP berpengaruh terhadap kandungan fluor gigiseri anak tikus. Metode: Subjek penelitian adalah 20 ekor induk tikus putih bunting 2 hari dibagi 4 kelompok (n=5). Induk diberi implan pada bawah-kulit punggung hingga anak tikus lahir dan pada umur 35 hari (n=5). Kandungan fluor pada gigi seri anak tikus diukur menggunakan Potensiometer. Data yang diperoleh dianalisis dengan Anova 1 jalur dilanjutkan uji LSD (p=0,05). Hasil: penelitian menunjukkan rerata fluor gigiseri anak tikus berturut-turut sebesar: 11956,16±201,35 ppb (K), 27328,04±234.56 ppb (P1), 37267,21±248.86 ppb (P2), dan 18103,50±267,11 ppb (P3). Hasil: Anava membuktikan bahwa ada pengaruh bermakna akibat variasi kadar MFP dalam implan terhadap kandungan fluor gigi anak tikus. Beda rerata antar kelompok perlakuan diuji dengan LSD0,05 memperlihatkan perbedaan bermakna pada semua kelompok. Kesimpulan: Penelitian dapat disimpulkan bahwa kenaikan secara bermakna terhadap retensi fluor optimal dalam gigiseri tikus putih pada pemberian fluoridasi menggunakan implan dengan muatan MFP: 52,98 mg.
Erythema multiforme as the result of taking carbamazepine Apriasari, Maharani Laillyza; Jusri, M.
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p49-53

Abstract

Background: Erythema multiforme is an acute mucocutaneus disease which is caused by the hypersensitivity reaction. It is characterized by target lesions on the skin or ulcerative oral lesion. Etiology of the disease is unknown, it is currently considered as immunologic disease. The triggering factors is the use of certain type of drugs like antibiotics, anticonvulsant, and NSAID. Most of the dentists do not know about it is mechanism, so a lot of people consider it as a malpractice. Purpose: This paper reported a case of a man, 46 years old which had ulcerative oral mucous, peeled and pain lips after taking carbamazepine drugs. Case: The clinical diagnosis of this case was erythema multiforme because of the hypersensitivity reaction as the result of taking carbamazepine. Case management: The final diagnosis based on anamnesis history of taking systemic drugs and clinical manifestation of erythema multiforme in the oral cavity. The drugs therapy that had been given were antihistamine, oral corticosteroid, gargle liquid contained of topical anesthetic, corticosteroid, and antibiotic. Conclusion: In this case, it can be concluded that erythema multiforme appeared was triggered by taking carbamazepine as the drug of choice for trigeminal neuralgia therapy. These drugs can cause type III hypersensitivity reaction. The final diagnosis based on anamnesis history of taking carbamazepine before lesions erupted and the characterized clinical manifestation.Latar belakang: Erythema multiforme adalah penyakit mukokutaneus akut yang menyerang kulit dan mukosa sebagai akibat dari reaksi hipersensitivitas. Secara karakteristik ditandai oleh lesi target pada kulit atau lesi ulserasi pada mukosa rongga mulut. Etiologi penyakit ini belum jelas, diduga karena adanya reaksi imunologi. Pencetusnya dikarenakan adanya pemakaian obat-obatan tertentu seperti antibiotik, antikonvulsan dan NSAID. Banyak dokter gigi kurang memahami mekanisme timbulnya penyakit ini, sehingga oleh masyarakat dianggap sebagai malpraktek. Tujuan: Tulisan ini melaporkan kasus pasien pria berusia 46 tahun dengan keluhan sariawan dan bibir terkelupas dan sakit setelah sehari meminum obat karbamazepin. Kasus: Diagnosis klinis kasus ini adalah erythema multifome karena reaksi hipersensitivitas terhadap pemakaian obat karbamazepin. Tatalaksana kasus: Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis riwayat pemakaian obat sistemik dan manifestasi klinis dari erythema multiforme pada rongga mulut. Pengobatan yang diberikan adalah antihistamin, kortikosteroid oral, obat kumur dengan anastesi topikal, kortikosteroid topikal dan antibiotik topikal. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa erythema multiforme yang timbul pada kasus ini dipicu oleh pemakaian obat karbamazepin yang merupakan obat pilihan untuk terapi trigeminal neuralgia. Obat ini menimbulkan efek samping reaksi hipersensitivitas tipe III. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa riwayat pemakaian obat karbamazepin sebelum timbulnya lesi dan pemeriksaan klinis pada pasien.
Early removal of odontoma resulting in spontaneous eruption of the impacted teeth Harijadi, Achmad
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p76-80

Abstract

Background: Compound odontomas in the anterior maxilla during mixed dentition frequently cause obstruction to the eruption pathway of permanent upper anterior teeth. Removal of the odontomas may or may not lead to spontaneous eruption of the impacted teeth depending on the age when the surgery is performed, the size of the lesion, and the stage of tooth development of the involved teeth. Purpose: This paper attempts to emphasize the importance of early removal of compound odontoma to enable spontaneous eruption of the affected teeth. Case: A case of odontoma in the anterior maxilla causing failure of eruption and delayed root formation of upper right permanent lateral incisor and canine in a 10-year-old male patient is presented. Case management: The odontoma was surgically removed under general anesthesia and histology result confirmed the diagnosis of compound odontoma. A three-year post surgical follow up showed spontaneous eruption as well as continued root formation of the two affected teeth. Conclusion: Removal of odontoma may lead to spontaneous eruption of the affected teeth if their root development are not completed.Latar belakang: Compound odontoma pada daerah anterior maksila pada masa geligi pergantian sering menyebabkan hambatan erupsi pada gigi permanen penggantinya. Kemungkinan terjadinya erupsi spontan gigi permanen yang impaksi setelah pengambilan odontoma tergantung dari: umur penderita pada saat dilakukan operasi, ukuran lesi odontoma dan tahapan perkembangan gigi permanen yang terlibat. Tujuan: Laporan kasus ini ingin menekankan pentingnya pengambilan compound odontoma sedini mungkin untuk memberi kesempatan tumbuhnya gigi permanen yang terlibat dan erupsi secara spontan. Kasus: Ditampilkan sebuah kasus compound odontoma pada regio maksila anterior menyebabkan gagalnya erupsi dan terlambatnya pembentukan akar gigi insisif kedua dan kaninus permanent rahang atas kanan pada penderita anak laki-laki berumur 10 tahun. Tatalaksana kasus: Dilakukan eksisi odontoma dengan pembiusan umum dan pemeriksaan histopatologi menunjukkan lesi tersebut adalah compound odontoma. Dalam kurun waktu 3 tahun pasca pembedahan kedua gigi permanen yang impaksi dapat erupsi sempurna secara spontan disertai dengan berlanjutnya proses pembentukan akar. Kesimpulan: Pengambilan odontoma dapat menyebabkan erupsi secara spontan gigi permanen yang impaksi dengan syarat proses pembentukan akar gigi yang bersangkutan belum selesai.
Tensile bond strength of hydroxyethyl methacrylate dentin bonding agent on dentin surface at various drying techniques Ismiyatin, Kun
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p54-57

Abstract

Background: There are several dentin surface drying techniques to provide a perfect resin penetration on dentin. There are two techniques which will be compared in this study. The first technique was by rubbing dentin surface gently using cotton pellet twice, this technique is called blot dry technique. The second technique is by air blowing dentin surface for one second and continued by rubbing dentin surface gently using moist cotton. Purpose: This experiment was aimed to examine the best dentin surface drying techniques after 37% phosphoric acid etching to obtain the optimum tensile bond strength between hydroxyethyl methacrylate (HEMA) and dentin surface. Method: Bovine teeth was prepared flat to obtain the dentin surface and than was etched using 37% phosphoric acid for 15 seconds. After etching the dentin was cleaned using 20 cc plain water and dried with blot dry techniques (group I), or dried with air blow for one second (group II), or dried with air blow for one second, and continued with rubbing gently using moist cotton pellet (group III), and without any drying as control group (group IV). After these drying, the dentin surfaces were applied with resin dentin bonding agent and put into plunger facing the composite mould. The antagonist plunger was filled with composite resin. After 24 hours, therefore bond strength was measured using Autograph. Result: Data obtained was analyzed using One-Way ANOVA with 95% confidence level and continued with LSD test on p≤0.05. The result showed that the highest tensile bond strength was on group I, while the lowest on group IV. Group II and IV, III and IV, II and III did not show signigicant difference (p>0.05). Conclusion: Dentin surface drying techniques through gentle rubbing using cotton pellet twice (blot dry technique) gave the greatest tensile bond strength.Latar belakang masalah: Tehnik pengeringan permukaan dentin agar resin dapat penetrasi dengan sempurna adalah dengan cara pengusapan secara halus sebanyak dua kali menggunakan bulatan kapas, yang disebut blot dry technique, dengan semprotan udara selama 1 detik atau dengan semprotan udara selama 1 detik yang dilanjutkan dengan pengusapan secara halus menggunakan bulatan kapas basah yang diperas dan kelebihan air pada kapas diserap dengan kertas hisap. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tehnik pengeringan permukaan dentin yang terbaik setelah etsa dengan asam phosphat 37% untuk mendapatkan kekuatan perlekatan tarik yang optimum antara HEMA dentine bonding agent dan permukaan dentin dengan menggunakan alat ukur Autograph. Metode: Permukaan dentin gigi sapi diasah rata, kemudian di etsa dengan asam phosphat 37% selama 15 detik. Permukaan dentin dicuci dengan 20 cc air dan kemudian dikeringkan dengan cara blot dry technique (kel. I), dengan semprotan udara selama 1 detik (kel. II) atau semprotan udara selama 1 detik dan dilanjutkan dengan pengusapan secara halus menggunakan bulatan kapas basah yang diperas dan kelebihan air pada kapas diserap dengan kertas hisap (kel. III) dan tanpa pengeringan permukaan dentin sebagai kontrol (kel. IV). Selanjutnya permukaan dentin diulasi dengan resin bonding dan diletakkan kedalam plunger dengan permukaan menghadap permukaan komposit. Setelah 24 jam dilakukan pengukuran kekuatan tarik dengan menggunakan alat ukur Autograph. Hasil: Analisis data menggunakan uji Anova satu arah dengan derajat kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan test LSD pada p≤0,05. Dari hasil penelitian didapatkan kekuatan perlekatan tarik yang paling tinggi pada kelompok I, sedangkan yang paling rendah pada kelompok IV. Didapatkan perbedaan bermakna pada kelompok I, II, III, dan IV. Pada kelompok II dan IV, III, dan IV, II, dan III tidak didapatkan perbedaan bermakna (p>0,05). Kesimpulan: Tehnik pengeringan permukaan dentin dengan cara pengusapan secara halus menggunakan bulatan kapas sebanyak 2 kali menghasilkan kekuatan perlekatan tarik terbesar.
Dental modifications: a perspective of Indonesian chronology and the current applications Suriyanto, Rusyad Adi; Koesbardiati, Toetik
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p81-90

Abstract

Background: Dental modifications are one of the forms of initiation rite. Thus tradition can be found in all of Indonesian regions, even in South East Asia, in previous era. Modes and dentistry, as a culture product, including its modifications or decorations toward body and teeth have appeared in present day, such as tattoo and decorations on teeth which are taken particular model and superimpose or inculcate ornament of jewel, diamond, gold and others. The first research aim is to describe how functions of modifications on teeth represent cultural affinity and population of biologic affinity that accompany it from time to time; starting from prehistoric period to present day, especially in Indonesian region. The second aim is to submit applicable proposal that is useful for medical area, particularly in dentistry. Method: The research materials include teeth of the adult human skulls of Java, Balinese, and East Nusa Tenggara from some paleoanthropological–archaeological sites, as well as isolated permanent dental sample from modern Balinese population. The methods used are visual comparative descriptive method, and browsed through ethnographic and archaeological classic literatures. Result: Chronologically, dental modifications as reference to the pattern of migration and the domination of the culture in the past, and these facts indicate to the biological affinity and indicate to how the culture influences other culture. Conclusion: Some effects of the practices of dental modifications are the emergence of some diseases. Therefore, it is necessary for the agent of health and the traditional practitioner to be aware when they practice the dental modifications. Nevertheless, on the other side, based on explanations the research results, it is clear that dental modifications provide broader knowledge, because it has a very long journey of migration history, occupancy, and culture in this Indonesian Archipelago, which stretches from the period of about ten thousand years ago until now. This knowledge can be used for either practical purposes of medicine and dentistry even forensic. Thus, it is also useful in forensic identification, as guidance with cultural background such as certain patterns of dental modifications cannot be disregarded. In the same way, patterns of modifications either intentional or unintentional can give a guidance to strengthen identification.Latar belakang: Modifikasi gigi geligi adalah salah satu bentuk ritus inisiasi. Tradisi ini dapat ditemukan di seluruh wilayah Indonesia, bahkan di Asia Tenggara pada masa lalu. Persoalan-persoalan kecantikan dan dentistri sebagai produk budaya termasuk modifikasi dan dekorasi tubuh dan gigi geligi telah muncul pada masa kini, contohnya tatto tubuh atau dekorasi gigi geligi dengan ornament hiasan dari emas, intan berlian dan juga bahan lainnya. Tujuan awal dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana fungsi modifikasi gigi geligi mewakili afinitas kultural dan afinitas biologis dari suatu populasi yang saling berkaitan dari waktu ke waktu, dimulai dari masa prasejarah hingga masa kini, terutama di wilayah Indonesia. tujuan penelitian yang kedua adalah untuk menyumbangkan pemikiran yang aplikatif yang berguna untuk bidang kesehatan terutama dentistri. Metode: Bahan penelitian adalah gigi geligi dari tengkorak dewasa Jawa, Bali dan Nusa Tenggara yang berasal dari situs-situs paleoantropologis-arkeologis, demikian pula sampel gigi geligi permanen individual dari populasi Bali saat ini/modern. Metode yang digunakan adalah deskriptif komparatif visual, dan penelusuran literatur etnografi dan arkeologi klasik. Hasil: Secara kronologis, modifikasi gigi geligi adalah rujukan bagi migrasi pada masa lalu dan dominasi budaya masa lalu. Kenyataan ini menunjukkan adanya afinitas biologis dan menunjukkan bagaimana budaya yang satu dapat mempengaruhi budaya yang lain. Simpulan: Beberapa efek dari praktek modifikasi gigi geligi adalah timbulnya beberapa penyakit. Oleh karena itu, hal ini sangat penting diketahui oleh praktisi kesehatan modern dan praktisi kesehatan tradisional untuk mempertimbangkan kenyataan ini dalam melakukan praktek modifikasi gigi geligi. Di sisi lain, berdasarkan hasil penelitian ini, modifikasi gigi geligi memberikan pengetahuan dan wawasan yang sangat luas, karena modifikasi gigi geligi telah lama dilakukan melalui perjalanan yang panjang dalam sejarah migrasi, penghunian dan budaya di kepulauan Indonesia, dengan rentang waktu sekitar 10.000 tahun yang lalu hingga saat ini. Pengetahuan tentang hal ini dapat digunakan untuk kepentingan studi kesehatan dan dentistry, bahkan forensik. Khususnya untuk identifikasi forensic, modifikasi gigi geligi adalah petunjuk latar belakang budaya seseorang, dimana pola tertentu modifikasi gigi geligi tidak dapat diabaikan. Dengan demikian, pola modifikasi gigi geligi baik sengaja (intentional) maupun yang tidak disengaja (unintentional) merupakan penguat dari identifikasi individual.
The efficacy of honey solution as plaque reducing agent M, Dewi Nurul; S, Indria Rizki; S, Indriani; Masyitoh, Masyitoh; EI, Auerkari
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i2.p58-61

Abstract

Background: Periodontal care is an important step of periodontal health management. Some chemically active substances have been studied as an adjunct to mechanical plaque control. Honey is a traditional topical treatment for infected wounds and have inhibitory effect to around 60 species of bacteria including aerobes and anaerobes, gram-positives and gram-negatives. Purpose: To compare the efficacy of 5% and 25% honey solution and aquadest as mouth-rinses to control dental plaque during 4 days period. Method: After a thorough prophylaxis, during 4 days period of no oral hygiene all subjects were rinsed with 10 ml mouth-rinse they received 3 times a day after meal. Group I rinse with 5% honey solution, group II with 25%, and group III with aquadest as control. Results: There were significant increases of plaque index within each group, but no differences between all three groups in every experimental day. The fact that the probability value from day 1 (0.766) were gradually decreased to day 4 (0.076). Conclusion: Anti-microbial properties of honey solution as mouth-rinse did not show any inhibition effect on plaque formation until day 4.Latar belakang: Menjaga kesehatan periodontal merupakan tahap penting dalam pemeliharaan kesehatan periodontal. Beberapa substansi kimiawi aktif telah diteliti untuk membantu dalam kontrol plak gigi secara mekanik. Madu merupakan obat tradisional untuk luka terinfeksi dan dinyatakan mempunyai pengaruh menghambat sekitar 60 spesies termasuk bakteri aerob dan anaerob gram positif dan gram negatif. Tujuan: Membandingkan manfaat larutan madu 5% dan 25% terhadap akuades sebagai obat kumur untuk mengontrol pembentukan plak gigi selama 4 hari penelitian. Metode: Setelah tindakan profilaksis pembersihan sempurna, semua subjek penelitian dipersilahkan berkumur dengan 10 ml larutan yang telah diterima, 3 kali sehari setelah makan. Kelompok 1 berkumur dengan larutan madu 5%, kelompok 2 dengan 25%, dan kelompok 3 dengan akuades sebagai kontrol. Hasil: Didapatkan peningkatan bermakna indeks plak dalam setiap kelompok penelitian, tetapi tidak berbeda antara ketiga kelompok pada setiap hari dalam waktu penelitian. Namun ditemukan nilai p sejak hari 1 (0,766) menurun secara bertahap ke hari ke 4 (0,076). Kesimpulan: Sifat antimikroba larutan madu sebagai obat kumur belum menunjukkan pengaruh bermanfaat untuk menghambat pembentukan plak gigi hingga hari ke 4 penelitian.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2019): (June 2019): Article in Press Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Article in press Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 3 (2018): (September 2018) Vol 51, No 2 (2018): (June 2018) Vol 51, No 1 (2018): (March 2018) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017) Vol 50, No 3 (2017): (September 2017) Vol 50, No 2 (2017): (June 2017) Vol 50, No 1 (2017): (March 2017) Vol 49, No 4 (2016): (December 2016) Vol 49, No 3 (2016): (September 2016) Vol 49, No 2 (2016): (June 2016) Vol 49, No 1 (2016): (March 2016) Vol 48, No 4 (2015): (December 2015) Vol 48, No 3 (2015): (September 2015) Vol 48, No 2 (2015): (June 2015) Vol 48, No 1 (2015): (March 2015) Vol 47, No 4 (2014): (December 2014) Vol 47, No 3 (2014): (September 2014) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014) Vol 47, No 1 (2014): (March 2014) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013) Vol 46, No 2 (2013): (June 2013) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013) Vol 45, No 4 (2012): (December 2012) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012) Vol 45, No 2 (2012): (June 2012) Vol 45, No 1 (2012): (March 2012) Vol 44, No 4 (2011): (December 2011) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011) Vol 43, No 4 (2010): (December 2010) Vol 43, No 3 (2010): (September 2010) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010) Vol 42, No 4 (2009): (December 2009) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009) Vol 42, No 2 (2009): (June 2009) Vol 42, No 1 (2009): (March 2009) Vol 41, No 4 (2008): (December 2008) Vol 41, No 3 (2008): (September 2008) Vol 41, No 2 (2008): (June 2008) Vol 41, No 1 (2008): (March 2008) Vol 40, No 4 (2007): (December 2007) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007) Vol 40, No 2 (2007): (June 2007) Vol 40, No 1 (2007): (March 2007) Vol 39, No 4 (2006): (December 2006) Vol 39, No 3 (2006): (September 2006) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006) Vol 39, No 1 (2006): (March 2006) Vol 38, No 4 (2005): (December 2005) Vol 38, No 3 (2005): (September 2005) Vol 38, No 2 (2005): (June 2005) Vol 38, No 1 (2005): (March 2005) More Issue