cover
Contact Name
Saka Winias
Contact Email
saka.winias@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dental_journal@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi)
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19783728     EISSN : 24429740     DOI : -
Core Subject : Health,
The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) (e-ISSN:2442-9740; p-ISSN:1978-3728) is published by the Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga. Its diciplinary focus is dental science and dental hygiene. The Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) is published in English on a quarterly basis with each 50-60 page edition containing between nine and eleven scientific articles on research, study literature and case studies. Contributors to the Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) included: dental researchers, dental practitioners, lecturers, and students drawn from Indonesia and a wide range of other countries.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)" : 10 Documents clear
The frequency of bottle feeding as the main factor of baby bottle tooth decay syndrome Rizal, Mochamad Fahlevi; Sutadi, Heriandi; Bachtiar, Boy M; Bachtiar, Endang W
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p44-48

Abstract

Background: Dental caries remains as main problem in Indonesia and its prevalence is high (90.05%). However, there is no appropriate data that can be used to analyze dental caries in toddlers, especially baby bottle tooth decay syndrome (BBTD), though the number of BBTD cases is high in some pediatric dental clinics (90% of patients visiting the clinics). Even though some factors have already been considered to be the risk factor of BBTD, the main risk factor of BBTD is still unknown, especially BBTD in Indonesia. Purpose: This research was aimed to obtain data relating with bottle-feeding habit in 3-5 year old children in Indonesia and its caries risk. Method: The study was an observational research conducted with clinical examination through caries status (deft) of each child deserved by pediatric dentists and through questionnaire distributed to parents to examine the risk factor of BBTD. Observation was conducted on 62 children in the range of age 3 to 5 years old with bottle-feeding habit. Result: The results revealed that status of caries was various. The data showed that the frequency of bottle feeding more than twice could trigger BBTD 2.27 times higher than other factors such as the use of bottle feeding as a pacifier prior sleeping, the period of bottle-feeding, and the breast-feeding experience. Conclusion: though milk as subtract can possibly become a factor triggering caries, the frequency of bottle-feeding is highly considered as main factor. Since it could modulated the bacterial colonization on dental surface, which affects its virulence.Latar belakang: Karies masih menjadi masalah utama di Indonesia. Dalam praktek sehari-hari prevalensi karies masih sangat tinggi (90.05%). Belum ada data yang memadai dalam penelaahan karies yang spesifik pada anak balita selama ini khususnya kasus sindroma karies botol (SKB) sementara itu kasus SKB ditemukan sangat tinggi di beberapa klinik gigi anak (90% dari jumlah pasien yang datang ke klinik). Beberapa faktor menjadi resiko kejadian SKB dan belum diketahui faktor resiko utama kejadian karies khususnya di Indonesia. Tujuan: Penelitian ini dilakukan guna mendapatkan data yang berhubungan dengan kebiasaan minum susu botol pada anak usia 3-5 tahun di Indonesia serta resiko kejadian karies yang ditimbulkannya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang dilakukan dengan metode pemeriksaan klinis melalui pencatatan status karies (deft) setiap anak oleh dokter gigi anak serta pengisian kuesioner yang dilakukan oleh orang tua untuk menentukan faktor resiko kejadian SKB. Pengamatan dilakukan pada 62 orang anak usia 3-5 tahun yang mempunyai kebiasaan minum susu botol sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil: Hasil pemeriksaan klinis dan kuesioner memberikan gambaran status karies yang bervariasi. Data yang didapat dari penelitian ini menjelaskan, bahwa frekuensi minum susu botol lebih dari dua kali menyebabkan SKB 2.27 kali lebih besar dibandingkan dengan beberapa faktor lain, seperti menjadikannya pengantar tidur, lamanya mengonsumsi, dan riwayat minum ASI. Kesimpulan: Susu sebagai subtrat mungkin dapat dijadikan alasan kejadian karies akan tetapi yang menjadi resiko utama kejadian adalah frekuensi konsumsi susu botol itu sendiri. Kondisi ini dapat dihubungkan dengan modulasi substrat terhadap perkembangan kolonisasi bakteri di permukaan gigi, sehingga secara tidak langsung juga mempengaruhi virulensinya.
The comparison of minocycline oral-rinse and gel on pocket depth Augustina, Eka Fitria
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p21-25

Abstract

Background: Infection disease is still considered as a prominent disease in many developing countries, like Indonesia. The most oral infection disease is periodontitis. Despite scaling and root planning as the main therapy, minocycline as adjunct therapy has already been used for periodontitis. There are a lot of media used, such as oral rinse and gel. Many researches even have also shown that the use of minocycline as adjunct therapy can decrease inflammation in periodontitis. Like tetracycline, minocycline as an anti inflammatory and anticollagenase is also considered to be very effective for the treatment of periodontitis. Media of minocycline that are available are gel, fiber, and oral rinse, as the newest one. Purpose: The purpose of this research is to examine the comparison of 0.2% oral rinse minocycline and 2% minocycline gel to reduce the pocket depth. Method: The samples were divided into two groups, the first group using oral rinse and the second one using gel after scaling. Result: There was no statistically significant difference between the group with minocycline gel and oral rinse. Conclusion: The application of 2% minocycline gel or 0.2% minocycline mouth wash after scaling and root planning has the same effect in reducing pocket depth.Latar belakang: Penyakit infeksi masih merupakan kasus yang menonjol di banyak negara berkembang, seperti Indonesia. Infeksi rongga mulut yang banyak terjadi adalah periodontitis. Selain terapi utama yaitu skeling dan root planning, menggunakan minosiklin sebagai terapi tambahan telah banyak digunakan, seperti obat kumur dan gel. Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan minosiklin sebagai terapi tambahan dapat menurunkan keradangan pada pasien periodontitis. Seperti tetrasiklin, minosiklin sebagai anti keradangan dan anti kolagenase, sangat efektif sebagai perawatan periodontitis. Media minosiklin yang banyak digunakan di antaranya yaitu gel, fiber, dan obat kumur yang terbaru. Tujuan: Tujuan penelitian adalah mengetahui perbandingan antara penggunaan 0,2% obat kumur minosiklin dan 2% minosiklin gel untuk mengurangi kedalaman poketperiodontal. Metode: Sampel dibagi menjadi dua grup, grup pertama menggunakan obat kumur, dan kelompok kedua menggunakan gel, setelah terapi skeling. Hasil: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok minosiklin obat kumur dan gel. Kesimpulan: Minosiklin gel dan obat kumur sama-sama efektif dalam mengurangi kedalaman poket.
Human-leukocyte antigen typing in Javanese patients with recurrent aphthous stomatitis Ernawati, Diah Savitri; Soebadi, Bagus; Radithia, Desiana
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p26-30

Abstract

Background: Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is a common oral disorder that despite extensive researches, the etiology of this phenomenon is still unknown. Because this phenomenon has been observed more often in families than in individual cases, genetic influence has been investigated in most researches. Purpose: The aim of study was to evaluate the association between human leukocyte antigen (HLA) and RAS in Javanese more precisely. Method: The analysis of HLA-A, and HLA-B in 85 Javanese RAS patients and 71 healthy control subjects, were performed by using the standard NIH microlymhocytotoxicity technique. Immunohistochemistry was performed for identification of HLA-DR and HLA- DQ antigen using monoclonal antibodies anti HLA-DR and DQ. Result: Our result revealed a close association between HLA-A9 and HLA-B35 RAS subject. A significant increase in the frequency of some antigens such as HLA-A9 (72,94%, p < 0,05;RR = 2,21), HLA-A24 (65,82%; RR = 1,24) and HLA-B35 in subjects with RAS was observed. Analysis with Immunohistochemistry HLA-DR, HLA-DQ is expressed on the surface of epithelial cells membrane of oral mucosa and macrophages in both major and minor RAS patients. Conclusion: HLA antigens are involved in susceptibility to RAS and the phenotypes were difference with other previous studies. HLA- linked genetic factors may play a role in the development of RAS.Latar belakang: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan salah satu gangguan di rongga mulut yang paling sering terjadi. Fenomenapenyakit ini masih belum jelas dan masih membutuhkanpenelitian yang lebih lanjut. Faktor keturunan lebih sering daripada kasus individual. Pengaruh faktor genetik telah diteliti oleh beberapapeneliti. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya kaitan HLA dengan SARpada suku jawa secara lebih tepat. Metode: Analisis HLA-A, HLA-Bpada 85penderita RAS dan 71 penderita kontrol yang berasal dari suku Jawa dihitung dengan menggunakan teknik NIH Micro Lymphocytotoxicity. Teknik Imunohistokimia dilakukan untuk mengidentifikasi antigen HLA-DR, HLA DQ dengan menggunakan antibodi monoklonal HLA-DR & DQ. Hasil: Menununjukkan hubungan yang kuat antara HLA-A9 dan HLA-B-35 pada pasien SAR. Terdapat peningkatan yang signifikan dari beberapa antigen seperti HLA-A9 (72,94%, p < 0,05, RR = 2,21), HLA-A24 (65,82%, RR = 1,24) dan HLA-B35 pada pasien SAR yang di observasi. Analisis dengan Imunohistokimia tampak HLA-DR, DQ diekspresikan pada permukaan membran sel dan makrofag pada pasien SAR mayor maupun minor. Kesimpulan: Antigen HLA terlibat dengan kepekaan terjadinya RAS, dan fenotipnya berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya HLA dan faktor genetik berperan penting pada terjadinya SAR.
Relationship between trauma mechanism and etiology on mandibular fracture patterns Fakhrurrazi, Fakhrurrazi
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p1-5

Abstract

Background: Mandibular fracture occurs more commonly than maxillary fracture because of its prominent position and its arrow arch like bone anatomy. Many factors may cause mandibular fracture. Motorcycle accident is the main etiology of mandibular fracture in the world. Based on the literature, 43% mandibular fractures are caused by motorcycle accident, 34% by violence, 7% by accident at work, 7% by fall, 4% by sports and the others were caused by various things. Purpose: The purpose of this study was to know the relation between the etiology and mechanisms of trauma and the patterns of mandibular fracture at Hasan Sadikin Hospital, Bandung, from January 2006 to October 2007. Method: The study was taken on patients with mandibular fractures who came to Hasan Sadikin Hospital Bandung. The data were taken retrospectively by documenting the etiologies of mandibular fracture, the mechanisms of fracture, and the location of mandibular fracture. The data were analyzed with Chi Square statistic test. Result: The result showed that There were 83 mandibular fractures. The mandibular fracture more commonly attacks men about 77%, and women about 22.9%. Mandibular fracture occurs more often between the age group of 21-30 years old, about 31 people (37.3%). Mandibular fracture was mostles often caused by motorcycle accident, affecting about 71 people (85.5%). Parasymphysis fracture is the most common fracture location among mandibular fracture cases, about 47 people (56.6%). Conclusion: It can be concluded that there is no significant relationship between the etiology and mechanisms of trauma and the pattern of mandibular fracture.Latar belakang: Fraktur mandibula lebih sering terjadi dibandingkan dengan fraktur maksilla karenaposisinya yang lebihprominen dan bentuk anatomi tulang seperti busur panah. Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur mandibula. Kecelakaan kendaraan bermotor merupakan etiologi utama penyebab fraktur mandibula di dunia. Literatur menyebutkan bahwa 43% fraktur mandibula disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor, 34% disebabkan oleh kekerasan, 7% kecelakaan kerja, 7% akibat jatuh, 4% pada kecelakaan olahraga dan sisanya oleh bermacam-macam sebab lainnya. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara etiologi dan mekanisme trauma dengan pola fraktur mandibula pada penderita fraktur mandibula di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dari bulan Januari 2006 sampai Oktober 2007. Metode: Penelitian dilakukan pada pasien dengan fraktur manibular yang datang ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Data dikumpulkan secara retrospektif dengan cara mencatat etiologi,mekanisme, dan lokasi terjadinya fraktur mandibula. Data dikumpulkan dan dikelompokkan kemudian dianalisis dengan uji statistik Chi-square. Hasil: Dari hasil didapatkan 83 kasus fraktur mandibula. Fraktur mandibula lebih sering terjadi pada laki-laki yaitu sebanyak 77% dibandingkan wanita 22,9%. Fraktur mandibula sering terjadi pada usia 21-30 tahun, yaitu sebanyak 31orang (37,3%). Fraktur mandibula lebih banyak disebabkan tabrakan motor yaitu 71 orang (85,5%). Fraktur parasimfisis merupakan yang terbanyak yaitu 47 orang (56,6%). Kesimpulan: Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa antara etiologi dari fraktur mandibula, mekanisme trauma dengan pola fraktur mandibula tidak terdapat hubungan yang bermakna.
Mengkudu (Morinda citrifolia Linn.) gel affect on post-extraction fibroblast acceleration Khoswanto, Christian
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p31-34

Abstract

Background: Tooth extraction is one of treatment frequently done by dentists in clinics, hospital, and even private practices. One thing that is needed to be observed after the treatment is the speed of wound recovery process. Mengkudu is commonly used as medicinal treatments, some of them to heal wounds, but there had never been research of the use of mengkudu fruit on wound recovery after tooth extraction. Purpose: The aim of this study was to investigate the effect of mengkudu gel in accelerating the escalation of fibroblast post tooth extraction on Dawley rats. Method: This study was used post test only control group design. Thirty male Dawley rats weigh between 250-300 grams, 3 months of age are being used. Tooth extraction is being done on lower left incisor. The 30 rats are divided into three groups, there are mengkudu (Morinda citrifolia Linn.) gel, poviclone iodine, and control group. The data were analyzed statistically using One-Way ANOVA and LSD. Result: The result of every tested group with Kolmogorof-Smirnov test showed p > 0.05. Examination showed there was significant difference in fibroblast amount between the group with mengkudu gel and two other groups (p < 0.05). Conclusion: The application of mengkudu gel can accelerate the escalation of fibroblast after the tooth extraction on Dawley rats.Latar Belakang: Ekstraksi gigi merupakan perawatan yang sering dilakukan oleh dokter gigi baik di klinik, rumah sakit, dan praktekpribadi. Satu hal yang perlu diperhatikan setelahpencabutan gigi adalah kecepatanpenyembuhan luka bekas cabut. Mengkudu merupakan bahan yang sering digunakan untukpengobatan, salah satu diantaranya adalah untukpenyembuhan luka, namunpenelitian untuk kesembuhan luka pasca cabut gigi yang menggunakan mengkudu belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan: Tujuanpenelitian ini untuk mengetahui efek gel mengkudu dalam mempercepat peningkatan jumlah fibroblas setelah pencabutan gigi tikus Dawley. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian post test only control group design. Tiga puluh ekor tikus Dawley jantan, berat 250-300 gram, usia 3 bulan. Gigi yang dicabut dilakukan pada insisif rahang bawah. Tiga puluh ekor tikus Dawley dibagi dalam tiga kelompokpenelitian, yaitu gel mengkudu (Morinda citrifolia Linn.), poviclone iodine, dan kelompok kontrol. Data sampel yang didapat dianalisa menggunakan One-Way ANOVA dan LSD. Hasil: Hasil dari tes pada masing-masing group dengan menggunakan Kolmogorof-Smirnov menunjukkan p > 0,05. Hasil perhitungan menunjukkan ada perbedaan bermakna pada jumlah fibroblas antara gel mengkudu dengan 2 kelompok lain (p < 0.05). Kesimpulan: Aplikasi gel mengkudu dapat mempercepat peningkatan jumlah fibroblast setelah pencabutan gigi pada tikus Dawley.
Noma management in a child with systemic lupus erythematosus Sufiawati, Irna; Sari, Asri Arum; Setiabudiawan, Budi; Gunadi, Rahmat
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p6-10

Abstract

Background: Noma, also known as cancrum oris, is an orofacial gangrene, which during its fulminating stage causes progressive and mutilating destruction of the infected tissues. The disease occurs mainly in children with malnutrition, poor oral hygiene and debilitating concurrent illness. Purpose: The aim of this paper was to report a unique case of noma associated with systemic lupus erythematosus in an 8-year-old boy. Case: An 8-year-old boy referred to Oral Medicine Department complaining about an ulcer at the left corner of his mouth for 1 month, painful and difficulty in opening the mouth. The patient was diagnosed systemic lupus erythematosus since 14 months before and had been given immunosuppressive therapy. The patient was also diagnosed severe malnutrition. Haematologic investigations revealed anemia. Case management: Panoramic radiography was performed to check for dental or periodontal foci of infection, but no abnormalities were present. The microbiology examination revelaed Fusobacterium necrophorum, Staphylococcus aureus, and Klabsiella. The patient has been treated with oral irrigation using hydrogen peroxide, saline and 0.2% chlorhexidine, thus helped to slough the necrotic tissue. Oral antibiotics and analgesics were prescribed. The patient was admitted to hospital under the care of a pediatrician, allergy and immunology specialist, and a nutritionist. The result of the comprehensive disease management showed that the lesion healed completely, but leaving a scar on his corner of the mouth. Its physical effects are permanent and may require reconstructive surgery to be repaired by oral surgeon. Conclusion: Noma is not a primary disease, there are various predisposing factors usually precede its occurrence. The management of noma requires a multidisciplinary approach.Latar Belakang: Noma, dikenal sebagai cancrum oris, adalah gangren pada daerah orofasial, yang menyebabkan kerusakan progresif dari jaringan yang terinfeksi. Penyakit ini terjadi terutama pada anak dengan gizi buruk, kesehatan mulut yang buruk dan penyakit yang melemahkan. Tujuan: Makalah ini bertujuan untuk melaporkan sebuah kasus noma yang unikpada seorang anak laki-laki berusia 8 tahun yang menderita lupus eritematosus sistemik. Kasus: Seorang anak laki-laki 8 tahun dirujuk ke Bagian Ilmu Penyakit Mulut, mengeluh adanya luka di sudut mulut sebelah kiri yang telah diderita selama 1 bulan, terasa sangat sakit dan sulit membuka mulut. Pasien didiagnosis lupus eritematosus sistemik sejak 14 bulan sebelumnya dan telah diberikan terapi imunosupresif. Pasien juga didiagnosis menderita malnutrisi yang berat. Pemeriksaan hematologi menunjukkan pasien menderita anemia. Tatalaksana kasus: Radiografipanoramik dilakukan untuk memeriksa fokus infeksi dental atau periodontal, tetapi tidak ditemukan adanya kelainan. Pada pemeriksaan mikrobiologi ditemukan adanya Fusobacterium necrophorum, Staphylococcus aureus, dan Klabsiella. Perawatan pada pasien meliputi irigasi pada daerah gangren dengan hidrogen peroksida, larutan salin dan klorheksidin 0,2% untuk membersihkan jaringan nekrotik. Pasien juga diberikan antibiotik dan analgesik. Pasien dirawat di rumah sakit di bawah perawatan dokter spesialis anak, dokter spesialis alergi imunologi, dan ahli gizi. Hasil penatalaksanaan penyakit secara komprehensif memperlihatkan adanya penyembuhan, tetapi meninggalkan jaringan parut pada sudut mulutnya. Kelainan fisik tersebut bersifat permanen dan memerlukan pembedahan rekonstruktifoleh dokter gigi spesialis bedah mulut. Kesimpulan: Noma bukanlah penyakit primer, terdapat berbagai faktor predisposisi yang biasanya mendahului terjadinya penyakit tersebut. Pengelolaan noma memerlukan pendekatan multidisiplin.
Special considerations for orthodontic treatment in patients with root resorption Anggani, Haru S.
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p35-39

Abstract

Background: Orthodontic treatment needs good consideration especially when there are unfavorable conditions for orthodontic treatment, such as periodontal diseases or tooth with root resorption. Root resorption should not become worse due to orthodontic treatment., All risk factors should be eliminated before orthodontic treatment is started. Otherwise, the goal of orthodontic treatment could be difficult to achieve because of poor dental and or oral health. Purpose: The purpose of this study was to learn more about mechanical factors that could worsen the root resorption that has already been there or even provoke root resorption to develop during orthodontic treatment. Reviews: Resorption of dental root surface is the condition in which cementum is depraved and the damage could also include dentin of dental root. It can occur either physiologically or pathologically due to some causes. The occurrence of the root resorption is suspected because of the biological factor, the tooth condition, the supportive tissue and the mechanical factors. Panoramic x-ray which routinely used to support diagnose in orthodontic cases, can detect root resorption in general, although sometimes periapical x-ray with parallel technique is needed to enhance the diagnosis. Before starting a treatment, the risk factors that suspected as the causes of root resorption should be eliminated, thus the mechanical treatment can be calculated. Conclusion: Orthodontic treatment in patient with root resorption should not escalate the root resorption which already occurs. The treatment should be done effectively by using optimal forces. Giving discontinued forces and avoiding intrusion and torque movements could reduce the risk factors of root resorption.Latar belakang: Keadaan gigi dan jaringan pendukung yang kurang menguntungkan bagi perawatan ortodontik hendaknya membutuhkan perhatian ekstra para klinisi. Kondisi tersebut misalnya adanya penyakit periodontal ataupun adanya gigi dengan resorpsi akar. Perawatan ortodontik yang dilakukan hendaknya tidak menambah parah resorpsi akar yang telah ada sebelumnya. Sebelum memulai perawatan, seluruh faktor yang diduga sebagai faktor resiko dihilangkan terlebih dahulu. Sebaliknya, tujuan perawatan ortodontik akan sulit dicapai akibat buruknya keadaan gigi dan jaringan pendukungnya. Tujuan: Mempelajari lebih jauh mengenai faktor mekanik yang dapat menyebabkan resorpsi akar atau bahkan memperparah terjadinya resorpsi akar yang telah ada akibat perawatan ortodontik. Tinjauan pustaka: Resorpsi permukaan akar gigi adalah kondisi rusaknya jaringan sementum akar gigi yang dapat berlanjut hingga ke jaringan dentin akar gigi. Resorpsi akar dapat terjadi secara fisiologis atau patologis. Terjadinya resorpsi akar ini diduga karena adanya faktor biologis, kondisi gigi dan jaringan pendukung serta adanya faktor mekanik. Foto ronsen panoramik yang rutin digunakan sebagai penunjang diagnosa pada perawatan ortodontik dapat mendeteksi secara umum adanya resorpsi akar, meskipun terkadang dibutuhkan foto ronsen periapikal teknik paralel untuk memperjelasnya. Sebelum memulai perawatan, faktor resiko yang diduga sebagai penyebab terjadinya resorpsi akar hendaknya dihilangkan lebih dahulu, baru kemudian mempertimbangkan biomekanika perawatan ortodontik. Kesimpulan: Perawatan ortodontik pada pasien dengan resorpsi akar hendaknya tidak memperparah resorpsi akar yang telah ada. Perawatan yang dilakukan haruslah seefektif dan seefisien mungkin dengan menggunakan gaya yang optimal. Selain itu pemberian gaya secara diskontinyu dan menghindaripemberian gaya intrust dan torquing dapat mengurangi terjadinya resorpsi akar gigi.
Tissue engineered bone as an alternative for repairing bone defects Vitria, Evy Eida; Latif, Benny S.
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p11-16

Abstract

Background: Dentist especially oral surgeon, are frequently faced with defect in bone resulting from disease or trauma. If the defect is small, it will frequently has a good healing, however, if the defect is larger, incomplete regeneration often occurs and a fibrous scar results. Transplantation of autogenous bone has been one of the most frequent procedures of reconstructive oral and maxillofacial surgery because it has shown excellent clinical success; however, autogenous bone grafting is often related to disadvantages like limited availability, and donor morbidity. Purpose: The purpose of this review is to explain the basic principles of tissue engineering, background of regeneration process, also advantages and disadvantages of tissue engineered bone compared to autogenous bone graft. Review: Recently, tissue engineered bone provides a promising strategic innovation and becomes a new alternative for bone regeneration process. Tissue engineering is a term originally used to describe tissue produced in isolation and culture by cells seeded in various porous absorbable matrices. Tissue engineering generally combines three key elements (Tissue Engineering Triad) i.e: scaffolds (matrices), signaling molecules (growth factors), and cells (osteoblast, fibroblast, etc). Conclusion: Tissue engineering will facilitate initial bone healing in order to accomplish tissue regeneration process.Latar belakang: Seorang dokter gigi khususnya dokter gigi bedah mulut, seringkali dihadapkan dengan keadaan defek tulang akibat dari suatu penyakit atau trauma. Jika defeknya kecil mungkin dapat sembuh dengan baik, tetapi bila defeknya besar, kemungkinan regenerasi tulang tidak sempurna dan menghasilkan scar/jaringan parut. Transplantasi dengan menggunakan autogenous bone graft meskipun sampai saat ini masih banyak digunakan untuk operasi rekonstruksi di bidang bedah mulut dan maksilofasial karena telah menunjukkan keberhasilan klinik yang cukup baik, namun cara ini mempunyai banyak kekurangan, diantaranya morbiditas dari sisi donor. Tujuan: Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menjelaskan tentang prinsip-prinsip dasar tissue engineering, hal-hal yang berperan dalam proses regenerasi serta keuntungan dan kerugian tissue engineering dibandingkan dengan autogenous bone graft. Tinjauan pustaka: Saat ini penggunaan tissue engineered bone merupakan suatu strategi inovatif yang telah dikembangkan dan memberikan suatu alternatif dalam proses regenerasi tulang. Tissue engineering atau rekayasa jaringan merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana suatu jaringan dihasilkan dengan cara isolasi dan kultur sel dalam berbagai matriks porous absorble. Tissue engineering akan melibatkan tiga elemen kunci (tissue engineering triad) yaitu Scaffold (matriks), molekul-molekul signal (growth factors) dan sel-sel (osteoblast, fibroblast, dll). Kesimpulan: Teknik tissue engineering akan memfasilitasiproses awal penyembuhan tulang sehingga proses regenerasi jaringan akan tercapai.
Various curing methods on transverse strength of acrylic resin Salim, Sherman
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p40-43

Abstract

Background: Acrylic resin were first used in dentistry for denture bases. The basic knowledge of acrylic resin curing method should be known by the dentist, because the improved performance of acrylic resin depends on the curing method. Purpose: This study was aimed to find the most effective curing method to produce the highest transverse strength of acrylic resin. Method: 18 rectagular acrylic resin samples with 65 x 10 x 2.5 mm size, divided into 3 groups based on difference curing method (Japan Industrial Standard, 24 hour in 70° C boiling water, and microwave). There were tested for their transverse strength. Result: The result of this study showed that conventional JIS method has the highest mean and deviation scores (60.85 MPa ± 2.10) compared to those of 24 hour in 70° C boiling water method (55.77 MPa ± 2.09) and of microwave method (56.60 MPa ± 1.45). Conclusion: The highest transverse strength is derived from the conventional JIS curing method.Latar belakang: Resin akrilik pertama kali dipakai dalam bidang kedokteran gigi untuk basis protesa gigi. Pengetahuan dasar berbagai metode polimerisasi resin akrilik harus diketahui oleh dokter gigi karenapenyempurnaanpenampilan resin akrilik tergantung dari berbagi metode polimerisasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode polimerisasi yang menghasilkan resin akrilik dengan kekuatan transversal yang paling tinggi. Metode: 18 sampel dari resin akrilik berbentuk balok dengan ukuran 65 x 10 x 2,5 mm dibagi dalam 3 kelompok berdasarkan metode polimerisasi yang berbeda (JIS, 24 jam dalam air 70° C, dan microwave). Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa rerata dan angka deviasi metode polimerisasi JIS konvensional adalah yang terbesar kekuatan transversa (60,85 MPa ± 2,10) dibandingkan dengan metode air 70° C 24 jam (55,77MPa ± 2,09) dan metode microwave (56,60 MPa ± 1,45). Kesimpulan: Kekuatan transversa yang paling besar diperoleh dari metode polimerisasi JIS konvensional.
Mozart effect on dental anxiety in 6–12 year old children Setiawan, Arlette Suzy; Zidnia, Hilnia; Sasmita, Inne Suherna
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v43.i1.p17-20

Abstract

Background: Children anxiety in dental treatment often becomes a barrier for dentist to perform optimum dental treatment procedure. Various methods to manage anxiety and fear in children have been applied including listening to classical music during dental treatment. One of the classical music usually used is music by Mozart. Purpose: This study is aimed to discover the role of classical music by Mozart in dental anxiety changes. Method: This study was a quasi experimental study using purposive sampling method. The samples consist of 30 children between 6-12 years old group who were treated at the Pediatric Dentistry Clinic, Dental Hospital, Faculty of Dentistry Padjadjaran University. The anxiety data was collected using Visual Analogue Scale (VAS) before and after listening on the classical music during treatment. Result: The result of this study showed that there were 23 children (76.67% of subjects) who present decreased anxiety, 7 children (23.33% of subjects) did not present decreased anxiety and none of of subjects showed increased anxiety. Conclusion: It was concluded that listening to music by Mozart during dental treatment can reduce anxiety in 6-12 year old children.Latar belakang: Kecemasan pada anak saat perawatan gigi seringkali merupakan penghalang bagi dokter gigi untuk melaksanakan prosedurperawatan gigi yang optimal. Berbagai metode untuk mengatasi kecemasan dan rasa takutpada anak telah dilakukan termasuk mendengarkan musik klasik selama perawatan gigi. Salah satu musik klasik yang banyak digunakan adalah music oleh Mozart. Tujuan: Penelitian ini ditujukan untuk menemukan peran music klasik Mozart dalam perubahan kecemasan pada perawatan gigi. Metode: Penelitian ini adalah kuasi eksperimental menggunakan metode pengambilan sampel purposif. Sampel terdiri dari 30 anak antara 6-12 tahun yang dirawat di Klinik Kedokteran Gigi Anak, Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Data kecemasan diambil dengan Visual Analogue Scale (VAS) sebelum dan setelah mendengarkan music klasik selama perawatan. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa terdapat 23 anak (76,67% dari subjek) yang menunjukkan penurunan kecemasan, 7 anak (23,33%) tidak menunjukanperubahan kecemasan dan tidak ada (0 anak atau 0%) yang menunjukkanpeningkatan kecemasan. Kesimpulan: Disimpulkan bahwa mendengarkan musik Mozart selama perawatan gigi dapat menurunkan kecemasan di antara anak- anak usia 6-12 tahun.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 52, No 2 (2019): (June 2019): Article in Press Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 52, No 1 (2019): (March 2019) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Article in press Vol 51, No 4 (2018): (December 2018) Vol 51, No 3 (2018): (September 2018) Vol 51, No 2 (2018): (June 2018) Vol 51, No 1 (2018): (March 2018) Vol 50, No 4 (2017): (December 2017) Vol 50, No 3 (2017): (September 2017) Vol 50, No 2 (2017): (June 2017) Vol 50, No 1 (2017): (March 2017) Vol 49, No 4 (2016): (December 2016) Vol 49, No 3 (2016): (September 2016) Vol 49, No 2 (2016): (June 2016) Vol 49, No 1 (2016): (March 2016) Vol 48, No 4 (2015): (December 2015) Vol 48, No 3 (2015): (September 2015) Vol 48, No 2 (2015): (June 2015) Vol 48, No 1 (2015): (March 2015) Vol 47, No 4 (2014): (December 2014) Vol 47, No 3 (2014): (September 2014) Vol 47, No 2 (2014): (June 2014) Vol 47, No 1 (2014): (March 2014) Vol 46, No 4 (2013): (December 2013) Vol 46, No 3 (2013): (September 2013) Vol 46, No 2 (2013): (June 2013) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013) Vol 45, No 4 (2012): (December 2012) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012) Vol 45, No 2 (2012): (June 2012) Vol 45, No 1 (2012): (March 2012) Vol 44, No 4 (2011): (December 2011) Vol 44, No 3 (2011): (September 2011) Vol 44, No 2 (2011): (June 2011) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011) Vol 43, No 4 (2010): (December 2010) Vol 43, No 3 (2010): (September 2010) Vol 43, No 2 (2010): (June 2010) Vol 43, No 1 (2010): (March 2010) Vol 42, No 4 (2009): (December 2009) Vol 42, No 3 (2009): (September 2009) Vol 42, No 2 (2009): (June 2009) Vol 42, No 1 (2009): (March 2009) Vol 41, No 4 (2008): (December 2008) Vol 41, No 3 (2008): (September 2008) Vol 41, No 2 (2008): (June 2008) Vol 41, No 1 (2008): (March 2008) Vol 40, No 4 (2007): (December 2007) Vol 40, No 3 (2007): (September 2007) Vol 40, No 2 (2007): (June 2007) Vol 40, No 1 (2007): (March 2007) Vol 39, No 4 (2006): (December 2006) Vol 39, No 3 (2006): (September 2006) Vol 39, No 2 (2006): (June 2006) Vol 39, No 1 (2006): (March 2006) Vol 38, No 4 (2005): (December 2005) Vol 38, No 3 (2005): (September 2005) Vol 38, No 2 (2005): (June 2005) Vol 38, No 1 (2005): (March 2005) More Issue