cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Obstetri & Ginekologi
Published by Universitas Airlangga
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 110 Documents
Pengaruh Tingkat Stres dan Kadar Kortisol dengan Jumlah Folikel Dominan pada Penderita Infertilitas yang Menjalani Fertilisasi Invitro Setiyono, Awik; Prasetyo, Budi; Maramis, Margarita
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.273 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.128-132

Abstract

 Tujuan: Mempelajari hubungan antara tingkat stres dan kadar kortisol darah dengan jumlah folikel dominan pada pasien infertilitas yang menjalani prosedur fertilisasi in vitroBahan dan Metode: Studi ini merupakan penelitian analitik cross sectionaldi dua klinik infertilitas di Surabaya selama 4 bulan. Didapatkan 30 subyek penelitian yang diambil data mengenai tingkat stres dengan menggunakan 2 kuisioner yaitu Percieved Stres Scale-10 (PSS-10) dan Infertility Reaction Scale (IRS) dan kadar kortisol darah sewaktu pagi. Subyek penelitian kemudian menjalani prosedur stimulasi ovarium dan dilakukan penghitung-an jumlah folikel dominan sebelum dilakukan tindakan ovum pick upHasil: Dengan menggunakan hasil analisa statistik korelasi Spearman didapatkan hasil hubungan negatif antara tingkat stres menggunakan skoring PSS-10 (r=0,64; p<0,01) dan juga IRS (r=0,83; p<0,01) dengan jumlah folikel dominan. Didapatkan pula hubungan negatif antara kadar kortisol darah dengan jumlah folikel dominan (r=0,80 p<0,01).Simpulan: Tingkat stres dapat berdampak pada jumlah folikel dominan. Kadar kortisol yang tinggi dapat menyebabkan jumlah folikel dominan semakin menurun. 
Anemia sebagai Faktor Risiko Peningkatan Skor Kehamilan Berdasarkan Kartu Skor Poedji Rochjati Ditaningtias, Siska; Sulistiyono, Agus; Indawati, Rachmah
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.883 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.90-96

Abstract

  Tujuan: Menganalisis 28 faktor risiko ditambah dengan 4 faktor risiko dari register kohort ibu, yang dominan mengakibatkan peningkatan skor Poedji Rochjati atau peningkatan kategori kehamilan.Bahan dan Metode: Ini adalah penelitian data sekunder secara cross sectional yang dilakukan pada bulan Agustus – November 2014, menggunakan data dari register kohort ibu tahun 2009 – 2013 wilayah Kerja Puskesmas Kebonsari Kabupaten Madiun. Teknik pengumpulan data adalah menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati yang skornya sudah ada pada register kohort ibu. Populasi adalah semua ibu hamil yang ada pada register kohort ibu Puskesmas Kebonsari tahun 2009 – 2013. Sampel diambil dengan rumus penghitungan sampel penelitian survey cross sectional secara proporsi dan sesuai dengan kriteria inklusi sejumlah 147 ibu hamil.Hasil: Dari 32 faktor risiko yang dianalisis, hanya 8 yang mempunyai pengaruh meningkatkan skor Poedji Rochjati, dan hanya 1 yang bermakna secara statistik yaitu kurang darah (anemia). Dari 8 faktor risiko, anemia adalah faktor risiko terbesar yang mempu meningkatkan skor Poedji Rochjati seorang ibu hamil sepanjang kehamilannya. Berikut nilai ke depalan faktor risiko tersebut : anemia (6,737), jumlah Ante Natal Care (3,474), terlalu banyak anak (1,261), terlalu cepat hamil lagi (1,167), terlalu tua (1,146), pernah gagal kehamilan (1,114), Indeks Massa Tubuh (1,107), terlalu lama hamil lagi (1,051).Simpulan: Ibu hamil dengan anemia mempunyai risiko sebesar 6,737 kali untuk mengalami peningkatan skor dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak anemia. 
Stres Infertilitas Menghambat Maturasi Oosit dan Hasil Fertilisasi In Vitro Hendarto, Hendy
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 1 (2015): Januari - April 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.029 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I12015.17-21

Abstract

Tujuan: Melakukan evaluasi hubungan antara stres infertilitas terhadap maturasi oosit dan hasil fertilisasi in vitro.Bahan dan Metode: Penelitian ini adalah studi potong lintang analitik observasional. Dilakukan di klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD Dr Soetomo Surabaya. Tercatat 30 subyek penelitian perempuan infertil yang mengikuti fertilisasi in vitro dan telah dilakukan evaluasi tingkat stres dengan menggunakan Infertility Reaction Scale. Maturasi oosit dan hasil fertilisasi dicatat. Hubungan antara stres infertilitas, maurasi oosit dan hasil fertilisasi dihitung dengan Anova.Hasil: Semua subyek penelitian yang mengikuti fertilisasi in vitro mengalami stres infetilitas dari kadar ringan sampai berat. Pada kelompok tingkat stres infertilitas berat didapatkan oosit matur lebih sedikit (p=0.01). Pada kelompok tingkat stres infertilitas ringan didapatkan oosit matur lebih banyak (p=0.00). Tingkat stres infertilitas berat akan menghasilkan fertilisasi lebih sedikit (p=0.00)Simpulan: Semakin berat stres infertilitas akan menghambat maturasi oosit dan hasil fertilisasi in vitro.
Pengaruh Monoklonal Antibodi Bovine Zona Pelusida 3 (bZP3) terhadap Diameter dan Atresia Folikel Ovarium Mencit (Mus musculus) Trissatharra, Annisa; Dwiningsih, Sri Ratna; Munir, Ratna Sofaria
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 24, No 1 (2016): Januari - April 2016
Publisher : Majalah Obstetri & Ginekologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mog.v24i1.2764

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh antibodi monoklonal bZP3 dalam folikel ovarium yang mengalami atresia dan diameter berbagai folikel ovarium.Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental sejati dengan post only control group design. Sampel berupa 36 mencit (Mus musculus) betina yang terbagi menjadi 6 kelompok, 3 kelompok kontrol (kelompok 1, 2, dan 3) diberi Phospatase Buffer Saline (PBS) 50 µl dan 3 kelompok perlakuan (kelompok 4, 5, dan 6) diberi Mab bZP3 50 µl. Kelompok 1 dan 4 dihentikan pada hari ke-5, kelompok 2 dan 5 dihentikan pada hari ke-10, dan kelompok 3 dan 6 dihentikan pada hari ke-20. Evaluasi folikel atresia ovarium dan diameter folikel ovarium dilakukan dengan hematoxylin eosin (HE) dan data diolah dengan statistik parametrik.Hasil: Tidak ada perbedaan signifikan pada berbagai aspek folikel atresia dan diameter folikel (p> 0,05), namun secara deskriptif, jumlah folikel yang mengalami atresia pada kelompok perlakuan primer, sekunder, dan tersier lebih tinggi daripada kelompok kontrol, kecuali pada hari ke-20 waktu observasi.Simpulan: Pemberian Mab bZP3 tidak berpengaruh terhadap jumlah folikel atresia dan diameter folikel selama waktu pengamatan.
Tingginya Infeksi Chlamydia trachomatis pada Kerusakan Tuba Fallopi Wanita Infertil Sariroh, Wafirotus; Primariawan, Relly Yanuari
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 2 (2015): Mei - Agustus 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.1 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I22015.69-74

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui gambaran infeksi C. trachomatis pada kerusakan tuba fallopi wanita infertil.Bahan dan Metode: Penelitian ini melibatkan 42 wanita yang menjalani laparoskopi dalam tata laksana infertilitasnya. Infeksi C. trachomatis diperiksa menggunakan metode PCR dari usapan endoserviks dan IgG C. trachomatis diperiksa menggunakan metode ELISA dari darah vena. Kondisi tuba fallopi dilakukan evaluasi saat laparoskopi.Hasil: Didapatkan C. trachomatis sebesar 14,29% dari PCR usapan endoserviks dan 38,10% dari IgG C. trachomatisdi darah. Sebagian besar tuba fallopi pada subyek dengan infeksi C. trachomatis menunjukkan kerusakan, ditandai adanya adhesi perituba, oklusi tuba, fimosis fimbria atau hidrosalping saat laparoskopi. IgG C. trachomatis berbeda signifikan pada kerusakan tuba fallopi (p = 0. 01), sedangkan endometriosis dan riwayat operasi sebagai faktor risiko tidak didapatkan perbedaan yang signifikan (p = 0. 26 dan p = 0. 27). Subyek dengan IgG C. trachomatis memiliki OR: 5. 5 (95% CI 1. 42-21. 7)untuk terjadi kerusakan tuba fallopi. IgG C. trachomatis memiliki sensitifitas 62,5%, spesifisitas 81,25%, PPV 62,5% dan NPV 81,25% dalam mendeteksi kerusakan tuba fallopi bila dikonfirmasi dengan hasil laparoskopi.Simpulan: Angka kejadian infeksi C. trachomatis pada wanita infertil cukup tinggi. Pemeriksaan IgG C. trachomatis dapat menjadi penanda adanya kerusakan tuba fallopi.
Keikutsertaan Kelas Ibu Hamil Berpengaruh terhadap Pengetahuan dan Sikap Ibu dalam Praktik Inisiasi Menyusu Dini Sihsilya R, Elsa Budi; Kuntoro, Kuntoro; Trijanto, Bambang
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 24, No 1 (2016): Januari - April 2016
Publisher : Majalah Obstetri & Ginekologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mog.v24i1.2755

Abstract

Tujuan: mengetahui pengaruh keikutsertaan ibu di kelas ibu hamil terhadap praktik IMD pada ibu bayi usia 6-8 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sisir Kota Batu.Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cohort retrospektif. Populasi terbagi menjadi dua, populasi terpapar yang mengikuti kelas ibu hamil saat hamil anak terakhir dan populasi tidak terpapar ibu yang tidak mengikuti kelas ibu hamil. Besar sampel 32 responden. Analisis data dengan uji chi square.Hasil: Hasil analisis bivariat usia (p value = 0,229), pendidikan (p value = 0,1790, paritas (p value = 0,011), pengetahuan (p value = 0,047), sikap (p value = 0,893), riwayat persalinan (p value = 0,021), informasi (p value = 0,472), penolong persalinan (p value = 0,017), tempat persalinan (p value = 0,003), keikutsertaan kelas ibu hamil (p value = 0,27), pengambil keputusan (p value = 0,137), penyuluhan saat hamil (0,16) Hasil analisis menunjukkan variabel yang signifikan adalah paritas (p=0,011), pengetahuan (p=0,047), penolong persalinan (p=0,017), tempat persalinan (0,003), riwayat persalinan (p=0,021), penyuluhan saat hamil (p=0,010).Simpulan: penelitian ini tidak ada pengaruh keikutsertaan ibu di kelas ibu hamil terhadap praktik IMD, akan tetapi kelas ibu hamil berpengaruh terhadap pengetahuan dan sikap ibu. Pengetahuan berpengaruh terhadap praktik IMD.
Kurkumin Menurunkan Ekspresi Tumor Necrosis Factor (TNF)-α Kompleks Oosit-Kumulus Sapi pada Kultur dengan Zalir Peritoneum Penderita Infertil Terkait Endometriosis Ardianta W, MY; Hendarto, Hendy; Widjiati, Widjiati
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.39 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.133-139

Abstract

Tujuan: Mempelajari pengaruh pemberian kurkumin terhadap ekspresi tumor necrosis factor (TNF)-α kompleks oosit-kumulus (KOK) sapi pada kultur zalir peritoneum penderita infertil dengan endometriosis ringan dan berat.Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni yang dilaksanakan di Laboratorium Embrio-logi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga antara April sampai Agustus 2014. Zalir peritoneum diambil dari penderita infertil dengan endometriosis ringan, endometriosis berat, dan non-endometriosis yang menjalani laparoskopi diagnosis di Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD dr. Sutomo Surabaya, RS Bersalin Putri Surabaya, RSIA Kendangsari Surabaya, RS Universitas Airlangga Surabaya. Masing-masing zalir peritoneum endometriosis ringan dan berat dibagi lagi menjadi zalir peritoneum endometriosis dengan kurkumin dan tanpa kurkumin. Zalir peritoneum non endometriosis dikelompok-kan menjadi zalir peritoneum penderita non endometriosis tanpa dan dengan kurkumin. KOK sapi diambil secara consecutive sampling dari aspirasi folikel antral diameter 3–8 mm dari ovarium sapi yang berasal dari Rumah Potong Hewan Surabaya kemudian secara acak dengan randomisasi sederhana dikultur dalam tujuh kelompok. Kelompok 1 ditempatkan dalam tissue culture medium 199 (TCM-199) saja. Kelompok 2, 3 dan 4 TCM-199 ditambah masing-masing 3% zalir peritoneum penderita infertil dengan endometriosis ringan, berat dan non-endometriosis. Kelompok 5, 6, dan 7 media TCM-199 ditambah masing-masing 3% zalir peritoneum penderita infertil dengan endometriosis ringan, berat dan non-endometriosis dan dengan kurkumin 20 µg/ml.Hasil: Uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan yang bermakna ekspresi TNF-α pada ketujuh kelompok (p<0,0001). Uji Mann-Whitney juga menunjukkan bahwa ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok endometriosis ringan dengan kurkumin (ER+C) lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok endometriosis ringan tanpa kurkumin (ER). Ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok endometriosis berat dengan kurkumin (EB+C) lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok endometriosis berat tanpa kurkumin (EB). Uji Mann-Whitney menunjukkan ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok ER lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kontrol ataupun kelompok non endometriosis (NE). Ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok EB lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kontrol ataupun kelompok NE. Ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok EB tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan kelompok ER.Simpulan: Pemberian kurkumin dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai terapi tambahan pada penderita infertil terkait endometriosis. 
Demografi, Respon Terapi dan Survival rate Pasien Kanker Serviks Stadium III-IVA yang Mendapat Kemoterapi Dilanjutkan Radioterapi Amin, Yuski; Mulawardhana, Pungky; Erawati, Dyah
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.506 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.97-105

Abstract

 Tujuan: Mengetahui demografi pasien kanker serviks III-IVa, respon terapi dan survival rate pasien kanker serviks stadium III-IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2011-2013.Bahan dan Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif rektrospektif dengan menggunakan rekam medis Poli Onkologi Kandungan dan SMF/Instalasi Radioterapi RSUD Dr.Soetomo. Subyek penelitian adalah pasien kanker serviks III-IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi mulai Januari 2011 sampai Desember 2013. Analisis statistika pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis survival meng-gunakan metode Kaplan Meier.Hasil: Selama tahun 2011-2013 didapatkan kunjungan pasien baru kanker serviks III-IVA sebanyak 648 pasien. Jumlah pasien kanker serviks IIIA sebanyak 48 kasus, stadium IIIB sebanyak 594 kasus dan stadium IVA sebanyak 6 kasus. Jumlah pasien kanker serviks III–IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi selama tahun 2011-2013 sebanyak 77 pasien. Pasien kanker serviks stadium IIIA sebanyak 8 pasien, stadium IIIB sebanyak 69 pasien. Tidak ada pasien kanker serviks stadium IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi. Respon terapi komplet sebesar 88,3% dan respon terapi inkomplet sebesar 11,7%. Analisis survival dengan metode Kaplan-Meier didapatkan 2-YSR dan 3-YSR kanker serviks stadium IIIA sebesar 86% dan 34%. Pada stadium IIIB didapatkan 2-YSR dan 3-YSR sebesar 47% dan 25%.Median survival pada semua kelompok pada penelitian ini adalah 25 bulan.Simpulan: Jumlah pasien kanker serviks III-IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi selama tahun 2011-2013 sebanyak 77 pasien. Respon terapi komplet pasca radioterapi sebesar 88,3% dan respon terapi inkomplet sebesar 11,7%. Hasil analisis survival didapatkan 2-YSR dan 3-YSR kanker serviks stadium IIIA sebesar 86% dan 34%. Pada stadium IIIB didapatkan 2-YSR dan 3-YSR sebesar 47% dan 25%. 
Cleaved caspase-3 sebagai Uji Apoptosis pada Kanker Serviks IIB Tipe Sel Skuamosa yang Mendapat Kemoterapi Neoadjuvan Cisplatin Putra, Andra Kusuma; Askandar, Brahmana; Mustokoweni, Sjahjenny
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 1 (2015): Januari - April 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.878 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I12015.22-27

Abstract

Tujuan: mencari peningkatan ekspresi cleaved caspase-3 pada pasien kanker serviks IIB tipe sel skuamosa sesudah pemberian kemoterapi neoadjuvan cisplatin dan mencari kapan waktu yang tepat untuk mendeteksi apoptosis menggunakan cleaved caspase-3. Bahan dan Metode: Jenis penelitian analitik observasional berpasangan. Dilakukan pada penderita kanker serviks IIB tipe sel skuamosa berdasarkan kriteria FIGO yang berobat di POSA RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2014. Sebelum dilakukan terapi semua penderita diambil biopsi serviks. Kemudian penderita diberikan cisplatin 50mg/m2/minggu Diambil biopsi serviks setelah diberikan kemoterapi ke 1 dan ke 4 (maksimal 8 jam setelah kemoterapi, sampel kedua). Sampel diperiksakan imunohistokimia cleaved caspase 3. Dilakukan penghitungan ekspresi cleaved caspase 3 di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x pada 10 lapang pandang. Pengujian statistik dilakukan dengan nilai kemaknaan p<0,05.Hasil: Rata-rata ekspresi cleaved caspase 3 sebelum kemoterapi adalah 1,46± 1,854. Setelah kemoterapi ke 1 didapatkan rata- rata 10,77± 3,655.Setelah kemoterapi ke 4 didapatkan rata- rata 12,77± 5,703. Pada pemeriksaan didapatkan ekspresi cleaved caspase 3 setelah pemberian kemoterapi lebih meningkat dibandingkan sebelum pemberian kemoterapi (p<0,01), sedangkan ekspresi cleaved caspase 3 setelah kemoterapi ke 1 dan ke 4 tidak didapat-kan perbedaan bermakna (p=0,882).Simpulan: Pemberian kemoterapi terbukti memberikan efek peningkatan ekspresi cleaved caspase-3. Sehingga cleaved caaspase-3 dapat dijadikan sebagai salah satu uji apoptosis pada efek kemoterapi terhadap sel kanker.
Infeksi Saluran Kemih Sebagai Faktor Risiko Terjadinya Ancaman Persalinan Preterm Masteryanto, Henky Mohammad; Hardianto, Gatut; Joewono, Hermanto Tri; Koendhori, Eko Budi
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 2 (2015): Mei - Agustus 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.307 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I22015.75-81

Abstract

Tujuan: Mengidentifikasi kuman penyebab infeksi saluran kemih sebagai faktor risiko terjadinya ancaman persalinan preterm.Bahan dan Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional cross sectional, dilakukan di Kamar Bersalin dan Poli Hamil RSUD Dr. Soetomo serta di Bagian Mikrobiologi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, pada bulan Januari-April 2015. Penghitungan jumlah koloni dan identifikasi kuman dilakukan melalui pemeriksaan kultur urine porsi tengah dan dilanjutkan dengan tes kepekaan antibiotika. Analisa statistik menggunakan uji Chi square untuk jumlah koloni kuman dan bakteriuria, dan uji Fischer exact untuk jenis kuman, menggunakan perangkat lunak SPSS 20. 0.Hasil: Sampel terdiri dari 20 wanita hamil dengan ancaman persalinan preterm/partus prematurus iminens (PPI) dan 20 wanita hamil normal tunggal dengan usia kehamilan 28-36 minggu. Perbandingan antara jumlah koloni kuman kedua kelompok secara statistik tidak signifikan, dengan nilai p=0,063 (p>0,05), perbedaan jenis kuman yang ditemukan antara kedua kelompok secara statistik tidak signifikan, dengan nilai p=0,058 (p>0,05).Simpulan: Pada kehamilan dengan ancaman persalinan preterm 80% didapatkan pertumbuhan kuman Staphylococcus epidermidis (30%) dan Escherichia coli (15%). Jumlah koloni kuman aerob urine pada kehamilan dengan ancaman persalinan preterm lebih banyak dibandingkan dengan kehamilan tanpa ancaman persalinan preterm, tetapi secara statistik tidak berbeda bermakna. Risiko terjadinya PPI pada wanita hamil dengan jumlah koloni kuman urine >105 cfu/mL 3 kali lebih besar dibanding wanita hamil dengan jumlah koloni <105 cfu/mL. Jenis kuman aeroburine pada kehamilan dengan dan tanpa ancaman persalinan preterm hampir sama.

Page 2 of 11 | Total Record : 110