cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Majalah Obstetri & Ginekologi
Published by Universitas Airlangga
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015" : 7 Documents clear
Pemberian Topikal Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) pada Hewan Coba Mencit (Mus musculus) Bunting Meningkatkan Kepadatan Kolagen Jaringan Vagina Djunaidi, Fauzan; Mardiyan K, Eighty; Widjiati, Widjiati
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.42 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.118-127

Abstract

 Tujuan: Menganalisis pengaruh pemberian gel ekstrak air daun pepaya terhadap kepadatan kolagen jaringan vagina pasca melahirkan pada hewan coba mencit saat bunting.Bahan dan Metode: Desain penelitian randomized post test only control group,dilakukan di Departemen Embriologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, pada bulan April-Juni 2015. Terdapat empat kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 8 mencit bunting. Kelompok kontrol (tanpa perlakuan) dan kelompok perlakuan berupa pemberian topikal ekstrak daun pepaya konsentrasi 5%, 10% dan 15%, 1x/hari pervaginam, sejak usia kebuntingan hari ke-12 sampai melahirkan. Lama perlakuan 6-8 hari. Setelah melahirkan, mencit dikorbankan dan diperiksa kepadatan kolagen dengan pewarnaan HE. Uji statistik yang dipakai uji parametrik dan nonparametrik disertai uji komparasi gandaHasil: Kepadatan kolagen berdasarkan skor didapatkan nilai median pada kelompok I = 3,5 (3-4); kelompok II = 4 (4-4); kelompok III = 3 (3-4); kelompok IV = 4 (3-4) dengan uji Kruskal-Wallis (p=0,036) menunjukkan perbedaan signifikan, dilanjutkan uji beda tiap kelompok Mann-Whitney, hasilnya tidak didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok kontrol dengan masing-masing kelompok perlakuan. Kepadatan kolagen berdasarkan persentase didapatkan nilai rerata pada kelompok I = 90,64%±3,35; kelompok II = 96,19%±1,34; kelompok III = 87,85%±6,69 dan kelompok IV = 92,08%±4,84. Uji Anova menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,032), dilanjutkan uji beda LSD menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok I dan II (p=0,045)Simpulan: pemberian topikal ekstrak daun pepaya konsentrasi 5% pervaginam saat masa kebuntingan mencit meningkatan kepadatan kolagen jaringan vagina pasca melahirkan.
Pengaruh Tingkat Stres dan Kadar Kortisol dengan Jumlah Folikel Dominan pada Penderita Infertilitas yang Menjalani Fertilisasi Invitro Setiyono, Awik; Prasetyo, Budi; Maramis, Margarita
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.273 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.128-132

Abstract

 Tujuan: Mempelajari hubungan antara tingkat stres dan kadar kortisol darah dengan jumlah folikel dominan pada pasien infertilitas yang menjalani prosedur fertilisasi in vitroBahan dan Metode: Studi ini merupakan penelitian analitik cross sectionaldi dua klinik infertilitas di Surabaya selama 4 bulan. Didapatkan 30 subyek penelitian yang diambil data mengenai tingkat stres dengan menggunakan 2 kuisioner yaitu Percieved Stres Scale-10 (PSS-10) dan Infertility Reaction Scale (IRS) dan kadar kortisol darah sewaktu pagi. Subyek penelitian kemudian menjalani prosedur stimulasi ovarium dan dilakukan penghitung-an jumlah folikel dominan sebelum dilakukan tindakan ovum pick upHasil: Dengan menggunakan hasil analisa statistik korelasi Spearman didapatkan hasil hubungan negatif antara tingkat stres menggunakan skoring PSS-10 (r=0,64; p<0,01) dan juga IRS (r=0,83; p<0,01) dengan jumlah folikel dominan. Didapatkan pula hubungan negatif antara kadar kortisol darah dengan jumlah folikel dominan (r=0,80 p<0,01).Simpulan: Tingkat stres dapat berdampak pada jumlah folikel dominan. Kadar kortisol yang tinggi dapat menyebabkan jumlah folikel dominan semakin menurun. 
Anemia sebagai Faktor Risiko Peningkatan Skor Kehamilan Berdasarkan Kartu Skor Poedji Rochjati Ditaningtias, Siska; Sulistiyono, Agus; Indawati, Rachmah
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.883 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.90-96

Abstract

  Tujuan: Menganalisis 28 faktor risiko ditambah dengan 4 faktor risiko dari register kohort ibu, yang dominan mengakibatkan peningkatan skor Poedji Rochjati atau peningkatan kategori kehamilan.Bahan dan Metode: Ini adalah penelitian data sekunder secara cross sectional yang dilakukan pada bulan Agustus – November 2014, menggunakan data dari register kohort ibu tahun 2009 – 2013 wilayah Kerja Puskesmas Kebonsari Kabupaten Madiun. Teknik pengumpulan data adalah menggunakan Kartu Skor Poedji Rochjati yang skornya sudah ada pada register kohort ibu. Populasi adalah semua ibu hamil yang ada pada register kohort ibu Puskesmas Kebonsari tahun 2009 – 2013. Sampel diambil dengan rumus penghitungan sampel penelitian survey cross sectional secara proporsi dan sesuai dengan kriteria inklusi sejumlah 147 ibu hamil.Hasil: Dari 32 faktor risiko yang dianalisis, hanya 8 yang mempunyai pengaruh meningkatkan skor Poedji Rochjati, dan hanya 1 yang bermakna secara statistik yaitu kurang darah (anemia). Dari 8 faktor risiko, anemia adalah faktor risiko terbesar yang mempu meningkatkan skor Poedji Rochjati seorang ibu hamil sepanjang kehamilannya. Berikut nilai ke depalan faktor risiko tersebut : anemia (6,737), jumlah Ante Natal Care (3,474), terlalu banyak anak (1,261), terlalu cepat hamil lagi (1,167), terlalu tua (1,146), pernah gagal kehamilan (1,114), Indeks Massa Tubuh (1,107), terlalu lama hamil lagi (1,051).Simpulan: Ibu hamil dengan anemia mempunyai risiko sebesar 6,737 kali untuk mengalami peningkatan skor dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak anemia. 
Kurkumin Menurunkan Ekspresi Tumor Necrosis Factor (TNF)-α Kompleks Oosit-Kumulus Sapi pada Kultur dengan Zalir Peritoneum Penderita Infertil Terkait Endometriosis Ardianta W, MY; Hendarto, Hendy; Widjiati, Widjiati
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.39 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.133-139

Abstract

Tujuan: Mempelajari pengaruh pemberian kurkumin terhadap ekspresi tumor necrosis factor (TNF)-α kompleks oosit-kumulus (KOK) sapi pada kultur zalir peritoneum penderita infertil dengan endometriosis ringan dan berat.Bahan dan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni yang dilaksanakan di Laboratorium Embrio-logi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga antara April sampai Agustus 2014. Zalir peritoneum diambil dari penderita infertil dengan endometriosis ringan, endometriosis berat, dan non-endometriosis yang menjalani laparoskopi diagnosis di Klinik Fertilitas Graha Amerta RSUD dr. Sutomo Surabaya, RS Bersalin Putri Surabaya, RSIA Kendangsari Surabaya, RS Universitas Airlangga Surabaya. Masing-masing zalir peritoneum endometriosis ringan dan berat dibagi lagi menjadi zalir peritoneum endometriosis dengan kurkumin dan tanpa kurkumin. Zalir peritoneum non endometriosis dikelompok-kan menjadi zalir peritoneum penderita non endometriosis tanpa dan dengan kurkumin. KOK sapi diambil secara consecutive sampling dari aspirasi folikel antral diameter 3–8 mm dari ovarium sapi yang berasal dari Rumah Potong Hewan Surabaya kemudian secara acak dengan randomisasi sederhana dikultur dalam tujuh kelompok. Kelompok 1 ditempatkan dalam tissue culture medium 199 (TCM-199) saja. Kelompok 2, 3 dan 4 TCM-199 ditambah masing-masing 3% zalir peritoneum penderita infertil dengan endometriosis ringan, berat dan non-endometriosis. Kelompok 5, 6, dan 7 media TCM-199 ditambah masing-masing 3% zalir peritoneum penderita infertil dengan endometriosis ringan, berat dan non-endometriosis dan dengan kurkumin 20 µg/ml.Hasil: Uji Kruskal Wallis menunjukkan perbedaan yang bermakna ekspresi TNF-α pada ketujuh kelompok (p<0,0001). Uji Mann-Whitney juga menunjukkan bahwa ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok endometriosis ringan dengan kurkumin (ER+C) lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok endometriosis ringan tanpa kurkumin (ER). Ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok endometriosis berat dengan kurkumin (EB+C) lebih rendah secara bermakna dibandingkan kelompok endometriosis berat tanpa kurkumin (EB). Uji Mann-Whitney menunjukkan ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok ER lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kontrol ataupun kelompok non endometriosis (NE). Ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok EB lebih tinggi secara bermakna dibandingkan kontrol ataupun kelompok NE. Ekspresi TNF-α KOK sapi pada kultur kelompok EB tidak didapatkan perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan kelompok ER.Simpulan: Pemberian kurkumin dapat dipertimbangkan untuk digunakan sebagai terapi tambahan pada penderita infertil terkait endometriosis. 
Demografi, Respon Terapi dan Survival rate Pasien Kanker Serviks Stadium III-IVA yang Mendapat Kemoterapi Dilanjutkan Radioterapi Amin, Yuski; Mulawardhana, Pungky; Erawati, Dyah
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.506 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.97-105

Abstract

 Tujuan: Mengetahui demografi pasien kanker serviks III-IVa, respon terapi dan survival rate pasien kanker serviks stadium III-IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi di RSUD Dr. Soetomo Surabaya tahun 2011-2013.Bahan dan Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif rektrospektif dengan menggunakan rekam medis Poli Onkologi Kandungan dan SMF/Instalasi Radioterapi RSUD Dr.Soetomo. Subyek penelitian adalah pasien kanker serviks III-IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi mulai Januari 2011 sampai Desember 2013. Analisis statistika pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis survival meng-gunakan metode Kaplan Meier.Hasil: Selama tahun 2011-2013 didapatkan kunjungan pasien baru kanker serviks III-IVA sebanyak 648 pasien. Jumlah pasien kanker serviks IIIA sebanyak 48 kasus, stadium IIIB sebanyak 594 kasus dan stadium IVA sebanyak 6 kasus. Jumlah pasien kanker serviks III–IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi selama tahun 2011-2013 sebanyak 77 pasien. Pasien kanker serviks stadium IIIA sebanyak 8 pasien, stadium IIIB sebanyak 69 pasien. Tidak ada pasien kanker serviks stadium IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi. Respon terapi komplet sebesar 88,3% dan respon terapi inkomplet sebesar 11,7%. Analisis survival dengan metode Kaplan-Meier didapatkan 2-YSR dan 3-YSR kanker serviks stadium IIIA sebesar 86% dan 34%. Pada stadium IIIB didapatkan 2-YSR dan 3-YSR sebesar 47% dan 25%.Median survival pada semua kelompok pada penelitian ini adalah 25 bulan.Simpulan: Jumlah pasien kanker serviks III-IVA yang mendapat kemoterapi dilanjutkan radioterapi selama tahun 2011-2013 sebanyak 77 pasien. Respon terapi komplet pasca radioterapi sebesar 88,3% dan respon terapi inkomplet sebesar 11,7%. Hasil analisis survival didapatkan 2-YSR dan 3-YSR kanker serviks stadium IIIA sebesar 86% dan 34%. Pada stadium IIIB didapatkan 2-YSR dan 3-YSR sebesar 47% dan 25%. 
Perbedaan Kadar IL-10 pada Preeklampsia Tipe Dini dan Lambat Danianto, Ario; Ernawati, Ernawati
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.746 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.106-111

Abstract

 Tujuan: Menganalisis perbedaan kadar IL-10 antara preeklamp-sia tipe dini dan preeklampsia tipe lambat.Bahan dan Metode: Penelitian ini melibatkan 56 wanita hamil yang terbagi menjadi empat kelompok, yaitu wanita hamil normal usia kehamilan 30-34 minggu, wanita hamil normal usia > 34 minggu, preeklampsia berat tipe dini (30-34 minggu), preeklampsia berat tipe lambat (> 34minggu). Pemeriksaan IL-10 dilakukan saat penderita masuk rumah sakit dan didiagnosis sebagai preeklampsia dengan menggunakan metode ELISAHasil: Rerata kadar IL-10 pada kelompok preeklampsia tipe dini (0,37 ± 0,14) lebih rendah dibandingkan kelompok preeklampsia tipe lambat (0,87 ± 0,43) dengan P<0,001. Rerata kadar IL-10 pada kelompok preeklampsia tipe dini (0,37 ± 0,14) lebih rendah dibandingkan kelompok wanita hamil normal usia 30 -34 minggu (0,84 ± 0,42) dengan P<0,001. Tidak didapatkan perbedaan rerata kadar IL-10 pada kelompok preeklampsia tipe lambat (0,87 ± 0,43) dibandingkan kelompok wanita hamil normal usia > 34minggu (0,75 ± 0,68) P=0,22.Simpulan: Keadaan inflamasi berat terjadi pada preeklampsia berat tipe dini.
Oxygen Hyperbaric Exposure Induces GLUT4 Expression Reduction and No Folliculogenesis Alterations in Rat PCOS with Insulin Resistance Model Veterini, Varianida; Santoso, Budi; Widjiati, Widjiati
Majalah Obstetri & Ginekologi Vol 23, No 3 (2015): September - Desember 2015
Publisher : Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Airlangga University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.02 KB) | DOI: 10.20473/mog.V23I32015.112-117

Abstract

 Objectives: To know effect of hyperbaric oxygen therapy to GLUT4 expression and folliculogenesis in rat PCOS with insulin resistent model.Materials and Methods: this is an analytic experimental study used 30 rats induced by testosterone propionate injection 1 mg/100 g body weight daily for 28 consecutive days as a PCOS with insulin resistent model. Animal models divided into 3 groups. Negative control was not given treatment, positive control was given placebo. Treatment group was given hyperbaric oxygen 2.4 ATA 90 minutes 2x5 days. GLUT4 expression determined by immunohystochemistry to m. Gastrocnemius. Hematoxylin Eosin staining to rat ovaries were performed to know differentiation in folliculogenesis. The results were then compared.Results: There were significant decrease of GLUT4 expression in treatment group (mean0,84+0,47)compared to negative and positive control (mean3,96+3,16and3,36+2,17). There were no different folliculogenesis in these groups.Conclusion: Hyperbaric oxygen 2.4 ATA 90 minutes 2x5 days induce decrease of GLUT4 expression and no alterations in folliculogenesis in rat PCOS with insulin resistent model, therefore can not yet be used as alternative therapy in PCOS.  

Page 1 of 1 | Total Record : 7