cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles 415 Documents
Penelusuran Ideologi Dalam Novel Ayat-Ayat Cinta: Sebuah Analisis Tematis dan Estetis --, Rohim
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 5 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.118 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v16i5.489

Abstract

A writer can express his universe of mind in a literary work. Everything he pours out in literary text are the ideas he would like to share to the readers. Such collection of ideas can be seen as an ideology, at least the ideology of the writer. The presence of ideology is aimed to offer changes, improve the exixtent system, or even extremely change a culture. An ideology which is expressed in a literary work has “hands”, which can change the life process through the writer’s ideas and expressions. This can be seen in the ideas implied in the novel “ Ayat-ayat cinta”/ The Verses of love, which give a real picture of how a “thorough” islamic teaching gets conflicted with a complex social realities. In addition to the ideas implied, this essay will also disclose the esthetic side of the novels. ABSTRAKSeorang sastrawan dapat mengekspresikan semestanya dalam sebuah karya sastra. Semua yang ia tuangkan dalam teks sastra merupakan gagasan-gagasan yang ingin ia katakan kepada pembacanya. Kumpulan gagasan tersebut bisa dikatakan sebagai ideologi, setidaknya ideologi pengarang. Hadirnya ideologi bertujuan untuk menawarkan perubahan, memperbaiki tatanan yang sudah ada, atau bahkan merubah total kebiasaan yang sudah menahun. Ideologi yang dituangkan dalam karya sastra mempunyai ‘tangan’ yang dapat mengubah proses kehidupan melalui ungkapan dan gagasan pengarang. Hal demikian salah satunya dapat terlihat dari gagasan-gagasan yang terkandung dalam novel Ayat-Ayat Cinta, memberikan gambaran yang sesungguhnya tentang bagaimana ajaran Islam yang kaffah jika bersinggungan dengan realitas sosial yang kompleks. Selain gagasan dari novel tersebut, tulisan ini juga mengungkap nilai-nilai estetisnya.
PERSEPSI SISWA TERHADAP KOMPETENSI GURU YANG SUDAH DAN BELUM DISERTIFIKASI Sabon, Simon Sili
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.567 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v2i1.454

Abstract

Penelitian ini untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis perbandingan persepsi siswa tentang kompetensi guru antara: 1) guru SD negeri yang sudah dan belum disertifikasi, 2) guru SD swasta yang sudah dan belum disertifikasi, 3) guru SMP negeri yang sudah dan belum disertifikasi dan 4) guru SMP swasta yang sudah dan belum disertifikasi. Data yang digunakan dalam pengkajian ini adalah data primer persepsi siswa tentang kompetensi guru. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan statistik deskriptif kuantitatif dengan membandingkan proporsi setiap kelompok siswa dalam memberikan penilaian terhadap kompetensi gurunya. Hasil kajian: 1) kompetensi guru SD negeri yang sudah disertifikasi lebih baik daripada yang belum disertifikasi, 2) kompetensi guru SD swasta yang sudah disertifikasi lebih baik daripada yang belum disertifikasi, 3) kompetensi guru SMP negeri yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi, dan 4) kompetensi guru SMP swasta yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi. Kajian ini menyimpulkan persepsi siswa terhadap kompetensi gurunya sebagai berikut: 1) di SD (negeri dan swasta), kompetensi guru yang sudah disertifikasi lebih baik daripada guru yang belum disertifikasi bersertifikat, dan 2) di SMP (negeri dan swasta) kompetensi guru yang belum disertifikasi lebih baik daripada yang sudah disertifikasi.
Model Pembelajaran Teknik Lompat Jangkit Dengan Metode Bermain di Sekolah Dasar Sudarwo, R; Yohanes, Yohanes
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.583 KB)

Abstract

This study aims to describe how far the application of learning models jump technique transmissible by playing methods to improve student achievement in elementary school. Results showed that students more actively involved in learning, they do jump transmissible enthusiastic while playing, so it can be concluded students feel happy to do the jump transmissible by playing methods, as well as students make the mistake of awareness and responsibility of learners doing push ups with pleasure as punishment without being asked by the teacher. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran sejauhmana penerapan model pembelajaran teknik melompat jangkit dengan metode bermain dapat meningkatkan prestasi peserta didik di sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik lebih aktif terlibat dalam pembelajaran, mereka antusias melakukan lompat jangkit sambil bermain, sehingga dapat disimpulkan peserta didik merasa senang melakukan lompat jangkit dengan metode bermain, begitupun ketika peserta didik melakukan kesalahan dengan kesadaran dan tanggung jawab peserta didik melakukan push updengan senang sebagai hukuman tanpa diminta oleh guru.
“Kompetensi” Sebagai Landasan Konseptual Kebijakan Kurikulum Sekolah di Indonesia Somantrie, Hermana
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 6 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3970.735 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v16i6.497

Abstract

The concept of “competency” has been applied in school’s curriculum in Indonesia in the early of twenty-first century. Competency includes knowledge, attitude, and skills. The integration of competency through curriculum has given a new perspective in education world of Indonesia. Such curriculum is labelle specifically as “Competency-Based Curriculum” or (in Bahasa Indonesia) is “Kurikulum Berbasis Kompetensi”. Traditionally, curriculum has always been labelled by the year of its promulgation. For example, the 1975 Curriculum was promulgated in 1975. This kind of curriculum labelling was also applied to the 1984 Curriculum and the 1994 Curriculum. ABSTRAKKonsep kompetensi telah digunakan dalam kurikulum sekolah di Indonesia pada awal abad ke-21. Kompetensi mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Integrasi kompetensi melalui kurikulum telah memberikan perspektif baru dalam pendidikan di Indonesia. Kurikulum semacam ini dinamakan dengan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Secara tradisional, kurikulum di Indonesia diberikan label sesuai dengan tahun pemberlakuannya, seperti Kurikulum 1975 diberlakukan tahun 1975, begitu pula Kurikulum 1994 dan Kurikulum 2004.
Membangun Karakter Bangsa Berbasis Sastra: Kajian terhadap Materi Karya Sastra di Sekolah Menengah Atas Septiningsih, Lustantini
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 21, No 1 (2015)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.258 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v21i1.177

Abstract

This article aims to examine the material of literary works used in Indonesian teaching materials in senior secondary schools. This study focuses on the analysis themes of literary works. Therefore, this research employs structural theory approach. In relation with data explanation, the method utilizes descriptive method. The results of the study shows that the teaching materials displays the theme of love, care, hard work, helpfulness, education, cooperation, and leadership. It concludes that the literary works in Indonesian teaching materials in senior secondary schools can be employed to build students’ character. However, only by reading the literary works is not necessarily the character is build, it must be done through the activity of appreciation, for example by performing expression or creation.ABSTRAK Penulisan artikel ini bertujuan mengkaji materi karya sastra yang digunakan dalam bahan ajar buku bahasa Indonesia di sekolah menengah atas. Kajian ini menitikberatkan analisis tema karya sastra. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan pendekatan teori struktural. Dalam kaitannya dengan pemaparan data, metode yang digunakan adalah metode diskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa tema karya sastra yang digunakan dalam bahan ajar tersebut adalah tema cinta, kepedulian, bekerja keras, suka menolong, pendidikan, bekerja sama, dan kepemimpinan. Simpulannya adalah bahwa materi karya sastra dalam bahan ajar buku bahasa Indonesia di sekolah menengah atas dapat digunakan untuk membangun karakter. Namun, hanya dengan membaca karya sastra tidak serta merta karakter itu terbangun, tetapi harus dilakukan melalui kegiatan apresiasi, seperti ekspres atau kreasi.
PENGARUH METODE PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA BAHASA INGGRIS Pelenkahu, Noldy
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 68 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4202.997 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh metode pembelajaran dan motivasi belajar terhadap keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa SMA Negeri 4 Kendari. Penelitian ini dilaksanakan pada SMA Negeri 4 Kendari Sulawesi Tenggara. Sampel penelitian dipilih menggunakan teknik Multi Stage Random Sampling sebanyak 56 orang siswa. Data penelitian ini meliputi data keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa (Y) dan motivasi belajar bahasa Inggris (X). Instrumen penelitian dikembangkan dengan cara menyusun kisi-kisi yang diturunkan dari kerangka teoritis variabel penelitian. Teknik analisis data menggunakan analisis varian dua jalur (ANAVA 2x2) yang dilanjutkan dengan uji Tukey (Uji-t). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar bahasa Inggris tinggi, penggunaan metode pembelajaran Community Language Learning (CLL) memberikan pengaruh lebih baik terhadap keterampilan berbicara bahasa Inggris dibandingkan dengan metode pembelajaran Audiolingual (AL) yang dibuktikan dengan harga Qhitung=96,45>Qtabel=3,09 pada taraf signifikansi (a=0,05) dan kelompok siswa yang memiliki motivasi belajar bahasa Inggris rendah, penggunaan metode pembelajaran Community Language LEarning (CLL) memberikan pengaruh yang baik terhadap keterampilan berbicara bahasa Inggris dibandingkan dengan penggunaan metode pembelajaran Audiolingual (AL) yang dibuktikan dengan harga Qhitung=16,29>Qtabel=3,09 pada taraf signifikansi (a=0,05).
Implementasi Teori Responsi Butir (Item Response Theory) Pada Penilaian Hasil Belajar Akhir di Sekolah --, Sudaryono
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 6 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.292 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v17i6.62

Abstract

Educational measurement, including measurement of learning outcomes include a variety of fields, depending on the object of learning what to measure. Therefore, the problem in this paper are: 1) whether the item response theory or theories of modern tests can cover weaknesses that exist in classical test theory, 2) how the item response theory implementations in addressing issues of national exams so that no advantaged groups and disadvantaged groups as a result of measurement that is not fair? The purpose of writing this article is to explain the implementation of item response theory in a cover up weaknesses in classical test theory and address the issues of national examinations, so that no group is disadvantaged or advantaged as a result of measurement that is not fair. Item response theory is an alternative option that aims to break away from dependence on a given test with a sample of test participants. In this case, although the questions are done by a brilliant student or students who are less intelligent, an indication of the level of difficulty of a problem remains unchanged. There are three assumptions that must be met in item response theory, namely: 1) unidimention; 2) local independence, and 3) invariance. While there are three characteristic points, namely: 1) the item difficulty, 2) the different grains, and 3) the level of true coincidence in point. To measure the ability of the test participants are very diverse in the premises, such as the National Examination, should be used is also an examination or test different levels of difficulty because, to be fair and accurate results. Participants test or exam is working on a test or exam because of different levels of difficulty, it can be compared to his ability, provided the questions in the exam are derived or extracted from a question bank that has been calibrated with the concept of item response theory. ABSTRAKPengukuran pendidikan meliputi pengukuran hasil belajar dari berbagai bidang, tergantung objek hasil belajar apa yang ingin diukur. Oleh karena itu, yang menjadi permasalahan dalam artikel ini: 1) apakah teori responsi butir atau teori tes modern bisa menutupi kelemahan-kelemahan yang ada pada teori tes klasik; 2) bagaimana implementasi teori responsi butir dalam mengatasi permasalahan-permasalahan ujian nasional sehingga tidak ada kelompok yang diuntungkan dan kelompok yang dirugikan akibat pengukuran yang tidak adil? Tujuan dari penulisan artikel ini adalah menjelaskan implementasi teori responsi butir dalam menutupi kelemahan yang ada pada teori tes klasik dan mengatasi permasalahan ujian nasional, sehingga tidak ada kelompok yang dirugikan maupun diuntungkan akibat pengukuran yang tidak adil. Teori responsi butir merupakan alternatif pilihan yang bertujuan melepaskan diri dari ketergantungan tes yang diberikan dengan sampel peserta tes. Dalam hal ini walaupun soal-soal tersebut dikerjakan oleh siswa yang pandai atau siswa yang kurang pandai, indikasi tingkat kesukaran suatu soal tetap tidak berubah. Ada tiga asumsi yang harus dipenuhi dalam teori response butir, yaitu: 1) unidimensi; 2) independensi lokal; dan 3) invariansi sedangkan karakteristik butir ada tiga, yaitu: 1) taraf sukar butir; 2) daya beda butir; dan 3) tingkat kebetulan betul pada butir. Untuk mengukur kemampuan peserta tes yang sangat beragam di Indonesia, seperti Ujian Nasional, seharusnya digunakan juga ujian atau tes yang berbeda tingkat kesukaran soalnya, supaya adil dan juga akurat hasilnya. Peserta tes atau ujian yang mengerjakan tes atau ujian yang berbeda tingkat kesukaran soalnya, tetap bisa dibandingkan kemampuannya, asalkan soal-soal dalam ujian tersebut berasal atau diambil dari bank soal yang sudah dikalibrasi dengan konsep item response theory.
Penerapan Sistem Neuro Associative Conditioning (NAC) pada Guru sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan Agung, Iskandar
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 2 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.888 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v19i2.287

Abstract

A variety of educational and training programs for teachers have long been implemented by the government, but it has not given a significant effect in improving the quality of national education, especially in elementary and secondary education. In fact, even today there are many teachers who have obtained the certificate of an educator, the achievement of quality education tend has not been satisfied. That is because the awarding of educator certification not accompanied by any change in the teacher in carrying out his/her main task. In carrying their tasks, teachers are still stuck, survive, and guided by the old values   that tended to be passive. They are just running errands, in one direction teaching, boring, poor creativity, dependence, and others a like. Instead, teachers have not been able to transform themselves in accordance with the demands of competence and work professionalism, which is marked by attitudes and behavior of active learning, achievement-oriented, creative, doing self-development constantly, and so forth. Explicitly, that the effort to improve the quality of education will be difficult to achieve if it is not accompanied by a change in mind set or way of thinking within teacher. Adoption of NAC conception system as a way to change mind set or way of thinking seems noteworthy and need to be applied to teachers. Through that changes, it is expected to be the driving energy for teachers in carrying their task/ job competently and professionally.ABSTRAK Kajian ini bertujuan untuk membahas keberlangsungan perubahan dalam diri guru, terutama terkait dengan cara berpikir sejalan dengan tuntutan profesionalisme kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara eksplisit, bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan tergantung dari sikap dan perilaku profesionalisme kerja guru. Berbagai perlakuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru mengajar melalui penilaian portofolio dan pendidikan pelatihan profesionalisme guru (PLPG) melalui Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) mengindikasikan masih banyak guru yang telah memperoleh sertifikat pendidik, namun pencapaian mutu pendidikan cenderung masih belum memuaskan. Guru masih terjebak, bertahan, dan berpedoman pada nilai-nilai lama yang cenderung pasif, sekedar menjalankan tugas, pembelajaran searah, membosankan, kurang kreatif, ketergantungan, dan lain sebagainya. Sebaliknya, guru belum mampu mengubah diri sesuai tuntutan kompetensi dan profesionalisme kerja, sikap dan perilaku pembelajaran aktif, berorientasi pada prestasi, interaktif, kreatif, dan melakukan pengembangan diri. Hal ini sulit terwujud apabila tidak disertai dengan perubahan cara berpikir (mind set) diri guru. Pengadopsian konsepsi sistem Neuro Associative Conditioning (NAC) sebagai upaya perubahan cara berpikir, kiranya patut diperhatikan dan diterapkan terhadap guru.
Suasana Kerja dan Pengaruh Kepemimpinan dalam Konteks Pendidikan Dasar Tulung, Mieske Theresia; Kaluge, Laurens
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 18, No 4 (2012)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.597 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v18i4.94

Abstract

This study aimed at discovering the leadership perception in conditioning the working climate at schools. Three objectives of the aim were describing working climate, teachers’ perception on leadership, and the causal relationship between them. The cluster proportionate random sampling obtained 386 teachers from 24 state and private junior-secondary-schools in the city of Manado. Data were collected through questionnaire administration and analyzed using descriptive and inferential methods. Eight leadership constructs and two working climate were proven to be valid and reliable. Using range criteria of 0-4, the averages of working climate were 2.9 and 2.8 for working spirit and creative climate. On the other hand, using the same criteria, the average of the eight leadership sub-scales ranged between 2.55 and 3.19. The regression analyses found that not all of the leadership components were significant factors for developing the school working climate. Disciplining, listening, and supporting were significant factors for teachers’ working spirit. Whereas, the creative climate of teachers was affected significantly by disciplining, listening, supporting, and empowering factors. The results would be of benefit for educational policies and school improvement. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengungkap suasana kerja di sekolah yang dikondisikan oleh persepsi kepemimpinan. Fokus dari tujuan tersebut, yaitu: gambaran suasana kerja, persepsi para guru, dan hubungan kausal antara keduanya. Metode yang ditempuh bersifat kuantitatif. Sampel sebanyak 386 guru diambil dari 24 SMP Negeri dan Swasta di kota Manado secara acak dengan memperhatikan cluster proportionate. Data dianalisis secara deskriptif serta inferensial. Delapan konstrak kepemimpinan dan dua konstrak suasana kerja terbukti valid dan reliabel. Dengan rentangan 0-4, rerata suasana kerja di sekolah sebesar 2,9 untuk semangat kerja, dan 2,8 untuk suasana kreatif. Juga dengan rentangan yang sama, rerata kedelapan subskala kepemimpinan berkisar 2,55 dan 3,19. Analisis regresi mengungkapkan tidak semua komponen kepemimpinan merupakan faktor signifikan untuk pengembangan suasana kerja di sekolah.Kepemimpinan yang mendisiplinkan, mendengarkan, dan mendukung berpengaruh signifikan terhadap semangat kerja para guru, dan pengembangan suasana kreatif dipengaruhi secara signifikan oleh kepemimpinan yang mendisiplinkan, mendengarkan, mendukung, dan memberdayakan. Temuan ini bermanfaat bagi kebijakan pendidikan dan pengembangan sekolah.
AGRESIVITAS SISWA SMK DKI JAKARTA Zamzani, Alif
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 69 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4458.142 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemenuhan Kebutuhan, konsep diri, dan kontrol emosional dengan perilaku agresivitas siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas II SMK DK/ Jakarta dengan jumlah sampel 160 siswa yang dipilih dengan teknik multi stage random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen berskala lima, dan dianalisis dengan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (I) terdapat hubungan negatif signifikan antara pemenuhan kebutuhan dengan perilaku agresivitas, (2) terdapat hubungan negatif signifikan antara konsep diri dengan perilaku agresivitas, (3) terdapat hubungan negatif signifikan antara kontrol emosional dengan perilaku agresivitas. Selain itu, terdapat hubungan negatif signifikan secara bersama-sama antara pemenuhan kebutuhan, konsep diri, dan kontrol emosional dengan perilaku agresivitas. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa untuk menurunkan perilaku agresivitas dapat diatasi dengan meningkatkan pemenuhan kebutuhan, memperbaiki konsep diri, dan memperkuat kontrol emosional siswa.

Page 1 of 42 | Total Record : 415