cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
ISSN : -     EISSN : -
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles
406
Articles
PEDOMAN PENULISAN, INDEKS

-, -

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.137 KB)

Abstract

DAFTAR ISI, EDITORIAL, DAN LEMBAR ABSTRAK VOL.3, NO.2, TAHUN 2018

-, -

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.97 KB)

Abstract

KOMPONEN PEMBELAJARAN PROGRAM LITERASI BUDAYA DI ECO BAMBU CIPAKU

Putra, Ari ( Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Pendidikan Indonesia ) , Ardiwinata, Jajat S ( Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Pendidikan Indonesia ) , Hasanah, Viena Rusmiati ( Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Pendidikan Indonesia )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.973 KB)

Abstract

This study aims to analyze the learning components developed by the Cipaku ECO Bamboo institution, from learning devices, teaching materials and learning methods. Qualitative method used in this study and data collected by interviews, document analysis, and observation. Then, it processed by using triangulation techniques. It’s results revealed that the Cipaku ECO Bamboo institution makes the learning component in accordance with the learning needs of the community. The component is made in the form of a facilitator’s guide for traditional game learning devices containing the value of character education and functioning as learning  direction in accordance with learning signs. The use of expository learning methods in the form of lectures and question and answer is a model used by facilitators to transfer  knowledge of cultural literacy based on traditional games. Thus, the innovation in cultural literacy learning developed at ECO Bambu Cipaku is in the form of a learning device serving as guidance to the learning process of traditional games even though cultural literacy programs through traditional game learning do not yet have special competency standards in the implementation process AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen pembelajaran yang dikembangkan oleh lembaga ECO Bambu Cipaku, mulai dari perangkat pembelajaran, materi ajar dan metode pembelajaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara, analisis dokumen, dan observasi. Pengolahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa lembaga ECO Bambu Cipaku membuat komponen pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar masyarakat. Komponen yang dibuat berupa panduan fasilitator untuk perangkat pembelajaran permainan tradisional yang bermuatan nilai pendidikan karakter dan memiliki fungsi mengarahkan pembelajaran sesuai dengan rambu-rambu pembelajaran. Penggunaan Metode belajar ekspositori berupa ceramah dan tanya jawab merupakan model yang digunakan oleh fasilitator dalam melakukan proses transfer ilmu pengetahuan pembelajaran literasi budaya berbasis permainan tradisional. Dengan demikian, inovasi pada pembelajaran literasi budaya yang dikembangkan di ECO Bambu Cipaku adalah berupa perangkat pembelajaran yang berfungsi sebagai pemandu proses pembelajaran permainan tradisional walaupun program literasi budaya melalui pembelajaran permainan tradisional belum memiliki standar kompetensi khusus dalam proses pengimplementasiannya.

DESAIN VIDEO PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF PADA PENDIDIKAN JARAK JAUH: STUDI DI UNIVERSITAS TERBUKA

Susanti, Elisa ( Program Studi Administrasi Publik Universitas Padjadjaran ) , Harta, Ridho ( Program Studi Administrasi Negara FHISIP Universitas Terbuka ) , Karyana, Ari ( Program Studi Administrasi Negara FHISIP Universitas Terbuka ) , Halimah, Mas ( Program Studi Administrasi Publik Universitas Padjadjaran )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1409.088 KB)

Abstract

 This study aims to design educational videos and to determine the elements that exist in educational videos to be effective to improve students’ understanding, especially for distance learning students. The case study was carried out in the study program of Public Administration of the Indonesia Open University. The research method is evaluation research with descriptive quantitative approach. Through this method, an assessment of the activities and/or outcomes of video design was conducted, as a means to provide feedback for some improvement in video design. The steps in this research were input measurement (video design), output measurement, and outcome measurement (measurement of improvement of student understanding). Data collection techniques included pre-test, posttest, questionnaire, interview, and observation. The results showed that the three designed videos are able to improve student understanding. In order to be effective in enhancing student understanding, video learning elements must include aspects of content, video duration, video media forms, color usage, music and illustrations, presenters, language use, and video-based assignments. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendesain video pembelajaran dan menentukan unsur-unsur yang terdapat dalam video pembelajaran pada pendidikan jarak jauh sehingga dapat efektif untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa. Studi kasus dilakukan di Program Studi Administrasi Publik Universitas Terbuka Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah desain penelitian evaluatif dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Melalui metode ini dilakukan penilaian sistematis terhadap kegiatan dan atau hasil dari suatu program perancangan video sebagai sarana untuk memberikan kontribusi untuk perbaikan perancangan video. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah pengukuran input (berupa perancangan video), pengukuran output, dan pengukuran outcome (berupa pengukuran peningkatan pemahaman mahasiswa). Teknik pengumpulan data yaitu pre test, post test, angket, wawancara, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga desain video yang telah dirancang mampu untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa. Agar dapat efektif dalam meningkatkan pemahaman mahasiswa, unsur-unsur yang terdapat dalam video pembelajaran harus meliputi aspek konten, durasi video, bentuk media video, penggunaan warna, music dan ilustrasi, presenter, penggunaan bahasa, dan penugasan melalui video.   

PEMANFAATAN SARANA LABORATORIUM DI SMA YANG TELAH DAN BELUM MELAKSANAKAN KURIKULUM 2013

Handayani, Meni ( Pusat Peneliltian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.48 KB)

Abstract

This study aims to analyze the utilization of laboratory Physics, Chemistry, Biology and Language in senior secondary school. The research used a survey method in 23 regencies / cities. Sample was 184 schools that had implemented the Curriculum 2013 and those  had not. The results show that the utilization of Biology, Chemistry, and Physics laboratories in schools that had implemented the  curriculum was higher than the utilization in schools that had not implemented it. However, among those which had implemented the curriculum, some still did not have a laboratory because it had been used for classroom or damaged and they were more likely to practice in the classroom comparing to those that had not implemented the  curriculum. The utilization of language laboratory in schools that implement the  curriculum were more frequent than schools that have not implemented the curriculum because many them did not have Language laboratories. Most of the school’s language laboratories were in disrepair.  To conclude, the use of laboratories in senior secondary schools that have implemented the Curriculum 2013 is more frequent than schools that have not.AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pemanfaatan laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, dan Bahasa di SMA. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei di 23 kabupaten/kota. Sampel yang diambil untuk penelitian sebanyak 184 sekolah yang sudah melaksanakan Kurikulum 2013 dan yang belum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan laboratorium Biologi, Kimia, dan Fisika di sekolah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 persentasenya lebih tinggi daripada pemanfaatan di sekolah yang belum melaksanakan kurikulum 2013. Di antara sekolah yang telah melaksanakan kurikulum 2013 masih ada yang tidak memiliki laboratorium karena digunakan untuk kelas atau rusak. Mereka sering melaksanakan praktik di kelas dibandingkan dengan sekolah yang belum melaksanakan Kurikulum 2013. Pemanfaatan laboratorium bahasa di sekolah yang melaksanakan Kurikulum 2013 lebih banyak daripada sekolah yang belum melaksanakan kurikulum 2013. Sekolah yang belum melaksanakan kurikulum 2013 banyak yang tidak memiliki laboratorium bahasa. Sebagian besar laboratorium bahasa yang dimiliki sekolah dalam keadaan rusak. Kesimpulan, pemanfaatan laboratorium pada SMA yang melaksanakan Kurikukum 2013 lebih banyak daripada sekolah yang belum melaksanakannya.   

KORELASI ANTARA IDENTIFIKASI MISKONSEPSI TEORI EVOLUSI DENGAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS ISLAM MADURA

Antika, Linda Tri, Ibana, Lukluk ( Universitas Islam Madura )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.892 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara miskonsepsi teori evolusi dengan hasil belajar. Subyek pada penelitian ini adalah mahasiswa program studi Pendidikan Biologi Universitas Islam Madura. Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional untuk menjelaskan hubungan antara prediktor dan kriterium. Pengukuran miskonsepsi dilakukan dengan cara memberi skor pada hasil angket. Pada penelitian ini, angket beserta rubrik yang digunakan adalah Measure of Acceptance of the Theory of Evolution (MATE). Sedangkan hasil belajar diukur dengan cara tes tulis berupa essay pada pre test dan post test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara miskonsepsi teori evolusi dengan hasil belajar.

CAPAIAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN SEBAGAI PREDIKTOR MUTU SEKOLAH

Raharjo, Sabar Budi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , Yuliana, Lia ( Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta ) , Yudha, Yusuf Hadi ( Fakultas Psikologi Universitas Pancasila )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.775 KB)

Abstract

This research is to obtain information about the achievement of National Education Standards as a predictor or which of them has a significant effect on school quality. The research used a quantitative descriptive approach and secondary data from BAN-SM Year 2015. From the data, 506 A acrredited schools were selected as sample. Those schools then were ranked from the lowest to the highest score to be made quartile score. The results showed that, based on A accredited schools grouped on the average quantitative achievement of the National Exam, it did not show significant difference among quartile 3, 4 and 5. In addition, the effect of the fulfillment of the eight of National Standards of Education on the achievement of school quality (National Exam value) simultaneously statistically significant. Standards which have a significant influence on school quality are the standard of Content, Graduate Competencies, Educators and Educational Personnel, Facilities & Infrastructure, and Management. The results indicated that there were only five standards that have positive and significant effect on the achievement of school quality, while the other three standards, namely, Process, Financing and Assessment had no significant effect. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang capaian Standar Nasional Pendidikan  sebagai prediktor atau yang berpengaruh secara signifikan terhadap mutu sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif.Penelitian ini menggunakan data sekunder dari BAN-SM Tahun 2015. Dari data tersebut  dipilih 506 sekolah sampel yaitu propinsi yang mendapat akreditasi A dan diurutkan mulai dari skor terendah sampai yang tertinggi untuk dibuat kuantil skor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, berdasarkan sekolah hasil akreditasi A dan dikelompokkan pada kuantil rata-rata capaian UN  tidak menunjukkan perbedaan antarkuantil 3, 4 dan 5 secara signifikan. Kedua, pengaruh pemenuhan kedelapan Standar Nasional Pendidikan terhadap pencapaian mutu sekolah (Nilai UN) secara bersama-sama (simultan) signifikan secara statistik. Dari kedelapan SNP, yang memiliki pengaruh signfikan terhadap mutu sekolah adalah standar Isi, Kompetensi Lulusan, Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Sarana & Prasarana, serta Pengelolaan. Dengan demikian, hanya ada lima standar yang berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pencapaian mutu sekolah. Sementara tiga standar lainnya yaitu standar proses, standar pembiayaan, dan standar penilaian berpengaruh positif tetapi tidak signifikan.

PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA DALAM UPACARA PERNIKAHAN TRADISIONAL DI KABUPATEN BANDUNG

Wagiati, Wagiati ( Universitas Padjadjaran ) , Zein, Duddy ( Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.612 KB)

Abstract

The aim of this research is to explain the methods for maintaining the use of Sundanese language in the Sundanese Traditional Wedding Ceremony in Bandung Regency and to describe the factors that influence them. The method used in this reasearch was a descriptive-qualitative method. The data sources were the Sundanese traditional wedding ceremony in Kabupaten Bandung. The results show that the methods for maintaining the use of Sundanese language in the Sundanese traditional wedding Ceremony in Kabupaten Bandung include the traditional welcoming ceremony for bride and groom by lengser, saweran, ngaleupaskeun japati, door opening, and sungkem. The factors that influence the insistence of maintaining the usage of Sundanese language in the Sundanese Traditional Wedding Ceremony are to preserve the cultural identity and the cultural background of the bride and groom’s family.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk pemertahanan bahasa Sunda dalam upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatifdeskriptif. Sumber datanya adalah upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung. Berdasarkan data tersebut dilakukan analisis terhadapnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pemertahanan bahasa Sunda pada upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung, Jawa Barat meliputi bentuk penjemputan oleh lengser, saweran inti, ngaleupaskeun japati, buka pintu, dan sungkem. Faktor yang menyebabkan terjadinya pemertahanan bahasa Sunda pada upacara pernikahan adat Sunda adalah mempertahankan identitas kultural dan latar belakang kultural keluarga yang melangsungkan upacara pernikahan tersebut.

GAYA MENGAJAR GURU PEMULA DAN GURU PROFESIONAL DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Muthmainnah, Siti Nafsul ( UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA ) , Marsigit, Marsigit ( Universitas Negeri Yogyakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.228 KB)

Abstract

Guru pemula dan guru profesional mempunyai gaya mengajar yang beragam dalam melakukan pembelajaran dikelas. Tidak ada seorang guru yang seketika terlahir menjadi guru yang profesional. Untuk menjadi seorang guru profesional  membutuhkan banyak pengetahuan, pengalaman dan keterampilan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan gaya mengajar antara guru pemula dan guru profesional. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya mengajar guru pemula dan guru profesional dalam pembelajaran matematika. Gaya mengajar sendiri dibedakan menjadi 6 gaya mengajar, yaitu exposition, discussion, practice, practicalwork, investigation, dan inclusion. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan metode grounded theory melalui observasi pembelajaran dan wawancara. Populasi penelitian ini adalah seluruh guru matematika di Kabupaten Klaten. Sampel penelitian adalah 5 orang guru matematika pemula dan 8 guru matematika profesional di Kabupaten Klaten yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru pemula menggunakan 5 gaya mengajar, sedangkan guru professional menggunakan 6 gaya mengajar dalam pembelajaran matematika. Guru pemula mempunyai kelemahan dalam perencanaan pembelajaran jangka panjang. Hal ini membuat guru pemula tidak menggunakan gaya mengajar investigation dalam pembelajarannya. Dapat diambil kesimpulan bahwa pengalaman mengajar membuat guru pemula dan guru professional menggunakan gaya mengajar yang berbeda.

PEDOMAN PENULISAN, TEMPLATE, DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Dikbud, Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.391 KB)

Abstract