cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles
398
Articles
PEDOMAN PENULISAN, TEMPLATE, DAN UCAPAN TERIMA KASIH

Dikbud, Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.391 KB)

Abstract

DAFTAR ISI, EDITORIAL DAN LEMBAR ABSTRAK VOL 3, NO. 1, 2018

Dikbud, Jurnal

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2427.811 KB)

Abstract

EFEKTIVITAS PROGRAM GURU PEMBELAJAR DALAM PENINGKATAN KOMPETENSI GURU IPS SMP DENGAN MODA DARING MURNI DAN DARING KOMBINASI: STUDI EVALUATIF DAN KOMPARATIF

Awaluddin, Yasser ( PPPPTK PKn IPS )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.377 KB)

Abstract

It has been claimed that the implementation of Guru Pembelajar Program has successfully improved the participation of competent teachers. Yet, there has not been any thorough and detailed studies regarding the effectiveness of the program on each subject including social studies. This research aims to reveal whether the Guru Pembelajar Program using mode of fully online and blended learning has improved social studies teachers’ competency. This research also compares the effectiveness of the two modes, and reveals participants’ perception on the program. Mix method which analysed both quantitative and qualitative data was used in this study. Descriptive analysis and gap analysis were used for the quantitative part, while the qualitative aspect was carried out using pattern and theme analysis of participants’ responses. Findings show that both modes effectively improved teachers’ competency. There was a significant different in learning result from the two modes. However, the difference was due to the initial gap between the participants of the two modes. Participating teachers conveyed that the training was relevant with their teaching tasks and was effective in increasing their skill. In conclusion, the Teacher Learning Program implementation is effective in improving teacher competence, either by pure online mode or blended mode.AbstrakPelaksanaan Program Guru Pembelajar telah berhasil meningkatkan kompetensi guru yang mengikuti program tersebut. Namun, sejauh ini belum ada kajian secara mendalam dan rinci mengenai sejauh mana tingkat efektivitas program tersebut pada masing-masing mata pelajaran termasuk mata pelajaran IPS SMP. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap apakah program guru pembelajar yang dilaksanakan dengan menggunakan moda daring murni dan daring kombinasi berhasil meningkatkan kompetensi guru IPS SMP. Penelitian ini juga membandingkan efektivitas kedua moda yang digunakan. Selain itu, persepsi dan pendapat peserta mengenai pelatihan dengan moda daring murni dan daring kombinasi juga akan diungkap. Pendekatan campuran untuk menganalisis data baik secara kuantitatif maupun kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Analisis deskriptif dan analisis uji beda digunakan untuk aspek kuantitatif, sedangkan aspek kualitatif dilaksanakan dengan menggunakan analisis tema dan pola respon peserta. Hasil analisis data menunjukkan bahwa baik pelatihan moda daring murni maupun daring kombinasi berhasil meningkatkan kompetensi peserta. Terdapat perbedaan hasil belajar antara moda daring murni dan daring kombinas yang disebabkan oleh input awal yang berbeda. Peserta menyatakan bahwa pelatihan ini relevan dengan tugas-tugas mengajar mereka dan efektif meningkatkan kompetensi mereka. Dengan demikian, Pelaksanaan Program Guru Pembelajar efektif dalam meningkatkan kompetensi guru, baik dilakukan dengan moda daring murni maupun moda daring kombinasi.

KEMAMPUAN BERPIKIR ALJABAR SISWA SEKOLAH PENDIDIKAN DASAR KELAS V DAN KELAS VII: CROSS-SECTIONAL STUDY

Permatasari, Dian, Harta, Idris ( Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1458.444 KB)

Abstract

The study aimed to describe 1) students’ algebraic thinking ability of elementary school grade V, 2) students’ algebraic thinking ability of junior high school grade VII, and 3) the development of students’ algebraic thinking ability from elementary school kelas V to junior high school grade VII. This study was a cross-sectional design with quantitive descriptive approach. The subjects of this study were 77 students of elementary school grade V and 95 students of junior high school grade VII. The sampling technique method used was stratified purposive sampling techniques and of analysis techniques with a descriptive analysis. The instrument used were algebraic thinking problems that consist of 3 components, namely, generational, transformational, and global meta-level activity. The results showed that 1) the students’ algebraic thinking ability of elementary school grade V was in the medium criteria; 2) the students’ algebraic thinking ability of junior high school grade VII was in medium criteria; 3) the average of gain score of students in junior high school grade VII was higher than students in elementary school grade V and students in elementary school grade V because lementary school students grade V until junior high school grade VII undergo a transition of thinking processes from arithmetic thinking to algebra thinking gradually, from simple cases to more complex cases. Generally, students of grade V and VII have moderate algebraic thinking skills. However, the ability of students of grade VII is higher than students of grade V because they have formally obtained algebra material. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan 1) kemampuan berpikir aljabar siswa Sekolah Dasar kelas V, 2) kemampuan berpikir aljabar siswa Sekolah Menengah Pertama kelas VII, dan 3) perkembangan kemampuan berpikir aljabar siswa dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Subjek penelitian ini 77 siswa SD kelas V dan 95 siswa SMP kelas VII. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik stratified purposive sampling dengan teknik analisis deskriptif. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan berpikir aljabar yang memuat 3 komponen kegiatan yaitu kegiatan generasional, transformasional, dan global meta-level. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kemampuan berpikir aljabar siswa SD kelas V berada dalam kriteria sedang; 2) kemampuan berpikir aljabar siswa SMP kelas VII berada dalam kriteria sedang; 3) rata-rata kemampuan siswa SMP kelas VII lebih tinggi dibanding rata-rata siswa SD kelas V karena siswa SD kelas V sampai dengan SMP kelas VII mengalami suatu transisi proses berpikir dari berpikir aritmatika menuju berpikir aljabar secara bertahap, mulai dari kasus sederhana sampai dengan kasus yang lebih kompleks. Kesimpulan, siswa kelas V dan kelas VII rata-rata memiliki kemampuan berpikir aljabar sedang. Namun, kemampuan siswa kelas VII lebih tinggi daripada siswa kelas V karena siswa Kelas VII telah memperoleh materi aljabar secara formal.

ANALISIS MOTIVASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Sari, Nurmalita ( Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta ) , Sunarno, Widha ( Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta ) , Sarwanto, Sarwanto ( Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.737 KB)

Abstract

The objectives of this research are to 1) find out the profile of student’s learning motivation in Physics class measured by aspects such as Attention, Relevation, Confidence, and Satisfaction; and 2) measure the percentage of each learning motivation aspect such as Attention, Relevation, Confidence, and Satisfaction contributed to students’ learning motivation in Physics class. The sample of this research is 90 students from XI class of Science Program. The data was collected through questionnaire and observation. The questionnaire was analyzed using descriptive quantitatively while the observation sheet was analyzed qualitatively. The results show that: 1) the student’s learning motivation can be categorized into high, average, and low; and 2) the percentage of each learning motivation aspects are Attention (59,86%), Relevance (57,08%), Confidence (55,28%), and Satisfaction (60,14%). To conclude, the average level of students’ learning motivation for Physics is in the medium and low category caused by the lack of students’ interest in learning Physics. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk 1) mengetahui profil motivasi belajar siswa ketika mengikuti pembelajaran Fisika di kelas yang diukur berdasarkan aspek perhatian (Attention), relevansi (Relevance), percaya diri (Confidence), dan kepuasan (Satisfaction); 2) mengetahui persentase sumbangan dari tiap aspek motivasi belajar yang terdiri dari perhatian (Attention), relevansi (Relevance), percaya diri (Confidence), dan kepuasan (Satisfaction) dalam menentukan tingkat motivasi belajar siswa ketika mengikuti pembelajaran Fisika di kelas. Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Surakarta, SMA Negeri 5 Surakarta, dan SMA Negeri 6 Surakarta. Sampel penelitian sebanyak 90 siswa kelas XI MIPA. Pengumpulan data menggunakan teknik angket dan observasi. Teknik analisis angket adalah deskriptif kuantitatif, sedangkan lembar observasi dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) motivasi belajar siswa untuk mata pelajaran Fisika dikategorikan tinggi, sedang, dan rendah; 2) persentase tiap aspek motivasi belajar adalah (a) aspek perhatian (Attention) sebesar 59,86%, b) aspek relevansi (Relevance) sebesar 57,08%, c) aspek percaya diri (Confidence) sebesar 55,28%, d) aspek kepuasan (Satisfaction) sebesar 60,14%. Kesimpulan, rata-rata tingkat motivasi belajar siswa untuk mata pelajaran Fisika berada dalam kategori sedang dan rendah yang disebabkan kurangnya ketertarikan siswa untuk belajar Fisika.

PENGARUH MISI, KURIKULUM, DAN KEPEMIMPINAN DI PERGURUAN TINGGI TERHADAP PERILAKU ANTI-RADIKALISME MAHASISWA

Chalim, Saifuddin ( Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.737 KB)

Abstract

The spread-out of radicalism and terrorism needs to be overcome in the very early stage at home, school, university, and community. For that, education institutions should build anti-radicalism attitude for its students through an integrated values of character building. This study aims to analyze the impact of university’s mission, curriculum, and leadership towards student’s attitude of anti-radicalism.The study is undertaken with a quantitative approach by using a multiple regression analysis, in universities implementing ahlusunnah wal jama’ah principles, nationalism, and insight of nationality. The study found that factors such as leadership, curriculum, and mission significantly have positive impact and big contribution toward student’s anti-radicalism attitude . AbstrakBerkembangnya paham radikalisme dan terorisme perlu dicegah sejak dini di lingkungan keluarga, sekolah/perguruan tinggi, dan lingkungan masyarakat. Menyikapi hal ini, lembaga pendidikan perlu membangun sikap anti-radikalisme para peserta didik melalui pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari misi, kurikulum, dan kepemimpinan perguruan tinggi terhadap perilaku antiradikalisme mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan analisis regresi berganda, yaitu pada perguruan-perguruan tinggi yang mengamalkan faham ahlusunnah wal jama’ah, nasionalisme, dan berwawasan kebangsaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti kepemimpinan, kurikulum, dan misi perguruan tinggi berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku anti-radikalisme mahasiswa.  

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS ARGUMENTASI MELALUI MODEL THINK PAIR SHARE DAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA SISWA KELAS X-10 SMA NEGERI KEBAKKRAMAT

Cahyaningrum, Fitria ( Sebelas Maret University ) , Andayani, Andayani ( Universitas Sebelas Maret Surakarta ) , Saddhono, Kundharu ( Universitas Sebelas Maret Surakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.329 KB)

Abstract

This research aims to improve learning process quality of writing argumentation text and argumentation writing skills through the Think Pair Share model with audiovisual media of students X-10 grade SMA Negeri Kebakkramat. This research was a Classroom Action Research (CAR) with two cycles. Data sources include events, informants, and documents. Data collection through interviews, observation, and document analysis. Data validity by triangulation method technique, triangulation of data source and informant review. Data analysis technique using comparative descriptive analysis technique. Think Pair Share model with audiovisual is able to improve the quality of learning process of argumentation writing skill indicated by teacher and student performance. In pre-cycles, the teacher and student performance values were still below the achievement indicator. In cycle I, the value of teacher performance increased to 69.29 and the percentage of student performance of 47.22%. Meanwhile, in cycle II the teacher performance value became 80.71 and the percentage of student performance became 78.95%. After the action done on the first cycle, there were only 21 students who achieved the value of KKM (minimum completeness criteria) which means it did not meet the achievement indicators. Implementation of Think Pair Share with audiovisual media in cycle II showed a significant improvement in argumentation writing skill, that is, score of 31 students exceeded KKM. In conclusion, the application of Think Pair Share model with audiovisual media is able to improve learning process quality and argumentation writing skill for the tenth grade students of SMA Negeri Kebakkramat. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis argumentasi dan keterampilan menulis argumentasi melalui penerapan model Think Pair Share dengan media audiovisual siswa kelas X-10 SMA Negeri Kebakkramat. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan dua siklus. Sumber data berupa peristiwa, informan, dan dokumen. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Validitas data dengan teknik triangulasi metode, triangulasi sumber data dan review informan. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif. Model Think Pair Share dengan audiovisual mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran keterampilan menulis argumentasi dengan indikator kinerja guru dan siswa. Pada prasiklus, nilai kinerja guru dan siswa masih berada di bawah indikator pencapaian. Siklus I, nilai kinerja guru meningkat menjadi 69,29% dan kinerja siswa sebesar 47,22% sedangkan pada siklus II nilai kinerja guru menjadi 80,71% dan kinerja siswa menjadi 78,95%. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I, siswa yang tuntas hanya 21 siswa yang artinya dianggap belum memenuhi indikator pencapaian. Penerapan Think Pair Share dengan media audiovisual pada siklus II, menunjukkan peningkatan signifikan pada keterampilan menulis argumentasi, yaitu skor 31 siswa melampaui KKM. Disimpulkan bahwa penerapan model Think Pair Share dengan audiovisual mampu meningkatkan kualitas proses dan keterampilan menulis argumentasi pada siswa kelas X SMA Negeri Kebakkramat.

PANDANGAN GURU DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN KHUSUS

Sutjipto, Sutjipto ( Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.175 KB)

Abstract

The purpose of this research is to comprehensively examine the views of special school teachers in the development of special educational curricula on the design and principles. The research involved fourty three teachers froms eight different special schools. Data was collected through forum group discussion dan analyzed by descriptive qualitative method. The results show, first, from the teacher’s point of view, that in designing a special educational curriculum for learners with special needs it should contain practical knowledge, moral character qualities and performance, essential skills, competence, art, and literacy praxis. Secondly, flexibility, functionality, independence, literacy, and vocational are the principles of developing a special education curriculum for learners with special needs. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif pandangan guru sekolah luar biasa dalam pengembangan kurikulum pendidikan khusus pada dimensi perancangan dan asasnya. Penelitian melibatkan empat puluh tiga guru sekolah luar biasa dari delapan sekolah. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik diskusi kelompok terpumpun dan teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sudut pandang guru dalam perancangan kurikulum pendidikan khusus untuk peserta didik berkebutuhan khusus harus mengandung muatan-muatan pengetahuan praktis, kualitas karakter moral dan kinerja, keterampilan penting, kompetensi, seni, dan praksis literasi. Selain itu, keluwesan, fungsional, kemandirian, literasi, dan kejuruan merupakan asas-asas pengembangan kurikulum pendidikan khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

PENGEMBANGAN MEDIA KOMIK DIGITAL AKUNTANSI PADA MATERI MENYUSUN LAPORAN REKONSILIASI BANK UNTUK SISWA SMK

Hidayah, Yuliana Faridatul ( Universitas Sebelas Maret ) , Siswandari, Siswandari ( Universitas Sebelas Maret ) , Sudiyanto, Sudiyanto ( Universitas Sebelas Maret )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.564 KB)

Abstract

This study aimed to develop accounting digital comic media in the material of writing bank reconciliation reports for XI grade of students of vocational secondary school that is feasible to be used in the learning process. This study was a research and development refered to Borg and Gall’s model, with three stages of research namely preliminary study stage, product design development and product validation. The subject of the research were students XI grade of SMK Muhammadiyah 3 Gemolong. Data collection techniques included observation, interviews, questionnaires, and validation of expert teams. The results revealed that the process of accounting learning in SMK Muhammadiyah 3 Gemolong had not used technology-based media optimally. The product design of accounting digital comic media was validated by expert teams of media, material, linguist, and practitioners (accounting teachers). Based on the validation of expert team, the accounting digital comic media included into the very well category and comformed with media feasibility criteria. To conclude, this accounting digital comic media can be tried out in the next stage and used in accounting learning process at vocational secondary school Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media komik digital akuntansi dengan materi menyusun laporan rekonsiliasi bank untuk siswa kelas XI SMK yang layak dipergunakan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian dan pengembangan yang mengacu pada model Borg dan Gall dengan tiga tahapan penelitian yakni tahap studi pendahuluan, pengembangan desain  produk dan validasi produk. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI SMK Muhammadiyah 3 Gemolong. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, angket, dan validasi tim ahli. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, proses pembelajaran akuntansi di SMK Muhammadiyah 3 belum memanfaatkan penggunaan media berbasis teknologi secara optimal. Pengembangan desain produk (prototipe) media komik digital akuntansi telah divalidasi oleh tim ahli dengan hasil penilaian dari ahli media, ahli materi, ahli bahasa, dan praktisi. Berdasarkan validasi oleh tim ahli, media pembelajaran komik digital akuntansi ini termasuk dalam kategori sangat baik dan sesuai dengan kriteria kelayakan media. Dengan demikian, media komik digital akuntansi ini dapat diujicobakan pada tahapan selanjutnya dan digunakan dalam proses pembelajaran akuntansi di SMK.

BAHASA INDONESIA, DAERAH, DAN ASING DI WILAYAH PERBATASAN: Studi pada Bahasa Walsa dan Muyu

Aritonang, Buha ( Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.963 KB)

Abstract

People’s perception in border area toward bahasa Indonesia, local and foreign languages is still relevant to be observed. In this regard, the study purpose is to  describe the characteristics of Banda and Kombut respondents who live in the border areas of Indonesia and Papua New Guinea and their perceptions toward bahasa Indonesia (language of Indonesian people), local languages (Walsa and Muyu), and foreign language   (Papua New Guinea language) which related to the policy on Indonesian and local assistance. To reach that goal, this research model is using quantitative model with descriptive method. This research is classified as field research with primary and secondary data types. The sample consists of 108 respondents of Kampung Banda and 110 of Kampung Kombut. The data were processed by simple tabulation analysis and Likert scale with reference to the average score formula. The results of this research indicate that Banda people’s perception is very positive towards bahasa Indonesia, positive to Walsa language, and not positive to Papua New Guinea language. Kombut people’s perception is positive towards bahasa Indonesia, quite positive both towards Muyu and of Papua New Guinea language. The perceptions of those two communities toward bahasa Indonesia, and their local languages due to loyalty, proudness, and awareness of bahasa Indonesia, Walsa, and Muyu norms. The results of people’s perception toward Papua New Guinea language which are Banda is not positive and Kombut is quite positive as they do not use the language as a medium of daily communication. Abstrak: Masyarakat tutur di wilayah perbatasan terhadap bahasa Indonesia, daerah, dan asing masih relevan untuk dicermati. Sehubungan dengah hal itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik responden masyarakat Banda dan Kombut yang berdomisili di wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini dan persepsi mereka terhadap bahasa Indonesia, daerah (bahasa Walsa dan Muyu), dan asing (bahasa Negara Papua Nugini) yang berkaitan dengan kebijakan pembinaan bahasa Indonesia dan daerah. Untuk mencapai tujuan itu, model penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini tergolong penelitian lapangan dengan jenis data primer dan sekunder. Sampel terdiri atas 108 masyarakat tutur Kampung Banda dan 110 Kampung Kombut. Data diolah dengan analisis tabulasi sederhana dan skala Likert dengan  mengacu pada rumus skor rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Banda  adalah sangat positif terhadap bahasa Indonesia, positif terhadap bahasa Walsa, dan tidak positif terhadap bahasa Negara Papua Nugini. Persepsi masyarakat Kombut adalah positif terhadap bahasa Indonesia, cukup positif terhadap bahasa Muyu, dan cukup positif terhadap bahasa Negara Papua Nugini. Kedua kelompok masyarakat tersebut berpersepsi demikian terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing karena mereka setia, bangga, dan sadar adanya norma bahasa Indonesia, Walsa, dan Muyu. Persepsi masyarakat Banda adalah  tidak positif dan masyarakat Kombut cukup positif terhadap bahasa Negara Papua Nugini karena mereka tidak menggunakan bahasa Negara itu sebagai media komunikasi sehari-hari.