cover
Filter by Year
Buletin Veteriner Udayana
S3
Sinta Score
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -
Buletin Veteriner Udayana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana sebagai media informasi dan pengembangan ilmu kedokteran hewan. Diterbitkan dua kali se tahun setiap bulan Pebruari dan Agustus
Articles
203
Articles
Karakteristik Fisikokimia dan Uji Aktivitas Antimikroba Bakteriosin dari Isolat Bakteri Asam Laktat 15B hasil Isolasi Kolon Sapi Bali

Lestari, Ni Kadek Lyming, Suardana, I Wayan, Sukrama, I Dewa Made

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) merupakan kelompok bakteri Gram positif, berbentuk kokus atau batang dan katalase negatif serta mampu menghasilkan asam laktat. BAL juga merupakan suatu mikroorganisme yang memiliki sifat tidak toksik dan mampu menghasilkan senyawa antimikroba, berupa bakteriosin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter fisikokimia dan aktivitas antimikroba bakteriosin dari isolat 15B hasil isolasi dari kolon sapi bali. Penelitian dimulai dengan reculture isolat 15B dan dilanjutkan dengan kultivasi isolat, isolasi, produksi dan presipitasi bakteriosin. Tahap selanjutnya dilakukan uji sifat fisika dan kimiawi dari bakteriosin, dilanjutkan dengan uji aktivitas antimikroba dari bakteriosin isolat 15B. Hasil dari kultivasi isolat menunjukkan bahwa isolat 15B merupakan bakteri asam laktat yang ditandai dengan hasil pewarnaan sebagai Gram positif, uji katalase negatif dan tumbuh pada suasana anaerob. Hasil uji sifat kimiawi bakteriosin dari isolat 15B menunjukkan hasil uji Ninhidrin positif, uji Molisch negatif, dan uji lowry positif dengan konsentrasi protein 0,11 µg/ml. Hasil karakterisasi sifat fisik dengan menggunakan SDS PAGE menunjukkan bahwa hasil uji negatif. Uji aktivitas antimikroba menunjukkan bakteriosin isolat 15B memiliki efektivitas hambatan sebesar 35,82%.

Gambaran Histopatologi Hepar Mencit Yang Diberikan Ekstrak Etanol Sarang Semut

Prasetyo, Yoga Eka, Merdana, I Made, Kardena, I Made, Sudira, I Wayan

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tanaman sarang semut (Myrmecodia pendans) banyak diminati masyarakat sebagai obat alternative karena terbukti berkhasiat untuk mengobati penyakit tumor, kanker, tuberculosis (TBC), stroke,  jantung koroner, diabetes, mimisan, maag, asam urat, wasir, memperlancar asi, meningkatkan stamina dan gairah seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol sarang semut terhadap gambaran histopatologi hepar mencit. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik. Sebanyak 24 ekor mencit jantan umur 10-12 minggu dengan berat badan 25-35 gram dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 6 ekor mencit yang diberi perlakuan yaitu Kelompok Kontrol (KK), Perlakuan I (dosis 100mg/kg BB), Perlakuan II (dosis 200mg/kg BB), dan Perlakuan III (dosis 300mg/kg BB) selama 21 hari. Perubahan histopatologi hepar diamati dan dinilai berdasarkan kerusakan histologi berupa infiltrasi sel radang, degenerasi melemak, serta nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji statistik Kruskall-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan pemberian ekstrak etanol sarang semut berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap timbulnya degenerasi melemak, nekrosis, dan infiltrasi sel radang pada sel hepar. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol sarang semut dapat menyebabkan perubahan histologi hepar mencit.

HISTOPATOLOGI HEPAR TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK SARANG SEMUT (Myrmecodia pendans)YANG DIINDUKSI PARACETAMOL DOSIS TOKSIK

Merdana, I Made, Kardena, I Made, Budiasa, Ketut, Gunawan, I Made Dodi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak sarang semut (Myrmecodia pendans) terhadap perubahan struktur histopatologis hepar tikus putih (Rattus novergicus) akibat diinduksi paracetamol dosis toksik. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan, dibagi dalam 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif (P0) diberikan placebo, kelompok kontrol positif (P1) diberikan paracetamol dosis 250 mg/kg bb selama 10 hari, P2 diberikan ekstrak sarang semut 250 mg/kg bb dan paracetamol dosis 250 mg/kg bb selama 10 hari, P3 diberikan ekstrak sarang semut 250 mg/kg bb selama 7 hari, kemudian dilanjutkan dengan pemberian paracetamol dosis 250 mg/kg bb dan ekstrak sarang semut dengan dosis 250 mg/kg bb selama 10 hari. Setelah perlakuan seluruh tikus dinekropsi, organ hepar diambil dan diproses untuk pembuatan preparat histopatologi. Parameter yang diperiksa meliputi adanya hemoragi, kongesti, degenerasi dan nekrosis. Data yang diperoleh dianalisis statistik dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Hasil uji Mann-Whitney untuk semua kategori perubahan histopatologi baik hemoragi, kongesti, degenerasi, dan nekrosis antara kelompok kontrol negatif (P0) dengan kontrol positif (P1) terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05), antara kontrol negatif (P0) dengan P2 dan P3 tidak terdapat perbedaan nyata (P>0,05). Kemudian antara kontrol positif (P1) dengan P2 dan P3 terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05). Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian paracetamol dosis 250 mg/kg bb menyebabkan perubahan histopatologi hepar tikus putih. Pemberian ekstrak sarang semut dosis 250 mg/kg bb mampu mengurangi efek toksik paracetamol.

Histomorfometri Sel Darah Putih Agranulosit Bibit Sapi Bali Di Nusa Penida

Adinugroho, M. Oenas, Suwiti, Ni Ketut, Kendran, Anak Agung Sagung

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur histologi dan morfometri sel darah putih agranulosit (limfosit dan monosit) bibit sapi bali di Nusa Penida. Sampel berupa darah dari 50 ekor sapi bali betina, diambil melalui vena jugularis. Selanjutnya difiksasi, dan diwarnai dengan metode pewarnaan Giemza. Pengukuran morfometri dilakukan dengan mikroskop Axio Zeiss Imager 2 perbesaran 1000x. Hasil pengukuran dianalisis secara deskriptif kuantitatif, sedangkan gambaran histologi dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan rerata diameter limfosit (9,22 ± 0,73µm) lebih kecil dibandingkan dengan monosit (12,48 ± 1,73 µm). Adanya perbedaan struktur histologi limfosit dan monosit, yang ditemukan pada nukleusnya. Nukleus limfosit, bulat dan memenuhi sitoplasma, sedangkan nukleus monosit membentuk lekukan pada satu atau dua sisinya, sehingga tidak memenuhi sitoplasma dari sel. 

Histological Structure of The Skin in The Thoracic and Abdominal Region of The Etawah Goats Cross Breed

Suwiti, Ni Ketut, Putri, Mergayanti Yudanta Eka, Suastika, Putu, Setiasih, Ni Luh Eka, Heryani, Luh Gde Sri Surya, Susari, Ni Nyoman Werdi

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

There have been studies of the histological structure of male and female goat skins. The histological structure and histomorphometry were taken from two region of skin, which is the thorax and abdomen. The Samples were collected from 2-3 years old Etawah goat, and than was stained using a HarrisHematoxilin Eosin method. The data were analysis based on the region and sex.  The results showed that the histological structure of Etawah cross breed consists of three layers were epidermis, dermis, and hipodermis respectively. The epidermis composed by stratum corneum, granulosum, spinosum, and basal. We were found keratin layer on the surface of epidermis. The dermis consists of papillare and reticulare stratum. That was found many sebaceous glands, sudorifera gland, pili muscle, hair follicles, blood vessels, and collagen fibers. The hypodermis layers of Etawah cross breed females skin mostly consists of the fatty tissue, whereas in males we have found thick and horizontally arranged connective tissue. The skin layer on male Etawah cross breed, thorax region thicker than the abdomen. The region and sex may have an effect on the histology structure and histomorphometry of Etawah cross breed skin. 

Uji Efektifitas Ekstrak Daun Mimba terhadap Micrococcus luteus yang Diisolasi dari Anjing Penderita Dermatitis Kompleks

Boro, Saptarima Eka, Suartha, I Nyoman, Sudimartini, Luh Made, Erawan, Gusti Made Krisna, Anthara, I Made Suma

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penggunaan obat tradisional telah menjadi pilihan di beberapa negara seperti India, Cina, dan Indonesia untuk menangani penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak daun mimba terhadap Micrococcus luteus yang diisolasi dari anjing penderita dermatitis kompleks. Ekstrak daun mimba pada konsentrasi 0% sebagai kontrol negatif,  5%, 10%, dan 25% serta kanamisin sebagai kontol positif. Sebanyak 0.2 uL dari masing-masing konsentrasi dimasukkan ke dalam sumuran dengan diameter 5 mm pada Muller Hinton agar yang telah diinokulasi Micrococcus luteus. Setelah diinkubasi selama 24 jam, diameter zona hambat diukur dan dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun mimba secara signifikan mampu menghambat pertumbuhan Micrococcus luteus (P<0.01). Rataan zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 0%, 5%, 10% dan 25% secara berurutan adalah 0,00 mm, 3,5 mm, 4,5 mm dan 5,37 mm dan secara statistik sangat berbeda nyata. Simpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun mimba mampu menghambat pertumbuhan Micrococcus luteus.

Gambaran Histopatologi Ginjal Tikus Wistar Diabetes Melitus Eksperimental yang Diberikan Ekstrak Etanol Daun Kelor

Kamaliani, Baiq Renny, Setiasih, Ni Luh Eka, Winaya, Ida Bagus Oka

Buletin Veteriner Udayana Vol. 11 No. 1 Pebruari 2019
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemberian ekstrak daun kelor dapat memperbaiki struktur histologis ginjal tikus Wistar penderita diabetes melitus. Tikus Wistar dibagi ke dalam enam kelompok dengan masing-masing empat kali ulangan. Kelompok K1 sebagai kontrol positif tidak diberikan ekstrak, kelompok K2 diberikan ekstrak dosis 100 mg/kgBB, kelompok K3 diberikan ekstrak dosis 200 mg/kgBB, kelompok K4 diberikan ekstrak dosis 300 mg/kgBB, kelompok K5 diberikan ekstrak dosis 400 mg/kgBB, dan kelompok K6 diberikan ekstrak dosis 500 mg/kgBB yang dilaksanakan selama lima minggu. Tikus kemudian dikorbankan dan organ ginjal diambil untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE). Hasil pengamatan menunjukkan adanya degenerasi melemak dan nekrosis pada ginjal. Hasil uji Kruskal Wallis dari seluruh perlakuan menunjukkan p= 0,001 baik pada degenerasi melemak dan nekrosis (p<0,05).

Escherichia coli pada Sapi Bali Berdasarkan Tingkat Kedewasaan pada Geografis Yang Berbeda dan Pola Resistensinya terhadap Beberapa Antibiotika

Gargita, I Gede, Besung, I Nengah Kerta, Tenden Rompis, Aida Louise

Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Telah dilakukan penelitian Cross Sectional tentang prevalensi Escherichia coli pada saluran pernapasan bagian atas sapi bali menurut tingkat kedewasaan (pedet, dara, dewasa) dan perbedaan geografis (dataran rendah dan tinggi). Metode isolasi dan identifikasi menurut Carter dan Cole dengan modifikasi dan kepekaan terhadap antibiotika sulfametoksasol, ampisilin, dan oksitetrasiklin menggunakan metode difusi cakram Kirby dan Bauer. Dari 120 sampel usap hidung sapi bali, berhasil diisolasi 14/120 (11,66%) E. coli. Berdasarkan tingkat kedewasaan, pada sapi pedet ditemukan 7/120 (5,83%), dara 3/120 (2,50%), dan dewasa 4/120 (3.33%). Berdasarkan letak geografis pada dataran rendah ditemukan sebanyak 8/120 (6,66 %) dan pada dataran tinggi ditemukan sebanyak 6/120 (5,00%). Enam dari total 14 isolat E. coli (42,85%) resisten, 3/14 (21,42%) intermedier, dan 5/14 (35,71%) sensitif terhadap sulfametoksasol. Uji terhadap ampisilin 4/14 (28,57%) resisten, 1/14 (7,14%) intermedier, dan 9/14 (64,28%) sensitif. Uji terhadap oksitetrasiklin 1/14 (7,14%) resisten, dan 13/14 (92,85%) sensitif. Sebanyak tiga isolat (21,42%) peka terhadap semua antibiotika yang diujikan dan satu isolat (7,14%) resisten terhadap semua antibiotika.

Ekstrak Etanol Sarang Semut Menyebabkan Kerusakan Struktur Histologi Ginjal Mencit

Manullang, Dini Hilary, Sudira, I Wayan, Berata, I Ketut, Merdana, I Made

Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Analisis kimia menunjukkan bahwa tumbuhan sarang semut (Myrmecodia pendans) memiliki berbagai kandungan senyawa kimia dari golongan flavonoid, tannin, tokoferol, multimineral dan polisakarida. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol sarang semut terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit (Mus musculus) jantan. Penelitian ini menggunakan 24 ekor mencit jantan dengan umur 10-12 minggu yang secara klinis dinyatakan sehat dengan berat 25-35 g. Secara acak seluruh mencit dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas 6 ekor mencit. Kelompok P0 adalah kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar dan aquades, P1 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 100 mg/kg BB, P2 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 200 mg/kg BB, P3 adalah kelompok yang diberikan pakan standar dan ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB. Setelah perlakuan selesai pada hari ke-21,  organ ginjal diambil untuk dibuat preparat histologi dan diwarnai dengan metode haematoksilin-eosin. Variabel yang diperiksa adalah perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis di tubulus proksimal ginjal. Hasil uji Kruskall-Wallis menunjukkan pemberian ekstrak etanol sarang semut berpengaruh nyata (P?0,05) terhadap timbulnya perdarahan pada tubulus ginjal. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 300 mg/kg BB dapat menyebabkan perubahan histopatologi ginjal berupa perdarahan, degenerasi melemak, dan nekrosis.

Pengaruh Pemberian Vitamin E dan Deksametason Terhadap Gambaran Histopatologi Jantung Tikus Putih Jantan

Pratama, Ayu Prawitasari Citra, Berata, I Ketut, Samsuri, Samsuri, Merdana, I Made

Buletin Veteriner Udayana Vol. 10 No. 2 Agustus 2018
Publisher : The Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Deksametason merupakan glukokortikoid sintetik yang banyak digunakan dalam masyarakat. Penggunaan deksametason dosis besar dalam jangka waktu yang panjang dapat berpengaruh terhadap jantung. Vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak dan bertindak sebagai antioksidan yang mampu mengatasi radikal bebas dan stres oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian vitamin E terhadap jantung tikus putih (Rattus norvegicus) akibat pemberian deksametason. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan berumur 2-3 bulan dengan berat 200-300 gram. Tikus dikelompokkan menjadi lima kelompok perlakuan dan lima ulangan. Tikus diadaptasikan selama satu minggu selanjutnya tikus diberikan perlakuan selama 14 hari. Pada kelompok perlakuan P0 sebagai kontrol negatif tidak diberikan perlakuan. Kelompok perlakuan P1, P2, P3 dan P4 diberikan deksametason secara injeksi subkutan dengan dosis 0,13 mg/kg BB. Vitamin E diberikan peroral sebagai berikut: P2 dosis 100 mg/kg BB, P3 dosis 150 mg/kg bb, dan P4 dosis 200 mg/kg BB. Setelah 14 hari tikus dieutanasi, kemudian dinekropsi. Organ jantung diambil dan dimasukkan ke dalam neutral buffered formalin untuk fiksasi, selanjutnya dilakukan proses pembuatan preparat histopatologis dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin. Parameter yang diamati adalah gambaran peradangan dan nekrosis pada jantung. Hasil pengamatan histopatologi menunjukkan pemberian vitamin E secara peroral dengan dosis 200 mg/kg bb berpengaruh sangat nyata terhadap perbaikan organ jantung tikus putih yang diberikan deksametason dosis 0,13 mg/kg BB. Simpulan dari penelitian ini adalah vitamin E dapat menghambat kerusakan jantung akibat efek samping deksametason.