cover
Filter by Year
Kapata Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Maluku
ISSN : -     EISSN : -
Jurnal Kapata Arkeologi berasal dari kata Kapata yaitu bahasa daerah Maluku yang artinya tradisi menutur peristiwa-peristiwa sejarah masa lampau dalam bentuk nyanyian bersyair. Mengacu kepada pengertian tersebut, maka penerbitan Jurnal Kapata Arkeologi dimaksudkan sebagai media untuk menyebarluaskan berbagai informasi berkaitan dengan kebudayaan pada masa lampau, berdasarkan hasil-hasil penelitian Arkeologi dan kajian ilmiah kebudayaan. Jurnal Kapata Arkeologi diterbitkan oleh Balai Arkeologi Ambon sejak tahun 2005. Edisi Jurnal Kapata Arkeologi diterbitkan dua kali dalam satu tahun yang pada setiap edisinya, edisi e-journal dipublikasikan lebih awal daripada edisi cetak. Penerbitan ini bertujuan menggalakkan penelitian Arkeologi khususnya di wilayah Maluku dan Maluku Utara serta umumnya di Indonesia, juga menyebarluaskan hasil-hasilnya, baik di kalangan ilmuwan maupun masyarakat luas. Redaksi menerima dan memuat kontribusi tulisan hasil penelitian arkeologi, sejarah, etnografi, dan disiplin lain yang berkaitan dengan manusia dan kebudayaan. Jurnal Kapata Arkeologi terakreditasi nomor 678/Akred/P2MI-LIPI/07/2015. Mulai tahun 2016, Jurnal Kapata Arkeologi menggunakan sistem E-Journal dalam proses penerbitannya.
Articles
296
Articles
A Geological and Spatial Approach to Prehistoric Archaeological Surveys on Small Islands: Case Studies from Maluku Barat Daya, Indonesia

Kealy, Shimona, Wattimena, Lucas, OConnor, Sue

Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2087.386 KB)

Abstract

Survei arkeologi sangat penting untuk penemuan dan interpretasi sisa-sisa yang ditinggalkan oleh aktivitas manusia prasejarah. Saat ini penginderaan jarak jauh dan model prediktif telah meningkatkan jangkauan dan keberhasilan survei arkeologi, namun survei pejalan kaki untuk mengembangkan parameter model dan prediksi kebenaran dasar masih penting untuk keberhasilan suatu penemuan. Penelitian ini merupakan hasil survei arkeologi tahun 2017 di Pulau Babar Besar dan Pulau Wetang yang termasuk dalam bagian dari kelompok Kepulauan Babar, Maluku Barat Daya, Indonesia. Tercatat sebanyak 62 situs arkeologi ditemukan di kedua pulau tersebut, tujuh diantaranya merupakan situs lukisan cadas baru yang ditemukan di Pulau Wetang. Hasil survei ini menunjukkan keberhasilan penggunaan peta geologi dan topografi di samping citra satelit dalam mendeteksi daerah prospektif untuk survei. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemahaman karakteristik geologi daerah yang lebih rinci dan komparatif diperlukan sebelum dilakukan survei jarak jauh yang lebih lanjut di wilayah Maluku Barat Daya, Indonesia.Archaeological surveys are essential to the discovery and interpretation of remains left by past human activities. While remote sensing and predictive models have greatly improved the reach and success of archaeological survey, pedestrian surveys to develop model parameters and ground-truth predictions is still imperative for successful discoveries. Here we present the results of the 2017 archaeological survey of islands Babar Besar and Wetang in the Babar Island Group, Maluku Barat Daya, Indonesia. A total of 62 archaeological sites were recorded between the two islands; seven of which represent new rock art sites on Wetang island. Our survey results indicate the successful use of geological and topographic maps alongside satellite images in detecting prospective regions for survey. Results also indicate however that a more detailed and comparative understanding of the regions geology is required before more advanced forms of remote survey are conducted in the Maluku Barat Daya region.

Traces of the History of South Cisarua Plantation: Archives and Inscription of the Dutch Tomb in Kebon Jahe Cisarua-Bogor, Jawa Barat

Nuralia, Lia

Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1629.083 KB)

Abstract

Makam Belanda (kerkhof) dengan inkripsi (prasasti) di Kebon Jahe merupakan sumber data arkeologis, menjadi petunjuk awal untuk penelusuran arsip kolonial sebagi sumber data sejarah. Sumber data sejarah dan arkeologis menjadi satu kolaborasi data yang saling melengkapi, yang dapat menjelaskan keberadaan perkebunan zaman Belanda yang sekarang sudah tidak ada. Apa dan bagaimana kedua sumber data tersebut menjadi bukti penting tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, menjadi permasalahan dalam tulisan ini. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan mengungkap jejak sejarah Perkebunan Cisarua Selatan berdasarkan arsip kolonial dan prasasti makam Belanda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi dengan pendekatan sejarah dan symbolic meaning, yang menerangkan tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di masa lalu, melalui arti inskripsi dan ragam hias makam, serta identitas orang yang dimakamkan melalui sumber arsip Belanda. Hasil yang diperoleh adalah kepastian tentang keberadaan Perkebunan Cisarua Selatan di daerah Cisarua Bogor, dengan bukti fisik berupa tujuh Makam Belanda di Kampung Kebon Jahe, serta dokumen tertulis (rekaman sejarah) dalam Arsip Kolonial Indische Navorsher 1934 dan Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72.The Dutch tomb (kerkhof) with the inscription in Kebon Jahe is the source of archaeological data, becoming the initial guidance for searching colonial archives as a source of historical data. The source of historical and archaeological data becomes a collaboration of complementary data, which could explain the existence of a now-defunct Dutch plantation. What and how these two sources of data become important evidence of the existence of South Cisarua Plantation in the past, is a problem in this paper. Thus, this paper aims to reveal traces of the history of South Cisarua Plantation based on colonial archives and inscription of the Dutch tomb. The method used archaeological research with historical approach and symbolic meaning, which explains about the existence of South Cisarua Plantation in the past, through the meaning of inscriptions and decorative graves of the tomb, as well as the identity of people buried through the source of the Dutch archives. The results obtained certainty about the existence of South Cisarua Plantation in Cisarua Bogor area, with physical evidence in the form of seven Dutch Tombs in Kampung Kebon Jahe, as well as written documents as historical record in Colonial Archive of Indische Navorsher 1934 and Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1920 No. 72.

The Worship of Parwatarajadewa in Mount Lawu

Purwanto, Heri, Titasari, Coleta Palupi

Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1089.345 KB)

Abstract

Bukti-bukti mengenai gunung dianggap sakral dan suci telah didapatkan sejak Masa Prasejarah. Salah Satu gunung yang masih dipercaya sebagai tempat sakral adalah Gunung Lawu. Berdasarkan tinggalan arkeologis Gunung Lawu ini nampaknya mempunyai peranan cukup penting pada masa lalu, bahkan berlanjut hingga sekarang. Studi ini akan menelusuri jejak-jejak pemujaan terhadap parwatarajadewa yang bersemayam di Gunung Lawu. Untuk memecahkan permasahan tersebut digunakan metode pengumpulan data meliputi kajian pustaka, observasi, dan dokumentasi. Setelah itu, data dibedah mengunakan analisis kualitatif dibantu dengan teori Religi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Gunung Lawu mempunyai nama kuna (Hindu-Budhha) yaitu katong. Walaupun namanya berubah namun makna yang dikandung tetap memiliki persamaan. Komunitas yang beraktivitas di Gunung Lawu saat itu adalah kaum rsi dan pertapa yang tampaknya memuliakan seorang parwatarajadewa (dewa penguasa gunung). Hal ini berdasar atas banyaknya temuan tinggalan arkeologi di kawasan Gunung Lawu dan didukung pula dengan prasasti yang pernah ditemukan di Candi Sukuh. Nama dewa tersebut menurut Serat Centhini adalah Hyang Girinatha.Evidence of the mountain as considered sacred and sanctified have been obtained since the Prehistoric Period. One mountain that is still believed to be a sacred place is Mount Lawu. Based on archaeological remains, Mount Lawu seems to have played a significant role in the past, even persisting up till now. Mount Lawu is used as a place to live and religious activity from the past. This study traces the worship of Parwatarajadeway residing on Mount Lawu. In order to solve the problem, it used data collection methods including literature review, observation, and documentation. The analysis used qualitative assisted by Religious theory. The results of this study indicate that Mount Lawu has an ancient name that is katong. Although the name had changed but its meaning still have a resemblance. Community’ activities that move on Mount Lawu around the 15th to 16th century are the rsi and the ascetic who seem to glorify the Parwatarajadewa (the god of the mountain ruler). This is based on many findings of archaeological remains in the area of Mount Lawu and also supported with inscriptions ever found in Sukuh Temple. The name of the god according to Serat Centhini is Hyang Girinatha.

Doro Bata Site in Dompu, Nusa Tenggara Barat: Study on Form, Space, and Time

Rema, I Nyoman, Juliawati, Ni Putu Eka, Prihatmoko, Hedwi

Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (783.494 KB)

Abstract

Situs Doro Bata merupakan situs yang memiliki nilai penting bagi sejarah kebudayaan masyarakat Dompu, yang masih dapat disaksikan jejak-jejaknya hingga saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk, ruang, dan waktu Situs Dorobata. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dengan teknik ekskavasi, studi pustaka, dan wawancara. Data kemudian dianalisis secara spesifik, himpunan, dan konteks. Berdasarkan kegiatan penelitian di situs ini, dapat diketahui bahwa Bukit Dorobata berbentuk teras dengan tujuh undakan dan sebuah tangga masuk dari arah barat, dan pada bagian puncaknya ditemukan struktur pondasi yang diduga sebagai pondasi bangunan dengan konstruksi kayu. Situs ini berada pada sebuah bukit yang layak dijadikan hunian mengingat dukungan sumber daya alam di sekitarnya.  Berdasarkan keterangan budayawan dan hasil studi literatur diketahui bahwa situs ini tercipta ketika Dompu mendapatkan pengaruh kebudayaan Majapahit pada abad ke-14, dan diduga ditinggalkan pada abad ke-19 ketika meletusnya gunung Tambora.Doro Bata site is a site that has an important value for cultural history of Dompu society, of which traces can still be witnessed to this day. The purpose of this research is to recognize the form, space, and time of Doro Bata Site. Data collection was done through observation by excavation technique, literature study, and interview. The collected data was then analyzed and summarized. Based on the research activities on this site, it can be evident that the Doro Bata Hill is a seven-step terrace (berundak) and a stairway entering from the west, and at the top part was found a structure presumably as the foundation of a building with wooden construction. This site is located on a hill that deserves to be occupied into the settlement given the support of natural resources in the vicinity area. Based on the information from a number of cultural experts and the results of literature studies, it is known that this site was created when Dompu got the influence of Majapahit culture in the 14th century, and allegedly abandoned in the 19th century during the eruption of Mount Tambora. 

Sharing Knowledge: Archaeology and Education in the Maluku, Indonesia

Ririmasse, Marlon NR

Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.191 KB)

Abstract

Mengembangkan kurikulum Sekolah bermuatan sejarah yang representatif merupakan sebuah tantangan di Indonesia. Berbagai macam etnis dan latar belakang budaya di negara ini telah menciptakan situasi manajemen pendidikan yang unik. Suatu pendekatan yang tidak konvensional yang menekankan muatan lokal telah dikembangkan oleh Pemerintah dalam dua dekade terakhir untuk memenuhi permintaan terhadap representasi isu-isu lokal dalam sejarah dan mata pelajaran yang terkait di sekolah-sekolah. Meskipun sudah ada pendekatan yang diinisiasi, namun pelaksanaan program di tingkat nasional masih jauh dari efektif karena keterbelakangan konsep dan kekurangan sumber daya manusia. Partisipasi lembaga, kelompok, atau individu dengan pengetahuan dan keahlian tertentu tentang budaya lokal di luar lembaga pendidikan formal dewasa ini diadopsi sebagai solusi yang mungkin efektif. Dalam hal ini arkeologi sangat mungkin memberikan kontribusi positif. Tulisan ini akan membahas masalah dengan berfokus pada kontribusi arkeologi untuk mengembangkan muatan lokal dalam pendidikan di wilayah Maluku, Indonesia. Pembahasan tulisan ini akan mencakup contoh sejumlah program dan proyek, yang telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir.Developing representational historical content for school curricula is a challenge in Indonesia. The wide range of ethnicities and cultural backgrounds in the country has created a unique education management situation. An unconventional approach emphasizing local content (muatan lokal) has been developed by the national government in the last two decades to address the demand for more representation of local issues in history and related subjects at schools. Despite this creative approach, the implementation of the program at the national level is still far from effective due to the underdevelopment of the concept and shortage of human resources. The participation of institutions, groups or individuals with the particular knowledge and expertise on local culture outside the formal educational institution has recently been adopted as a possible effective solution. This is a role in which archaeology might also make a positive contribution. This paper will discuss this issue by focusing on the contribution of archaeology to develop the local content in the education of Moluccas region in Indonesia. The discussion will include the examples of the program and project, which has been conducted in the last ten years.

Cover Vol. 13 No. 2 (2017)

Arkeologi, Kapata

Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Preface Vol. 13 No. 2 (2017)

Arkeologi, Kapata

Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.729 KB)

Abstract

Festival Menongkah: Revitalisasi Budaya dan Bahasa Duanu Menuju Industri Kreatif

Wahyuni, Dessy

Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.106 KB)

Abstract

The life of the Malay Duanu community, a remote indigenous community, is started to be exposed recently. Their existence is recognized by the world through the Menongkah Festival that has achieved  the MURI record twice. Unfortanely, following the current globalization progress, the expose of this ethnic group starts  to erodes their culture and language  toward extinction. It is unfortunate as wel that this activity only highlight the ceremonial part. In fact, Duanu people can take advantage of this Menongkah Festival as a medium for the revitalization of Duanu language and culture. If the festival is managed well, then it is believed that this activity will be able to support the emergence of a creative economy that improves the welfare of its supporting community, as well as to revitalize their culture and language. The government should be able to create policies that capable to support the creation of locality-based creative mindset, systems, and practices of the creative industry and to keep prioritizing the existing cultural values. Therefore, through ethnographic methods, the aim of this paper is to offer the model of creative industries based on culture and language of Duanu. If Menongkah Festival is optimally utilized by developing creative undustries, it is believed that the endangered language and culture of Duanu cen be revitalized and people’s live will be more prosperous.Kehidupan masyarakat Melayu Duanu, sebuah komunitas adat terpencil saat ini mulai mengemuka. Eksistensi mereka diakui dunia melalui Festival Menongkah yang mendapatkan rekor MURI sebanyak dua kali. Namun tanpa disadari, seiring arus globalisasi yang menerpa, mengemukanya suku ini mengikis budaya dan bahasa Duanu secara perlahan ke arah kepunahan. Selain itu sangat disayangkan, kegiatan ini hanya menyorot kemeriahan sesaat. Padahal masyarakat Duanu bisa memanfaatkan Festival Menongkah ini sebagai media revitalisasi budaya dan bahasa Duanu. Apabila dikelola dengan baik, diyakini, kegiatan ini akan dapat menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya, sekaligus dapat merevitalisasi budaya dan bahasa mereka. Pemerintah seharusnya dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan nilai-nilai kultural yang ada. Dengan demikian, melalui metode etnografis, tulisan ini bertujuan menawarkan model industri kreatif berbasis budaya dan bahasa Duanu. Jika Festival Menongkah dimanfaatkan secara maksimal dengan mengembangkan industri kreatif, diyakini bahasa dan budaya Duanu yang nyaris punah dapat terevitalisasi serta kehidupan masyarakat pun semakin makmur.

Back Cover Vol. 13 No. 2 (2017)

Arkeologi, Kapata

Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Seni Hias Tempel Keramik Kesultanan Cirebon: Toleransi dalam Kebinekaan

Harkantiningsih, Naniek

Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2146.467 KB)

Abstract

The Sultanate of Cirebon is the center of the Islamic empire that grew from the 15th century, in fact not only grew in the religious, bureaucratic, and commercial sphere, but also established cooperation with the Dutch, especially in the early 18th century, even become to region of the territory of VOC until the Dutch East Indies government. One of the proofs of the relationship, is the form of ceramic tiles from the Netherlands which until now used as decoration wall of the palace, mosque, and tombs. The pattern of ceramic tiles is biblical story. The existence of ceramic tiles of the biblical story in Cirebon as an area of the Islamic empire that was very influential at that time, certainly be uniqueness. Therefore, the purpose of this papers is to know the reasons for the preservation of the ornamental art of ceramic outboard bible stories in the center of government and sacred buildings characterized by Islam. The method used is qualitative analysis, context analysis, and literature study. The preservation of this ornamental art may also be linked to the tolerance of diversity, which is the current government policy program. The use of ceramic outboard art of Biblical story, both in profane and sacred building makes one of the typical culture of Cirebon, because the people of Cirebon and the Sultanate relatives still maintain the unity and preserve the cultural heritage.Kesultanan Cirebon sebagai pusat kerajaan Islam yang berkembang dari abad ke-15an, pada kenyataannya tidak hanya tumbuh dalam lingkup keagamaan, birokrasi, dan perniagaan, tetapi juga menjalin kerjasama dengan Belanda. Terutama pada awal abad ke-18an, bahkan menjadi wilayah kekuasaan VOC hingga pemerintahan Hindia Belanda. Salah satu bukti hubungan itu, berupa tegel keramik asal Belanda yang hingga kini dipakai sebagai hiasan tembok keraton, masjid, dan makam. Tegel keramik tersebut bermotifkan cerita Alkitab. Keberadaan tegel keramik cerita Alkitab di Cirebon sebagai wilayah kerajaan Islam yang sangat berpengaruh pada masa itu, tentu menjadi keunikan. Tujuan penulisan ini yaitu, mengetahui alasan pelestarian seni hias tempel keramik cerita Alkitab di pusat pemerintahan dan bangunan sakral bercirikan Islam. Metode yang digunakan ialah analisis kualitatif, analisis konteks, dan studi kepustakaan. Pelestarian seni hias ini mungkin dapat pula dihubungkan dengan toleransi kebinekaan, yang menjadi program kebijakan pemerintah saat ini. Penggunaan seni hias tempel keramik cerita Alkitab, baik di bangunan profan maupun sakral menjadikan salah satu budaya khas Cirebon, karena masyarakat Cirebon dan kerabat Kesultanan masih menjaga keutuhan dan melestarikan tinggalan budaya tersebut.