Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari?ah dan Hukum
ISSN : -     EISSN : -
Articles
33
Articles
Criminal Sanctions As an Eradication Strategy Of Corruption: A Critical Study from the Perspective of Islamic Criminal Law

Darudin, Mohammad

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 1 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The spirit of anti-corruption movement  has been a motion since reformation era in 1998 and the government has issued various policies. Firstly, the policy relating to the substance of the law, the government has passed various laws and ratified international conventions. Secondly, the regulations concerning law enforcement agencies, the government has established the Corruption Eradication Commission, Corruption Crime Court, the Center for Reporting and Analyzing Financial Transactions (PPATK), the Witness and Victim Protection Agency (LPSK), and the establishment of internal supervisory bodies. However,  these efforts seemingly  face failure. The facts show that corruption increases in the executive, legislative and judicial institutions, from the center to the region level. The failure of corruption eradication can be one of the reasons that indicates the formulation of criminal sanctions in Law No. 20/2001 for corruption is weak, not appropriate for the negative impacts of the crime. Consequently, the punishment imposed has no deterrent effect for either the perpetrators or others. It is contrast to the concept of sanctions in Islamic criminal law, sanctions imposed on the perpetrators must be comparable with their evil deeds (Quran Surah 42, verse 40), with the aim to benefit for human both individual and collective. According to the  concept, this article will examine criminal sanctions based on Islamic criminal law as an eradication strategy of corruption. The results of this article can be a consideration for the  revision of the framework in formulating criminal sanctions contained in Law No. 20 / 20011 concerning corruption.

Fatwa Sebagai Media Social Engineering (Analisis Fatwa MUI di Bidang Hukum Keluarga Pasca Reformasi)

Setiyanto, Danu Aris

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 1 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk menelaah bagaimanakah peran fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai social engineering, dan bagaimanakah implikasinya di bidang hukum keluarga Islam. Kedudukan fatwa yang merupakan bagian dari produk hukum Islam sangat urgen dalam eksistensi menentukan keadilan dan rekayasa sosial (social engineering). Eksistensi fatwa mengimplikasikan dinamika perkembangan hukum Islam sebagai jawaban realita sosial dalam menemukan keadilan berdasarkan syariat Islam. Di tengah pluralisme hukum pada era reformasi, masyarakat muslim Indonesia pada umumnya menerima fatwa MUI tentang hukum keluarga dengan baik. Sifat fatwa yang bersifat kasuistik, tidak memiliki daya ikat, dan dinamis telah mendorong adanya rekayasa sosial dalam masyarakat muslim Indonesia khususnya di bidang hukum keluarga. Kepercayaan masyarakat terhadap fatwa telah mengarahkan bahwa fatwa menjadi penentu hukum. Fatwa dinilai oleh masyarakat memiliki nilai-nilai dimensi ketuhanan dan dimensi keadilan sosial secara bersamaan.Sehingga keputusan atau peraturan negara melalui pengadilan yang tidak selaras dengan hukum Islam dapat dimediasi dengan kehadiran fatwa terkait. Fatwa MUI juga telah mampu menjadi jawaban bahkan penyeimbang kontroversi hukum negara dan agama dalam masyarakat. Kekuatan fatwa yang demikian mengarahkan dan menunjukkan kepada nilai-nilai ketuhanan dan cara berpikir, bertindak masyarakat muslim Indonesia.

Konsepsi Marital Rape dalam Fikih Munakahat

syaifuddin, muhammad irfan

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Marital rape menjadi kajian penting dalam isu-isu gender dalam beberapa dekade terakhir di Indonesia. Para penggiat kesetaraan gender ­–khususnya feminist – menggambil peran dalam menyuarakan marital rape sebagai bagian kekerasan dalam rumah tangga, yang bagi pelakunya bisa dikenai pidana. Terbitnya UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) menjadi jawaban terhadap kegelisaan para penggiat HAM khususnya untuk perempuan akan keberpihakan negara dalam melindungi setiap warga yang mendapatkan tindakan kekerasan sekalipun dalam ruang private, yaitu rumah tangga. Jika sebelumnya, kekerasan dalam rumah tangga tidak diatur khusus dalam KUHP dan hanya menjadi delik aduan umum, dalam UU PKDRT diatur dengan jelas dan rigid, marital rape dikategorikan ke dalam kekerasan seksual dan pelakunya dikenai hukuman pidana 12 tahun penjara atau denda sebesar 36 juta rupiah. Namun menjadi ironi jika kita melihat ke dalam litaratur fikih munakahat belum banyak dikemukakan pendapat ahli tentang bagaimana konsep dan hukum marital rape. Maka menumbuhkan kesadaran para ahli fikih akan petingnya konsep marital rape mutlak diperlukan, sehingga bukan hanya berdasar kepada ketentuan dalam hukum positif saja, tapi ketentuan dalam hukum Islam yang tegas terhadap marital rape.

The Concept Of Adultery Post-Revision Of The Penal Code

Junaidi, M., Imansyah, Resky Gustiandi Candra

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 1 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Zina is an act that is prohibited by religion as well as by the state. Adultery is arranged in two rules; in Indonesia it is regulated in the Criminal Code called KUHP. For the case of adultery, it uses offense complaint, which means that it will only be processed criminal law if there is one spouse who reported this legal event. While in Islam, zina’s actions are regulated in the Qur’an and Hadith. The problems appeared when the article that regulates zina in the existing criminal code law will be revised its offense from the offense complaint becomes a general offense. This research is under normative research. The type of data in this study is secondary data which were collected by the study method library.  The data collected were analyzed by qualitative descriptive method. The result shows that in the Islamic context of adultery, the reporting and proofing process requires only 4 witnesses and it must be seen by firsthand. Whereas in the draft amendment of the criminal law, the adultery will be regulated by general offense resulting in the proof that should be studied not only from the sociological aspect but also the theological aspect.

The Effectiveness Of Islamic Law Implementation To Address Cyber Crime: Studies In Arab, Brunei Darussalam, And China

Hasanah, Uswatun

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Technology development cause crime in the world that keep fluctuating and changing.  Cyber crime is one of crime activities which takes place in the internet and develop fast globally, even faster than the conventional crime. Cyber crime is not only about computer-crime, cyber-terrrorist, cyber-narco-terrorist, but also capable to make impact toward state economy. This paper aims to understand the implementation of Islamic law or Islamic criminal law to see cyber crime. Islamic criminal law has been developed many years ago before arrival of information technology. This paper describes how Arab, Brunei Darussalam, and China reduce crime by adoption of islamic law. Islamic law what meant here is a law based on Islam, not a law made by Muslims then applied by Muslims. Islamic law can be practiced in every single country, although they don’t declare explicitly or they think that what have they done is not islamic law. Islamic law contains general principles to respon and develop efficient ways to overcome cyber-crime.

Menakar Progresivitas Hukum Wakaf dalam Pengembangan Wakaf Uang di Indonesia

Efendi, Mansur

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study explained the progressivity of waqf law in Indonesia, especially cash waqf development. The progressivity of waqf law is good enough to respond to global challenges or field needs. The progressivity of waqf law in Indonesia can be observed from the development of waqf’s act regulations from pre-independence era until the post-reformation era. In cash waqf, there is fundamental law progressivity. It marked by act No. 44 year 2004 about waqf. Those act described new paradigm must be built on waqf management in Indonesia.  Furthermore, those act also gave a space for cash waqf as a part of waqf development in Indonesia. Another progressivity which appeared in those act is waqf treasure object. Act No. 44 year 2004 confirmed that waqf treasure object is not only immovable object,  as public understanding, but also applied on the movable object. Furthermore, the progressivity of waqf law has reached on waqf management and its institutional aspect. At least, this progressivity described collective awareness on the strategic role of waqf in Indonesia’s economics.

Kebijakan Formulasi Delik Agama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang Baru

Zulkarnaen, Ahmad Hunaeni, Kristian, Kristian, Aridhayandi, M. Rendi

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 1 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tulisan ini akan membahas kebijakan formulasi delik agama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru yakni dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana versi tahun 2015. Hal ini menjadi penting karena sila pertama dari Pancasila sebagai falsafah hidup, jiwa, pandangan, pedoman dan kepribadian bangsa Indonesia sekaligus menjadi falsafah bangsa dan Negara serta menjadi sumber dari segala sumber hukum di Indonesia adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Ini berarti, Indonesia adalah salah satu negara berTuhan dan memiliki filosofi Ketuhanan yang mendalam serta menempatkan agama sebagai sendi utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam kedudukannya sebagai Negara hukum khususnya Negara hukum Pancasila (sebagai religious nation state), agama menempati posisi sentral dan hakiki dalam seluruh kehidupan masyarakat yang perlu dijamin dan dilindungi (tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Konstitusi Negara dan Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahkan agama dan kerukunan hidup antarumat beragama (sehingga tercipta suasana kehidupan yang harmonis dan saling menghormati dalam semangat kemajemukan, memperkukuh jati diri dan kepribadian bangsa serta memperkuat kerukunan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara)  dicantumkan sebagai hal yang penting dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Oleh karena itu, wajar jika Negara memasukan atau menjadikan agama sebagai salah satu delik didalam hukum positifnya. Pengaturan mengenai delik agama ini dipandang penting karena penghinaan (atau cara-cara lainnya) terhadap suatu agama yang diakui di Indonesia dapat membahayakan perdamaian, kerukunan, ketentraman, kesejahteraan (baik secara materil maupun spirituil), keadilan sosial dan mengancam stabilitas dan ketahanan nasional. Agama juga dapat menjadi faktor sensitif yang dapat menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Atas alasan tersebut juga tulisan ini dibuat sebagai salah satu sumbangsih pemikiran dalam rangka mengetahui rumusan delik agama dan kelemahan-kelemahan yang ada didalamnya sehingga dimasa yang akan datang, dapat dilakukan pembaharuan. Diluar adanya pro-kontra dimasukannya delik agama dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang baru, Hasil penelitian, menunjukan bahwa pengaturan mengenai tindak pidana terhadap agama dan kehidupan beragama dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) mengacu kepada perkembangan “blasphemy” di Inggris atau perkembangan “Godslasteringswet” di Belanda. Kriminalisasi delik agama di Indonesia didasarkan pada religionsschutz theorie (teori perlindungan agama), gefuhlsschutz theorie (teori perlindungan perasaan keagamaan) dan friedensschutz theorie (teori perlindungan perdamaian atau teori perlindungan ketentraman umat beragama). Dalam RKUHP, delik agama ini dirumuskan dalam 8 pasal yang terbagi menjadi 2 kategori yakni: Tindak Pidana Terhadap Agama (yang mencakup penghinaan terhadap agama dan penghasutan untuk meniadakan keyakinan terhadap agama) dan Tindak Pidana Terhadap Kehidupan Beragama dan Sarana Ibadah (yang mencakup gangguan terhadap penyelenggaraan ibadah dan kegiatan keagamaan dan perusakan tempat ibadah). Kebijakan formulasi delik agama tersebut masih banyak mengandung kelemahan sehingga akan berpengaruh terhadap tahap aplikasi dan eksekusinya dalam praktik berhukum di Indonesia. Dalam kaitannya dengan delik agama, penggunaan sanksi pidana tentu harus memperhatikan rambu-rambu penggunaan pidana dan harus dilakukan dengan tujuan melakukan prevensi umum dan prevensi khusus. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi penyempurnaan kebijakan formulasi RKUHP versi tahun 2015 khususnya yang berkaitan dengan delik agama. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif (yuridis normatif) dengan melakukan studi bahan kepustakaan guna mengumpulkan data sekunder dan dilakukan penafsiran dengan menggunakan pendekatan undang-undang, perbandingan hukum, sejarah hukum, asas hukum dan teori hukum.

Fatwa DSN MUI In Managing The Dispute Settlement Of Sharia Economic In Indonesia Through Basyarnas

Radliyah, Nunung, Musjtari, Dewi Nurul, Setyowati, Rofah

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sharia Council is an institution that plays a role in securing the standard of Sharia in every Islamic Financial institution in the world. In Indonesia, the role is conducted by the National Sharia Council (DSN) established by the Indonesian Ulema Council (MUI) in 1998, strengthened by the Decree of the MUI Leadership Board. Kep-754/MUI/II/1999 dated February 10, 1999. The existence of MUI DSN in managing the settlement of sharia banking disputes has not been fully recognized by the people of Indonesia. It can be seen in the implementation of sharia contracting in sharia banking has not yet decided dispute resolution option through National Syariah Arbitration Board (BASYARNAS). The purpose of writing a paper is to know the legal basis of the binding force of the Fatwa DSN in arranging the settlement of dispute Sharia Economy in Indonesia through BASYARNAS and its consequences for the Islamic financial institutions (LKS) who disobey the fatwa DSN. This research is a normative research with the philosophical, juridical and sociological approach. Data analysis with qualitative descriptive. The results of this study indicate that the legal basis of the power of the DSN Fatwa in regulating the settlement of Sharia Banking disputes is Article 26 of Law No. 21 Th. 2008 and Article 31 of Decree of the Board of Managing Directors of Bank Indonesia Number 32/34/1999. There will a negative impact for LKS do not comply with the content of the DSN Fatwa, such as the difficulty in carry out its activities, aside of negatively influencing the performance and level of credibility of DPS in LKS.

Cakupan Alat Bukti Sebagai Upaya Pemberantasan Kejahatan Siber

Lestari, Anis Dewi, Damayanti, Meliana

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 1 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketentuan pembuktian sebagaimana diatur dalam pasal 184 Kitab Undang-Undang hukum Acara Pidana (KUHAP). Dalam pasal tersebut disebutkan alat-alat bukti terdiri atas : keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, keterangan terdakwa. Pesatnya Teknologi Informasi melalui internet tersebut mengubah aktifitas-aktifitas kehidupan yang semula perlu dilakukan kontak fisik, sekarang dengan menggunakan media elektronik, aktifitas keseharian dapat dilakukan secara virtual atau maya. Namun demikian  berhadapan dalam kasus siber (cyber crime)  dalam hal pembuktian ternyata dokumen elektronik tidak memenuhi ketentuan sistem hukum pidana terutama dalam KUHP maupun KUHAP di Indonesia.Penelitian ini merupakan penelitian normatif yang bersifat deskriptif dimana pendekatan ini dilakukan dengan cara menekankan pada undang-undang yang terkait dengan isu hukum. Untuk mempelajari dan menelaah hukum yang berkaitan dengan kasus apa saja yang ada di internet, dengan cara melakukan penelitian terhadap sumber-sumber tertulis. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder, dan teknik penelitian ini dengan mengkaji dokumen atau sumber tertulis seperti majalah, jurnal, buku dan lain-lainnya.Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya sebuah alat bukti yang disertai dengan keyakinan hakim. Penjelasan pasal 177 ayat (1) huruf c RUU KUHAP yang dimaksud dengan “bukti elektronik” adalah informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik ataupun yang serupa dengan itu, termasuk rekaman data.

Optimizing Government Policies On Profession Zakat

Kasim, Nur Mohamad

Al-Ahkam : Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum Vol 3, No 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The significant potential of zakat on profession needs to be actualized through a clear regulation. The targets of zakat on profession are: Ministry or State Institutions, Local Government, State-owned Enterprises, Local Government Owned Enterprises, even other professions that have a high income. The governments efforts to facilitate zakat on profession are solely aimed at making the mechanism of zakat management to be good, transparent and integrated into a system. However, zakat levies should have a specific rule that is binding all citizens, especially all Muslim Civil State Apparatus (henceforth called as ASN) who certainly meets the applicable regulations. For those who have income and already reach nishab or nominal income limit must pay zakat, while the ones whose incomes do not reach nishab are not obliged to do such a thing. Gorontalo province is one of the regions whose population is predominantly Muslim and has potential in terms of Islamic values-based economic development. Therefore, there needs to be a strict regulation to regulate zakat on profession, so that the utilization of zakat can help to alleviate the burden of the poor. By the existence of regulation, people who pay and receive zakat are equally having the benefits of zakat. This is to say that government has a prominent role and responsibility in optimizing the enactment of zakat on profession since the reality of the most significant zakat received by BAZNAS (Islamic board which oversees the collection of Zakat) in Gorontalo province is from ASN and other professions income.