cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : -
Core Subject : Health,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 2 (2013): September 2013" : 12 Documents clear
Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Etanol Dengan Sediaan Sirup Herbal Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Terhadap Pertumbuhan Shigella dysenteriae In Vitro Dewi, Intan Kusuma; Joharman, Joharman; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.949

Abstract

ABSTRACT: Sour carambola (Averrhoa bilimbi, L) fruit has antibacterial effect to Shigella dysenteriae. Shigella dysentriae is Gram-negative bacteria caused shigellosis and bloody diarrhea in human. Sour carambola can be used as extract and herbal syrup. This research aims to compare the inhibitory effect between ethanol extract and herbal syrup of sour carambola fruit to against Shigella dysenteriae in vitro. The concentration of ethanol extract and herbal syrup were 60 %,70%, 80% and 90%. Antibacterial effect was tested by Kirby- Bauer diffusion method on Mueller Hinton media and measure the inhibitory zone of  Shigella dysenteriae. The result of inhibitory zone was tested by Kruskal-Wallis and Mann-Whitney post hoc tests with 95% significance level showed  that ethanol extract and herbal syrup of sour carambola showed the differences in concentration of 60% (p < 0,05). The phytochemical screening result showed that ethanol extract of sour carambola contains  flavonoid, saponin, alkaloid and steroid. Keywords: Averrhoa bilimbi, L., ethanol extract, herbal syrup, Shigella dysenteriae ABSTRAK: Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi, L.) terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap Shigella dysenteriae. Shigella dysenteriae merupakan bakteri penyebab shigellosis atau disentri basiler. Buah belimbing wuluh dapat digunakan dalam bentuk ekstrak dan sirup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan daya hambat antara ekstrak etanol dengan sediaan sirup herbal buah belimbing wuluh dalam menghambat pertumbuhan Shigella dysenteriae in vitro. Konsenterasi ekstrak etanol dan sirup herbal buah belimbing wuluh yang digunakan adalah 60%, 70%, 80% dan 90%. Uji antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi Kirby-Bauer dengan media Mueller- Hinton dan dilakukan pengukuran zona hambat Shigella dysenteriae. Hasil zona hambat yang terbentuk diuji menggunakan Kruskal Wallis dan post hoc Mann Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% dan menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan sediaan sirup herbal buah belimbing wuluh memiliki perbedaan bermakna dalam menghambat Shigella dysenteriae pada konsenterasi 60% (p<0,05). Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol buah belimbing wuluh menunjukkan adanya kandungan flavonoid, saponin, alkaloid dan steroid.  Kata-kata kunci: Averrhoa bilimbi, L., ekstrak etanol, Shigella dysenteriae, sirup herbal
Hubungan Antara Adekuasi Hemodialisis Dan Kualitas Hidup Pasien Di Rsud Ulin Banjarmasin: Tinjauan Terhadap Pasien Penyakit Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Rutin Rahman, Aditya Rizky Arief; Rudiansyah, Muhammad; Triawanti, Triawanti
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.945

Abstract

ABSTRACT: Hemodialysis is one of the treatment method of chronic kidney disease. Patients with renal disease will lead to many other health problems, such as hypertension, anemia, osteoporosis and psychological disorders, that will cause a decline in the quality of life of patients. Hemodialysis therapy requires an adequate therapeutic dose. Adequacy of hemodialysis until now still have a question whether can improve the quality of life for the patient or not. The purpose of the research is to find out if there is any relation between adequacy of hemodilysis and the quality of life of the patient or not. This research use cross sectional method and invove patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis treatment that have categorized according to the inclusion criteria. The subjects were examined with a formula hemodialysis adequacy Kt / V, and a quality of life by questionnaire SF-36, and analyzed with the chi-square method.The All of the data was analyzed by Kolmogrov-Smirnov Test and it was found that p= 0,147 (p<= 0,050), that means there is no correlation between hemodialysis adequacy and quality of life among patients of Ulin General Hospital Banjarmasin. Keywords :  Chronic Kidney Disease (CKD), hemodialysis adequacy, quality of life ABSTRAK: Hemodialisis merupakan salah satu tindakan pengobatan gagal ginjal. Pada pasien gagal ginjal akan menimbulkan banyak masalah kesehatan lain, seperti hipertensi, anemia, osteoporosis dan gangguan psikologis, yang nantinya berakibat pada penurunan kualitas hidup pasien. Terapi hemodialisis membutuhkan dosis terapi yang adekuat. Adekuasi hemodialisis sampai sekrang masih menjadi pertanyaan apakah dapat meningkatkan kualitas hidup pasien atau tidak. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara adekuasi hemodialisis dan kualitas hidup pasien di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian menggunakan metode cross sectional dengan subjek penelitian yaitu pasien gagal ginjal kronik sebanyak 44 orang yang telah menjalani hemodialisis  sesuai dengan kriteria inklusi. Subjek diperiksa adekuasi hemodialisisnya dengan rumus Kt/V, dan kualitas hidup dengan kuesioner SF-36, dan dianalisa dengan metode chi-square. Hasil dari penelitian ini didapatkan perhitungan statistik  dengan uji Kolmogrov-Smirnov nilai  p=0,147 (p<= 0,050), yang berarti tidak terdapat hubungan antara adekuasi hemodialisis dan kualitas hidup pasien RSUD Ulin Banjarmasin. Kata kunci: Penyakit Ginjal Kronik (PGK), adekuasi hemodialisis, kualitas   hidup
Gambaran Distribusi Penderita Gangguan Jiwa Di Wilayah Banjarmasin Dan Banjarbaru Tahun 2011 Mubarta, Al Furqonnata; Husein, Achyar Nawi; Arifin, Syamsul
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.950

Abstract

ABSTRACT: One of the causes mental disorders are sociodemographic factors that include: age, gender and population density. Banjarmasin and Banjarbaru city has a high population density, this affecting the distribution of mental disorders. this Research is to find the distribution of mental disorders in Banjarmasin and Banjarbaru. This research use a descriptive method using secondary data of mental disorders in 2011 that was in Banjarmasin and Banjarbaru Health Department. The result, found that the number of people with mental disorders in Banjarmasin: psychosis 33%; non psychosis 67%; highest age 31-40 years 31.07%, women 60.20%, men 39.80% and highest in Kecamatan Banjarmasin Selatan 23.25%. The number of people with mental disorders in Banjarbaru: psychosis, 72%, non psychosis 28%; highest age > 50 years 27.80%, women 60.76%, men 39.24% and highest in Banjarbaru Selatan 51.12%. From the above results, there are some differences in the distribution of mental disorders in Banjarmasin and Banjarbaru in 2011. Keywords: mental disorder, age, gender, population density.ABSTRAK: Salah satu penyebab gangguan jiwa adalah faktor sosiodemografi yang meliputi; usia, jenis kelamin dan kepadatan penduduk. Kota Banjarmasin dan Banjarbaru merupakan wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, sehingga mempengaruhi distribusi gangguan jiwa. Tujuan penelitian untuk mengetahui distribusi penderita gangguan jiwa di wilayah Banjarmasin dan Banjarbaru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan data sekunder gangguan jiwa tahun 2011 yang berada di Dinas Kesehatan Banjarmasin dan Banjarbaru. Hasil dari penelitian didapat bahwa jumlah penderita gangguan jiwa di Banjarmasin: psikosis 33%; non psikosis 67%; usia terbanyak 31-40 tahun 31,07%; perempuan 60,20%; laki-laki 39,80% dan terbanyak pada Kecamatan Banjarmasin Selatan 23,25%. Jumlah penderita gangguan jiwa di Banjarbaru: psikosis 72%; non psikosis 28%; usia terbanyak >50 tahun 27,80%; perempuan 60,76%; laki-laki 39,24% dan terbanyak pada Kecamatan Banjarbaru Selatan 51,12%. Dari hasil di atas, terdapat beberapa perbedaan distribusi penderita gangguan jiwa di Banjarmasin dan Banjarbaru tahun 2011. Kata-kata kunci: gangguan jiwa, usia, jenis kelamin, kepadatan penduduk.
Perbandingan Efektifitas Asetol-Klopidogrel Terhadap Pasien Penderita Stroke Iskemik Akut Purnama, Sari Dianita; Pambudi, Pagan; Al Audhah, Nelly
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.941

Abstract

ABSTRACT: Acute ischemic stroke can make patients get neurology problems that show the signs of paralyze in some part of body and  suddenly decrease awareness. The prevalence of acute ischemic stroke which  high enough and the bad effects cause the preventing of acute ischemic stroke with right medicine becomes important. Acetosal works as an anti-thromboxane which often known as aspiryn. Clopidogrel is kind of thienophiridyn class drugs that works as an anti-platelet for acute ischemic stroke therapy so that can avoid blood cloting happened. This research aims to know if they have different effectivity or not to acute ischemic stroke therapy by acetosal and combine of acetosal-clopidogrel together. The method uses analythic observational with cohort. The research begins by counting the stroke scale use NIHSS (National Institute of Health Stroke Scale) at the first come to hospital, before patient cured by any drugs, and then repeat the NIHSS’s scoring at seventh day after therapy. Research did for four months with sample that gathered 32 people. First, did normality test to data and after the normality have been proven, use unpaired T-test with interval of confidence 95% that shows the result, there’s no significant difference between acetosal and combined acetosal-clopidogrel for acute ischemic stroke. Keywords: acetosal, clopidogrel, acute ischemic stroke, NIHSS ABSTRAK: Stroke iskemik akut dapat mengakibatkan defisit neurologi yang sebagian besar akan menimbulkan gejala kelumpuhan pada bagian tertentu dan atau terjadi penurunan kesadaran secara mendadak. Angka kejadian yang cukup tinggi dan efeknya terhadap penderita membuat pencegahan stroke iskemik akut dengan obat yang tepat sangat diperlukan. Asetosal adalah terapi yang bekerja sebagai antitromboksan yang sering pula dikenal dengan nama aspirin. Klopidogrel merupakan obat oral kelas tienopiridin yang berperan sebagai antiplatelet dalam terapi stroke iskemik akut sehingga mencegah terjadinya gumpalan darah.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat  perbedaan efektivitas pada terapi stroke iskemik akut menggunakan asetosal dan kombinasi asetosal-klopidogrel. Metode yang digunakan bersifat observasional analitik dengan pendekatan cohort. Penelitian dilakukan dengan cara menghitung derajat stroke pasien menggunakan NIHSS (National Institute of Health Stroke Scale) ketika hari pertama dirawat di rumah sakit sebelum mendapat terapi dan hari ketujuh setelah dilakukan terapi. Penelitian dilakukan selama empat bulan dengan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Data pertama-tama diuji normalitas distribusinya kemudian setelah terbukti distribusi normal maka dilakukan uji T tidak berpasangan dengan tingkat kepercayaan sebesar 95% yang menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna pada terapi stroke iskemik akut dengan asetosal dan kombinasi asetosal klopidogrel. Kata-kata kunci: asetosal, klopidogrel, stroke iskemik akut, NIHSS
Perbedaan Kadar Kalsium Femur Tikus Setelah Paparan Akut Dan Subkronik Debu Batubara Nurmalita, Karina Solikha; Noor, Zairin; Setiawan, Bambang
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.946

Abstract

Abstract: Coal dust is a byproduct of coal processing and pollutants in coal mining area and transportation as well. After inhalation of coal dust, the particles will settle in alveoli of the lungs and spread through the vascular system by inflammatory process. The particles contain various minerals that increased substitution or incorporation process of bone mineral in hydroxyapatite lattice, include calcium. The aimed of this research was to determine the difference of Ca2+ levels in femur wistar rats caused by acute and subchronic coal dust exposure. This research was an observational analytic research. Subjects were male wistar rat bone samples taken from Bank Jaringan PEROSI Banjarmasin. Research subjects divided into seven groups: control, acute exposure (14 days) and subchronic exposure (28 days) each with an exposure dose at 6.25 mg/m3, 12.5 mg/m3, and 25 mg/m3. There were four samples femur in each group. Data were analyzed using Kruskal-Wallis test. The result did not show any significant differences of calcium levels in femoral bone wistar rats after acute (p=0,739) and subchronic exposure (p= 0,123). The conclusion, there were no significant differences of calcium levels in femur rats after exposure to coal dust with various dosage. Keywords: Calcium levels, coal dust, wistar rats, acute, subchronic. ABSTRAK: Debu batubara merupakan produk samping pengolahan batubara sekaligus polutan di area pertambangan dan transportasi batubara. Partikel tersebut mengandung berbagai macam mineral yang dapat memicu proses substitusi atau inkorporasi mineral tulang dalam kristal hidroksiapatit, salah satunya mineral kalsium. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar Ca2+ femur tikus wistar jantan akibat paparan debu batubara yang diberikan pada wakru berbeda. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan sampel tulang tikus wistar jantan yang diambil dari Bank Jaringan PEROSI Banjarmasin. Subjek penelitian dibagi dalam tujuh kelompok yaitu, kontrol, BB1 = dosis batubara 6,25 mg/m3, BB2 = dosis batubara 12,5 mg/m3, dan BB3 = dosis batubara 25 mg/m3, yang masing-masing diberi paparan akut (14 hari) dan paparan subkronik (28 hari). Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis, disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna apabila didapatkan nilai p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kadar kalsium tulang femur tikus wistar jantan yang tidak bermakna setelah paparan akut (p=0,739) dan subkronik (p= 0,123). Tidak terdapat perbedaan bermakna dari kadar kalsium femur tikus setelah paparan debu batubara. Kata-kata kunci: Kadar kalsium, debu batubara, tikus wistar, akut, subkronik.
Hubungan Kadar HbA1C Dengan Kejadian Kaki Diabetik Pada Pasien Diabetes Melitus: Di RSUD Ulin Banjarmasin April-September 2012 Madina, Tria Sefty; Djallalluddin, Djallalluddin; Yasmina, Alfi
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.951

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus (DM) is a disorder characterized by hyperglycemia and impaired metabolism of carbohydrates, fats, and proteins caused by a deficiency of insulin hormone in relative or absolute terms. HbA1c level test is a test that gives an indication of blood glucose levels averaged over the previous 2-3 months, which gives an assessment of a person’s glucose control. When it is not controlled, there will be a risk of diabetic foot complication. This study was aimed to analyze the relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer in diabetic patients in RSUD Ulin Banjarmasin in April-September 2012. This study was an analytic observational survey with a cross-sectional approach. Samples were taken with total sampling method with a total sample of 100 patients. The result showed that diabetic patients with diabetic foot ulcers who had HbA1C level ≥ 7% (poor) were 13 subjects (100%) and there were no one who had HbA1C level < 7% (normal), whereas diabetic patients without diabetic foot ulcers with HbA1C level ≥ 7% were 31 subjects (35.6%) and those who had HbA1C level < 7% were 56 subjects (64.4%). The result of data analysis using Fisher test indicated that there was a significant relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer (p = 0.008). It could be concluded that there was a relationship between HbA1C level and the incidence of diabetic foot ulcer in DM patients in RSUD Ulin Banjarmasin in April-September 2012. Keywords: HbA1C, diabetic foot ulcer, diabetes mellitus ABSTRAK: Diabetes melitus (DM) adalah kelainan yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin secara relatif maupun absolut. Pemeriksaan HbA1C merupakan tes yang memberikan indikasi kadar glukosa darah rata-rata selama 2-3 bulan sebelumnya, yang memberikan penilaian tentang pengendalian kadar glukosa seseorang. Apabila kadar glukosa tidak terkontrol, dapat berisiko terjadi komplikasi kaki diabetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik pada pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin bulan April-September 2012. Penelitian ini adalah penelitian survei observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pemilihan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 100 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien DM dengan kaki diabetik yang memiliki kadar HbA1C ≥ 7% (buruk) adalah 13 orang (100%) dan tidak ada pasien yang memiliki kadar HbA1C < 7% (normal), sedangkan pasien DM tanpa kaki diabetik yang memiliki kadar HbA1C < 7% sebanyak 31 orang (35,6%) dan yang memiliki kadar HbA1C ≥ 7% adalah 56 orang (64,4%). Hasil analisis data menggunakan uji Fisher menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik (p = 0,008). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kadar HbA1C dengan kejadian kaki diabetik pada pasien DM di RSUD Ulin Banjarmasin bulan April-September 2012. Kata-kata kunci: HbA1C, kaki diabetik, diabetes melitus
Hubungan Antara Status Keakraban Orang Tua-Anak Dan Kecenderungan Antisosial: Pada Pelajar SMK YPK Kota Banjarbaru Avicenna, Annisa; Husein, Achyar Nawi; Bakhriansyah, Mohammad
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.942

Abstract

ABSTRACT: Juvenile delinquency is a form of antisocial behavior. Teenagers who have no proximity with their parents tend to have antisocial behaviors compared to them who have it with their parents. This study aimed to determine the relationship between the status of the parents-child proximity and the antisocial tendency on students at YPK Senior High School Banjarbaru. This was a descriptive analytical study with cross sectional approach. Samples involved in this study were 48 students and were selected by purposive sampling technique. Status of the parents-child proximity and the antisocial tendency were determined by using ‘Instrumen Keakraban Remaja-Orang tua (IKRO)’ and The Manson Evaluation Test, respectively. The samples consisted of 16 students had no proximity with their parents and 32 students who had it. The data showed that students who had no proximity with parents having antisocial tendency were 16 (33%) and none of students with no antisocial tendency (0%), whereas, students who had proximity with parents having antisocial tendency were 24 (50%) and those with no antisocial tendency were 8 (17%). Statistical analysis using Fisher test at 95% confidence level showed a significant relationship between proximity status of parents-child and the antisocial tendency on students at SMK YPK Banjarbaru (p=0,039). Keywords:  proximity of parents-child, antisocial behavior, YPK Senior High School                    Banjarbaru. ABSTRAK: Kenakalan remaja merupakan salah satu bentuk perilaku antisosial. Remaja yang tidak memiliki keakraban dengan orang tua cenderung memiliki perilaku antisosial dibandingkan dengan remaja yang memiliki keakraban dengan orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status keakraban orang tua-anak dan kecenderungan antisosial pada pelajar SMK YPK Kota Banjarbaru. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional dengan sampel penelitian sebanyak 48 orang dan dipilih secara purposive sampling. Status keakraban orang tua-anak dan kecenderungan antisosial ditentukan dengan menggunakan masing-masing kuesioner yaitu Instrumen Keakraban Remaja-Orang tua (IKRO) dan The Manson Evaluation Test. Sampel terdiri atas, 16 orang pelajar yang tidak memiliki keakraban dengan orang tua dan yang memiliki keakraban dengan orang tua berjumlah 32 orang. Hasil pengumpulan data tersebut menunjukkan bahwa pelajar SMK YPK yang tidak memiliki keakraban dengan orang tua memiliki kecenderungan antisosial sebanyak 16 orang (33%), sementara tidak ada pelajar yang tidak memiliki kecenderungan antisosial (0%). Selain itu, pelajar SMK YPK yang memiliki keakraban dengan orang tua memiliki kecenderungan antisosial sebanyak 24 orang (50%) dan tidak memiliki kecenderungan antisosial sebanyak 8 orang (17%). Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Fisher pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara status keakraban orang tua-anak dan kecenderungan antisosial pada pelajar SMK YPK Kota Banjarbaru (p=0,039). Kata kunci: keakraban orang tua-anak, perilaku antisosial, SMK YPK Banjarbaru
Profil Penderita Kanker Paru Primer Di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2006-2011 Nur Aisah, Shinta Kartika; Haryati, Haryati; Bakhriansyah, Mohammad
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.947

Abstract

ABSTRACT: Lung cancer is one of the most common malignancies causing very high morbidity and mortality. Many factors can contribute to the incidence of lung cancer instead of the mayor factor, smoking. It was the ten of pulmonary diseases at RSUD Ulin Banjarmasin. The aim of this research was to describe the profile of patients with primary lung cancer at RSUD Ulin Banjarmasin in 2006-2011. It was a descriptive study using medical records data. There were 134 data with confirmed case of lung cancer. Most of patients with lung cancer were male (76.12%), and male and female ratio was 3: 1. The mean age of patients was 57 years old, particularly at the fifth decade (29.85%). The most common clinical symptom was shortness of breath (53.73%). The most common histological type of lung cancer was adenocarcinoma (61.96%). Most patiens were diagnosed in the final stages of the disease, i.e IVA and IVB (56.72% and 17.91%). There were 33.59% patients with of primary lung cancer living in the city of Banjarmasin.  Keywords:      primary lung cancer, risk factors of primary lung cancer, histological  type, clinical stage, RSUD Ulin Banjarmasin ABSTRAK: Kanker paru merupakan salah satu keganasan yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya kanker paru, selain faktor utamanya yaitu merokok. Di RSUD Ulin Banjarmasin, kanker paru masuk dalam urutan sepuluh besar penyakit paru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui profil penderita kanker paru primer di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2006-2011. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder. Penelitian ini melibatkan 134 data pasien yang didiagnosis kanker paru primer. Sebagian besar penderita kanker paru primer adalah laki-laki (76,12%) dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan 3:1. Umur rata-rata adalah 57 tahun dengan umur terbanyak pada dekade kelima (29,85%). Gejala klinis yang paling sering dikeluhkan adalah sesak nafas (53,73%). Jenis histologi kanker paru primer yang terbanyak adalah adenokarsinoma (61,96%). Sebagian besar pasien berada pada stadium akhir yaitu stadium IVA dan IVB (56,72% dan 17,91%). Sebanyak 33,59% penderita kanker paru primer bertempat tinggal di kota Banjarmasin. Kata kunci:  kanker paru primer, faktor risiko kanker paru primer, jenis histologi sel,  stadium klinis, RSUD Ulin Banjarmasin
Efek Jus Buah Karamunting (Melastoma malabathricum L.) Terhadap Kadar Trigliserida Serum Darah Tikus Putih Yang Diinduksi Propiltiourasil Noorrafiqi, Muhammad Ichwan; Yasmin, Alfi; Hendriyono, FX
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.952

Abstract

ABSTRACT: This study was aimed to understand the effect of karamunting fruit juice on triglyceride serum level in white rats induced with propylthiouracil (PTU). This study design was experimental, conducted on 7 groups, that is, group I who was not given any treatments (normal group), group II who was given PTU and labelled as negative control, group III who was given PTU and fenofibrate and labelled as positive control, group IV-VII who were given PTU and karamunting fruit juice. Result showed that the average values of triglyceride level in  group VI-VII were 105 mg/dL, 222.75 mg/dL, 85.25 mg/dL, 123 mg/dL, 135.25 mg/dL, 132 mg/dL, and 122.5 mg/dL, respectively. There were significant differences between group II and groups VI-VII who were given karamunting fruit juice. It was concluded that karamunting fruit juice from the dose of 1 mg/gBW could inhibit the increase in triglyceride serum level in white rats induced with PTU and given cholesterol diet. Keywords: karamunting juice, triglyceride, propylthiouracil ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mengetahui efek jus buah karamunting terhadap kadar trigliserida pada tikus putih yang diinduksi propiltiourasil (PTU). Penelitian ini bersifat eksperimental yang dilakukan pada 7 kelompok, yaitu kelompok I yang tidak diberikan perlakuan (kelompok normal), kelompok II yang diberi PTU sebagai kontrol negatif, kelompok III yang diberi PTU dan fenofibrat sebagai kontrol positif, dan kelompok IV-VII yang diberi PTU dan jus buah karamunting. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar trigliserida pada kelompok I-VII berturut-turut adalah sebesar 105 mg/dL, 222,75 mg/dL, 85,25 mg/dL, 123 mg/dL, 135,25 mg/dL, 132 mg/dL, dan 122,5 mg/dL. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok II dan kelompok VI-VII yang diberikan jus buah karamunting. Dapat disimpulkan bahwa jus buah karamunting mulai dosis 1 mg/gBB dapat menghambat peningkatan kadar trigliserida dalam serum darah tikus putih yang diberi pakan kolesterol dan diinduksi PTU. Kata-kata kunci: jus buah karamunting, trigliserida, propiltiourasil
Perbandingan Perubahan Kepekaan Staphylococcus aureus ATCC 25923 Pada Pemaparan Amoksisilin-Asam Klavulanat Dan Eritromisin Kadar Subinhibisi In Vitro Rifasanti, Diah Puspita; Budiarti, Lia Yulia; Yasmina, Alfi
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.943

Abstract

ABSTRACT: Staphylococcus aureus is an organism that causes infections that can spread widely in the human body. The therapy for infection by S. aureus is amoxicillin-clavulanic acid or erythromycin, but resistance has been reported to both of them, and one of the causes was exposure to subinhibitory level of antibiotic. This study was aimed to determine whether there were any changes in the sensitivity of S. aureus ATCC 25923 caused by the exposure to subinhibitory level of amoxicillin-clavulanic acid and erythromycin and to compare the time needed to cause changes in sensitivity between the two antibiotics. It was an experimental study, using a completely randomized design, which consisted of 14 treatments based on duration of exposure, with three repetitions. Kirby Bauer disk diffusion method was used to evaluate the inhibitory effect. The result showed that there were changes in the sensitivity of S. aureus ATCC 25923 after being exposed to subinhibitory level of both antibiotics, and exposure to amoxicillin-clavulanic acid caused faster changes in sensitivity compared with exposure to erythromycin. Data analysis using the Mann-Whitney test indicated that there was a significant difference between the exposure to subinhibitory level of the two antibiotics (p = 0.025). It was concluded that there was a significant difference in changes in sensitivity of S. aureus ATCC 25923 caused by in vitro exposure to subinhibitory level of amoxicillin-clavulanic acid and erythromycin.                                          ListenRead phoneticallyKeywords: amoxicillin-clavulanic acid, erythromycin, sensitivity, Staphylococcus aureus, subinhibitory level ABSTRAK: Staphylococcus aureus merupakan organisme penyebab infeksi yang dapat menyebar luas. Terapi untuk infeksi oleh S. aureus diantaranya adalah antibiotik amoksisilin-asam klavulanat atau eritromisin. Telah dilaporkan adanya resistensi pada kedua antibiotik tersebut dan salah satu penyebabnya adalah akibat pengaruh antibiotik kadar subinhibisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perubahan kepekaan pada S. aureus ATCC 25923 pada pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi dan membandingkan waktu yang diperlukan yang dapat menimbulkan perubahan kepekaan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri dari 14 perlakuan antibiotik berdasarkan lama pemaparan dan pengulangan sebanyak 3 kali. Metode ujinya adalah metode difusi Kirby Bauer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan kepekaan pada S. aureus ATCC 25923 setelah dipaparkan pada antibiotik kadar subinhibisi, dan pada pemaparan antibiotik amoksisilin-asam klavulanat memerlukan waktu lebih cepat untuk menimbulkan perubahan kepekaan dibandingkan dengan pemaparan kadar subinhibisi eritromisin. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi in vitro (p = 0,025). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perubahan kepekaan S. aureus ATCC 25923 pada pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi in vitro. Kata kunci: amoksisilin-asam klavulanat, eritromisin, kadar subinhibisi, kepekaan, Staphylococcus aureus

Page 1 of 2 | Total Record : 12