cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : -
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 1 (2013): April 2013" : 13 Documents clear
Tinjauan Histologi Sawar Darah Otak Yuliana, Ida
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.924

Abstract

Abstract: Blood brain barrier is a membrane which is highly resistant to the diffusion process and separate the blood brain interstitial fluid. The blood brain barrier is a separation between the main compartment nervous system brain, CSF and the third compartment of the blood. Function of the blood brain barrier are protects the central nervous system to maintain homeostasis of blood milieu microenvironment. Blood-brain barrier layer is characterized as a perfect and continuous cell of endothelial cells in the connective by tight junctions. By using electron microscopy showed that the lumen of blood capillaries separated from the extra-cellular space by endothelial cells in the capillary wall (cell cerebral endhothelial), basement membrane outside the cell contains perisit endothelial cells and astrocytes feets are attached to the outer layer of the wall of the capillary. The third component has a specificity in terms of functional morphology and histology. Keywords: blood-brain barrier, endothelial cell,  astrocyte, perisit cell Abstrak: Sawar darah otak adalah suatu membran yang sangat resisten terhadap proses difusi dan memisahkan cairan intersisial otak darah. Sawar darah otak merupakan pemisah antara kompartmen utama susunan saraf otak, LCS dan kompartmen ketiga yaitu darah. Sawar darah otak memiliki fungsi melindungi susunan saraf pusat dari milieu darah mempertahankan homeostasis lingkungan mikro. Sawar darah otak dicirikan sebagai lapisan seluler yang sempurna dan kontinu dari sel endotel yang di ikat oleh tight junction. Dengan menggunakan mikroskop elektron memperlihatkan bahwa lumen kapiler darah dipisahkan dari ruang ekstra seluler oleh sel endotelial di dinding kapiler  (cell cerebral endhothelial), membran basalis di luar sel endotel berisi sel perisit dan kaki-kaki astrosit yang menempel pada lapisan luar dari dinding kapiler. Ketiga komponen tersebut memiliki kekhususan dalam hal morfologi dan fungsional secara histologi. Kata-kata Kunci: sawar darah otak, sel endotel, astrosit, sel perisit
Pola Sensitivitas In Vitro Salmonella Typhi Terhadap Antibiotik Kloramfenikol, Amoksisilin, Dan Kotrimoksazol: Di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin Periode Mei-September 2012 Juwita, Silvan; Hartoyo, Edi; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.915

Abstract

ABSTRACT: Incidence of typhoid fever in children is still considered high, especially in the Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin, so the effective and efficient treatment was required. The sensitivity test of organisms which tends to be resistance like Salmonella typhi is very important because each region has different sensitivity pattern of Salmonella and change over time. The purpose of this research was to determine the in vitro sensitivity pattern of Salmonella typhi to antibiotics chloramphenicol, amoxicillin, and cotrimoxazole in patients of Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin. This research was laboratoric descriptive.Out of 37 blood samples of typhoid fever patients in Paediatric Department of RSUD Ulin Banjarmasin, 20 samples were positive of Salmonella typhi isolate and the samples had undergone sensitivity test to antibiotic chloramphenicol, amoxicillin, and cotrimoxazole. This research was carried out with Kirby-Bauer diffusion method. Result interpretation was based on the formation radical zone of bacteria growth around antibiotic disk and it was compared to the standards of sensitivity by Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) 2011. The results of this research showed that Salmonella typhi was sensitive to chloramphenicol, (65%); amoxicillin, (15%); and cotrimoxazole, (80%); resistance to chloramphenicol, (10%); amoxicillin, (85%); and cotrimoxazole, (20%); and intermediat to chloramphenicol, (25%). The results of this research suggested that antibiotics chloramphenicol and cotrimoxazole were still sensitive to the bacteria Salmonella typhi, whereas amoxicillin was already resistant. Keywords: amoxicillin, chloramphenicol, cotrimoxazole, Salmonella typhi. ABSTRAK: Angka kejadian demam tifoid pada anak yang masih tinggi khususnya di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin, sehingga diperlukan pengobatan yang efektif dan efesien. Uji sensitivitas terhadap organisme yang cenderung mengalami resistensi seperti Salmonella typhi sangatlah penting karena pada masing-masing daerah mempunyai pola sensitivitas Salmonella yang berbeda dan berubah seiring waktu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sensitivitas in vitro Salmonella typhi terhadap antibiotik kloramfenikol, amoksisilin, dan kotrimoksazol pada pasien yang berada di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat deskriptif laboratorik. Dari 37 sampel darah penderita demam tifoid di Bagian Anak RSUD Ulin Banjarmasin didapatkan 20 isolat positif Salmonella typhi dan telah dilakukan uji sensitivitas terhadap 3 jenis antibiotik yaitu kloramfenikol, amoksisilin, dan kotrimoksazol. Penelitian ini dilakukan dengan metode difusi Kirby-Bauer. Interpretasi hasil berdasarkan pada terbentuknya zona radikal pertumbuhan bakteri di sekitar disk antibiotik dan dibandingkan dengan standar sensitivitas menurut Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Salmonella typhi sensitif terhadap kloramfenikol, (65%); amoksisilin, (15%); dan kotrimoksazol, (80%); resisten terhadap kloramfenikol, (10%); amoksisilin, (85%); dan kotrimoksazol, (20%); dan intermediat terhadap kloramfenikol, (25%). Hasil penelitian ini menunjukkan antibiotik kloramfenikol dan kotrimoksazol masih sensitif terhadap kuman Salmonella typhi, sedangkan amoksisilin sudah resisten. Kata-kata kunci: amoksisilin, kloramfenikol, kotrimoksazol, Salmonella typhi.
Perbandingan Sensitivitas Bakteri Aerob Penyebab Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Benigna Aktif Tahun 2008 Dan 2012 Hafizah, Hafizah; Qamariah, Nur; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.920

Abstract

ABSTRACT: Active benign chronic suppurative otitis media (ABCSOM) was a chronic infection of middle ear with the perforation of tympanic membrane and history of  drainage (otorrhea) for more than 2 months. The aim of this research is to compare the bacteria sensitivity to the antibiotic between 2008 and 2012. The antibiotics used for this research are ciprofloxacin, gentamicin, chlorampenicol and polymixyn B. This is an observational analytic research. The bacteria sensitivity was examined with Kirby-Bauer diffusion method and were converted using the standard of CLSI. The data were analyzed with Kolmogorov smirnov and Fisher test. The results has showed that in 2012 ciprofloxacin has 100% sensitivity, gentamicin has 98.2%,  chloramphenicol has 81,9% and polymyxin B has 30,8%, while the result in 2008 showed chloramphenicol has 86,1% sensitivity, gentamicin has 40,3% and polymyxin B has 13,8%. Data analysis using Kolmogorov smirnov and Fisher test with 95% confidence level showed that there is significant difference between the sensitivity of Pseudomonas aureginosa and Staphylococcus aureus to gentamicin and there is no significant difference in the other comparisons. It has been concluded that the most sensitive antibiotics in 2012 is ciprofloxacin and there is a significant difference in sensitivity of Staphylococcus aureus and Pseudomonas aureginosa to gentamicine in 2008 and 2012. Keywords : CSOMBA,  sensitivity of antibiotics, resistence of antibotics, sensitivity test of bacteria ABSTRAK: Otitis Media Supuratif Kronik tipe Benigna Aktif (OMSKBA) adalah infeksi kronis pada telinga dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya otorea lebih dari 2 bulan. Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan sensitivitas bakteri penyebab OMSKBA terhadap beberapa antibiotik pada tahun 2008 dan 2012. Antibiotik yang digunakan adalah siprofloksasin, gentamisin, kloramfenikol dan polimiksin B. Penelitian ini bersifat observasional analitik. Sensitivitas bakteri diuji dengan metode Kirby Bauer dan hasilnya dikonversikan dengan standar CLSI. Hasil penelitian pada tahun 2012 didapatkan sensitivitas dari siprofloksasin 100%; gentamisin 98,2%; kloramfenikol 81,9%; dan Polimiksin B 30,8%. Hasil Penelitian pada tahun 2008 didapatkan sensitivitas dari kloramfenikol 86,1%; gentamisin 40,3%; dan polimiksin B 13,8%. Hasil analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan Fisher dengan tingkat kepercayaan 95% memperlihatkan adanya perbedaan pada sensitivitas bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aureginosa terhadap gentamisin, sedangkan pada hasil lainnya tidak didapatkan adanya perbedaan. Dapat simpulkan bahwa antibiotik yang paling sensitif pada tahun 2012 adalah siprofloksasin dan pada uji analisis terdapat perbedaan sensitivitas yang bermakna pada bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aureginosa terhadap antibiotik gentamisin pada tahun 2008 dan 2012. Kata-kata Kunci : OMSKBA, resistensi antibiotik, sensitivitas antibiotik, uji sensitivitas bakteri
Jumlah Bakteriuri Pada Pasien Dengan Kateterisasi Uretra: Di Bagian Bedah Rsud Ulin Banjarmasin Periode Mei-Agustus 2012 Tinjauan Terhadap Jumlah Bakteriuri Sebelum Dan Dengan Pemasangan Kateter Uretra Menetap Selama 1 X 24 Jam Dan 2 X 24 Jam Syella, Nafilah; Rahman, Eka Yudha; Budiarti, Lia Yulia
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.925

Abstract

ABSTRACT: Procedure of urethral catheterization caused damage of mucosal lining that disturbed normal barrier and caused colonization of bacteria. The aim is to determine the ratio of bacteriuria before and during indwelling urethral catheter in Department of Surgery RSUD Ulin Banjarmasin. The method uses an observational analytic cross-sectional approach with 30 people as sample. The population of this study were all hospitalized patients with catheterization in Department of Surgery RSUD Ulin Banjarmasin. Sample of this study was urine of patient before and during indwelling urethral catheter which has been selected in the culture media in Microbiology Laboratory of UNLAM Medical Faculty Banjarbaru. The instruments used include data obtained from urine cultures of patients with urethral catheterization. The collected data were analyzed using a Wilcoxon test then compared with a 95% confidence interval. The results of Wilcoxon test showed that there were significant difference in the number of bacteriuria. This study proved that there was a change of bacteriuria number before and during indwelling urethral catheter.Listen                                          Read phoneticallyKeywords: urinary tract infection, urethral catheter,surgery patientABSTRAK: Pemasangan kateter bisa menyebabkan kerusakan lapisan mukosa yang mengganggu barier alami dan menyebabkan kolonisasi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jumlah bakteriuri sebelum dan dengan pemasangan kateter uretra pada pasien di Bagian Bedah RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 30 orang. Populasi dari penelitian adalah seluruh pasien dengan kateterisasi di Bagian Bedah RSUD Ulin Banjarmasin. Sampel penelitian adalah urin pasien sebelum dan dengan pemasangan kateter urin di Bagian Bedah RSUD Ulin Banjarmasin yang telah dikultur pada media terpilih di Laboratorium Mikrobiologi FK UNLAM Banjarbaru. Instrument yang digunakan meliputi data yang diperoleh dari kultur urin pasien dengan kateterisasi. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon kemudian dibandingkan dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji Wolcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah bakteriuri yang bermakna. Penelitian ini membuktikan bahwa terdapat perubahan gambaran jumlah bakteriuri sebelum dan dengan pemasangan kateter menetap. Kata-kata kunci: bakteriuri, kateter urin, pasien bedah
Perbandingan Efektifitas Rapid Diagnostic Test (Rdt) Dengan Pemeriksaan Mikroskop Pada Penderita Malaria Klinis : Di Kecamatan Jaro Rakhman, M. Aulia; Istiana, Istiana; Al Audhah, Nelly
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.916

Abstract

ABSTRACT: Malaria is a disease caused by genus Plasmodium. Enforcement of the diagnosis malaria is microscopic examination of thick blood droplets and thin blood droplets and examination of Rapid Diagnostic Test (RDT). Gold standard for the diagnosis of malaria is microscopic examination. Rapid Diagnosis Test (RDT) is one alternative diagnostic tool in detecting Plasmodium quickly and doesn’t require special skill. The purpose of this study was to discover the effectiveness of Rapid Diagnostic Test (RDT) compared with microscopic examination in patient with clinical malaria in Jaro Sub-district. This study was a descriptive analytic study using the data of the result of malaria examination means of microscope examination and RDT on January – June 2012, with cross sectional approach. RDT examination result showed 98% sensitivity value, 100% specificity value, 100% positive predictive value and 98% negative predictive value compared with microscopic examination. Statistical test using Mc.Nemar test with 95% level of confidence interval p=0,125 (p>0,05). This show was no difference in the effectiveness of RDT examination and microscopic examination of patients with clinical malaria in Jaro Sub-district.Keywords: effectiveness, Rapid Diagnostic Test (RDT), microscopic examinationABSTRAK: Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh genus Plasmodium. Penegakkan diagnosis malaria adalah dengan pemeriksaan mikroskopis berupa tetesan darah tebal dan tetesan darah tipis serta pemeriksaan Rapid Diagnostik Test (RDT).  Gold standard untuk diagnosis malaria adalah dengan pemeriksaan mikroskopis. Rapid Diagnosis Test (RDT) merupakan salah satu alat diagnostik alternatif dalam mendeteksi Plasmodium secara cepat dan tidak memerlukan keterampilan khusus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas Rapid Diagnostic Test (RDT) dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskop pada penderita malaria klinis di Kecamatan Jaro. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik menggunakan data hasil pemeriksaan malaria melalui pemeriksaan mikroskop dan RDT selama bulan Januari – Juni 2012 dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan pemeriksaan RDT memiliki nilai sensitivitas 98%, spesifisitas 100%, nilai duga positif 100% dan nilai duga negatif 98% dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopis. Analisis uji statistik menggunakan uji Mc.Nemar dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai p=0,125 (p>0,05)S. Hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektifitas  pemeriksaan RDT dan mikroskopik pada penderita malaria klinis di Kecamatan Jaro.. Kata-kata kunci: efektifitas, Rapid Diagnostic Test (RDT), pemeriksaan  mikoskopisABSTRACT: Malaria is a disease caused by genus Plasmodium. Enforcement of the diagnosis malaria is microscopic examination of thick blood droplets and thin blood droplets and examination of Rapid Diagnostic Test (RDT). Gold standard for the diagnosis of malaria is microscopic examination. Rapid Diagnosis Test (RDT) is one alternative diagnostic tool in detecting Plasmodium quickly and doesn’t require special skill. The purpose of this study was to discover the effectiveness of Rapid Diagnostic Test (RDT) compared with microscopic examination in patient with clinical malaria in Jaro Sub-district. This study was a descriptive analytic stud
Hubungan Antara Perilaku Merokok Dan Kejadian Insomnia: Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Mushoffa, Muhammad Annahri; Husein, Achyar Nawi; Bakhriansyah, Mohammad
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.921

Abstract

ABSTRACT: Cigarettes contain about 4000 toxic substances thataffecting health status and cigarettes consumption leads to some diseases such as cardiovascular and respiratory diseases, malignancy, mental and other disorders, including insomnia. This researchwas aimed to analyze the association between smoking behavior and insomnia on Medical Faculty student of LambungMangkurat University. It was an observational analytic studywith cross-sectional approach. The population was108 male students who met the inclusion criteria. Insomnia was assessed by Insomnia Rating Scale questionnaire. The result showed that 5 smoker students with insomnia (15.15%), 28 smokers students without insomnia (84.85%), 2 non-smoker students with insomnia (2.67%), and 73 non-smoker students without insomnia (97.33%). The data were analyzed by usingFisher’s statistic test with 95% confidence interval.Statistical analysis revealed that the p value 0.027. Hence, there was anassociation between smoking behavior and insomnia. It couldbe concluded that there wasan significant association betweensmoking behavior and insomnia on Medical Faculty student of LambungMangkurat University.Keywords: smoking behavior, insomnia, male, Medical Faculty student of LambungMangkurat University.ABSTRAK: Rokok memiliki sekitar 4000 zat beracun yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Berbagai gangguan seperti penyakit kardiovaskular, pernapasan, keganasan, mental dan gangguan lainnya, termasuk insomnia dapat muncul sebagai akibat konsumsi rokok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku merokok dan kejadian insomnia pada mahasiswa FK UNLAM. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah 108 mahasiswa laki-laki di FK UNLAM yang memenuhi kriteria inklusi. Kejadian insomnia ditentukan dengan menggunakan kuesioner Insomnia Rating Scale. Dari kuesioner didapatkan data mahasiswa perokok dengan insomnia 5 orang (15,15%), mahasiswa perokok tanpa insomnia 28 orang (84,85%), mahasiswa nonperokok dengan insomnia 2 orang (2,67%), dan mahasiswa nonperokok tanpa insomnia 73 orang (97,33%). Data kemudian dianalisis dengan uji statistik Fisher’s.Hasil  analisis data menggunakan uji Fisher’s dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan nilai p = 0,027. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan risiko terjadinya insomnia pada mahasiswa perokok FK UNLAM. Kata-kata kunci:perilaku merokok, insomnia, laki-laki, FK UNLAM 
Gambaran Kejadian Kecemasan Pada Ibu Penderita Retardasi Mental Sindromik Di Slb-C Banjarmasin: Tinjauan Terhadap Usia Anak, Paritas Dan Tingkat Pendidikan Ibu Norhidayah, Norhidayah; Wasilah, Siti; Husein, Achyar Nawi
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.917

Abstract

ABSTRACT: Mental retardation is one of the things that can cause anxiety in a mother. There are several factors that influence the anxiety that age, education level, gender and socio-cultural. This research aims to determine the incidence of anxiety in mothers with mental retardation in terms of age, parity and maternal education level. This research uses observational methods. The Results have 59.26% of women who experience anxiety. Mothers who experience anxiety in terms of the childs age was 22.22% in children aged ≤ 12 years and 37.04% at age >12 years. Mothers who experience anxiety in terms of parity was 33.33% of the mothers in the low parity and 25.93% in high parity. Mothers who experience anxiety in terms of education level shows 40.74% at low levels of education, and 18.52% higher educational level. The conclusion of this research is mostly mothers with mental retardation children experience anxiety at  age >12 years, low parity and low education levels. Keywords: anxiety, syndromic mental retardation. ABSTRAK: Retardasi mental merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan kecemasan pada seorang ibu. Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kecemasan yaitu usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin dan sosial budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian kecemasan pada ibu penderita retardasi mental ditinjau dari usia anak, paritas dan tingkat pendidikan ibu. Penelitian ini menggunakan metode observasional.. Hasil penelitian menunjukkan 59,26% ibu  penderita retardasi mental mengalami kecemasan. Ibu yang mengalami kecemasan ditinjau dari usia anak adalah 22,22% pada usia anak ≤12 tahun dan 37,04% pada usia anak >12 tahun. Ibu yang mengalami kecemasan ditinjau dari paritas adalah 33,33% ibu pada paritas rendah dan 25,93% paritas tinggi. Ibu yang mengalami kecemasan ditinjau dari tingkat pendidikan menunjukkan 40,74% pada tingkat pendidikan rendah dan 18,52% tingkat pendidikan tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar ibu penderita retardasi mental mengalami kecemasan pada usia anak >12 tahun, paritas rendah dan tingkat pendidikan rendah. Kata-kata kunci :kecemasan, retardasi mental sindromik
Hubungan Perilaku Jajan Dengan Kejadian Diare Pada Anak Sekolah Dasar: Di Kel. Cempaka Kec. Cempaka Kota Banjarbaru Hernanda, Aditya Pradipta; Djallalluddin, Djallalluddin; Noor, Meitria Syahadatina
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.922

Abstract

ABSTRACT: Diarrheal disease in young children seems increasingly common in many topycal countries,especially in urban areas were dirty and crowded. Until now diarrhea is still one of the major health problem of the community in Indonesia.Diarrhea is always in the order of 3 greater than 10 diseases most health centers. The magnitude of the problem is evident from the high rate of mordibity and mortality due to diarrhea. The design of the study is observational analytic study. This research was conducted with a cross sectional study. From the research group hygienic respondents, 20 students (34.5%) suffered from diarrhea and as many as 38 students (63.5%) did not have diarrhea. Looking at the group of respondents unhygienic, as many as 98 students (78.4%) suffered from diarrhea and only 27 students (21.6%) who did not have diarrhea. The correlation test was used chi-square analysis because the variables have the habit of eating snacks nominal scale data form. Results obtained value of p = 0.000, this result is smaller than the value of a = 0.05. It means there is a significant relationship between the habit of eating snacks with diarrhea. The incidence of diarrhea largely categorized by 65.5% suffered from diarrhea. Figures hygiene most unhygienic categorized by 68.7% There is a significant association with the incidence of diarrhea snack behavior. Keywords: diarrhea, snack behavior, hygienic ABSTRAK      : Penyakit diare pada anak usia muda tampaknya makin sering dijumpai di berbagai negara tropis, khususnya di daerah perkotaan yang kotor dan padat. Sampai saat ini penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Diare selalu masuk dalam urutan 3 besar dari 10 penyakit terbanyak  Puskesmas. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan cross sectional. Dari hasil penelitian kelompok responden yang higienis, sebanyak 20 siswa (34,5%) menderita diare dan sebanyak 38 siswa (63,5%) tidak menderita diare. Sedang pada kelompok responden tidak higienis, sebanyak 98 siswa (78,4%) menderita diare dan hanya 27 siswa (21,6%) yang tidak menderita diare. Adapun uji korelasi pada analisa ini digunakan Chi Square karena variabel kebiasaan jajan mempunyai bentuk data berskala nominal. Hasil yang didapatkan nilai p = 0,000, hasil ini ternyata lebih kecil dari nilai a = 0,05. Hal ini dapat diartikan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan jajan dengan kejadian diare. Angka kejadian diare sebagian besar dikategorikan menderita diare sebesar 65,5%. Angka higienitas sebagian besar dikategorikan tidak higienis sebesar 68,7% Ada hubungan yang bermakna perilaku jajan dengan kejadian diare  Kata kata kunci : kejadian diare, perilaku jajan, higienis.
Perbandingan Tekanan Nadi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Putri, Niarsari Anugrahing; Asnawati, Asnawati; Yasmina, Alfi
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.913

Abstract

ABSTRACT: Obesity is a global problem occurring worldwide, both in developed and developing countries, including Indonesia. Obesity and overweight may affect the pulse pressure through the increased level of leptin, which mainly secreted by adipose tissue. The research was aimed to determine the difference in pulse pressure based on body mass index (BMI) in students of Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University (FM LMU). This research applied analytic observational method with cross sectional approach, with 60 male students of FM LMU as subjects. Data were obtained based on the measurement of pulse pressure and BMI. Result showed that as many as 66.8% of the students of FM LMU had normal BMI and 19.2% had BMI of overweight and obesity. The average pulse pressure of students with normal BMI was 33 mmHg and students with overweight and obesity was 42 mmHg. Data analysis using the Mann-Whitney test with confidence level of 95% gave the value of p = 0.000. It was concluded that there was a significant difference in pulse pressure based on BMI in students of FM LMU. Keywords: pulse pressure, body mass index ABSTRAK: Obesitas merupakan masalah global yang melanda masyarakat dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang, termasuk Indonesia. Obesitas dan overweight dapat mempengaruhi tekanan nadi melalui peningkatan kadar leptin yang terutama disekresi oleh jaringan adiposa. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan nadi berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (FK Unlam). Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional dengan subyek penelitian mahasiswa FK Unlam sebanyak 60 orang. Data diperoleh berdasarkan pengukuran tekanan nadi dan IMT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 66,8% mahasiswa di FK Unlam memiliki IMT normal dan 19,2% memiliki IMT overweight dan obesitas. Rerata  tekanan nadi pada mahasiswa dengan IMT normal adalah sebesar 33 mmHg dan pada mahasiswa dengan IMT overweight dan obesitas sebesar 42 mmHg. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% memberikan  nilai p = 0,000. Dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan tekanan nadi yang bermakna berdasarkan IMT pada mahasiswa FK Unlam. Kata-kata kunci : tekanan nadi, indeks massa tubuh
Gambaran Derajat Infiltrasi Sel Radang Dan Infeksi Helicobacter Pylori Pada Biopsi Lambung Pasien Gastritis: Di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2009-2011 Yulida, Erna; Oktaviyanti, Ika Kustiyah; Rosida, Lena
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.918

Abstract

ABSTRACT: Gastritis is a common gastrointestinal problem all over the world. In Indonesia, the prevalence of gastritis is high enough, it’s about 274.396 cases among 238.452.952 people. The aim of this research is to find out the type and level of inflammation and the infection Helicobacter pylori on gastritis patient in RSUD Ulin Banjarmasin during 2009-2011. The method uses descriptive research by emphasize on preparation of gastric biopsy to find the level of acute inflammation, chronic inflammation dan Helicobacter pylori’s infection based on Updated Sydney System from Endoscopy and Pathology Department. Data were classified by gender, age, and the level of severity. From 52 cases, acute inflammation is occurred in 35 patients with 29 patients (83%) mild, 5 patients (14%) moderate, 1 patient (3%) severe. Chronic inflammation is occurred in 51 patients with 2 patients (4%) mild, 14 patients (27%) moderate, and 35 patients (69%) severe. Helicobacter pylori’s infection is  occurred in 30 patients with 3 patients (10%) mild, 6 patients (20%) moderate, and 21 patients (70%) severe. Keywords : gastritis, acute inflammation, chronic inflammation, Helicobacter pylori ABSTRAK: Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran pencernaan yang paling sering terjadi di dunia. Angka kejadian gastritis di Indonesia cukup tinggi, yaitu 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan derajat keparahan infiltrasi sel radang serta infeksi Helicobacter pylori pada pasien gastritis di RSUD Ulin Banjarmasin. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan mengumpulkan data tingkat inflamasi akut, kronis dan infeksi Helicobacter pylori berdasarkan Updated Sydney System dari Instalasi Endoskopi dan Instalasi Patologi Anatomi. Data dikelompokkan menurut jenis kelamin, usia, dan tingkat keparahan. Dari 52 preparat, ditemukan inflamasi akut terjadi pada 35 pasien dengan 29 pasien (83%) derajat ringan, 5 pasien (14%) derajat sedang, dan 1 pasien (3%) derajat berat. Inflamasi kronik terjadi pada 51 pasien dengan  2 pasien (4%) derajat ringan, 14 pasien (27%) derajat sedang, dan 35 pasien (69%) derajat berat. Sedangkan infeksi Helicobacter pylori terjadi pada 30 pasien dengan 3 pasien (10%) derajat ringan, 6 pasien (20%) sedang, dan 21 pasien (70%) derajat berat. Kata-kata Kunci: gastritis, inflamasi akut, inflamasi kronis, Helicobacter pylori

Page 1 of 2 | Total Record : 13