cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : -
Core Subject : Health,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue " Vol 13, No 1 (2017)" : 16 Documents clear
BIOMARKER TERKINI DALAM USAHA MEMPREDIKSI PREEKLAMPSIA Salan, Yosef Dwi Cahyadi
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3448

Abstract

Abstract: Preeclampsia is a life-threatening disease and can occur in all pregnant women. Preeclampsia was defined as a disease in pregnant women that is characterized by an increase in blood pressure exceeds 140 mmHg for systolic and 90 mmHg for diastolic that occured in pregnant women with gestational age above 20 weeks. In recent decades the incidence of preeclampsia continues to rise and is caused by various factors. Factors to be considered as the most influential is the process of the growth of the placenta which is abnormal, but the main factors that trigger the growth of the placenta become abnormal is not yet certainly known, some studies tryingto find out the various factors that can trigger the growth of abnormal placentation of preeclampsia, especially the associationof the growth pattern blood vessels in the placenta are thought to have a major role in the occurrence of preeclampsia in pregnant women. From these studies are found several biomarkers that are believed to be an early marker in an attempt to prevent the occurrence of preeclampsia in pregnant women, such as angiogenic markers, immunological markers, markers of Metabolic and Endocrine marker. Keywords: Preeclampsia, Abnormal Placentation, and Early Biomarker. Abstrak: Preeklampsia merupakan salah satu penyakit yang mengancam jiwa dan dapat terjadi pada semua ibu hamil. Preeklampsia didefinisikan sebagai suatu penyakit pada ibu hamil yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan darah melebihi 140 mmHg untuk sistolik dan 90 mmHg untuk diastolik yang terjadi pada ibu hamil dengan usia kehamilan diatas 20 minggu. Dalam beberapa dekade terakhir angka kejadian preeklampsia terus meningkat dan disebabkan oleh berbagai macam faktor. Faktor yang dianggap paling berpengaruh yaitu adanya proses pertumbuhan plasenta yang tidak normal, akan tetapi faktor utama yang mencetuskan terjadinya pertumbuhan plasenta secara abnormal tersebut belum diketahui dengan pasti, beberapa penelitian mencoba mencari tau berbagai faktor yang dapat memicu terjadinya pertumbuhan plasenta abnormal pada preeklampsia, terutama yang berhubungan dengan pola pertumbuhan pembuluh darah pada plasenta yang diduga memiliki peranan besar dalam terjadinya preeklampsia pada ibu hamil. Dari penelitian-penelitian tersebut didapatkan beberapa biomarker yang dipercaya dapat menjadi penanda dini dalam usaha untuk mencegah terjadinya preeklampsia pada ibu hamil, seperti marker Angiogenik, marker Immunologis, marker Metabolik, dan marker Endokrin. Kata-kata Kunci: Preeklampsia, Pertumbuhan Plasenta Abnormal, dan Biomarker  Penanda Dini. 
HUBUNGAN HIGIENITAS BOTOL SUSU DENGAN KEJADIAN DIARE DI WILAYAH PUSKESMAS KELAYAN TIMUR BANJARMASIN Harris, Muhammad Fathir Naman; Heriyani, Farida; Hayatie, Lisda
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3439

Abstract

Abstract: Diarrhea is a contagious disease which still become public health main issue in the world includes Indonesia. South Borneo is in the twentieth province with most frequent diarrhea incident. Kelayan Timur is the second most frequent diarrhea incident public health center in Banjarmasin. One of the risk factors for diarrhea is milk bottle hygiene. This research aimed to understand the correlation between milk bottle hygiene and diarrhea incident in Kelayan Timur Public Health Center. This was analytic observational research with case control study. The data analyzed using a chi square test and prevalence odds ratio. There were 66 samples with 33 samples of case group which showed 21 samples (63,63%) of poor milk bottle hygiene and 12 samples (36,36%) of good milk bottle hygiene meanwhile in control group, there were 11 samples (33,33%) of poor milk bottle hygiene and 22 sample (66,66%) of good milk bottle hygiene. Analysis result shows p value=0,014 and OR=3,5 which means there is significant relation of milk bottle hygiene and diarrhea incident in Kelayan Timur Public Health Center. Infants with poor hygiene milk bottle have 3,5 times higher risk to suffer from diarrhea than infants with good hygiene. Keywords: milk bottle hygiene, diarrhea, Kelayan Timur Public Health Center Abstrak: Diare adalah penyakit infeksi menular yang masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kalimantan Selatan menduduki urutan kedua puluh dari semua provinsi yang tercatat sebagai daerah penyumbang diare terbanyak. Kelayan Timur adalah puskesmas dengan kejadian diare terbanyak kedua di Banjarmasin. Salah satu dari faktor risiko diare adalah higienitas botol susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan higienitas botol susu dengan kejadian diare di wilayah Puskesmas Kelayan Timur. Penelitian bersifat observasional analitik dengan pendekatan case control. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan prevalence odds ratio.Sampel yang diambil sebanyak 66 sampel, dimana 33 sampel yang diambil sebagai kelompok kasus menunjukkan 21 sampel (63,63%) dengan higienitas botol susu yang buruk dan 12 sampel (36,36%) dengan higienitas botol susu yang baik, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat 11 sampel (33,33%)  dengan higienitas botol susu yang buruk dan 22 sampel (66,66%)  dengan higienitas botol susu yang baik. Hasil analisis mendapatkan nilai p=0,014 dan OR=3,5 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara higienitas botol susu dengan kejadian diare di wilayah Puskesmas Kelayan Timur. Balita dengan higienitas botol susu yang buruk berisiko 3,5 kali lebih besar untuk menderita diare dibanding dengan higienitas botol susu yang baik. Kata-kata kunci:higienitas botol susu, diare, Puskesmas Kelayan Timur
KORELASI ANTARA PROTEINURIA DAN FRAMINGHAM RISK SCORE DALAM PENILAIAN RISIKO CARDIOVASCULAR DISEASE Raharjo, Kevin Prasetya; Yuwono, Agus; Wydiamala, Erida
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3444

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder with elevated glucose level known as hyperglicemia which is caused by insulin resistance. One of the diabetes mellitus complications known is a cardiovascular disease (CVD). Proteinuria is affecting CVD risk on DM patient which is predicted by framingham risk score (FRS). This research aimed to discover the correlation between proteinuria and framingham risk score on cardiovascular disease risk evaluation of DM patient. This was analytic observational research with the cross-sectional design. Samples included in this study were 43 DM patients’ medical record data. Statistic analysis with Somers’d test resulted in r value=-0,067 and  p significance value=0,063 (p>0,05). Based on the result, it can be concluded that proteinuria has very weak, negative and nonsignificant correlation strength. Keywords: Proteinuria, framingham risk score, cardiovascular disease, diabetes mellitus Abstrak: Diabetes melitus (DM) adalah suatu kelainan metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar glikemik dalam darah atau hiperglikemia yang ditimbulkan akibat adanya resistensi insulin. Salah satu komplikasi DM yang telah diketahui adalah cardiovascular disease (CVD). Risiko CVD yang dapat diprediksi dengan framingham risk score (FRS) pada pasien diabetes melitus dapat dipengaruhi oleh adanya proteinuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara proteinuria dengan framingham risk score dalam penilaian risiko cardiovascular disease pada pasien DM. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 43 sampel berupa data rekam medis pasien DM tipe 2. Hasil uji statistik dengan uji Somers’d mendapatkan hasil r=-0.067 dengan nilai signifikansi p=0.663. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa proteinuria memiliki korelasi yang sangat lemah, tidak searah dan tidak ada korelasi yang bermakna. Kata-kata kunci: Proteinuria, framingham risk score, cardiovascular disease, diabetes  melitus 
POLA KEPEKAAN ISOLAT BAKTERI AEROB PADA KONJUNGTIVITIS TERHADAP ANTIBIOTIK TERPILIH DI POLIKLINIK MATA RSUD ULIN BANJARMASIN Atmawati, Tri Utami; Faisal, M. Ali; Rahmiati, Rahmiati
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3435

Abstract

Abstract: Bacterial conjunctivitis is a conjunctiva inflammation that caused by bacterial. This disease including to the most ten diseases of ophthalmology polyclinic at RSUD Ulin Banjarmasin; however there is no data given on the sensitivity pattern to the antibiotic. The aim this research was to assess aerob bacterial sensitivity patterns causes conjunctivitis to a topical antibiotic. This research used the descriptive method with a cross-sectional study. The  result with 21 samples isolate bacteria demonstrated that aerob bacterial sensitivity patterns to tobramicin (100%), to gentamicin (80,95%), to polymixin (80,95%), to ofloxacin (61,90%), to levofloxacin (61,90%), to chloramphenicol (42,86%); resistance to chloramphenicol (23,80%), to ofloxacin (9,52%), and to levofloxacin (9,52%). Based on the result, it can be concluded that tobramicin has the highest sensitivity pattern, followed by gentamicin, polymixin, ofloxacin, and levofloxacin. However, chloramphenicol has the smallest sensitivity pattern. Keywords: bacterial conjunctivitis, sensitivity patterns, antibiotic, ophthalmology polyclinic    Abstrak: Konjungtivitis bakteri merupakan suatu peradangan pada konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini masih termasuk di dalam sepuluh besar penyakit yang ada di poliklinik mata RSUD Ulin Banjarmasin dan belum ada data pada kepekaan isolate terhadap terhadap antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kepekaan isolat bakteri aerob penyebab konjungtivitis terhadap antibiotik topikal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan crossectional. Hasil penelitian dengan jumlah 21 sampel isolat bakteri didapatkan gambaran pola kepekaan bakteri aerob sensitive terhadap tobramisin (100%), gentamisin (80,95%), polimiksin (80,95%), ofloksasin (61,90%), levofloksasin (61,90%), dan kloramfenikol (42,86%); resisten terhadap kloramfenikol (23,80%), ofloksasin (9,52%), dan levofloksasin (9,52%). Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tobramisin merupakan antibiotik dengan kepekaan tertinggi, diikuti gentamisin, polimiksin, ofloksasin, dan levofloksasin. Sedangkan kloramfenikol memiliki kepekaan terendah. Kata-kata kunci: konjungtivitis bakteri, pola kepekaan, antibiotik, poliklinik mata
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PEMANFAATAN KLINIK SANITASI PADA IBU BAYI DAN BALITA PENDERITA DIARE AKUT Husnawati, Herwinda; Arifin, Syamsul; Yuliana, Ida
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3440

Abstract

Abstract: Based on data from Banjarmasin Department of Health in 2015, the highest diarrhea incident which is 1.056 cases, occurs at Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. There is an imbalance between diarrhea incident and visitation to sanitation clinic. Many factors are influencing someone’s behavior while knowledge is one of those. This research aimed to discover the correlation between education and sanitation clinic utilization on a mother of acute diarrhea toddlers at Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. This was an analytic observational study with cross sectional design. The samples were 50 mothers chosen by systematic random sampling method. The analysis was conducted by chi-square test. The result portrayed 12% of high education, 22% of fair education and 66% of low education. Meanwhile, there were 64% non-utilization and 36% utilization of sanitation clinic. The correlation p-value was 0,000 (p<0,05). In conclusion,  there is a correlation between education and sanitation clinic utilization on a mother of acute diarrhea toddlers at Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Keywords: acute diarrhea, sanitation clinic utilization, education Abstrak: Data Dinas Kesehatan Kotamadya Banjarmasin tahun 2015 didapatkan angka kejadian diare tertinggi sebanyak 1,056 kasus di Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Terdapat kesenjangan antara angka kejadian diare dengan jumlah kunjungan ke klinik sanitasi. Banyak faktor yang mempengaruhi pemanfaatan klinik sanitasi, salah satunya adalah pengetahuan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan pemanfaatan klinik sanitasi pada ibu bayi dan balita penderita diare akut di Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Metode penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 50 responden dengan teknik systematic random sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian adalah 12% mempunyai pengetahuan tinggi, 22% berpengetahuan cukup dan 66% berpengetahuan rendah. Sementara itu, untuk pemanfaatan klinik sanitasi didapatkan hasil tidak memanfaatkan klinik sanitasi 64% dan memanfaatkan 36%. Nilai korelasi p = 0,000 (p< 0,05). Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan pengetahuan dengan pemanfaatan klinik sanitasi pada ibu bayi dan balita penderita diare akut di Puskesmas Kuin Raya Banjarmasin. Kata-kata kunci: diare akut, pemanfaatan klinik sanitasi, pengetahuan
EFEK KOMBINASI PARASETAMOL DAN KODEIN SEBAGAI ANALGESIA PREEMPTIF PADA PASIEN DENGAN ORIF EKSTREMITAS BAWAH Sahurrahmanisa, Sahurrahmanisa; Sikumbang, Kenanga Marwan; Istiana, Istiana
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3445

Abstract

Abstract: Postoperative pain is a complex pain response which often occurred in post-operative patient. Effective pain management is conducted by giving preemptive analgesia, preventive analgesia and multimodal. The purpose of this study was to analyze the effect combination of paracetamol 325 mg and codeine 10 mg in a patient with ORIF inferior extremity. This was an observational analytic study with a cross sectional method and 32 respondents were included by consecutive sampling method. The result of this study, in group with the combination of paracetamol and codeine there are 4 respondents (25.0%) of mild pain, 12 respondents (75.0%) of moderate pain, and there’s none had severe pain, and the group without combination therapy there’s no mild pain, 7 respondents (43.8%) of moderate pain, and 9 respondents (56.2%) of severe pain. The statistic analyses with Kolmogorov Smirnov p-value <0.05, it can be concluded that in this study a combination of paracetamol and codeine are effective as a preemptive analgesia. Keywords: postoperative pain, preemptive analgesia, visual analog scale (VAS), paracetamol, codeine Abstrak: Nyeri pasca bedah merupakan respon nyeri yang sering dirasakan pasien setelah pembedahan dengan respon yang kompleks. Penanganan nyeri yang efektif dilakukan dengan pemberian analgesia preemptif, analgesia preventif, dan analgesia multimodal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisi efek kombinasi parasetamol 325 mg dan kodein 10 mg sebagai analgesia preemptif pada pasien dengan ORIF ekstremitas bawah. Penelitian ini menggunakan rancangan observasional analitik cross sectional dengan teknik consecutive sampling didapatkan 32 sampel. Hasil penelitian, pada kelompok yang diberikan kombinasi parasetamol dan kodein sebanyak 4(25.0%) nyeri ringan, 12 (75.0%) nyeri sedang dan tidak didapatkan nyeri berat, sedangkan pada kelompok yang tidak diberikan kombinasi parasetamol dan kodein tidak ditemukan nyeri ringan, sebanyak 7 (43.8%) nyeri sedang dan 9 (56.2%) nyeri berat. Analisa statistik menggunakan Komogorov Smirnov didapatkan perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dengan nilai p value < 0,05 sehingga dapat disimpulkan pada penelitian ini kombinasi parasetamol dan kodein dapat digunakan sebagai analgesia preemptif. Kata-kata kunci: nyeri paska bedah, analgesia preemptif, visual analog scale (VAS) , parasetamol, kodein.
KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DENGAN MULTIDRUG-RESISTANT TUBERCULOSIS (MDR-TB) DI RSUD ULIN BANJARMASIN Azwar, Gusti Andhika; Noviana, Dewi Indah; Hendriyono, FX.
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3436

Abstract

Abstract: Tuberculosis is the main health problem in the world and getting worse with Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) cases. Many research about MDR-TB patients is conducted to describe MDR-TB patients characteristics. This research aims to describe the characteristics of pulmonary tuberculosis MDR-TB at RSUD Ulin Banjarmasin on December 2015-May 2016. This was a descriptive research with crossectional approaches. Data were collected from clinical pathology laboratory and patients medical record. The Result indicate that as many as 19 pulmonary TB patients with MDR-TB at RSUD Ulin Banjarmasin on December 2015-May 2016 with characteristics were dominated by men 84,2% (16 subjects); age 45-54 years 35,8% (7 subjects); junior and senior high school both 21,1% (4 subjects); private employees 31,6% (6 subjects); came with TB relapses 68,4% (13 subjects); and the acid-fast bacilli examination showed negative and positive both 21,1% (4 subjects). In conclusion, the characteristics of pulmonary tuberculosis patients with Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) at RSUD Ulin Banjarmasin on December 2015-May 2016 are dominated by men, age 45-54 years old, junior and senior high school, private employees, from Banjarmasin, come with TB relapses and the acid-fast bacilli examination showed negative and positive. Keywords:     multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB), Tuberculosis patient’s characteristics, RSUD Ulin Banjarmasin Abstrak: Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan utama di dunia dan bertambah berat dengan munculnya kasus multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB). Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui karakteristik penderita MDR-TB. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita tuberkulosis paru dengan MDR-TB di RSUD Ulin Banjarmasin periode Desember 2015-Mei 2016. Penelitian  ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan cross-sectional. Data diambil dari Laboratorium Patologi Klinik dan rekam medis penderita. Hasil penelitian menunjukkan 19 penderita tuberkulosis paru dengan MDR-TB di RSUD Ulin Banjarmasin periode Desember 2015-Mei 2016 didominasi oleh laki-laki 84,2% (16 orang); usia 45-34 35,8% (7 orang); pendidikan SMP dan SMA masing-masing 21,1% (4 orang); pekerja swasta 31,6% (6 orang); berasal dari Banjarmasin 57,9% (11 orang); datang dengan keadaaan TB kasus relaps kategori 1 dan kategori 2 68,4% (13 orang); dan dengan hasil pemeriksaan sputum BTA positif dan negatif masing-masing 21,1% (4 orang). Kesimpulan penelitian ini adalah karakteristik penderita tuberkulosis paru dengan multidrug-resistant Tuberculosis (MDR-TB) di RSUD Ulin Banjarmasin periode Desember 2015-Mei 2016 didominasi oleh laki-laki, usia 45-54 tahun, pendidikan SMP dan SMA, pekerja swasta, berasal dari Banjarmasin, datang dengan keadaan kasus TB relaps dan hasil sputum BTA negatif dan positif. Kata-kata kunci:        Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB), karakteristik penderita Tuberkulosis Paru
AKTIVITAS LARVASIDA EKSTRAK ETANOL DAUN BINJAI (Mangifera caesia) TERHADAP LARVA Aedes aegypti Nadila, Isfarani; Istiana, Istiana; Wydiamala, Erida
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3441

Abstract

Abstract: Binjai leaf is known to have effective secondary metabolites as larvacide. The aim of this study was to recognize larvacidal effectivity of Binjai leaf ethanol extract toward Aedes aegypti larva. This was experimental study with posttest only control group design by using 7 treatment and 4 replication. Treatment was available from preliminary test which were 1000, 5000, 10.000, 15.000 and 20.000 (mg/L), negative xontrol (water) and positive control (themephos 100 mg/L). Probit test resulted in LC50 value=5493.390 mg/L and LC90 value=14988.861mg/L Kruskal-Wallis test resulted in p=0,000 which meaned there was an effect of binjai leaf ethanol extract toward Aedes aegypti larva. Meanwhile, Mann-Whitney test resulted in p=0,371 which meaned there was no significant difference between concentration of 20.000 mg/L and temephos 100 mg/L. In conclusion, binjai leaf (Mangifera caesia) ethanol extract have larvacidal activity as effective as temephos toward Aedes aegypti larva. Keywords: Larvacide, Binjai leaves, Aedes aegypti Abstrak: Daun binjai diketahui memiliki kandungan metabolit sekunder yang berpotensi sebagai larvasida. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas larvasida ekstrak etanol daun binjai terhadap larva Aedes aegypti. Penelitian ini menggunakan jenis eksperimental dengan metode posttest only contol grup design menggunakan tujuh kelompok perlakuan dan 4 replikasi. Tujuh kelompok perlakuan tersebut adalah 5 serial konsentrasi yang diperoleh dari uji pendahuluan: 1000, 5000, 10.000, 15.000 dan 20.000 (mg/L), kontrol negatif (air) dan kontrol positif (temephos 100 mg/L). Hasil uji probit didapatkan  nilai LC50 dan LC90 sebesar 5493.390 dan 14988.861 (mg/L). Uji kruskal-Wallis didapatkan  nilai p=0,000, terdapat pengaruh ekstrak etanol daun binjai terhadap larva Aedes aegypti. Hasil uji Mann-whitney didapakan nilai  p=0,371, tidak terdapat perbedaan signifikan antara konsentrasi 20.000 mg/L dengan kontrol positif. Kesimpulan dari penelitian ini ekstrak etanol daun binjai memiliki aktivitas larvasida dan efektivitas setara dengan temephos 100 mg/L terhadap larva Aedes aegypti. Kata-kata kunci :  Larvasida, daun binjai, Aedes aegypti
POLA KEPEKAAN ISOLAT BAKTERI AEROB PADA RHINOSINUSITIS KRONIS Saputra, Alvin; Qamariah, Nur; Muthmainah, Noor
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3446

Abstract

Abstract: Chronic rhinosinusitis is an inflammation of the sinus mucosa caused by viruses or bacteria. Needed research on antibiotic susceptibility of the bacteria that cause chronic rhinosinusitis targeted antibiotics. The purpose of this study was to determine the sensitivity of some selected antibiotics against bacteria of different causes of chronic rhinosinusitis at the Department of Otolaryngology Ulin General Hospital Banjarmasin. This is a descriptive study with cross-sectional approach using diffusion method of Kirby-Bauer zone of inhibition was then compared with standard antibiotics against bacterial antibiotic inhibition zone according to CLSI 2016. The sample in this study were all patients with chronic rhinosinusitis who come for treatment to the Department of Otolaryngology Ulin General Hospital and Moch. Ansari Saleh General Hospital Banjarmasin in the period from June to August 2016. Obtained from 12 samples, 6 samples of Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermis 10 samples, 1 sample Eschirechia coli and 1 sample Bacillus sp. Staphylococcus aureus showed the highest sensitivity to antibiotics cefixime, cefuroxime, ciprofloxacin and clindamycin 66,6%, and the lowest amoxicillin clavulanate 50%. Staphylococcus epidermis showed the highest sensitivity to the antibiotic cefuroxime and clindamycin 100%, cefixime 50% and the lowest amoxicillin-clavulanate and cefuroxime 25%. Escherichia coli showed the highest sensitivity to the antibiotic amoxicillin-clavulanate and cefixime 100%, and the lowest cefuroxime, ciprofloxacin, and clindamycin 0%. Bacillus sp showed the highest sensitivity to the antibiotic cefuroxime, ciprofloxacin, and clindamycin 100% in the lowest 0% for amoxicillin and cefixime. Keywords : chronic rhinosinusitis, sensitivity test, antibiotics Abstrak: Rhinosinusitis kronis adalah peradangan pada mukosa sinus yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Perlu adanya penelitian tentang kepekaan antibiotik terhadap kuman penyebab rhinosinusitis kronis agar pemberian antibiotik tepat sasaran. Dengan demikian, tujuan penelitian ini untuk mengetahui kepekaan beberapa antibiotik terpilih terhadap kuman penyabab rhinosinusitis kronis di Bagian THT RSUD Ulin dan RSUD Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan metode difusi Kirby-Bauer kemudian dibandingkan zona hambat antibiotik terhadap bakteri dengan standar zona hambat antibiotik menurut CLSI 2016. Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien rhinosinusitis kronis yang datang berobat ke Bagian THT RSUD Ulin dan RSUD Moch. Ansari Saleh Banjarmasin pada periode Juni - Agustus 2016. Dari 12 sampel didapatkan, 6 sampel Staphylococcus aureus, 4 sampel Staphylococcus epidermidis, 1 sampel Eschirechia coli dan 1 sampel Bacillus sp. Staphylococcus aureus menujukkan kepekaan tertinggi terhadap antibiotik sefiksim, sefuroksim, siprofloksasim, dan klindamisin sebesar 66,6% serta yang terendah yakni amoksisilin klavulanat sebesar 50%. Staphylococcus epidermidis menujukkan kepekaan tertinggi terhadap antibiotik sefuroksim dan klindamisin sebesar 100%, sefiksim 50% serta yang terendah amoksisilin klavulanat dan sefuroksim sebesar 25%. Eschirechia coli menunjukkan kepekaan tertinggi terhadap antibiotik amoksisilin klavulanat dan sefiksim 100% serta terendah sefuroksim, siprofloksasim dan klindamisin 0%. Bacillus sp menunjukkan kepekaan tertinggi terhadap antibiotik sefuroksim, siprofloksasim, dan klindamisin sebesar 100% serta terendah amoksisilin klavulanat dan sefiksim 0%. Kata-kata kunci : rhinosinusitis kronis, uji kepekaan, antibiotic
VALIDITAS PEMERIKSAAN GARPU TALA 128 HZ SEBAGAI DETEKSI DIABETIC PERIPHERAL NEUROPATHY PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD DR. H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN Bagus, I Gede; Yuwono, Agus; Wydiamala, Erida
Berkala Kedokteran Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v13i1.3437

Abstract

Abstract: Diabetic peripheral neuropathy (DPN) is one of major complication on uncontrolled diabetes mellitus (DM) patient. Test of 128 Hz tuning fork is a simple test to detect DPN which is recommended by several international guidelines and available at a limited health facility. This research aimed to discover the validity of 128 Hz tuning fork test as diabetic peripheral neuropathy detection on type 2 diabetes mellitus patient at Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin hospital. This was diagnostic test research with a cross-sectional design.  Data was analyzed by using diagnostic test of 2x2 table and receiving operating characteristic (ROC) curve. Subjects were 69 DM outpatient at internal medicine clinic in Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin hospital. The analysis results were sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, accuracy, and area under the curve. Respectively they were 40%; 100%; 100%; 73,33%; 78,26%; and 70% (0.7) (CI 95%: 55.9%-84.1%).  The test of 128 Hz tuning fork has fine validity and can be used as DPN detection on type 2 DM patient. Keywords: Validity, tuning fork 128 Hz test, diabetic peripheral neuropathy, diabetes mellitus      Abstrak: Diabetic peripheral neuropathy (DPN) merupakan salah satu komplikasi tersering pada pasien diabetes melitus (DM)  yang tidak terkontrol. Pemeriksaan garpu tala 128 Hz adalah salah satu pemeriksaan sederhana untuk mendeteksi DPN yang direkomendasikan oleh beberapa guideline internasional dan dapat dilakukan di fasilitas kesehatan dengan fasilitas terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas pemeriksaan garpu tala 128 Hz sebagai prosedur deteksi neuropati perifer pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan pendekatan cross-sectional. Data dianalis dengan uji diagnostik tabel 2x2 dan  kurva receiving operating characteristic (ROC). Subjek penelitian merupakan 69 pasien DM rawat jalan poliklinik penyakit dalam RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Hasil analisis yang didapatkan adalah sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif, nilai prediktif negatif, akurasi, dan area under curve dari pemeriksaan garpu tala 128 Hz berturut-turut adalah 40%; 100%; 100%; 74,57%; 78,26%; dan 70% (0.7) (IK 95%: 55.9%-84.1%). Pemeriksaan garpu tala 128 Hz mempunyai validitas yang cukup baik dan dapat digunakan sebagai deteksi DPN pada pasien DM tipe 2. Kata-kata kunci: Validitas, pemeriksaan garpu tala 128 Hz,  diabetic peripheral neuropathy, diabetes melitus

Page 1 of 2 | Total Record : 16