cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : -
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 16 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2016)" : 16 Documents clear
PERBEDAAN KEJADIAN DISFUNGSI SEKSUAL PADA WANITA DENGAN DIABETES MELITUS DAN TANPA DIABETES MELITUS Amelia, Helna; Khatimah, Husnul; Istiana, Istiana
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1861

Abstract

Abstract: Sexual dysfunction in woman with diabetes mellitus has received less attention from the doctors. The study about sexual dysfunction in female is relatively less than sexual dysfunction in male. The aim of this study was to analyze the difference of sexual dysfunction in diabetes and non-diabetes female at Ulin and Dr. H. Moch. Ansari Saleh Hospitals Banjarmasin. This study was an observational analytic study with case control approach. Diabetes and non-diabetes female that came to the subspecialist polyclinic in Ulin hospital and to the internal medicine polyclinic in Dr. H. Moch. Ansari Saleh hospital period July-September 2015 that meet to the inclusion criteria were included as sample of this study. Female sexual dysfunction was assessed using the Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire. From 30 diabetes females, there were 19 females (63,3%) had sexual dysfunction and from 30 non-diabetes females there were 14 females (46,7%) had sexual dysfunction. The data analysis using chi-square was resulted p=0,299 that means there was no significant difference. It was concluded that there was no significant difference of sexual dysfunction in diabetes and non-diabetes female. Keywords:sexual dysfunction, female, diabetes mellitus Abstrak: Disfungsi seksual pada wanita dengan diabetes melitus (DM) belum banyak mendapat perhatian dari dokter. Penelitian tentang disfungsi seksual pada wanita juga relatif sedikit jika dibandingkan dengan disfungsi seksual pada laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kejadian disfungsi seksual pada wanita dengan DM dan tanpa DM di RSUD Ulin dan RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control.Pasien wanita DM dan tanpa DM yang datang ke poliklinik subspesialis RSUD Ulin dan poliklinik penyakit dalam RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin periode Juli-September 2015 yang memenuhi kriteria inklusi menjadi sampel pada penelitian ini. Disfungsi seksual wanita dinilai dengan menggunakan kuesioner the Female Sexual Function Index (FSFI). Dari 30 wanita DM yang menjadi subjek penelitian, terdapat 19 orang (63,3%) yang mengalami disfungsi seksual dan dari 30 wanita tanpa DM yang menjadi subjek penelitian, terdapat 14 orang (46,7%) mengalami disfungsi seksual. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p=0,299 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang bermakna.  Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kejadian disfungsi seksual pada wanita DM dan tanpa DM. Kata-kata kunci: lingkar pinggang, obesitas sentral, diabetes melitus, disfungsi ereksi
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ANTIFUNGI ANTARA EKSTRAK METANOL KULIT BATANG KASTURI DENGAN KETOKONAZOL 2% TERHADAP Candida albicans IN VITRO Siddik, Muhammad Baihaqi; Budiarti, Lia Yulia; Edyson, Edyson
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1877

Abstract

Abstract: Candida albicans is the most common cause of candidacies. Ketoconazole is one of the main options treatment of candidiasis, but is reported to have experienced resistance and hepatotoxic. Extract methanol bark of kasturi contains the same active substance with, Mango that is phenolic groups, terpenoids, and saponins that are antifungal. The purpose of this study was to determine differences in the concentration of the methanol extract of the bark of kasturi with ketoconazole 2% against Candida albicans in vitro. This study was true laboratory experimental  by using randomize post test-only group designs, which consisted of 9 treatments, ie EMKBK concentration of 25%, 50% to 37.5%, 62.5%, 75%, 87.5%, 100%, ketoconazole 2% and 70% methanol (control) repetition 3 times with diffusion test. Data analysis using ANOVA and post hoc LSD test (α = 0.05). The result showed mean inhibition zone the methanol extract of the bark of kasturi against Candida albicans at a concentration of 25%, 37.5%, 50%, 62.5%, 75%, 87.5% and 100% is 7 mm; 9 mm; 10 mm; 12 mm; 16 mm; 19 mm, 22 mm and ketoconazole 2% is 15 mm and there is a significant difference between the treatment EMKBK with ketoconazole 2%. Keywords: antifungal, extract methanol bark of kasturi, ketokonazole 2%, Candida albicans  Abstrak: Candida albicans merupakan penyebab tersering kandidiasis. Ketokonazol merupakan salah satu pilihan utama untuk mengobati kandidiasis, tetapi dilaporkan telah mengalami resistensi dan bersifat hepatotoksik. Ekstrak metanol kulit batang kasturi mengandung zat aktif yang sama dengan mangga yaitu golongan fenolik, terpenoid, dan saponin yang merupakan antifungi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan konsentrasi ekstrak metanol kulit batang kasturi dengan ketokonazol 2% terhadap Candida albicans In Vitro. Penelitian ini adalah eksperimental laboratoris murni dengan mengunakan randomize post test- only group designs , yang terdiri dari 9 perlakuan, yaitu EMKBK konsentrasi 25 %, 37,5 % 50 %, 62,5 %, 75 %, 87,5 %, 100 %, ketokonazol 2% dan metanol 70% (kontrol) pengulangan 3 kali dengan uji difusi. Analisis data mengunakan uji ANOVA dan uji post hoc LSD (α=0,05). Hasil penelitian didapatkan rerata zona hambat ekstrak metanol kulit batang kasturi terhadap Candida albicans pada konsentrasi 25%, 37,5%, 50%, 62,5%, 75%, 87,5% dan 100% adalah 7 mm; 9 mm; 10 mm; 12 mm;16 mm; 19 mm, 22 mm dan ketokonazol 2% adalah 15 mm dan terdapat perbedaan bermakna antara perlakuan EMKBK dengan ketokonazol 2%. Kata – kata kunci: antifungi, ekstrak metanol kulit batang kasturi, ketokonazol 2%, Candida albicans
HUBUNGAN ANTARA MASA GESTASI DAN KEJADIAN SEPSIS NEONATORUM DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE JUNI 2014-JUNI 2015 Dini, Fitri Nur; Andayani, Pudji; Rosida, Lena
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1865

Abstract

Abstract: Neonatal sepsis is a clinical syndrome characterized by symptoms of bacteremia and systemic signs and positive blood cultures showed that during the first month of life. Prematurity and postmaturity risk of morbidity and mortality are high on the gestation age for the occurrence of neonatal sepsis. This study aims to determine the relationship between gestational age and the incidence of neonatal sepsis in Ulin Hospital Banjarmasin. The design of this study using cross sectional study with retrospective approach. The way the sampling is the purposive sampling were obtained from medical records of patients, then performed statistical analysis using chi-square test with 95%. The number of samples that fulfilled the criteria inclusion in this study as many as 246 cases. The incidence of neonatal sepsis is more common in infants born at 37-42 weeks gestation as many as 25 cases (59.52%). The data not neonatal sepsis who were born with a gestational age <37 weeks or> 42 weeks gained as many as 20 cases (9.80%) and 37-42 weeks gestation obtained as many as 184 cases (90.20%). Chi-square test showed that there is a relationship between gestational age and the incidence of neonatal sepsis in Ulin Hospital Banjarmasin (p = 0.000) with an odds ratio (OR) 6.256. It is concluded that there is a relationship of gestation age and the incidence of neonatal sepsis (p <0.05) in hospitals Ulin Banjarmasin period June 2014-June 2015 with OR 6.256. Keywords: gestational age, sepsis, neonatal Abstrak: Sepsis neonatorum merupakan suatu sindrom klinis bakteremia yang ditandai dengan gejala dan tanda sistemik serta menunjukkan kultur darah positif yang terjadi pada bulan pertama kehidupan. Prematuritas dan posmaturitas memiliki risiko kesakitan dan kematian yang tinggi pada masa gestasi untuk terjadinya sepsis neonatorum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Rancangan penelitian ini menggunakan cross sectional study dengan pendekatan retrospektif. Cara pengambilan sampel yaitu dengan purposive sampling yang diperoleh dari data rekam medis pasien, kemudian dilakukan analisis statistik menggunakan uji chi-square dengan kepercayaan 95%. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini sebanyak 246 kasus. Kejadian sepsis neonatorum lebih banyak dijumpai pada bayi yang lahir dengan masa gestasi 37-42 minggu yaitu sebanyak 25 kasus (59,52%). Data neonatus tidak sepsis yang lahir dengan masa gestasi <37 minggu atau >42 minggu didapatkan sebanyak 20 kasus (9,80%) dan masa gestasi 37-42 minggu didapatkan sebanyak 184 kasus (90,20%). Uji chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin (p=0,000) dengan odds ratio (OR) 6,256. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan masa gestasi dan kejadian sepsis neonatorum (p<0,05) di RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni 2014-Juni 2015 dengan OR 6,256. Kata-kata kunci: masa gestasi, sepsis, neonatus
EFEK ANTIOKSIDAN IKAN SALUANG (Rasbora spp.) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) OTAK TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) MALNUTRISI Rakhmawati, Yuli; Triawanti, Triawanti; Yunanto, Ari
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1873

Abstract

Abstract: Malnutrition because of protein deficiency on diet caused antioxidant deficiency state and oxidative stress on brain that marked by increased MDA level. The aim of this study was to analyze the antioxidant effects of saluang (Rasbora spp.) on brain MDA level in malnourished rats. This was an experimental study with a Posttest Only with Control Group Design, consisted of malnutrition control group (M), group that feed with saluang (S), group that given standard feeding (P), and group that given standard feeding added with DHA supplement (D). Brain MDA level measured with TBARS method in spectrophotometer. Mean brain MDA level for each group in a row is M = 210,750 μΜ, S = 194,125 μΜ, P = 202,625 μΜ, and D = 200,875 μΜ. Kruskal-Wallis and Mann Whitney test showed that there were significant differences between the group that feed with saluang and the other groups (p<0.05). Based on this research, concluded that the administration of saluang (Rasbora spp.) significantly affects the decrease of brain MDA level in malnourished rats. Keywords: antioxidant, saluang fish, MDA, malnutrition Abstrak: Malnutrisi karena defisiensi protein akan menimbulkan keadaan kekurangan antioksidan dan menimbulkan stres oksidatif pada otak yang ditandai dengan peningkatan kadar MDA. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efek antioksidan ikan saluang terhadap kadar MDA otak tikus putih malnutrisi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Posttest Only with Control Group Design, terdiri dari kelompok kontrol malnutrisi (M), kelompok pemberian pakan saluang (S), kelompok pemberian pakan standar (P), dan kelompok pemberian pakan standar yang ditambah suplemen DHA (D). Kadar MDA otak diukur dengan menggunakan metode TBARS secara spektrofotometer. Rerata kadar MDA otak masing-masing kelompok perlakuan berturut-turut adalah M = 210,750 μΜ, S = 194,125 μΜ, P = 202,625 μΜ, dan D = 200,875 μΜ. Uji Kruskal-Wallis dan uji Mann Whitney menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara kelompok yang diberi pakan saluang dengan kelompok lainnya (p<0,05). Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ikan saluang (Rasbora spp.) berpengaruh secara bermakna terhadap penurunan kadar MDA otak tikus putih malnutrisi. Kata-kata kunci: antioksidan, ikan saluang, MDA, malnutrisi
HUBUNGAN KONDISI VENTILASI RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH PUSKESMAS KELAYAN TIMUR Sinaga, Ferdy Ricardo; Heriyani, Farida; Khatimah, Husnul
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1878

Abstract

Abstract : Pulmonary TB is an infectious disease which is transmitted through air contaminated by Mycobacterium tuberculosis. TB remains a main health problem in all over the world and also one of leading causes of death from infectious disease. Enviromental characteristic is the key factor to the risk of transmition. Ventilation condition is one factor that contributes to the house’s environmental characteristic. This research aims to know the correlation between ventilation condition and the incidence of pulmonary TB in working area of Kelayan Timur Community Health Center. This is an analitic observasional research with study design of case control. Subjects were selected using the simple random sampling technique. Subjects were divided into 2 groups, 30 subjects for the case group and 30 subjects for the control group. Data was analyzed using Chi Square test with 95 % confidence interval. The result shows that 29 of 30 houses (96,67 %)  from the case group have an inproper ventilation meanwhile only 9 of 30 houses (30 %) from the control group which have an inproper ventilation. The analysis shows a significant correlation between ventilation condition and the incidence of pulmonary TB with ρ = 0,000.  Keywords: ventilation condition, pulmonary TB, Kelayan Timur Community Health Center. Abstrak : TB paru merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui udara yang terkontaminasi Mycobacterium tuberculosis. TB masih menjadi masalah utama kesehatan di seluruh dunia dan merupakan salah satu penyebab kematian akibat penyakit infeksi. Keberlangsungan hidup kuman TB ditentukan oleh karakteristik lingkungannya. Kondisi ventilasi rumah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi karakteristik lingkungan dalam rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi ventilasi rumah dengan kejadian TB paru di wilayah Puskesmas Kelayan Timur. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain studi kasus kontrol. Subjek penelitian dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Subjek penelitian terdiri dari 2 kelompok yaitu 30 sampel kelompok kasus dan 30 sampel kelompok kontrol. Data dianalisa menggunakan uji Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan 29 dari 30 kelompok kasus (96,67 %)  memiliki kondisi ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat, sedangkan hanya 9 dari 30 kelompok kontrol (30 %) yang memiliki kondisi ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat. Hasil analisa mendapatkan nilai ρ=0,000 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi ventilasi rumah dengan kejadian TB paru. Kata-kata kunci: kondisi ventilasi, TB paru, Puskesmas Kelayan Timur.
GAMBARAN JENIS ANEMIA MENGGUNAKAN MEAN CORPUSCULAR HEMOGLOBIN (MCH) PADA GAGAL GINJAL KRONIK Maulidya, Nindy; Arifin, Miftahul; Yuliana, Ida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1866

Abstract

 Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is a chronic, slow progressing disease that become the main health problem in society. This disease  has many etiology. Anemia is one of CKD’s complication. Mean corpuscular hemoglobin (MCH) is an index of erythrocytes. MCH can Seeing the color quantity, ie normochromic and hypochromic.This research aims on finding the type of anemia due to CKD using mean corpuscular hemoglobin (MCH) in RSUD Ulin Banjarmasin from July to September 2015. This is an observational analytic descriptive research with cross sectional approach. Samples were taken using simple random sampling. 100 samples with GFR < 15 ml/sec/1,73 m3 or creatinin level > 6 mg/dL that haven’t been hemodialyzed before. Based on hemoglobin levels, the results were mostly at levels of 7-9 g /dl at 53 %. Results showed that 70% of samples had normochromic anemia, while the other 30% had hypochromic anemia. The conclusion of this research is using a type of anemia MCH at CKD many get on normocromic anemia.Keywords: anemia, chronic kidney Disease (CKD), normochromic, hypochromic. Abstrak:Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan masalah utama kesehatan di masyarakat yang merupakan perkembangan penyakit yang lama dan progresif serta memiliki etiologi yang beragam. Anemia merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada GGK. Mean corpuscular hemoglobin (MCH) merupakan indeks eritrosit yang dapat melihat kuantitas warna, yaitu normokromik dan hipokromik. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran jenis anemia menggunakan MCH pada gagal ginjal kronik di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional, subjek penelitian adalah pasien GGK dengan kreatinin > 6 mg/dL yang belum menjalani hemodialisis pada periode Juli-September 2015, sampel dipilh menggunakan teknik Simple Random Sampling dengan jumlah sampel 100. Berdasarkan kadar hemoglobin, terbanyak pada kadar 7-9 g/dl yaitu 53 orang (53%). Hasil menunjukkan bahwa jenis anemia pada GGK terbanyak  adalah 70 orang (70%) pada anemia normokromik dan 30 orang (30%) pada anemia hipokromik. Kesimpulan penelitian ini adalah jenis anemia menggunakan MCH pada GGK banyak di dapatkan pada jenis anemia normokromik. Kata-kata kunci:  anemia, gagal ginjal kronik (GGK), normokromik, hipokromik.
GAMBARAN KECENDERUNGAN DEPRESI KELUARGA PASIEN SKIZOFRENIA BERDASARKAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DAN PSIKOSOSIAL Rohmatin, Yudha Khusnia; Limantara, Sherly; Arifin, Syamsul
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1874

Abstract

Abstract: Depression is a serious mental health problem. Prevalence is estimated 5-10% per year. The presence of a schizophrenic family member is a known stressor which can cause chronic stress. Chronic stress are oftenly associated with depression. The goal of this study is to establish the depression likelihood of schizophrenia patient’s family based on demographic and psychosocial characteristics at Sambang Lihum Hospital, South Kalimantan. This study is a descriptive study, and the samples are obtained through non probability samplingand purposive sampling. Questionnaires are used to collect general data of schizophrenia patient’s family, Beck Deperession Inventory-II (BDI-II) dan Holmes and Rahe Life Stress Inventory (HRLSI).The results of this study shows the rate of depression based on severity, which are 54% normal, 22% mild, 19% moderate and 5% severe. Normal or depression-negative dominates the distribution in the 46-55 age range (early geriatrics) at 64%, lives in the city at 55,55%, male at 55,31%, high school education at 81,81%, socioeconomical status based on full-time occupation at 100%, and income > minimum wage at 63,33%, unmarried at 69,23%, first-degree relative at 59,25%, and mild stressful life events at 80,76%. Keywords: depression likelihood, schizophrenia patient’s family, demography, psychosocial stress Abstrak: Depresi merupakan masalah kesehatan yang cukup serius. Prevalensi depresi di dunia diperkirakan 5-10% per tahun. Memiliki anggota keluarga yang menderita skizofrenia merupakan suatu stressor yang mengakibatkan stres yang bersifat kronik. Peristiwa kehidupan yang berlangsung lama atau stres kronik lebih banyak dihubungkan dengan depresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kecenderungan depresi keluarga pasien skizofrenia berdasarkan karakteristik demografi dan psikososial di RSJ Sambang Lihum Kalimantan Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif. Pengambilansampeldilakukandengan metode non probability sampling melalui purposive sampling.Jumlah sampel adalah 100 responden. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner yang memuat biodata umum keluarga pasien skizofrenia, Beck Deperession Inventory-II (BDI-II) dan Holmes and Rahe Life Stress Inventory (HRLSI). Hasil penelitian didapatkan kategori normal (tidak depresi) 54%, derajat depresi ringan 22%, derajat depresi sedang 19%dan derajat depresi berat 5%. Tidak depresi (normal) mendominasi distribusi pada usia 46-55 tahun (masa lansia awal) sebesar 64%, tempat tinggal di daerah kota sebesar 55,55%, jenis kelamin laki-laki sebesar 55,31%, tingkat pendidikan SMA sebesar 81,81%, status sosioekonomi berdasarkan aktivitas ekonomi bekerja penuh waktu sebesar 100% dan berdasarkan pendapatan >UMP sebesar 63,33%, status pernikahan tidak menikah sebesar 69,23%, status dalam keluarga saudara kandung sebesar 59,25%, peristiwa hidup stressful stres ringan sebesar 80,76%. Kata-kata kunci: kecenderungan depresi, keluarga pasien skizofrenia, demografi, stress psikososial
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN LAMA HARI RAWAT INAP PASIEN ANAK DIARE AKUT Amin, Muhammad Rizal; Hartoyo, Edi; Marisa, Donna
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1862

Abstract

Abstract: Good nutritional status can reduce the risk of diarrhea, while children with less or poor nutritional status enables more frequent and more susceptible to diarrhea. The worse the nutrition of a children, the frequency of diarrhea increases. This situation may have a relationship with length of stay. Length of stay of childhood diarrhea is influenced by the childs physical condition (good nutritional status, less, or worse). The purpose of this study is analyzing the relationship between nutritional status and length of stay of pediatric patient on acute diarrhea in Ulin General Hospital Banjarmasin 2014. This study was done by observational analytic with cross sectional approach. Total of 50 samples were obtained by purposive sampling; 2 patients with excess nutritional status, 37 patients with good nutritional status, 8 patients with less nutritional status, and 3 patients with poor nutritional status. Data was analyzed using the Kruskal-Wallis test with a confidence level of 95%  showed that the average length of stay in each nutritional status have no significant value difference (p=0,193). It was concluded that there is no relationship between nutritional status and length of stay of pediatric patient on acute diarrhea in Ulin General Hospital Banjarmasin 2014. Keywords: nutritional status, length of stay, acute diarrhea Abstrak: Status gizi anak yang baik dapat mengurangi risiko terkena penyakit diare, sedangkan anak dengan status gizi kurang atau buruk memungkinkan lebih sering dan lebih mudah terkena diare. Makin buruk gizi seorang anak, ternyata frekuensi diare semakin banyak. Keadaan ini mungkin memiliki hubungan dengan lama hari rawat inap. Hari rawat diare anak salah satunya dipengaruhi oleh kondisi fisik anak (status gizi baik, kurang, atau buruk). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara status gizi dengan lama hari rawat inap pasien anak diare akut di RSUD Ulin Banjarmasin tahun 2014. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 50 sampel didapat secara purposive  sampling sesuai kriteria inklusi, 2 pasien  status gizi lebih, 37 pasien status gizi baik, 8 pasien status gizi kurang, dan 3 pasien status gizi buruk. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa rerata lama hari rawat inap di setiap status gizi tidak memiliki perbedaan nilai yang bermakna (p=0,193). Hal ini berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan lama hari rawat inap pasien anak diare akut di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2014. Kata-kata kunci: status gizi, lama hari rawat inap, diare akut
HUBUNGAN SKOR GLASGOW COMA SCALE (GCS) DENGAN JUMLAH TROMBOSIT PADA PASIEN CEDERA KEPALA DI IGD RSUD ULIN BANJARMASIN Yutami, Annisa; Sikumbang, Kenanga Marwan; Asnawati, Asnawati
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1879

Abstract

Abstract: Head injuries are a public health and a serious socio-economic problems in the world. Head injury classified quantitatively using the Glasgow Coma Scale (GCS) score. Consumptive coagulopathy that often arises in patients with head injury associated with a tenfold adjusted risk of death. Consumptive coagulopathy marked by a decrease in the number of platelets. The purpose of the study was to analyze the relationship between GCS score with total platelet count in head injury patients at Emergency Department Ulin General Hospital Banjarmasin. This study was an observational analytic cross sectional study. Seventy three samples were obtained according to the inclusions criteria with 28 mild head injury patients, 26 moderate head injury patients, and 19 severe head injury patients. Seven patients had thrombocytopenia, from moderate head injury and severe head injury groups. From statistical test using one way ANOVA with confidence level of 95% was obtained p=0.402. It can be concluded that there is no relationship between GCS score with total platelet count in head injury patients at Emergency Department Ulin General Hospital. Keywords: head injury, GCS, platelet count Abstrak: Cedera kepala merupakan masalah kesehatan masyarakat dan sosial ekonomi yang serius di dunia. Cedera kepala diklasifikasikan secara kuantitatif menggunakan skor Glasgow Coma Scale (GCS). Koagulopati konsumtif yang sering muncul pada pasien cedera kepala dapat meningkatkan risiko kematian menjadi sepuluh kali lipat. Koagulopati konsumtif ditandai dengan penurunan jumlah trombosit. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara skor GCS dengan jumlah trombosit pada pasien cedera kepala di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik cross sectional. Didapatkan 73 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi, dengan perincian 28 pasien cedera kepala ringan (CKR), 26 pasien cedera kepala sedang (CKS), dan 19 pasien cedera kepala berat (CKB). Tujuh pasien mengalami trombositopenia, dari kelompok pasien cedera kepala sedang dan cedera kepala berat. Dari uji statistik  menggunakanone-way ANOVA dengan tingkat kepercayaan 95% didapatkan nilai p=0,402. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara skor GCS dengan jumlah trombosit pada pasien cedera kepala di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata Kunci: cedera kepala, GCS, jumlah trombosit
IDENTIFIKASI BAKTERI PENYEBAB TONSILITIS KRONIK PADA PASIEN ANAK DI BAGIAN THT RSUD ULIN BANJARMASIN Nizar, Muhammad; Qamariah, Nur; Muthmainnah, Noor
Berkala Kedokteran Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i2.1867

Abstract

Abstract: Chronic tonsillitis is a condition where tonsil is enlarged, accompanied by repeated infections. Bacterial chronic tonsillitis can be caused by different bacteria, depends on its region. Research for patterns of bacteria causing chronic tonsilitis is needed to determine the target of antibiotics used by hospitals. The general objective of this research was to determine the type of bacteria that cause chronic tonsillitis obtained through a throat swab from pediatric patients in the ENT Ulin Hospital Banjarmasin from August to October 2015. This is a descriptive research using cross sectional approach. The sample in this study is the pediatric patients aged 1-17 years who were diagnosed chronic tonsillitis by ENT specialist at the ENT Ulin Hospital Banjarmasin. Swab was taken from the palatine tonsil and cultured in media isolation and examined using macroscopic, microscopic and biochemical tests. The results showed that 7 isolates of Staphylococcus aureus (53.84%), 1 sample of Escherichia coli (7.69%), and 5 samples of Streptococcus sp. (38.46%) are three major bacteria which infected chronic tonsillitis patients in Ulin GeneraL Hospital Banjarmasin. Keywords: chronic tonsillitis, bacterial identification, pediatric patients Abstrak: Tonsilitis kronis merupakan kondisi di mana terjadi pembesaran tonsil disertai dengan serangan infeksi yang berulang-ulang. Bakteri penyebab infeksi  tonsilitis kronis dapat berbeda-beda antar daerah. Perlu adanya penelitian tentang pola kuman agar pemberian antibiotik tepat sasaran.Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis bakteri penyebab tonsilitis kronik yang didapat melalui swab tenggorok pasien anak di bagian THT RSUD Ulin Banjarmasin pada Agustus-Oktober 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien anak umur 1-17 tahun yang didiagnosis tonsilitis kronis oleh dokter spesialis THT di bagian THT RSUD Ulin Banjarmasin. Identifikasi diambil dari swab pada tonsila palatinadan dibiakkan pada media isolasi yaitu dengan pemeriksaan secara makroskopis, mikroskopis, dan uji biokimia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga jenis isolat bakteri yaitu Staphylococcus aureus 7 isolat (53,84%), Escherichia coli 1 isolat (7,69%), dan Streptococcus sp. 5 isolat (38,46%). Kata-kata kunci: Tonsilitis kronis, identifikasi bakteri, pasien anak

Page 1 of 2 | Total Record : 16