cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : -
Core Subject : Health,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016" : 16 Documents clear
Efek Pemberian Ikan Saluang (Rasbora Spp.) Terhadap Kadar Kalsium Tulangtikus Putih (Rattus Norvegicus) Malnutrisi Lestari, Rizky Mutiara; Triawanti, Triawanti; Yunanto, Ari
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.358

Abstract

Abstract: Effect of giving saluang fish (rasbora spp.) on bone calcium of malnutried rat’s (rattus norvegicus). Malnutrition due to lack of calcium is vital especially in young age because it can damage body’s function. Calcium is source of bone’s development and play some role in motoric function. This research aims on analyzing the difference of calcium level in malnutrition rats and rats feeded with saluang fish. This is an experimental study with posttest only with control group design, consist of malnutrition (M) group, standard feeding (P) group, and saluang (S) group. The bone’s calcium level is measured using titrimetry method. The average result of bone’s calcium level are M=1,00 mg/gram, P=1,68 mg/gram, and S=1,23 mg/gram respectively. Kruskal-Wallis test shows a significant result (p<0,05). Mann-Whitney test shows the standard feeding group have the highest calcium level among other groups. This research concludes that giving saluang fish (Rasbora spp.) for 4 weeks can not repair the bone’s calcium level due to malnutrition if compared to standard feeding.Keywords : saluang fish, bone’s calcium level, malnutrition. Abstrak: Efek pemberian ikan saluang (rasbora spp.) terhadap kadar kalsium tulang tikus putih (rattus norvegicus) malnutrisi. Malnutrisi akibat kurangnya asupan kalsium yang sangat dibutuhkan terutama usia dini dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh. Fungsi kalsium bagi tubuh adalah sebagai nutrisi untuk pertumbuhan tulang, serta menunjang perkembangan fungsi motorik agar lebih optimal dan berkembang dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan kadar kalsium tulang tikus putih malnutrisi yang diberi ikan saluang dan yang tidak diberi ikan saluang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan posttest-only with control group design, terdiri dari kelompok malnutrisi (M), kelompok pemberian ikan saluang (S), kelompok pemberian pakan standar (P) yang diukur dengan menggunakan metode titrimetri. Rerata kadar kalsium tulang masing-masing kelompok adalah 1,00 mg/gram tulang, 1,23 mg/gram tulang, dan 1,68 mg/gram tulang. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedan signifikan (p<0,05). Uji Mann Withney menunjukkan pada kelompok pakan standar memiliki kadar kalsium tulang yang lebih tinggi dibandingkan dengan saat malnutrisi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian ikan saluang (Rasbora spp.) selama 4 minggu tidak berpengaruh secara bermakna terhadap peningkatan kadar kalsium tulang tikus putih malnutrisi dibandingkan dengan pakan standar. Kata-kata kunci: ikan saluang, kalsium tulang, malnutrisi
Kota Layak Anak Berbasis Kesehatan Arifin, Syamsul
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.363

Abstract

Abstract: Health is one of most important point in building child – friendly city. A child needs to know the information about children health, so that they know about source of disease, kinds of disease, and the preventions. Through the given information, step by step a child learns about why a child can get sick and how to prevent it. The result in learning about of learning about children health, a child is going to have a perception about it. In order to create cil – friendly city / district by giving guarantee in continuity for children’s future, public and government are encouraged to fulfill all of children’s right, starting from the right of life, growth, safety, and participation. In a chil – friendly city / district, all of public service which is related to children should give  Keywords: child-friendly city, healthy based indicator, action plan Abstark: Kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan kota layak anak. Informasi mengenai kesehatan anak merupakan hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang anak, supaya mereka mengetahui sumber penyakit, jenis penyakit dan upaya pencegahannya. Melalui pemberian informasi seorang anak secara bertahap belajar memahami mengapa seorang anak bisa sakit, dan bagaimana mencegahnya. Hasil belajar anak mengenai kesehatan anak, menghasilkan persepsi anak mengenai kesehatan anak. Dalam rangka mewujudkan Kota/Kabupaten Layak Anak dengan memberikan jaminan keberlangsungan masa depan anak, masyarakat dan pemerintah didorong untuk memenuhi seluruh Hak Anak, mulai dari hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi. Dalam Kota/Kabupaten Layak Anak semua pelayanan publik yang berkaiatan dengan anak mesti memberikan pelayanan yang Ramah Anak, sehingga anak-anak yang menerima pelayanan tersebut anak harus merasa aman, nyaman dan gembira.  Kata-kata kunci: kota layak anak, indicator berbasis kesehatan, rencana aksi
Hubungan antara Berat Badan Lahir dan Kejadian Asfiksia Neonatorum Fajarwati, Novia; Andayani, Pudji; Rosida, Lena
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.354

Abstract

Abstract:Neonatal asphyxia is a condition where the baby can not breathe spontaneously and regularly soon after birth or shortly after birth. Birth weight is a part of the factors that can cause neonatal asphyxia. Research conducted retrospective observational analytic approach to determine the relationship between birth weight and neonatal asphyxia which uses secondary data from medical records of patients. The study was conducted in August-October 2015 in the NICU and medical record room of RSUD Ulin Banjarmasin. The sampling technique used purposive sampling and obtained a sample of 334 cases. The statistical test used is chi-square test with 95% confidence level. The results showed that of 334 cases of birth weight data showed 17.4% risk birth weight and no-risk birth weight by 82,6%. Neonatal asphyxia 26.3% and 73.7% of no-neonatal asphyxia. Based on the statistical test showed p = 0.674 so that it can be concluded that there is no significant correlation between birth weight and neonatal asphyxia in RSUD Ulin Banjarmasin period June 2014-June 2015.Keywords: neonatal asphyxia, birth weight, risk factor Abstrak: Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir atau beberapa saat setelah lahir. Berat badan lahir merupakan bagian dari faktor neonatus yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum. Penelitian dilakukan secara observasional analitik dengan pendekatan retrospektif untuk mengetahui hubungan antara berat badan lahir dan kejadian asfiksia neonatorum yang menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2015  di ruang NICU dan ruang rekam medis RSUD Ulin Banjarmasin. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 334 kasus. Uji statistik yang digunakan yaitu  uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 334 kasus diperoleh data berat badan lahir berisiko sebesar 17,4% dan berat badan lahir tidak berisiko sebesar 82,6%. Kejadian asfiksia neonatorum sebesar 26,3% dan tidak asfiksia neonatorum sebesar 73,7%.  Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan hasil p = 0,674 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara berat badan lahir dan kejadian asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin periode Juni 2014-Juni 2015. Kata-kata kunci: asfiksia neonatorum, berat badan lahir, faktor risiko
Potensi Ekstrak Kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.F) Bedd) terhadap Kadar Tumor Necrosis Factor-Alfa (TNF-α) pada Mencit BALB/c yang Diinfeksi Plasmodium berghei ANKA Margono, Denny P.N.H.; Suhartono, Eko; Arwati, Heny
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.359

Abstract

Abstract: Malaria remains a major public health problem in most tropical and subtropical countries, including Indonesia. Severe malaria has a high mortality rate despite treatment with effective antimalarial drug. Pro-inflammatory cytokines such as Tumor Necrosis Factor-alfa (TNF-α) is raised in severe malaria.  In South Kalimantan, the kelakai (Stenochlaena palustris (Burm.f) Bedd) has few uses for treat fever and infectious diseases.  It contains bioactive substances, such as flavonoids, steroids, and alkaloids which have been reported to exert multiple biological effects, including anti-inflammatory action.   The aim of this study is to find out the potential of kelakai extract (KE) againts TNF-α level in BALB/c mice infected P. berghei ANKA. The research is true experimental study, Posttest-only with Control Group Design. Teatment groups were devided into 4 groups treated with 10 mg/kg BW, 100 mg/kg BW of KE, and 36,4 mg/kg BW artesunate orally (positive control), 3 hours post infection and when parasitemia reached 15-20%. Negative controls were without KE treatment and P. berghei infection. Treatment were given for four days. Blood was collected 24 hours after the last treatment. Plasma TNF-α level were measured by sandwich ELISA. Data was analyzed by using Kruskal-Wallis Test, confidence rate at 95%.  There was a significant different between treatment groups, where p = 0,000 (p < 0,05). KE potential to inhibit TNF-α production in Pb3K100A- group (p = 0,047).Keywords : Malaria,  TNF-α, Stenochlaena palustris Abstrak:  Malaria masih menjadi masalah kesehatan utama pada sebagian besar negara tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.  Malaria berat menyebabkan angka kematian yang tinggi meskipun telah mendapat obat anti malaria yang efektif.  Sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α meningkat pada malaria berat.  Di Kalimantan Selatan, tanaman kelakai digunakan untuk mengobati demam dan penyakit infeksi.  Kelakai mengandung senyawa-senyawa bioaktif  antara lain flavonoid, steroid, dan alkaloid yang dilaporkan banyak memiliki efek biologis, termasuk aktivitas anti-inflamasi.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ekstrak kelakai terhadap kadar TNF-α pada mencit BALB/c yang diinfeksi P. berghei ANKA.  Penelitian ini merupakan studi eksperimental murni dengan Posttest-only with Control Group Design.  Kelompok perlakuan dibagi menjadi 4 yaitu kelompok yang mendapat ekstrak kelakai per oral 10 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, artesunat 36,4 mg/kg BB (kontrol positif) 3 jam setelah infeksi dan pada saat parasitemia mencapai 15-20%.  Kontrol negatif  tidak mendapat ekstrak kelakai, artesunat, dan infeksi parasit.  Perlakuan diberikan selama 4 hari.  Sampel darah diambil 24 jam setelah perlakuan terakhir.  Kadar TNF-α diukur dengan ELISA metode sandwich.  Data dianalisa dengan Uji Kruskal-Wallis, dengan tingkat kepercayaan 95%.  Terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan, nilai p = 0,000 (p<0,05).  Ekstrak kelakai berpotensi menghambat produksi TNF-α pada kelompok Pb3K100A- (p = 0,047). Kata-kata kunci : Malaria, TNF-α, Stenochlaena palustris
Perbandingan Efektivitas Antibakteri antara Ekstrak Metanol Kulit Batang Kasturi dengan Ampisilin terhadap Staphylococcus aureusin Vitro Akbar, M. Rizki Valian; Budiarti, Lia Yulia; Edyson, Edyson
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.350

Abstract

Abstract:Kasturi as a typical plant in South Kalimantan is one fruit that has many benefits. The barks of kasturi has proved to have benefits, especially to inhibit the activity of Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus is a gram positive bacteria that cause pneumonia, mastitis, and urinary tract infections. The bark of kasturi can be used in extract form. The objective of this research is to know the difference between the preparations of inhibition kasturi’s bark extract and ampicillin 30μg in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus in vitro. This study used an experimental method consisting of 9 treatments with 3 repetitions. Treatment test in the methanol extract of the bark of kasturi 25%, 37.5%, 50%, 62.5%, 75%, 87.5% and 100%. The control group used ampicillin and 70% methanol. Bacterial test was done by using a diffusion method. The parameter measured was the amount of inhibition zone (mm) which grown on media MH. Analysis of study data used One way Annova test and Post Hoc LSD test at α=0,05. The results showed that there were significant differences between the treatment kasturi’s bark extract 25%, 50%, 62.5%, 75%, 87.5% and 100% concentration different compared to ampicillin. Meanwhile, at the concentration of 37.5% (p <0.05) was not significant. The antibacterial effectiveness was obtained from the concentration of 100%. Key words: the bark of kasturi, methanol extract, Staphylococcus aureus, inhibition zone. Abstrak: Kasturi sebagai salah satu tanaman khas yang ada di Kalimantan Selatan merupakan salah satu buah yang memiliki banyak khasiat. Kulit batang kasturi terbukti memiliki manfaat terutama dapat menghambat aktivitas Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang menyebabkan penyakit pneumonia, mastitis, dan infeksi saluran kemih. Kulit batang kasturi dapat digunakan dalam bentuk ekstrak. Tujuan penelitian ini mengetahui perbedaan daya hambat antara sediaan ekstrak kulit batang kasturi dengan ampisilin 30µg dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang terdiri dari 9 perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan yang di uji adalah ekstrak metanol kulit batang kasturi 25%, 37,5%, 50%, 62,5%, 75%, 87,5% dan 100%. Dan kontrol perlakuan dengan ampisilin dan metanol 70%. Uji bakteri dilakukan menggunakan metode difusi. Parameter yang diukur adalah besaran zona hambat (mm) yang tumbuh pada media MH. Analisis data penelitian mengunakan uji One way ANNOVA dan uji Post Hoc LSD pada α=0,05. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna diantara perlakuan ekstrak kulit batang kasturi 25%, 50%, 62,5%, 75%, 87,5% dan 100% konsentrasi yang beda di bandingkan dengan ampisilin. Sedangkan pada konsentrasi 37,5% (p<0,05) tidak bermakna. Efektivitas antibakteri yang terbesar di peroleh dari konsentrasi 100%.Kata-kata kunci: kulit batang kasturi, ekstrak metanol, Staphylococcus aureus, zona hambat.
Pemeriksaan Laboratorium Penyakit Hati Rosida, Azma
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.364

Abstract

Abstract: Liver as the largest glandular organ which has an important role in glucose and lipid metabolism which helps digestion, absorption of fats and fat-soluble vitamins, as well as the detoxification of the body against toxic substances. Laboratory tests often required liver disease clinician for screening and detecting of abnormalities or liver disease, to help maintaining diagnosis, to estimate the severity of the disease, to help find the etiology of a disease, assess the results of treatment, and also to help direct further diagnostic efforts and assessing the prognosis of liver disease and organ dysfunction. Interpretation of the results of liver function tests was not able to use only one parameter but also used a combination of the results examination, because the integrity of the liver cells was also influenced by factors extra hepatic. In this article discussed some liver function test is divided into three big that liver function tests, measurement of enzyme activity, and a test to look for the etiology of liver disease.Keywords: laboratory, liver disease, liver function tests Abstrak: Hati sebagai organ kelenjar terbesar memiliki peran penting dalam metabolisme glukosa dan lipid, membantu proses pencernaan, absorbsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak, serta detoksifikasi tubuh terhadap zat toksik.  Pemeriksaan laboratorium penyakit hati sering diminta klinisi untuk penapisan dan deteksi adanya kelainan atau penyakit hati, membantu menengakkan diagnosis, memperkirakan beratnya penyakit, membantu mencari etiologi suatu penyakit, menilai hasil pengobatan, membantu mengarahkan upaya diagnostik selanjutnya serta menilai prognosis penyakit dan disfungsi organ hati.  Interpretasi hasil pemeriksaan uji fungsi hati tidak dapat menggunakan hanya satu parameter tetapi menggunakan gabungan beberapa hasil pemeriksaan, karena keutuhan sel hati juga dipengaruhi faktor ekstrahepatik. Pada artikel ini dibahas  beberapa uji fungsi hati yang dibagi menjadi 3 besar yaitu uji fungsi hati, pengukuran aktivitas enzim, dan uji untuk mencari etiologi penyakit hati. Kata-kata kunci :laboratorium, penyakit hati, uji fungsi hati
Pengaruh Insuflasi terhadap Jumlah Sel Mast Peritoneum Tikus Fathoni, Muhammad Halim; Noor, Zairin; Poerwosusanto, Hery
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.355

Abstract

Abstract:Peritoneal insufflation is swelling process to perform laparoscopic surgery, the choice of gas for insufflation in laparoscopic surgery, namely CO2. because it is not flammable bleak N2O, so it can be used safely for diathermy in mice. This study aims to determine whether there is influence insufflation in an increased number of mast cells in rats (Rattus norvegicus). This study is pure experimental research with posttest-only control group design, which consists of the control and treatment of pressure 8 mmHg and 10 mmHg, with the results obtained p0 control = 0.52 p1 8 mmHg = 7.84  p2 10 mmHg = 11.94. ANOVA test showed that the increase in the number of mast cells was significantly occurred in the group with a pressure of 10 mmHg as compared to the pressure of 8 mmHg. Based on research carried out can be concluded that the higher the CO2 gas in the insufflation pressure significantly increases the number of mast cells.Keywords: insuflation, peritoneal, cell Mast Abstrak: Insuflasi adalah proses penggembugan peritoneum untuk melakukan pembedahan laparoskopi, pilihan gas untuk insuflasi pada bedah laparoskopi yaitu CO2. karena tidak mudah terbakar seprti N2O, sehingga dapat digunakan secara aman untuk diatermi pada tikus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh insuflasi dalam peningkatan jumlah sel mast pada tikus putih (Rattus norvegicus). penelitian ini merupakan penelitian experimental murni dengan posttest-only with control group design, yang terdiri dari kontrol dan perlakuan dengan tekanan 8 mmHg dan 10 mmHg, dengan hasil yang didapatkan p0 kontrol = 0,52 p1 8 mmHg = 7,84 p2 10 mmHg=11,94. Uji anova menunjukan bahwa peningkatan jumlah sel mast secara bermakna terjadi pada kelompok dengan tekanan 10 mmHg dibandingkan dengan tekanan 8 mmHg. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa semakin tinggi tekanan gas CO2 pada insuflasi secara bermakna dapat meningkatkan jumlah sel mast. Kata-kata Kunci :Insuflasi, sel mast, peritoneum
Gambaran Isolat Bakteri Aerob Diare pada Anak yang Dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin Tahun 2015 Muttaqin, Gusti Muhamma Edy; Hartoyo, Edi; Marisa, Dona
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.360

Abstract

Abstract: Diarrhea is one of the major health problems in children, especially children under five in developing countries because the mortality and morbidity rate is still high. In the world, 4 to 6 million children die every year from diarrhea, most of these deaths occur in developing countries. In general, the cause of diarrhea can not be separated from the bacterial infection. Bacteria that cause diarrhea varies by age, place, and time. The purpose of this study is analyzing anaerobic bacterial isolate in patients hospitalized children with diarrhea in general hospital ulin Banjarmasin. This study was an observational study with cross sectional design. Types of bacteria in pediatric patients in hospitals Ulin Banjarmasin period August-October 2015 at most is Escherichia coli by 26 samples (72.22%), Salmonella typhi by 7 samples (19.44%), and Shigella sp by 3 samples (8, 33%). Keywords: aerobic bacterial isolate, hospitalized children, diarrhea Abstrak: Diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak terutama balita di negara berkembang karena angka kematian dan kesakitannya masih tinggi. Di dunia, sebanyak 4 sampai 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare, dimana sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berkembang. Pada umumnya penyebab diare tidak terlepas dari infeksi bakteri. Bakteri penyebab diare berbeda-beda berdasarkan umur, tempat, dan waktu. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengidentifikasi isolat bakteri aerob diare pada pasien diare anak yang dirawat di RSUD Ulin Periode Agustus – November 2015. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Sampel diambil adalah feses dari seluruh populasi anak penderita diare yang dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin dengan menggunakan metode total sampling. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jenis isolat bakteri pada pasien anak di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus – Oktober 2015 dengan total 36 sampel paling banyak adalah Eschericia coli dengan jumlah 26 (72,22%) sampel, Salmonella typhi dengan jumlah 7 (19,44%) sampel, kemudian Shigella sp. 3 (8,33%) sampel. Kata-kata kunci: isolate bakteri aerob, anak yang dirawat, diare
Korelasi Panjang Lengan Atas dengan Tinggi Badan pada Wanita Suku Banjar Amalia, Fitria; Aflanie, Iwan; Mashuri, Mashuri
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.351

Abstract

Abstract: The role of identification in the field of forensic medicine is the most important thing to the victims who have died. Identification is needed to reveal the identity of the corpse, one is needed to estimate the length of the corpse. The purpose of this research is analyzing the correlation between the length of upper arm with height in Banjarese student of Medical Faculty at Lambung Mangkurat University and to get height estimation formula based on the length of upper arm in Banjarese woman. The research methodology is the observational analytic with the cross sectional approach method. This research uses the purposive sampling method to take subject result with the total sample as many as 52 people. The Pearson test result showed that value p = 0,000 and value r = 0,933 for right upper arm and r = 0,928 for left upper arm, which indicated a very strong correlation between right and left upper arm with height in Banjarese woman. The conclusion from this research is that there is very strong correlation between the length of upper arm with height in Banjarese woman, with height estimation formula TB = 59,829 + 3,010 x PLAkn for right upper arm and TB = 59,618 + 3,020 x PLAkr for left upper arm. Keywords : identification, height estimation, Banjarese woman Abstrak: Peranan identifikasi dalam bidang ilmu kedokteran forensik merupakan hal paling penting pada korban yang telah meninggal. Identifikasi sangat dibutuhkan untuk mengungkapkan identitas mayat, salah satu yang diperlukan yaitu dengan memperkirakan panjang tubuh mayat tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis korelasi panjang lengan atas dengan tinggi badan pada mahasiswi suku Banjar di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dan untuk mendapatkan formula estimasi tinggi badan berdasarkan panjang lengan atas pada wanita suku Banjar. Metode penelitian ini yaitu observasional analitik dengan metode pendekatan cross sectional. Pengambilan subjek penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 52 orang. Hasil uji Pearson menunjukkan nilai p = 0,000 dan nilai r = 0,933 untuk lengan kanan dan r = 0,928 untuk lengan kiri, yang menunjukkan adanya korelasi yang sangat kuat antara panjang lengan atas kanan dan kiri dengan tinggi badan pada wanita suku Banjar. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat korelasi yang sangat kuat antara panjang lengan atas dengan tinggi badan pada wanita suku Banjar, dengan formula estimasi tinggi badan TB = 59,829 + 3,010 x PLAkn untuk lengan kanan dan TB = 59,618 + 3,020 x PLAkr untuk lengan kiri. Kata-kata kunci : identifikasi, estimasi tinggi badan, wanita suku Banjar
Perbedaan Kadar LDH Serum Total Sebelum dan Sesudah Kemoterapi pada Berbagai Kelompok Stadium Kanker LNH Hamidah, Hamidah; Prenggono, Muh.Darwin; Heriyani, Farida
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.356

Abstract

Abstract: Lactate dehydrogenase (LDH) is tumor prognostic for Non Hodgkin Lymphoma (NHL) and it levels would be elevated. The several papers has reported there are an association of total serum LDH levels and staging group of NHL. The study aimed to determine the differences of total serum LDH levels before and after the combination chemotherapy CHOP (Cyclophosphamide, Doxorubicin, Vincristine, and Prednisone) for NHL’s patients at RSUD Ulin Banjarmasin during 3 years. It was an observational analyticstudy design and cross-sectional approach, data collected with design method of totally sampling. Of the 51 patient medical records who included, 54,9% were staging group I-II and 45,1% were staging group III-IV. The first statistic analytic used dependent T test with p=0,303 (p>0,05)showed no differencesof total serum LDH levels before and after the combination chemotherapy CHOP in NHL’s patients with staging group I-II. The second statistic analytic used alternative wilcoxon test with p=0,013 (p<0,05) showed differencesof total serum LDH levels before and after the combination chemotherapy CHOP in NHL’s patients with staging groupIII-IV. The third statistic analytic used alternative mann whitney test with p=0,161 (p>0,05) showed no differencesof total serum LDH levels after the combination chemotherapy CHOP in NHL’s patients between staging group I-II and III-IV.Keywords: total serum LDH levels, NHL, combination chemotherapy CHOP Abstrak: Laktat dehidrogenase (LDH) adalah tumor prognostic pada kanker Limfoma Non Hodgkin (LNH) dan kadarnya selalu menunjukan peningkatan. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa terdapat hubungan antara kadar LDH serum total dengan kelompok stadium kanker LNH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar LDH serum total sebelum dan sesudah kemoterapi kombinasi CHOP (Siklofosfamid, Doksorubisin, Vinkristin, dan Prednison) pada penderita kanker LNH di RSUD Ulin Banjarmasin selama 3 tahun.Penelitian ini menggunakan rancangan studi observasional analitik dan metode pendekatan cross sectional, pengambilan sampel dengan teknik rancangan totally sampling. Dari 51 data rekam medik yang termasuk kriteria inklusi, 54,9% kelompok stadium I-II dan 45,1% kelompok stadium III-IV. Analisis statistik pertama menggunakan uji T berpasangandengan p=0,303 (p>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan kadar LDH serum total sebelum dan sesudah kemoterapi kombinasi CHOP pada penderita kanker LNH kelompok stadium I-II. Analisis statistik kedua menggunakan uji alternatif yaitu uji wilcoxondengan p=0,013 (p<0,05) sehingga terdapat perbedaan kadar LDH serum total sebelum dan sesudah kemoterapi kombinasi CHOP pada penderita kanker LNH kelompok stadium III-IV. Analisis statistik ketiga menggunakan uji alternatif yaitu uji mann whitney dengan p=0,161 (p>0,05) sehingga tidak terdapat perbedaan kadar LDH serum total sesudah kemoterapi kombinasi CHOP pada penderita kanker LNH antara kelompok stadium I-II dan III-IV. Kata-kata kunci: kadar LDH serum total, LNH, kemoterapi kombinasi CHOP

Page 1 of 2 | Total Record : 16