cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Jurnal Pendidikan Agama Islam: Jurnal Studi Pendidikan Agama Islam dan Isu-isu Pendidikan Islam (p-ISSN: 2089-1946 & e-ISSN: 2527-4511) Terbit dua kali dalam setahun pada bulan Mei dan Nopember. Jurnal Pendidikan Agama Islam diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya dan berisi tulisan ilmiah tentang kajian Pendidikan Agama Islam dan kajian yang terkait. Di dalamnya di muat berbagai pemikiran dalam berbagai bentuk; hasil penelitian, gagasan konseptual, dan pengalaman empiris. Dalam perkembangannya, JPAI merintis penerbitan secara online dan memperluas cakupan kontributor dari seluruh nusantara. Kedepannya, JPAI akan memperluas cakupan kontributor dari beberapa negara Islam dan negara lain yang memiliki perhatian terhadap kajian pendidikan Islam nusantara maupun internasional. E-journal ini merupakan versi daring JPAI yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam, FTK UIN Sunan Ampel Surabaya.
Articles
87
Articles
Urgensi Keterlibatan Wali Asuh dalam Dinamika Pendidikan di Pesantren

Ilmy, Alfi Najmatil ( Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo ) , Wahid, Abd Hamid ( Universitas Nurul Jadid Probolinggo ) , Muali, Chusnul ( Universitas Nurul Jadid Probolinggo )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Wali asuh dalam pesantren berperan dalam menanggulangi penurunan efektifitas kegiatan santri yang diakibatkan semakin banyaknya jumlah peminat pesantren modern dan semi modern dewasa ini. Intisari dari adanya wali asuh adalah sebuah ide pembaruan di pesantren sebagai upaya meningkatkan efektifitas kegiatan dan memudahkan pemantauan aspek psikis santri secara perorangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus di pesantren Nurul Jadid yang berlokasi di Kabupaten Probolinggo. Hasil penelitian menunjukkan beberapa strategi yang harus dilakukan wali asuh dalam perannya sebagai pengganti orang tua santri. Pertama, wali asuh melakukan pendekatan awal dengan menjadi pendengar yang baik santri asuh untuk menghimpun informasi tentang dunia kehidupannya. Kedua, pemeran wali asuh harus berbeda dengan pemeran pengurus harian untuk memberikan ruang pendekatan pribadi, bukan kolektif. Ketiga, wali asuh berperan pula sebagai motivator, konselor dan pengganti orang tua bagi santri asuh. English:Guardianship in pesantren functions to solve the decrease of effectiveness of santri’s activities along with the increase of new santri in number within modern and semi-modern pesantren. The core values of guardianship here is an innovation in pesantren to increase impact of activities and to make ease individual monitoring towards santri’s psychological and life aspects. This research implements case study approach to Pesantren Nurul Jadid located in Probolinggo Regency. Results show several strategies in the guardianship implementation in order to substitute parental roles. First, guardians act as listeners to santri in order to collect their life-aspect information. Second, guardians are individually different from those acting as pesantren daily committee member in order to provide more private approach to santri rather than a collective one. Third, guardians act as motivators, counselors, and parents for santri during their study in pesantren.

Penanaman Religiusitas Keislaman Berorientasi pada Pendidikan Multikultural di Sekolah

Suradi, A. ( IAIN BENGKULU )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Artikel ini menguraikan tentang bagaimana pendidikan multikultural dalam merespon perubahan demografi dan kultur religius di lingkungan sekolah, bahkan masyarakat secara keseluruhan. Hal ini bertujuan agar dapat tumbuh sikap dan nilai penting bagi harmoni sosial dan perdamaian antar umat beragama. Artikel ini merupakan jenis penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Ada dua hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan pendidikan Islam multikultural, yaitu secara konseptual dan metodologis. Secara konseptual berarti memperkaya diri dengan isu-isu multikulturalisme dari berbagai sumber. Sedangkan secara metodologis, figur pendidik perlu tampil sebagai agen perubahan dalam proses menyemai pemahaman multikulturalisme secara praktis. Dengan demikian, nilai-nilai pendidikan agama Islam berwawasan multikultural akan berpengaruh signifikan dalam upaya membentuk pola pemahaman keagamaan di kalangan peserta didik baik melalui muatan kurikulum maupun dalam tataran aplikatif dalam proses pembelajaran. English:This article describes how multicultural education responds to demographic changes and religious culture in school environment, and even society as a whole. Thus, it aims to foster attitudes and values which are essential to social life and peace buiding among religious followers. This article is a library research using qualitative descriptive approach. There are two approaches to propose in creating Islamic education with multiculturalism foundation, conceptually and methodologically. The conceptually means to enrich selves with multiculturalism issues from various resources. Next, the methodologically means to promote educating fugure (such as teachers) to act practically in spreading multiculturalism. Therefore, the values of Islamic education with multicultural foundation would significantly support the creation of religious understanding among students through both curriculum contents and learning process.

Dinamika Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Madrasah (Studi Multi-Situs di Kabupaten Jombang)

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Dalam konteks dinamika pengembangan kurikulum di Indonesia, kurikulum PAI masih menghadapi berbagai masalah dalam pengembangannya. Hal ini disebabkan perbedaan status kepemilikan sekolah, lingkungan sekolah, dan sumber daya manusia yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa  permasalahan penerapan pengembangan, konstruksi, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat kurikulum PAI di MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, MTs Ar-Rahman Nglaban, MTsN Plandi Diwek, dan MTsN Tambakberas Jombang. Penelitian ini menggunakan penelitian lapangan dengan studi multi-situs pada empat lembaga yang berbeda di Kabupaten Jombang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi kurikulum dari keempat madrasah tersebut menitikberatkan pada Subject Centered Design, yang berfokus pada mata pelajaran. Sedangkan faktor-faktor penentu yang paling dominan adalah sumber daya manusia dan sarana prasarana. Perbandingan model konstruksi kurikulum di empat madrasah tersebut terletak pada esensi dan kedalaman materi. Dari data keempat madrasah tersebut, maka collaborrative curriculum menjadi pilihan desain ulang kurikulum yang dinilai ideal dan dapat diterapkan. English:In the dynamic context of curriculum development in Indonesia, Islamic education subject encounters various problems in its curriculum development. This is caused by difference in school ownership status, school environment, and the availability of human resources. This research proposes to analyze problems in the implementation of curriculum development, curriculum construction, and factors supporting and preventing curriculum development in MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, MTs Ar-Rahman Nglaban, MTsN Plandi Diwek, and MTsN Tambakberas Jombang. This research makes use field research approach with multi-sites within four madrasah in Jombang Regency. Results show that the four madrasah put too much attention to subject centered design. Human resources and infrastructure become dominant determining factors. Material essence and quality become distinguishing factors after the comparation. From data collected in the four madrasah, collaborative curriculum may be an ideal and applicable alternative in redesigning curriculum.  

Telaah Komparatif Pengarusutamaan Gender dalam Pendidikan Islam di Saudi Arabia, Mesir, Malaysia, dan Indonesia

Zilfa, Rohil ( STIT Jembrana Bali )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Artikel ini menganalisis pengarusutamaan gender ditinjau dari perspektif perbandingan pendidikan bagi perempuan di beberapa negara Asia dan Afrika, di mana kondisinya memiliki persamaan dalam konstruksi sosiokultur, dan pengaruh interpretasi keagamaan yang dijadikan instrumen legitimasi superioritas laki-laki sangat tampak. Hal ini mempengaruhi ruang gerak perempuan pada wilayah publik, termasuk hak untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian ini adalah analisis komparatif tentang konstruksi sosial tentang perbedaan gender yang melahirkan ketidakadilan (gender inequalities) di Indonesia, Malaysia, Mesir dan Saudi Arabia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mulanya di beberapa negara di Asia (termasuk Indonesia) masih terjadi domestifikasi dan subordinasi pada perempuan, yang mana hal tersebut dibatasi dengan interpretasi agama yang selektif dan tradisional, sehingga mereka tidak mudah mengenyam pendidikan. Namun, dalam perkembangannya, terjadi peningkatan dalam keterlibatan perempuan di bidang pendidikan melalui pengarusutamaan gender oleh pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia di beberapa negara tersebut. Regulasi-regulasi yang telah ditetapkan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam masalah ketidaksetaraan gender yang terjadi. Pengarusutamaan gender merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia yang terkorelasi dengan pendidikan Islam. Di Indonesia, hal yang menjadi perhatian Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia adalah dengan menetapkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Madrasah. English:This article examines gender-mainstreaming effort from a perspective of comparative women education in several Asian and African countries, in which the countries have common socioculture condition and religious interpretation positioning male superiority over female. This situation affects female’s roles in public sphere, including female’s rights in pursuing higher degree of education. This study comparatively analyzes social contruction giving birth to gender inequalities in Indonesia, Malaysia, Egypt, and Saudi Arabia. The result of this study indicates several Asian countries (including Indonesia), at the beginning, experienced domestification and subordination of women due to traditional and selective religious interpretation, resulting difficulties to access to education for women. However, in its development, women has been increasingly involved in education through gender mainstreaming efforts by governments in order to develop human capacity in the countries. Several regulations indicates government’s serious efforts in solving the gender inequalities issues. This gender mainstreaming effort has become a part of human development strategy intergrated in Islamic education. In Indonesia, this issue got attention from Minister of Women Empowerment and Children Protection by issuing Ministry regulation No 11 of year 2010 regarding the Principality of Gender Mainstreaming in Madrasah.

ULAMA’ DAN KONTESTASI PENGETAHUAN DALAM SUDUT PANDANG AL QUR’ĀN

Mustofa, Imron ( Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Ulama` merupakan predikat psikologis proses mental dan tujuan, penguasaan data konkret dan ketercapaian hakekat pengetahuan universal. Artikel merespon beberapa pertanyaan epistemologis tentang ulama, seperti asal muasal ilmu seorang ulama, peranan ilmu, cara memperoleh pengetahuan, dan tolok ukur keilmuan. Temuan dari tulisan ini adalah, pertama, ‘Ulamā` dalam Islam dipandang sebagai suatu representasi makna dari individu atau golongan yang bergelut dalam aktifitas mental-spiritual, guna mampu mengenal, membedakan, menilai dan menyimpulkan makna pokok dari realitas, bentuk, mode, kuantitas, substansi dan esensi sesuatu. Kedua, Untuk dapat, dikatakan ‘ulamā` seseorang harus memiliki kualifikasi yang sangat ketat. Ketiga, proses seorang ‘ulama` untuk mendapatkan kesimpulan melewati tahap persepsi oleh persepsi sensoris kemudian disalurkan kepada persepsi mental. Keempat, dengan segala kualifikasi, instrumen dan klasifikasi pengetahuannya seorang ulama’ dituntut mampu menjangkau dimensi-dimensi universal, permanen, personal, spiritual dari tujuan pendidikan dan organisasi ilmu pengetahuan serta mampu merealisasikannya dalam segala aspek partikular, sosial dan segala aspek lainnya hingga menjadi insān kāmil. English:Abstract:‘Ulamā` is a psychological predicate of mentality processes and purposes, mastering concrete information and achieving the essence of universal knowledge. This article responds several epistemological questions about ulama, such as their source of knowledge, functions of the knowledge, how to get the knowledge, and their standards of knowledge. Findings of this paper are, first of all, ‘Ulamā` in Islamic perspective is individual or group representation who deal with mental-spiritual activities in purpose of identifying, distinguishing, evaluating, and concluding the essence of reality, formats, modes, quantity, substance, and essence of a thing. Second, therefore, in order to get a predicate of ‘Ulamā`, one must have a very st frict qualification. Third, ‘Ulamā` gain their knowledge from thr step of sensory perception towards mental steps. Last, with qualification that one has, instruments and classification of knowledge belongs to ‘Ulamā` must reach universal, permanent, personal, and spiritual dimensions of aims of education and knowledge structure to realize it in all particular, social, and other aspects to achieve the state of insān kāmil.

Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan Berbasis Adiwiyata pada Mata Pelajaran Fiqih di MTsN Tambakberas Jombang

Mukani, Mukani ( SMA Negeri 1 Jombang Jawa Timur ) , Sumarsono, Teto ( STIT al Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Setiap individu memiliki peran dengan lingkungan sekitarnya dan dapat menciptakan perubahan, terutama tentang kebersihan lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan bisa dilakukan dari lingkup terkecil, yaitu keluarga, sekolah dan madrasah. Artikel ini membahas pembelajaran mata pelajaran fiqih berbasis program adiwiyata yang dilaksanakan di MTsN Tambakberas Jombang dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa karakter peserta didik MTsN Tambakberas terhadap kepedulian lingkungan terintegrasi dengan baik melalui pelajaran fiqih dan mata pelajaran lainnya. Sehingga pada mata pelajaran apapun peserta didik akan tetap diingatkan dan dimotivasi untuk selalu peduli dan cinta kepada lingkungannya. Hal ini disebabkan oleh dua usaha, yaitu pembiasaan dan partisipasi. Implementasi pembelajaran fiqih dalam pembentukan karakter peduli lingkungan dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui pemberian materi yang terintegrasi dengan mata pelajaran dan juga praktik di lapangan.English:Everyone has environmental role to create changes, especially in creating cleanliness. Environmental concerns may begin from the smallest scopes, such as family and school or madrasah. This article deals with Islamic jurisprudence learning with concerns of Adiwiyata achievement in MTsN Tambakberas Jombang. This study is using qualitative approach and is conducted at di MTsN Tambakberas Jombang. The result shows that students’ attitudes toward environmental issues is satisfying through integration of the issues in Islamic jurisprudence class and other classes. Therefore, in any classes, students are always motivated to love and responsible with their environment. This is a result of two efforts, habitual development and participation. Islamic jurisprudence class contributes in the character building of environmental concerns, either through integrating the concerns into the teaching materials and practice in the fields.

Rekontekstualisasi Sejarah: Kontribusi Lembaga Pendidikan Islam terhadap Dakwah Rasulullah SAW

Harahap, Musaddad ( Universitas Islam Riau ) , Siregar, Lina Mayasari ( STAI Barumun Raya Sibuhuan )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Tulisan ini mencoba menyelami kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam merangkai ajaran-ajaran Islam menjadi satu kesatuan yang utuh lewat pendidikan. Selama kurun 23 tahun Islam sudah menjadi ajaran yang mapan penuh dengan rahasia keilmuan, sehingga Islam dijuluki sebagai agama yang rahmatallil’alamin. Dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini memaparkan keberhasilan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah kenabian yang sangat didukung oleh tempat-tempat yang representatif dalam mengajarkan pada waktu itu. Tempat-tempat yang dimaksud telah mengalami akulturasi budaya sebelum datangnya isalm dan terus berkembang bersamaan kedatangan Islam itu sendiri. Mengenai tempat yang berakultrasi dengan Islam adalah kuttab dan rumah, sementara yang tumbuh bersama dengan Islam itu sendiri adalah masjid dan suffah. Keempat lembaga pendidikan Islam yang disebutkan menjadi saluran utama yang digunakan Nabi SAW dalam mendidik para sahabatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang peduli dengan pendidikan dan sangat fleksibel terhadap kondisi dan situasi bagaimana agar proses pendidikan itu dapat berjalan. Kontribusi lembaga pendidikan Islam selain mampu menciptakan perubahan mendasar dalam konteks keagamaan dan kehidupan sosial juga menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka (inkulsif) terhadap perubahan sosial selama tidak bertetangan dengan aqidah. English: This paper attempts to examine the success of Prophet Muhmmad PBUH in arranging Islamic teachings into a set through education. Within 23 years, Islam emerged into an established teaching and full of hidden knowledge, making Islam gets predicate of blessing for the universe. Through literary study, this research explains the success of the prophet in delivering prophetic messages with support of representative teaching places at the period. The places acculturated with the coming of Islam and keep growing along with the development of Islam. Kuttab and house has acculturated with Islam and Mosques and Suffah have grown together with Islam. The four kind of places became main channels for the prophet PBUH in educating his companions. Therefore, it can be concluded that Islam is a religion with high education concerns and quite flexible towards condition and situation where the educational process takes place. Islamic educational institution is not only creating fundamental change in religious and social life, but also making Islam as an inclusive religion to social changes as long as the changes are not contradictory to Islamic faith. 

HUMANISME DALAM PENDIDIKAN ISLAM: KONSEPSI PENDIDIKAN RAMAH ANAK

Azis, Abd. ( STIT Al Ibrohimy Galis Bangkalan )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Tulisan ini mendeskripsikan humanisme dalam pendidikan Islam melalui model pembelajaran ramah anak. Melalui kajian literatur diperoleh hasil bahwa konsep pembelajaran ramah anak menjadi penting seiring masih maraknya kekerasan terhadap anak baik di dalam ataupun di luar institusi pendidikan. Dalam model pendidikan ini, pendidikan Islam menjadi katalis untuk mewujudkan humanisasi dalam pendidikan. Konsep ramah anak berupaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa merasa betah dan nyaman di sekolah. Hal tersebut dapat dilihat dari sikap guru yang ramah terhadap siswa, proses pembelajaran efektif, pengelolaan kelas efektif dan lingkungan belajar kondusif, serta motivasi belajar siswa. Dalam hal internalisasi nilai-nilai keislaman, guru menanamkan sikap sabar dan mampu menjadi teladan bagi siswa, menggunakan metode yang bervariatif, menerapkan pengelolaan kelas yang menyenangkan dan didukung lingkungan belajar yang kondusif. English:This paper describes humanism in Islamic education through child-friendly education model. Literary study results in the importance of such education model along with the increase of violence towards children either in educational institutions or in outside the area. In the child-friendly education, Islamic education is a catalyst to achieve humanism in education.  The education model focuses on creating fun interaction and makes students feeling at home and safe at school. This can be seen from friendly teachers’ attitudes, effective learning processes, effective classroom management, conducive learning environment, and students’ motivation. In terms of Islamic values internalization, teacher cultivates patient attitudes and becomes model for students, implementing variety of learing methods, implementing positive classroom management within conducive learning environment.

Implementasi Metode STIFIn dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an di Rumah Qur’an STIFIn Paiton Probolinggo

Mundiri, Akmal ( Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo ) , Zahra, Irma ( Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman yang mewartakan prinsip dan doktrin ajaran Islam mempunyai apa yang disebut dengan kepastian teks (qat’i al-wurud). Dalam proses menjaga kepastian teks tersebut, terdapat peran serta manusia yang salah satu caranya dengan menghafalkan al-Qur’an.  Namun, menghafal al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan sebagaimana menghafal suatu lagu atau syair. Problem yang dihadapi oleh seseorang yang sedang menghafal al-Qur’an memang banyak dan bermacam-macam. Mulai dari faktor minat, bakat, lingkungan, waktu, sampai pada metode menghafal itu sendiri. Metode STIFIn sebagai salah satu metode menghafal al-Qur’an dalam implementasinya menawarkan solusi menghafal cepat yang dilakukan mulai sebelum proses menghafal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam implementasinya, dengan cara memetakan penghafal berbasis pada teori hereditas, sehingga berimplikasi pada rekayasa pembelajaran yang berbeda antar masing-masing potensi. Demikian pula dengan tes kemampuan hafalan guna mengetahui kekuatan dan kemampuan masing-masing dalam menghafal al-Qur’an. Hal tersebut kemudian diikuti dengan klasifikasi penghafal al-Qur’an berdasarkan teori sirkulasi STIFIn ketika melaksanakan kegiatan setoran kepada pembina, sehingga dalam pelaksanaan metode STIFIn sangat membantu santri untuk bisa menghafal al-Qur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing. English:Al-Quran as one of the guidelines that proclaim the principles and doctrines of Islamic teachings has what is called the certainty of the text (qati al-wurud). In the process of maintaining the certainty of the text, there is the human role that as memorizer of the holy Qur’an. However, memorizing the Quran is not easy as imagined as memorizing a song or poem. The problem faced by someone who is memorizing the Quran is many and varied. Starting from the interest factor, talent, environment, time, until the method of memorizing itself. The STIFIn method as one of the methods of memorizing the Quran in its implementation offers a solution to memorize quickly that began before the memorization process. The results of this study indicate that in its implementation, by mapping the memorizers based on the theory of heredity, so that it implies different learning engineering between each potential. Similarly, the tests of the ability of memorizing to know the strength and ability each person in memorizing the Holy Quran. It is then followed by the classification of the who memorized the Quran based on the STIFIn circulation theory when carrying out the deposit activities to each coach, so in the implementation of STIFIn method is very helpful for santri to be able to memorize the Quran more easily and comfortably, because have adjusted the method with their respective genetic potential.

Membangun Etika dan Kepribadian di Lembaga Pendidikan Islam: Sebuah Perspektif Psikologi Qur’ani

Fuad, Ah. Zakki ( UIN Sunan Ampel ) , Alfin, Jauharoti ( UIN Sunan Ampel ) , Nasih, Ahmad Munjin ( Universitas Negeri Malang )

Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bahasa Indonesia:Lembaga pendidikan Islam mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membangun etika dan kepribadian peserta didiknya. Tantangan pendidikan Islam sekarang ini adalah munculnya  pergeseran tata nilai etika dan kepribadian di masyarakat karena pengaruh globalisasi, kemajuan teknologi, problematika sosial serta disparitas kemampuan ekonomi yang berbeda yang secara tidak langsung memunculkan konflik sosial, disharmonisasi hubungan orang tua dengan anak, guru dengan murid dan lain sebagainya. Al-Qur’an sebagai sumber penggalian keilmuan telah menawarkan konsep pembangunan etika dan kepribadian (ethics and personality development) bagi manusia, khususnya peserta didik di lembaga pendidikan  melalui psikologi qur’ani. Konseptualisasi dan teorisasi psikologi qur’ani dalam tulisan ini menggunakan content analisis dengan langkah-langkah; Unitizing, Sampling, Recording, Reducing, Inferring, Anayzing and Narrating. Langkah-langkah metodologis ini akan menghasilkan konsep psikologi yang bersumber dari al-Qur’an dan dikombinasikan dengan beberapa teori psikologi; Connectionism theory, Classical Conditioning, Operant Coditioning, Contiguous Conditioning, Cogitive theory, Social Learning Theory.  Hasilnya membangun rumusan bagaimana membangun etika dan kepribadian  Qur’ani bagi peserta didik di Lembaga Pendidikan Islam. English:Islamic educational institutions have a great responsibility in building learners’ ethics and personality. The challenge of Islamic education today is the emergence of a shift in ethical and personality values in society due to the influence of globalization, technological advancement, social problems, and economic disparities, which indirectly bring about social conflicts, parents-children slack relationships, as well as teachers-students weak engagement. Al-Quran as a source of scientific exploration has offered the concept of ethical and personality development (human ethics and personality development), especially for learners in educational institutions through Quranic psychology. The conceptualization and theorization of Quranic psychology in this paper makes use of content analysis with the following step: Unitizing, Sampling, Recording, Reducing, Inferring, Analyzing, and Narrating. These methodological steps results in the psychological concept rooted in the Qur’an to combine with some modern psycological theories, including Connectionism theory, Classical Conditioning, Operant Coditioning, Contiguous Conditioning, Cogitive theory, and Social Learning Theory. The results construct a mechanism of how to build Quranic ethics and personality for learners in Islamic educational  institutions.