cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan berkala setiap tiga bulan, yaitu April, Agustus dan Desember. Jurnal Teknik Sipil diterbitkan untuk pertama kalinya pada tahun 1990 dengan membawa misi sebagai pelopor dalam penerbitan media informasi perkembangan ilmu Teknik Sipil di Indonesia. Sebagai media nasional, Jurnal Teknik Sipil diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan akan sebuah media untuk menyebarluaskan informasi dan perkembangan terbaru bagi para peneliti dan praktisi Teknik Sipil di Indonesia. Dalam perkembangannya, Jurnal Teknik Sipil telah terakreditasi sebagai jurnal ilmiah nasional sejak tahun 1996 dan saat ini telah terakreditasi kembali (2012-2017). Dengan pencapaian ini maka Jurnal Teknik Sipil telah mengukuhkan diri sebagai media yang telah diakui kualitasnya. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil tetap berusaha mempertahankan kualitasnya dengan menerbitkan hanya makalah-makalah terbaik dan hasil penelitian terbaru.
Arjuna Subject : -
Articles 361 Documents
Analisis Kerusakan Retak Lelah pada Struktur Perkerasan Kaku Landasan Pesawat Udara dengan menggunakan Program Airfield Kosasih, Djunaedi; Fibryanto, Arie
Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 1 (2005)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.293 KB)

Abstract

Abstrak. Desain struktur perkerasan kaku yang memperhitungkan volume lalu lintas pesawat udara campuran pada prinsipnya harus didasarkan pada kriteria retak lelah, seperti yang diusulkan oleh metoda PCA (Yoder, et.al., 1975). Dengan pendekatan ini, setiap pesawat udara yang melintas untuk keberangkatan dianggap akan mengakibatkan derajat kerusakan tertentu pada struktur perkerasan yang sebanding dengan tegangan lentur yang terjadi didalamnya. Di akhir masa layan rencana, setelah total kerusakan mencapai 100%, maka struktur perkerasan diasumsikan akan mengalami keretakan lelah. Kerusakan retak lelah terbentuk pada jalur lintasan roda pesawat udara desain yang harus ditentukan dengan cara coba-coba pada saat proses desain. Makalah ini menguraikan contoh proses penentuan pesawat udara desain dari 17 jenis pesawat udara tipikal yang beroperasi pada saat ini di bandar udara Juanda, Surabaya, dengan mengaplikasikan program Airfield (Kosasih, 2004). Kontribusi dari setiap jenis pesawat udara terhadap kerusakan struktur perkerasan dijelaskan secara rinci. Pengaruh dari Load Repetition Factor (LRF) yang memperhitungkan distribusi lintasan roda pesawat udara dalam arah lateral terhadap penundaan kerusakan retak lelah juga didiskusikan. Abstract. Structural design of an airport rigid pavement carrying mixed traffic should be based in principle upon fatigue cracking criterion, as stated by the PCA method (Yoder, et.al., 1975). By this approach, every departing aircraft is assumed to cause certain damage in the pavement that corresponds to the flexural stress level occurring therein. When the cumulative total damage reaches 100% in the end of its design life, the pavement is expected to experience fatigue cracking within the wheel path of a certain aircraft, which is then defined as the design aircraft. Such a design aircraft must be determined iteratively during the design process. This paper outlines a design example in determining a design aircraft out of 17 typical types of aircraft operating at present on Juanda airport of Surabaya by using program Airfield (Kosasih, 2004). The contribution of each type of aircraft on pavement structural damage is described in detail. The effect of Load Repetition Factor (LRF) to account for aircraft wander in a lateral direction of the pavement on delaying fatigue cracking is also discussed.
Pengembangan Sistem Isolasi Seismik pada Struktur Bangunan yang Dikenai Beban Gempa sebagai Solusi untuk Membatasi Respon Struktur Setio, Herlien D.; Kusumastuti, Diah; Setio, Sangriyadi; Siregar, Pratama H.R.; Hartanto, Andy
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 1 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.721 KB)

Abstract

Abstrak. Penelitian ini membahas studi teori dan eksperimental mengenai kontrol pasif getaran pada struktur yang mengalami beban eksitasi gempa dengan menggunakan teknik isolasi yang dilakukan pada dasar struktur bangunan. Pada penelitian ini diusulkan penggunaan sistem isolasi dasar dengan menggunakan bantalan karet yang diletakkan di antara kolom pada lantai dasar dengan pondasi yang diharapkan mampu memperkecil perpindahan horisontal struktur bangunan. Model eksperimental yang digunakan adalah model portal baja dua tingkat dengan isolator bantalan karet pada tumpuannya dan diberi beban eksitasi dinamik dengan menggunakan meja getar. Hasil studi teori dan eksperimental untuk berbagai beban dinamik seperti percepatan horisontal gempa El Centro N-S menunjukkan penggunaan isolator pada dasar struktur bangunan memberikan hasil yang memuaskan dalam hal pengurangan tingkat getaran sehingga dapat meningkatkan kualitas keamanan dan kenyamanan struktur. Selain itu penggunaan isolator dasar pada struktur bangunan sangat menguntungkan karena pelaksanaannya yang relatif sederhana.Abstract. This study presents a theoretical and experimental study on passive vibration control for structures which are subjected to earthquake excitations using isolation technique which is implemented on the base of the building structure. The base isolation system, made of rubber pads, was proposed in this study to reduce the relative horizontal displacement of the structure. The experimental model for the study is a two-storey steel frame with rubber pads installed on its base. The dynamic excitations were given to the structure through a small shaking table. The theoretical and experimental studies for various dynamic loads, such as sinusoidal acceleration and simulation of El Centro NS earthquake acceleration, show that the use of the base isolator on the structure gives satisfactory results. The base isolation system reduces significantly the vibration level and improves the quality of safety and comfort of the structure. In addition, the use of the base isolator on the structure is very attractive because its implementation is relatively simple.
Analisis Pilar Modernisasi Irigasi dengan Pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP) pada Daerah Irigasi Barugbug - Jawa Barat Mulyadi, Mulyadi; Soekarno, Indratmo; Winskayati, Winskayati
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 3 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.557 KB)

Abstract

Abstrak. Daerah irigasi Barugbug di Jawa Barat adalah daerah irigasi yang akan dijadikan sebagai contoh penerapan modernisasi irigasi. Pengertian dari modernisasi irigasi adalah suatu upaya untuk melakukan perubahan sistem pengembangan dan pengelolaan irigasi menjadi sistem irigasi partisipatif yang lebih efektif, efisien, dan berkesinambungan (sus-tainable). Pemahaman tentang pilar modernisasi dilakukan dengan survey terhadap responden petugas OP irigasi, petani P3A dan instansi pengelola irigasi Barugbug yang terdiri dari BBWS Citarum, SKPD TPOP Dinas PSDA Jawa Barat dan Perum Jasa Tirta II. Analisis deskriptif statistik seputar pengetahuan dan pemahaman responden terhadap penerapan pilar modernisasi irigasi dilakukan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mendapatkan urutan skala prioritas penerapan pilar modernisasi irigasi di Barugbug. Hasil dari Analitycal Hierarchy Process (AHP) didapatkan urutan prioritas penerapan pilar modernisasi Irigasi di Barugbug dengan hasil sebagai berikut : Urutan 1 : Pilar Ketersediaan Air Irigasi, Urutan 2 : Pilar SDM Pengelola Irigasi, Urutan 3 : Pilar Prasarana Irigasi, Urutan 4 : Pilar Sistem Pengelolaan Irigasi, Urutan 5 : Pilar Penguatan Lembaga Pengelola Irigasi.Abstract. Barugbug Irrigation Area in West Java is the irrigation area which will serve as an pilot project of the application of irrigation modernization. Irrigation modernization can be interpreted as an attemption to make changes to the development and management participatory irrigation system become effective, efficient, and sustainable. An understanding of the pillars of modernization carried out by survey respondents OP officer irrigation, P3A farmers and management of Barugbug Irrigation (BBWS Citarum, SKPD TPOP and Perum Jasa Tirta II). Descriptive Statistical Analysis of knowledge and understanding of each respondent to the application of irrigation modernization pillar then was done by Analytical Hierarchy Process (AHP) to get the priority scale order of the application of the pillars of modernization in Barugbug. The results of Analytical Hierarchy Process (AHP) obtain the order of priority in the application pillar of irrigation modernization in Barugbug with the following result are: Sequence 1: Pillars of Irrigation Water Availability, Sequence 2: Pillars of Irrigation Human Resources business, Sequence 3: Pillars of Irrigation Infrastructure, Sequence 4: Pillars of Irrigation Management System, and Sequence 5:Pillars of Strengthening Irrigation Management Institute.
Studi Kelakuan Dinamis Struktur Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Akibat Beban Individual Manusia Bergerak Wahyuni, Endah
Jurnal Teknik Sipil Vol 19, No 3 (2012)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.701 KB)

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh beban manusia bergerak pada struktur JPO beton dan baja. Manusia sebagai beban dinamis sangat mempengaruhi dalam merencanakan jenis struktur tertentu, seperti stadion, lantai gedung olahraga, atau JPO. Apabila beban manusia tersebut tidak dipertimbangkan sebagai beban dinamis maka dapat menjadi penyebab kegagalan struktur. Dalam studi ini dilakukan pemilihan model beban akibat manusia bergerak dari literature yang ada. Dalam penelitian ini dibatasi hanya pada model beban manusia individu. Dengan menggunakan software SAP2000, pembebanan ini akan dihitung secara dinamis, sehingga akibat orang yang bergerak akan menghasilkan reaksi vertikal dan horisontal serta berubah terhadap waktu. Selanjutnya dilakukan pengujian nilai frequensi alami dari jembatan yaitu pada uji kasus dilakukan JPO beton dan JPO baja di Surabaya. Untuk mode pertama, bentuk getaran dari struktur JPO beton didominasi oleh arah horizontal dengan frekuensi alami 2.75 Hz. Sedangkan untuk struktur JPO baja didominasi oleh arah vertikal dengan frekuensi alami 7.675 Hz. Kedua struktur memiliki nilai frekuensi alami yang memenuhi ketentuan British Standard dan diketahui pula bahwa tidak terjadi resonansi pada struktur JPO akibat beban manusia berjalan. Dengan adanya penelitian ini diharapkan kelakuan dinamis struktur jembatan penyeberangan orang akibat beban manusia yang bergerak bisa lebih dipahami.Abstract. This study aimed to investigate the effect of human-induced dynamic loads on steel and concrete footbridges. The dynamic loads would greatly affect to design of certain types of structures such as stadium, floor for dance or sport, or footbridge. If the kind of loads was not considered in the design as dynamic loads that could be the cause of structural failure. The model of the dynamic loads was found from the existing literature. The human loads were limited to individual model in this study. The dynamic responses of footbridge structures were investigated using SAP2000 and showed that the concrete bridge is less stiff than the steel bridge based on the natural frequencies. The results also showed that the first mode of the concrete footbridge was  dominated by horizontal direction with the natural frequency of 2.75 Hz. While the first mode of the steel footbridge was dominated by the vertical direction with natural frequency of 7.675 Hz. Both structures had the natural frequencies which complied with the British Standard and also found that there was no resonance on both footbridges due to human-induced dynamic loads. From the acquisition of some of the above conclusions, it was expected that the dynamic behavior of the footbridge due to the human dynamic loads could be better understood.
Mengukur Risiko dan Atraktivitas Investasi Infrastruktur di Indonesia Wibowo, Andreas
Jurnal Teknik Sipil Vol 13, No 3 (2006)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.088 KB)

Abstract

Abstrak. Ketersediaan infrastruktur yang andal dan memadai mempunyai peranan substansial bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian kebutuhan dana untuk investasi di sektor ini sangat besar yang tidak mampu sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah sendiri. Di sinilah peran sektor swasta sangat diharapkan untuk menutup kesenjangan finansial yang ada melalui skema kemitraan-pemerintah-swasta dalam pembangunan infrastruktur. Bagi sektor swasta, kemitraan yang ditawarkan merupakan salah satu alternatif investasi untuk diversifikasi aset. Dua isu kritis adalah tingkat risiko investasi dan besarnya kompensasi yang diberikan untuk menanggung risiko. Tulisan ini secara spesifik mendiskusikan pengukuran besaran tingkat pengembalian minimum yang diharapkan dan atraktivitas investasi infrastruktur di Indonesia dengan membandingkan minimum pengembalian yang diharapkan dan yang diterima menggunakan Capital Asset Pricing Model. Data yang digunakan adalah indeks harga saham bulanan periode Januari 2002-Desember 2005 dari Bursa Efek Jakarta. Berdasarkan perhitungan, dua subsektor infrastruktur yang mempunyai tingkat risiko tertinggi adalah telekomunikasi dan jalan tol-bandara-pelabuhan. Pengembalian minimum untuk kedua subsektor ini masing-masing adalah 21,56% dan 20,18%. Analisis menunjukkan bahwa secara umum investasi infrastruktur menarik bila dipandang dari perspektif ekuitas, tetapi tidak dari perspektif aset.Abstract. The availability of reliable and adequate infrastructure has a pivotal role for the national economic growth. However, the investment capital requirement in this sector is substantially high, which the Government alone cannot afford. The private sector is expected to bridge the financial gap through public-private-partnership schemes for the infrastructure development. For investors, the partnership should be one of the investment alternatives for asset diversification. Two critical issues to address are investment riskiness and compensation level for willingness to assume risk. This paper specifically discusses the measurement of the expected minimum rate of return and the attractiveness of infrastructural investment in Indonesia by comparison of the expected and earned rates of return using the Capital Asset Pricing Model for analysis. Data are derived from monthly stock indices of Jakarta Stock Exchange during the period January 2002-December 2005. Based on analysis, two sub sectors with highest risk levels are telecommunication and tollroad-airport-harbor while the corresponding expected minimum returns are 21.56% and 20.18%, respectively. The analysis reveals that infrastructure investment is in a general sense attractive from the equity perspective, but not from the asset one.
Penelitian Eksperimental Geser-Friksi Sambungan Tiang Kayu Lontar (Borassus flabellifer) dengan Batu pada Rumah Tradisional Ammu Hawu (NTT) Suwantara, I Ketut; Rusli, Rusli
Jurnal Teknik Sipil Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2370.639 KB)

Abstract

Abstrak. Ammu Hawu sebagai rumah tradisional asli Indonesia memiliki sistem struktur tiang-tiang di atas pondasi batu. Jenis pondasi batu/umpak yang sering digunakan pada bangunan tradisional mampu meningkatkan kinerja struktur secara keseluruhan akibat gaya lateral. Perilaku ini dikenal sebagai sistem base isolation, cara populer untuk melindungi struktur dari gaya lateral yang ditimbulkan akibat gempa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter nilai friksi yang terjadi pada sambungan tiang dengan batu. Penelitian ini dilakukan melalui pengujian eksperimental di laboratorium dengan jumlah benda uji 3 (tiga) buah. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban aksial konstan (terdapat 3 variasi beban aksial untuk masing-masing benda uji) dan beban lateral bertahap sampai dengan kondisi permukaan penampang kayu Lontar (Borassus flabellifer) dan batu mengalami kondisi slip. Nilai friksi dihitung dengan membandingkan kedua beban tersebut. Hasil penelitian menunjukkan besarnya friksi yang terjadi antara kayu Lontar berbentuk silindris dengan batu adalah sebesar m = 0,35. Nilai friksi yang diperoleh dari penelitian ini direkomendasikan sebagai parameter nilai friksi antara kayu Lontar dengan batu.Abstract. Ammu Hawu been native tradisional houses in Indonesia have poles above the stone foundation structure system. This type were often used in traditional houses, it can improve overall structure performance due to lateral forces. This behavior is known as base isolation system, the popular ways to protect the structure from lateral force. The objective of this research is to recognize friction value parameter that occur in pole-stone foundation connection. This research was conducted through experimental testing in laboratory with 3 specimen tests. Testing was done by providing constant axial load (there were 3 variations of axial load each specimens) and lateral load incrementally untill the papyrus (Borassus flabellifer) and stone surface conditions sliped. Friction value was calculated by comparing both of the loads. Result shown friction between papyrus and stone was equal to m = 0.35. This friction value obtained to recommended as a parameter value to the friction between papyrus and stone.
Kinerja Campuran Beton Aspal Lapis Aus dengan Menggunakan Bahan Pengikat Aspal Supracoat Subagio, Bambang Sugeng; Siswosoebrotho, Bambang Ismanto; Mukhlis, Mukhlis
Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 2 (2007)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.938 KB)

Abstract

Abstrak. Penelitian laboratorium dilakukan untuk menguji sifat-sifat aspal Supracoat dan dibandingkan dengan sifatsifat aspal Pen 60/70. Juga dilakukan pengujian sifat-sifat dari campuran beton aspal (AC-WC) menggunakan kedua type aspal tersebut. Pengujian pendukung lain yaitu pengujian kelelahan lentur dan pengujian UMATTA, dilakukan untuk menyelidiki karakteristik kelelahan dan besaran modulus resilien dari campuran. Hasil uji karakteristik aspal menunjukkan bahwa aspal Supracoat mempunyai penetrasi yang lebih rendah (56,2 mm) dari pada aspal Pen 60/70 (65,8 mm), viskositas yang lebih tinggi (1550C) dari pada aspal Pen 60/70 (1520C) dan titik lembek yang lebih tinggi (51,50C) dari pada Pen 60/70 (48,5oC). Perubahan kenaikan nilai titik lembek setelah RTFOT menunjukkan aspal Supracoat memiliki ketahanan terhadap penuaan aspal yang lebih baik dari pada aspal Pen 60/70. Karakteristik Marshall dari campuran beton aspal (AC-WC) menggunakan aspal Supracoat memberikan hasil yang paling baik dari pada campuran menggunakan aspal Pen 60/70. Ditunjukkan oleh beberapa nilai yaitu Stabilitas pada kondisi KAO (1431,12 Kg terhadap 1413,89 Kg) dan IKS (93,3% terhadap90,16%). Hasil pengujian yang lain diperjelas dengan karakteristik modulus resilien yang lebih besar (2996 MPa terhadap 2417 Mpa) dan umur kelelahan yang lebih panjang (6331 siklus terhadap 4450 siklus).Abstract. The Laboratory work was conducted to examine the properties of Supracoat asphalt and compare it with the properties of Asphalt Pen 60/70. The properties of Asphaltic Concrete mix (AC- WC) was examined also, using those two types of asphalt. Another complimentary test, i.e. Flexure Fatigue test and UMATTA test were conducted to investigate the fatigue characteristic and to measure Resilient Modulus of mix, respectively. The result of test on asphalt characteristics showed that Supracoat has a lower penetration (56,2 mm) than Pen 60/70 (65,8 mm), has higher Viscosity (1550C) than the Pen 60/70 (1520C) and has higher softening point (51,50C) than the Pen 60/70 (48,5oC). The change of Softening Point value after RTFOT showed that the Supracoat has a resistance of ageing better that the Pen 60/70. The marshall characteristic test of Asphalt Concrete mix (AC-WC) using Supracoat gave better result than the mix using asphalt Pen 60/70, shown by these values i.e.stability of OBC (1431,12 kg to 1413,89 kg) and IKS (93,3% to 90,16%). Another test result confirmed those characteristic i.e. Higher Resilient Modulus (2996 MPa to 2417 MPa) and higher fatigue life (6331 cycles to 4450 cycles).
Fair Budgeting Formulation for O&M of Irrigation Using Multi-Criteria Decision Analysis: WA and AHP Methods Soentoro, Edy Anto; Rohmat, Faizal I.W.; Vurnamawati, Vitta
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.867 KB)

Abstract

Abstract. Operation and Maintenance (O&M) budget provided by the Government of Indonesia for irrigation, so far, is based on the size of irrigated area only. Meanwhile, the actual O&M costs of an irrigation area also depend on the topographic terrain, canal density/length, irrigation structure density, and infrastructure damages that influence to the proper function of irrigation system. Thus, the O&M budget does not represent the actual cost needed. The purpose of this study is to find method for fair budgeting O&M irrigations based on Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA): Weighted Average (WA) and Analytic Hierarchy Process (AHP) methods. As case study, the methods are applied on nine irrigation areas with various topographical conditions. The results are then compared with the conventional O&M budget. Four criteria are used to assess the irrigation areas above: canal density/length (m/ha), structure density (per hectare), infrastructure damages (%), and size of the irrigation area. The result shows that O&M budgeting using WA and AHP methods gives more fairness and closer to the actual budget needed, compared with the government budgeting that based on the size of irrigation area only. While in general, result using AHP method tends to be more sensitive than that using WA method. Abstrak. Anggaran untuk Operasi dan Pemeliharaan (O&P) daerah irigasi dari pemerintah Indonesia, saat ini, hanya berdasarkan pada luas daerah irigasi saja. Pada kenyataannya, biaya O&P dari suatu daerah irigasi juga tergantung pada kondisi topografi, panjang/kerapatan saluran, kepadatan bangunan irigasi, dan kerusakan infrastruktur yang berpengaruh terhadap berfungsinya system irigasi dengan benar. Jadi, anggaran O&P pada saat ini tidak mewakili biaya yang sebenarnya dibutuhkan. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari cara yang lebih tepat dalam menentukan penganggaran O&P daerah irigasi berdasarkan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA): metoda Weighted Average (WA) dan Analytic Hierarchy Process (AHP). Sebagai studi kasus, kedua metoda tersebut diterapkan pada 9 daerah irigasi dengan berbagai kondisi topografi. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan anggaran O&P yang ada. Empat kriteria digunakan dalam menilai 9 daerah irigasi tersebut, yaitu: panjang/ kerapatan saluran (m/ha), kepadatan bangunan air (per ha), kerusakan infrastruktur (%),dan luas daerah irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menentukan anggaran O&P dengan metoda WA dan AHP memberikan hasil yang lebih adil dan lebih dekat dengan biaya yang dibutuhkan, dibandingkan dengan anggaran saat ini yang hanya berdasarkan pada luas daerah irigasi saja. Secara umum, hasil menggunakan metode AHP cenderung lebih sensitif dibandingkan dengan metode WA.
Kajian Efektifitas Semen dan Fly Ash dalam Campuran Soil Cement Memakai Tanah Lempung dan Pasir Pulau Timor Theodorus, Alfonsus; Sugeng, Bambang; Suratman, Ilyas; Hermawan, Rudy
Jurnal Teknik Sipil Vol 15, No 2 (2008)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.932 KB)

Abstract

Abstrak. Campuran semen tanah atau Soil cement adalah hasil pencampuran tanah, semen dan air, yang dengan tingkat pemadatan tertentu akan menghasilkan suatu campuran material baru, soil cement, yang mana dikarenakan kekuatannya, karakteristik ketahanan terhadap oleh air, panas dan pengaruh cuaca lainnya adalah sangat baik sebagai suatu lapis pondasi bawah dari struktur perkerasan jalan. Penggunaan Fly Ash sebagai alternatif material untuk stabilisasi dapat digunakan sebagai bahan tambahan campuran Soil Cement. Penelitian ini dilakukan pada beberapa tahapan pengujian, dimana pada tahapan pertama dilakukan pengujian statis terhadap campuran tersebut, antara lain percobaan UCS (Unconfined Compressive Strength). Hasil pengujian menunjukkan bahwa tanah Oelmasi (Pulau Timor) dapat diklasifikasikan sebagai tanah lempung anorganik dengan plastisitas tinggi (CH), tipe tanah kelempungan (A-7-5), Nilai aktiviti (A)=1,30 (Aktif Clays) dan memiliki Swelling Potensial yang sangat tinggi (Very High) serta kandungan mineral Kuarsa (Quartz). Secara umum, 5% - 15% semen menunjukkan jumlah optimum pengurangan Plastisitas Index (PI). Sedangkan 3% - 7% fly ash dapat meningkatkan nilai Plastisitas Index (PI). Pengurangan dan penambahan Plastisitas Index (PI) adalah suatu indikator perubahan kekuatan dari tanah Lempung Anorganic (CH). Penambahan 13%semen pada pemeraman 28 hari nilai Unconfined Compressive Strength (UCS) yang optimal yaitu = 12,59 Kg/Cm2. Untuk Tanah Bolok (Pulau Timor) merupakan jenis Pasir bergradasi baik (SW), tipe tanah pasir (A-1-b) dengan kandungan Mineral Calcite. Penambahan semen 10 % dapat meningkatkan nilai UCS hingga mencapai nilai optimal 21,87 kg/cm2 pada umur pemeraman 28 hari.Abstract. Soil cement is result of mixing soil, cements and water, that with level of certain compaction will make a new material mixture, soil cement, which because of it is strength, resistance characteristic to by water, hot and other weather influence is very good as a foundation layer under from road pavement structure. Usage of Fly Ash alternatively material for stabilization can mixture addition Soil Cement. This research done at some testing steps, where at step first is done static testing to the mixture, for example experiment UCS (Unconfined Compressive Strength). Result of testing indicates that Soil Oelmasi (Island Timor) can be classified as Inorganic Clay Soil with high plasticity (CH), Clay Soil Type (A-7-5), Value activity (A) = 1,30 (Aktif Clays) and has Swelling Potential Very High and mineral content Kuarsa (Quartz). In general, 5% - 15% cements shows number optimum of decrement Plastisitas Index (PI). While 3% - 7% fly ash can increase value Plastisitas Index(PI). Decrement and addition Plastisitas Index (PI) be an transformation indicator of strength from soil Clay Anorganic (CH). Addition of 13%semen curing of 28 days value Unconfined Compressive Strength (UCS) optimal that is = 12,59 Kg/Cm2. For Soil Bolok (Island Timor) be type Sand good gradation (SW), soil sands type (A-1-b) with content mineral calcite. Addition cement 10 % can increase value UCS so reaching optimal value 21,87 kg/cm2 at the curing of 28 days.
Studi Komparasi Sistem Isolasi Dasar High-Damping Rubber Bearing dan Friction Pendulum System pada Bangunan Beton Bertulang Budiono, Bambang; Setiawan, Andri
Jurnal Teknik Sipil Vol 21, No 3 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2392.522 KB)

Abstract

Abstrak. Perkembangan dari perencanaan bangunan tahan gempa pada beberapa dekade terakhir telah melahirkan suatu inovasi baru yang disebut sistem isolasi dasar. Dua jenis sistem isolasi dasar yang telah banyak digunakan adalah High-Damping Rubber Bearing (HDRB) dan Friction Pendulum System (FPS). Tujuan dari studi ini adalah membandingkan kinerja HDRB dan FPS pada kondisi perpindahan rencana dan riwayat pembebanan gempa yang sama serta mempelajari pengaruh kekangan khusus maupun menengah pada bangunan yang sudah dilengkapi dengan sistem isolasi dasar. Digunakan lima model studi berupa gedung perkantoran hipotetikal dua puluh lima lantai dengan sistem struktur berupa sistem ganda yang terletak di daerah Jakarta dengan kondisi tanah sedang. Digunakan analisis non-linear riwayat waktu (NLTHA) dengan memanfaatkan tujuh buah riwayat gempa yang telah diskalakan terhadap respon spektra target baik pada Design Basis Earthquake (DBE) maupun Maximum Credible Earthquake Risk Category (MCER). Parameter-parameter yang dibandingkan meliputi perpindahan atap, gaya geser dasar, perpindahan antar lantai, kondisi kerusakan sendi plastis, rasio redaman efektif, dan kemampuandisipasi energi inelastik dari kedua perangkat tersebut. Berdasarkan parameter-parameter tersebut, perangkat FPS terbukti dapat bekerja lebih baik dibandingkan dengan HDRB dalam mereduksi gaya gempa. Selain itu, efek kekangan terbukti tidak lagi memberikan pengaruh yang signifikan pada gedung yang sudah dilengkapi dengan sistem isolasi dasar.Abstract. Development of earthquake resistant building design in recent decades has produced a new invention called base isolation system. Two types of base isolation system that has been widely used are high-damping rubber bearing (HDRB) and friction pendulum system (FPS). The purpose of this study is to compare the performance of both base isolation devices on same design displacement and earthquake load and to learn the effect of both special and intermediate detailing on the buildings which have been equipped with the base isolation devices. Five hypothetical office building model, 25-story tall, with dual system structure which is located in Jakarta with medium soil condition will be introduced. Nonlinear time history analysis (NLTHA) with seven ground motion which have been scaled both to Design Basis Earthquake (DBE) and Maximum Credible Earthquake Risk Category (MCER) target spectra will be used. The measured parameters included roof drift, base shear, inter-story drift, plastic hinges damage, effective damping ratio, and energy dissipation capacity for both devices. Based on these parameters, it has been proved that FPS works more effectively when compared to HDRB in reducing seismic damage. Besides, effect of confinement is no longer significant for buildings which have been equipped with base isolation devices.

Page 1 of 37 | Total Record : 361