cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JURNAL TATSQIF
ISSN : 18295940     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB STAF SEKOLAH DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING BAGI SISWA Hadi, Syamsul
JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v15i2.1464

Abstract

Kajian ini adalah telaah mengenai peran dan tanggung jawab Staf Sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Kajian ini adalah kajian pustaka. Hasil dari kajian ini mengungkap bahwa Staf Sekolah memainkan peranan penting dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Peran tersebut mencakup peran sebagai informator, organisator, motivator, director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Peran tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuah sistem yang saling melengkapi dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.
EVALUASI KUALITAS INSTRUMEN PENGUKURAN KINERJA TENAGA PENDIDIK Hasanah, Uswatun; Putrawangsa, Susilahudin; Ardi, Raden Fanny Printi
JURNAL TATSQIF Vol 15, No 1 (2017): MODEL DAN INSTRUMEN PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v15i1.1310

Abstract

Kajian ini adalah analisis kualitas instrumen pengukuran kinerja tenaga pendidik yang digunakan di salah satu perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat. Kajian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas instrumen tersebut. Analisis ini dilakukan dengan metode Analisis Factor (Factor Analysis). Terdapat 3 faktor pengukuran yang terdapat dalam instrument tersebut, yaitu faktor pedagogik (5 indikator), profesionalisme (11 indikator) dan kepribadian (3 indikator). Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa: 1) Indikator dalam instrumen tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua faktor, yaitu faktor formal dan informal. Faktor formal bersifat institusional dan terstruktur, seperti indikator penyampaian pokok materi, penggunaan metode pembelajaran, pemberian contoh yang sesuai dengan materi ujian, dan penggunaan alat atau media pembelajaran. Sedangkan faktor informal bersifat noninstitusional yang cenderung lebih bersifat hubungan emosional atau tidak resmi, seperti kemampuan pendidik dalam menciptakan suasana yang nyaman dan bersahabat selama perkuliahan; 2) Pada instrumen tersebut, ditemukan sejumlah indikator yang perlu ditiadakan karena memiliki bobot indikator lebih kecil dari 0.5, seperti salah satu faktor profesionalisme, yaitu ‘Dosen menjelaskan keterkaitan bidang/topik yang diajarkan dengan bidang/topik lain di luar mata kuliah’. Indikator ini perlu ditiadakan karena memiliki makna yang sama dengan indikator profesionalisme lainnya, yaitu ‘Dosen menjelaskan penerapan bidang/topik yang diajarkan dengan kebutuhan dunia nyata’. The current research is an analysis of the quality of an instrument that is used to measure educator performance at a college in West Nusa Tenggara. The research aims to improve the quality of the instrument. Factor Analysis is used in the study. There are 3 measurement factors in the instrument, those are pedagogic factors (5 indicators), professionalism (11 indicators) and personality (3 indicators). The result shows that: 1) those indicators can be classified into two factors, formal factors, and informal factors. Formal factors are institutional and structured, such as the indicators of subject matter delivery, the use of teaching method, the use of relevance example, and the use of learning media and tools. Meanwhile, informal factors is non-institutional, which tends to be emotional relationship or informal relationship, such as educators capability in creating pleasant and friendly classroom; 2) It is found that some indicators need to be removed because they have indicator values less than 0.5, for instance, the indicator that ‘lecturers explain the relationship between the subjects being taught and other subjects outside that subjects’ is need to be removed because it has a similar meaning with another indicator that is ‘lectures explain the application of the subject in real life’.
DEVELOPING EFL LEARNERS’ ACHIEVEMENT COMMUNICATION STRATEGIES IN A SPEAKING CLASS Syarifudin, Syarifudin
JURNAL TATSQIF Vol 14, No 1 (2016): KAJIAN PENDIDIKAN DALAM MULTIPERSPEKTIF
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v14i1.939

Abstract

Communication strategies should be included in a speaking class in order to enable learners have strategies to cope with the communication problems  both as message delivers (speakers) and as message receivers (listeners) in taking turns speaking. When the learners face problems in taking turns speaking, they may employ achievement/compensatory strategies as an attempt to deal with problems in communication directly by using alternative in order to get the message across. The use these strategies are regarded as good learners’ behaviors because they are able to maintain communication, such as use of  word coinage, language switch, paraphrase, circumlocution, cooperative strategies, non-linguistic strategies, and so forth.  Otherwise, the learners may rely on the avoidance/reduction strategies if they are not able to convey or understand the message to or from the interlocutors. These behaviors affect interaction negatively and are common among low proficiency learners. The  avoidance message as such  topic avoidance, message abandonment, replace the message, reduce the content of the intended message, and so forth.  Learners as message delivers (speakers)  and  message receivers (listeners) may use verbal communication strategies to cope with communication problems, such as topic avoidance, message abandonment, approximation, word coinage, circumlocution, literal translation (interlingual transfer), language switch, appeal for assistance, foreignizing (interlingual transfer), paraphrase, self-correction, self-repetition, asking for repetition, asking for clarification, and so forth. Meanwhile, nonverbal CSs which may be employed by learners  as message senders (speakers) and  message receivers (listeners) are smiling, head nodding, head shaking, hand raising, hand moving, thumb up, drawing something, and so forth.
ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA TINGKAT TSANAWIYAH DI PONDOK PESANTREN TA’MIRUL ISLAM nashirudin, muh
JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v15i2.1185

Abstract

Penilitian ini dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan tentang implementasi standar proses dalam pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta yang meliputi: (1) perencanaan proses pembelajaran Bahasa Arab berupa pengembangan silabus dan rencana pembelajaran (RPP), (2) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Arab, dan (3) faktor penghambat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Arab beserta alternatif solusi. Penelitian ini bersifat deskritif kualitatif. Teknik pengambilan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasaran hasil analisis data disimpulkan sebagai berikut: 1) Silabus mata pelajaran ilmu kebahasaan yang digunakan merujuk pada silabus Pondok Modern Gontor. Sedangkan, proses pembuatan rencana pengajaran Bahasa Arab disusun secara mandiri oleh guru pengajar. Akan tetapi, pembuatan rencana pembelajaran tersebut berjalan kurang optimal. 2) Pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup standar, mulai dari jumlah peserta didik, alokasi waktu setiap pertemuan, jumlah buku teks dan pelaksanaan pembelajaran. 3) Adapun faktor penghambat dalam pengembangan silabus antara lain kurangnya koordinasi sesama pengajar mengenai batas materi. Motivasi guru dan kemampuan guru dalam membagi waktu adalah dua faktor utama sebagai penghambat dalam pembuatan rencana pembelajaran. Sedangkan, faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran antara lain jaranganya guru meninjau pembelajaran sebelumnya, metode mengajar guru masih monoton yang berdampak pada suasana belajar kurang menarik. Adapun solusi yang ditawarkan antara lain perlu adanya usaha untuk meningkatkan motivasi guru secara intensive dan perlu diadakan kegiatan supervisi kelas.Kata kunci: Standar proses; pembelajaran bahasa Arab; dan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta.AbstractThe current research intends to describe about the implementation of teaching standard process in Arabic Language subject in Ta’mirul Islam Islamic Boarding School Surakarta consisting of (1) lesson preparation in Arabic Language consisting syllabus and lesson plan, (2) the teaching implementation in Arabic Language, and (3) the inhibit factors in Arabic Language teaching preparation and implementation including their alternative solutions. The current research is a qualitative descriptive.  The data are collected through interview, observation, and documentation. Based on data analysis, the current research found that: 1) the syllabus used for language subjects are adapted from Pondok Modern Gontor. Meanwhile, lesson plans for Arabic Language subject are formulated by teachers themselves individually. It is found that the lesson plan formulations are not working optimally. 2) Teaching implementations are conducted standardized enough, such as the number of students, time allocation, textbooks, and teaching process. 3) one of the barrier factors for syllabus formulation is the lack of coordination among teachers about the scope of teaching materials. Teacher motivation and teacher time management are among two factors inhibit lesson plan formulations. Meanwhile, factors that inhibit the implementation of teaching processes such as lack of material review by teachers and monotonous teaching method affecting the attraction of teaching process. The recommended solution to overcome those barriers are making an endeavor to enhance teacher motivation and conducting class supervision. 
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER Juanti, Lisa; Santoso, Budi; Hiltrimartin, Cecil
JURNAL TATSQIF Vol 14, No 2 (2016): EFEKTIVITAS DAN MASALAH PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v14i2.1072

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa menggunakan model pembelajaran Treffinger pada pembelajaran matematika. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII.7 SMP Negeri 9 Palembang dengan jumlah siswa 30 orang. Pengambilan data proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan observasi dan pengambilan data kemampuan pemecahan masalah siswa dan dilakukan dengan menggunakan tes. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil kemampuan pemecahanan masalah setelah mengerjakan soal tes untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah siswa. Soal tes diberikan setelah proses pembelajaran dan mengacu pada indikator kemampuan pemecahan masalah. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran Treffinger kemampuan pemecahan masalah siswa dengan nilai minimal 80 pada tes dikategorikan baik dengan persentase siswa sebesar 86.67% .AbstractThe current research intends to clarify how Treffinger learning model improves student problem-solving skill on school mathematics subject. This research is a descriptive study. There are 30 students as the subjects and are taken from the eighth-grade students of SMPN 9 Palembang South Sumatra. The data are obtained from teaching and learning observation and student test. Based on the analysis, it is found that through Trefinger model the students whose scores are minimally 80 at the test is categorized as good skill in problem solving which is around 86.67% of students.   
PEMBELAJARAN AGAMA DAN LINGKUNGAN DALAM KULTUR SEKOLAH ALAM (Potensi Membumikan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini di Sekolah) Hadziq, Abdulloh
JURNAL TATSQIF Vol 14, No 1 (2016): KAJIAN PENDIDIKAN DALAM MULTIPERSPEKTIF
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v14i1.878

Abstract

This study attempts to identify how is the concept of the integration between religion and nature environment of learning process in PAUD Sekolah Alam Ungaran (SAUNG) Semarang, and its impact for realizing student behavior in protecting nature eternity. Applying field research as a qualitative study, researcher used observation, interviews, and documentation as the method of collecting data. Data analysis of the study is descriptive by using data from manager, teacher, student and parents. Meanwhile, this study also used phenomenology as the approach for finding the essence of school culture. This paper Founds that PAUD SAUNG Semarang integrated its learning process through sunnah kauniyah in nature and social life combined with Islamic precepts or the integration between dalil kauniyah and dalil naqliyah. On the other side, PAUD SAUNG Semarang used integrative method using Contextual Teaching and Learning (CTL) as the learning model. It also supported by unique classroom design, the curriculum (combination of Islam precepts and nature environment) and outdoor activity in learning process. So, it can improve student’s awareness to love their natureKeyword: Nature, Kauniyah, Naqliyah, CTL
PENGEMBANGAN MODEL PRAKTIKUM UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MAHASISWA CALON GURU DALAM PENILAIAN PEMBELAJARAN Negara, Habibi Ratu Perwira; Putrawangsa, Susilahudin
JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v15i2.1465

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan karakteristik dari model praktikum untuk mengembangkan keterampilan mahasiswa calon guru dalam melaksanakan penilaian pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang mengacu pada model Educational Design Research. Hasil penelitian ini menemukan bahwa model praktikum yang relevan untuk maksud tersebut adalah model praktikum yang mengembangkan keterampilan calon guru (selaku perancang instrumen penilaian) dalam (1) mengembangkan butir soal pilihan ganda, (2) mengembangkan butir soal uraian, dan (3) menganalisis kualitas dari butir soal tersebut baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Ketiga kegiatan praktikum tersebut dirancang dalam suatu bentuk kegiatan pengembangan, yaitu pengembangan butir soal. Dalam rancangan kegiatan pengembangan tersebut, praktikan mengalami tiga tahapan kegiatan, yaitu (1) proses perencanaan (yaitu perumusan butir soal berdasarkan analisis kompetensi dan penyusunannya dalam suatu bentuk instrumen penilaian), (2) validasi instrumen penilaian baik secara kualitatif (validasi isi dan konstruksi) maupun secara kuantitatif (analisis butir), dan (3) perbaikan instrumen penilaian berdasarkan hasil validasi. Dalam model praktikum tersebut mahasiswa dilatih untuk menguasai: (1) keterampilan menerjemahkan kompetensi belajar ke dalam indikator belajar, (2) keterampilan merumuskan indikator soal berdasarkan indikator belajar, (3) keterampilan menyusun soal berdasarkan indikator soal beserta pedoman penskoran yang sesuai, dan (4) keterampilan menyajikan soal dalam suatu bentuk instrumen penilaian yang siap untuk digunakan sebagai alat penilaian. Pemahaman siswa tentang sasaran pembelajaran (kognitif, apektif, dan psikomotorik) dan pemahaman kebahasaan adalah dua faktor yang penting yang mempengaruhi kualitas butir instrumen penilaian yang dirumuskan oleh praktikan.
PERBEDAAN TEKNIK CAROUSEL DENGAN TEKNIK EACH ONE TEACH ONE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA Nofrianto, Adri; Rafulta, Elfa
JURNAL TATSQIF Vol 15, No 1 (2017): MODEL DAN INSTRUMEN PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v15i1.1315

Abstract

AbstrakHasil belajar matematika siswa masih rendah disebabkan oleh kurangnya antusias, aktivitas dan interaksi siswa dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan teori dan penelitian tentang model pembelajaran teknik carousel dan teknik each one teach one, diketahui kedua model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena memotivasi siswa untuk mengeluarkan idenya secara mandiri sehingga siswa menjadi kreatif untuk memecahkan masalah yang diberikan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian randomized post test only comparison group design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMAN 5 Pariaman tahun 2015/2016. Pengambilan sampel dari populasi menggunakan teknik random sampling yaitu kelas X3 sebagai kelas eksperimen I dan X4 sebagai kelas ekperimen II.  Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini berupa hasil belajar pada ranah kognitif dengan materi logika matematika. Dari hasil tes belajar dilakukan uji hipotesis terhadap kedua kelas eksperimen. Uji hipotesis menggunakan uji-t yaitu uji-t anava satu arah dengan bantuan software SPSS diperoleh , karena , dimana  sehingga  ditolak dan  diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang berarti  antara hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran teknik carousel dan teknik  each one teach one pada siswa kelas X SMAN  5 Pariaman. The Students’ mathematics learning outcomes of is still under the expected score. This condition is caused by the lack of students’ enthusiasm, students’ involvement in a learning process. Research in applying Carousel Technique and Each One Teach One Technique have resulted in a positive effect on students learning outcomes. These models motivate students to express their ideas, works independently and develop their creativity in solving the given problem. This research aims to compare the effectiveness of both techniques. The randomized post-test only comparison group design is used in the research. The population is all of the students of grade 10th of SMAN 5 Pariaman in year 2015/2016. Two classes are chosen as samples. The annava t-test and SPSS software are used to test the hypothesis. Based on the data,  is obtained. Since it means that is rejected. It can be concluded there is significant differences between students’ learning outcome that is taught with applying Carousel Technique and students’ learning outcome Each One Teach One Technique.
REGENERASI KETERLIBATAN ANAK USIA SEKOLAH DALAM PENYALAHGUNAAN MIRAS DI DUSUN TIBU AMBUNG DESA LEMBAH SARI KECAMATAN BATU LAYAR Riadi, Riadi; Isnaeni, Muhammad
JURNAL TATSQIF Vol 14, No 1 (2016): KAJIAN PENDIDIKAN DALAM MULTIPERSPEKTIF
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v14i1.940

Abstract

Penelitian ini berupaya untuk mendeskripsikan masalah regenerasi keterlibatan anak-anak usia sekolah (7-21 tahun) dalam penyalahgunaan miras. Penyimpangan sosial dalam bentuk penyalahgunaan miras belakangan ini semakin marak dilakukan oleh anak-anak usia tersebut. Baik yang status sebagai siswa sekolah maupun tidak sekolah tapi dengan usia anak sekolah. Persoalan tersebut kaya akan problem akademik yang harus dicarikan formula untuk mengetahui latarbelakang dan solusinya. Selain penyakit bagi sekolah atau madrasah, penyakit pula bagi masyarakat tempat tinggal. Apabila hal tersebut tidak segera ditangani maka akan semakin akut.Lembah Sari adalah sebuah desa yang terletak di bawah kaki gunung, akan tetapi penyalahgunaan miras seperti kondisi di jantung kota. Anak-anak, remaja dan orang dewasa di desa ini rata-rata telah terkontaminasi minuman keras sehingga satu generasi dengan generasi yang lain saling mempengaruhi. Faktor-faktor yang menyebabkan re-generasi salah satunya kurangnya tingkat pendidikan, ekonomi lemah, kurangnya control orang tua, lingkungan tidak steril dan lain sebagainya.Penelitian ini dilaksanakan lima bulan, mulai dari penyusunan proposal, proses penelitian dan penyusunan laporan. Agar semuanya berjalan sesuia target maka penyusun telah menjadwalkan semua proses kegiatannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yaitu sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku yang diamati dari orang-orang atau subyek itu sendiri. Supaya memperoleh data yang akuntabel dari proses yang dilakukan, penulis menggunakan teknik observasi dan wawancara untuk mengumpulkan data. Selanjutnya data yang telah terkumpul dianalisa dengan teknik analisis induktif.
PERAN PENDIDIKAN TARIKAT QADIRIYYAH WA NAQSABANDIYAH: STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN DARUL FALAH PAGUTAN MATARAM Baharudin, Baharudin; Latifah, Nur
JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/j-tatsqif.v15i2.1455

Abstract

Eksistensi tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Indonesa telah memainkan peran penting dan strategis di tengah masyarakat. Peran  tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dalam bidang pendidikan tidak terbatas pada aspek ritual dan pembinaan karakter, akhlak mulia, kepribadian hidup bersahaja, tekun beribadah, akan tetapi juga pada aspek solidaritas sosial dan kepekaaan sosial. Penelitian ini mencoba mengungkap peran pendidikan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Pulau Lombok, yaitu setudi kasus di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan Mataram. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa peran pendidikan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dilakukan dengan pendekatan pendidikan dalam tataran mikro dan makro. Pada tataran mikro, pengembangan pendidikan dilakukan secara personal dan dalam kelompok kecil melalui sederetan ritual seperti baiah, dzikir, khataman, dan manaqib. Sementara dalam tataran makro pengembangan pendidikan dilakukan secara terorganisir dan terstruktur melalui institusi pendidikan dan organisasi tarekat.The existence of Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah in Indonesia has played a significant and strategic role in society. The role is just not limited only to ritual aspects, character building, akhlaq, etc. but also for social solidarity aspects. The current research tries to discover the educational role of Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah di Lombok Island, that is a case study in Darul Falah Islamic Boarding School, Pagutan Mataram. The findings show that educational role of Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah is conducted through the educational approach in micro and macro level. In micro level, educational development is conducted personally in small groups through various ritual activities, such as Baiah, Zikir, Khataman, and Manaqib. Meanwhile, at the macro level, educational development is conducted through the structured organizations, such as educational institutions and organization of Tarekat.Kata Kunci: Educational Role; Tarikat Qadiriyyah Wa Naqsabandiyah; Darul Falah Islamic Boarding School;

Page 1 of 2 | Total Record : 19