JURNAL TATSQIF
ISSN : 18295940     EISSN : -
Articles
19
Articles
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB STAF SEKOLAH DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING BAGI SISWA

Hadi, Syamsul ( Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Amin, Indonesia )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kajian ini adalah telaah mengenai peran dan tanggung jawab Staf Sekolah dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah. Kajian ini adalah kajian pustaka. Hasil dari kajian ini mengungkap bahwa Staf Sekolah memainkan peranan penting dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. Peran tersebut mencakup peran sebagai informator, organisator, motivator, director, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Peran tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, namun merupakan sebuah sistem yang saling melengkapi dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.

PENGEMBANGAN MODEL PRAKTIKUM UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MAHASISWA CALON GURU DALAM PENILAIAN PEMBELAJARAN

Negara, Habibi Ratu Perwira ( UIN Mataram ) , Putrawangsa, Susilahudin ( UIN Mataram )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan karakteristik dari model praktikum untuk mengembangkan keterampilan mahasiswa calon guru dalam melaksanakan penilaian pembelajaran. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang mengacu pada model Educational Design Research. Hasil penelitian ini menemukan bahwa model praktikum yang relevan untuk maksud tersebut adalah model praktikum yang mengembangkan keterampilan calon guru (selaku perancang instrumen penilaian) dalam (1) mengembangkan butir soal pilihan ganda, (2) mengembangkan butir soal uraian, dan (3) menganalisis kualitas dari butir soal tersebut baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Ketiga kegiatan praktikum tersebut dirancang dalam suatu bentuk kegiatan pengembangan, yaitu pengembangan butir soal. Dalam rancangan kegiatan pengembangan tersebut, praktikan mengalami tiga tahapan kegiatan, yaitu (1) proses perencanaan (yaitu perumusan butir soal berdasarkan analisis kompetensi dan penyusunannya dalam suatu bentuk instrumen penilaian), (2) validasi instrumen penilaian baik secara kualitatif (validasi isi dan konstruksi) maupun secara kuantitatif (analisis butir), dan (3) perbaikan instrumen penilaian berdasarkan hasil validasi. Dalam model praktikum tersebut mahasiswa dilatih untuk menguasai: (1) keterampilan menerjemahkan kompetensi belajar ke dalam indikator belajar, (2) keterampilan merumuskan indikator soal berdasarkan indikator belajar, (3) keterampilan menyusun soal berdasarkan indikator soal beserta pedoman penskoran yang sesuai, dan (4) keterampilan menyajikan soal dalam suatu bentuk instrumen penilaian yang siap untuk digunakan sebagai alat penilaian. Pemahaman siswa tentang sasaran pembelajaran (kognitif, apektif, dan psikomotorik) dan pemahaman kebahasaan adalah dua faktor yang penting yang mempengaruhi kualitas butir instrumen penilaian yang dirumuskan oleh praktikan.

KEMAMPUAN BERFIKIR FORMAL SISWA SMA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF FIELD DEPENDENT DAN FIELD INDEPENDENT

Nurhardiani, Nurhardiani ( UIN Mataram ) , Syawahid, Muhammad ( Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mendeskrifsikan gaya kognitif field independent dan field dependent siswa SMA ditinjau dari jenis kelamin siswa. Siswa diminta untuk mengerjakan tes GEFT dan soal kemampuan matematika kemudian diwawancarai. Indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir formal adalah: (1) mampu memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan dengan benar, (2) mampu memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan kurang tepat atau terdapat kesalahan, (3) tidak dapat memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan.  Dari hasil penelitian, diperoleh dari  66 siswa yang diberikan tes GEFT, terdapat 30 siswa dengan gaya kognitif field independent dan 36 siswa dengan gaya kognitif field dependent. Dari 30 siswa dengan gaya kognitif field independent diperoleh 2 siswa dengan kemampuan berpikir formal sangat baik berarti hanya 7%, 19 siswa dengan kemampuan berpikir formal baik berarti 63%, dan 9 siswa dengan kemampuan berpikir formal cukup baik berarti 30%. Sedangkan yang dari 36 siswa dengan gaya kognitif field dependent diperoleh 6 siswa dengan kemampuan berpikir formal cukup baik artinya 16% dan 30 siswa dengan kemampuan berpikir formal kurang artinya 84%. Kemampuan berpikir formal sangat baik ditunjukkan dengan kemampuan memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan yang benar pada dua soal yang diberikan. Kemampuan berpikir formal baik ditunjukkan dengan kemampuan memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan kurang tepat atau terdapat kesalahan pada salah satu soal yang diberikan. Kemampuan berpikir formal cukup baik ditunjukkan dengan kemampuan memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan kurang tepat atau terdapat kesalahan pada dua soal yang diberikan. Kemampuan berpikir formal kurang baik. ditunjukkan dengan ketidakmampuan siswa dalam memberikan alasan disetiap langkah yang diberikan.

PERAN PENDIDIKAN TARIKAT QADIRIYYAH WA NAQSABANDIYAH: STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN DARUL FALAH PAGUTAN MATARAM

Baharudin, Baharudin ( Universitas Islam Negeri Mataram ) , Latifah, Nur ( STID Mustofa Ibrahim Al Islahudiny )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Eksistensi tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Indonesa telah memainkan peran penting dan strategis di tengah masyarakat. Peran  tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dalam bidang pendidikan tidak terbatas pada aspek ritual dan pembinaan karakter, akhlak mulia, kepribadian hidup bersahaja, tekun beribadah, akan tetapi juga pada aspek solidaritas sosial dan kepekaaan sosial. Penelitian ini mencoba mengungkap peran pendidikan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Pulau Lombok, yaitu setudi kasus di Pondok Pesantren Darul Falah Pagutan Mataram. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa peran pendidikan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dilakukan dengan pendekatan pendidikan dalam tataran mikro dan makro. Pada tataran mikro, pengembangan pendidikan dilakukan secara personal dan dalam kelompok kecil melalui sederetan ritual seperti baiah, dzikir, khataman, dan manaqib. Sementara dalam tataran makro pengembangan pendidikan dilakukan secara terorganisir dan terstruktur melalui institusi pendidikan dan organisasi tarekat.The existence of Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah in Indonesia has played a significant and strategic role in society. The role is just not limited only to ritual aspects, character building, akhlaq, etc. but also for social solidarity aspects. The current research tries to discover the educational role of Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah di Lombok Island, that is a case study in Darul Falah Islamic Boarding School, Pagutan Mataram. The findings show that educational role of Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah is conducted through the educational approach in micro and macro level. In micro level, educational development is conducted personally in small groups through various ritual activities, such as Baiah, Zikir, Khataman, and Manaqib. Meanwhile, at the macro level, educational development is conducted through the structured organizations, such as educational institutions and organization of Tarekat.Kata Kunci: Educational Role; Tarikat Qadiriyyah Wa Naqsabandiyah; Darul Falah Islamic Boarding School;

ANALISIS PROSES PEMBELAJARAN BAHASA ARAB PADA TINGKAT TSANAWIYAH DI PONDOK PESANTREN TA’MIRUL ISLAM

nashirudin, muh ( IAIN Surakarta )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 2 (2017): EVALUASI DAN PENILAIAN PENDIDIKAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penilitian ini dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan tentang implementasi standar proses dalam pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta yang meliputi: (1) perencanaan proses pembelajaran Bahasa Arab berupa pengembangan silabus dan rencana pembelajaran (RPP), (2) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Arab, dan (3) faktor penghambat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Arab beserta alternatif solusi. Penelitian ini bersifat deskritif kualitatif. Teknik pengambilan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasaran hasil analisis data disimpulkan sebagai berikut: 1) Silabus mata pelajaran ilmu kebahasaan yang digunakan merujuk pada silabus Pondok Modern Gontor. Sedangkan, proses pembuatan rencana pengajaran Bahasa Arab disusun secara mandiri oleh guru pengajar. Akan tetapi, pembuatan rencana pembelajaran tersebut berjalan kurang optimal. 2) Pelaksanaan proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup standar, mulai dari jumlah peserta didik, alokasi waktu setiap pertemuan, jumlah buku teks dan pelaksanaan pembelajaran. 3) Adapun faktor penghambat dalam pengembangan silabus antara lain kurangnya koordinasi sesama pengajar mengenai batas materi. Motivasi guru dan kemampuan guru dalam membagi waktu adalah dua faktor utama sebagai penghambat dalam pembuatan rencana pembelajaran. Sedangkan, faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran antara lain jaranganya guru meninjau pembelajaran sebelumnya, metode mengajar guru masih monoton yang berdampak pada suasana belajar kurang menarik. Adapun solusi yang ditawarkan antara lain perlu adanya usaha untuk meningkatkan motivasi guru secara intensive dan perlu diadakan kegiatan supervisi kelas.Kata kunci: Standar proses; pembelajaran bahasa Arab; dan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam Surakarta.AbstractThe current research intends to describe about the implementation of teaching standard process in Arabic Language subject in Ta’mirul Islam Islamic Boarding School Surakarta consisting of (1) lesson preparation in Arabic Language consisting syllabus and lesson plan, (2) the teaching implementation in Arabic Language, and (3) the inhibit factors in Arabic Language teaching preparation and implementation including their alternative solutions. The current research is a qualitative descriptive.  The data are collected through interview, observation, and documentation. Based on data analysis, the current research found that: 1) the syllabus used for language subjects are adapted from Pondok Modern Gontor. Meanwhile, lesson plans for Arabic Language subject are formulated by teachers themselves individually. It is found that the lesson plan formulations are not working optimally. 2) Teaching implementations are conducted standardized enough, such as the number of students, time allocation, textbooks, and teaching process. 3) one of the barrier factors for syllabus formulation is the lack of coordination among teachers about the scope of teaching materials. Teacher motivation and teacher time management are among two factors inhibit lesson plan formulations. Meanwhile, factors that inhibit the implementation of teaching processes such as lack of material review by teachers and monotonous teaching method affecting the attraction of teaching process. The recommended solution to overcome those barriers are making an endeavor to enhance teacher motivation and conducting class supervision. 

IMPLEMENTASI METODE AL-HIDAYAH DALAM PEMBELAJARAN BACA TULIS AL-QUR’AN

Kurnia, Agus ( Universitas Mataram )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 1 (2017): MODEL DAN INSTRUMEN PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakBelajar khususnya mempelajari al-Qur’an, adalah kewajiban bagi setiap muslim. Kondisi anak-anak muslim pada usia dini di perkotaan khususnya di Kota Bandung usia 6 hingga 13 tahun disinyalir hampir 80% belum mampu membaca Alquran. Oleh sebab itu, SMP Al-Hadi merasa berkewajiban untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan mewajibkan seluruh siswanya untuk belajar membaca dan menulis Quran melalui Mata Pelajaran Muatan Lokal yaitu Baca Tulis Qur’an atau BTQ.  Untuk mencapai efektifitas pembelajaran, digunakanlah Metode Al-Hidayah yang disesuaikan dengan kondisi dan tujuan pembelajaran Baca Tulis Qur’an di sekolah. Penelitian yang digunakan adalah Metode Deskriptik Analitik berdasarkan hasil observasi, wawancara mendalam dan tes yang dilakukan. Hasil dari penelitian ini menunjukan Metode Al-Hidayah di SMP Al-Hadi diimplementasikan dengan menggunakan pola klasikal, individual dan cooperative learning. Hambatannya adalah kurangnya modul pembelajaran dan belum dikuasainya konsep pembelajaran metode al-hidayah tersebut. Sedangkan keunggulannya terlihat pada ringkasnya materi dan latihan yang ada sehingga memudahkan siswa mencapai kompetensi dasar dalam membaca dan menulis Al-Qur’an yang ditunjukan dari banyaknya siswa yang dapat mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan.AbstractLearning, especially studying al-Qur’an It is obligatory for every Muslims, the condition of Muslim children at early age in urban areas especially in Bandung age 6 to 13 years allegedly almost 80% have not been able to read the Koran, therefore Al-Hadi Middle School (SMP) feels obliged to overcome these problems by requiring all students to learn read and write the Koran through Local Subject that is read and write the Koran. To achieve the effectiveness of learning, Al-Hidayah Method is used which is adjusted to the conditions and objectives of learning Read and Write Koran in school. The research used is Analytic Descriptive Method based on observation result, in-depth interview and test conducted. The result of this research shows Al-Hidayah method in Al-Hadi middle school implemented by using classical pattern, individual and cooperative learning. The obstacle is the lack of learning modules and not yet mastered the concept of learning the method of al-hidayah. While the superiority seen in the shortness of existing materials and exercises that enable students to achieve basic competence in reading and write Koran is shown from the number of students who can achieve the basic competencies that have been set.

EKSPERIMENTASI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DAN JIGSAW II DITINJAU DARI KEMAMPUAN SPASIAL SISWA

Ahmad, Ahmad ( Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia ) , Usodo, Budi ( Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia ) , Riyadi, Riyadi ( Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta, Indonesia )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 1 (2017): MODEL DAN INSTRUMEN PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) diantara model pembelajaran GI, jigsaw II dan model pembelajaran langsung, manakah yang dapat menghasilkan prestasi belajar lebih baik pada materi bangun ruang, (2) manakah yang mempunyai prestasi belajar lebih baik, siswa dengan kemampuan spasial tinggi, sedang atau rendah, (3) pada masing-masing model pembelajaran GI, jigsaw II dan langsung, manakah yang mempunyai prestasi belajar lebih baik siswa dengan kemampuan spasial tinggi, sedang atau rendah, (4) pada masing-masing kemampuan spasial tinggi, sedang, dan rendah manakah yang menghasilkan prestasi belajar lebih baik model pembelajaran kooperatif tipe GI, jigsaw II atau pembelajaran langsung. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial . Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri Se-Kabupaten Karanganyar. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik stratified cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 285 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes kemampuan spasial dan tes prestasi belajar matematika. Uji coba instrumen tes meliputi validitas isi, tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas. Uji prasyarat meliputi uji normalitas populasi menggunakan metode Lilliefors dan uji homogenitas variansi populasi menggunakan metode Bartlett. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut. (1) model pembelajaran GI menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran langsung. Model pembelajaran GI menghasilkan prestasi belajar sama baiknya dengan model pembelajaran Jigsaw II. Model pembelajaran jigsaw II menghasilkan prestasi belajar lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran langsung (2) siswa dengan kemampuan spasial tinggi dan kemampuan spasial sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan siswa dengan kemampuan spasial rendah. Siswa dengan kemampuan spasial tinggi mempunyai prestasi belajar matematika yang sama baik dengan siswa kemampuan spasial sedang. (3) pada model pembelajaran kooperatif tipe GI, jigsaw II, dan pembelajaran langsung siswa dengan kemampuan spasial tinggi dan siswa dengan kemampuan spasial sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang sama baik, sedangkan siswa dengan kemampuan spasial tinggi dan siswa dengan kemampuan spasial sedang mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan siswa dengan kemampuan spasial rendah. (4) pada siswa dengan kemampuan spasial tinggi, sedang dan rendah model pembelajaran GI dan model pembelajran jigsaw II menghasilkan prestasi yang lebih baik dibandingkan model pembelajaran langsung sedangkan model pembelajran GI menghasilkan prestasi yang sama baik dibandingkan dengan model pembelajaran Jigsaw II. ABSTRACT The objectives of this research were to investigate: (1) which learning model of the Cooperative learning model of the GI type, the Jigsaw II learning model, and the direct learning model results in a better learning achievement, (2) which students among the students with the high, moderate, and low spatial abilities have a better learning achievement, (3) in each of the Cooperative learning model of the GI type, the Jigsaw II learning model, and the direct learning which students among the students with the high, moderate, and low spatial abilities have a better learning achievement, and (4) in each of the high, moderate, and low spatial abilities  which learning model of the Cooperative learning model of the GI type, the Jigsaw II learning model, and the direct learning model results in a better learning achievement. This research used the quasi experimental research method with the factorial design of . Its population was all of the students of State Junior Secondary Schools of Karanganyar regency. The samples of the research were taken by using the stratified cluster random sampling technique. The samples consisted of 285 students.  The data of the research were gathered through test of spatial ability and test of learning achievement in Mathematics. The proposed hypotheses of the research were analyzed by using the two-way analysis of variance with unbalanced cells. The results of the research are as follows. 1) The cooperative learning model of the GI type results in a better learning achievement than the direct learning model, but results in the same good learning achievement in Mathematics as the Jigsaw II learning model, and the Jigsaw II learning model results in a better learning achievement than the direct learning model. 2). The students with the high spatial ability and those with the moderate spatial ability have a better learning achievement in Mathematics than those with the low spatial ability, but the students with the high spatial ability have the same good learning achievement in Mathematics as those with the moderate spatial ability. (3) in each of the Cooperative learning model of the GI type, the Jigsaw II learning model, and the direct learning, students with the high spatial ability have the same good learning achievement in Mathematics as those with the moderate spatial ability, and both the students with the high spatial ability and those with the moderate spatial ability have a better learning achievement in Mathematics than those with the low spatial ability. 4) in each of the high, moderate, and low spatial abilities,  the Cooperative learning model of the GI type and the Jigsaw II learning model result in a better learning achievement in Mathematics than the direct learning model, but the cooperative learning model of the GI type results in the same good learning achievement as the Jigsaw II learning model.

PERBEDAAN TEKNIK CAROUSEL DENGAN TEKNIK EACH ONE TEACH ONE DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Nofrianto, Adri ( STKIP YDB Lubuk Alung, Padang Pariaman/SUMBAR, Indonesia ) , Rafulta, Elfa ( STKIP YDB Lubuk Alung )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 1 (2017): MODEL DAN INSTRUMEN PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakHasil belajar matematika siswa masih rendah disebabkan oleh kurangnya antusias, aktivitas dan interaksi siswa dalam pembelajaran matematika. Berdasarkan teori dan penelitian tentang model pembelajaran teknik carousel dan teknik each one teach one, diketahui kedua model pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena memotivasi siswa untuk mengeluarkan idenya secara mandiri sehingga siswa menjadi kreatif untuk memecahkan masalah yang diberikan. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian randomized post test only comparison group design. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMAN 5 Pariaman tahun 2015/2016. Pengambilan sampel dari populasi menggunakan teknik random sampling yaitu kelas X3 sebagai kelas eksperimen I dan X4 sebagai kelas ekperimen II.  Hasil belajar yang diteliti dalam penelitian ini berupa hasil belajar pada ranah kognitif dengan materi logika matematika. Dari hasil tes belajar dilakukan uji hipotesis terhadap kedua kelas eksperimen. Uji hipotesis menggunakan uji-t yaitu uji-t anava satu arah dengan bantuan software SPSS diperoleh , karena , dimana  sehingga  ditolak dan  diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang berarti  antara hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran teknik carousel dan teknik  each one teach one pada siswa kelas X SMAN  5 Pariaman. The Students’ mathematics learning outcomes of is still under the expected score. This condition is caused by the lack of students’ enthusiasm, students’ involvement in a learning process. Research in applying Carousel Technique and Each One Teach One Technique have resulted in a positive effect on students learning outcomes. These models motivate students to express their ideas, works independently and develop their creativity in solving the given problem. This research aims to compare the effectiveness of both techniques. The randomized post-test only comparison group design is used in the research. The population is all of the students of grade 10th of SMAN 5 Pariaman in year 2015/2016. Two classes are chosen as samples. The annava t-test and SPSS software are used to test the hypothesis. Based on the data,  is obtained. Since it means that is rejected. It can be concluded there is significant differences between students’ learning outcome that is taught with applying Carousel Technique and students’ learning outcome Each One Teach One Technique.

EVALUASI KUALITAS INSTRUMEN PENGUKURAN KINERJA TENAGA PENDIDIK

Hasanah, Uswatun ( STMIK Bumigora Mataram ) , Putrawangsa, Susilahudin ( Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram ) , Ardi, Raden Fanny Printi ( STMIK Bumi Gora Mataram )

JURNAL TATSQIF Vol 15, No 1 (2017): MODEL DAN INSTRUMEN PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kajian ini adalah analisis kualitas instrumen pengukuran kinerja tenaga pendidik yang digunakan di salah satu perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat. Kajian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas instrumen tersebut. Analisis ini dilakukan dengan metode Analisis Factor (Factor Analysis). Terdapat 3 faktor pengukuran yang terdapat dalam instrument tersebut, yaitu faktor pedagogik (5 indikator), profesionalisme (11 indikator) dan kepribadian (3 indikator). Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa: 1) Indikator dalam instrumen tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua faktor, yaitu faktor formal dan informal. Faktor formal bersifat institusional dan terstruktur, seperti indikator penyampaian pokok materi, penggunaan metode pembelajaran, pemberian contoh yang sesuai dengan materi ujian, dan penggunaan alat atau media pembelajaran. Sedangkan faktor informal bersifat noninstitusional yang cenderung lebih bersifat hubungan emosional atau tidak resmi, seperti kemampuan pendidik dalam menciptakan suasana yang nyaman dan bersahabat selama perkuliahan; 2) Pada instrumen tersebut, ditemukan sejumlah indikator yang perlu ditiadakan karena memiliki bobot indikator lebih kecil dari 0.5, seperti salah satu faktor profesionalisme, yaitu ‘Dosen menjelaskan keterkaitan bidang/topik yang diajarkan dengan bidang/topik lain di luar mata kuliah’. Indikator ini perlu ditiadakan karena memiliki makna yang sama dengan indikator profesionalisme lainnya, yaitu ‘Dosen menjelaskan penerapan bidang/topik yang diajarkan dengan kebutuhan dunia nyata’. The current research is an analysis of the quality of an instrument that is used to measure educator performance at a college in West Nusa Tenggara. The research aims to improve the quality of the instrument. Factor Analysis is used in the study. There are 3 measurement factors in the instrument, those are pedagogic factors (5 indicators), professionalism (11 indicators) and personality (3 indicators). The result shows that: 1) those indicators can be classified into two factors, formal factors, and informal factors. Formal factors are institutional and structured, such as the indicators of subject matter delivery, the use of teaching method, the use of relevance example, and the use of learning media and tools. Meanwhile, informal factors is non-institutional, which tends to be emotional relationship or informal relationship, such as educators capability in creating pleasant and friendly classroom; 2) It is found that some indicators need to be removed because they have indicator values less than 0.5, for instance, the indicator that ‘lecturers explain the relationship between the subjects being taught and other subjects outside that subjects’ is need to be removed because it has a similar meaning with another indicator that is ‘lectures explain the application of the subject in real life’.

MENAKAR PERAN PESANTREN DALAM MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN TINGGI MENGHADAPI ERA GLOBALISASI

al Idrus, S. Ali Jadid ( IAIN Mataram )

JURNAL TATSQIF Vol 14, No 2 (2016): EFEKTIVITAS DAN MASALAH PEMBELAJARAN
Publisher : UIN MATARAM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPesantren diharapkan menjadi lembaga yang mampu mengantarkan peserta didiknya sebagai subyek atau pelaku utama pada era global.  Mampu bergerak terpadu memadukan sains, teknologi, seni, nilai, dan lingkungan dalam proses pembangunan individu-individu masyarakat. Pesantren diharapakan untuk bertransformasi menjadi lembaga yang tidak hanya fokus pada pengajaran ilmu-ilmu keagamaan namun juga mengajarkan ilmu-ilmu sains, teknologi, dan informatika yang tetap mempertahankan nilai keislaman baik dalam proses maupun muatan ilmunya sehingga nantinya mampu melahirkan para kyai sekaligus saintis. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan tinggi di pesantren diharuskan untuk mengedepankan kajian keilmuan yang terintegrasi guna mewujudkan pribadi-pribadi unggul dan berdaya saing.AbstractPesantren (Islamic Boarding Schools) are expected to be institutions that could lead their students to be main actors of global era. Their students are nowadays expected to be able to integrated sciences, technology, art, life value and environment in developing society. Pesantren are also looked forward to transform themselves into institutions that not only focus on teaching religious materials but also focus on sciences, technology and informatics retaining Islamic values both in its process and its contents so that their outcomes are not only to be Islamic scholars but also scientists. Therefore, the development of higher education in Pesantren should promote integrated studies in order to build superior individuals having a strong competitiveness.