cover
Filter by Year
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles
361
Articles
The Effect of Chitosan Application against Plant Growth and Intensity of Stunting Disease on Black Pepper (Piper nigrum L.) Seedlings

Uge, Emerensiana, Sulandari, Sri, Hartono, Sedyo, Somowiyarjo, Susamto

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Black pepper (Piper nigrum L.) is  an important estate crops in Indonesia. Some pathogens that have been known to infect black pepper plants include fungi, nematodes and viruses. The stunting disease on black pepper plants was caused by Cucumber mosaic virus (CMV). Molecular detection using RT-PCR method showed that the samples were positively infected by CMV which were amplified by specific primers CMV 111 with bands of 111 bp in size. This virus can be carried by vegetative propagation material of plants. Many control strategies against this virus have been investigated, especially inducing plant resistance with chitosan. Chitosan is a natural biopolymer that play an important role in reducing disease incidence and severity and stimulate plant growth. The aim of this study was to figure out the inhibiting  ability of chitosan solution against infection of stunting virus on black pepper seedlings through spraying applications. Chitosan treatments were prepared in concentrations of 0.5%, 0.75%, and 1%. The result showed that application of chitosan at all concentrations affected the decrease of disease incidence and intensity and improved plant growth with insignificant different amongst all treatments but significantly different with control. The highest decrease in incidence was found at 0.75% of chitosan concentration (26.37), while the highest decrease of intensity was expressed at 1% of chitosan (37.62). Application of chitosan also significantly affected to all parameters of plant growth either plant height or leaf diameter. Application of 1% of chitosan increased the percentage of plant growth rather than other treatments, with the increase of plant height 58.12 % and leaf diameter 54.74 %. IntisariLada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu tanaman perkebunan penting di Indonesia. Beberapa patogen telah diketahui menginfeksi tanaman lada di antaranya jamur, nematoda, dan virus. Penyakit kerdil pada tanaman lada disebabkan oleh Cucumber mosaic virus (CMV). Deteksi molekuler menggunakan metode RT-PCR menunjukkan bahwa sampel positif terinfeksi CMV yang diamplifikasi menggunakan primer spesifik CMV 111 dengan ukuran pita band target 111 bp. Virus ini dapat terbawa bahan perbanyakan tanaman secara vegetatif. Banyak strategi pengendalian virus yang telah diuji, diantaranya induksi ketahanan tanaman dengan kitosan. Kitosan adalah biopolimer alami yang berperan dalam menurunkan insidensi dan intensitas penyakit dan menstimulasi pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan penghambatan dari larutan kitosan terhadap infeksi dari virus kerdil pada bibit lada dengan aplikasi penyemprotan. Konsentrasi kitosan yang digunakan adalah 0,5%; 0,75%; dan 1%. Hasil penelitian menunjukan bahwa apliksi kitosan pada semua konsentrasi berpengaruh dalam menurunkan insidensi dan intensitas penyakit dan meningkatkan pertumbuhan tanaman dengan tidak berbeda nyata di antara perlakuan tetapi berbeda nyata dengan kontrol. Penurunan nilai insidensi tertinggi yakni pada aplikasi kitosan 0,75% (26,37), sedangkan penurunan nilai intensitas tertinggi yakni pada aplikasi kitosan 1% (37,62). Aplikasi kitosan juga berpengaruh signifikan terhadap semua parameter pertumbuhan tanaman baik tinggi tanaman maupun diameter daun. Pada aplikasi kitosan 1% meningkatkan persentase tinggi tanaman lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya,yakni tinggi tanaman sebesar 58,12 % dan diameter daun sebesar 54,74 %.

Viabilitas dan Virulensi Fusarium oxysporum f. sp. cubense yang Dipreservasi dengan Liofilisasi

Rusli, Iqna Khayatina, Wibowo, Arif, Sumardiyono, Christanti

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) is still pose as  constraint  to banana production  all over the world. The objective of this research was to examine the viability and virulence of Foc isolates which had been preserved with lyophilization for 18 years. The experiment used 19 isolates of Foc, which were Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidogede, Sidatan, Kemiri, Juwangen, A-17, A-11, PS-5, B4-3-1, Fo2.16.16., PS-10, A-2, and Irja. The results showed that 12 isolates could grow well on PDA medium, namely Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidatan, Juwangen, PS-5, B4-3-1, and Fo2.16.16. Meanwhile, seven isolates (Sidogede, Kemiri, A-17, A-11, PS-10, A-2, and Irja) could not grow or develop on PDA medium. The result of pathogenicity test showed that six tested Foc isolates had  very high virulences, with disease severity index of about 2.14–2.71. Other three isolates revealed high virulences with disease severity index around 2.01–2.07. Meanwhile, another three less virulent isolates demonstrated disease severity index in the range of 1.39–1.67. Intisari Penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Fusarium oxysporum f. sp.cubense (Foc) masih menjadi kendala dalam produksi pisang di seluruh dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji viabilitas dan virulensi isolat Foc yang telah dipreservasi dengan liofilisasi selama 18 tahun. Penelitian menggunakan 19 isolat Foc yaitu Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidogede, Sidatan, Kemiri, Juwangen, A-17, A-11, PS-5, B4-3-1, Fo2.16.16., PS-10, A-2, dan Irja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 isolat Foc mampu tumbuh dengan baik pada medium PDA yaitu Pekulo, Sukorejo, Kali Sepanjang, Kalibaru, Purwojoyo, Prembun, Mulyosari, Sidatan, Juwangen, PS-5, B4-3-1, dan Fo2.16.16. 7 isolat tidak mampu tumbuh pada medium PDA yaitu Sidogede, Kemiri, A-17, A-11, PS-10, A-2, dan Irja. Enam isolat Foc yang diuji memiliki virulensi sangat tinggi dengan indeks keparahan penyakit berkisar antara 2,14–2,71. Tiga isolat yang lain memiliki virulensi tinggi dengan indeks keparahan penyakit berkisar antara 2,01–2,07. Sedangkan 3 isolat lainnya memiliki virulensi yang lebih rendah dengan indeks keparahan penyakit berkisar antara 1,39–1,67. 

Determination of Tolerance Threshold Level of Golden Snail (Pomacea canaliculata) in Irrigated Rice

Kalau, Fatmawati, Wagiman, Franciscus Xaverius, Witjaksono, Witjaksono

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Determination of tolerance threshold of golden snail (Pomacea canaliculata) infestation in irrigated rice had been studied at Sumbersari Village, Moyudan District, Sleman Regency, Yogyakarta Special Teritory, in the growing season of June to October 2016. The water depth during the experiment was maintained at  1 cm. The snails of 2−3 cm in length were infested on rice plots at various ages. The snails were infested on rice plots with density rates of (1) 0, 1, 2, 3, 5, 15, 30, (2) 0, 2, 3, 5, 10, 15, 30, and (3) 0, 3, 5, 10, 15, 20, 30  individuals/m2  at (1) 0 day after planting (DAP), (2) 7 and 14 DAP, and (3) 28 DAP, respectively. These treatments were replicated three times and arranged in the randomized complete block design (RCBD). In this study the tolerance threshold is defined as the highest snail density which causes no significant effect on rice damage and yield loss as compared to control or to the lowest snail density. Therefore, determination of the tolerance threshold was based on the significant difference of damage severity, panicle number per hill, and harvesting dry-weight of rice grain. Results showed that significant rice damage occurred on age of 0, 7, and 14 DAP olds, while on age of 21 and 28 DAP the rice showed no damage. More severe damage occurred to the younger rice. The tolerance threshold values of the snail on rice plots with 1 cm water depth at 0 DAP old was approximately 2 individuals/m2 while at age of 7 and 14 DAP were approximately 3 individuals/m2, respectively. IntisariPenentuan ambang toleransi serangan keong emas (Pomacea canaliculata) pada padi sawah telah dikaji di Desa Sumbersari, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam musim tanam Juni–Oktober 2016. Kedalaman air selama percobaan berlangsung dikondisikan sedalam 1 cm. Keong berukuran 2−3 cm diinfestasikan pada berbagai umur padi. Keong dengan kepadatan (1) 0, 1, 2, 3, 5, 15, 30; (2) 0, 2, 3, 5, 10, 15, 30; dan (3) 0, 3, 5, 10, 15, 20, 30 ekor/m2 diinfestasikan berturut-turut pada plot padi (1) saat tanam (0 hari setelah tanaman (HST)), (2) umur 7 dan 14 HST, dan (3) serta umur 21, dan 28 HST. Perlakuan diulang tiga kali dan diatur dalam rancangan randomized complete block design (RCBD). Dalam penelitian ini ambang toleransi didefinisikan sebagai kepadatan keong tertinggi yang menyebabkan kerusakan tanaman padi dan kehilangan hasil tidak berbeda signifikan dengan kontrol atau dengan kepadatan populasi terendah. Oleh karena itu nilai ambang toleranasi ditentukan berdasarkan signifikansi perbedaan kerusakan tanaman, jumlah bulir per rumpun, dan berat kering panen gabah. Hasil kajian menunjukkan bahwa kerusakan signifikan terjadi pada padi umur 0, 7, dan 14 hari setelah tanam (HST), sedangkan pada umur 21 dan 28 HST padi tidak menunjukkan kerusakan. Kerusakan semakin parah pada padi semakin muda. Pada kondisi kedalaman air 1 cm, nilai ambang toleransi keong mas pada padi umur 0 HST sekitar 2 ekor/m2 sedangkan pada umur 7 dan 14 HST sekitar 3 ekor/m2.

Keragaan Sumber Kitin untuk Mempertahankan Virulensi Beauveria bassiana (Bals.), Jamur Pengendali Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens Stal.)

Wisuda, Nova Laili, Sedjati, Subur

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Beauvaria bassiana is an entomopathogenic insect that effectively controls brown planthopper (BPH), but will decrease it virulences if nutrients containing chitin and protein is not added. The aim of this research is to find the best method of B. bassiana propagation with the addition of shrimp and cricket flour, both are chitin sources. Isolates were cultured with Potato Dextrose Agar (PDA) medium and continued with rice medium. This research method used non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with three treatments consisting of control, addition of shrimp flour and addition of cricket flour per treatment each with six replications. The research parameters consist of percentage of mortality, percentage of  conidia rising time, and LT50 test. The chitin sources could increases the growth rate from 0.69 cm per day to 1.449 cm per day and increases the spore density by 4.8×106 CFU (Colony Forming Unit) up to 8.2×106 CFU. Chitin also affects the virulence of B. bassiana in BPH where it can increase the percentage of death starting from 3%until10% and made lethal-time of BPH faster from 0.25 to 0.45 day. There is no significant difference between the sources of chitin between shrimp and cricket flour, so it is more advisable to use cricket flour because it is less expensive. IntisariBeauvaria bassiana merupakan serangga entomopatogen yang efektif mengendalikan wereng batang cokelat (WBC), namun akan mengalami penurunan virulensi bila tidak diberikan nutrisi yang mengandung khitin dan protein. Penelitian ini bertujuan menemukan metode terbaik perbanyakan B. bassiana yang dilakukan dengan penambahan tepung ebi dan penambahan tepung jangkrik yang merupakan sumber kitin. Isolat dibiakkan dengan medium per- banyakan Potato Dextrose Agar (PDA) dan diteruskan hingga perbanyakan beras. Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non-faktorial dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan yang terdiri atas kontrol, tanpa tambahan kitin, penambahan tepung ebi dan penambahan tepung jangkrik. Parameter penelitian terdiri persentase mortalitas, persentase waktu munculnya konidia dan uji LT50. Pemberian sumber kitin meningkatkan kecepatan pertumbuhan hingga 0,69−1,49 cm per hari dan meningkatkan kerapatan spora berkisar 4,8×106−8,2×106 CFU (colony forming unit). Kitin juga berpengaruh terhadap virulensi B. bassiana pada WBC dimana mampu meningkatkan persentase kematian 3−10% dan waktu paruh kematian WBC 0,25−0,45 hari lebih cepat. Tidak ada perbedaan yang berarti antara sumber khitin dari tepung jangkrik dan tepung ebi sehingga lebih disarankan untuk menggunakan tepung jangkrik karena lebih murah dan mudah didapat.

Perancangan Primer Spesifik Subspesies Berbasis Gen Endoglukanase untuk Deteksi Ralstonia syzygii subsp. syzygii

Trianom, Bambang, Arwiyanto, Triwidodo, Joko, Tri

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ralstonia syzygii subsp. syzygii that belong to Ralstonia solanacearum species complex is the cause of Sumateran disease of clove. The disease was reported to cause widespread devastation on clove plantings in Indonesia. One of the control strategies is to reduce the spread of the disease through early detection on clove seedlings. The study aimed to design the specific primers based on endoglucanase (egl) gene of R. syzygii subsp. syzygii as a tool for early diagnosis. The analyses were conducted on development of specific primers design using egl sequences retrieved from GenBank, Polymerase Chain Reaction (PCR), primers sensitivity and specificity test. The pair of primers UGMRss-F (5’-GCTCACCATCGC CAAGGACAGCG-3’) and UGMRss-R (5’-TTCGATCGAACGCCTGGTTGAGC-3’) could amplify R. syzygii subsp. syzygii at ~378 base pairs with 0.8 ng/µl minimum concentration of DNA. The primers was specific to R. syzygii subsp. syzygii but not to other bacterial species even in the same phylotype. IntisariRalstonia syzygii subsp. syzygii merupakan bakteri yang termasuk dalam kelompok Ralstonia solanacearum species complex yang menyebabkan penyakit Sumatera pada tanaman cengkih. Penyakit ini menyebabkan kerugian yang sangat besar dan sampai saat ini belum ditemukan cara pengendalian yang efektif. Salah satu  upaya pencegahan penyakit adalah melalui deteksi dini dan mencegah penyebaran penyakit melalui peredaran bibit dari areal yang endemis. Penelitian ini bertujuan untuk merancang primer spesifik berbasis gen endoglukanase (egl) sebagai upaya deteksi dini penyakit Sumatera. Analisis yang dilakukan  meliputi  desain primer spesifik dengan menggunakan data sekuens gen egl dari GenBank, Polymerase Chain Reaction (PCR), uji kepekaan primer dan uji kekhususan primer. Desain primer yang berhasil dirancang terdiri dari UGMRss-F (5’- GCTCACCATCGCCAAGGACAGCG-3’) dan UGMRss-R (5’-TTC GATCGAACGCCTGGTTGAGC-3’) dengan amplikon ~378 pasang basa. Pada konsentrasi DNA 0,8 ng/µl, secara peka R. syzygii subsp. syzygii masih dapat teramplifikasi dengan baik. Primer ini juga hanya dapat mendeteksi R. syzygii subsp. syzygii dan tidak untuk bakteri lain bahkan pada filotipe yang sama.

Resistance of Ahasverus advena and Cryptolestes ferrugineus to Phosphine on Imported Cocoa Beans from Cameroon, Ivory Coast, and Dominican Republic

Parasian, Franciskus, Trisyono, Y. Andi, Martono, Edhi

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ahasverus advena and Cryptolestes ferrugineus were the most frequent pests found on cocoa beans in consignment. Their high infestation could contaminate cocoa beans and put the impact on its quality and economic value. Phosphine is one of the most commonly used fumigant in fumigation treatment to control the pest. The resistance status of A. advena and C. ferrugineus carried by cocoa beans from abroad to Indonesia against phosphine has not been reported. The purpose of this research was to determine the resistance of A. advena and C. ferrugineus to phosphine in the imported cocoa beans. The insects were collected from cocoa beans in consignment from Cameroon, Ivory Coast, Dominican Republic, and storing warehouse in Bandung, Indonesia. C. ferrugineus  from Bogor (SEAMEO BIOTROP) and A. advena  from Cianjur (PT IGE), Indonesia were utilized as the reference populations. Resistance assay was conducted based on Food Agriculture Organization’s standard method. The resistance testing consisted of six phosphine concentrations: 0 (control), 0.005, 0.014, 0.023, 0.031, and 0.040 mg/l for 20 and 48 hours. The resistance classification testing was carried out with concentration 0.25 mg/l for 48 hours. A. advena originating from Cameroon, Ivory Coast, Dominican Republic and Bandung were susceptible to phosphine. C. ferrugineus coming from Cameroon, Ivory Coast (San Pedro and Abidjan) and Bandung were resistant to phosphine, while Dominican Republic’s population remained susceptible to phosphine. C. ferrugineus from Cameroon, Ivory Coast (San Pedro and Abidjan) categorized into strong resistance, while the Bandung population was weakly resistant. IntisariAhasverus advena dan Cryptolestes ferrugineus adalah hama yang sering ditemukan pada biji kakao di dalam petikemas. Infestasi hama ini dalam jumlah yang tinggi bisa mencemari biji kakao dan berdampak pada kualitas dan nilai ekonominya. Fosfin merupakan salah satu fumigan yang sering digunakan dalam perlakuan fumigasi untuk mengendalikan hama tersebut. Status resistensi A. advena dan C. ferrugineus yang terbawa biji kakao dari luar negeri ke Indonesia terhadap fosfin belum dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan resistensi A. advena dan C. ferrugineus yang terbawa biji kakao impor terhadap fosfin. Serangga uji diambil dari biji kakao di dalam kontainer yang berasal dari Kamerun, Pantai Gading, Republik Dominica, dan gudang penyimpanan di Bandung, Indonesia. C. ferrugineus yang berasal dari Bogor (SEAMEO BIOTROP) dan A. advena dari Cianjur (PT IGE), Indonesia dipergunakan sebagai populasi referensi. Pengujian resistensi berdasarkan metode standar Food Agriculture Organization. Pengujian resistensi terdiri dari 6 (enam) konsentrasi fosfin yaitu 0 (kontrol); 0,005; 0,014; 0,023; 0,031; dan 0,040 mg/l selama 20 dan 48 jam. Pengujian klasifikasi resistensi dengan konsentrasi 0,25 mg/l selama 48 jam. A. advena yang berasal dari Kamerun, Pantai Gading, Republik Dominica dan Bandung rentan terhadap fosfin. C. ferrugineus yang berasal dari Kamerun, Pantai Gading (San Pedro dan Abidjan) dan Bandung resisten terhadap fosfin, sedangkan populasi asal Republik Dominica tetap rentan terhadap fosfin. C. ferrugineus yang berasal dari Kamerun, Pantai Gading (San Pedro dan Abidjan) tergolong resisten yang kuat (strong resistant), sedangkan populasi dari Bandung resisten yang lemah (weak resistant).

First Record: A Stem and Bulb Plant Parasitic Nematode at Garlic Area Centre Temanggung, Central Java, Indonesia with Species Reference to Ditylenchus dipsaci

Indarti, Siwi, Wibowo, Arif, Subandiyah, Siti, Ajri, Miftahul

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

A survey to investigate the stem and bulb plant parasitic nematode at one of garlic area centre, in Temanggung, Central Java, Indonesia was conducted  from Januaryto February 2018. Infected plant with specific symptoms, morphological and morphometric characters both of female and male of adult nematodes were used  to describe  a A1 quarantine plant parasitic nematode Ditylenchus dipsaci. Seven from nine observed locations were postively infected with population in average 2.67 nematodes per 100 g of soil and 2.67–189.33 per bulb. This is the first report of D. dipsaci from Indonesia and  consequently further investigations were needed to know their distribution and also to confirm the origin of the nematode. IntisariSurvei keberadaan nematoda parasit batang dan umbi dilakukan pada bulan Januari–Februari 2018 pada satu sentra penangkaran bawang putih di Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia. Tanaman terinfeksi dengan gejala serangan yang spesifik, karakter morfologi dan morfometri nematoda betina dan jantan dewasa dipergunakan dalam identifikasi Ditylenchus dipsaci yang merupakan nematoda parasit tanaman yang termasuk OPTK A1 (Organisme Pengganggu Tanaman Karantina A1) di Indonesia. Sebanyak tujuh dari sembilan lokasi yang diamati mengindikasikan positif sebagai daerah sebaran nematoda tersebut dengan populasi rata-rata 2,67 ekor per 100 gram tanah dan 2,67–189,33 nematoda per umbi. Laporan pertama tentang nematoda D. dipsaci ini membawa konsekuensi perlunya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui daerah sebaran dan juga konfirmasi dari mana nematoda tersebut berasal.

Potensi Parasitoid Telur dalam Mengendalikan Wereng Batang Cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) Pasca Ledakan Populasi di Kabupaten Banyumas

Minarni, Endang Warih, Suyanto, Agus, Kartini, Kartini

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This study aims to determine the type and potency of egg parasitoid in controlling brown planthopper (Nilaparvata lugens Stal.) pests in Banyumas regency after the pest’s explosion. This research has been conducted in five districts of the endemic area of brown planthopper in Banyumas Regency, i.e. in  Jatilawang, Cilongok, Kebasen, Sumpiuh, and Kembaran. Each of the  districts was taken 5 sample villages. The testing and calculation of the level of parasitization  were done in the laboratory of Plant Protection, Faculty of Agriculture, University of Jenderal Soedirman, Purwokerto. The research  used nest plot design, where  the first factor was the district and the second factor was the village. Village nested in  district. The data were  analyzed using F 5% test,  followed by 5% DMRT, if there were  any differences found . The results of the study were as follows: (1) The parasitoids found in Banyumas Regency were Gonatocerus sp. and Oligosita sp. with the ability to parasite 26.8−64.73%, and 1.82−31.40%; (2) the presence parasitoid has the potency  to suppress the intensity of brown planthopper attack on the vegetative phase, the intensity of attacks ranged between 6.96−23.58%, with brown planthopper population ranged from 0.84 to 27.36 individuals per hill. IntisariPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan potensi parasitoid telur dalam mengendalikan hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal.) di Kabupaten Banyumas pasca terjadinya ledakan. Penelitian ini dilaksanakan di lima kecamatan daerah endemik wereng batang cokelat di wilayah Kabupaten Banyumas yaitu Kecamatan Jatilawang, Cilongok, Kebasen, Sumpiuh, Kembaran. Masing-masing kecamatan diambil 5 desa sampel. Pengujian dan penghitungan tingkat pemarasitan dilakukan di laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Penelitian menggunakan rancangan petak tersarang,  dengan kecamatan sebagai faktor pertama  dan desa sebagai faktor kedua. Desa tersarang pada kecamatan. Data dianalisis menggunakan uji F 5%, apabila ada perbedaan dilanjutkan dengan uji banding ganda DMRT 5 %. Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Parasitoid yang ditemukan di Kabupaten Banyumas adalah Gonatocerus sp. dan Oligosita sp. dengan kemampuan memarasit 26,8−64,73%, dan sebesar 1,82−31,40 %, (2) keberadaan parasitoid berpotensi menekan intensitas serangan hama wereng batang cokelat pada fase vegetatif, intensitas serangan berkisar antara 6,96−23,58%, dengan populasi wereng batang cokelat berkisar 0,84−27,36 individu per rumpun.

Comparison of Feeding Ability between Ischiodon scutellaris (Diptera: Syrphidae) and Menochilus sexmaculatus (Coleoptera: Coccinellidae) on Aphis craccivora (Hemiptera: Aphididae)

Rizal, Adhyatma Noor, Putra, Nugroho Susetya, Suputa, Suputa

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Study on the feeding ability of two predators of Aphis craccivora (Koch), i.e. larvae of syrphid fly, Ischiodon scutellaris and coccinellid beetle, Menochilus sexmaculatus has been done in the laboratory. The study was conducted to determine the impacts of prey densities on larval development time, and the survival rate of larval stage. The results showed that M. sexmaculatus larvae required more prey than I. scutellaris in the 1st instar, but I. scutellaris ate more prey than M. sexmaculatus in the 3rd  instar. Furthermore, addition of prey number shortened significanly the development time of the larvae stage, almost all of 1st and 3rd instars M. sexmaculatus and I. scutellaris were able to develop into pupae, whereas, only 45% out of total 1st instar provided with 20 prey individuals succeed to pupate. The impact of the number of prey on the biology of aphidophaga in relation to their role as controlling aphid in nature is discussed in this paper. IntisariKajian tentang kemampuan makan dua predator Aphis craccivora (Koch), yaitu larva lalat syrphid, Ischiodon scutellaris dan kumbang koksi, Menochilus sexmaculatus telah dilakukan di laboratorium. Kajian juga dilakukan untuk memahami dampak jumlah mangsa pada lama perkembangan larva menjadi pupa dan keloloshidupan larva menjadi pupa. Hasil kajian menunjukkan bahwa larva M. sexmaculatus membutuhkan lebih banyak mangsa daripada I. scutellaris pada instar 1, namun I. scutellaris makan lebih banyak mangsa daripada M. sexmaculatus pada instar 3. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan mangsa mempercepat waktu perkembangan larva secara signifikan. Semua larva instar 1 dan 3 M. sexmaculatus dan I. scutellaris mampu lolos menjadi pupa, kecuali larva instar 1 M. sexmaculatus yang hanya mampu lolos menjadi pupa sebanyak 45% jika diberi mangsa 20 ekor. Dampak jumlah mangsa pada biologi afidofaga dalam kaitannya dengan peran mereka sebagai pengendali populasi kutu afid di alam dibahas dalam tulisan ini.

Pengaruh Penambahan Beberapa Esens Buah pada Perangkap Metil Eugenol terhadap Ketertarikan Lalat Buah Bactrocera dorsalis Kompleks pada Pertanaman Mangga di Desa Pasirmuncang, Majalengka

Susanto, Agus, Natawigena, Wahyu Daradjat, Puspasari, Lindung Tri, Atami, Neng Inne Nur

Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 22, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Fruit fly (Bactrocera dorsalis Complex) is one of the major pests in horticultural commodities in Indonesia. In this present study, a control method of formulating methyl eugenol and the addition of fruit essences was tested to attract B. dorsalis Complex. The objective was to find out the effect of fruit essences addition in the performance of methyl eugenol in attracting fruit flies and to obtain the most effective fruit essences for attracting male and female fruit flies. The experiment was conducted on mango plantation in Pasirmuncang village, Majalengka, West Java from March 2016 until December 2016. Several synthetic fruit essences which were separately added to methyl eugenol in this experiment were mango, citrus, guava, and starfruit essences. The results showed that the addition of fruit essences on methyl eugenol traps had the same effectiveness  or as good as  any single methyl eugenol trap. Moreover, the additions of mango and orange essences  were not effective enough in attracting female fruit flies, although the number of female fruit flies that were caught were more than the other treatments. IntisariLalat buah Bactrocera dorsalis Kompleks merupakan salah satu hama utama pada komoditas hortikultura. Pada penelitian ini, metode pengendalian dengan memformulasikan metil eugenol dan tambahan esens buah diuji untuk menarik B. dorsalis Kompleks. Tujuannya adalah untuk mengetahui efek penambahan esens buah pada kinerja perangkap metil eugenol dalam menarik lalat buah serta untuk mendapatkan esens buah yang efektif untuk menarik lalat buah betina. Penelitian ini dilakukan di perkebunan mangga di desa Pasirmuncang, Majalengka, Jawa Barat dari bulan Maret 2016 hingga bulan Desember 2016. Beberapa jenis esens buah sintetik yang secara terpisah ditambahkan pada metil eugenol pada percobaan ini adalah mangga, jeruk, jambu biji, dan belimbing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan esens buah pada perangkap metil eugenol memiliki keefektifan yang sama baiknya dengan perangkap metil eugenol secara tunggal. Selain itu, penambahan esens mangga dan esens jeruk belum cukup efektif dalam menarik lalat buah betina meskipun jumlah lalat buah betina yang tertangkap lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan lainnya.