VIDYA SAMHITA
Articles
10
Articles
Penafsiran Ulang Kedudukan Perempuan Hindu Dalam Kitab Sarasamuccaya (Suatu Pendekatan Fenomenologis Tentang Gender Terhadap Problem Disekuilibrium)

Suhardi, untung

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.471 KB)

Abstract

Dasar penelitian ini menggunakan metoda kualitatif dengan pendekatan fenomonalogis melalui teori hermeneutika Gadamer dan teori rasayang didalamnya menggunakan pengumpulan data wawancara tidak berstruktur. Permasalahannya adalah banyak orang yang beranggapan bahwa sarasamuccaya adalah kitab bias gender yang banyak menimbulkan pro dan kontra dalam kehidupan.  Pada hasil penelitian ini bahwa  karya sastra besar ini yang ditulis oleh Bhagavan Vararuci yang menceritakan wejangan dari Bhagavan Vaisampayana kepada raja Janamejaya bukanlah untuk merendahkan perempuan tetapi, keberadaan makna wejangan itu adalah agar laki-laki tidak memperlakukan wanita secara sembarangan dan memberikan perhatian bahwa ketika berada didekat perempuan faktor pengendalian pikiran itu sangatlah penting, janganlah sampai terjerumus dalam hubungan yang terlarang, apalagi dengan perempuan yang bukan pasangannya. Hal inilah yang harusnya dihindari oleh laki-laki baik itu pendeta yang selalu berkiprah dalam dunia spiritual yang selalu dijadikan panutan bagi umatnya dan laki-laki pada umumnya agar tetap berada dijalan dharma. Adapun nilai-nilai pendidikan  etika yang berkaitan dengan sloka 424-442 adalah adanya pengendalian diri laki-laki terhadap nafsu birahi, dan pengendalian diri inilah yang memegang peranan penting adalah pikiran sebagai rajanya indriya (Rajendriya). Adapun didalamnya terdapat nilai tat twam asi, viveka, vairagya, dama dan ahimsa yang semuanya ini inti ajarannya adalah pengendalian diri dari masing-masing individu, terutama untuk kaum laki-laki. Kata Kunci : Perempuan, gender, Etika, pendidikan dan Pengendalian diri

CILI DALAM UPACARA DEWA YADNYA DI DESA PEJATEN, KEDIRI, TABANAN (Kajian Teologi Perempuan)

Tary Puspa, Ida Ayu

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.904 KB)

Abstract

Cili adalah pantun nini sebagai perwujudan dari Dewa Wisnu, Dewi Sri. Penyembahan dewi kesuburan diwujudkan oleh petani di Desa Pejaten Kediri, Kabupaten Tabanan. Untuk petani / agraris maka mereka berada di pertanian setiap hari.Dengan latar belakang tersebut, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) bagaimana membentuk Cili jender adalah upacara Dewa Yadnya di Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan? , 2) Apa fungsi dari Cili dalam upacara dewa yadnya di desa Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan ?, dan 3) Apa arti dari teologi perempuan di Cili dalam upacara dewa yadnya di desa  Pejaten , kecamatan Kediri Kabupaten , Tabanan? Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memperkaya dan melestarikan tradisi dalam upacara dan menghormati perempuan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputi 1) teori agama, 2) teori fungsionalisme struktural, teori simbol, dan 4) teori gender.Dalam penelitian ini hasil dapat disajikan; berikut: 1) Cili dalam gender upacara Dewa yadnya adalah upacara di pertanian mulai dari penanaman benih , mengambil padi, diupacarai di jineng, dan upacara negtegang padi dalam upacara Ngenteg Linggih, 2) Fungsi Cili dalam upacara Dewa Yadnya antara agama lainnya fungsi, etika, dan pelestarian sosial budaya, 3) arti teologi, kesetaraan gender, estetika, dan simbolis.Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Cili adalah perwujudan dari Dewi Sri Vishnu disembah dalam upacara Yadnya dewa suci yang memberi arti bahwa umat Hindu juga menyembah feminisme dewi. Kata kunci: Cili, Upacara Dewa Yadnya, Teologi Feminim

Wacana Kuasa dan Hegemoni: Kiai pada Sekolah Menegah Atas Negeri Kolaborasi dengan Pondok Pesantren

Mursidi, Agus

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.526 KB)

Abstract

Pelaksanaan otonomi daerah memberikan sebuah peluang pengembangan pendidikan di daerah berupa pendirian sekolah-sekolah baru baik itu milik pemerintah maupun swasta. Pengembangan pendidikan yang terjadi salah satunya adalah sekolah menengah atas negeri kolaborasi dengan pondok pesantren. Hal  ini dikarenakan pesatnya kemajuan teknologi, globalisasi dan modernisasi yang melunturkan akhlak siswa. Sekolah menengah atas negeri kolaborasi dalam operasionalnya berjalan dengan baik, namun terdapat penyelewangan yang disebabkan relasi kuasa dan hegemoni kiai. Kurikulum sekolah terhegemoni oleh kiai dengan alasan kepentingan pembangunan karakter siswa. Di samping itu, hegemoni kiai berlanjut pada penerimaan siswa dan relasi kuasa berjalan pada penerimaan pegawai tidak tetap di sekolah tersebut. keberlanjutan kondisi ini akan mematikan tanggung jawab sekolah terhadap siswa. Kata kunci: kiai, hegemoni, SMA

KONOTASI NAMA-NAMA DIRI: SEBUAH STUDI TENTANG SIKAP BAHASA DOSEN DILIHAT DARI PERSEPSI MEREKA TENTANG TINGKAT KECERDASAN MAHASISWA BERDASARKAN NAMA-NAMA MEREKA

Indrawan, Iwan

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.592 KB)

Abstract

Nama-nama diri tidak hanya dibuat untuk mendenotasikan diri pemilik nama, melainkan juga untuk mengkonotasikan hal-hal tertentu. Penelitian ini mengkaji konotasi nama-nama diri orang Hindu-Bali dengan sampel nama-nama mahasiswa di IHDN Denpasar yangberpola leksikon tertentu dan mengaitkannya dengan persepsi para dosen tentang tingkat kecerdasan si pemilik nama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, selain mengkonotasikan tingkat kecintaan dan wawasan ke-Hindu-an (keluarga) pemilik nama,nama-nama yang mengambil unsur-unsur bahasa Sanskerta dan/atau bahasa Bali  mempengaruhi persepsi dosen tentang tingkat kecerdasan si pemilik nama. Dari sudut pandang sosiolinguistik, konotasi tersebut menunjukkan variasi sikap bahasa dosen terhadap bahasa Bali, Sanskerta, dan bahasa asing lainnya. kata kunci: nama diri, konotasi, sikap bahasa, kecerdasan mahasiswa

MODIFIKASI PAYAS AGUNG BADUNG WANITA MENGURANGI KELUHAN MUSKULOSKELETAL, KELELAHAN DAN BEBAN KERJA SERTA MENINGKATKAN KENYAMANAN BERBUSANA

Putri Purnamawari, Made Sri

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.499 KB)

Abstract

Payas Agung Badung (PAB) adalah salah satu jenis busana tradisional Bali. Ada dua jenis PAB, yaitu untuk laki-laki dan untuk wanita. Komposisinya terdiri dari hiasan kepala dan busana di badan. Sekarang ini PAB semakin popular, dan banyak dipakai pada saat upacara agama seperti mapandes (upacara potong gigi), ngeraja sewala (upacara akil-balig), pawiwahan (upacara perkawinan), dan mamukur (salah satu rentetan upacara pitra yadnya), tanpa memandang kasta. Pakaian cukup disewa tanpa membelinya. Masalahnya ialah bahwa pada wanita; pemakaian PAB lebih rumit, memerlukan waktu rias yang lama. Selama memakai PAB tersebut si pemakai merasakan ketidak-nyamanan akibat pemakaiannya terlalu ketat melilit di badan. Juga selama memakai PAB si pemakai tidak mungkin untuk buang air kecil atau buang air besar, sebab kalau hal itu terjadi maka akan membongkar kembali PAB yang sudah dipakainya. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa dengan modifikasi PAB wanita dapat: (1) mengurangi beban kerja; (2) mengurangi keluhan muskuloskeletal pemakai; dan (3) mengurangi kelelahan  pemakai; dan (4) meningkatkan kenyamanan berbusana. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan hal-hal sebagai berikut: (1) Hasil dan manfaat dari penelitian ini bisa dipakai pemakai payas agung daerah lainnya. (2) Hasil dari penelitian ini bisa dipakai acuan bagi penelitian yang sejenis. Kata Kunci : payas agung badung, modifikasi, keluhan otot, kelelahan, kenyamanan  berbusana

SENI TRADISI JOGED BUMBUNG DIANTARA TONTONAN ESTETIK DAN ETIK

Winyana, I Nyoman

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.323 KB)

Abstract

Seni joged bumbung adalah salah satu seni pertunjukan yang tumbuh di tengah tengah masyarakat agraris. Menjelma menjadi seni popular di kalangan masyarakat tertentu karena keberanian sekaa joged Bumbung yang tumbuh di Desa Sinabun, Sawan, Buleleng, membawa pada konsep bentuk estetika yang dipengaruhi oleh budaya banalistik. Kenorakan dalam melawan kemapanan nilai etika yang ada di tengah-tengah masyarakat membuat isu seni joged bumbung dianggap menodai etika seni.Tulisan ini berangkat dari hasil penelitian kualitatif yang dilakukan dengan mengandalkan data lapangan. Metode yang diterapkan bersumber pada data primer dan sekunder di mana data yang terkumpul dilakukan melalui wewancara langsung dengan kreator atau pelaku seni.Hasilnya menunjukan bahwa sekaa seni joged bumbung itu dapat terwujud karena di dalam pengkemasannya memegang prinsip pasar yang mengarah pada budaya kapital. Hal itu mempengaruhi tindakan para pelaku untuk berada di luar jalur estetika yang berkembang sebelumnya. Pada kelompok masyarakat tertentu seni joged bumbung Sinabun (ngebor) menjadi popular namun di sisi lain memunculkan tindakan skiptis karena dianggap dapat mencemari budaya seni Joged bumbung. Kata Kunci ; Seni joged Bumbung Sinabun, Etika dan Estetika

PELINGGIH PADMATIGA PENATARAN AGUNG BESAKIH (Analisis Bentuk, Fungsi, Dan Makna)

Sutriyanti, Ni Komang

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (773.677 KB)

Abstract

Pura Besakih merupakan pura terbesar di Bali, adapun bangunan suci yang paling utama di Pura Besakih adalah Pelinggih Padmatiga yang berada di areal Penataran Agung Pura Besakih. Bentuk Pelinggih Padmatiga yang berada pada Penataran Agung Pura Besakih terdiri dari empat bagian yaitu : bagian dasar (altar), bagian kaki yang disebut tepas, badan atau batur dan kepala yang disebut sari. Pada  bagian-bagiannya terdapat ornament seperti : karang asti, naga anantaboga, naga basuki, Naga tatsaka, karang boma, karang paksi, candrasangkala, karang goak, simbar, karang asti/gajah, dan burung garuda, bedawang nala, serta pepalihan. Fungsi Pelinggih Padmatiga yang berada pada Penataran Agung Pura Besakih mempunyai fungsi yaitu : fungsi pemujaan,  fungsi estetika, fungsi sebagai sumber kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu, dan fungsi pemersatu umat. Makna Pelinggih Padmatiga yang berada pada Penataran Agung Pura Besakih mempunyai makna filosofis.Kata Kunci : Pelinggih Padmatiga, Bentuk, Fungsi, dan Makna.

IMPLEMENTASI AJARAN BAKTI DALAM MEMBENTUK ETIKA MASYARAKAT DESA SONGAN A DAN B KINTAMANI, BANGLI

Rai Parsua, Gede

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.548 KB)

Abstract

Masyarakat  songan  percaya  dengan  adanya pupun, yang oleh desa songan dipercaya sebagai parhyangan ratu sakti madue. Hal ini dapat dilihat dari masyarakat  yang  akan mengaturkan banten / upacara  di  pupun  yang  memuput  adalah  jro  dasaran  (sejenis jro mangku).Jro dasaran itu adalahjro dasaran ratu sakti madue, kedudukan ajaran bakti sangat berperan dalam membentuk etika masyarakat songan. Pada umumnya ajaran bakti otomatis sudah ada dalam kepercayaan masyarakat karena kepercayaan di desa songan di ibarat kan seperti layaknya manusia yaitu bersaudara (kakak-adik), bersepupu, anak, orang tua, sehinggaantara yang satu dengan yang lainnya saling  menghormatiNilai Pendidikan Bakti terlihat adanya pemujaan kepada Bhatara Satimaan atau Ratu Satimaan ada yang bersaudara bersuami istri maka keakraban tersebut ditiru oleh masyarakat Songan. Pendidikan filsafat dalam penelitian ini terlihat dalam Bhatara/Ratu Satiamaan diantaranya ; Sa itu satu sebutan Ratu Sakti Nunggal, Ti itu tiga sebutan Ratu Sakti Tiga, Maan itu Manca yaitu lima. Pendidikan kebersamaan dapat dilihat  dalam setiap odalan/upacara di masing-masing pura dimana antara ratu/bhatara yang satu dengan yang lainnya ketika ngiring (berjalan) berurutan yang lebih tua duluan begitu juga masyarakat Songan ada istilah Kubayan, Jro Gede, Bau, Panyarikan saling menghormati dalam berbagai kegiatan. Nilai Etika dari  Kepercayaan  Songan dapat dilihat masing-masing pratima Bhatara Satimaan dan Bhatara Manca ditempatkan dengan berurutan sesuai dengan yang lebih tua yang mana urutannya yang lebih tua sampai yang paling muda. Kata Kunci  : Implementasi, Ajaran Bakti, Membentuk Etika

KONSEP KOSMOLOGI DALAM PERSPEKTIF AGAMA BUDDHA

Widya Sena, I Gusti Made

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.626 KB)

Abstract

Ajaran kosmologi atau penciptaan dan pemeliharaan alam semesta merupakan salah satu ajaran yang penting dalam dharma atau kebenaran. Ajaran ini dapat membuka mata manusia dalam mencoba untuk meneliti, memahami dan pada akhirnya dapat menarik benang merah dari ajaran Buddha kepada umatnya melalui berbagai diskusi dan dialog-dialog yang tertuang di dalam dharma.Pengetahuan secara tepat dan mengimplementasikan secara benar akan konsep ini, khususnya mengenai Konsep Kosmologi dalam perspektif Agama Buddha sangat penting dikedepankan menuju pada pemahaman yang tepat dalam kehidupan sehari-hari serta bagi umat non Buddha dapat mengenal ajaran Buddha di dalam meningkatkan nilai-nilai toleransi keberagamaan.Siddharta Gautama dilahirkan sekitar tahun 60 S.M di taman Lumbhini di kerajaan Kapilawastu, India Utara, sekitar 100 mil dari Benares. Ayahnya Suddhodhana, adalah seorang Raja yang memerintah suku Sakya, dan ibunya adalah Ratu Maya.Menurut Perspektif Agama Buddha, kosmos Buddha terbagi dalam tiga alam besar, yakni alam indria, alam bermateri halus dan alam tanpa materi. Masing-masingnya terdiri dari sejumlah alam-alam kecil, yang totalnya berjumlah 31 alam kehidupan. Makhluk-makhluk yang berdiam di 31 alam kehidupan ini masih mengalami kelahiran, penderitaan dan kematian. Begitu juga halnya dengan 31 alam kehidupan ini, semuanya tidak kekal. Kata Kunci: Kosmologi, Perspektif, Buddha

NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM KAKAWIN SIWARATRI KALPA PERSPEKTIF ACARA, SUSILA DAN TATTWA

Sri Prabawati Kusuma Dewi, Ni Wayan

VIDYA SAMHITA Vol 1, No 1 (2015): RELASI KUASA GENDER DAN IDENTITAS BERAGAMA
Publisher : VIDYA SAMHITA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1734.66 KB)

Abstract

Kakawin Siwaratri Kalpa merupakan salah satu teks yang digunakan sebagai rujukan untuk melakukan pemujaan kepada dewa Siwa pada hari panglong 14, Tilem Kapitu. Pada saat itu, yakni pada malam Siwa (Siwa Ratri) umat Hindu melaksanakan puasa semalam suntuk tidak tidur serta berbhakti dengan sarana daun Bilwa. Nilai-nilai pendidikan yang tertuang di dalam teks tersebut dapat dilihat dari perspektif acara (upacara), susila, dan tattwa.Dalam perspektif acara dapat dilihat bahwa teks tersebut menggambarkan bahwa perayaan Siwaratri didahului oleh mitologi, yakni tentang cerita Lubdaka. Malam Siwaratri dirayakan di berbagai tempat di dunia sesuai dengan budaya setempat. Nilai pendidikan dari perspektif Susila menguraikan tentang dialektika etika deontologi dan konsekuensialis. Dewa Yama adalah sumber dari logika berpikir konsekuensialis di dalam upaya menyelesaikan masalah moral. Sedangkan Siwa menjadi inspirasi untuk berpikir secara deontologi. Sementara perspektif tattwa memandang bahwa kesadaran akan kesia-siaan kehidupan duniawi ini memunculkan kesadaran baru, yakni spiritual yang mengantar seseorang menuju Samadhi.Kata Kunci: Upacara, Etika, Tattwa, Deontologi, Konsekuensialis