cover
Contact Name
Ermi Suhasti Syafei
Contact Email
alahwal.uinyogya@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
alahwal.uinyogya@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam
ISSN : 2085627X     EISSN : 25286617     DOI : -
The subject of Al-Ahwal covers textual and fieldwork with various perspectives of Islamic Family Law, Islam and gender discourse, and legal drafting of Islamic civil law.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 1 (2009)" : 6 Documents clear
NIKAH BEDA AGAMA: Perspektif Aktifis Jaringan Islam Liberal (JIL) Harsono, Muhamad
Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini, di Indonesia penikahan beda agama merupakan fenomena di kalangan selebritis,  masyarakat awam, bahkan aktivis dialog antar agama dan kaum agamawan terdidik. Akhir-akhir ini, Paramadina, sebuah lembaga kajian dan kursus intensif agama Islam yang didirikan oleh Nurcholis Madjid menjadi tuan rumah dan mengakui pernikahan pasangan beda agama antara Rudi Pratono (Islam) dan Ana Maria Saraswati (Katholik). Pada bulan Juni 2004, seorang aktifis yang bernama Ahmad Nurcholis (aktifis ICRP yang beragama Islam) menikahi Ang Mei Yong seorang Konghucu. Tulisan ini coba mengetengahkan perspektif Aktifis JIL (Jaringan Islam Liberal) tentang pernikahan beda agama tersebut.
MEMPERSIAPKAN KELUARGA SAKINAH Supriatna, Supriatna
Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkawinan merupakan suatu anugerah Allah agar makhluk hidup bisa mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Perkawinan yang ditetapkan Allah adalah lembaga luhur untuk mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan martabat manusia. Bentuk perkawinan yang disyari'atkan oleh agama Islam telah memberikan jalan yang aman pada naluri seks, memelihara keturunan dengan baik dan menjaga kaum perempuan agar tidak laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak dengan seenaknya. Menurut syari'at Islam, tujuan seseorang melakukan perkawinan di antaranya adalah untuk mewujudkan kehidupan yang sakînah dengan  dilandasi mawaddah wa rahmah, yaitu kehidupan yang tentram yang dilandasi cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) di antara suami isteri dan seluruh anggota keluarga.
STATUS ANAK YANG DILAHIRKAN DARI SPERMA MAYAT SUAMI Jafar, Muhamad
Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hukum inseminasi buatan dari sperma suami yang sudah meninggal adalah haram. Alasannya, status antara suami dengan isteri dari pelaksanaan inseminasi buatan dari sperma suami yang sudah meninggal, sudah berubah. Suami dan isteri sudah dianggap sebagai orang lain karena ikatan perkawinan mereka sudah putus meskipun masih dalam masa iddah.
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DI PESANTREN Syatibi, Ibi
Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diskursus tentang kepemimpinan perempuan di pesantren dapat dipandang sebagai fenomena baru. Di satu sisi merupakan salah satu embrio tampilnya ulama perempuan, di sisi lain memperlihatkan adanya berbagai faktor yang mempengaruhi dinamika kepemimpinan pesantren. Secara eksternal, kepemimpinan ulama perempuan muncul karena desakan modernisasi yang menimbulkan kesadaran di kalangan pesantren antara lain mengenai demokrasi, hak-hak asasi manusia dan emansipasi wanita atau feminisme. Pesantren dengan sendirinya didorong untuk merespons wacana perempuan dan sekaligus mempertimbangkan kembali pandangan-pandangan tradisionalnya yang cenderung berlawanan dengan gerakan perempuan. 
EKSPLOITASI PEREMPUAN Kasus Penerbitan Majalah Play Boy di Indonesia Zulfa, Kholid
Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerbitan majalah Play Boy yang mengacuhkan budaya, adat dan protes/kegelisahan banyak orang adalah sikap keras yang telah memancing berbagai bentuk tindakan kekerasan. Argumen penerbitan majalah Play Boy di Indonesia yang bersandar pada demokrasi atau HAM, dan bahwa hukum belum mengaturnya adalah kurang berdasar sama sekali, sebab demokrasi memperhatikan suara minoritas akan tetapi cenderung mengutamakan suara mayoritas, sedangkan pelaksanaan HAM juga memiliki konteks dan struktur sosial sendiri serta memperhatikan hukum yang berlaku. Sementara, penerbitan majalah Play Boy cenderung mementingkan kepentingan dan keuntungan bisnis pribadi, tidak mengindahkan dampak sosialnya bagi generasi muda dan martabat kaum perempuan (baca: Indonesia). Di sinilah letak eksploitasi tubuh perempuan dalam kasus penerbitan majalah Play Boy di Indonesia yang kemudian melahirkan adanya spiral kekerasan di tengah masyarakat. 
SUNAT PEREMPUAN DI INDONESIA Sebuah Aplikasi Konsep Hermeneutika Fazlur Rahman Rakhman, Arif Kurnia
Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam daya kekuatan refleksi diri, pengetahuan dan kepentingan adalah satu (Jurgen Habermas); Ajaran dasar al-Qur’an menekankan pada keadilan sosial – ekonomi dan kesetaraan di antara manusia, sangat jelas terlihat dari pesan awal al-Qur’an (Fazlur Rahman). Pelaksanaan sunat perempuan, memunculkan pro dan kontra. Pengertian dari sunat perempuan di sini adalah tindakan menghilangkan sebagian atau keseluruhan bagian klitoris perempuan atau melakukan tindakan tertentu terhadap klitoris perempuan dengan tujuan untuk mengurangi, bahkan menghilangkan sensitivitas alat kelamin tersebut. Ada yang menganggapnya mubah, sunah bahkan wajib. Al-Qur’an tidak secara eksplisit menjelaskan hal itu, sedangkan nash hadits ada yang secara eksplisit menjelaskan fenomena tersebut. Persoalannya, apakah ideal moral yang muncul dari nash itu sesuai dengan legal spesifiknya? Dikontekskan di Indonesia yang mengalami penyederhanaan konsep sunat perempuan, apakah memiliki relevansi hukum?

Page 1 of 1 | Total Record : 6