cover
Filter by Year
Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal
ISSN : 20863764     EISSN : 26154951
LOCAL WISDOM is a scientific journal in the field of Architecture and the City as a "bridge" between the disciplines of architecture and urban planning and design studies.This scientific journal focusing on research relating to the study of local wisdom. Local knowledge is a potential local characteristic based on a local culture that has been a tradition in public life. A form of local wisdom studies varied widely, ranging from a cultural value system, social system to the physical manifestation of culture in the form of local knowledge, local technologies, as well as the physical form of the built environment. Studies of local wisdom is an effort in order to realize the harmony of the city environment, and sustainable through the use and development of local knowledge, contextual and a participatory approach.
Articles
46
Articles
Pengembangan Agrowisata Apel Berbasis Kearifan Lokal Di Poncokusumo

Santoso, Dian Kartika ( Universitas Brawijaya ) , Wikantiyoso, Respati ( Universitas Merdeka Malang )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 10, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.947 KB)

Abstract

Budaya merupakan akar dari sebuah bangsa. Wujud budaya dapat berupa aktivitas danmata pencaharian sehari-hari. Bertani adalah salah satu contoh aktivitas sekaligus matapencaharian dari masyarakat agraris Indonesia. Poncokusumo, merupakan salah satudaerah di Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari pertanian, khususnyakomoditas Apel. Sehingga, buah apel yang ada di Malang salah satunya dipasok dariPoncokusumo. Namun, penggunaan lahan dan mata pencaharian masyarakat berubahseiring dengan waktu. Apabila dibiarkan, Apel beserta budaya bertani yang telah adadapat tergerus. Oleh karena itu perlu upaya yang dapat mempertahankan Apel Malangbersamaan dengan budaya bertani masyarakat Poncokusumo. Hal ini tentu tidak dapatdilakukan tanpa acuan yang jelas. Sesuai dengan SDG’s poin ke delapan, upaya yangharus dilakukan harus memperhatikan komunitas berkelanjutan dan ekonomi yanglayak. Kabupaten Malang sendiri telah menunjuk Poncokusumo sebagai daerahAgropolitan. Namun, hal ini perlu dikaji kembali. Kajian ini menggunakan analisis SWOTuntuk mengevaluasi hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan mengenai pengelolaanlahan pertanian Apel di Poncokusumo. Sehingga, kajian ini dapat menghasilkan solusiberupa pengembangan agrowisata berbasis kearifan lokal yang diharapkan mampumenjadi pendorong kegiatan ekonomi yang lebih baik sekaligus melestarikan budayabertani di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Implementasi kearifan lokal dalam strategi Pengembangan Wisata Pantai Sendang Biru untuk Pelestarian Pulau Sempu

Widiana, Fenny ( Universitas Brawijaya ) , Wikantiyoso, Respati ( Universitas Merdeka Malang )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 10, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.363 KB)

Abstract

Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki ribuan pulaudari Sabang sampai Merauke, dimana setiap pulaunya memiliki keunikan tersendiri.Salah satu pantai di kabupaten Malang adalah pantai Sendang Biru. Pantai SendangBiru memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar di jawa Timur. Daya tarikberupa tempat pelelangan ikan dan pulau Sempu yang berada di sebrang pantai yangditetapkan sebagai cagar alam melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal HindiaBelanda pada tahun 1928. Permasalahan pada pulau Sempu adalah adanya wisataillegal sehingga membuat sebagian wilayahnya menjadi rusak dan sebagian kawasan dipulau Sempu akan diubah menjadi Taman Wisata Alam (TWA). Metode kajian inimenggunakan metode deskriptif untuk menidentifikasi kearifan lokal dan menganalisasehingga mendapatkan strategi pengembangan kawasan wisata Pantai Sendang Biru.Ditemukan bahwa kearifan lokal dapat dijadikan dasar pengembangan wisata kulinerdan atraksi kehidupan nelayan pada Pantai Sendang biru. Dengan pengembangankualitas wisata di Pantai Sendang Biru diharapkan dapat melestarikan Pulau Sempu.

Punden Sebagai Pusat Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Desa Klepek Kabupaten Kediri

Nurtantyo, Muhammad Andi Finaldi ( - )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 10, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3242.938 KB)

Abstract

Desa Klepek memiliki kearifan lokal dalam aspek kehidupan sosial dan budaya. Aspeksosial budaya yang dimiliki sangat menarik untuk dibahas dalam penelitian ini. Aspeksosial budaya yang terdapat disana berhubungan dengan satu tempat sakral yangdijadikan pusat yaitu punden. Kepercayaan masyarakat desa Klepek menganggap pundensebagai titik pusat kehidupan sosial mereka. Hal ini terlihat adanya kegiatan tradisimasyarakat yang tidak terlepas dari keberadaan punden tersebut. Kegiatan tradisi yangterdapat disana yaitu nyadranan, barik’an dan tradisi sebelum hajatan. Fokus padapenelitian ini yaitu aspek kehidupan sosial dan budaya yang terdapat di desa Klepek.Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang didalamnya terdapat tentangdata deskriptif tertulis ataupun lisan dari sumber objek. Dengan hubungan antara aspekkehidupan sosial budaya dengan punden maka dapat menghasilkan data indentifikasiberupa keragaman aspek sosial budaya.

Makna Ruang Sebagai Aspek Pelestarian Situs Sumberawan

Ramli, Syamsun ( Universitas Brawijaya Malang ) , Wikantiyoso, Respati ( Universitas Merdeka Malang )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 10, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.037 KB)

Abstract

Situs Sumberawan merupakan salah satu tempat wisata di kabupaten Malang. Situs initerletak di Desa Toyomerto, Kecamatan Singosari. Stupa Sumberawan berada di kakigunung Arjuno. Stupa Sumberawan dibangun pada akhir era Majapahit, yaitu sekitarabad ke-14 sampai 15. Di area stupa terdapat beberapa mata air. Mata air ini membentuktelaga mata air. Stupa Sumberawan dibangun untuk mentransformasi mata air menjaditirta amerta. Tirta amerta adalah air suci sebagai saripati kehidupan. Masyarakat masihmempercayai mitos dan larangan di telaga mata air ini. Situs Sumberawan sangat menarikuntuk diteliti dengan keberadaan telaga mata airnya. Stupa dan telaga mata air ini menjadiruang berbagai aktivitas. Warga sekitar memanfaatkannya untuk kebutuhan air bersih,mencuci, memancing, dan mengairi sawah. Umat Budha melakukan ritual pradaksinadi Stupa Sumberawan. Penganut kejawen melaksanakan ritual mandi suci pada malamjumat legi di telaga mata air. Wisatawan berkunjung dengan tujuan rekreasi. Penelitiingin mengetahui makna ruang Situs Sumberawan bagi masing-masing pengguna.Penelitian menggunakan metode studi literatur. Hasil penelitian menunjukan perbedaanpemaknaan dan penggunaan ruang di Situs Sumberawan. Perbedaan makna ruang inidapat menjadi landasan dalam upaya pelestarian Situs Sumberawan.

Architecture of Soko Wolu Traditional House in Dusun Cemorosewu - Magetan

Wahyudi, Johan ( Magister Architecture Postgraduate Program Student University of Merdeka Malang ) , Wikantiyoso, Respati ( University of Merdeka Malang ) , Junianto, Junianto ( University of Merdeka Malang )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 10, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.816 KB)

Abstract

Traditional houses in Indonesia have become silent witnesses of how life in the past wascarried out and its influence on the order of life of the people at that time. Likewise with thetraditional Javanese houses of the community of dusun Cemorosewu - Magetan, which havethe characteristics and functionally have specific aims and objectives that influence the processof establishing the building. This study is expected to provide a benefit in the form of thedevelopment of knowledge related to traditional houses in general which can be applied inbuilding architecture. The method used in this writing is descriptive method with non randomsampling technique, which is purposive sampling (purposive sampling technique).From the discussion, it can be seen that the traditional house in dusun Cemorosewu only hastwo clusters, namely griya wingking with dhapur limasan and griya pawon with dhapurkampong where griya pawon is always on the left either the wingking house faces north orsouth. The supporting structure of the roof of the house is supported by 8 (eight) poles so thatit is often referred to as omah soko wolu. Walls are made of split stone and zinc roofing andthere are still cooking stoves that use fuel from firewood along with complementary componentssuch as pogo and sigiran and roof openings in an effort to remove smoke.

Filosofi Hidup sebagai Wujud Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kasepuhan Sinar Resmi

Mawaddahni, Sari ( Program Magister Arsitektur Lingkungan Binaan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3142.788 KB)

Abstract

Kasepuhan Sinar Resmi merupakan masyarakat adat yang tinggal di kawasan TamanNasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), di wilayah kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.Aturan adat leluhur menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan keseharianmasyarakat kasepuhan. Sebagai masyarakat peladang, masyarakat kasepuhan taatterhadap aturan leluhur dengan menjalankan berbagai ritual tradisi yang menyangkutkegiatan pertanian. Filosofi hidup yang sederhana, menghargai serta menyatu denganalam merupakan wujud kearifan lokal yang dipegang teguh oleh masyarakat kasepuhan.Derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi dikhawatirkan akan memberikandampak negatif pada keberlanjutan nilai-nilai tradisi pada kehidupan masyarakatkasepuhan. Kajian terhadap objek studi dilakukan untuk mengidentifikasi potensi-potensinilai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat kasepuhan Sinar Resmi. Untuk mengkajinilai-nilai kearifan lokal pada kasepuhan Sinar Resmi, digunakan metode deskriptifkualitatifdengan menganalisa dan mengumpulkan literasi data sekunder.

“RUMAH LANTING” Arsitektur Vernakular Suku Banjar Yang Mulai Punah

Afdholy, Amar Rizqi ( Program Pasca Sarjana Arsitektur Lingkungan Binaan-Universitas Brawijaya )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3533.212 KB)

Abstract

Rumah lanting adalah rumah venakular dari masyarakat suku Banjar yang berada di kotaBanjarmasin, Kalimantan Selatan. Menurut Mentayani (2010) bentuk rumah lanting yangselaras dengan kondisi lingkungan berupa sungai dan penggunaan material, konstruksi,hingga perilaku penghuni dalam menjalani kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwarumah lanting adalah arsitektur vernakular daerah Kalimantan Selatan. Dilihat dari awalterbentuknya rumah lanting, menurut Alfisyah (2014) rumah lanting muncul dikarenakanadanya kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang perahu yang hidupnomaden diatas sungai martapura. Kebutuhan akan hunian yang dapat menunjangaktifitas mereka sebagai pedagang inilah yang kemudian memunculkan rumah lantingyang terletak di tepian-tepian sungai kota Banjarmasin. Permasalahan yang diangkat dalamkajian ini tentang kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap tipe rumah vernakularsuku Banjar yaitu rumah lanting dan semakin berkurangnya jumlah rumah lanting yangada di kota Banjarmasin. Tujuan dari kajian ini menjelaskan tentang karakteristik rumahvernakular suku Banjar yaitu rumah lanting dan faktor penyebab berkurangnya rumahlanting di kota Banjarmasin. Metode yang dipakai pada kajian ini menggunakan metodedeskriptif kualitatif, data diperoleh dari hasil wawancara dan observasi langsung kelapangan. Dari hasil penelitian, faktor utama penyebab semakin berkurangnya rumahlanting di kota Banjarmasin adalah perubahan aktifitas masyarakat yang dulunyabergantung pada sungai sekarang sudah beralih ke daratan.

Pengaruh Kearifan Budaya Lokal Terhadap Hunian Masyarakat Pengrajin Tempe di Kampung Sanan Malang

Nugroho, Rahadian

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2429.577 KB)

Abstract

Hunian masyarakat pengrajin tempe di Kampung Sanan Malang merupakan hunian yangterbentuk dari penyesuaian kearifan lokal yang lama tehadap globalisasi yang salah satunyaberdampak ke ekonomi. Pada awalnya, hunian di kampung ini hanya digunakan untuk tempattinggal, namun kemudian penduduk mulai menggunakan hunian mereka untuk memproduksiserta menjual tempe dan keripik tempe, dan saat ini Kampung Sanan telah menjadi sentraindustri tempe. Kegiatan memproduksi tempe bagi masyarakat Kampung Sanan merupakanKearifan Budaya Lokal turun-temurun yang memungkinkan terjadinya perubahan danpengurangan pada ruang untuk tempat tinggal serta mempengaruhi kualitas fasad hunian.Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep kearifan lokal dalam pola hunianmasyarakat kampung Sanan Malang yang berpengaruh pada perubahan-perubahannya.Metode yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif, analitis dan interpretatif berdasarpada bukti empiris, strukturalisme, tipolmorfo dan relasi fungsi, bentuk dan makna yangdigunakan untuk mengungkap konsep kearifan lokal dalam hunian masyarakat kampungSanan Malang. Pengumpulan datanya dilakukan dengan pengambilan foto, video, wawancaramendalam dan observasi kemudian dianalisis untuk mendapatkan gambaran dan kesimpulanyang dapat menjawab permasalahan dan mencapai tujuan studi. Hasil dari studi inimenyebutkan bahwa kearifan budaya lokal Kampung Sanan secara langsung dan tak langsungmemunculkan identitas dan tradisi baru yang berjalan beriringan dengan tradisi yang lama.Terbentuknya kearifan budaya lokal yang baru dari dampak globalisasi yaitu Home Industrykarena untuk menaikkan taraf hidup warga Kampung Sanan Malang.

Kearifan Lokal Masyarakat Kampung Wisata Kerajinan Tangan di Dusun Rejoso Kota Batu

Azis, Baskoro ( Magister Arsitektur, Universitas Brawijaya )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 9, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.336 KB)

Abstract

Kearifan lokal yang baru pada masyarakat Jawa di Dusun Rejoso terbentuk daripenyesuaian kearifan lokal yang lama tehadap globalisasi yang salah satunya berdampakke ekonomi. Dampak globalisasi menyebabkan segala aspek kehidupan terpengaruhi,sistem ekonomi, budaya dan lingkungan hidup manusia. Hal tersebut menyebabkankearifan lokal yang berlaku dalam masyarakat mulai terkikis. Masyarakat memiliki tradisiyang dikenal sebagai ada kedaerahan (kearifan lokal) yang merupakan symbolkebangsaan, akan tetapi hampir tidak lagi makna yang berarti di era globalisasi. Tujuan utama dari kajian ini adalah mendeskripsikan kearifan kampung kerajinan tangan diDusun Rejoso. Penelitian kearifan lokal menggunakan metode kualitatif denganwawancara dan dan survey melui pendekatan studi naratif yaitu penceritaan kembalicerita tentang pengalaman individu, atau progresif-regresif, di mana peneliti memulaidengan suatu peristiwa penting dalam kehidupan sang partisipan. Pengumpulandatanya dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi kemudian dianalisisuntuk mendapatkan gambaran dan kesimpulan yang dapat menjawab permasalahandan mencapai tujuan penelitian. Dusun Rejoso secara langsung dan tak langsungmemunculkan identitas dan tradisi baru dan berjalan dengan tradisi yang lama secaraberiringan. Terbentuknya kearifan lokal yang baru dari dampak globalisasi yaitu HomeIndustry karena untuk menaikkan taraf hidup warga.

Bobeto Sebuah Nilai Kearifan Lokal Pembentuk Ruang Ritual antara Manusia dengan Alam di Kalaodi - Tidore

Teng, Ichsan ( Magister Arsitektur, Universitas Brawijaya )

Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 9, No 1 (2017): Januari 2017
Publisher : Departement Of Architecture, Merdeka Malang University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.506 KB)

Abstract

Setiap jengkal di seluruh permukaan bumi mengalami perubahan seiring waktu danperubahan paradigma manusia yang salah satunya dipengaruhi oleh meningkatnya dayakesadaran melihat, memaknai dan memanfaatkan ruang yang dimiliki manusia. Kesadaranini membentuk pemikiran tentang cara pandang ke waktu mendatang terhadaplingkungannya. Manusia yang hidup dan sadar oleh kemampuan membuat pilihan untukmenentukan keberlangsungannya_dengan pengalaman masa sebelumnya (merugikan/kekurangan) dan sebagai bentuk antisipasi agar tidak mengulangi kejadian yang sama,sehingga secara individu ataupun berkelompok dalam skala kecil maupun besar, telahmemberikan perubahan pada tata ruang di berbagai tempat sebagai perwujudankekuasaannya masing-masing. Warga Kalaodi di Pulau Tidore memiliki kesadaran yangdiwariskan secara turun temurun oleh leluhurnya dalam bentuk BOBETO (sumpah leluhur).Sebuah perjanjian sekelompok manusia dengan lingkungan yang didasarkan oleh kesadaranmanusia tentang pentingnya alam lingkungan untuk keberlangsungan kehidupannya.BOBETO ditetapkan sebagai sikap toleran manusia terhadap lingkungan yang harusdilakukan dan tidak dapat dilanggar. Hal ini karena hubungan sebab akibat antara manusiadan lingkungan. Kajian yang dilakukan dalam penelitian ini untuk mengungkapterbentuknya ruang ritual pada peristiwa Upacara Syukuran Paca Goya di Kampung Kalaodi– Tidore yaitu sebuah implementasi dari pernyataan sumpah leluhur dari setiap generasinya.Metode penulisan yang digunakan adalah ungkap balik yang dideskripsikan.