cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
RIHLAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 1 (2017): Rihlah" : 10 Documents clear
SEJARAH PERKEMBANGAN ORIENTALIS Susmihara, Susmihara
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.628 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3182

Abstract

Minat orang Barat untuk mengkaji Timur termasuk Islam sudah berlangsung cukup lama dan telah menmpuh fase-fase historis tertentu. Setiap fase perkembangan  orientalis itu memiliki ciri dan tendensi yang berbeda. Fase sebelum melutusnya perang salib, tujuan para oritentalis  adalah memindahkan ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Eropa. Fase masa perang salib, Peter sebagai kepala Biara Cluny memerintahan para sarjana dan penerjemah untuk menerjemahkan teks-teks Arab ke bahasa latin. Dalam proses penerjemahan ini, terjadilah cerita-cerita negatif yang ditujukan kepada pribadi Nabi Muhammad saw. Cerita-cerita pada dasarnya akibat dari kekalahan Kristen dalam Perang Salib. Fase masa pencerahan di Eropa ditandai keinginan para orientalis untuk mencari kebenaran. Pada masa ini kekuatan rasio mulai meningkat sehingga lahirlah karya-karya yang dianggap objektif, bahkan berisi penghargaan kepada Nabi Muhammad dan Alquran. Hal ini didorong oleh motif ekonomi dan politik. Orang Barat pada saat ini, berkeinginan menguasai Timur, oleh karena itu dibutuhkan pengetahuan Timur secara objektif dan menyeluruh, agar dapat menyusun strategi  untuk mencapai tujuan itu. Mulai abad ke 19 sampai sekarang para orientalis secara teratur mengadakan kegiatan seperti kongres-kongres, mendirikan lembaga-lembaga kajian ketimuran, mendirikan  organisasi-organisasi ketimuran dan menerbitkan majalah-majalah.     
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QUR’AN PADA ABAD KE VII H Miswar, Andi
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.823 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3187

Abstract

The VIIth century is known as the mutaakhhirin period in the development of Quranic interpretation. In this era of interpretation activities experienced a very significant development, for example from the form of  bi al-matsur (riwayah) exagesis to the form of  dirayah (al-rayu) exagesis that is interpretation based on ijtihadiy as contained in  Mafatih al-ghaib /  Al-kabir exagesis by al-Razi in the style of philosophy in which there are philosophical views of the Quranic statements. On the other hand the exagesis book was published in that century is the interpretation  of Anwār al-tanzil wa Asrār al tawil by Al-Baidhawi who uses the source of interpretation bi al-Ra’yi exagesis with the style of ilmiy exagesis who tends to use logical argument and explore various problems of science, and the exagesis that has the form of al-isyariy (intuition) with  shufiy interpretative style is  Ibn Arabi’s  exagesis . The tendency of exagesis mostly impluenced by their  personal understanding, school of thought, and qualifications of their knowledge.
PERANG SALIB Telaah Historis dan Eksistensinya Tangngareng, Tasmin
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.849 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3183

Abstract

Perang Salib yang merupakan tragedi umat Islam terbesar dalam sejarah yang menyebabkan kerugian yang sangat besar, baik harta maupun jiwa, namun ada sisi positifnya yaitu pasikan Islam  berhasil memantapkan penguasaannnya terhadap wilayah-wilayah  yang dikuasainya dan mengusir pasukan salib serta memulangkan mereka dengan kekalahan.Tetapi itu semua tidak banyak manfaatnya bagi kaum muslimin karena wilayah-wilayah tersebut sudah lama merka kuasai sebelum kedatangan pasukan salib. Adapun yang melatar belakangi timbulnya Perang Salib  yaitu agama, politik, dan sosial serta ekonomi.  Disamping itu, Perang Salib  dapat dibagi tiga periodesasi yaitu; periode pertama yaitu periode penaklukan (1085-1144 M), periode kedua, yaitu periode reaksi umat Islam (1144-1192 M), periode ketiga, yaitu periode kehancuran Perang Salib (1192-1291 M).
Sampul dan Daftar Isi Rahmat, Rahmat
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.661 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3188

Abstract

.
TRADISI MAPPAMULA (PANEN PERTAMA) PADA MASYARAKAT BUGIS TOLOTANG DI SIDENRENG RAPPANG (Kajian Antropologi Budaya) Nasruddin, Nasruddin
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.206 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3179

Abstract

Rangkaian tradisi mappamula yaitu (1) mappalili, (2) maddoja bine, (3) mangeppi, (4) maddumpu, (5) mappammula, (6) mappadendang. (7) manre sipulung. Rangkaian tadisi ini adalah suatu proses dalam kegiatan panen bagi masyarakat Bugis Tolotang di Sidenreng Rappang. Kegiatan mappammula, tidak bisa diabaikan. Tradisi ini dilaksanakan karena sudah sudak dilaksanakan  turun temurun. Setiap langkah dalam proses mappamula memiliki arti dan makna tersendiri. Pelaksanaan tradisi mappamula erat kaitannya dengan pernyataan kesyukuran pada dewata seuwae, atau masyarakat menghendaki tidak ada kemarahan pada dewata, dengan cara melaksanakan tradisi untuk menyenangkannya agar manusia tidak mendapatkan kemurkaan darinya. 
PERANAN KHADIJAH TERHADAP PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI MEKAH Iqbal, Iqbal
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.397 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3184

Abstract

Khadijah is the first women became a moslem. She is Prophet Muhammad’s wife. Before she became a moslem, she is a rich women. She has high status in Quraisy clan. When prophet Muhammad invited everyone in Quraisy clan to be moslem, She was care and protected Prophet Muhammad from Quraisy clan. She merried with Muhammad when fourty years old and Muhammad is twenty five years old. She met with him when Prophet Muhammad became a worker in her bussiness. After Muhammad sold in Syam, she interested to Muhammad. Finally, She said to Nufaisah about her love to Muhammad. Nufaisah is her friend. Nufaisah came to Muhammad and talked about Khadijah’s love. So, after Muhammad had agreed, they merried. They had three boys and four daughter. They are al-Qasim, al-Thayyib dan al-Thahir, Ruqayyah, Zainab, Ummu Kultsum and Fathimah. She died when sixty five years old.
ISLAM DALAM PEMERINTAHAN KERAJAAN BONE PADA ABAD XVII Rahmawati, Rahmawati
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.617 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3180

Abstract

Islam dalam pemerinahan kerajaan Bone pada abad ke-17. Dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahawa reaksi masyarakat Bone dalam pemerintahan ketika Islam diperkenalkan oleh raja bisa dikatakan sangat cepat dan tidak mendapat halangan dari masyarakat maupun dari raja yang turut memberikan impak untuk menghindari konflik antara adat dan sara. Sementara itu bagi masyarakat Bone, realitas keislaman sebenarnya jauh lebih kompleks dari gambaran tersebut. Disatu sisi, agama Islam memang telah menjadi sebahagian dan hadir dalam berbagai macam aspek dalam kehidupan sosial masyarakat Bone. Hal ini dapat dilihat pada praktik peribadatan mereka, nama-nama Muslim yang mereka sandang, kewujudan berbagai macam kegiatan sosial lslam dengan adanya lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan sebagainya.
ELIT POLITIK DAN KETERLIBANNYA DALAM PIMILUKADA DI KOLAKA UTARA Rasyid, Surayah
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.248 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3185

Abstract

Orientasi politik di kalangan elit politik dalam pemilukada setidaknya dapat dilihat pada dua hal, yaitu orientasi yang bersifat pragmatis dan yang bersifat ideologis. Orientasi pragmatis adalah dimana elit-elit politik memposisikan dirinya sebagai “elit lokal” untuk berjuang memenangkan pemilihan yang dilakukan sekali dalam lima tahunan itu. Dalam konteks ini elit-elit politik akan memaksimalkan usahanya untuk memperoleh kekuasaan karena itu yang menjadi orientasi politik. Sementara orientasi ideology, elit politik yang terjun ke gelanaggang politik merupakan panggilan hati untuk mengawal proses demokratisasi agar tercipta masyarakat yang aman, tentaram, adil dan makmur. Atau dengan bahasa agama, bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar. Jika dilihat kedua orientasi tersebut, maka orientasi yang bersifat pragmatisme ini lebih dominan dibandingkan dengan yang bersifat ideology. Kepentingan pragmatis motivasinya bisa beragam sesuai dengan keragaman kepentingan dan orientasi elit tersebut. Dan orientasi politik di kalangan elit bisa beragam motivasinya. Motivasi itu  ada yang karena ingin berkuasa, ada karena ingin mencari nafkah lewat politik, ada karena ingin mengembangkan wawasan kebangsaan,  dan ada pula karena ingin terkenal. Tetapi dari hasil penelitian mnunjukan bahwa motivasi kekuasaanlah yang paling dominan dari pada yang lain.
SEJARAH DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Syahraeni, Andi Syahraeni
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.209 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3181

Abstract

The history of human beings is an invaluable lesson, for it is rich with wisdoms. History contains significant events in the past is systematically organized and widely circulated to the societies as a repertoire of knowledge. History is an inherent element of human life, for history is an essential product of human civilization as well as a basic need of the human life per se. The Qur’an as a source of guidance integrates history into the moral narratives to provide moral lessons to human beings. It tells the stories of the societies in the past, their culture, civilization, and morality to serve as moral lessons that the current societies need to learn to maintain the harmony of their life.
SYI’IR PADA MASA ABBASIYAH Mukammiluddin, Mukammiluddin
RIHLAH Vol 5, No 1 (2017): Rihlah
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.477 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v5i1.3186

Abstract

Sastra mengalami perkembangan dari masa ke masa. Sastra telah dikenal sejak masa lampau saat Islam belum datang, yakni di masa Jahiliyah. Sehingga sastra memiliki karakteristik tertentu sesuai tempat dan masanya. Secara universal perkembangan sastra dibagi menjadi lima, yakni sastra di masa Jahiliyah, masa shodrul Islam dan masa Umaiyah, masa Abbasiyah, masa akhir Abbasiyah dan masa Turki, dan di masa modern hingga saat ini. Sejarah keadaan kesusastraan Arab telah mengungkapkan bahwa kebiasaan bangsa Arab pada umumnya adalah senang menggubah syi’ir. Hal ini mereka anggap suatu kebiasaan yang bersifat tradisional karena dipengaruhi oleh lingkungan hidup dan kehidupan mereka serta bahasa mereka yang puistis dan lisan mereka yang pasih, merupakan fakor yang kuat untuk mendorong mereka dalam menggubah syi’ir. Syi’ir adalah suatu kalimat yang berirama dan bersajak yang mengungkapkan tentang khayalan yang indah dan juga melukiskan tentang kejadian yang ada.

Page 1 of 1 | Total Record : 10