cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
RIHLAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 2 (2016)" : 13 Documents clear
PERKEMBANGAN SEJARAH SASTRA ARAB Asriyah, Asriyah
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2834

Abstract

Sastra Arab dalam sejarahnya itu ia mengalami perubahan yang cukup signifikan terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah dan pada masa modern, perubahan tersebut berupa arabisasi (serapan kata dari bahasa Asing ke bahasa Arab) yang pada awalnya terjadi pada masa Abbasiyah kemudian berlanjut pada masa modern setelah sempat terhenti pada masa abad pertengahan. Perubahan itu terjadi karena pengaruh yang diberikan oleh agama Islam pada saat Nabi Muhammad diutus sebagai rasul yang membawa syari’, kemudian faktor lainnya adalah bercampurnya masyarakat Arab dengan kaum pendatang (asing) sehingga menyebabkan pertukaran fikiran yang mengakibatkan campuran kebudayaan. Kemudian faktor ketiga adalah adanya penerjemahan buku-buku bahasa asing yang mengakibatkan proses arabisasi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Perubahan tersebut terus berlangsung hingga zaman sekarang dan akan terus berlanjut sampai akhir zaman. Mereka yang berperan mengembangkan sastra Arab pada masa kejayaan Islam  berasal dari berbagai suku bangsa, di antara mereka berasal dari jazirah Arab, Mesir, Romawi, Armenia, Barbar, Andalusia dan sebagainya. Walau berbeda bangsa namun mereka semua bersatu di atas Islam dan bahasa Arab, mereka berbicara dan menulis karya sastra serta berbagai kajian keilmuan lainnya dengan bahasa Arab.
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QUR’AN PADA MASA SAHABAT Miswar, Andi
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2849

Abstract

 Interpretation  of al-Quran have grown during  Prophet life  and he is the first mufassir. After Rasulullah passed away the prophet companies  occupied the second interpretor. The first person interpreted  al-Quran after Rasul is Ali and  than Ibnu Abbas.  Al-Quran was interpreted by  prophet companieas by using sources such as Qur’an, prophet tradition,their own opinions (ijtihad) and  israiliyat stories ( though this was not  mentioned and not  allowed by the Prophet.). Meanwhile interpretation of Prophet directly come from Allah or passed by jibril or from himself,  difference ways of this two interpretation  are not far differences, but the quality of these  interpretations  is far more eminent. Generally, the form of interpretation applied by  prophet companies is called  al-Matsur  interpretation which means that the interpretation is based on prophet interpretation, tradition and hisrory. This doesn’t mean the ra’yu or thought was not exluded but included. Precisely in certain condition, they used ideas called  interpretation method (ijtihadi). The methode of  interpretation used was  ijmali ( global), which means a brief and clear  interpretation of verses.
DINASTI FATIMIYAH (Muncul,Perkembangan,dan Kehancurannya) Susmihara, Susmihara
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2830

Abstract

Sejarah kemunculan dinasti Fatimiyah tidak terlepas dari gerakan-gerakan militan dan prontal yang dilakukan oleh Syi’ah Ismailiyah yang dipimpin oleh Abdullah ibn Syi’i dengan terampil dan terorganisir. Pada tahun 909, gerakan tersebut berhasil mendirikan dinasti Fatimiyah di Tunisia (Afrika Utara) dibawah pimpinan Sa’id ibn al-Husain setelah mengalahkan dinasti Aghlabiah di Sijilmasa. Dinasti Fatimiyah merasakan tiga ibu kota  yaitu Raqadah, al-Mahdiyah dan Kairo dibawah 14 khalifah selama 262 tahun yaitu sejak tahun 909 hingga 1171.  Kejayaan itu dapat dilihat dalam bidang agama dengan toleransi yang tinggi, pendidikan dengan pembangunan universitas dan perpustakaan. kebudayaan dan peradaban dengan kota Kairo sebagai bukti, arsitektur dengan masjid al-Azhar dan kesenian dengan produk tekstil, tenunan, keramik dan penjilidan.    Kemunduran dinasti Fatimiyah dimulai dari masa pemerintahan al-Hakim ((996-1021) yang membuat kebijakan kontroversial dalam bidang agama dan terus merosot pasca pemerintahan al-Zhahir ((1021-1035) dan musnah pada masa al-Adid (1160 M - 1171 M), kemunduran itu karena faktor eksternal berupa ronrongan dari penguasa luar dan ronrongan internal, perilaku al-Hakim yang kontroversi, khalifah yang masih belia, 3 suku bangsa yang bertikai, ajaran Syi’ah Ismailiyah yang belum sepenuhnya diterima masyarakat dan perebutan antara Nuruddin Zinki dengan pasukan salib di Yerussalem terhadap Mesir.
INTEGRASI ISLAM DALAM SISTEM PEMERINTAHAN DI KEDATUAN LUWU PADA ABAD XVII Syukur, Syamzan
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2835

Abstract

Temuan tulisan ini menunjukkan bahwa, penerimaan Islam sebagai agama resmi kerajaan di kedatuan Luwu telah memengaruhi seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk sistem pemerintahan. Integrasi Islam  pada sistem pemerintahan Kedatuan Luwu, dapat dilihat pada: pertama, Pembentukan  Parewa Sara’ (institusi sara’) sebagai salah satu institusi pemerintahan khusus bidang keagamaan yang diketuai oleh seorang  Kadhi (hakim agama); tugas seoran Kadhi selain mengembangkan kehidupan beragama dalam masyarakat sekaligus sebagai penasehat datu atau raja; sehingga segala kebbijakan yang diambil oleh raja dan erajaan tidak bertentangan dengan Islam. Kedua, dimasukkannya unsur Sara’ (Syariat Islam) ke dalam Panggedekeng (sistem kebudayaan masyarakat), yang sebelumnya terdiri atas lima yaitu   Ade’ (adat), Bicara, Rapang dan Wari, dan menjadi enam dengan ditambahkannya Sara’ (Syari’at Islam).
ISLAM SEBAGAI ADIKUASA Hj. Salmah Intan, Hj. Salmah Intan
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2831

Abstract

Negara adikuasa merupakan negara yang berkuasa yang memiliki wilayah kekuasaan yang mampu bekehendak dan mempunyai pengaruh yang amat besar. Adikuasa Islam memiliki pengaruh, kekuatan besar, wilayah kekuasaan dan memiliki kehendak untuk mengatur wilayah tersebut yang pada masa lalu telah terjadi cukup alamat yang dimulai abad ke 8 M. s/d 13 M. yang puncak kejayaannya pada masa dinasti Abbasiyah. Islam sebagai adikuasa berlangsung cukup lama, sejak kepemimpinan Rasulullah di Yastrib dan dijadikannya sebagai kota madinah al-Nabawi, disinilah mulai muncul peradaban baru yang menjadi adikuasa bagi Islam yang bleum pernah terjadi dan tidak pernah disangka-sangka sebelumnya dalam kancah sejarah Islam. Selanjutnya Islam sebagai adikuasa terus berlanjut pada periode khulafa al-Rasyidin, masa bani Umayyah sampai kepada masa bani Abbasiyah.Faktor-faktor penyokong Islam sebagai adikuasa terbagi menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor intern meliputi ajaran dan nilai Islam, watak bangsa Arab, penguasaan strategi dan medan, berkembangnya pemikiran rasional agamais, berkembangnya sains (ilmu pengetahuan dan teknologi), profesionalisme, pemakaian mazhab muktazilah sebagia mazhab resmi daulah Abbasiyah. Faktor ekstern antara lain kelemahan Bizantium dan Persia, alasan ekonomi serta kedekatan etnis.
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN DAN PERADABAN ISLAM Rahmawati, Rahmawati
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2836

Abstract

Pemikiran Islam pada masa kontemporer dihasilkan dari formulasi peradaban Islam yang eksklusif. Sebagaimana peradaban lainnya, substansi pemikiran dan peradaban Islam adalah pokok-pokok ajaran Islam yang tidak terbatas pada sistem kepercayaan, tata pikir, dan tata nilai, tapi merupakan super-sistem yang dijiwai oleh semangat Islam, yang dalam perkembangannya membangkitkan studi-studi yang tidak saja rasional empiris, tetapi juga berpijak dari tradisi (at-turas) yang telah dimiliki oleh pemikiran Islam klasik. 
SEJARAH INTELEKTUAL ISLAM INDONESIA Studi kasus Pemikiran Nurchalish Madjid Dan Hamka (Studi Perbandingan) Nasruddin, Nasruddin
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2827

Abstract

Nurchalish Madjid dalam pemikirannya tentang sekulerisasi, bahwa bukan penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi sekularis.” Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk mengukhrowikannya. Jika Indonesia kembali pada fundamentalisme Islam ibarat bahaya narkotika yang selalu membekas dalam diri manusia, paham Pluralitas masyarakat adalah bagian amat penting dari tatanan masyarakat maju. Dalam paham itulah dipertaruhkan, antara lain sehatnya demokrasi dan keadilan. Pluralisme tidak saja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui hak kelompok lain atau ada, tetapi juga mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Buya Hamka, menolak dengan keras apa yang disebut toleransi agama, dan juga menolak dengan keras tentang pluralisme agama juga menolak paham sekularisme. Penghayatan tasawuf hamka itu berupa pengalaman takwa yang dinamis, bukan ingin bersatu dengan tuhan, adapun refleksi tasawuf menurut hamka yaitu berupa menampakkan makin meningginya kepekaan sosial dalam diri si sufi. Jadi intinya secara garis besar, konsep dasar sufistik menurut hamka adalah sufisme yang berorientasi  ke depan. 
ISLAM SEBAGAI ADIKUASA Hj. Salmah Intan, Hj. Salmah Intan
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2832

Abstract

Negara adikuasa merupakan negara yang berkuasa yang memiliki wilayah kekuasaan yang mampu bekehendak dan mempunyai pengaruh yang amat besar. Adikuasa Islam memiliki pengaruh, kekuatan besar, wilayah kekuasaan dan memiliki kehendak untuk mengatur wilayah tersebut yang pada masa lalu telah terjadi cukup alamat yang dimulai abad ke 8 M. s/d 13 M. yang puncak kejayaannya pada masa dinasti Abbasiyah. Islam sebagai adikuasa berlangsung cukup lama, sejak kepemimpinan Rasulullah di Yastrib dan dijadikannya sebagai kota madinah al-Nabawi, disinilah mulai muncul peradaban baru yang menjadi adikuasa bagi Islam yang bleum pernah terjadi dan tidak pernah disangka-sangka sebelumnya dalam kancah sejarah Islam. Selanjutnya Islam sebagai adikuasa terus berlanjut pada periode khulafa al-Rasyidin, masa bani Umayyah sampai kepada masa bani Abbasiyah.Faktor-faktor penyokong Islam sebagai adikuasa terbagi menjadi dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor intern meliputi ajaran dan nilai Islam, watak bangsa Arab, penguasaan strategi dan medan, berkembangnya pemikiran rasional agamais, berkembangnya sains (ilmu pengetahuan dan teknologi), profesionalisme, pemakaian mazhab muktazilah sebagia mazhab resmi daulah Abbasiyah. Faktor ekstern antara lain kelemahan Bizantium dan Persia, alasan ekonomi serta kedekatan etnis.
REFLEKSI NILAI DALAM TRADISI MAPPANRE TEMME’ H.M Dahlan, H.M Dahlan
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2837

Abstract

Pelaksanaan tradisi Mappanre Temme’ dimulai dari menyiapkan berbagai perlengkapan dan hal-hal yang dibutuhkan demi jalannya tradisi ini. Prosesi Mappanre Temme’ memerlukan berbagai persiapan mulai dari kue-kue, hidangan, songkolo, beberapa ekor ayam, Alquran yang dibungkus kain putih, amplop bagi guru mengaji (sebagai cenning ati) dan tentu saja Alquran yang digunakan untuk membaca. Anak tersebut kemudian menuju rumah guru mengaji dengan cara disoppo mengelilingi kampung oleh keluarga terdekatnya dalam hal ini pada zaman dulu. Adapun pendapat lain yang mengatakan bahwa, hal itupun terjadi (di soppo) jika bersamaan dengan kegiatan khitanan, Selanjutnya melaksanakan barazanji yang dilanjutkan dengan prosesi inti yakni membaca Alquran guna menamatkan Alquran itu sendiri (mapptemme’). Setiap selesai membaca tiap surah selain membaca kalimat tahlil dan tahmid (La Ilaha Illallah wa lillah Ilham) seorang murid mengaji akan dipercikkan sedikit beras kepada dirinya sama, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa ini adalah wujud dari do’a perbuatan (sennung-sennungeng) tahapan prosesi ini dikenal dengan istilah Mappasiduppa. Demi mewujudkan eksistensi dari tradisi Mappanre Temme’, maka diperlukan nilai-nilai yang tetap menjaga keberadaan tradisi tersebut. Nilai nilai tersebut yaitu etos kerja, kasih sayang, sabar, bersyukur, dan estetis.
ISLAMISASI SUKU BAJO DI BIMA Rahmat dan Kurais Usman, Rahmat dan Kurais Usman
RIHLAH Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2828

Abstract

Sebelum Islam, Suku Bajo berperan sebagai pasukan laut Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 sampai abad ke-13. Kapal-kapal yang melintas di perairan laut Kerajaan dipaksa singgah untuk membayar pajak. Singkatnya, kebesaran maritim Kerajaan ini tidak lepas dari kontribusi Suku Bajo. Kondisi sosial ekonomi, tersebarnya Suku Bajo di pulau-pulau Nusantara tidak terlepas dari pada perkembangan perdagangan hasil laut seperti ikan Teripang dan lain-lain, yang dikenal sebagai makanan lezat orang Cina. Kondisi sosial masyarakat, Suku Bajo sebelum menerima Islam memiliki kehidupan yang sangat heterogen, yakni hidup berkelompok dan dikepalai oleh seseorang yang kharismatik, atau biasa disebut Punggawa atau Pemimpin. Kondisi sosial budaya dan  Agama, dalam sejarah kehidupan Suku Bajo pada masa lampau selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sehinga tidak heran jika Suku Bajo ditemukan hampir di semua Negara yang memiliki pesisir pantai. Meskipun demikian Suku Bajo tetap mempertahankan kebudayaan atau tradisi yang ada, salah satunya adalah tradisi atau budaya Duata. Proses penerimaan dan pengembangan Islam. Kedatangan Islam di Suku Bajo, merupakan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Suku Bajo. Antara islamisasi Suku Bajo dengan islamisasi di Nusantara tidak dapat dipisahkan, karena melalui jalur perdaganganlah Islam masuk di Nusantara, dan Suku Bajo merupakan bagian dari masyarakat Nusantara, sebagai Suku pengembara Laut. 

Page 1 of 2 | Total Record : 13