cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
RIHLAH
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 1 (2016): JUNI" : 13 Documents clear
CORAK PEMIKIRAN TAFSIR PADA PERKEMBANGAN AWAL TRADISI TAFSIR DI NUSANTARA ( Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani dan Abd Rauf al- Singkel) Miswar, Andi
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.958 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2593

Abstract

The early growth tafsir science tradition in Indonesia, marked by the birth of  interpretation toward the sentences of al-Quran in the form of sufistik interpretation  which is expressed in verses which  have tasawuf pattern  , which have done by Hamzah al-Fansuri with his student of Syamsuddin Al-Sumatrani as the form of religion recognition  through the effort of interpreting  and understanding of the holy  al-Quran as source of religion. Whereas Abd Rauf alSingkel ( a student of Syamsuddin al-Sumatrani) wrote a book ( related to syariat)  antitle of Tarjuman al-Mustafid wich become the first copy of al-Quran interpretation  by using  Malay Ianguage  in Indonesia. This Masterpiece represented first step  in the field of Quranic interpretation  in Indonesia and become valuable contribution to Islam religion, that is helpful for society  in comprehending meaning the sentences of al-Quran in local Ianguage.
HUKUM ISLAM DALAM KONSTITUSI SEBUAH HARAPAN MASA DEPAN Rahman, Abdul
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.915 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2603

Abstract

Hukum Islam merupakan bagian dari kehidupan umat Islam di Indonesia, menjadi sumber pembentukan dan pembinaan hukum Nasional. Eksisistensinya sangat kuat dan terbuka peluang proses pembentukan perundang-undangan melalui unifikasi atau kodifikasi guna mewujudkan hukum Islam atau menjadi hukum Nasional. Hukum Islam di Indonesia telah terjabarkan dalam bentuk perundang-undangan, menjadi landasan hukum  penyelenggaraannya di bawah kementerian agama dan peradilan agama yang memiliki kekuasaan yang sama dengan peradilan-peradilan yang lain. Tampak jelas, seperti UU No. 7 Tahun 1974 tentang perkawinan, UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Inpres No. 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam.  
ISLAM DAN NASIONALISME DI INDONESIA (Sebuah Tinjauan Sejarah) Ryadi, Susmihara
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.62 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2578

Abstract

Nasionalisme tetap merupakan sebuah cita-cita yang ingin memberi batas antara “kita yang sebangsa” dengan “mereka dari bangsa lain” antara negara kita dan negara mereka. Demikian pula dalam konteks sejarah, Nasionalisme dimaknai sebagai tindakan politik untuk mengubah status Indonesia sebagai bangsa terjajah agar menjadi bangsa merdeka. Dalam perkembangannya Nasionalisme Indonesia tidak saja ditujukan untuk melawan kolonialisme Barat tetapi untuk melawan semua bentuk kolonialisme, tidak peduli Barat atau Timur. Islam sebagai kekuatan pembebas tidak saja bergandengan dengan Nasionalisme itu, tetapi sekaligus memberi fondasi spiritual yang kokoh kepada masyarakat Indonesia, mengobarkan semangat anti penjajah baik dalam teori maupun praktek.
POLITIK ISLAMISASI KERAJAAN GOWA-TALLO TERHADAP TIGA KERAJAAN TELLUMPOCCOE (BONE, SOPPENG, WAJO) PADA ABAD XVII Siswadi, Puji
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2597

Abstract

The results showed that the Kingdom of Gowa-Tallo in spreading Islam using two methods, namely, by way of peace and war. The way of peace carried out by the Kingdom of Gowa-Tallo in spreading Islam in South Sulawesi received good response among the Kingdoms around the Kingdom of Gowa-Tallo. But how different is the case with the third kingdom of Tellumpoccoe (Bone, Soppeng, and Wajo) are included in the Bugis kingdom. The third kingdom did not heed what the Sultan of Gowas call to embrace Islam. For the rejection of the then Sultan of Gowa attacks on the third kingdom of the Bugis. With the Kingdoms attack was successfully converted to Islam. But one thing that should be known that the Sultan of Gowa offensive not because the Bugis third kingdom of rejecting Islam but his refusal way that does not comply with customs regulations. So Musu Asselengngeng said by Chritian Pelras needed reconsideration. Then the political hegemony of political Islamization Gowa-Tallo did not appear during the reign of Sultan Alauddin. But during the reign of Sultan Malikussaid and Sultan Hasanuddin hegemony comes as La Maddaremmeng applying Islamic rules that eliminate said system of slavery, then when the people and their nobles Bone kingdom was forced to help build the fortress Somba Opu
HADIS SEBAGAI SUMBER SEJARAH Haif, Abu
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.337 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2605

Abstract

Sejarah adalah cerita tentang kejadian, merupakan suatu cerita dan berurutan. Arti kata sejarah masih terlalu umum dan belum menunjukkan ciri khas sejarah yaitu peranan manusia dan kejadian alam tidak semuanya dapat dikatakan kejadian historis. Peristiwa atau kejadian yang penting yang terjadi pada manusia yang membawa perubahan dan perkembangan bagi kehidupan manusia itu sendiri. Sejarah diartikan sebagai suatu tentang apa yang telah dikerjakan dan dipikirkan oleh manusia pada masa yang lampau. Sejarah sebagai sebuah ilmu memiliki metode dalam menelusuri data-data sejarah. dalam mengkaji sebuah peristiwa sejarah diperlukan berbagai pendekatan, seperti Sosiologi, Antropologi, Etnografi, Arkeologi dan lai-lain. Salah satu sumber sejarah Islam adalah hadits. Hadits memuat tentang kehidupan Nabi saw. Oleh karena itu, hadits memuat tentang peristiwa sejarah perjalanan hidup Nabi saw. sehingga hadits merupakan salah satu sumber sejarah dalam Islam
ISLAM DI SPANYOL DAN SISILIA Dahlan, muh.
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.735 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2580

Abstract

masuknya Islam di Spanyol tidak lepas dari keberhasilan Thariq ibn Ziyad mengalahkan raja Roderick, sehingga kemenangan ini menjadi modal utama bagi Thariq ibn Ziyad dan pasukannya untuk menaklukkan kota-kota penting yang ada di Spanyol. Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa dalam penyerapan ilmu pengetahuan yang dikembangkan umat Islam di sana serta peradabannya, baik dalam hubungan politik, sosial,  maupun ekonomi dam peradaban antar Negara. Adapun kemajuan intelektual yang di dalamnya terdapat ilmu filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, begitu juga dengan bahasa dan sastra, dan kemegahan pembangunan fisik. kemunduran Islam di Spanyol terbagi menjadi dua yaitu: Faktor internal dan Faktor Eksternal. Islam di Sisilia, penguasaan pulau ini berpindah-pindah dalam beberapa abad mulai dari Yunani, Cartage, Romawi, Vandals, dan Byzantium, barulah kemudian dikuasai oleh kaum Muslimin. Kemajuan dunia barat (Eropa) tidak terlepas dari peranan pulau Sisilia, yang merupakan sarana yang paling penting dalam mentransfer khazanah ilmu pengetahuan dan kehidupan spritual umat Islam.  
KERAJAAN BALANIPA PADA ABAD XVI-XVII M Iqmal, Nur
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.449 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2599

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdirinya Kerajaan Balanipa akibat dari kondisi kacau di daerah Mandar. Mambuat empat daerah yaitu: Napo, Samasundu, Mosso, dan Todang-todang membentuk sebuah persekutuan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Balanipa. Kerajaan Balanipa yang berdiri setelah runtuhnya pemerintahan tomakaka menjelma menjadi Kerajaan besar dan disegani. Dalam perkembangannya, Kerajaan Balanipa Mampu menjadi pemegang supremasi politik di wilayah Mandar sekaligus pemeran penting dalam perkembangan Kerajaan-kerajaan yang ada di Mandar.
DINASTI-DINASTI KECIL BANI ABBASIYAH Syahraeni, Andi
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.841 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2587

Abstract

Dinasti kecil sebagian besar berasal dari Arab memecah wilayah kekuasaan Khalifah dari Barat. Pada masa kekuasaan bani Abbasiyah terdapat 5 dinasti kecil yang berada di sebelah barat Baghdad, yakni: Dinasti Idrisiyah, (789 M – 926 M) Dinasti Aghlabiyah, (800 M – 909 M) Dinasti Thuluniyah (868 M – 905 M) Dinasti Ikhsidiyah(935 M – 969 M) Dinasti Hamdaniyah(905 M – 1004 M) Saat dinasti-dinasti kecil sebagian besar berasal dari Arab memecah wilayah kekuasaan Khalifah dari Barat, proses yang sama telah terjadi di Timur terutama dilakukan oleh orang Turki dan Persia.Pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah terdapat 3 dinasti kecil yang berada di sebelah timur Baghdad, yakni: Dinasti Thahiriyah(820 M – 872 M) Dinasti Shaffariyah (867 M – 1495 M) Dinasti Samaniyyah (819 M – 1005 M) Pelepasan wilayah kekuasaan dinasti-dinasti kecil di barat dan timur Bagdad dari Dinasti Abbasiyah disebabkan beberapa factor; Pertama, Karena kebijakan penguasa Bani Abbasiyah yang lebih menitikberatkan kemajuan peradaban dibanding dengan mengadakan ekspansi dan politisasi, sehingga memberi peluang terhadap wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan untuk memerdekakan diri dari pemerintahan Abbasiyah. Kedua, Karena dinasti Abbasiyah tidak diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara, kecuali Mesir, sehingga membuat daerah-daerah yang jauh mendirikan dinastidinasti kecil. Ketiga, Adanya pemberian hak otonom sehingga tidak terkontrol karena berjauhan dari pemerintahan pusat, dan terlalu luasnya kekuasaan Abbasiyah.
PERANAN SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN DALAM PERKEMBANGAN ISLAM DI BIMA Hamzah, Saidin
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.395 KB) | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2600

Abstract

Muhammad Salahuddin lahir dalam lingkungan istana dan dibesarkan oleh para ulama. Dari didikan ulama inilah sehingga membentuk kepribadian sultan sampai tumbuh dewasa. Muhammad Salahuddin di nobatkan menjadi Sultan setelah kematian saudaranya Abdul Azis dan mendapatkan pelajaran dari ulama di daerah dan luar daerahnya sehingga pada masa kepemimpinanya Islam di Bima mengalami perkembangan.  dalam mengembangan Islam di Bima Sultan melakukan pembaharuan sehingga pada masanya Islam di Bima mengalami kejayaan. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh Sultan adalah membagun lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun  non formal, dan masjid-masjid. dalam menunjang kemajuan daerah Bima Sultan membiayai dan memberikan beasiswa kepada remaja yang sekolah di timur tengah dan bagi mereka yang memiliki kemampuan dalam bidang agama.
ARTIKULASI ISLAM DALAM KEBERAGAMAN BUDAYA DI TANAH LUWU (Resolusi Konflik dalam Perspektif Islam) Souli, Rahmat
RIHLAH Vol 4, No 1 (2016): JUNI
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i1.2573

Abstract

Konflik yang terjadi di tanah Luwu diltarbelakangi persoalanpersoalan sepele dan bersifat individual kemudian berkembang menjadi persoalan yang  mengatasnamakan kelompok etnis dan agama, disusupi perbedaan kepentingan, baik kepentingan ekonomi maupun kepentingan sosial budaya. Dari berbagai persoalan yang berakumulasi akhirnya menimbulkan konflik yang menelan koraban nyawa dan harta. Sebagai Umat terbesar di tanah Luwu, umat Islam selayaknya mengambil peran  mengantisipasi konflik melalui penelusuran makna Islam, baik secara konsepsi maupun secara faktual (realitas sejarah). Konsepsi tentang  bergaul dalam masyarakat yang beraneka ragam (plural) etnis dan agama sesungguhnya telah dikemukakan dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Secara faktual dapat dibaca pada kisah Rasulullah dan pengikut-pengikutnya dalam rangka menebarkan kedamaian. Sebagai sarana dalam mensosialisasikan pemaknaan Islam (artikulasi Islam) adalah lewat jalur pendidikan agama dengan jalan penyesuaian kurikulum.

Page 1 of 2 | Total Record : 13