cover
Filter by Year
Articles
143
Articles
Analisis Penulisan al-Kâmil fî al-Târîkh Karya Ibn al-Atsir

Munjin, Shidqy, Setiawan, Satria

RIHLAH Vol 6, No 2 (2018): History and Culture
Publisher : RIHLAH

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Al-Kâmil fî al-Târīkh is the most important work of Ibn al-Athir. Ibn al-Athir wrote this work by collecting data from his predecessors and adding to the events that occurred during his time. Ibn al-Athir wrote down all the events witnessed by his own eyes, especially those relating to the saliibn war. This paper attempts to analyze and compare the work of Ibn al-Athir in terms of historical aspects that developed in the Islamic world during his time, especially with Târikh al-Rusul wa al-Muluk by Ibn Jarir al-Tabari. The research method used in this study was library research, where the study was explained descriptively and critically analyzed. Then the type of data used is literature literary data, both primary and secondary. The results of this study indicate that Ibn al-Athir with his work al-Kâmil fî al-Tîrīkh was a initiator of a new historical study in the Islamic world. Al-Kâmil fî al-Târîkh merupakan karya terpenting dari Ibn al-Atsir. Ibn al-Atsir menulis karyanya ini dengan mengumpulkan data-data dari para pendahulunya dan ditambahkan dengan kejadian yang terjadi pada masanya. Ibn al-Atsir menuliskan semua kejadian yang disaksikan oleh matanya sendiri, terutama yang berkaitan dengan perang saliibn Tulisan ini mencoba menganalisis dan membandingkan karya Ibn al-Atsir tersebut ditinjau dari aspek ilmu kesejarahan yang berkembang  di dunia Islam pada masanya, terutama dengan Târikh al-Rusul wa al-Muluk karya Ibn Jarir al-Thabari. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah riset kepustakaan, dimana kajiannya dijelaskan secara deskriptif dan analisis kritis. Kemudian jenis data yang digunakan adalah data literer kepustakaan, baik primer maupun sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ibn al-Atsir dengan karyanya al-Kâmil fî al-Târîkh merupakan seorang penggagas kajian kesejarahan yang baru dalam dunia Islam.

Peran Dinasti Mamluk dalam Membendung Ekspansi Bangsa Mongol ke Dunia Islam

Syukur, Syamzan, Anning, mastanning

RIHLAH Vol 6, No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Mamluk berarti budak atau hamba yang ditawan dan dididik, pengetahuan agama dan pengetahuan militer serta ilmu pengetahuan lainnya oleh Dinasti Ayyubiyah. Dalam proses pemerintahan, Mamluk berubah menjadi Dinasti. Sistem pemerintahannya adalah sistem militeristik (pergantian kepemimpinan berdasarkan karir militer). Walaupun pada perkembangannya kemudian, sistem pergantian pemimpinnya, berubah menjadi sistem monarchieheredetis. Kemajuan yang diperoleh Dinasti Mamluk tidak hanya dari segi militer, tetapi ilmu pengertahuan, arsitektur dan bidang ekonomi. Sejak Mamluk berkuasa, Mesir menjadi penghubung jalur perdagangan Timur dan Barat. Kehadiran Dinasti Mamluk menambah catatan perstasi kerajaan Islam dalam pentas politik terutama peranannya dalam membendung ambisi pasukan Tartar (Bangsa Mongol) untuk menguasai Islam yang pada saat itu mengalami kemajuan peradaban. Tentara Mamluk dan Mongol saling berhadapan di Ayn Jalut dan pertempuran pun terjadi pada tanggal tahun 658 H./1260. Strategi yang digunakan oleh Dinasti Mamluk dalam mempersatukan umat Islam membuat pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan Mongol.

Karakteristik Perkembangan Tafsir al-Quran pada Abad IX (Analisis Historis Metodologis)

Miswar, Andi

RIHLAH Vol 6, No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

In the development of quranic interpretation, the IX century is known as the mutaakhhirin period. In this era interpretation shows fundamental change, for example the change from the form of bi al-matsur (riwayah) exagesis to the form of dirayah (al-rayu) exegesis, as it is practiced in jalalayn exagesis by jalaluddin al-mahally and jalaluddin al-sayuti that it is using ijmali or global method, and placing exegesis within it is global or general context. The exagesis book was published in that century is the interpretation of tafsir tanwir al-miqbas min tafsir Ibnu Abbas exegesis by al-fairuzab?di applies ijmali method such as tafsir bi al-matsur and tafsir al-D?r al-mans?r fi tafsir al-mats?r by jalaluddin al-sayuti, which applying ijmali and muq?ran, in the form of tafsir bi al-matsur, the exagesis is classified as general exegesis. The tendency of exegesis mostly impluenced by their personal understanding, school of thought, and qualification of their knowledge.Dalam Perkembangan tafsir al-Quran, abad IX dikenal dengan periode mutaakhhirin. Di era ini kegiatan penafsiran mengalami perkembangan yang cukup signifikan, misalnya dari bentuk tafsir bi al-matsur (riwayah) ke bentuk tafsir dirayah (al-rayu) seperti yang terdapat dalam Tafs?r Jalalayn Oleh Jalaluddin al-Mahally dan Jalaluddin al-Syayuti yang menggunakan metode ijm?li atau global, serta memberikan gambaran penafsiran yang bercorak umum. Kemudian beberpa tafsir yang lahir pada masa tersebut, diantaranya, Tafs?r Tanw?r al-miqb?s min tafs?r Ibnu Abb?s oleh al-fairuzab?di menggunakan metode ijm?li dengan kategori bentuk tafsir bi al-Mats?r, Dan Tafs?r al-D?r al-Mants?r fi tafsir al-mats?r oleh Jalaluddin al-Say?ti disamping menggunakan metode muq?ran juga ijmali, dengan bentuk tafsir bi al-mats?r tafsir ini dikategorikan pula bercorak umum. Kecendrungan Mufassir dalam melakukan penafsiran kebanyakan dipengaruhi oleh pemahaman pribadi, mazhab, dan kwalifikasi keilmuan mereka.

Pengembangan Syiar Islam di Kerajaan Bone pada Masa Pemerintahan La Maddaremmeng Tahun (16251644 M.)

Kadril, Muhammad

RIHLAH Vol 6, No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The aimed of this research to know how far the role of La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh in doing Islam development magnigicience in Bone kingdom in the 17thcentury, as far that became problems in this research, the researcher divided into several parts, they were: The effort La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh in Islam religion development magnigicience in Bone Kingdom, and the defiance was faced by La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh in applying the Islam values in Bone Kingdom. The kind of this research was history research.To reveal the reality of history that had been done in the 17thcentury, so that the researcher used some approaches that were very relevant with this research.As far some approaches were used by the researcher were history approach, religion, and sociology.The result of this research, the researcher got some efforts that were done by La Maddaremmeng, which were slave abolition, made parewa syara, and did the purification of religion.Tujuan penelitian ini untuk mengkaji sejauh mana peranan La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh dalam melakukan pengembangan syiar Islam di Kerajaan Bone pada abad XVII, adapun yang menjadi permasalahan dalam tulisan ini, penulis membagi ke dalam beberapa bagian diantaranya:Usaha La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh dalam Pengembangan syiar Agama Islam di Kerajaan Bone, dan tantangan yang dihadapi La Maddaremmeng Sultan Muhammad Shaleh dalam mengaplikasikan nilai-nilai Islam pada Kerajaan Bone. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah. Untuk mengungkap realitas sejarah yang terjadi pada abad ke XVII, maka penulis mengunakan beberapa pendekatan yang tentu sangat relevan dengan penelitian ini. Adapun beberapa pendekatan yang digunakan oleh penulis yakni pendekatan sejarah, agama, dan sosiologi. Hasil penelitian ini, penulis mendapatkan beberapa usaha yang dilakukukan oleh La Maddaremmeng diantaranya penghapusan budak, membentuk parewa syara, dan melakukan pemurnian agama.

Kontribusi Dinasti Abbasiyah Bidang Ilmu Pengetahuan

Intan, Salmah

RIHLAH Vol 6, No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This article aimed to reveal the progress of Muslims in the fields of religion, philosophy, education and science in the era Abbasid Dynasty, they were: the history of the emergence of the Abbasids, and the progress achieved by the Abbasids in the fields of religion, philosophy, education and science.The Abbasid dynasty was officially established in 750 AD, founded by Abu Abbas al-Saffah who was assisted by Abu Muslim al-Khurasani by seizing the power from the previous dynasty (Banu Umayah). During the Abbasid dynasty, developments and advances in various fields were fairly rapid. At that time, Muslims had reached the peak of glory, both in the fields of economics, civilization and power. In addition, various branches of science have also developed, coupled with the many translations of books from foreign languages to Arabic. In the field of religious science, several scholars emerged in the field of law or fiqh with various schools. The field of hadith found efforted to trace and collect hadith andthe science of interpretation hadalso stood alone. In the field of science and technology, medical science or medicine had developed quite rapidly, which was marked by the establishment of medical schools which also established institutions in certain fields such as Bait al-Hikmah.Tulisan ini bertujuan mengungkapkan tentang kemajuan umat Islam dalam bidang ilmu agama, filsafat, pendidikan dan sains pada masa Dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah secara resmi berdiri pada tahun 750 M., didirikan oleh Abu Abbas al-Saffah yang dibantu oleh Abu Muslim al-Khurasani dengan merebut kekuasaan dari dinasti sebelumnya (Bani Umayah). Pada masa itu, Umat Islam telah mencapai puncak kemuliaan, baik dalam bidang ekonomi, peradaban dan kekuasaan. Selain itu juga telah berkembang berbagai cabang ilmu pengetahuan, ditambah lagi dengan banyaknya penerjemahan buku-buku dari bahasa asing ke bahasa Arab. Dalam bidang ilmu agama, muncullah beberapa ulama dalam bidang hukum atau fikih dengan berbagai mazhab. Dalam bidang hadis ditemukan usaha-usaha untuk penelusuran dan penghimpunan hadis. Ilmu tafsir yang sudah berdiri sendiri. ilmu kedokteran atau pengobatan telah berkembang cukup pesat, yang ditandai dengan berdirinya sekolah kedokteran juga dibangun lembaga dalam bidang tertentu seperti Bait al-Hikmah.

Nabi Muhammad saw. (Pemimpin Agama dan Kepala Pemerintahan)

Dahlan, M.

RIHLAH Vol 6, No 2 (2018): History and Culture
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This article aimed to know about the process of preaching of the Prophet Muhammad saw. in spreading Islam, and the leadership of the Prophet Muhammad saw. as the leader of the religion and nation. The first principle is the construction of the Masjid, the second is the Ukhuwwah Islamiyyah, the third is the relationship of friendship among other parties that are Muslims.The greatest success of Prophet Muhammad is able to become the leader of the country and religion which has laid on the foundations of politics in the state of life and with it has become the origin of the spread of Islam until it is able to master 2/3 of the world and become the largest religion nowadays.The realization of the Medina Charter is evidence of the nature of the Prophet Muhammad's vision. He not only emphasized Muslims, but he also accommodated the interests of the Jews and united the two peoples under his leadership. The Prophet Muhammad saw. succeeded in creating unity, as well as brotherhood between the Muhajirin and Anshar. Among the Anshar, Prophet Muhammad saw.is admitted to have recaptured the interconnected relations that had always been hostile.Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui: (1) bagaimana proses dakwah Nabi Muhammad saw. dalam menyebarkan agama Islam, (2) bagaimana kepemimpinan Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin Agama dan pemimpin negara.Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, ia segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar pertama, pembangunan masjid, Dasar kedua, adalah ukhuwwah islamiyyah, Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang beragama Islam.Kesuksesan terbesar Nabi Muhammad adalah mampu menjadi pemimpin negara dan (sekaligus agama) yang telah meletakkan dasar-dasar politik dalam kehidupan bernegara dan dengan hal tersebut telah menjadi cikal bakan tersebarnya agama Islam hingga mampu menguasai 2/3 dunia dan menjadi agama terbesar hingga sekarang. Terwujudnya Piagam Madinah merupakan bukti sifat kenegarawan Nabi Muhammad saw. Beliau tidak hanya mementingkan umat Islam, tapi juga mengakomodasi kepentingan orang Yahudi dan mempersatukan kedua umat seumpun ini di bawah kepemimpinannya. Bagi umat Islam Nabi Muhammad saw. berhasil menciptakan persatuan dan kesatuan, serta persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Di kalangan kaum Anshar Nabi diakui telah merekat kembali hubungan antarsuku yang sebelumnya selalu bermusuhan.

Kepemimpinan dan Kontribusi Sulaiman Alqanuni di Turki Utsmani (Suatu Tinjauan Sejarah)

Zulfikar, Ahmad

RIHLAH Vol 6, No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hasil penelitan ini menujukkan bahwa: Sultan Sulaiman Alqanuni, lahir pada taggal 6 November 1495 M. di Tarabzun,ayahnya Salim I, ibunya Ayese Hafsah Valide Sultan, dia memiliki dua Istri dan delapan anak. Setelah sang ayah tutup usia, pada 30 September 1520 M, Sulaeman naik tahta menjadi Sultan ke-10 Kesultanan Turki Usmani. Sultan Sulaiman Alqanuni membawa banyak perubahan besar bagi Turki Utsmani, pencapaiannya bahkan melebihi apa yang sudah diraih ayahnya dan para Sultan pendahulunya. Sultan Sulaiman Alqanuni tutup usia pada usia 71 tahun pada tanggal 5 juni 1566M, jasadnya dimakamkan di masjid Agung Sulaymaniyah yang berada di kota Istanbul. Kepemimpinan Sulaiman Alqanuni merupakan puncak keemasan Islam di Turki Utsmani, berhasil mencatatkan sejarah besar menjadikan Turki Utsmani sebagai Negara adikuasa, yang disegani diberbagai belahan penjuru dunia.Dia juga berhasil menghimpun serta menjalankan Undang- undang yang berlandaskan Syariat Islam, menghimpun dan menambah pasukan elit jennisari dan memanggil kembali Khairuddin Barbarossa lalu mengangkat nya sebagai panglima tertinggi angkatan laut Turki Utsmani, pada masa kepemimpinan Sulaiman Alqanuni merupakan masa dimana kesultanan Turki Utsmani berhasil memegang kekuasaan terbesar, yang meliputi wilayah Selatan (Mediterania dan Afrika Utara), wilayah Barat (Eropa Timur), serta wilayah Timur (Persia). Kontribusi Sulaiman Alqanuni meliputi berbagai bidang diantaranya: di bidang politik, di bidang Ekonomi, di bidang pendidikan, dan di bidang arsitektur.

Pendidikan Islam Masa Kerajaan Islam di Nusantara

Mihara, Susmihara

RIHLAH Vol 6, No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pada permulaan abad ke -17 Islam telah merata di hampir seluruh wilayah nusantara dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam nusantara, kerajaan-kerajan tersebut adalah Perlak, Samudra Pasai, Aceh Darussalam di Sumatera, Demak, Pajang, Mataram, Cirebon dan Banten di Jawa, Banjar dan Kutai di Kalimantan, Gowa, Tallo dan Bone di Sulawesi, Ternate dan Tidore di Maluku serta masih banyak lagi kerajaan Islam di nusantara yang belum sempat penulis bahas. Proses pendidikan Islam di kerajan-kerajaan Islam nusantara mendapat perhatian yang besar dari para raja atau sultan yang memerintah kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Hal ini dibuktikan dengan munculnya lembaga-lembaga pendidikan Islam serta temapt-tempat ibadah yang membawa pengaruh positif terhadap kemajuan pendidikan masyarakat Islam.

Perjanjian Hudaibiyah (suatu Analisis Historis tentang Penyebaran Agama Islam di Jazirah Arab)

Difinubun, Rafli

RIHLAH Vol 6, No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pokok masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana perkembangan penyebaran agama Islam di Jazirah Arab Pasca perjanjian Hudaibiyah, kemudian pokok masalah ini dapat dirumuskan dalam beberapa sub masalah yaitu: 1). Bagaimana sejarah atau proses perjanjian Hudaibiyah?2). Bagaimana konsekuensi atau hasil dari perjanjian Hudaibiyah terhadap penyebaran agama Islam di Jazirah Arab?Hasil penelitian menunjukan bahwa pada Bulan Dzulqadah tahun ke-6 H, Rasulullah saw. bersama rombongan kaum muslimin berangkat ke Makkah dengan maksud untuk melaksanakan ibadah umrah, bukan untuk berperang, dalam perjalanan menuju Makkah Rasulullah berusaha menampakkan dengan gamblang niat merekauntuk menghormati Kabah. Ketika mereka sampai di sebuah tempat bernama Dzu al-Halifah mereka berihram umrah agar orang-orang Makkah mengetahui bahwa kedatangan Rasulullah ke Makkah bersama romobongan kaum Muslimin tidak bermaksud lain kecuali hendak berziarah ke Baitullah.Perjanjian Hudaibiyah membuahkan beberapa keberhasilan yang sangat gemilang diantaranya adalah berkembang syiar Islam, kehidupan masyarakat menjadi lebih aman dan damai, membuka jalan kepada pembebasan kota Mekah dari Musyrikin Quraisy, dan orang Islam dapat berhubungan dengan kabilah Arab yang lain. Dengan demikian agama Islam mudah tersebar ke beberapa wilayah Arab bahkan Islam dan ajarannya dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia, sekalipun reaksi dan ancaman bermacam-macam diterima Nabi dan para sahabat dan pengikutnya, namun hasil dari perjanjian Hudaibiyah menunjukkan bahwa misi Nabi semakin terbuka dan diterima oleh masyarakat luas.Menganalisa setiap butir isi perjanjian Hudaibiyah tersebut dan implikasinya, maka tidaklah terlalu berlebihan kalau dinilai bahwa Rasulullah saw. telah menggores sejarah diplomasi luar biasa di muka bumi. Goresan sejarah tersebut perlu digarisbawahi sebagai goresan diplomasi yang sangat penting untuk ditelaah dan diambil nilai-nilai yang melandasinya dan kalau perlu diaplikasikan untuk warna sebuah pergumulan diplomasi saat ini. Perjanjian Hudaibiyah telah mencatatkan diri Rasulullah saw. sebagai diplomat atau juru runding yang sangat cemerlang dan layak diikuti, minimal ditelaah sebagai sebuah ilmu yang menambah khazanah ilmu diplomasi.

Dampak Perang Makassar terhadap Umat Islam Sulawesi Selatan Abad XVII-XVIII M.

Yani, Ahmad

RIHLAH Vol 6, No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah; Pertama, mendeskripsikan kondisi umat Islam pra Perang Makassar. Kedua. mendeskripsikan proses kejadian Perang Makassar. Ketiga, mendeskripsikan eksitensi umat Islam pasca Perang Makassar.Jenis penelitian adalah library researchdengan menggunakan pendekatan historis, politik, dan sosiologi. Untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian ini, maka hal tersebut melalui metode sejarah yang meliputi empat tahapan kritis, yaitu: (1) heuristik atau pengumpulan data, (2) kritik sumber, (3) interpretasi dan (4) penulisan laporan atau historiografi.Hasil penelitian ini terungkap bahwa keberlangsungan Perang Makassar antara kesultanan Makassar dengan VOC Belanda bukan semata-mata karena persaingan keduanya dalam pelayaran dan perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Maluku. Namun, ada pula faktor lain yang menjadi pemicu perang tersebut. Faktor tersebut adalah kondisi internal masyarakat dari kerajaan-kerajaan Islam di Sulawesi Selatan turut mempengaruhi konflik atau Perang Makassar. Faktor internal tersebut adalah fakta geografis yang stategis berada pada pertengahan jalur pelayaran dan perdagangan antara Maluku di Timur dan Batavia dan Malaka di barat; kondisi kultural masyarakat setempat yang dikenal keras dan berani (de hantjens van het Oesten) sama kerasnya dengan tabiat orang Belanda, kondisi politik masyarakat setempat yang diliputi kompetisi dalam memperoleh superiotas diantara mereka. Hal-hal demikian menjadi sumber konflik yang kelak menimbulkan perang yang dahsyat yang dikenal dengan Perang Makassar. Perang Makassar merupakan perang yang pernah dialami oleh VOC Belanda di Asia Tenggara yang berakhir dengan kemenangan VOC Belanda terhadap kesultanan Makassar. Kemenangan VOC Belanda tersebut sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat dari kerajaan-kerajaan Islam Sulawesi Selatan. Hal tersebut oleh sebagian masyarakat diterima sebagai sebuah kekalahan sebagai takdir dari Allah SWT sehingga mereka tetap tinggal di Makassar dengan mengikuti aturan Kompeni Belanda sebagai resiko dari kekalahan perang.Adapula kelompok yang merespon hal tersebut dengan melepaskan diri dari ikatan-ikatan keduniaan yang berhubungan dengan kekuasaan dan VOC dengan memasuki dunia tarikat.Ada pula yang melakukan diaspora meninggalkan Sulawesi Selatan ke berbagai daerah di Nusantara. Diantara mereka ada secara extrim berniat tetap melanjutkan perlawanan terhadap VOC adapula yang semata-mata ingin mengadu nasib atau memperbaiki kehiduapan mereka di negeri rantau.Dalam penelitian ini melengkapi/mendukung teori konflik sosial David Lockwood yang berasumsi bahwa perselisihan atau permusuhan antara individu atau antara kelompok disebabkan karena kompetisi atau interest terhadap kepentingan tertentu. Demikianlah rempah-rempah sebagai komoditas dagang menjadi sumber konflik antara kesultanan Makassar-VOC Belanda. Namun, konflik tersebut tidak akan menjadi menimbulkan perang dahsyat sekiranya tidak ada faktor lain yang menjadi pemicunya. Kondisi geografis, kondisi kultural (tabiat), kondisi politik turut menjadi pemicu.