cover
Filter by Year
Suska Journal of Mathematics Education
Articles
55
Articles
Pengembangan Instrumen Penilaian Autentik Pada Materi Segiempat Kelas VII

Efuansyah, Efuansyah -, Wahyuni, Reny -

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research aims to produce authentic assessment instruments in mathematics learning materials plan geometry class VII in terms of aspects of validity and practicality as well as to determine the potential effect. This study uses research development methods (development research) type of formative research involving 32 seventh grade students of SMP Negeri 24 Palembang. In this study a series of instruction developed through several stages of self evaluation, expert reviews and one-to-one, small group, and field tests. This research produces authentic assessment on the material properties of the material, the circumference and area of a rectangle. This study includes a series of learning consists of two activities on properties and circumference & area of a rectangle. The results of the development of authentic assessment instruments shows that with them knowing that they are assessed by three aspects (cognitive, affective, and psychomotor) students are very enthusiastic to learn, able to work on the problems with a good, brave respond and put forward the idea of both written and verbal are associated with a square long.

Analisis Kemampuan Representasi Matematis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Lingkaran Pada Kelas VII-B Mts Assyafi’iyah Gondang

Bagus, Candra

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian  kualitatif  ini bertujuan untuk  menganalisis kemampuan representasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal.  Penelitian ini dilakukan di kelas VII-B MTs Assyafi’iyah Gondang. Kemampuan representasi matematis adalah kemampuan siswa dalam mengungkapkan ide-ide matematika yang dapat berupa diagram, tabel, grafik, simbol matematika, model matematika, kata-kata, dan sebagai alat bantu untuk menyelesaikan permasalahan. Penelitian ini difokuskan pada kemampuan representasi visual, representasi persamaan atau ekspresi matematis, dan representasi kata atau teks tertulis dalam menyelesaikan soal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, tes,wawancara, dan dokumentasi. Representasi sebenarnya bukan menunjukkan kepada hasil atau produk yang diwujudkan dalam konfigurasi atau konstruk baru dan berbeda, tetapi proses berfikir yang dilakukan untuk dapat mengungkap dan memahami konsep, operasi, dan hubungan-hubungan matematik dari suatu konfigurasi. Artinya, proses representasi matematik berlangsung dalam dua tahap yaitu secara internal dan eksternal. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis menurut Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan representasi matematis sangat penting dan dibutuhkan oleh siswa dalam memahami materi yang dierikan dan menyelesaikan soal, jika kemamuan representasi matematis kurang maka menyebabkan kurangnya pemahaman siswa dalam materi yang diberikan sehingga siswa susah memahami dan mengerjakan soal yang disediakan.

Perbedaan Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa antara Model Eliciting Activities dan Discovery Learning

Asmara, Riska, Afriansyah, Ekasatya Aldila

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa terhadap materi pembelajaran menjadikan siswa menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit. Aktivitas pembelajaran yang dilakukan hendaknya berpusat pada siswa, agar siswa memiliki kebebasan untuk memperdalam materi dengan pemahamannya sendiri. Dua model pembelajaran yang berpusat pada siswa dipilih sebagai solusi dalam mengatasi rendahnya kemampuan komunikasi matematis yaitu Model Eliciting Activities dan Discovery Learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa antara yang mendapatkan pembelajaran Model Eliciting Activities dengan yang mendapatkan pembelajaran Discovery Learning. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas X SMA Negeri 15 Garut. Sampel dipilih secara acak sebanyak dua kelas yaitu kelas X MIPA 8 sebagai kelas eksperimen I yang berjumlah 32 orang siswa dan kelas X MIPA 7 sebagai kelas eksperimen II yang berjumlah 30 orang siswa. Kelas eksperimen I yaitu kelas yang mendapatkan pembelajaran Model Eliciting Activities dan kelas eksperimen II yaitu kelas yang mendapatkan pembelajaran Discovery Learning. Instrumen penelitian yang digunakan Instrumen tes kemampuan komunikasi matematis berupa soal uraian (Pretest dan Posttest) dan instrumen non tes berupa angket. Berdasarkan hasil analisis secara statistik diperoleh kesimpulan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa antara yang mendapatkan pembelajaran Model Eliciting Activities dengan yang mendapatkan pembelajaran Discovery Learning. Peningkatan kemampuan komunikasi matematis pada kelas Model Eliciting Activities berada pada intepretasi sedang dan kelas Discovery Learning berada pada interpretasi rendah. Respon siswa terhadap pembelajaran Model Eliciting Activities dan pembelajaran Discovery Learning menunjukkan respon yang baik.

KUALITAS HASIL BELAJAR STATISTIKA SISWA MTs YANG DIBELAJARKAN DENGAN PENDEKATAN PROBLEM POSING

Nuralam, Nuralam Nuralam

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

High and low acquisition of students mathematics learning outcomes is influenced by internal and external factors. External factors of concern are related learning approaches so students are easy to learn mathematics. There is a tendency for the role of students to be more passive and teachers to be more active in the process of learning mathematics. This condition results in low acquisition of mathematics learning outcomes. One alternative solution is to teach students through the problem posing approach, so as to contribute to the involvement of students in learning mathematics. The purpose of this study was to find out: (1) statistics learning outcomes of students taught through the problem posing approach were higher than those taught through direct learning approaches and (2) student responses after the statistical learning process with a problem posing approach. This study uses a quasi-experimental study with a control group only design post test design. The population is students of MTsS Darul Hikmah Aceh Besar grade VIII and the sample was total sampling. Data were collected by statistical learning outcomes and response questionnaires. Data analysis techniques used t test for test data and response questionnaire data through analysis of average score criteria. Based on the results of the analysis of the test data obtained that tcount >ttable is 2,45  >  1,70. From the results of the questionnaire data the average score was 3.29. It was concluded that the statistical learning outcomes of students taught through the problem posing approach were higher than those taught through direct learning approaches. And the student response questionnaire after the statistical learning process with the problem posing approach in the very positive category

Efektifitas Bahan Ajar Mata Kuliah Matematika Diskrit Berbasis Konstruktivisme

Siregar, Majidah Khairani

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar berbasis konstruktivisme yang valid, praktis dan efektif pada mata kuliah matematika diskrit. Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku kerja matematika diskrit berbasis konstruktivisme. Penelitian ini termasuk dalam penelitian pengembangan dengan yang terdiri dari 3 tahap yaitu: tahap Pendefenisian, tahap Perancangan dan tahap Pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bahan ajar dinyatakan valid oleh validator, yang artinya bahan ajar valid dan sudah dapat digunakan oleh mahasiswa yang mengambil matakuliah Matematika Diskrit di STKIP Ahlussunnah. Dan hasil analisis validasi RPKPS termasuk dalam kategori valid, artinya RPKPS yang digunakan sudah sesuai dengan bahan ajar yang digunakan. (2) Analisis hasil angket diperoleh dalam kategori praktis, yang artinya  bahan ajar mudah digunakan. 3) Analisis hasil  tes menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil ujian mahasiswa berada pada tingkat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar sudah valid praktis dan efektif

Profil Kesalahan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Soal pada Mata Kuliah Kalkulus Diferensial berdasarkan Gaya Kognitif dan Habits of Mind

Nufus, Hayatun, Ariawan, Rezi

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan profil kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan soal pada mata kuliah kalkulus differensial berdasarkan gaya kognitif dan habits of mind. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian adalah mahasiswa semester 3 jurusan Pendidikan Matematika FTK UIN Suska Riau semester ganjil 2017/2018 yang sedang menempuh mata kuliah kalkulus peubah banyak. Intrumen pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lembar GEFT untuk mengidentifikasi gaya kognitif, lembar angket habits of mind untuk memperoleh informasi tentang habits of mind mahasiswa, serta lembar tes soal kemampuan berpikir koneksi matematis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari teknik tes dan teknik nontes. Teknik analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa kesalahan yang dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan soal pada mata kuliah differensial terbagi atas tiga jenis kesalahn, yaotu kesalahan fakta, operasi dan prinsip serta kesalahan yang paling banyak dilakukan adalah kesalahan prinsip.

Proses Berpikir Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Berdasarkan Teori Pemrosesan Informasi

Kusaeri, Kusaeri

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa dalam menyelesaikan masalah matematika berdasarkan teori pemrosesan informasi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian dilaksanakan di salah satu SMAN favorit di kota Surabaya kelas XIMIA-4. Subjek penelitian dipilih berdasarkan skor Tes Kemampuan Matematika (TKM) dan masukan dari guru bidang studi matematika. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari masing-masing dua siswa yang berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua siswa menerima informasi atau stimulus berupa soal matematika melalui sensory register dengan indra penglihatan dan pendengaran. Kemudian terjadi attention setelah siswa membaca soal dan muncul perception saat memahami soal. Perception terjadi ketika siswa melakukan retrieval konsep yang dibutuhkan dari long term memory untuk menyelesaikan masalah. Perbedaan saat melakukan retrieval pada masing-masing siswa yaitu siswa yang berkemampuan matematika tinggi mengalami lupa atau forgotten lost terhadap suatu konsep tertentu. Sedangkan siswa yang berkemampuan matematika sedang mengalami kesalahan atau retrieval failure dalam menjelaskan konsep terkait pengertian sudut elevasi. Sedangkan bagi siswa yang berkemampuan matematika rendah sering mengalami kesalahan dan lupa dikarenakan konsep-konsep yang dibutuhkan di short term memory tidak tersimpan dengan baik oleh long term memory.

Habits of Mind Calon Guru Matematika dalam Pemecahan Masalah Matematis

Dzulfikar, Ahmad

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.762 KB)

Abstract

Habits of mind had the impact toward mathematical problemsolving skills, especially for the pre-service teacher who will facilitate the development of their students’ mathematical problem solving skills in the future. This qualitative descriptive study aimed to analyze mathematical problem solving habits of mind of the pre-service teacher. 22 undergraduate students were the research subject that was chosen by purposive sampling technique. The research instrument was habits of mind scale, interview guide, and mathematical problemsolving test. The study found that level of mathematical problem solving habits of mind of the pre-service teacher was apprentice and practitioner. Based on the indicators, habits of thinking flexibly had the largest frequency of subject who had novice level. Whereas, flexibility in choosing and using strategy determined whether the subject could solve the problem or not. This research hypothesized that this condition was affected by prior mathematical ability. Therefore, future research and development of mathematical problem solving habits of mind of the pre-service teacher were needed.

KECERDASAN EMOSIONAL GURU MATEMATIKA DALAM MEMBANGUN KARAKTER SISWA

Yassar, Meilinda Manda

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.174 KB)

Abstract

ABSTRACT: In the current era, education is not only focused on the academic teacher, but a teachers personality is also very aware of. In realizing quality education, emotional intelligence can be used as an important thing to acquire knowledge for an educator to improve his quality as a teacher. The task of a math teacher is tough, a teacher must have a pedagogic and academic competence, personal competence and social competence. The competence of the four competencies kepribadianlah critical note, because most math teachers in Indonesia lacks emotional intelligence. This is caused by the material and metedologi given LPTK and teacher training institutions associated with personal competence remains low. If emotional intelligence is developed and trained math teachers well, the personality of the teacher will mature and are emotionally intelligent  that professionalism of    math teacher can be achieved. To that end, the math teacher is expected to have all the necessary competence, in order to achieve quality education and make the learning process successfully.ABSTRAK: Pada zaman sekarang, pendidikan tidak hanya terfokus kepada akademik seorang guru saja, namun kepribadian seorang guru pun sangat diperhatikan. Dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas, kecerdasan emosi dapat dijadikan satu hal yang penting untuk memperoleh ilmu pengetahuan bagi seorang pendidik untuk meningkatkan kualitasnya sebagai guru. Tugas seorang guru matematika memang berat, yaitu seorang guru harus mempunyai kompetensi pedagogik dan akademik, kompetensi kepribadian, serta kompetensi sosial. Dari keempat kompetensi tersebut kompetensi kepribadianlah yang sangat diperhatikan, karena sebagian guru matematika di Indonesia kurang memiliki kecerdasan emosional. Hal ini disebabkan oleh materi dan metedologi yang diberikan LPTK dan lembaga pembinaan guru yang terkait dengan kompetensi kepribadian masih terbilang rendah. Apabila kecerdasan emosional guru matematika dikembangkan dan terlatih dengan baik, maka kepribadian seorang guru tersebut akan matang dan memiliki emosi yang cerdas sehingga keprofesional guru matematika pun dapat dicapai. Untuk itu, guru matematika diharapkan mempunyai setiap kompetensi yang diperlukan, guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan membuat proses belajar mengajar berhasil.

IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERPIKIR FORMAL SISWA SMA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF

Syawahid, Muhammad, Nurhardiani, Nurhardiani

Suska Journal of mathematics Education Vol 4, No 1
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.879 KB)

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi berpikir formal siswa SMA kelas X dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari gaya kognitif field independent dan field dependent. Siswa diminta untuk mengerjakan tes GEFT dan soal kemampuan matematika kemudian diwawancarai. Indikator yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir formal adalah: (1) mampu memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan dengan benar, (2) mampu memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan kurang tepat atau terdapat kesalahan, (3) tidak dapat memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan.  Dari hasil penelitian, diperoleh dari  66 siswa yang diberikan tes GEFT, terdapat 30 siswa dengan gaya kognitif field independent dan 36 siswa dengan gaya kognitif field dependent. Dari 30 siswa dengan gaya kognitif field independent diperoleh 2 siswa dengan kemampuan berpikir formal sangat baik berarti hanya 7%, 19 siswa dengan kemampuan berpikir formal baik berarti 63%, dan 9 siswa dengan kemampuan berpikir formal cukup baik berarti 30%. Sedangkan yang dari 36 siswa dengan gaya kognitif field dependent diperoleh 6 siswa dengan kemampuan berpikir formal cukup baik artinya 16% dan 30 siswa dengan kemampuan berpikir formal kurang artinya 84%. Kemampuan berpikir formal sangat baik ditunjukkan dengan kemampuan memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan yang benar pada dua soal yang diberikan. Kemampuan berpikir formal baik ditunjukkan dengan kemampuan memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan kurang tepat atau terdapat kesalahan pada salah satu soal yang diberikan. Kemampuan berpikir formal cukup baik ditunjukkan dengan kemampuan memberikan alasan disetiap langkah yang dilakukan hingga memperoleh kesimpulan kurang tepat atau terdapat kesalahan pada dua soal yang diberikan. Kemampuan berpikir formal kurang baik. ditunjukkan dengan ketidakmampuan siswa dalam memberikan alasan disetiap langkah yang diberikan.