cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Buletin Keslingmas
ISSN : 0215742X     EISSN : 26558033     DOI : -
Core Subject : Health,
Buletin Keslingmas mencakup bidang penelitian bidang sanitasi /penyehatan air, penyehatan udara, penyehatan makanan, penyehatan tanah/ pengelolaan sampah, pengendalian vektor, penyehatan sarana fasilitas, Kesehatan dan Keselamat Kerja, Epidemiologi Kesehatan Lingkungan. Buletin Keslingmas Terbit Empat Kali Setiap Tahun pada bulan Maret, Juni, September dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
STUDI PENGOLAHAN LIMBAH CAIR PENYAMAKAN KULITDI PT BUDI MAKMUR KECAMATAN GEDONG KUNING YOGYAKARTA TAHUN 2014 Astiani, Sri Rejeki Indah; Ramelan, Djamaluddin
Buletin Keslingmas Vol 34, No 1 (2015): Bulletin Keslingmas Vol 34 No 1 Tahun 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2449.263 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v34i1.21

Abstract

PT Budi Makmur is one of the made leather industry that located in Yogyakarta. It processing a raw leather which from goat leather that processed into wolves, shoes, etc. PT Budi Makmur also produce water waste that flows to the river and if the waste is not produced in the right way, the waste will be very dangerous for the ecosystem in that river.The aim of this research are to know the process of the liquid waste producing leather tanning, the parameter of the liquid waste before and after through the producing process (COD, BOD, TSS dan pH) , and the condition of the liquid waste producing leather tanning.The kind of this research is descriptive. The research done by collecting the field data an laboratorium, and then analyzed and compared with the existing theory and quality of the liquid waste producing leather tanning.The result show that the source of the waste produce from the leather tranning. Liquid waste that produced is about 8.000-12.000 gallon per 1.000 wet leather pond that produced. The quality of the influent is BOD 1.946mg/lt, COD 1965mg/lt, TSS 1.774mg/ltd and pH 7.50. The quality of the effluent is BOD 98.61mg/lt, COD 100mg/lt, TSS 1130mg/lt and pH 7,49. The step of the liquid waste processing are: filtering ink, equalitation ink, sedimentation, aeration and active mud.The writer conclude that PT Budi Makmur has already optimal to decrease the content that contained in the leather-liquid waste producing but the effluent that is produced still exceed the exsisting standart quality. The suggestion to PT Budi Makmur is to more care about the liquid waste producing.
DESKRIPSI PELAKSANAAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK (PSN) DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KELURAHAN KARANGPUCUNG KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014 Pramurditya, Ratna; Widyanto, Arif
Buletin Keslingmas Vol 34, No 1 (2015): Bulletin Keslingmas Vol 34 No 1 Tahun 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2448.932 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v34i1.40

Abstract

DHF incidence rate increases caused by the lack of clean and healthy behaviors. DHF is caused by dengue virus by mosquitoes of the genus Aedes (Aedes aegypti and Aedes albopictus). The highest number of DHF at 2013 in Banyumas regency is South of Purwokerto district (92 cases). Karangpucung village (21 cases) the highest DHF. Mosquito nest eradication action DHF include survey of mosquito larvae was done in Karang pucung village but the larvae-free rate (ABJ) not yet to reach the target (94.09%), so the researcher wanted to discover the implementation of mosquito nest eradication dengue hemorrhagic fever in Karang pucung village South of Purwokerto district Banyumas regency year 2014.Type research is observation with descriptive analysis qualitative survey approach which provides an overview the implementation of mosquito nest eradication DHF in Karang pucung village. Sample from 98 families head in 12 RW at the Karangpucung village by Systematic Random Sampling.The implementation of mosquito nest eradication DHF in Karangpucung Village done 95 families head (97%). RW 1 (39%) and RW 2 (29%) the lowest implementation of mosquito nest eradication, RW 9 (66%) and RW 7 (63%) the highest implementation of mosquito nest eradication. Survey motion plus 3M low of practice was to use a mosquito net (4%), the larvae-eating fish (6%), the use of wire gauze on the ventilation holes (12%), sowing abate (17%). The survey result, larvae in Karangpucung village the larvae-free rate (ABJ) not eligible (79%), HI are not eligible (21%), CI does not qualify (5%), BI eligible (23%). RW 2 and 4 have the lowest ABJ and HI, CI, BI highest, in accordance with the highest number of dengue cases in RW 4 (5 cases) and RW 2 (1 case).Researcher conclusion is the implementation of mosquito nest eradication dengue hemorrhagic fever in Karangpucung Village, not all of the people active of mosquito nest eradication dengue hemorrhagic fever in the movement 3M plus. Many mosquito larvae still found so mosquito nest eradication target not reach (ABJ ≥ 95%). Community and cadres suggested more active in the implementation of mosquito nest eradication.
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH PUSKESMAS CILACAP SELATAN II KABUPATEN CILACAP TAHUN 2016 Ghina, Devi Farah; Anwar, Muhammad Choiroel
Buletin Keslingmas Vol 36, No 1 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 1 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.028 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i1.3015

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue yang selanjutnya disebut DBD adalah salah satu penyakit menularyang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan dari seorang penderita kepada orang lain melalui gigitannyamuk Aedes aegypti. Tujuan penelitian untuk Mengetahui hubungan antara faktor lingkungan fisik rumah antaralain hubungan tempat penampungan air, keberadaan pakaian menggantung, suhu rumah, kelembaban rumah dancurah hujan dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah puskesmas Cilacap Selatan IIKabupaten Cilacap Tahun 2016. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi analitik observasional desain studicase control. Sampel kasus adalah semua kasus penderita DBD di wilayah Puskesmas Cilacap Selatan II daribulan Januari sampai bulan Mei 2016 (30 kasus). Sampel kontrol adalah tetangga yang tidak menderita DBDdengan kriteria jenis kelamin yang sama dan umur yang tidak jauh berbeda (± 2 bulan) dengan penderita denganjarak rumah radius ± 100 m (30 kontrol). Hasil penelitian dari 30 penderita, 20 % terdapat TPA, 56,7 % terdapatpakaian menggantung di dalam kamar rumah responden, 80 % suhu memenuhi syarat, 100 % kelembaban rumahmemenuhi syarat. Tidak ada hubungan TPA dengan kejadian DBD, tetapi menjadi faktor risiko. Tidak adahubungan keberadaan pakaian menggantung dengan kejadian DBD dan merupakan faktor risiko. Suhu rumahberhubungan tetapi nilai batas bawah kurang dari 1 dan dianggap tidak ada hubungan. Kelembaban rumah tidakberhubungan dengan kejadian DBD karena semua responden mendapatkan paparan yang sama (konstan). Curahhujan berhubungan dengan kejadian DBD dengan curah hujan tinggi meningkatkan jumlah kasus DBD.Kesimpulan penelitian ini adalah curah hujan berhubungan dengan kejadian DBD karena berpotensi menimbulkanbanyak genangan air yang menjadi tempat perindukan nyamuk. Penelitian ini bersifat lemah karena sampel kontrolyang diambil tidak mampu menguatkan kasus.
TINJAUAN PENGELOLAAN SAMPAH TAMAN KOTA ANDHANG PANGRENAN KECAMATAN PURWOKERTO SELATAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2014 Bellano, Haneysa Fitria; Lagiono, Lagiono
Buletin Keslingmas Vol 34, No 3 (2015): Bulletin Keslingmas Vol 34 No 3 Tahun 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.187 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v34i3.3057

Abstract

Andhang Pangrenan merupakan taman kota yang berada di Kecamatan Purwokerto Selatan, KabupatenBanyumas. Kegiatan atau aktivitas yang ada di taman kota tersebut, menimbulkan sampah dengan jenis sampahyang bermacam-macam. Sampah yang ditimbulkan perlu dikelola guna menghindari penumpukan sampah yangdapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah penelitiandeskriptif. Subyek penelitian seluruh sampah dan tempat sampah yang berada di Taman Kota Andhang Pangrenan.Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara dan pengukuran. Hasil penelitian yaitu tahap penimbulanyang bersumber dari aktivitas perkantoran, pedagang, pengunjung, dan pemeliharaan taman diperoleh nilai 75%dengan kategori cukup baik. Pewadahan menggunakan tong fiber berjumlah 50 buah diperoleh nilai 87,50%dengan kategori baik. Tahap pengumpulan sementara berlokasi di sebelah barat taman kota dan diperoleh nilai41,67% dengan kategori kurang baik. Tahap pengangkutan termasuk dalam kategori cukup baik dengan persentasenilai 57,14%. Untuk tahap pengelolaan dan pemanfaatan kembali, di Taman Kota Andhang Pangrenan belumdiadakan. Pembuangan akhir dilakukan oleh pihak ketiga yaitu TPA Gunung Tugel dan diperoleh nilai 60% dengankategori cukup baik. Kesimpulan yang didapat dari penelitian yaitu pengelolaan sampah di Taman Kota AndhangPangrenan termasuk dalam kategori cukup baik dengan persentase 65,90%.
STUDI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH TAHU DI DESA KALISARI KECAMATAN CILONGOK KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015 Kusumastuti, Vivi; Suparmin, Suparmin
Buletin Keslingmas Vol 35, No 1 (2016): Bulletin Keslingmas Volume 35 Nomor 1 Tahun 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.11 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v35i1.3090

Abstract

Tahu merupakan salah satu sumber makanan yang berasal dari kedelai dan mengandung protein tinggi. Proses pembuatan tahu tidak hanya menghasilkan tahu sebagai sumber makanan, akan tetapi juga menghasilkan bahan buangan seperti ampas tahu dan air limbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan instalasi pengolahan air limbah tahu di Desa Kalisari. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. Hasil pemeriksaan menunjukan limbah outlet seluruh Biolita memiliki nilai pH 7 sampai 8, kadar COD sebesar 340 mg/ L-3520 mg/l, serta kadar suhu sebesar 31 oC - 36 oC.  Menurut baku mutu yang ada, nilai pH dan suhu telah memenuhi syarat, beban pencemaran  COD pada Biolita 1 dan 2 telah memenuhi syarat, tetapi kadar COD pada seluruh IPAL belum memenuhi syarat . Masalah-masalah yang dimiliki IPAL bersistem Pompa lebih kompleks di bandingakan dengan IPAL bersistem gravitasi. Simpulan penelitian adalah IPAL bersistem pompa dan sistem gravitasi secara berurutan kelebihan utamanya adalah dapat ditempatkan dimana saja dan biaya operasional lebih murah. Kekurangan sistem pompa masih tergantung pada arus listrik.
EFEKTIFITAS STERILISASI MENGGUNAKAN ULTRAVIOLET (UV) PADA RUANG PERAWATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANYUMAS TAHUN 2016 Waluyo, Restutusi Ayu; Cahyono, Tri
Buletin Keslingmas Vol 36, No 3 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 3 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.145 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i3.2976

Abstract

Latar belakang RSUD Banyumas merupakan rumah sakit tipe B. Ruang perawatan pada RSUD Banyumas adalah ruang perawatan yang melayani penyakit infeksius dan noninfeksius, sehingga berpotensi terjadinya infeksi nosokomial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas sterilisasi menggunakan UV pada ruang perawatan di RSUD Banyumas.Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jenis variabel yang digunakan yaitu variabel bebas (penggunaan UV), variabel terikat (angka kuman udara), dan variabel pengganggu (suhu, kelembaban, pencahayaan, luas ventilasi dan volume ruangan). Berdasarkan hasil pemeriksaan Rata – rata angka kuman sebelum sterilisasi adalah 18.500CFU/m3. Rata – rata angka kuman sesudah sterilisasi adalah 8.250CFU/m3 . Rata-rata suhu pada ruang perawatan adalah 29,5oC. Rata-rata kelembaban pada ruang perawatan adalah 84,0%. Rata – rata intensitas cahaya pada ruang perawatan adalah 113 lux. Rata – rata luas ventilasi adalah 1,08m2 . Rata-rata volume ruangan pada ruang perawatan adalah adalah 55,8m3.Rata – rata efektifitas sterilisasi adalah (- 56,24%).Peneliti menyimpulkan penggunaan sterilisasi efektif dalam menurunkan angka kuman udara. Peneliti menyarankan untuk melakukan sterilisasi pada ruang perawatan setiap kali ruangan digunakan.
HUBUNGAN ANTARA KONDISI FISIK RUMAH DAN PERILAKU PENDERITA DENGAN KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANJARMANGU 1 KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2016 Wayranu, Afra; Lagiono, Lagiono
Buletin Keslingmas Vol 36, No 4 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 4 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.27 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i4.3123

Abstract

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh penyakit yang di sebabkanolehparasitdari genus Plasmodiumyang termasukgolongan protozoa melaluiperantaratusukan (gigitan) serangganyamukAnopheles spp. Puskesmas 1Banjarmangu merupakan daerah dengan jumlah kasus Malaria tertinggi di wilayah Kabupaten Banjarnegara, padatahun 2015 berjumlah 99 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah danperilaku penderita dengan kejadian Malaria di Kabupaten Banjarnegara.Metode penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan desain studi Case Control, jumlah sampelkasus sejumlah 75 kasus dan 75 kontrol. Variabel yang diteliti meliputi keberadaan ventilasi, kawat kasa, langit-langitrumah, semak-semak, parit/selokan, kandang ternak, genangan air, keadaan dinding rumah kebiasaan menggunakankelambu, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, keluar rumah malam hari. Analisis yang digunakan yaitu Data yangdiperoleh dianalisis ke dalam analisis univariat, bivariat dengan uji Chi-square (X2) dan multivariat denganmenggunakan uji regresi logistik.Hasil analisis bivariat menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kejadian Malaria yaitu variabelkeberadaan kawat kasa (p = 0,011 ; OR = 4,103), langit-langit (p = 0,000 ; OR = 9,333), semak-semak (p = 0,000 ; OR= 21,673), parit/selokan (p = 0,000 ; OR = 42,667), kebiasaan menggunakan obat nyamuk (p = 0,000 ; OR = 9,333),kebiasaan keluar rumah malam hari (p = 0,000 ; OR = 9,073), keberadaan genangan air (p = 0,014 ; OR = 3,632).Hasil analisis multivariat diketahui variabel yang berpengaruh besar/ dominan berhubungan dengan kejadian penyakitMalaria adalah variabel keberadaan semak-semak di sekitar rumah (p = 0,011 ; OR = 3,980).Simpulan penelitian ini adalah variabel yang berhubungan dengan kejadian Malaria yaitu variabel keberadaankawat kasa, langit-langit rumah, semak-semak, parit/selokan, kebiasaan menggunakan obat nyamuk, kebiasaan keluarrumah malam hari, dan keberadaan genangan air. Variabel yang berpengaruh dominan adalah variabel keberadaansemak-semak. Disarankan bagi pihak puskesmas 1 Banjarmangu dan kader kesehatan untuk meningkatkan promosikesehatan kepada masyarakat tentang cara mencegah Malaria .
HUBUNGAN INTENSITAS SUARA DENGAN GANGGUAN PENDENGARAN PEKERJA UNIT KILN PT. HOLCIM INDONESIA TBK. CILACAP PLANT TAHUN 2016 Azmi, Afifah Nurul; Yulianto, Yulianto
Buletin Keslingmas Vol 36, No 1 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 1 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.489 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v36i1.3006

Abstract

Pengukuran intensitas suara yang dilakukan oleh departemen Occupational Health and Safety PT. HolcimIndonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2015 diketahui nilai intensitas suara di Unit Kiln melebihi NAB yaituberkisar:88,9 dB - 111,2 dB. Intensitas suara di tempat kerja sebesar 85 dB selama 8 jam dapat beresikomemberikan efek gangguan pendengaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan intensitas suaradengan gangguan pendengaran pekerja Unit Kiln PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant. Jenis penelitian yangdigunakan adalah observasional dengan metode cross sectional. Variabel yang dianalisis adalah variabel bebas(intensitas suara), variabel terikat (gangguan pendengaran), variabel pengganggu (umur, masa kerja, penggunaanalat pelindung telinga, lama paparan, suhu, kelembaban). Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh pekerjapatrol pada Unit Kiln PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2016 sebanyak 16 orang. Hasil analisis ujistatistik menggunakan uji Pearson Product Moment menunjukkan tidak ada hubungan antara intensitas suaradengan gangguan pendengaran telinga kiri, telinga kanan dan kedua telinga pada pekerja Unit Kiln PT. HolcimIndonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2016. Diperoleh nilai hitung rxy = 0,073; 0,161 dan 0,019 menunjukkanhubungan yang sangat rendah. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan tidak ada hubungan intensitas suara dengangangguan pendengaran pekerja Unit Kiln PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap Plant tahun 2016. Saran bagi OHSdepartment melakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang alasan pekerja tidak menggunakan APT dan dilakukanpemantauan secara rutin penggunaan APT pada pekerja saat bekerja. Bagi pekerja agar bekerja sesuai denganSOP yang sudah ada dan menggunakan APT saat bekerja serta saling mengingatkan dalam penggunaan APT.
PENGARUH BERBAGAI DOSIS EKSTRAK BIJI BUAH BINTARO (Cerbera odollam Gaertn) TERHADAP JUMLAH DAN LAMA KEMATIAN TIKUS UJI TAHUN 2015 Purnamasari, Endah; Abdullah, Sugeng
Buletin Keslingmas Vol 34, No 4 (2015): Bulletin Keslingmas Vol 34 No 4 Tahun 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.859 KB)

Abstract

Pengendalian tikus diantaranya dengan membunuh tikus, perangkap, predator dan bahan kimia. Rodentisidakimia berlebih dapat berdampak negatif.Pemanfaatan biji buah bintaro dapat sebagai alternatif rodentisida.Buahini mengandung racun cerberin.Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis ekstrak biji buahbintaro terhadap jumlah dan lama kematian tikus uji.Penelitian Eksperimental dengan Post Test Only ControlGroup Design. Tikus uji menggunakan Rattus norvegicus albino sebanyak 25 ekor dibagi dalam 5 kelompok,masing-masing diberi umpan ekstrak biji buah bintaro: 0,5mg/100g; 5mg/100g; 50mg/100g; 500mg/100g ikan asinbakar. Kematian tikus diamati selama 3 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian masing-masingkelompok perlakuan adalah 0,5mg/100gr=0; 5mg/100g=0; 50mg/100g=0 dan 500mg/100g=0. Ekstrak biji buahbintaro (Cerbera odollam Gaertn) tidak berpengaruh terhadap kematian tikus Rattus norvegicus albino. Perluadanya penelitian lanjutan dengan menaikkan dosis, penambahan waktu paparan, dan penggunaan umpan yangberbeda.
STUDI EFEKTIFITAS DESINFEKSI DAN STERILISASI DALAM MENURUNKAN ANGKA KUMAN ALAT SET MEDIKASI DI RUMAH SAKIT WIJAYAKUSUMA PURWOKERTO TAHUN 2015 Maryani, Mamay; Cahyono, Tri
Buletin Keslingmas Vol 35, No 1 (2016): Bulletin Keslingmas Volume 35 Nomor 1 Tahun 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.641 KB) | DOI: 10.31983/keslingmas.v35i1.3081

Abstract

Upaya mencegah terjadinya infeksi nosokomial dari alat medis salah satunya yaitu dengan proses sterilisasi. Di Rumah Sakit Wijayakusuma Purwokerto terdapat proses desinfeksi cara kimia dan pemanasan panas basah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas desinfeksi dan sterilisasi untuk menurunkan angka kuman alat set medikasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil yaitu 5 alat medis. Analisis data menggunakan uji Friedman. Hasil pemeriksaan, rata-rata angka kuman alat set medikasi sebelum desinfeksi 450 koloni/cm2, sesudah desinfeksi 10 koloni/cm, dan sesudah pemanasan 1 koloni/cm2. Analisis data statistik dengan uji Friedmen didapatkan untuk tahap sebelum desinfeksi dengan sesudah desinfeksi yaitu 0,043 sehingga ada perbedaan angka kuman antara sebelum dan sesudah desinfeksi.Nilai p untuk tahap sebelum desinfeksi dengan sesudah sterilisasi yaitu 0,043 sehingga ada perbedaan angka kuman antara sebelum desinfeksi dan sesudah sterilisasi. Nilai p untuk tahap sesudah desinfeksi dengan sesudah sterilisasi yaitu 0,655 sehingga tidak ada perbedaan angka kuman antara sesudah desinfeksi dan sesudah sterilisasi, efektifitas desinfeksi 96% dan sterilisasi 99,67%. Peneliti menyimpulkan efektifitas desinfeksi 96% dan sterilisasi 99,67%. Peneliti menyarankan untuk peneliti selanjutnya agar lebih teliti dalam pengambilan dan penanaman sampel agar tidak terjadi kontaminasi.  2

Page 1 of 27 | Total Record : 266