cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
LOKABASA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Articles 148 Documents
LIRIK TEMBANG SUNDA CIGAWIRAN (Kajian Historis, Struktural, dan Etnopedagogik) Astriani, Dian; Kosawara, Dedi
LOKABASA Vol 8, No 1 (2017): Vol. 8, No. 1, April 2017
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan perkembangan, struktur, dan nilai étnopédagogik lirik tembang Sunda Cigawiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan teknik observasi, telaah pustaka, dan wawancara. Instrumen yang digunakan berupa pedoman wawancara, pedoman inventaris, dan kartu data. Sumber data dalam penelitian ini adalah 14 lirik tembang yang diperoleh dari wawancara dan studi pustaka. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tembang Sunda Cigawiran mengalami perkembangan dan struktur puisi yang tentu. Perkembangan tembang Sunda Cigawiran berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan zaman. Struktur lirik tembang Sunda Cigawiran mempunyai struktur fisik (imaji, simbol, musikalitas, dan gaya bahasa) serta struktur batin (tema, rasa, nada, dan amanat). Lirik tembang Sunda Cigawiran secara umum ditulis dalam bentuk pupuh, tapi tidak sepenuhnya memenuhi aturan pupuh yang digunakannya. Téma dari teks tembang Sunda Cigawiran pada umumnya berkaitan erat dengan keagamaan. Imaji yang paling banyak ditemukan dalam teks ini adalah imaji visual (penglihatan). Musikalitas/wirahma tembang Sunda Cigawiran mencakup pada bentuk pupuh, yang mempunyai guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Gaya bahasa umumnya merupakan bahasa yang umum, hiperbol, dan konotatif. Rasa yang paling banyak ditemukan menunjukkan rasa takut. Sedangkan amanat secara umum adalah memebrikan peringatan kepada manusia agar selamanya memohon perlindungan kepada Alloh swt. Dalam lirik tembang Sunda Cigawiran terkandung nilai etnopedagogik, yaitu Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), dan Moral Kemanusiaan (moral manusia kepada Tuhan, moral manusia kepada diri pribadi, moral manusia kepada manusia, moral manusia kepada alam, moral manusia kepada waktu, dan moral manusia dalam mencapai kepuasan lahir dan batin). ABSTRACTThe purpose of this study describes the development, structures, and etnopedagogic values of Cigawiran Sundanese song lyrics. The method used in this research is descriptive method, while the data is taken by observation technique, literature review, and interview. The instruments used are interview guides, inventory guides, and data cards. The data sources in this study are 14 songs lyrics obtained from the interviews and literature study. From the research results found that Cigawiran Sundanese song has developed and formed its structures of poetry. The development of Cigawiran Sundanese song changed from time to time along with the period. Cigawiran Sundanese song structure has the physical structures (images, symbols, musicalities, and language styles) and the inner structures (themes, tastes, tones, and messages). Cigawiran Sundanese song lyrics in generally are written in stanzas, but does not fully comply with the rules of the stanzas it used. The theme of the Cigawiran Sundanese song texts are generally closely related to religion. The most common images found in this text is the visual image (sight). Musicality of Cigawiran Sundanese song includes the stanza form, which has guru gatra, guru wilangan, and guru lagu. Language styles are generally a common language, hyperbole, and connotative. The most common sense shows fear. While the message in generally gives warning that people must always ask protection to Alloh SWT. In the Cigawiran Sundanese song lyrics contained etnopedagogic values. That are Prilaku Nyunda Trisilas (silih asih, silih asah, silih asuh), Catur Jatidiri Insan (pengkuh agamana, jembar budayana, luhung élmuna, rancagé gawéna), Gapura Panca Waluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer), and humanity moral (the moral of human to God, the moral of human to themself, the moral of human to other human being, the moral of human to nature, the moral of human to the time, and the moral of human in achieving physical and mental satisfaction).
SYAIR LAGU JENIS POP SUNDA KARYA DOEL SUMBANG (Kajian Struktural-Semiotik dan Nilai Moral) PRAMANIK, NIKNIK DEWI
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.789 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidenti􀂿kasi struktur puisi syair lagu jenis pop Sunda karya Doel Sumbang yang meliputi, imaji, simbol, musikalitas, suasana, tema dan gaya bahasa; mengidenti􀂿kasi aspek semiotik (ikon, indeks dan simbol); dan mendeskripsikan nilai moralnya. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan transkripsi. Setelah dianalisis terlihat bahwa kehidupan di dunia tidak terlepas dari dua kemungkinan, yaitu kesenangan dan kesedihan. Di akhir penelitian ditarik kesimpulan, hasil analisis struktur syair lagu jenis pop Sunda karya Doel Sumbang, bahwa imaji yang banyak ditemukan adalah imaji penglihatan. Gaya bahasa yang paling banyak terlihat adalah hiperbola dan personi􀂿kasi. Sedangkan hasil analisis semiotik syair lagu karya Doel Sumbang disimpulkan tanda yang paling banyak dijumpai adalah simbol dan indeks. Hasil analisis nilai moral dalam syair lagu karya Doel Sumbang banyak menceritakan mengenai kritikan bagi para penguasa dan pejabat negara yang mempunyai prilaku nilai kurang terpuji seperti korupsi, yang menyebabkan rakyat sengsara. AbstractThis study aims to identify the structure of Sundanese pop song lyrics by Doel Sumbang, comprising images, symbols, musicality, nuance, theme and 􀂿gure of speech; to identify the aspects of semiotics (icons, indexes and symbols); and to uncover the moral of the lyrics. The research used the descriptive method. The data were documentated and transcribed. Results show that the wordly life cannot be separated from the two possibilities, namely pleasure and misery. The structural analysis reveals that the most common image was visual images. The most identifiable figures of speech were hyperbole and personi􀂿cation. Meanwhile, the semiotic analysis indicates that the signs most often found were symbols and indexes. Results of moral examination show that much of the lyrics carries criticisms to state of􀂿cials who are corrupt, and consequently makes the people miserable.
BAHAN AJAR PIDATO DALAM BUKU TEKS BAHASA SUNDA (Analisis Gradasi Materi Ajar serta Relevansinya dalam Kurikulum 2013) FAZRINI, DWI LUQIATUL
LOKABASA Vol 6, No 2 (2015): Vol. 6, No. 2 Oktober 2015
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.703 KB)

Abstract

Abstrak Penelitian mengenai “Bahan Ajar Pidato dalam Buku Teks Bahasa Sunda (Analisis Gradasi Materi Ajar serta Relevansinya dalam Kurikulum 2013)”, tujuannya untuk mendeskripsikan bahan ajar pidato, gradasi bahan ajar pidato, relevansinya bahan ajar pidato dalam buku teks Pamekar Diajar Basa Sunda untuk siswa setiap jenjang pendidikan dengan Kurikulum 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku teks bahasa sunda kurikulum 2013. Pamekar Diajar Basa Sunda yang diterbitkan pemerintah Provinsi Jawa Barat. Buku teks merupakan bagian penting dari beberapa sistem pendidikan yang mendorong untuk menjelaskan hal yang ada pada kurikulum dan menjadi buku pedoman untuk guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kesimpulan hasil penelitian,  Bahan ajar pidato di setiap jenjang pendidikan SD kelas VI, SMP kelas VIII, SMA kelas X serta mempunyai stuktur tampilan yang berbeda. Bahan ajar pidato di SD ada sepuluh kegiatan belajar, di SMP ada lima kegiatan belajar, di SMA ada lima kegiatan belajar. Gradasi bahan ajar pidato yang ada mengenai tingkat pemahaman guru melalui angket. Hasilnya adalah 75 % guru SD memahami isi bahan ajar pidato, 84% guru SMP memahami isi bahan ajar pidato, 73% guru SMA memahami isi bahan ajar pidato. Relevansi bahan ajar pidato, ada beberapa kegiatan yang tidak sesuai dengan tema dan ada beberapa KD yang tidak tersajikan dalam buku teks Pamekar Diajar Basa Sunda.  AbstractThis study aimed to describe the speech teaching materials, their gradation, and their relevance in the textbook Pamekar Diajar Basa Sunda for students at every level of education. The book is based on the 2013 curriculum. The method used in this study is a qualitative research method. The data souce in this research is the Sundanese Language textbook Pamekar Taught Basa Sunda, based on 2013 curriculum, published by the Provincial Government of West Java. Textbook is an important part of education system that describe curriculum and become a guidebook for teachers in implementing the learning activities. Based on the results of research, teaching materials of speech at each education levels (the sixth grade elementary school, eighth grade of junior high school, and tenth grade of high school) have different structures. The speech teaching materials for elementary school have ten learning activities, for junior high school have five learning activities, for high school have five learning activities. Gradation of speech teaching materials about the teacher’s level of understanding was performed through questionnaire. There are 75% of elementary school teachers, 84% of junior high school teachers, and 73% of high school teachers understand the content of the speech teaching materials. For the relevance of the speech teaching materials, there are some activities that do not fit with the theme and there are some basic competencies that are not included in the textbook Pamekar Diajar Basa Sunda.
LEKSIKON MAKANAN TRADISIONAL SUNDA DI KABUPATEN KUNINGAN (Kajian Etnolinguistik) HADIYANIYAH, YANI NURFITRI
LOKABASA Vol 7, No 1 (2016): Vol. 7, No. 1, April 2016
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.544 KB)

Abstract

 AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk lingual, penamaan, makna leksikon dan bahan dasar makanan tradisional Sunda di Kabupaten Kuningan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Teknik mengumpulkan  data, menggunakan teknik observasi partisipan, teknik wawancara, dan teknik study bibliografi. Sumber datanya adalah pusat jajanan oleh-oleh Kuningan, sentral UKM dan masyakat Kuningan. Sedangkan, objek penelitiannya adalah makanan tradisional Sunda khas Kuningan. Dari hasil penelitian ditemukan: (1) makanan tradisional Sunda khas Kuningan yang ditemukan ada 73 nama makanan tradisional. Berdasarkan bentuk lingualnya, klasifikasi nama makanan tradisional Sunda, 22 (30,1%) kata dasar,  1 (1,4%) kata imbuhan, 8 (10,9%) kata ulang, 37 (50,7%) kata majemuk, dan 5 (6,8%) kata singkatan. (2) penamaan, terdapat 1 (1,4%) nama makanan yang berdasarkan peniruan bunyi, 4 (5,5%) berdasarkan persamaan, 29 (39,7%) berdasarkan bahan, 2 (2,7%) berdasarkan tempat asalnya, 5 (6,8%) berdasarkan penyebutan sifat khas, 4 (5,5%) berdasarkan sebagian anggapan, dan 27 (37%) manasuka. (3) makna leksikon, semua nama makanan tradisional Sunda merupakan kata benda. (4) nama makanan tradisional Sunda di Kabupatén Kuningan berdasarkan bahannya adalah yang berbahan dasar beras ada 5 (6,8%), tepung beras ada 7 (9,6%), beras ketan ada 10 (13,7%), tepung ketan ada 12 (16,4%), singkong ada 8 (11%), aci ada 1 (1,4%), terigu ada 3 (4,1%), kacang ada 6 (8,2%), ubi ada 6 (8,2%), jagung ada 1 (1,4%), dan bahan lainnya ada 23 (32%). Saran dari penelitian ini ditujukan ke beberapa pihak, yaitu: (1) guru; (2) siswa; dan (3) masyarakat. AbstractThis study aims to describe the shape of the lingual, naming, the meanings of lexicon and the basic ingredients of traditional Sundanese food at Kuningan regency. The research method is descriptive. The techniques of collecting data used participant observation technique, interview, and bibliografi technique study. The data sources collected from Kuningan’s central souvenirs shop, middle-class business (UKM), and from Kuningan native people. Meanwhile, the object of this observation is Sundanese’s typical traditional foods from Kuningan. The result of researched had been found that: (1) There are 73 kinds of name of Sundanese’s typical traditional foods from Kuningan. Based on the lingual shape, the classification of traditional Sundanese food names are, 22(30,1%) basic word, 1 (1,4%) the prefix word, 8 (10,9%) repeated word, 37 (50,7%) compound, and 5 (6,8%) abbreviation. (2) based on Naming, there are 1 (1,4%) the name of the food based on the imitation of the sound, 4 (5,5%) the equations, 29 (39,7%) based on materials, 2 (2,7%) based on place of origin, 5 (6,8%) based on the mention of particularity, 4 (5,5%) based on presumption, and 27 (37%) based on suitably of taste. (3) The meaning of lexicon, all of traditional Sundanese foods name are noun. (4) The Sundanese traditional foods in Kuningan district based on the materials, made from  rice are 5 pieces (6,8%), made from flour are 7 pieces (9,6%), made from glutinous rice are 10 pieces (13,7%), made from glutinous flour are 12 pieces (16,4%), made from cassava are 8 pieces (11%), made from cassava flour is 1 piece (1,4%), made from wheat flour are 3 pieces (4,1%), made from coconut are 6 pieces (8,2%), made from sweet potato are 6 pieces (8,2%), made from corn is 1 piece (1,4%) and made from the other materials about 23 pieces (32%). The advice from this research addressed for multiple parties, such as : (1) teacher; (2) student; and (3) people. 
PEMBENTUKAN PELESAPAN DALAM KALIMAT BAHASA SUNDA LISAN DI PASAR PADAYUNGAN KOTA TASIKMALAYA (Pendekatan Tata Bahasa Transformasi) PARIDAH, AI; SUDARYAT, YAYAT; KUSWARI, USEP
LOKABASA Vol 5, No 1 (2014): Vol.5 No. 1 April 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.342 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta mendeskripsikan unsur-unsur fungsional klausa yang mengalami pelesapan dengan menggunakan pendekatan transformasi kalimat yang terdapat dalam interaksi di pasar Padayungan Kota Tasikmalaya. Dalam penelitian ini digunakan metode deskriptif, tehnik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan tehnik sadap rékam. Pengolahan data menggunakan analisis teks. Sumber data adalah percakapan atau interaksi di pasar Padayungan kota Tasikmalaya. Seluruh transformasi kalimat dan pelesapan unsur-unsur fungsional klausa dijadikan populasi atau sampel total. Ragam bahasa Sunda lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.Transformasi ialah proses pembentukan unsur bahasa dari struktur dasar ke struktur turunan. Dalam transformasi, terdapat pelesapan atau yang disebut elipsis. Kalimat elipsis adalah kalimat tidak sempurna yang terjadi karena penghilangan bebrapa bagian dari klausa, dan diturunkan dari kalimat tunggal. Melalui penelitian ini, maka anggapan tentang pelesapan dalam bentuk bahasa Sunda lisan di masarakat pasar Padayungan kota Tasikmalaya, terbukti benar adanya. This research aims to describe and analyze elements of clausal functionsthat undergo elision by using a transformation approach on sentences from communal interactions at Padayungan Market, Tasikmalaya City. This research adopted a descriptive method by way of a tapping record to gather data. Data from communal interactions and conversations at Padayungan Market, Tasikmalaya were analyzed by a textual analysis. The entire sentential transformation and deletion of clausal functions were treated as population or total sampling. Oral language relies on its contexts of use; therefore, ellipsion occurs.Such, however, does not undermine grammaticality. Nevertheless, accuracy in word choice and word form is not characteristic of oral register since the contexts of utterance assist in understanding the meaning. Transformation is a process of constructinglanguage features from underlying structure to derivative structure. In transformation, there is deletion or also known as ellipsis. Elliptical sentencesare incomplete sentences because of elimination of several clausal parts, derived from a single sentence. This research proves that ellipsis occurs in Sundanese oral register at Padayungan Market, Tasikmalaya.
BAHAN AJAR DONGENG DALAM BUKU AJAR BAHASA SUNDA (FAIRY-TALE LEARNING MATERIAL IN SUNDANESE TEXTBOOK) ANDRIANY, AN AN
LOKABASA Vol 7, No 1 (2016): Vol. 7, No. 1, April 2016
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.273 KB) | DOI: 10.17509/jlb.v7i1.3391

Abstract

 Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana bahan ajar dongeng dalam Buku Pamekar Diajar Basa Sunda (PDBS) yang ada di setiap jenjang pendidikan berdasarkan relevansi dengan KD yang ada dalam Kurikulum 2013. Dan juga untuk mengetahui tingkat keterbacaan bahan ajar dongeng di dalam Buku Pamekar Diajar Basa Sunda (PDBS). Bahan ajar dongeng  ada di setiap jenjang pendidikan, seperti  di SD di kelas 3, 4, 5,  dan 6, di SMP di kelas 7,  dan di SMA di kelas 10. Penelitian ini menggunakan  metode deskripfif kualitatif. Untuk  mengukur relevansi bahan ajarnya,  disesuaikan dengan KD di setiap jenjang yang ada di Kurikulum 2013. Untuk mengukur tingkat keterbacaan bahan ajar dongeng digunakan uji grafik fry dan uji klose tes. Data yang digunakan adalah semua wacana dongeng yang ada dalam Buku PDBS, jumlah wacana diseluruh jenjang ada 15 wacana: PDBS SD kelas 3 (3 wacana), PDBS SD kelas 4 (2 wacana), PDBS SD kelas 5 (3 wacana), PDBS SD kelas 6 (1 wacana), PBDS SMP (3 wacana), dan PDBS SMA (3 wacana). Setelah dianalisis, hasil relevansi bahan ajar dongeng dan KD dalam Kurikulum 2013, dari 6 tingkatan yang dianalisis, 5 tingkat sesuai dengan KD, tetapi ada 1 tingkat yang tidak sesuai yaitu di tingkat SD kelas 6. Hasil analisis grafik fry yang diujikan pada 15 wacana dongéng rata-rata wacananya  sesuai dan bisa diajarkan pada tingkatannya. Sedangkan untuk hasil klose tes, dari 10 wacana yang  dianalisis, 5 wacana hasilnya lebih dari 50% siswa ada pada tataran gagal (>40%). Jadi wacana tersebut dianggap sulit dipahami oleh siswa.AbstractThe purpose of this study was to describe fairy-tale learning materials in the book Pamekar Diajar Basa Sunda (PDBS) that exist in every education level based on the Basic Competence in Curriculum 2013. It is also to determine the reading level of the material in the book. Fairy-tales learning material exists in every level of education, covering grades 3, 4, 5, and 6 of primary school; grade 7 of junior high school; and grade 10 of high school. This study used a descriptive-qualitative method. The measurement of the relevance of the material is based on Basic Competence at every level required by the Curriculum 2013. The measurement of the readability level of the material is based on Fry graphic test and Klose test. The data cover all fairytale texts in the book PDBS, amounting to 15 texts: PDBS grade 3 (3 texts), PDBS grade 4 (2 texts), PDBS grade 5 (3 texts), PDBS grade 6 (1 texts), PBDS for junior-high level (3 texts), and PDBS for senior-high level (3 texts). The results of analysis show that of 6 levels, 5 of them are in accordance with the Basic Competence. The only one level that does not fulfill the Basic Competence is the grade 6 of primary level. The results of the Fry graphic analysis on 15 texts show that most of them are appropriate and can be taught at their respective levels. For the results of the Klose test, 5 of 10 texts resulted failure at 50% of students (> 40%). Therefore, the texts are considered difficult to be understood by students. 
WACANA WAYANG GOLEK CEPOT KEMBAR DARI GIRIHARJA 3 (Kajian Struktural dan Etnopedagogik) GUMILAR, GUN GUN CAHYA
LOKABASA Vol 6, No 1 (2015): Vol. 6, No. 1 April 2015
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.161 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur wacana wayang golek dan nilai-nilai etnopedagogik yang ada dalam lakon Cepot kembar dari Giriharja 3. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Maksud yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah menggambarkan dan memilah-milah struktur wacana wayang golek dan nilai-nilai etnopedagogik. Tehnik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah menggunakan telaah pustaka, tehnik observasi, dan tehnik transliterasi. Untuk mengolah data yang terkumpul menggunakan tehnik analisis langsung.  Data yang dianalisis yaitu wacana wayang golek hasil transkripsi. Untuk mengolah nilai-nilai etnopedagogik, digunakan metode heurmeunitik. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa struktur wacana wayang golek Cepot kembar ada 61 struktur carita wayang. Dari struktur tersebut, dibagi menjadi 4 bagian. Yaitu murwa (satukali), kakawén (11 kali), nyandra (19 kali), dan antawacana (29 kali). selain itu juga, dari hasil penelitian ini diperoleh data nilai-nilai etnopedagogik dalam 20 percakan. Dari percakapan tersebut dibagi menjadi 3 bagian. Yaitu moral manusia kepada yang menciptakannya (7 kali, moral manusia kepada dirinya sendiri (3 kali), moral manusia dengan manusia (8 kali), dan moral manusa dalam menemukan kepuasan lahir dan batin (2 kali)   Abstract This study determines the structure of the discourse of Wayang Golek (puppet show); and the ethnopedagogical values that exist in the play Cepot Kembar of Giriharja 3. The method used in this research was descriptive method. The goals are to describe and to sort out the structure of the discourse of the puppet show and its ethnopedagogical values. The technique used to collect data in this study was the use of literature review, observation, and transliteration. The collected data was processed by using the direct analysis. The transcript data were analyzed. Then, to find out the ethnopedagogical values, hermeneutics method was used. , Based on the research results, it is concluded that the discourse structure of the puppet show Cepot Kembar has 61 narrative structures. The structures are divided into 4 sections. They are murwa (one time), kakawén (11 times), nyandra (19 times), and Antawacana (29 times). In addition, this study gained the ethnopedagogical values in 20 conversations, which are divided into 3 parts. They are human moral toward The Creator (7 times), toward themselves (3 times), toward fellow-human (8 times), and in finding physical and psychological satisfactions (2 times).
NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM UPACARA ADAT RITUS TIWU PANGANTEN DI KECAMATAN BABAKAN KABUPATEN CIREBON (Analisis Struktural-Semiotik) HARYADI, FIET
LOKABASA Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.286 KB)

Abstract

Kebudayaan identik dengan kesenian, upacara-upacara adat yang dilaksanakan oleh beberapa kelompok suku bangsa, pakaian adat, cerita rakyat atau legenda serta kesusastraan. Kebudayaan juga sering dikaitkan dengan segala hal yang tradisional. Salah satu contohh kebudayaan yang melekat di masyarakat Sunda, khususnya di Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon yaitu Upacara Adat Ritus Tiwu Panganten (UARTP). UARTP yaitu upacara iring-iringan pengantin tebu yang diarak dari balai pertamuan Pabrik Gula Tersana Baru sampai ke dalam Pabrik Gula Tersana Baru. Dalam UARTP mengandung unsur struktural yang merupakan susunan acara dalam kegiatannya, serta mengandung unsur semiotik yaitu ikon, indeks, simbol, alat, dan pelaku. Selain unsur structural-semiotik, UARTP juga mempunyai nilai kearifan lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif. Yang dideskripsikannya adalah tentang nilai kearifan lokal dalam UARTP dikaji dari unsur struktural semiotiknya. Setelah dianalisis, nilai-nilai yang terdapat dalam UARTP yaitu nilai kesejahteraan, kerja keras, disiplin, pendidikan, kesehatan, gotong royong, pengelolaan gender, pemeliharaan budaya, perduli lingkungan, ketenteraman, sopan santun, kejujuran, kesetiakawanan sosial, kerukunan dan penyelesaian konflik, komitmen, pikiran positif, dan rasa syukur. Konsép yang terdapat dalam UARTP, yaitu konsep- konsep permainan, folklor, ritus, mite, punduh, magi, teater. Fungsi yang terdapat dalam UARTP yaitu fungsi hiburan (rekreatif), alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan (kultural), alat pendidikan anak (edukatif), dan alat pemaksa atau pangawas agar norma-norma masyarakat akan terpanuhi (sosial). Unsur semiotik yang terdapat dalam UARTP yaitu unsur ikon, indeks, dan simbol. Culture is identical to artistry, indigenous ceremonies carried out by some ethnic groups, custom clothing, folk tales or legends and literatures. Culture is often associated with all things traditional. One form of Sundanese culture, especially in Babakan subdistrict of Cirebon district is the Traditional Ceremony of Bride’s Sugarcane Rite. This is a parade ceremony of sugarcane bride from New Tersana meeting hall to the New Tersana building. This ceremony contains structural elements in the form of programs. It also comprises elements of semiotics, which include icons, indexes, symbols, tools and actors. In addition, the ceremony contains local wisdom. The method used in this research is a descriptive method. It delineates the local wisdom extracted from the ceremony by examining semiotic structural elements. Results indicate that the ceremony has many values namely hardworking,discipline, education, health, mutual-cooperation, management of gender, cultural preservation, environmental care, security, courtesy, honesty, social solidarity, harmony and conflict resolution, commitment, positive thoughts and gratitude. The concepts identifiable in the ceremony include the concepts of games, folklores, rite, mites, punduh, magi, and theater. The ceremony has the following functions: entertainment (recreational), instrument of ratification and cultural institutions (cultural), children education tools (educational), and corecive tools to ensure that societal norms are met (social). The semiotic elements found in the ceremony are icon, indexes and symbols.
TRADISI NGAYUN DI KECAMATAN RAWAMERTA KABUPATEN KARAWANG (Kajian Struktural-Semiotik) SUGIANA, UUS; KOSWARA, DEDI; HAERUDIN, DINGDING
LOKABASA Vol 5, No 1 (2014): Vol.5 No. 1 April 2014
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.241 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh: (1) adanya kebudayaan asing yang menggeser kebudayaan Sunda; (2) Tradisi Ngayun merupakan salah satu tradisi yang unik dan memiliki nilai-nilai yang luhur; (3) Tradisi Ngayun berkaitan dengan ajaran agama Islam; (4) Tradisi Ngayun berkaitan dengan awal mula kehidupan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Penelitian ini mendeskripsikan: (1) Struktur lahir Tradisi Ngayun; (2) Struktur batin Tradisi Ngayun; dan (3) Unsur semiotik (ikon, indeks, dan simbol) dalam Tradisi Ngayun. Sumber data dalam penelitian ini adalah tradisi ngayun yang berasal dari tiga desa, yaitu Desa Sukaraja, Desa Pasirawi, dan Desa Purwamekar. This study was motivated by (1) the presence of foreign culture that pushes Sundanese culture to the periphery; (2) Ngayun Tradition as one of the unique traditions and with sublime values; (3) Ngayun tradition associated with the teachings of Islam; (4) Ngayun tradition associated with the beginning of life; (5) The lack of studies regarding Ngayun tradition. This study is aimed at describing: (1) outer structure of Ngayun tradition;(2) inner structure of Ngayun tradition; and (3) elements of semiotics (icon, index, and symbol) in Ngayun tradition. The data used in this study derived from the tradition of Ngayun in three villages, Sukaraja Village, Pasirawi Village, and Purwamekar Village.
SASTRA LISAN DI SEPANJANG PINGGIR SUNGAI CITANDUY CIAMIS (Kajian Struktur dan Nilai Pendidikan) SULASTRI, EVI
LOKABASA Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : UPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.439 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan memaparkan sastra lisan yang ada di sepanjang pinggir Sungai Citanduydi Kabupaten Ciamis yang dikaji dari struktur dan nilai pendidikan. Deskripsinya mencakup jenis,struktur intrinsik, dan nilai pendidikan dalam sastra lisan. Metode yang digunakan yaitu metodedeskriptif. Teknik yang digunakan adalah telaah pustaka, wawancara, studi dokumentasi, danrekaman. Dari 26 dongeng ditemukan 11 dongeng sasakala, 7 dongeng mitos, dan 9 dongeng sage.Dongeng tersebut ada hubungannya dengan masalah keluarga, kekuasaan, kerajaan, unsur kekuatangaib (jin dan siluman-sileman, hubungannya dengan sesama makhluk hidup dan alam. Pelaku dalamdongeng ini rata-rata mewakili manusia biasa, manusia sakti, raja, putri, jin (onom), punggawa,dan prajurit. Latar tempat yang digunakan umumnya di hutan, sungai, pesisir, gunung, sawah, danperkampungan. Latar waktu yang digunakan umumnya mengenai tanggal, tahun, dulu, hari, danmalam. Latar suasana yang digunakan umumnya gembira, khawatir, merasa tidak nyaman, tidakenak perasaan, merasa takut, dan adanya interaksi dengan kerajaan lainnya. Alur yang digunakandari 26 dongeng yaitu alur maju. Amanat yang disampaikan rata-rata mengenai hidup secarabersama di dunia harus sesuai dengan perilaku yang baik berdasarkan yang sudah ditentukan olehagama, adat, dan negara. Dongeng tersebut memiliki 26 nilai moral yang berhubungan denganpribadi, 10 nilai sosial yang ada hubungannya dengan masyarakat, dan 11 nilai keaagamaan yangberhubungan dengan kepercayaan.AbstractThe research was about oral literature along the banks of Citanduy River, in Ciamis regency,speci􀂿cally examining its structure and educational values. It described the genre of oralliterature, its intrinsic structure, and the moral value. The method used was quantitative usinga descriptive method comprising interviews, book reviews, recording, and documentation. Outof 26 oral literatures (stories), 11 were classi􀂿ed as legends, 7 myths, and 9 ‘saga’ stories. Thestories contain issue of families, authorities, kingdoms, and unseen powers, (genie, ghost and theirrelationship with other creatures and nature). The characters of the stories were mainly ordinarypeople, kings, magicians, princes, queens, genies, guards and soldiers. The settings were jungles,rivers, beaches, mountain, paddy 􀂿elds, and villages. Time setting general used was date, year, dayand night. The nuances were happiness, worry, discomfort, uneasiness, fear, and interaction withother kingdoms. The plot of the 26 stories was forward plot. The morals of the stories in generalwere how to live peacefully in the world in accordance with values set by religions, norms, andstates. The 26 stories contain personal values, social values and religious values or beliefs.

Page 1 of 15 | Total Record : 148