GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Articles 250 Documents
STUDI KUALITAS AIRTANAH UNTUK PENGEMBANGAN WISATA DI KAWASAN PARANGTRITIS, BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Murtianto, Hendro
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.911 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1075

Abstract

Kualitas airtanah dapat dipengaruhi oleh faktor litologi, iklim, waktu, dan aktivitas makhluk hidup, termasuk manusia seperti pembuangan limbah industri, limbah rumah tangga, limbah pertanian, dan penggunaan pestisida. Untuk mengetahui kualitas airtanah dapat ditentukan dengan cara analisis fisik dan kimia airtanah. Permasalahan yang diangkat dalam penulisan ini adalah : (1) sebaran kualitas airtanah bebas pada setiap satuan geomorfologi di daerah Parangtritis; (2) ketersediaan airtanah untuk keperluan pariwisata di daerah Parangtritis. Jumlah sampel yang digunakan adalah 12 titik pengambilan sampel kualitas air dengan metode purposive random sampling yang mewakili masing-masing satuan geomorfologi di kawasan Parangtritis. Analisis yang digunakan adalah analisis tipe hidrokimia airtanah, dan analisis deskriptif. Penentuan kualitas airtanah berdasarkan baku mutu yang ditetapkan oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 214/KPTS/1991 tentang Baku Mutu Lingkungan Daerah untuk Wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil yang diperoleh berupa deskripsi airtanah di daerah penelitian sebagian besar masih memenuhi standar mutu air minum dan sebagian besar airtanah di daerah penelitian memiliki tipe air bikarbonat karena pengaruh dari perbukitan struktural denudasional Formasi Wonosari yang memiliki material batu gamping. Pengaruh air laut terhadap airtanah di daerah penelitian belum ada. Adanya hanya pengaruh air connate di kawasan Parangwedang. Belum terjadi upconing di daerah penelitian, hal ini disebabkan karena jumlah pengambilan airtanah belum melebihi debit maksimum pemompaan yang diperbolehkan untuk diambil. Airtanah yang ada di kawasan wisata Parangtritis memenuhi syarat kualitas air, sehingga dapat dikembangkan untuk keperluan pemenuhan kebutuhan air bersih di kawasan Parangtritis dengan proporsi pengambilan airtanah tidak melebihi debit dan suplai airtanah di kawasan tersebut untuk beberapa aktivitas wisata di zona inti maupun zona kawasan wisata.
DAMPAK TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP PERUBAHAN STRUKTUR KOTA DAN SISTEM TRANSPORTASI Nandi, Nandi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.523 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1033

Abstract

Currently, wireless communications brings a new dimension in human interaction. The process of this interaction will be more conducted by human in the future without depending on the location of comunicating. It is still difficult to predict how quickly humans can adapt to this technology. As well as the effectiveness of the use of SMS (short messages service) which is a new phenomenon, need some time to expand knowledge about how to use them. Thus, a wireless telecommunications can bring a big influence to human behavior. Advances in technology will shape and continue to shape the economic and physical development of urban areas. New telecommunications technology and urban economic development, can changing roles and patterns of physical development. Many big cities lose its function as the headquarters or manufacturing centers because of the intensive information activities such as customer service centers and research and development laboratory. Furthermore, information technology which is progress very rapidly forming a new challenge in finance, health and education. It became the basis of the needs in urban areas also play a role in trade and culture in urban areas (Moss, 1988). This paper will try to present the impact caused by developments information technology to change the urban structure and urban transportation systems.
ANALISIS GEOGRAFIS KONSENTRASI INDUSTRI KULIT DI KABUPATEN GARUT waluya, bagja
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.874 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1078

Abstract

Persebaran industri termasuk ke dalam proses yang selektif, dimana ada faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membentuk suatu pola persebaran industri. Secara geografis, keberadaan industri-industri kulit di Kabupaten Garut cenderung terkonsentrasi dua kecamatan, yaitu di Kecamatan Garut Kota dan Karangpawitan. Berdasarkan fenomena tersebut maka permasalahan penelitian difokuskan pada analisis faktor-faktor geografis pada konsentrasi Industri Kulit di Kabupaten Garut. Tujuan penelitian ini adalah sbb: 1) mendeskripsikan pola konsentrasi industri barang kerajinan kulit; 2) memperoleh gambaran mengenai ketersediaan bahan baku dan pengaruhnya terhadap lokasi industri barang kerajinan kulit; 3) memperoleh gambaran mengenai ketersediaan tenaga kerja dan pengaruhnya terhadap lokasi industri barang kerajinan kulit; dan 4) mendeskripsikan daerah-daerah pemasaran dan pengaruhnya terhadap lokasi industri barang kerajinan kulit di Kabupaten Garut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriprif. Sampel penelitian terdiri dari 20 pengusaha, 75 tenaga kerja dan 100 diambil dari masyarakat yang bukan pengrajin kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola konsentrasi industri barang kerajinan kulit di Kabupaten Garut bersifat mengelompok dengan nilai indeks tetangga terdekat sebesar 0,69199842. Konsentrasi industri kulit sangat dipengaruhi oleh faktor bahan baku yang tersedia di kawasan Sukaregang dengan tingkat korelasi sebesar 0,473, menghubungkan antara ketersediaan bahan baku dengan lokasi industri yang ada di Kota Wetan, Karangmulya dan Lebak Agung. Lokasi industri tidak terlalu berpengaruh terhadap ketersediaan tenaga kerja. Hal ini diperkuat dengan hubungan antar variabel tersebut sebesar 0,245 yang menunjukkan pola hubungan yang lemah. Dalam hal pemasaran produk kerajinan kulit banyak dipasarkan ke kota-kota luar provinsi. Berdasarkan hal tersebut maka didapat nilai korelasi sebesar 0,226 antara daerah pemasaran dengan lokasi industri.
PENGARUH MOBILITAS PENDUDUK TERHADAP BUDAYA POP DAN REMITAN MASYARAKAT DESA Marsudi, Marsudi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.401 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1046

Abstract

Terjadinya mobilitas penduduk masyarakat desa berkaitan dengan tujuan masyarakat untuk memperbaiki kesejahteraan mereka. Terjadinya mobilitas ke arah perkotaan berkaitan dengan kondisi pedesaan yang dipandang tidak mampu menopang kehidupan masyarakatnya. Selain itu kota dipandang sebagai pusat kemajuan dan pembangunan sehingga menurut mereka lebih menjanjikan dalam meningkatkan kehidupan.  Selain alasan untuk  mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi, alasan lain penduduk desa bermigrasi ke kota adalah karena untuk melanjutkan pendidikan, mengikuti suami/istri, mengikuti orang tua, atau karena diajak atau melihat teman-teman mereka yang dipandang telah berhasil di kota. Dampak-dampak dari mobilitas penduduk ini tampak dari perilaku sosial mereka, seperti budaya popular yang mereka adopsi sebagai gaya hidup dari kehidupan perkotaan, selain itu muncul budaya remitan yang memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan di pedesaan
IDENTIFIKASI KERENTANAN DAN SEBARAN LONGSOR LAHAN SEBAGAI UPAYA MITIGASI BENCANA DI KECAMATAN BENER KABUPATEN PURWOREJO Nursa’ban, Muhammad
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.321 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1018

Abstract

The objectives of this research are to: Investigating the level of landslide susceptibility and identifying the distribution of landslide susceptibility locations in Bener district Purworejo regency. Land units were chosen as the sample using the purposive area sampling technique. Eleven land units were obtained by overlay maps of slope, geology, and soil types. Data collecting was conducted with observation method and documentation to be analyzed by qualitative deskriptif. Findings shown that (1) the level of landslide susceptibility that is in four categories are low, medium, high, and very high. The distributions of low landslide susceptibility covered about 24042750,21 m2 (3 land units). The medium categories covered about 67768254,22 m2 (4 land units). High categories covered about 4125389,95 m2 (2 land units). The very high categories covered about 6256242,28  m2 (2 land units)
IMPLIKASI INTERAKSI DESA - KOTA TERHADAP PERKEMBANGAN RUMAH TRADISIONAL MASYARAKAT SUNDA Hartono, Hartono
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.014 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1071

Abstract

Eksistensi suatu bangunan rumah telah mengalami perkembangan pada berbagai aspek akibat adanya interaksi desa-kota yang melanda hampir seluruh masyarakat Sunda di Jawa Barat. Adanya pengklasifikasian bentuk dan tipe rumah mulai dari rumah tradisional, rumah semi modern, dan rumah modern merupakan  salah satu bukti perkembangan bentuk rumah berdasarkan kurun waktu dan perkembangan peradaban masyarakat Sunda di Jawa Barat serta perkembangan teknologi.  Eksistensi rumahpun diyakini tidak hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung manusia dari bahaya luar, namun rumah mempunyai bentuk dan makna yang lebih khusus bagi penghuninya. Artikel ini disusun untuk menguraikan dan mengkaji aspek fisik, nonfisik, serta perkembangan bentuk dan makna rumah tradisional masyarakat Sunda di pedesaan Provinsi Jawa Barat. Aspek fisik dan perkembangan rumah tradisional masyarakat Sunda digali dan dikaji berdasarkan bentuk, material, dan struktur rumah, sedangkan aspek nonfisik yang dikaji berdasarkan makna atau kosmologi rumahnya. Tujuan penulisan adalah untuk dapat mengetahui dan memahami aspek-aspek yang terkandung pada arsitektur bangunan rumah tradisional Sunda baik bentuk maupun makna yang terkandung di dalamnya. Penelurusan dan pengumpulan data-data mengenai rumah tradisional masyarakat Sunda dilakukan melalui observasi dan tinjauan literatur serta dokumen-dokumen yang terkait. Kajian terhadap aspek fisik (bentuk, material, dan struktur) serta perubahan bentuk arsitektur rumah tradisional Sunda di pedesaan, dianalisa berdasarkan disiplin ilmu arsitektur sedangkan pengkajian terhadap aspek nonfisik (makna) rumah  tradisional Sunda ditinjau dari aspek fenomologis mengenai kepercayaan dan kosmologi rumah tradisonal. Berdasarkan hasil studi literatur dan observasi, penulis menemukan adanya indikasi terjadinya perubahan aspek fisik dan non fisik rumah tradisional masyarakat Sunda di pedesaan Jawa Barat pada umumnya.
PEMODELAN SPASIAL EPIDEMIOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI KECAMATAN DEPOK KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Widayani, Prima
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.445 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1025

Abstract

The objective of this research is for developing a prototype of Dengue Haemorrhagic Fever Epidemiologic Spatial Modeling to define the irritable area rates for that disease. The research is conducted at Depok, Sleman, Yogyakarta.  The model’s made by GIS with overlaying 8 parameters: population density, the cleaning activity frequency of water vessel, waste management pattern, frequency of fogging, drainage condition, settlement pattern, distance settlement from river, and survillance. Each parameter’s analyzed by cross tabs analyze to see its correlation with the actual case.  The result from this analyze is used to give weighting factors for those parameters. The research finding show that 8 parameters have partial correlation with actual case of dengue fever. The result model is tested again with the actual dengue fever case.  As we can see from crosstab test ,the value of C (coefficient contingency) = 0,558.  So the research gives a meaningful test, and we can take conclusion that there’s a real correlation between dengue fever irritable model and actual dengue fever case.
MIGRASI PENDUDUK MENUJU DAERAH PINGGIRAN KOTA BANDUNG DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN Setiawan, Iwan
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.927 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1072

Abstract

Migrasi penduduk ke daerah pinggiran Kota Bandung membawa implikasi terhadap berkembangnya daerah pinggiran kota secara cepat. Perkembangan yang terjadi kadang tidak terkendali, sehingga muncul berbagai persoalan di daerah pinggiran kota, khususnya yang terkait dengan permukiman. Munculnya sejumlah permukiman yang tidak tertata dengan baik atau cenderung kumuh semakin banyak dijumpai. Persoalan tersebut tentu banyak terkait salah satunya dengan penduduk yang datang dan menetap di wilayah pinggiran, sehingga menarik untuk dikaji bagaimanakah implikasi migrasi penduduk terhadap kualitas lingkungan permukiman. Untuk mengkaji hal tersebut, digunakan metode survei dengan teknik pengambilan data melalui wawancara dan angket. Pengambilan sampel dilakukan secara purpossive dengan jumlah sampel yang sama antara migran desa-kota dengan migran kota-desa. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik migran antara migran yang berasal dari pusat kota (migran kota-desa) dengan migran yang berasal dari desa-desa di sekitarnya maupun di daerah lainnya (migran desa-kota). Demikian halnya dengan faktor pendorong dan penarik, kedua tipe migran tersebut menunjukkan adanya perbedaan. Akibatnya, kualitas lingkungan permukiman migran yang berkembang di daerah pinggiran menunjukkan adanya perbedaan. Kualitas lingkungan permukiman migran desa-kota cenderung lebih rendah dibandingkan dengan kualitas lingkungan permukiman kota-desa.
ANALISIS INFORMASI TIGA DIMENSI DALAM KESELAMATAN PENERBANGAN DAERAH PERKOTAAN Sugito, Nanin Trianawati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.2 KB) | DOI: 10.17509/gea.v10i2.1029

Abstract

Safety of flight is very related to the factors of air transportation infrastructure is the airport. One of the measures to minimize the occurrence of the accident airplane and the possibility to fall in residential areas because the location of the airport and fly the aircraft trajectory relative to urban areas is the existence of a regulation called is Flight Operations Safety Area. The function of Flight Operations Safety Area is adjusting the height of buildings or objects grow both fixed and which can move (mobile) to no higher than the permitted height limit. Flight Operations Safety Area is a virtual surface (imaginary surface) with the provisions of height, length (distance) or radius, and angle of slope or widening a distinct difference for each surface area. Flight Operations Safety Area formation in 3-dimensional object is appropriate to produce cutting-edge information about the list of objects that become an obstacle (obstacle). This information include by regarding obstacle height that exceeds the provisions in each region Flight Operations Safety Area for the sake of flight safety. In this study focuses on the study of the formation of 3-dimensional information Flight Operations Safety Area urban airports in support of security and safety of aircraft in terms of determining the legal basis Flight Operations Safety Area in organizing the flight. Very important Flight Operations Safety Area applied to airports located in urban areas. Because most land use in areas Flight Operations Safety Area in urban areas are housing, the height of buildings in the area of absolute Flight Operations Safety Area note to support aviation safety. Flight Operations Safety Area generated 3-dimensional expected to provide solution in analyze the height of buildings around the airport to support aviation safety.
PARTISIPASI PENDUDUK DALAM BIDANG PENDIDIKAN DI KECAMATAN BLANAKAN KABUPATEN SUBANG (Kajian Perbandingan Antara Penduduk Asli dan Pendatang) Mulyadi, Asep
Jurnal Gea Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.627 KB)

Abstract

Pembangunan dibidang pendidikan merupakan upaya yang ditempuh dalam rangka memperoleh manusia berkualitas. Keberhasilan pembangunan nasional sangat tergantung pada kemampuan bangsa yang bersangkutan untuk mengoptimalkan sumberdaya manusia yang dimiliki. Melalui proses pendidikan diharapkan kebutuhan akan sumberdaya manusia berkualitas dapat terpenuhi, sehingga pendidikan menjadi prasyarat utama dalam menopang keberhasilan pembangunan nasional secara keseluruhan. Keberhasilan dalam pembangunan pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah faktor sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat serta peranan pemerintah. Di samping budaya yang masih belum mendukung, faktor ekonomi ternyata masih merupakan faktor dominan bagi masyarakat di kecamatan Blanakan untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Faktor-faktor tersebut menjadi sedikit berbeda ketika membandingkan antara masyarakat atau penduduk "asli" dan pendatang. Masyarakat pendatang lebih memiliki motivasi tinggi dalam berpartisipasi di bidang pendidikan anak-anak mereka, dibandingkan dengan penduduk asli. Latar belakang pendidikan, pendapatan, dan jenis pekerjaan cukup berhubungan erat dengan rata-rata tingkat partisipasi dalam bidang pendidikan anak-anak mereka di semua jenjang, tetapi sikap atau pandangan hidup mereka sebagai pendatang yang ingin selalu eksis di tempat mereka tinggal, lebih dominan sebagai faktor yang menempatkan pendidikan memiliki nilai penting dalam kehidupannya. Kata Kunci: Partisipasi, pendidikan.

Page 1 of 25 | Total Record : 250