JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA
ISSN : 25410024     EISSN : 24773743
Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia(JPKI) merupakan sarana pengembangan dan publikasi karya ilmiah bagi para peneliti, dosen dan praktisi keperawatan dan kesehatan. JPKI adalah jurnal cetak dan elektronik dengan sistem open access journal. JPKI menerbitkan artikel-artikel dalam lingkup keperawatan dan kesehatan secara luas namun terbatas terutama bidang pendidikan keperawatan. Artikel harus merupakan hasil penelitian, studi kasus, hasil studi literatur, konsep keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang inovatif dan terbaharu dalam lingkup ilmu keperawatan baik dalam skala nasional dan internasional. Artikel akan ditelaah secara peer review oleh mitra bestari dari berbagai institusi.
Articles 71 Documents
MASALAH-MASALAH PROGRAM POSBINDU DI DESA DAYEUHKOLOT KABUPATEN BANDUNG JAWA BARAT

Suparto, Tirta Adikusuma, Sunjaya, Deni Kurniadi, Susanti, Raini Diah

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.042 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v1i1.1185

Abstract

Introduction: Integrated Development Post Program (Posbindu) is one of the facilities which provide a service for the elderly. Aside from healthcare, Posbindu also provides social, religion, education, skill, and other services.  These services are needed by the elderly that makes Posbindu existence very important. According to the early researches conducted by the researcher in December 2013 at Posbindu’s Desa Dayeuhkolot, the implementations of Posbindu’s over there were still lacking. This study aimed to explore some issues of Posbindu programs in Desa Dayeuhkolot comprehensively. Method: The research design used in this research was kualitatif method approach by using case study. This research was conducted from February 2014 to January 2015 in 5 Posbindu. Result: The findings showed that the programs of Posbindu in Desa Dayeuhkolot Kabupaten Bandung still face some problems, they were: 1) Posbindu was not found based on people needs; 2) the lack of budget; 3) the lack of quality and quantity of guidance; 4) the lack of cadres’ knowledge and skills; 5) there was no incentive for cadres; 6) the lack of facilities and infrastructures; 7) the lack of emotional and physical test; 8) the lack of quality and quantity of health training program; 8) the lack of quality and quantity of health counseling ; 9) there was no access for medicine; 10) the complicated system of documentation and report ; 11) there was no elderly exercise in some posbindus; 12) the lack of effectiveness in elderly visitation program;13) the low frequency of elderly visitation; 14) the lack of posbindu contribution to the elderly; 15) the lack of support from the environment. Discussion: Posbindu’s revitalization was one of the interventions to solve the health problem caused by demographic changing. The Key point was to increase the capacity of cadre trough training. 

HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI PUSKESMAS MELONG ASIH CIMAHI

Somantri, Budi

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.091 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v1i1.1186

Abstract

Background. Aging is a natural process after the three stages of life, namely children, adulthood and old age that cannot be avoided by any individual. The increase of the age will cause changes in the structure and physiological properties of a range of cells, organs and systems in the body. Metabolic processes that decrease on the elderly will lead to obesity due to decreased physical activity, then the excess calories will be converted into fat resulting in obesity. Overweight or obesity is one of the factors that can influence blood pressure and the development of hypertension. Purpose. The purpose of this research was to know the correlation between Body Mass Index with elderly blood pressure in puskesmas Melong Asih Cimahi. Methods. The methods in this study used analytic research method with cross sectional approach, there were 80 elderly (60- 74 years) as respondents. Sampling techniques used simple random sampling. Results. The results of univariat analysis used frequency distribution showed distribution evenly on IMT skinny (20%), normal (26.2%), fat (26.2%), obesity (27.6%). Similarly, on the frequency distribution of blood pressure normal (36.2%), pre hypertension (31.2%), and hypertension (32.6%). The results of Chi-Square statistical test showed p value = 0.000 < a 0.05. Conclusions. The conclusions from this study which conducted on June 2013 that there was a correlation between Body Mass Index (BMI) with elderly blood pressure in Puskesmas Melong Asih Cimahi.

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP MOTIVASI PASIEN HIPERTENSI TENTANG PELAKSANAAN DIET HIPERTENSI DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RS. RAJAWALI BANDUNG

Darmawan, Dadang, Zulfa, Siti

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.551 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v1i1.1187

Abstract

Meningkatnya arus globalisasi disegala bidang dengan perkembangan teknologi dan industri telah banyak membuat perubahan pada perilaku dan gaya hidup pada masyarakat. Perubahan gaya hidup, sosial ekonomi, industralisasi dapat memacu meningkatnya penyakit seperti hipertensi. Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke dan ginjal. Disebut sebagai “pembunuh diam-diam” karena orang hipertensi tidak menampakkan gejala (Brunner & Suddarth, 2002: 896). Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal yaitu 140/90 mmHg. Kecenderungan peningkatan prevalensi menurut peningkatan usia. Prevalensi 6 - 15% pada orang dewasa sebagai proses degeneratif, hipertensi hanya ditemukan pada golongan orang dewasa. Banyak penderita hipertensi diperkirakan sebesar 15 juta penduduk Indonesia yang kontrol hanya 4%. Terdapat 50% penderita hipertensi tidak menyadari hipertensi (Tyas Kusuma Dewi, 2013). Diet adalah pembatasan asupan nutrisi tertentu. ( wikipedia.org/diet) Pengendalian hipertensi dengan diet tujuannya untuk melakukan pencegahan primer, deteksi awal dan penanganan memadai untuk mencegah terjadinya komplikasi. Dalam pelaksanaan diet perlu adanya motivasi dari dalam diri penderita maupun dari keluarga. Motivasi adalah dorongan internal dan eksternal dari tiap individu sebelum melakukan tindakan atau perilaku. Rumah Sakit Rajawali merupakan Rumah Sakit Yayasan Kemanusiaaan yang memberikan pelayanan asuhan keperawatan. Data Penyakit di Poliklinik Penyakit Dalam RS Rajawali Bandung Bulan Mei - Oktober 2013 adalah : hipertensi 410 (46.17%), Typoid 57 (6.42%), DM type II 321 (36.15%) Hepatitis 33 (3.72%) dan Decomp 67 (7.55%) Dapat disimpulkan jika Hipertensi mencapai urutan paling tinggi sebanyak 410 (46.17 %). Penelitian dilakukan dengan menilai motaivasi sebelum dan sesudah dilakukan promosi kesehatan. Metode yang digunakan adalah Pre experiment. Hasil penelitian terdapat perbedaan rata-rata motivasi pasien hipertensi sebelum dilakukan promosi kesehatan tentang pelaksanaan diet hipertensi adalah 1,56 dengan standar deviation 0,128 sedangkan setelah diberikan pendidikan kesehatan 1,69 dengan standar deviation 0,120 Pvalue = 0,432 > α (0,05). Rentang nilai mean 0,13 sehingga dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan berpengaruh terhadap motivasi pasien hipertensi tentang pelaksanaan diet hipertensi di Poliklinik Penyakit Dalam RS. Rajawali Bandung

STUDI KOMPARATIF : KUALITAS HIDUP LANSIA YANG TINGGAL BERSAMA KELUARGA DAN PANTI

Putri, Suci Tuty, Fitriana, Lisna Anisa, Ningrum, Ayu

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.331 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v1i1.1178

Abstract

Jumlah populasi dan umur harapan hidup lanjut usia(lansia) semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dengan meningkatnya umur harapan hidup maka sangat penting untuk memperbaiki kualitas hidup lansia. Kualitas hidup lansia dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial dimana ia tinggal, sehingga perlu diketahui secara pasti sejauh mana perbedaan tersebut mempengaruhi kualitas hidup lansia. Penelitian ini merupakan studi komparatif, dengan rancangan penelitian potong melintang (cross sectional). Penelitian bertujuan mengetahui perbandingan kualitas hidup lansia yang tinggal bersama keluarga dengan yang tinggal di panti jompo. Jumlah responden adalah 160 orang lansia yang terdiri dari 80 orang yang tinggal di panti dan 80 orang tinggal bersama keluarga di komunitas. Teknik pemilihan sampel adalah consecutive sampling Hasil uji statistik dengan Mann-Whitney U test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara tempat tinggal dengan kualitas hidup lansia yaitu domain kesehatan fisik pada QoL( p = 0.000), dengan domain psikologik pada QoL( p = 0.000), dengan domain hubungan sosial pada QoL( p = 0.000) dan dengan domain lingkungan pada QoL( p = 0.000). Diharapkan hasil penelitian ini menjadi dasar penetapan program-program pemberdayaan lansia sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup lansia.

HUBUNGAN KEMAMPUAN KOGNITIF DENGAN DAYA TAHAN JANTUNG PARU DAN KESEIMBANGAN PADA WANITA LANJUT USIA

Fitriana, Lisna Anisa

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): VOLUME 1.1
Publisher : JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

                                                                                                                           Peningkatan derajat kesehatan menyebabkan bertambahnya usia harapan hidup yang menyebabkan jumlah lansia meningkat. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia biasanya disebabkan karena proses penuaan dan kurangnya aktivitas fisik. Salah satu latihan yang banyak digemari lansia di Indonesia adalah senam otak, tetapi informasi tentang manfaat senam otak masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kemampuan kognitif dengan daya tahan jantung paru dan keseimbangan pada wanita lanjut usia yang mengikuti senam otak. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian prospektif yang diukur sebanyak empat kali, sebelum latihan, setelah 4 minggu, 8 minggu, dan 12 minggu latihan. Subjek penelitian terdiri dari 24 orang wanita lansia berusia 60-75 tahun yang berasal dari Panti Sosial Tresna Werdha Senjarawi yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu: 12 orang kelompok yang melakukan senam otak dan 12 orang kelompok sedenter. Variabel penelitian yang diukur adalah: (a) kemampuan kognitif dengan TMT-B (trail making test-B), (b) daya tahan jantung paru dengan tes jalan 6 menit, dan (c) keseimbangan dengan tes berdiri satu kaki-mata tertutup. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji Levene’s, dan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kemampuan kognitif dengan daya tahan jantung paru (r = -0,507) (p=0,093) dan keseimbangan (r = -0,567) (p≤0,05) pada wanita lansia yang mengikuti senam otak. Simpulan dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara kemampuan kognitif dengan daya tahan jantung paru da keseimbangan pada wanita lanjut usia.

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP ANAK USIA SEKOLAH AKHIR (10-12 TAHUN) TENTANG MAKANAN JAJANAN DI SD NEGERI II TAGOG APU PADALARANG KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2015

Fitriani, Neng Lia, Andriyani, Septian

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 1, No 1 (2015): Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.687 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v1i1.1184

Abstract

Makanan jajanan adalah makanan yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang di jalanan dan di tempat umum yang langsung dimakan tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Makanan jajanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan gizi akan mengancam kesehatan anak. Sebanyak 48% jajanan anak di sekolah tidak memenuhi syarat keamanan pangan karena mengandung bahan kimia yang berbahaya. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi kesehatan anak bila tidak dilakukan penanggulangannya. Selain itu, hal ini dapat juga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap anak usia sekolah akhir (10-12 tahun) tentang makanan jajanan. Desain penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh anak sekolah dasar kelas 4-6 yang bersekolah di SDN II Tagog Apu yang berjumlah 112 siswa/i, dan sampel 88 siswa/i dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan analisis data melalui dua tahapan, yaitu univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan bivariat untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel (chi-square). Hasil penelitian diketahui tingkat pengetahuan anak tentang makanan jajanan sebagian besar (65,9%) berpengetahuan baik dan hampir seluruh dari responden (89,8%) bersikap positif. Berdasarkan hasil uji chi-square diketahui bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap anak usia sekolah akhir (10-12 tahun) tentang makanan jajanan (nilai p value = 0,065 > 0,05). Saran bagi pihak sekolah untuk merencanakan penyediaan fasilitas kantin sekolah yang menyediakan makanan jajanan sehat dan dipantau secara berkala.

GAMBARAN PENGETAHUAN LANSIA MENGENAI SENAM LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI PERTIWI

Rahmi, Upik, Somantri, Budi, Alifah, Nisa Yusrina Nur

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.189 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2851

Abstract

ABSTRAKDi Indonesia proporsi penduduk berusia lanjut terus membesar. Indonesia termasuk lima besar negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak di dunia yakni mencapai 18,1 juta jiwa pada 2010. Dengan bertambahnya jumlah penduduk dan usia harapan hidup lansia akan menimbulkan berbagai masalah antara lain masalah kesehatan, psikologi dan sosial ekonomi. Salah satu permasalahan pada lansia adalah penurunan aktivitas akibat proses penuaan ditandai dengan kurangnya motivasi lansia mengikuti senam lansia. Hal ini dikarena kurangnya pengetahuan lansia mengenai senam lansia.Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran pengetahuan lansia mengenai senam lansia.Penelitian ini menggunakan metode deksriptif kuantitatif, dengan teknik pengambilan data sampel menggunakan total sampling. Jumlah responden yang di ambil sebanyak 29 lansia di panti sosial tresna werdha budi pertiwi.Intrument menggunakan kuisoner dan teknik analisa data menggunakan distribusi frekuensi.Hasil penelitian menunjukan bahwa distribusi frekuensi responden berdasarkan usia 60-74 tahun (48,3%) atau lebih dari sebagian besar lansia berpengetahuan baik 14 lansia (48,3%), dan lansia yang berpengetahuan cukup 14 lansia (48,3%) dan berpengetahuan kurang ada 1 lansia (3,4%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hampir setengahnya (48,3%) berpengetahuan baik dan cukup. Adapun saran bagi tenaga kesehatan adalah diadakannya penyuluhan tentang senam lansia. Kata Kunci : Pengetahuan, Senam Lansia, Lansia  ABSTRACTIn Indonesia, the proportion of the elderly population continues to grow. Indonesia is among the top five countries with the highest number of elderly people in the world, reaching 18.1 million in 2010. The increasing of population and life expectancy of the elderly will cause various problems among other health problems, psychological and socio-economic. One of the problems in the elderly is a decrease in activity due to aging is characterized by a lack of motivation to follow gymnastics elderly. This is caused by a lack of knowledge about gymnastics elderly. The purpose of this study was to identify the description of the elderly knowledge about gymnastics. This research is using quantitative descriptive method, with sample data retrieval technique using total sampling. The number of respondents who took as many as 29 elderly people in social institutions Tresna Werdhana Budi Pertiwi. Instrument using questionnaires and data analysis techniques using frequency distribution. The results of the research showed that the frequency distribution of respondents by age 60-74 years (48.3%) or more of the mostly elderly knowledgeable both 14 elderly (48.3%), and the elderly who are knowledgeable enough 14 elderly (48.3%) and No less knowledgeable one elderly (3.4%). From these results it can be concluded that nearly half (48.3%) and fairly good knowledge. As for advice for health workers is holding counseling about gymnastics elderly.Keywords: Knowledge, GymnasticsElderly, Elderly

PERBEDAAN TEKANAN DARAH SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN TEKNIK RELAKSASI IMAJINASI TERBIMBING PADA LANSIA YANG MENDERITA HIPERTENSI

Sumartini, Sri, Bachtiar, Heru Hari

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.644 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2846

Abstract

ABSTRAKPenyakit hipertensi pada Lansia memerlukan penanganan tanpa menimbulkan efek samping yang bertujuan untuk mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas serta mempertahankan tekanan darah normal.Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah teknik relaksasi imajinasi terbimbing (guided imaginary). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian teknik relaksasi imajinasi terbimbing pada Lansia yang menderita hipertensi.Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan pre-experiment design. Sampel dalam penelitian ini menggunakan tekhnik purposive sampling menggunakan sebanyak 30 orang Lansia yang mengalami hipertensi di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten Majalengka. Data ini diambil menggunakan lembar observasi tekanan darah. Setelah itu dilakukan uji statistik yang menggunakan uji beda yaitu Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat kemaknaan 0,05.Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tekanan darah sebelum pemberian teknik relaksasi imajinasi terbimbing sebesar 154,9 dan sebagian besar responden mengalami hipertensi Stadium I (60,0%). Sementara rata-rata tekanan darah pada Lansia yang menderita hipertensi sesudah pemberian teknik relaksasi imajinasi terbimbing sebesar 143,3 dan sebagian besar responden mengalami prehipertensi (46,7%). Hasil uji hipotesis menunjukkan ada perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian teknik relaksasi imajinasi terbimbing pada Lansia yang menderita hipertensi di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten Majalengka Tahun 2014 (rvalue = 0,008).Oleh karena itu perawat di Puskesmas dapat mengaplikasikan teknik relaksasi imajinasi terbimbing dalam membantu menurunkan tekanan darah pada pasien yang mengalami hipertensi Kata kunci       : Tekanan Darah, Hipertensi, Imajinasi Terbimbing ABSTRACTHypertension of elderly needs handling without giving an effects for prevent morbidity and mortality and for maintain normal blood pressure. One of technique which can be used is a guided imaginary. The research is for determine differences of blood pressure before and after giving guided imaginary for elderly suffering hypertension. This research is used experimental with pre-experiment design. Sample in this research is purposive sampling technique method using as many as 30 people for the elderly that experienced hypertension in the work area of the UPTD Puskesmas Kertajati Majalengka. In this data is taken by using sheet of observation blood pressure. After that performed statistical test that using wilcoxon signed rank test with significance level 0,05.The result shows average is 154,9 and most of respondents have hypertension Stadium I (60,0%). While, averages of elderly  blood pressure is 143,3 after giving guided imaginary technique and most of respondents have prehypertension (46,7%). The result of hypothesis test shows there are differences blood pressure before and after giving guided imaginary technique for elderly suffering hypertension in work area UPTD Puskesmas Kertajati Kabupaten Majalengka years 2014 (pvalue=0,008)Therefore, nurses in Puskesmas can apply guided imaginary technique for lowers blood pressure for patients who have hypertension. Key words        : Blood Pressure, Hypertension, Guided Imaginary

GAMBARAN KEJADIAN POSTPARTUM BLUES PADA IBU NIFAS BERDASARKAN KARAKTERISTIK DI RUMAH SAKIT UMUM TINGKAT IV SARININGSIH KOTA BANDUNG

Fitriana, Lisna Anisa, Nurbaeti, Siti

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.478 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2852

Abstract

ABSTRAKPostpartum blues merupakan fenomena yang terjadi pada hari-hari pertama postpartum. Puncak gejala postpartum blues terjadi pada hari ke-3 sampai ke-5 postpartum dengan durasi mulai dari beberapa jam sampai beberapa hari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Gambaran Kejadian Postpartum Blues Pada Ibu Nifas Berdasarkan Karakteristik di Rumah Sakit Umum TK IV  Sariningsih Kota Bandung. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive consecutive Sampling.Jumlah sampel yang diambil sebanyak 40 responden. Intrumen penelitian menggunakan instrument baku yaitu instrument EPDS (Edinburg Postnatal Depression Scale) dengan jumlah soal 10 pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya mengalami postpartum blues ringan (42,5%) dan hampir setengahnya (35,0%) mengalami postpartum blues berat. Berdasarkan usia hampir setengahnya ringan dan berat (30,0%), berdasarkan pendidikan sebagian kecil ringan (20,0%), berdasarkan jumlah paritas sebagian kecil ringan (25,0%), berdasarkan jenis persalinan hampir setengahnya berat (27,5%), berdasarkan jumlah penghasilan perbulan hampir setengahnya ringan (37,5%), berdasarkan pekerjaan hampir setengahnya ringan (30,0%), berdasarkan status kehamilan sebagian kecil ringan (22,5%) dan berdasarkan dukungan sosial hampir setengahnya ringan (35,0%). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hampir setengahnya ibu nifas di Rumah Sakit Umum TK IV Sariningsih Kota Bandung mengalami postpartum blues ringan dan berat. Adapun rekomendasi dari penelitian ini adalah diadakannya penyuluhan tentang cara mengatasi postpartum blues.Kata Kunci : Kejadian Postpartum Blues, Karakterististik Ibu Nifas ABSTRACTPostpartum blues occurs after giving birth and its symptoms usually happen in the third to fifth days of postpartum and it can last for hours or days. This study has the objective to identify the cases postpartum blues in postpartum mothers seen from their characteristics. This study was conducted at Sariningsih General Hospital (Level IV) Bandung and involved 40 respondents. It particularly uses descriptive quantitative method that applies purposive consecutive sampling. The instrument of this research is EPDS (Edinburg Postnatal Depression Scale) that consists of 10 questions. The findings of this study show that more than half of the respondents experience mild postpartum blues (42.5%) and almost half them (35%) experience severe postpartum blues. Following are the findings of this study: seen from the age of the respondents, almost half of them experienced mild and severe postpartum blues (30%); seen from their education background, few of them experience mild postpartum blues (20%); seen from the number of parity, few of them experienced mild postpartum blues (25%); seen from the kinds of labor, some of them experienced severe postpartum blues (27.5%); seen from their monthly income, almost half of them experienced mild postpartum blues (37.5%); seen from their occupation, almost half of them experienced mild postpartum blues (30%); seen from their pregnancy status, few of them experienced mild postpartum blues (22.5%); and seen from their social support, almost half of them experienced mild postpartum blues (35%). To conclude, almost half of postpartum mothers at Sariningsih General Hospital (Level IV) Bandung experienced mild and severe postpartum blues. Therefore, it is recommended to educate pregnant women in order to make them well-prepared in avoiding postpartum blues.Keywords: Postpartum blues cases, postpartum mother characteristics.

PENGARUH MUSIK ANGKLUNG TERHADAP KUALITAS HIDUP WANITA LANJUT USIA

Komariyah, Lilis

JURNAL PENDIDIKAN KEPERAWATAN INDONESIA Vol 2, No 1 (2016): Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.501 KB) | DOI: 10.17509/jpki.v2i1.2847

Abstract

ABSTRAKPeningkatan derajat kesehatan menyebabkan bertambahnya usia harapan hidup yang memberikan dampak terhadap meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Dengan meningkatnya usia harapan hidup maka sangat penting untuk memperbaiki kualitas hidup lansia. Musik angklung merupakan kearifan budaya lokal yang sedang berkembang saat  ini. Adapun tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh musik angklung terhadap peningkatan kualitas hidup lansia yang tinggal di panti jompo. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen dengan pre dan post test design without control. Subjek penelitian menggunakan purposive sampling sebanyak 15 orang wanita lansia berusia 60-90 tahun yang berasal dari Panti Sosial Tresna Werdha Budi Pertiwi. Penelitian ini menggunakan instrumen WHOQOL-BREFF. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji Kolmogorov Smirnov, dan uji ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita lansia yang mengikuti musik angklung memiliki peningkatan kualitas hidup secara bermakna pada domain fisik (55,27 ± 7,86 vs 52,80 ± 6,91) (p<0,05), domain psikologis (65,53 ± 9,50 vs 54,33 ± 5,53) (p<0,05), domain hubungan sosial (71,07 ± 8,76 vs 57,67 ±5,17) (p<0,05), dan domain lingkungan (61,40 ± 5,15 vs 56,33 ± 4,67) (p<0,05). Simpulan dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa musik angklung dapat meningkatkan kualitas hidup wanita lansia pada domain fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Adapun saran dari penelitian ini diharapkan bahwa musik angklung dapat diterapkan di seluruh unit lansia maupun panti jompo yang ada di Indonesia. Kata kunci: wanita lansia, kualitas hidup, musik angklung  ABSTRACTThe enhancement of current health level and life expectancy provide implications to the number of elderly people in Indonesia. Health professionals, especially geriatric nurses, play an important role in increasing elderly life quality. One of the efforts is by practicing Brain Movement Exercise and Angklung music therapy. The aim of this study was to analysis the effect of brain movement exercise and angklung music on quality of life of elderly. The study design was an experimental pre and post design without control. The subjects  were 15 healthy elderly woman age 60-90 years old whom came from a nursing home. The instrument research used was WHOQOL-BREF. Shapiro-Wilk test, Kolmogorov Smirnov, and ANOVA were used to analyze the data. The results showed that women elderly people who participated angklung music experienced a significant life quality improvement in physical domain (55,27 ± 7,86 vs 52,80 ± 6,91) (p<0,05), psychological domain (65,53 ± 9,50 vs 54,33 ± 5,53) (p<0,05) , social relationship domain (71,07 ± 8,76 vs 57,67 ±5,17) (p<0,05), and environment domain (61,40 ± 5,15 vs 56,33 ± 4,67) (p<0,05). In conclusion, angklung music can improve elderly womens life quality in physical, psychological, social relationship and environmental domains. Therefore, it is suggested that angklung music are implemented in all nursing house units in Indonesia. Key words: elderly women, quality of life, angklung music