cover
Filter by Year
Jurnal Litbang Industri
Jurnal Litbang Industri (JLI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. JLI memuat artikel primer yang bersumber langsung dari hasil riset industri, olahan hasil pertanian, penanggulangan pencemaran industri. Semua naskah direview oleh mitra bestari. Jurnal Litbang Industri Padang diterbitkan oleh Balai Riset dan Standardisasi industri Padang, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. p-ISSN: 2252-3367 e-ISSN: 2502-5007
Articles
102
Articles
Reduksi pencemar limbah cair industri tahu dengan tumbuhan melati air (Echinodorus palaefolius) dalam sistem kombinasi constructed wetland dan filtrasi

Kasman, Monik ( Unversitas Batanghari, Jambi ) , Riyanti, Anggrika ( Unversitas Batanghari, Jambi ) , Sy, Salmariza ( Baristand Industri Padang ) , Ridwan, Muhammad ( Universitas Batang Hari, Jambi )

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tofu industry wastewater contains high organic material which reduces dissolved oxygen, contaminates water, and odor that potentially contaminates and pollutes receiving surface water. Constructed wetland is one of the recently proven efficient technologies for wastewater treatment. This is due to vegetation diversity. Constructed wetland systems have been developed using water jasmine plants combined with filtration systems for the reduction of BOD, TSS, and oil and grease in tofu wastewater as a function of detention time. Detention times were varied at 5, 7, 9, 11, 13, and 15 days. The results revealed that the reduction of BOD, TSS, and oil and grease was influenced by detention time. The reduction efficiency of BOD, TSS, and oil and grease decreased with increasing the detention time. The combined system of constructed wetland and filtration using water jasmine plants effectively reduces the pollution parameters in tofu industry wastewater with a reduction efficiency for BOD, TSS, and oil and greasel of 52-95%, 45-67%, and 59-78% respectively with concentration of 97 mg/L, 40 mg/L, and 4.2 mg/L at the detention time of 15 days. This results fulfill the requirement of the liquid waste standard according to the Minister of Environment Regulation No. 5 year 2014.AbstrakLimbah cair industri tahu mengandung bahan organik tinggi yang dapat menurunkan oksigen terlarut, mengotori, dan menimbulkan bau menyengat sehingga berpotensi mencemari perairan penerima. Constructed wetland merupakan salah satu teknologi pengolahan limbah cair yang efisien, efektif, dan tepat guna karena menggunakan keragaman vegetasi. Penelitian sistem constructed wetland menggunakan tanaman melati air (Echinodorus palaefolius) yang dikombinasikan dengan sistem filtrasi bertujuan untuk penurunan pencemar BOD, TSS, dan minyak lemak dalam limbah cair industri tahu sebagai pengaruh variasi waktu detensi. Waktu detensi meliputi 5, 7, 9, 11, 13, dan 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reduksi pencemar BOD, TSS, dan minyak lemak dipengaruhi oleh waktu detensi. Efisiensi reduksi BOD, TSS, dan minyak lemak meningkat dengan bertambahnya waktu detensi. Sistem kombinasi constructed wetland dan filtrasi menggunakan tumbuhan melati air efektif mereduksi parameter pencemar limbah cair industri tahu dengan efisiensi reduksi untuk BOD, TSS, dan minyak lemak berturut-turut 52-95%, 45-67%, dan 59-78% dengan konsentrasi 97 mg/L, 40 mg/L dan 4,2 mg/L pada waktu detensi 15 hari. Hasil ini mememenuhi baku mutu limbah cair industri tahu sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 5 tahun  2014.

Penyerapan limbah cair amonia menggunakan arang aktif ampas kopi

Aman, Fakhrul, Mariana, M, Mahidin, M, Maulana, Farid

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Coffee grounds can be utilized as adsorbents, research on the use of coffee grounds has been widely practiced. Aceh is an area of coffee producers, the number of coffee shops in the area of Aceh will certainly also easily obtained coffee grounds. This research used coffee waste as an adsorbent for absorption of ammonia waste found in urea fertilizer factory liquid waste outlet. Activation of adsorbent was carried out using HCl 0.1 M for 48 hours and continued with calcination at 400oC for 3.5 hours to improve the ability adsorbent absorption. Based on morphological analysis using SEM, there is a thickening on the pores of the adsorbent wall which indicates the ammonia attachment. The changed variable used is the length of contact time and the amount of adsorbent mass. From approach using Freundlich isotherm obtained R2 equal to 0.9316. The highest adsorption capacity was obtained at contact time of 120 minutes with an amount of adsorbent of 0.4 grams.AbstrakAmpas kopi dapat dimanfaatkan sebagai adsorben, penelitian mengenai penggunaan ampas kopi ini telah banyak dilakukan. Aceh merupakan suatu daerah produsen kopi, banyaknya jumlah warung kopi didaerah Aceh tentunya akan dengan mudah pula ampas kopi diperoleh. Penelitian ini menggunakan ampas kopi sebagai adsorben untuk penyerapan limbah amonia yang banyak ditemukan pada outlet limbah cair pabrik pupuk urea.Aktivasi adsorben dilakukan menggunakan HCl 0,1 M selama 48 jam dan dilanjutkan dengan proses kalsinasi pada temperatur 400oC selama 3,5 jam untuk meningkatkan kemampuan penyerapan adsorben. Berdasarkan analisa morfologi menggunakan SEM terlihat adanya penebalan pada dinding-dinding pori adsorben yang menandakan telah melekatnya amonia. Variabel berubah yang digunakan adalah  lamanya waktu kontak dan jumlah massa adsorben. Dari pendekatan menggunakan isoterm Freundlich diperoleh R2 sebesar 0,9316. Kapasitas adsorbsi yang paling tinggi diperoleh pada waktu kontak 120 menit dengan jumlah adsorben sebanyak 0,4 gram.

Produksi sari pepaya (Carica papaya) fermentasi sebagai minuman probiotik antihiperkolesterolemia

Setiarto, Raden Haryo Bimo ( BIDANG MIKROBIOLOGI PUSAT PENELITIAN BIOLOGI LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA ) , Widhyastuti, Nunuk ( LABORATORIUM MIKROBIOLOGI PANGAN BIDANG MIKROBIOLOGI PUSAT PENELITIAN BIOLOGI LIP ) , Octavia, Nandani Dwi ( Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor ) , Himawan, Herson Cahaya ( Program Studi Farmasi Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor )

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Probiotic beverages can be used as antihipercholesterolemia therapy. One potential ingredient for probiotic drinks is papaya (Carica papaya) which can be fermented using lactic acid bacteria. The aim of this research is to get the right mixture of lactic acid bacteria culture formula to produce probiotic papaya juice which can decrease total cholesterol level in white rats (Rattus norvegicus) of Sprague Dawley strain. The papaya juice is fermented using a mixed culture formulation of different lactic acid bacteria, comprising A (Lactobacillus bulgaricus: Lactobacillus acidophilus: Streptococcus thermophilus); B (Lactobacillus plantarum: Lactobacillus acidophilus: Streptococcus thermophilus); C (Lactobacillus casei: Lactobacillus acidophilus: Streptococcus thermophilus). The results showed that the best formula of probiotic papaya juice mixed using A mixture culture based on pH parameter, total lactic acid and total lactic acid bacteria. After the total cholesterol test, the results obtained that probiotic papaya juice beverage can reduce total cholesterol levels with a decrease percentage of 17.51%. Probiotic papaya juice beverage can be applied to antihipercholesterolemia therapy in humans at doses of 55.56 ml each day.AbstrakMinuman probiotik dapat digunakan sebagai terapi antihiperkolesterolemia. Salah satu bahan potensial untuk minuman probiotik yaitu pepaya (Carica papaya) yang dapat difermentasi menggunakan bakteri asam laktat. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh formula kultur campuran bakteri asam laktat yang tepat untuk memproduksi minuman sari pepaya probiotik yang mampu menurunkan kadar kolesterol total pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Sprague Dawley. Sari pepaya difermentasi menggunakan formulasi kultur campuran bakteri asam laktat yang berbeda, terdiri dari A (Lactobacillus bulgaricus: Lactobacillus acidophilus: Streptococcus thermophilus); B (Lactobacillus plantarum: Lactobacillus acidophilus: Streptococcus thermophilus); C (Lactobacillus casei: Lactobacillus acidophilus: Streptococcus thermophilus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula terbaik minuman sari pepaya probiotik menggunakan kultur campuran A berdasarkan parameter pH, total asam laktat dan total bakteri asam laktat. Setelah dilakukan uji kolesterol total, maka didapatkan hasil bahwa minuman sari pepaya probiotik dapat menurunkan kadar kolesterol total dengan persentase penurunan sebesar 17,51%. Minuman sari pepaya probiotik dapat diaplikasikan untuk terapi antihiperkolesterolemia pada manusia dengan dosis sebesar 55,56 ml per hari.

Pengaruh pemlastis dioktil ftalat terhadap sifat fisis dan mekanis kulit sintetis

Sholeh, Muhammad ( Balai Besar, Kulit, Karet, dan Plastik Jl. Sokonandi No 9 Yogyakarta ) , Rochani, Siti ( Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik )

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The aim of this research was to investigate the effect of dioctyl phtalate (DOP) on physical and mechanical properties of synthetic leather made from polyvinyl chloride (PVC). The leather was made from emulsion of PVC resin by addition of additives such as dioctyl phtalate (DOP) as plasticizer, BaCd as stabilizer, CaCO3 as filler, and pigment as top coat coloring agent. Syntetic leather was made in four layers, those are polyurethane (PU) coat, top coat, base coat, and twill weave fabric. PU coat was added to give abrasion resistant, high flexibility, and aging resistant. Emboss paper was used to make the surface looked like natural leather. DOP was varied at top coat from 45, 50, 55, 60, until 65 part. The thickness of each layers were: 0.1 mm (PU coat), 0.6 mm (top coat), 0.1 mm (base coat), and 0.3 mm (fabric). Mechanical and physical properties of the synthetic leather such as tensile strength, elongation, resistance to tearing, resistance to peeling, resistance to crocking by rubbing, resistance to printing, resistance to low temperature, and resistance to aging were tested. Synthetic leather with 55 part of DOP was found to give the optimum physical and mechanical properties. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar dioktil ftalat (DOP) terhadap sifat fisis dan mekanis kulit sintetis berbahan baku polivinil klorida (PVC). Kulit sintetis dibuat dari bahan resin PVC jenis emulsi dengan penambahan bahan aditif DOP sebagai pemlastis, BaCd sebagai penstabil, dan CaCO3 sebagai bahan pengisi, serta pigmen untuk pewarna lapisan atas. Kulit sintetis dibuat dengan 4 lapisan, yaitu lapisan poliuretan (PU), lapisan atas, lapisan dasar, dan kain penguat twill weave. Lapisan PU ditambahkan untuk memberikan sifat tahan abrasi, fleksibilitas tinggi, dan tahan pengusangan. Untuk membuat permukaan menyerupai kulit asli digunakan kertas embos. Pada penelitian ini DOP divariasi jumlah penambahannya pada lapisan atas berturut-turut 45, 50, 55, 60, dan 65 bagian. Ketebalan lapisan PU 0,1 mm, lapisan atas 0,6 mm, lapisan dasar 0,1 mm, dan kain penguat 0,3 mm. Kulit sintetis hasil percobaan diuji sifat-sifat fisis dan mekanisnya meliputi kekuatan tarik, kemuluran, ketahanan sobek, ketahanan rekat, ketahanan luntur warna terhadap gosokan, ketahanan terhadap pelekatan, ketahanan terhadap temperatur rendah, dan ketahanan terhadap pengusangan. Kulit sintetis yang mempunyai sifat fisis dan mekanis yang optimal adalah kulit sintetis yang mengandung DOP 55 bagian pada lapisan atas.

Analisis gugus fungsi, distribusi, dan ukuran partikel tinta stempel dari ekstrak gambir (Uncaria gambir Roxb) dengan senyawa pengomplek NaOH dan Al2(SO4)3

Silfia, S. ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang ) , Failisnur, F. ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang ) , Sofyan, S. ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang )

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Gambier is one of natural materials that can be used as raw material for ink production. This study aims to see how far the influence of NaOH and Al2(SO4)3 to the functional groups, distribution, and particles size of stamped ink from gambier. The research on the manufacture of stamp ink from gambier with the compound of NaOH and Al2(SO4)3 compounds was carried out in two stages. The first stage is the preparation of gambier extract by dissolving the raw gambier with water solvent, drying, powder extraction with alcohol solvent. The second stage is formulation the NaOH complexing (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) and Al2(SO4)3 (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) for every 35% gambier extract in ethanol. Analysis of stamp inks is the determination of functional groups, distribution and particle size. The results showed that the best stamped ink was found  with 15% NaOH complexing compound, because the values of particle size and polydispersity index (pdi) were the lowest from all treatments, as a result the ink obtained did not clot.AbstrakGambir merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan tinta. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana pengaruh NaOH dan Al2(SO4)3 terhadap gugus fungsi, distribusi, dan ukuran partikel tinta stempel dari gambir. Penelitian pembuatan tinta stempel dari gambir dengan senyawa  pengomplek NaOH dan Al2(SO4)3 dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama pembuatan ekstrak gambir melalui pelarutan gambir asalan dengan pelarut air, pengeringan, ekstraksi bubuk dengan pelarut alkohol. Tahap ke dua memformulasikan pengomplek NaOH (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) dan  Al2(SO4)3 (35%, 30%, 25%, 20%, 15%) untuk setiap 35% ekstrak gambir dalam etanol. Analisis terhadap tinta stempel adalah penentuan gugus fungsi, distribusi dan ukuran partikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinta stempel dengan pengomplek 15% NaOH yang terbaik, karena nilai ukuran partikel dan polydispersity index (pdi) paling rendah dari semua perlakuan, sehingga tinta yang didapatkan tidak menggumpal.

Effects of Fe2+ and Fe3+ ratio impregnated onto local commercial activated carbon coconut shell powder on the dye removal efficiency

Machdar, Izarul ( Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ) , Faradillasari, Cut ( Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ) , Khair, Nurul Atika ( Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ) , Asnawi, Teku Muhammad ( Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ) , BC, Alfiansyah Yulianur ( Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala ) , Yunardi, Y ( Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala )

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The present study reports the performance of magnetic activated carbon impregnated with Fe2+ and Fe3+ on the removal of dye from a simulated wastewater. The magnetic activated carbon (MAC) as a magnetic absorbent was prepared by co-precipitation method and followed by impregnation process. The activated carbon (AC) was supplied from a local commercial activated carbon coconut shell powder. The objective of this study was to investigate the effects of Fe2+ and Fe3+ on the quality product of MAC for dye (methylene blue) adsorption. The molar ratios of Fe2+ and Fe3+ used during the preparation of the MAC were 1:1; 1:2, and 2:1. The MAC products were characterized by using scanning electron microscope (SEM), energy dispersive X-ray (EDX), and Fourier transform infrared spectroscopy (FT-IR) analysis techniques. The results confirmed that the concentration of magnetic particles (Fe3O4) on the MAC surface increased following the impregnation process. However, this results lowering adsorption properties of the MAC adsorbents, which subsequently affected the dye removal performance. The ratio of Fe2+:Fe3+ on the MAC preparation did not significantly change the MAC absorbent on the dye removal efficiency. Additionally, MAC derived from local AC possess a prospect as a sustainable alternative for dye pollutant adsorbent.AbstrakPenelitian ini melaporkan kinerja karbon aktif bersifat magnet yang di impregnasi dengan Fe2+dan  Fe3+ dalam penyerapan zat warna dari air limbah buatan. Karbon aktif bersifat magnet (MAC) dibuat melalui metode co-presipitasi dan diikuti dengan proses impregnasi. Material karbon aktif (AC) dibuat dari tempurung kelapa yang diperoleh dari pasar lokal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ratio dari Fe2+ and Fe3+ terhadap kualitas produk MAC yang digunakan nantinya di dalam proses penyerapan zat warna (metilen biru). Rasio molar dari Fe2+ and Fe3+ yang digunakan di dalam penelitian ini untuk menghasilkan MAC adalah 1:1; 1:2, dan 2:1. Produk MAC yang dihasilkan dipelajari karakteristiknya melalui scanning electron microscope (SEM), energy dispersive X-ray (EDX), dan Fourier transform infrared spectroscopy (FT-IR). Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat dikonfirmasi bahwa konsentrasi partikel-partikel magnet (Fe3O4) pada permukaan MAC meningkat setelah proses impregnasi. Walaupun demikian, hal ini menyebabkan turunnya kemampuan adsorbsi dari adsorben MAC. Perbandingan rasio Fe2+ and Fe3+ tidak secara nyata mempengaruhi efisiensi penyerapan zat warna. Adsorben MAC dari karbon aktif lokal memiliki potensi sebagai bahan alternatif ramah lingkungan untuk penyerap zat warna.

Front Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018

Sofyan, Sofyan ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang )

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Front Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018

The effect of type and method of mordant towards cotton fabric dyeing quality using jengkol (Archidendron jiringa) pod waste

Sofyan, S. ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang ) , Failisnur, F., Silfia, S.

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Jengkol pod is waste from jengkol (dogfruit). Its extract contains 5.28% tannin and can be used as a natural dye for textile to add its value. This study was conducted by extracting jengkol pod waste by using water. The treatment of this research is type and method of mordant. The mordant type was Al2(SO4)3, CaO, and FeSO4 and mordant method was conducted using three ways, simultaneous, post, and the combination of both. Dying was applied to cotton fabrics. To find out the effect of each treatment, the colored fabrics measured the strength and darkness of the color. The quality of the colored fabrics was determined by testing the color fastness against washing, acidic and alkaline sweat, light, and rubbing. The results showed that mordant type and method affected the color strength and darkness. The highest color darkness and differences were obtained in the treatment using mordant FeSO4 for all mordant methods. The mordant type and method did not have a significant effect on the color fastness of the fabric. The average of non-mordant fabric (control) has a higher fastness value compared to the colored fabrics. Some treatments have the same color fastness as the control fabric. The CaO mordant treatment with post and combined mordant method had better color fastness against alkaline sweat and light than controlled fabric treatment.AbstrakKulit jengkol merupakan limbah yang dihasilkan dari buah jengkol. Ektrak kulit jengkol mengandung tanin sebesar 5,28% dan dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alam tekstil untuk meningkatkan nilai tambahnya. Penelitian dilakukan dengan mengekstrak kulit jengkol menggunakan air. Perlakuan penelitian yaitu jenis dan metode mordan. Jenis mordan yang digunakan adalah Al2(SO4)3, CaO, dan FeSO4. Metode mordan dilakukan dengan tiga cara yaitu simultan, pasca, dan gabungan. Pewarnaan diaplikasikan pada kain katun. Untuk melihat pengaruh masing-masing perlakuan maka kain yang telah diwarnai diukur arah dan ketuaan warnanya. Kualitas kain hasil pewarnaan dilihat dengan menguji ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat asam dan basa, sinar, dan gosokan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan metode mordan mempengaruhi arah dan ketuaan warna kain. Ketuaan dan perbedaan warna paling tinggi diperoleh pada perlakuan menggunakan mordan FeSO4 untuk semua metode mordan baik simultan, pasca, dan gabungan. Jenis dan metode mordan tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap ketahanan luntur warna kain. Kain kontrol tanpa mordan rata-rata mempunyai nilai ketahanan luntur yang lebih tinggi dibandingkan dengan kain yang diwarnai. Beberapa perlakuan mempunyai ketahanan luntur warna yang sama dengan kain kontrol. Perlakuan mordan CaO dengan metode mordan pasca dan gabungan mempunyai ketahanan luntur warna terhadap keringat basa dan sinar yang lebih baik dari perlakuan kain kontrol.

Back Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018

Sofyan, Sofyan ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang )

Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Back Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018

Efek Pemordanan terhadap Pewarnaan Menggunakan Kombinasi Limbah Cair Gambir dan Ekstrak Kayu Secang pada Kain Rayon dan Katun

Failisnur, F ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang ) , Sofyan, S ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang ) , Kumar, Robby ( Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang )

Jurnal Litbang Industri Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Combination of gambier liquid waste and secang wood (Caesalpinea sappan L.) can add color variations of fabric dyed with natural dyes. This research explained the effect of dyeing combination of gambir liquid waste and secang wood with different mordant method and type on the color shade and other characteristics of rayon and cotton dyed fabric. The mordant process was performed as much as 1 and 2 times using CaO, Al(2SO4)3, FeSO4 mordant and then compared without mordant treatment. The result of the dyed fabrics was evaluated the color shade, color strength (K/S), and fastness properties. The results showed that the color shade of rayon and cotton fabrics were varied. Rayon fibers had a greater affinity and absorption to the liquids waste of gambier and secang wood than in cellulose fibers. The mordant process could increase color strength (K/S) and color fastness to washing, acidic perspiration, rubbing, and light.ABSTRAKKombinasi limbah cair gambir dan kayu secang (Caesalpinea sappan L.) dapat menambah variasi warna kain yang dicelup dengan pewarna alami. Penelitian ini menjelaskan tentang efek pewarnaan kombinasi limbah cair gambir dan kayu secang dengan metoda dan  jenis mordan yang berbeda terhadap arah warna dan karakteristik lainnnya dari kain rayon dan katun hasil celupan. Proses mordan yang digunakan adalah 1 kali dan 2 kali mordan menggunakan CaO, Al(2SO4)3, FeSO4 yang dibandingkan dengan tanpa mordan. Kain hasil pewarnaan dievaluasi arah warna, intensitas warna (K/S), dan ketahanan luntur warna. Hasil penelitian menunjukkan arah warna kain rayon dan katun yang lebih bervariasi. Serat rayon memiliki afinitas dan penyerapan yang lebih besar terhadap zat warna limbah cair gambir dan kayu secang dibandingkan dengan serat selulosa.  Proses mordan dapat meningkatkan intensitas warna (K/S) dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat asam, gosokan, dan sinar.