cover
Filter by Year
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir
Eksplorium adalah media informasi Buletin Pusat Pengembangan Geologi Nuklir, ter akreditasi LIPI No.352/Akred-LIPI/P2MBI/07/2011Diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Geologi Nuklir- BATAN
Articles
114
Articles
Studi Karakteristik Air-Tanah di Kawasan Nuklir Pasar Jumat (KNPJ) dengan Metode Hidrokimia dan Isotop Alam

Sanusi, Neneng Laksminingpuri, Nurfadhlini, Nurfadhlini, Satrio, Satrio

EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Telah dilakukan penelitian air-tanah di Kawasan Nuklir Pasar Jumat (KNPJ) menggunakan metode hidrokimia dan isotop alam. Penelitian dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel air di beberapa kawasan KNPJ dan sekitarnya. Sampel air tersebut kemudian dianalisis konsentrasi kimia airnya (anion-kation) dan konsentrasi isotop alam d2H dan d18O menggunakan alat lasser counter. Analisis kimia air dilakukan menggunakan metode ion kromatografi dan titrasi. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui karakteristik air-tanah terhadap kemungkinan interaksi dengan air permukaan sekitarnya. Berdasarkan hasil analisis hidrokimia (anion-kation) dan isotop alam (d2H, d18O) menunjukkan bahwa air-tanah dalam masih mencerminkan karakter sebagai air-tanah segar atau freshwater. Air-tanah akuifer dalam juga terindikasi tidak berhubungan dengan air-tanah akuifer dangkal yang berada di atasnya. Air-tanah dangkal, sebagian besar masih menunjukkan karakter air-tanah segar dan sebagian lainnya, yaitu SB-8, SB-9, dan SB-10, air-tanahnya mengalami pertukaran ion dan interaksi dengan air permukaan. Air permukaan untuk SB-8 diperkirakan berasal dari rembesan larutan pupuk tanaman sedangkan untuk SB-9 dan SB-10 air permukaan diperkirakan berasal dari rembesan tanki kotoran (septic tank). Groundwater research has been conducted in Nuclear Area of Pasar Jumat (KNPJ) using hydrochemical data and natural isotopes methods. The research was conducted by taking a number of water samples in some areas of KNPJ and also its surrounding areas. The water samples were then analyzed its hydrochemical concentration (anion-cation) and natural isotope concentration d2H and d18O using lasser counter device. Water chemical analysis was conducted by using ion chromatography and titration methods. The purpose of this research is to know the characteristics of groundwater to the possibility of its interaction with the surrounding surface water. Based on the results of hydrochemical analysis (anion-cation) and natural isotopes (d2H, d18O) indicates that groundwater still reflects the character as fresh groundwater or freshwater. The deep aquifer groundwater is also indicated to be unrelated to groundwater of shallow aquifers located above it. While most shallow groundwater still show the character of fresh groundwater, and some others namely SB-8, SB-9, and SB-10, the groundwater undergo ion exchanges and interact with surface water. Surface water for SB-8 is estimated come from the seepage of the liquid plant fertilizer, whereas for SB-9 and SB-10 surface water is estimated come from septic tank seepage.

Thorium and Total REE Correlation in Stream Sediment Samples from Lingga Regency

Irzon, Ronaldo

EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Rare Earth Elements (REE) are found in variety of minerals, which are mobilized by weathering from adjacent watersheds into streambeds and affect the chemical content. A study of stream sediments is useful to trace the source of metals, as they are representative of the composition of the drainage basin. This study describes trace and rare earth elements geochemistry composition of selected nine stream sediment samples from two major Islands in Lingga Regency, namely Singkep and Lingga. Moreover, the associations of rare earth elements abundance to other elements in selected samples are used on tracing the most possible mineral as REE source. Nine selected stream sediments were identified megascopically and measured for the trace and rare earth elements composition by inductively coupled plasma – mass spectrometry (ICP-MS). The selected samples from Lingga yielded very strong average Zr, Mn, Ba, and Rb compositions of 246 ppm, 172 ppm, 126 ppm, and 84 ppm, respectively. On the other hand, Zr, Mn, Cr, and Rb are the top four abundant trace elements from Singkep with consecutive median value of 486 ppm, 305 ppm, 145 ppm, and 85 ppm. Feltilizer for agricultural area at Lingga most posibly contain As and Rb upon these elements abundances and association. Tin mine activity was found to influence the streambeds composition with low Rb-Cs composition but high Zr-REE abundance. Very strong Th to ∑REE association suggests that thorium-bearing mineral, especially monazite-La, is the main REE source of the selected samples. All of the studied samples exhibit Eu negative anomaly to imply the absence of either detrital apatite or chemical weathering of apatite. Moreover, REE of Lingga stream sediments is averagely more fractionated than Singkep.  Unsur Tanah Jarang (UTJ) terkandung dalam berbagai jenis mineral yang dapat termobilisasi akibat pelapukan dari daerah aliran sungai terdekat, terendapkan, dan mempengaruhi kandungan kimianya. Studi mengenai sedimen sungai dapat dimanfaatkan untuk menelusuri sumber logam, sebagaimana sedimen tersebut merupakan bahan penyusun dasar sungai. Penelitian ini menerangkan kandungan geokimia unsur jejak dan tanah jarang dari sembilan contoh sedimen sungai terpilih dari dua pulau besar di Kabupaten Lingga, yaitu: Singkep dan Lingga. Selanjutnya, asosiasi kelimpahan unsur tanah jarang terhadap unsur lain dipergunakan untuk menelusuri mineral yang paling mungkin sebagai sumber UTJ. Sembilan contoh sedimen sungai terpilih telah dideskripsi secara megaskopis dan diukur kandungan unsur jejak dan tanah jarangnya menggunakan inductively coupled plasma – mass spectrometry (ICP-MS). Contoh terpilih dari Pulau Lingga tersusun atas sejumlah tinggi Zr, Mn, Ba, dan Rb, yaitu 246 ppm, 172 ppm, 126 ppm, and 84 ppm secara berurutan. Sementara itu, Zr, Mn, Cr, dan Rb merupakan unsur paling melimpah pada contoh dari Pulau Singkep dengan rataan kelimpahan masing-masing 486 ppm, 305 ppm, 145 ppm, and 85 ppm. Pupuk pertanian di Lingga kemungkinan besar mengandung As dan Rbberdasarkan kelimpahan dan asosiasi mineral tersebut. Aktivitas penambangan timah ditengarai mempengaruhi komposisi endapan sungai dengan komposisi Rb-Cs yang rendah tetapi Zr-REE melimpah. Korelasi kuat Th dan ∑UTJ menunjukkan bahwa mineral mengandung thorium, khususnya monasit-La, merupakan sumber utama UTJ pada contoh terpilih. Seluruh contoh menampakkan anomali negatif Eu yang menandakan ketiadaan apatit detrital maupun pelapukan kimia apatit. Lebih jauh, UTJ pada sedimen sungai Lingga secara rata-rata lebih terfraksinasi dari pada Singkep.

Relationship Between Leadership and Commitment with Quality Performance on U-Th-REE Processing Pilot Plant Construction in BATAN

Madyaningarum, Nunik, Berawi, Mohammed Ali, Miraj, Perdana

EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Management area of leadership and commitment in the quality management system is a mean to achieve successful functions, even more on construction industry. The objective of this research is to analyze the correlation between leadership and commitment focus management area and quality performance as indicated by rework. Research location is uranium (U), thorium (Th), and rare earth elements (REE) processing pilot plant construction area in Center for Nuclear Minerals Technology-BATAN. Primary data were collected from the 36 of 37 submitted questionnaires, and representing 97 % response rate. The research used descriptive analysis, which depends on the poll and the use of Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) main program for data analysis. The relationship between leadership and commitment and quality performance was analyzed using spearman rank correlation coefficient. Findings of research provide guideline and alert to project managers or management of organization where leadership, commitment, infrastructure, and environmental work have moderate to strong correlation to rework level. The results further revealed that there is no relationship between responsibility and authority for the management system and organizational policy and construction quality performance. The research provides evidence, in fact to achieve the quality performance of a pilot plant construction must be concerned with leadership attribute, maintaining commitment and provide support resources on the whole project cycle.  Area manajemen kepemimpinan dan komitmen dalam sistem manajemen mutu adalah sarana untuk mencapai keberhasilan suatu pekerjaan, terlebih pada industri konstruksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara area fokus manajemen kepemimpinan, komitmen, dan kinerja kualitas yang ditunjukkan dengan pengerjaan ulang (rework). Lokasi penelitian adalah area kontruksi pilot plant pengolahan uranium (U), torium (Th), dan unsur logam tanah jarang (LTJ) di Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN. Data primer merupakan hasil 36 dari 37 kuisioner yang dikirimkan, dan mewakili tingkat respons 97 %. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, yang bergantung pada polling dan menggunakan program utama Paket Statistik untuk Ilmu Pengetahuan Sosial (SPSS) untuk analisis data. Hubungan antara kepemimpinan dan komitmen dan kinerja kualitas dianalisis dengan menggunakan koefisien korelasi pemeringkatan spearman. Hasil penelitian memberikan panduan dan peringatan kepada manajer proyek atau manajemen organisasi bahwa kepemimpinan, komitmen, dan infrastruktur serta lingkungan kerja memiliki korelasi menengah hingga sangat kuat terhadap tingkat pengerjaan ulang. Hasil lainnya mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan antara tanggung jawab dan wewenang sistem manajemen serta kebijakan organisasi dengan kinerja kualitas konstruksi. Penelitian ini memberikan bukti bahwa sebenarnya untuk mencapai kinerja kualitas konstruksi pilot plant harus memperhatikan atribut kepemimpinan, mempertahankan komitmen, dan memberikan sumber daya pendukung pada keseluruhan siklus proyek.

Studi Keterdapatan Torium Pada Endapan Laterit Bauksit di Pulau Singkep Dalam Rangka Pengembangan Eksplorasi Torium di Wilayah Granit Jalur Timah

Ngadenin, Ngadenin, Widana, Kurnia Setiawan, Karunianto, Adhika Junara

EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Eksplorasi torium di wilayah granit jalur timah pada lima tahun terakhir ditargetkan pada keterdapatan torium di cebakan timah primer maupun sekunder. Pulau Singkep adalah bagian dari Granit Jalur Timah, yang potensial terhadap keberadaan torium, sebagai cebakan primer maupun sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik keterdapatan torium pada laterit bauksit menyangkut kadar torium dan kaitannya dengan keterdapatan mineral radioaktif dan kandungan cerium (Ce), lantanum (La), itrium (Y), dan zirkon (Zr) pada laterit bauksit. Data yang diperoleh dari penelitian ini akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan eksplorasi torium pada cebakan laterit bauksit di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi, pengukuran kadar torium, dan pengambilan sampel konsentrat dulang untuk analisis mineral butir dan analisis kadar Ce, La, Y, dan Zr. Litologi yang menyusun daerah penelitian terdiri atas granit lapuk yang telah terubah menjadi laterit bauksit dengan kadar torium berkisar antara 25,9 hingga 177,8 ppm eTh. Konsentrat hasil pendulangan adalah konsentrat zirkon-ilmenit dengan kandungan mineral radioaktif terdiri dari zirkon, monasit, dan anatas. Kadar lantanum pada konsentrat zirkon-ilmenit adalah 0–412 ppm, cerium 0–80 ppm, itrium 27–82 ppm, dan zirkon 9.420–100.000 ppm. Keterdapatan torium pada endapan laterit bauksit di Pulau Singkep berhubungan erat dengan keterdapatan mineral zirkon, monasit, dan anatas. Karakterisrik keterdapatan torium pada endapan laterit bauksit mempunyai kemiripan dengan karakteristik keterdapatan torium pada cebakan timah primer dan sekunder. The thorium exploration in the last five years in the granite tin belt region is targeted at thorium availability in primary and secondary tin deposits. Singkep island is the part of granite tin belt which potential for thorium occurences either primer or secondary deposits. The purpose of this study was to determine the characteristics of thorium availability in bauxite laterite deposits concerning thorium content and its relation to the availability of radioactive minerals and cerium (Ce), lanthanum (La), Yttrium (Y), and zircon (Zr) contents on the bauxite laterite deposit. The data obtained from this study will be used as an evaluation material for the development of thorium exploration in bauxite laterite deposits in Indonesia. The methods used are geological mapping, thorium concentration measurements, and sampling of pan concentrate for mineral grain analysis and analysis of Ce, La, Y, and Zr contens. The lithology of the study area was granite that had weathered and turned into bauxite laterite deposit with thorium content ranging from 25.9 to 177.8 ppm eTh. The concentrate of the repeating result is zircon-ilmenite concentrate with radioactive mineral content composed of zircon, monazite, and anatase. La concentration on zircon-ilmenite concentrate is 0–412 ppm, Ce is 0–80 ppm, Y is 27–82 ppm and zircon is 9,420–100,000 ppm. Avaibility of thorium at the bauxite laterite deposit on Singkep Island is closely related to the zircon, monazite, and anatase minerals. Characteristics of thorium availability in the bauxite laterite deposit are similar to the thorium characteristics of the primary and secondary tin deposits.

Pelindian Natrium Zirkonat Menggunakan Asam Klorida Secara Catu

Sajima, Sajima

EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian tentang teknologi pengolahan zircon terus dilakukan untuk mengikuti kebutuhan industri pasar. Pengolahan natrium zirkonat dengan pelindian menggunakan asam klorida sebagai pelarut telah dilkukan. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh ukuran butir, temperatur, dan kecepatan pengadukan terhadap zirkon terambil. Penelitian dilakukan dengan memasukkan pelarut (asam klorida 4 N) ke dalam reaktor, kemudian pelarut tersebut dipanaskan sambil diaduk. Umpan dengan ukuran butir tertentu dimasukkan ke dalam reaktor. Kondisi temperatur dan kecepatan pengadukan dijaga tetap. Setelah kondisi operasi tercapai, proses dihentikan kemudian disaring. Hasil penelitian dengan analisis XRF menunjukkan bahwa kondisi proses optimum dicapai pada ukuran butir 90 µm, temperatur 80 oC dan kecepatan pengadukan 200 rpm. Pada kondisi tersebut zirkon terambil sebesar 84.50 %.  Research on zircone processing technology has been continued to follow industrial market needed. Treatment of sodium zirconate with leaching process using hydrochloric acid as solvent has been conducted. The aim of the study is to evaluate the effect of grain size, temperature, and speed of stirring on the extracted zircon. The research starting with introduced the solvent (chloride acid 4 N) into the reactor, then heated while stirring. The feed with a certain grain size was introduced into the reactor. The temperature and stirring conditions were kept steady. Once the operating conditions are reached, the process is stopped and then filtered. The results with XRF analysis showed that the optimum process conditions were achieved on 90 μm grain size, the temperature of 80oC, and stirring speed of 200 rpm. The amount of zircon that taken out were 84.50% on this conditions.

Laju Sedimentasi di Dataran Banjir Sungai Ciujung Hulu Berdasarkan Profil Pb-210 Excess

Aliyanta, Barokah, Suhartini, Nita

EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Laju deposisi sedimen di dataran banjir merupakan salah satu komponen dalam budget sedimen daerah aliran sungai (DAS). Oleh karena itu, perlu dilakukan perhitungan estimasi laju deposisi sedimen di dua lokasi dataran banjir berdasarkan penanggalan umur sedimen dengan teknik Pb-210 excess. Core sedimen diambil di dataran banjir Sungai Ciujung Hulu tiap interval kedalaman 10 cm sampai kedalaman 120 cm. Sedimen yang didapat dikeringkan, diayak, ditimbang 150–300 gr, ditempatkan dalam wadah khusus dan ditutup rapat. Setelah sebulan dalam kondisi tertutup rapat, sampel diukur dengan spektrometer gamma Multichannel analyzer (MCA) untuk mengetahui aktivitas Pb-210 total dan Pb-210 supported. Berdasarkan data Pb-210 total dan Pb-210 supported, terdapat tiga cara berbeda untuk mendapatkan profil Pb-210 excess. Data Pb-210 excess yang diperoleh digunakan untuk menghitung umur sedimen berdasarkan metode constant of the rate of supply (CRS). Melalui umur tiap perlapisan sedimen ini, dapat diketahui adanya zona peralihan laju deposisi sedimen di kedua lokasi. Laju sedimentasi berkisar 1,028 cm/tahun dari tahun 1968 s/d 1987, dan naik menjadi sekitar 2,83 cm/tahun dari tahun 1987–2016 (28,95 tahun) di lokasi 1. Di lokasi 2, laju sedimentasi berkisar 0,676 cm/tahun dari tahun 1950–1993, dan naik menjadi kisaran 3,231 cm/tahun dari kurun waktu tahun 1993–2016 (23 tahun). The rate of deposition of sediment on the floodplain area is one of the constituent component of the sediment budget in watersheds. Therefore, the sedimentation rate estimation has been made in two locations of the floodplains based on the age sediment obtained using Pb-210 excess technique. Sediment cores were taken in the Ciujung Hulu River floodplain every 10 cm depth intervals up to a depth of 120 cm. Sediment was obtained then dried, disaggregated, sifted, weighing 150–300 gr, placed into the special containers and tightly closed. After a month in a sealed condition, samples were measured using gamma spectrometer Multichannel analyzer (MCA) to find out the activity of Pb-210 total and Pb-210 supported. Based on the data of Pb-210 total and Pb-210 supported, there are three different ways to get Pb-210 excess profiles. Obtained Pb-210 excess data is used to calculate the age of the sediments on the basis of the method of constant rate of supply (CRS). Through the age of sediment layers, can be recognized the existence of transitional zone of sediment deposition rate at both locations. The rate of sedimentation ranged from 1.028 cm/year from the years 1968–1987, and rose to about 2.83 cm/year from the years 1987–2016 (28.95 years) at location 1. While in location 2, the rate of sedimentation ranged 0.676 cm/year from the years 1950–1993, and rose to about 3.231 cm/year from the years 1993–2016 (2 years).

Cover+Daftar Isi+Indeks Isi

Eksplorium, Redaksi

EKSPLORIUM Vol 39, No 1 (2018): Mei 2018
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Cover dan halaman pengantar pada volume 39, No.1: Mei 2018

Studi Ekstraksi Bijih Thorit dengan Metode Digesti Asam dan Pemisahan Thorium dari Logam Tanah Jarang dengan Metode Oksidasi-Presipitasi Selektif

Said, Moch Iqbal Nur, Anggraini, Mutia, Mubarok, Mohammad Zaki, Widana, Kurnia Setiawan

EKSPLORIUM Vol 38, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakThorium (Th) merupakan logam radioaktif yang dapat terbentuk bersama uranium dan logam tanah jarang (LTJ). Mineral-mineral yang mengandung unsur radioaktif diantaranya monasit ((Ce,La,Y,U/Th)PO4), thorianit ((Th,U)O2), dan thorit (ThSiO4). Daerah Mamuju, Sulawesi Barat diketahui mengandung mineral radioaktif, salah satunya adalah thorit. Untuk memisahkan LTJ dari unsur radioaktif dapat dilakukan dengan cara mengekstraksi thorium dari bijih thorit dengan metode digesti asam menggunakan asam sulfat (H2SO4), kemudian diikuti pelindian dalam air dan rekoveri thorium dalam bentuk thorium hidroksida dengan metode presipitasi kimia menggunakan ammonium hidroksida (NH4OH). Hasil percobaan menunjukkan bahwa kondisi optimum digesti asam yang memberikan persentase ekstraksi paling tinggi didapatkan pada rasio padat/cair 1:2 (g/mL) selama 60 menit dengan persentase ekstraksi Th, besi (Fe), dan LTJ masing-masing sebesar 82,47%, 80,08%, dan 83,31%. Persentase presipitasi Th tertinggi sebesar 95,47% diperoleh pada pH 4,5 dalam suhu ruangan (26±1°C). Pada temperatur yang lebih tinggi, (70°C), diperoleh persentase presipitasi thorium yang lebih rendah sebesar 83,69%. Pre-oksidasi dengan menggunakan larutan H2O2sebanyak dua kali stoikiometri selama 1,5 jam pada suhu kamar meningkatkan persentase presipitasi Fe dari 93,08% menjadi 99,93%. AbstractThorium (Th) is a radioactive metal that can be formed along with uranumand rare earth metals (REM). Minerals contain radioactive elements are monazite ((Ce,La,Y,U/Th)PO4), thorianite ((Th,U)O2), and thorite (ThSiO4). Mamuju Area is containing radioactive minerals, thorite is one of them. To separate REM from radioactive elements can be conducted by exctracting thorium from thorite ore by acid digestion method using sulphuric acid (H2SO4), followed by leaching and thorium recovery in the form of thorium hydroxide by chemical precipitation using ammonium hydroxide (NH4OH). The experimental results showed that the optimum conditions of acid digestion that give the highest Th extraction percentage on solid to liquid ratio are obtained at 1:2 (g/mL) in 60 minutes with extraction percentages of Th, iron (Fe) and REM are 82.47%, 80.08%, and 83.31% respectively. The highest thorium precipitation percentage, as much as 95.47% , was obtained at pH 4.5 on room temperature (26 ± 1°C). At higher temperature (70°C), a lower percentage of thorium precipitation is obtained, as much as 83.69%. Pre-oxidation by using H2O2 solution with two times stoichiometry for 1.5 hours at room temperature is increasing Fe precipitation percentage from 93.08% to 99.93%.

Upstream Hydraulic Interconnection Study of Gunungkidul Karst Area Underground Rivers

Sidauruk, Paston, Satrio, Satrio, Pujiindiyati, Evarista Ristin, Aliyanta, Barokah

EKSPLORIUM Vol 38, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstractHydraulic interconnection of Jomblangan cave (Petung) with other caves and water discharges in Gunungkidul karst area has been investigated using tracer techniques and variationof stable isotopes and hydrochemical data interpretation from water samples near the cave. Many studies related to the interconnections of underground rivers around Gunungkidul Karst area have been conducted, most of them, however, focused on the area around Bribin and Seropan caves. This is because of the development activites of microhydro turbines to lift the water from underground river were still focused around Bribin and Seropan caves. Petung cave, located in the north of Bribin and Seropan caves, was believed to be one of the caves at the upstream river system of Bribin and Seropan, however, there is no evidence yet of the hydraulic interconnection between Petung cave with either Bribin or Seropan caves. The results of tracer technique at the current study showed that there was no hydraulic interconnection between Petung cave with either Bribin and Seropan caves.On the other hand, the study showed an indication of a direct flow from Petung cave to Sriti and Beton springs. The travel times from Petung to Sriti and Beton springs were found to be around 2 and 10 hours, respectively. This finding is also in agreement with the results of chemical and stable isotopes analysis from the research location. AbstrakPenelitian keterhubungan Gua Jomblangan (Petung) dengan gua lainnya dan keluaran air di sekitar daerah karst Gunungkidul telah dilakukan dengan menggunakan teknik perunut dan variasi kandungan isotop stabil serta hidrokimia sampel air di sekitar gua. Penelitian yang berkaitan dengan keterhubungan antara sistim aliran bawah tanah di sekitar daerah karst Gunungkidul telah banyak dilakukan, namun sebagian besar dari penelitian tersebut hanya berpusat pada gua di sekitar Bribin dan Seropan. Hal ini terjadi karena kegiatan pembangunan turbin-turbin mikrohidro untuk mengangkat air dari sungai bawah permukaan tanah masih terfokus di daerah gua Bribin dan Seropan. Gua Petung, yang berada di sebelah utara gua Bribin dan Seropan, dipercaya merupakan salah satu gua yang berada di hulu sistim sungai bawah tanah Bribin dan Seropan, namun, sampai sekarang belum ada bukti keterhubungan hidrolika antara gua Petung dengan gua Bribin maupun dengan gua Seropan.Hasil uji perunut dalam penelitian ini menunjukkan bahwa aliran air bawah tanah di gua Petung tidak berhubungan langsung dengan aliran bawah tanah di gua Bribin maupun di gua Seropan. Sebaliknya, hasil penelitian ini menunjukkan adanya aliran langsung dari gua Petung ke mata air Sriti dan Beton. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari gua Petung ke mata air Sriti adalah sekitar 2 jam dan ke mata air Beton adalah sekitar 10 jam. Temuan ini sangat bersesuaian dengan hasil analisis kimia air dan isotop stabil dari lokasi penelitian.

Cover + Kata Pengantar + Daftar Isi + Indeks Isi + Indeks Penyunting

Eksplorium, Redaksi

EKSPLORIUM Vol 38, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Cover dan halaman pengantar pada Volume 38 No.2: November 2017