cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : -
Core Subject : Education,
Eksplorium adalah media informasi Buletin Pusat Pengembangan Geologi Nuklir, ter akreditasi LIPI No.352/Akred-LIPI/P2MBI/07/2011Diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Geologi Nuklir- BATAN
Arjuna Subject : -
Articles 111 Documents
Geologi dan Potensi Terbentuknya Mineralisasi Uranium Tipe Batupasir di Daerah Hatapang, Sumatera Utara Ngadenin, Ngadenin
EKSPLORIUM Vol 34, No 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.392 KB)

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi oleh tataan geologi daerah Hatapang Sumatera Utara yang diidentifikasi sebagai daerah favourable bagi terbentuknya mineralisasi uranium tipe batupasir. Hal ini dicirikan oleh keterdapatan anomali radioaktivitas dan kadar uranium pada intrusi granit Kapur Atas dan anomali radioaktivitas batuan sedimen Tersier yang diendapkan pada lingkungan darat. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui potensi terbentuknya mineralisasi uranium tipe batupasir pada batuan sedimen Tersier berdasarkan kajian data geologi, geokimia, mineralogi dan radioaktivitas batuan. Stratigrafi daerah Hatapang dari tua ke muda adalah satuan kuarsit (Perm-Karbon), satuan batupasir (Trias Atas), satuan granit (Kapur Atas), satuan konglomerat (Miosen Bawah-Tengah) dan satuan tuf (Plistosen). Granit Hatapang termasuk granit tipe S yang sangat potensial disamping sebagai sumber mineral radioaktif terutama monasit tipe plaser dan juga potensial sebagai batuan sumber bagi mineralisasi uranium tipe batupasir pada batuan sedimen yang lebih muda. Batuan sedimen satuan konglomerat memiliki potensi sebagai batuan perangkap, meskipun uranium tidak terakumulasi dalam batuan tersebut karena jumlah material karbon sebagai presipitan sangat sedikit sehingga U+6 yang terlarut dalam air tidak terreduksi menjadi U+4 dan tetap terbawa air ke tempat lain, sehingga tidak terbentuk mineralisasi uranium. The Study based on geological setting of Hatapang region, North Sumatera, identified as a favourable area to the formation of sandstone type uranium mineralization. This characterized by the occurred of anomalous radioactivity, uranium contents of the upper cretaceous granite intrusions and radioactivity anomalous of tertiary sedimentary rocks deposited in terrestrial environments. The study is objectived to find out the potential formation of sandstone type-uranium mineralization within tertiary sedimentary rocks based on data’s studies of geological, geochemical, mineralogy, radioactivity of rocks. Stratigraphy of hatapang area of the oldest to youngest are quartz units (permian-carboniferous), sandstone units (upper Triassic), granite (upper cretaceous), conglomerate units (Lower –middle Miocene) and tuff units (Pleistocene). Hatapang’s granite is S type granite which is not only potential as source of radioactive minerals, particularly placer type monazite, but also potential as source rocks of sandstone type-uranium mineralization on lighter sedimentary rocks. Sedimentary rock of conglomerate units has potential as host rock, even though uranium did not accumulated in its rocks since the lack number of carbon as precipitant material and dissolved U+6 in water did not reduced into U+4 caused the uranium mineralization did not deposited.
Analisis Kedalaman Potensi Akuifer Air Tanah dengan Pemodelan Distribusi Tahanan Jenis secara Inversi 2-D Desa Kompas Raya, Nanga Pinoh, Melawi, Kalimantan Barat Karunianto, Adhika Junara
EKSPLORIUM Vol 34, No 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (777.831 KB)

Abstract

Penyelidikan geofisika dengan metode geolistrik tahanan jenis telah dilakukan di Desa Kompas Raya, Kecamatan Pinoh, Kabupaten Melawi, Propinsi Kalimantan Barat. Desa Kompas Raya merupakan daerah yang selalu kekurangan air pada musim kemarau sehingga masyarakat desa kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini dimaksudkan untuk melihat penyebaran data tahanan jenis baik lateral maupun vertikal secara dua dimensi. Penyebaran data tahanan jenis ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui informasi potensi keberadaan batuan pembawa air tanah (akuifer) di area penelitian. Metode pengukuran adalah geolistrik sounding yang dilakukan dengan Konfigurasi Schlumberger. Jumlah titik ukur sounding adalah 30 titik yang dibagi menjadi 6 lintasan survei dengan tiap lintasan terdapat 5 titik ukur sounding. Pada penelitian ini, pengolahan data geolistrik dilakukan dengan menggunakan teknik pemodelan inversi 2D berdasarkan data geolistrik sounding. Teknik pemodelan ini akan mengiterpolasi data sounding dalam satu lintasan secara otomatis dan kemudian data kemudian tahanan jenis semu diinversi menjadi tahanan jenis sebenarnya. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapatnya dua lapisan batuan dengan nilai tahanan jenis relatif kecil yaitu berturut-turut kurang dari 30 Ohm.m dan 20 Ohm.m. Lapisan pertama diinterpretasi sebagai akuifer dangkal (akuifer-1) dengan kedalaman sekitar 20 m sampai 30 m, sedangkan lapisan kedua diinterpretasi sebagai akuifer dalam (akuifer-2) dengan kedalaman sekitar 90m sampai 100 m. Geophysical investigation by geoelectrical resistivity method have been done at Kompas Raya Village, Pinoh, Melawi, West Kalimantan Province. Kompas Raya Village is an area that is always a lack of water in the dry season, so the villagers are always difficult to get clean water to meet their daily needs. This study aimed to look resistivity distribution both laterally and vertically in two dimensions. The data distribution of resistivity can be used as a basis to determine the potential aquifers in the area of research. The measurement method of sounding resistivity is performed by Schlumberger Configuration. The numbers of measuring points are 30 points soundings which are divided into six survey paths each where each survey path is contained five measuring points. In this study, resistivity data processing is performed using 2D inversion modeling techniques based on data resistivity sounding. The results obtained from this study is the presence of two layers of relatively low resistivity that is each less than 30 Ohm.m and 20 Ohm.m. The first layer is interpreted as a shallow aquifer (aquifer-1) with the depth of about 20 m to 30 m, while the second layer is interpreted as the aquifer (aquifer-2) with the depth of about 90 m to 100 m.
The Last 41.000 Years Fluctuation in Atmosperic CO2 Concentration Inferred from The Changes in Oxygen and Carbon Stable Isotopes Ratios of The Marine Sediment Wahyudi, Wahyudi; Minagawa, Masao
EKSPLORIUM Vol 33, No 1 (2012): Mei 2012
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.257 KB)

Abstract

The past atmospheric CO2 concentrations were reconstructed based on the results of measurements of stable oxygen and carbon isotopic ratios of fossil foraminifer and total organic carbon contained in marine sediment taken from the Okinawa Trough, East China Sea. In this study, we utilized two models of Popp et al and Rau et al. for the reconstruction. The results show that the whole trends of the changes in CO2 concentrations are very similar, even when it is compared to the atmospheric CO2 concentration of air trapped in ice core from southern pole. Changes in atmospheric CO2 concentrations are interpreted as a consequence of fluctuation in ocean surface water utilization of CO2 by marine organism and those are closely related to glacial-interglacial (cold-warm) fluctuations between maximum and minimum values through most Quaternary. Rekonstruksi terhadap perubahan konsentrasi CO2 yang terkandung dalam udara telah dilakukan berdasarkan hasil pengukuran rasio isotop stabil oksigen dan karbon dalam fosil foraminifera dan total karbon organik yang terkandung dalam sedimen dasar laut dari Okinawa Trough, Laut Cina Timur. Dalam studi ini, dipakai model dari Popp et al. dan Rau et al. untuk rekonstruksi. Hasil studi menunjukkan bahwa kedua tren dari perubahan kandungan CO2 udara sangat mirip, bahkan bila dibandingkan dengan kandungan CO2 udara yang terperangkap dalam inti es di Kutup Selatan sekalipun. Perubahan kandungan CO2 udara diinterpretrasikan sebagai akibat fluktuasi konsumsi CO2 di permukaan air laut oleh mikro-organisme yang juga sangat erat hubungannya dengan fluktuasi glasial-interglasial (dingin-panas) antara suhu udara bumi maksimum dan minimum sepanjang masa Kuarter.
Perekayasaan Mixer Settler untuk Ekstraksi Siklus II pada Recovery Uranium dalam Larutan Asam Fosfat Jami, Abdul; Nuri, Hafni Lissa
EKSPLORIUM Vol 34, No 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.474 KB)

Abstract

Mixer settler atau pesawat pengaduk pengenap secara teknis dirancang untuk proses ekstraksi dan pemisahan uranium dari larutan asam fosfat. Hasil perhitungan perekayasaan menunjukkan bahwa pesawat pengaduk pengenap terdiri dari dua bagian, yaitu bagian untuk proses ekstraksi terjadi dalam tangki berpengaduk dan proses pemisahan terjadi dalam tangki pengenap. Tangki berpengaduk bertipe kotak dengan 4 penghalang dengan ukuran lebar 0,8 m, panjang 0,8 m, tinggi cairan 1 m, tinggi tangki 1,05 m dan jenis pengaduk disk 6 blade, daya pengaduk 4 Hp dan tangki pengenap bertipe persegi panjang dengan ukuran lebar 0,8 m, panjang 5 m, tinggi cairan 1 m dan tinggi tangki 1,05 m. Pengambilan uranium dengan efisiensi sampai 91 % diperlukan 3 tingkat  ekstraksi, menggunakan pelarut Organik (O) DEHPA-TOPO dalam Kerosene. Perbandingan fase cair dan fase organik (A/O) yang digunakan adalah 2:1. Proses ekstraksi dilakukan dengan arus berlawanan arah dengan pelarut Organik (O) masuk tahap 1 dan cair (A) yang kaya uranium masuk tahap 3. Proses pengenapan berlangsung dengan laju pengenapan 0,000694 m/s, nilai faktor dispersi Ψ= 0,3638 fraksi ringan sebagai fase terdispersi dan nilai bilangan Reynolds (NRE ) = 3.438. Nilai bilangan Reynolds di bawah 5.000, menunjukkan bahwa  kualitas pemisahan berjalan dengan baik. Mixer settler is technically designed for extraction and separation process of uranium from phosphoric acid solution. Design calculation results shows that: the mixer settler consists of two parts: part of extraction process in the mixer tank and part of separation process in  settler tank. The mixer tank type of box with 4 baffles, the size of mixer tank, 0.8 m width, 0.8 m length, 1 m high of liquid, 1.05 m high of mixer tank, stirrer type of disk 6 blade, and power of mixing 4 hp and the settler tank type of rectangular with size of settler tank, 0.8 m width 5 m length, 1 m high of liquid, 1.05 m high of settler tank. For uranium recovery efficiency up to 91%, extraction process is done in 3 stage counter current flow using a solvent Organic (O) DEHPA-TOPO in Kerosene at a phase of ratio A/O of  2:1. The aqueous enter through stage 3 and the organic solvent enter through stage 1. The process of settling occurred with the value of settling velocity is 0.000694 m/s, dispersion factor Ψ = 0.3638 and the light fraction as the dispersed phase and value of Reynolds number (NRE) = 3,438. Because of the Reynolds number is lower than 5,000, it indicates that  the quality of the separation is very good.
Penentuan Koefisien Hidraulik pada Tapak NSD, Serpong, Berdasarkan Metoda Uji Permeabilitas In-Situ Syaeful, Heri; Sucipta, Sucipta
EKSPLORIUM Vol 34, No 1 (2013): Mei 2013
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.343 KB)

Abstract

Sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah limbah radioaktif maka PTLR-BATAN berencana untuk membangun fasilitas Near Surface Disposal (NSD), terutama pada tahap awal adalah fasilitas Demo Plant NSD. NSD merupakan suatu konsep penyimpanan limbah radioaktif tingkat rendah sampai dengan menengah. Aspek yang sangat penting dalam hal studi tapak untuk rencana NSD adalah aspek hidrogeologi terutama yang berkaitan dengan migrasi radionuklida ke lingkungan. Dalam studi migrasi radionuklida parameter awal yang harus diketahui adalah konduktivitas hidraulik. Nilai konduktivitas hidraulik tanah dan batuan di lokasi tapak dapat diperoleh dengan melakukan uji permeabilitas secara in-situ. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan nilai konduktivitas tanah dan batuan yang berkisar antara 10-6 sampai 10-2 cm/det. Nilai terbesar konduktivitas hidraulik berada pada satuan tanah lanau kerikilan yang merupakan akuifer di tapak, dengan kedalaman antara 8-24 m, dan nilai konduktivitas hidraulik mencapai 10-2 cm/det. Inline with the increase of amount of radioactive waste, PTLR-BATAN plans to build the Near Surface Disposal (NSD) facility, especially in the preliminary stages is the Demo Plant of NSD facility. NSD is a low to medium level radioactive waste storage concept. Most important aspect in the site study for planning NSD is hydrogeological aspect especially related to the migration of radionuclides to the environment. In the study of radionuclide migration, a preliminary parameter which is required to know is the hydraulic conductivity in order to deliver the soil and rock hydraulic conductivity values ​​in the site then conducted the in-situ permeability test. Based on the test, obtained soil and rock hydraulic conductivity values​ranging from 10-6 to 10-2 cm/sec. The greatest hydraulic conductivity value located in the gravelly silt soil units which is in the site, constitute as aquifer, with depth ranging from 8-24 m, with hydraulic conductivity value ​​reached 10-2 cm/sec.
THE LAST 41.000 YEARS FLUCTUATION IN ATMOSPHERIC CO2 CONCENTRATION INFERRED FROM THE CHANGES IN OXYGEN AND CARBON STABLE ISOTOPES RATIOS OF MARINE SEDIMENTS Wahyudi, Wahyudi; Minagawa, Masao
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 33, No 1 (2012): Mei 2012
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The past atmospheric CO2 concentrations were reconstructed based on the results of measurements of stable oxygen and carbon isotopic ratios of fossil foraminifer and total organic carbon contained in marine sediment taken from the Okinawa Trough, East China Sea. In this study, we utilized two models of Popp et al and Rau et al. for the reconstruction. The results show that the whole trends of the changes in CO2 concentrations are very similar, even when it is compared to the atmospheric CO2 concentration of air trapped in ice core from southern pole. Changes in atmospheric CO2 concentrations are interpreted as a consequence of fluctuation in ocean surface water utilization of CO2 by marine organism and those are closely related to glacial-interglacial (cold-warm) fluctuations between maximum and minimum values through most Quaternary. Rekonstruksi terhadap perubahan konsentrasi CO2 yang terkandung dalam udara telah dilakukan berdasarkan hasil pengukuran rasio isotop stabil oksigen dan karbon dalam fosil foraminifera dan total karbon organik yang terkandung dalam sedimen dasar laut dari Okinawa Trough, Laut Cina Timur. Dalam studi ini, dipakai model dari Popp et al. dan Rau et al. untuk rekonstruksi. Hasil studi menunjukkan bahwa kedua tren dari perubahan kandungan CO2 udara sangat mirip, bahkan bila dibandingkan dengan kandungan CO2 udara yang terperangkap dalam inti es di Kutup Selatan sekalipun. Perubahan kandungan CO2 udara diinterpretrasikan sebagai akibat fluktuasi konsumsi CO2 di permukaan air laut oleh mikro-organisme yang juga sangat erat hubungannya dengan fluktuasi glasial-interglasial (dingin-panas) antara suhu udara bumi maksimum dan minimum sepanjang masa Kuarter.
Studi Deposit Monasit dan Zirkon Dalam Batuan Kuarter di Daerah Cerucuk Belitung Soetopo, Bambang; Subiantoro, Lilik; Sularto, Priyo; Haryanto, Dwi
EKSPLORIUM Vol 33, No 1 (2012): Mei 2012
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1520.253 KB)

Abstract

Secara geologis daerah penelitian terletak dalam sebaran granit dalam satu jalur timah Malaysia, Bangka-Belitung, Karimata yang mengandung mineral monasit. Monasit, adalah salah satu mineral radioaktif yang mengandung uranium (U), thorium (Th), unsur tanah jarang (REE) dalam ikatan phospat. Konsentrat mineral berat yang mengandung monasit 2,719 % memiliki nilai radioaktivitas 3000 c/s. Analisis petrografi batuan granit mengandung mineral monasit 1-2 % dengan radioaktivitas 200 – 400 c/s. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui daerah prospek sebaran monasit dan zirkon pada area 100 km2. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan monasit terdapat dalam pasir dan lempung sebagai endapan aluvial yang berasal batuan granit. Indikasi tersebut tercermin pada hasil pengukuran radioaktivitas soil/ aluvial berkisar antara 50 – 375 c/s, pengukuran radioaktivitas mineral berat (MB) berkisar antara 50 – 150 c/s pada beberapa titik lokasi ditemukan nilai radioaktivitas tinggi berkisar antara 250 – 1.000 c/s dengan nilai latar 25 – 150 c/s, memiliki kadar Th (100 – 6.545 ppm) dan kadar U (15 – 639,4 ppm). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah potensial monasit dan zirkon seluas 31.680.000 m2. Geologically the study area lies in the distribution of granite in a single lane of Malaysian tin, Bangka-Billiton, Karimata which is containing monazite mineral monazite.Monazite is one of the radioactive minerals containing uranium (U), thorium (Th), rare earth element (REE) in phosphate bonds. Heavy minerals sample that containing monazite 2.719% has radioactivity value until 3000 c/s. Petrographic analysis of granitic rocks contain minerals monazite 1-2% with radioactivity 200-400 c/s. Based on these considerations, it is necessary to for further research in the development and assessment of prospects for mineral monazite. The Objectives to be achieved isobjective to be achieved is to localize the prospect area distribution of monazite and zircon in the area of ​​100 km2. The results of field studies showed that the presence of monazite contained in the sand, clay as alluvial deposits derived granitic rocks. Indications are reflected in the results of radioactivity measurements of soil / alluvial ranged between 50-375 c/s, measurement of radioactivity of heavy minerals (MB) ranged between 50-150 c/s at some point discovered the location of high radioactivity values ​​ ranged between 250-1000 c/s with background value of 25-150 c/s and dan contains Th (100 – 6.545 ppm) serta contains U (15 – 639,4 ppm). The results show that in the study area indicates that the potential for monazite and zircon area ​​31,680,000 m2.
Digesti Monasit Bangka dengan Asam Sulfat Prassanti, Riesna
EKSPLORIUM Vol 33, No 1 (2012): Mei 2012
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.947 KB)

Abstract

Teknologi pengolahan monasit Bangka metode basa telah dikuasai oleh PPGN BATAN dengan produk berupa RE (Rare Earth) yang mengandung U < 2 ppm dan Th 12 – 16 ppm. Untuk itu sebagai pembanding telah dilakukan penelitian pengolahan monasit Bangka metode asam dengan cara digesti menggunakan asam sulfat. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari kondisi optimal digesti monasit Bangka menggunakan asam sulfat (H2SO4), di mana pada kondisi tersebut unsur – unsur yang terkandung dalam monasit Bangka yaitu : U, Th, RE, PO4 diharapkan terlarut sebanyak mungkin. Parameter yang digunakan meliputi ukuran bijih monasit, konsumsi asam sulfat (perbandingan berat bijih : asam sulfat), suhu digesti, waktu digesti dan konsumsi air pencuci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimal digesti adalah pada ukuran bijih monasit -250+325 mesh, perbandingan berat bijih : asam sulfat = 1 : 2,5, suhu digesti 190 oC, waktu digesti 3 jam dan konsumsi pencuci  8 kali berat umpan monasit dengan rekoveri terdigesti U = 99,90 %, Th = 99,44 %, RE = 99,54 % dan PO4 = 99,88 %. Technology of Bangka monazite processing with alkaline method has been mastered by PPGN BATAN with the product in the form of RE (Rare Earth) which is contain U < 2 ppm and Th 12 – 16 ppm. Hence, as comparator, the research of Bangka monazite processing with acid method using sulfuric acid has been done. The aim of this research is to obtain the optimal condition of Bangka monazite’s digestion using sulfuric acid so that all elements contained in the monazite that are U, Th, RE, PO4 dissolved as much as possible. The research parameter’s are monazite particle’s size, sulfuric acid consumption (weight ratio of monazite ore : sulfuric acid), digestion temperature, digestion time and consumption of wash water. The results showed that the optimal conditions of digestion are -250+325 mesh of monazite particle’s size, 1 : 2.5 of weight ratio of monazite ore : sulfuric acid, 190°C of digestion temperature, 3 hours of digestion time and 8 times of weight monazite’s feed of wash water with the recovery of digested U = 99.90 %, Th = 99.44 %, RE = 98.64 % dan PO4 = 99.88 %.
Pemisahan Thorium dari Uranium pada Monasit dengan Metode Pengendapan Trinopiawan, Kurnia; Sumiarti, Sumiarti
EKSPLORIUM Vol 33, No 1 (2012): Mei 2012
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.9 KB)

Abstract

Penelitian pengolahan monasit terdahulu telah memperoleh tahapan-tahapan proses sampai dihasilkannya produk RE(OH)3 dengan rekoveri sebesar ± 62%, dan diperoleh produk samping berupa campuran Thorium (Th) dan Uranium (U). Untuk dapat dimanfaatkan lebih lanjut, perlu dilakukan penelitian untuk memisahkan Th dari U. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimal pemisahan Th dari U pada monasit menggunakan metode pengendapan dengan reagen H2SO4. Tahapan proses dalam penelitian ini terdiri dari penggerusan monasit, dekomposisi, pelarutan parsial, pelarutan total, dan pengendapan Th dengan H2SO4. Larutan umpan yang digunakan untuk pengendapan berasal dari pelarutan total dengan 2 (dua) reagen berbeda, yaitu H2SO4 dan HCl. Parameter penelitian meliputi konsumsi reagen pengendap (H2SO4) dan waktu pengendapan. Hasil optimal rekoveri pengendapan pada larutan umpan sulfat yaituTh sebesar 96,99% dan U 18,26% dengan konsumsi H2SO4 20 ml dan waktu pengendapan 30 menit. Hasil optimal rekoveri pengendapan pada larutan umpan klorida yaituTh sebesar 98,05% dan U 25,03% dengan konsumsi H2SO4 20 ml dan waktu pengendapan 20 menit. Previous researches have obtained the monazite processing stages and resulting RE(OH)3 as a product with ± 62% of recovery,  and the by products obtained in the form of a compound of thorium (Th) and Uranium (U). For further utilization, studies of U and Th separation is needed. This research is aimed to determine the optimal conditions for the separation of Th from U in monazite using the precipitation method with H2SO4 as a reagent. Stages of the process in this research consisted of grinding, decomposition, partial dissolution, total dissolution, and precipitation of Th with H2SO4. Feed solution used for precipitation is obtained from total dissolution stage with 2 different reagents are H2SO4 and HCl. Parameters of the research include the precipitating reagent (H2SO4) consumption and precipitation time. Optimal recovery results in the precipitation of sulfate feed solution are Th = 96.99% and U = 18.26% with 20 ml of H2SO4 consumption and 30 minutes of precipitation time. Optimal recovery results in the precipitation of chloride feed solution are 98.05% andU 25.03% with 20 ml of H2SO4 consumption and 30 minutes of precipitation time.
KORELASI UNSUR ANTARA U DENGAN Co, Ni, Ag, Mo PADA BATUAN GRANIT DAN KUARSIT DI JUMBANG I, KALIMANTAN BARAT Sularto, Priyo
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 33, No 1 (2012): Mei 2012
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor Jumbang I merupakan bagian dari cekungan Kalan, Kalimantan Barat. Seperti pada daerah lain di Kalan, di Jumbang I terdapat juga anomali geokimia unsur U dalam bentuk urat pada batuan kuarsit di beberapa lokasi, dengan kadar cukup tinggi dan nilai radiometri antara 500 c/s – 15.000 c/s. Selain unsur U juga terdapat unsur-unsur lainnya diantaranya: Co, Ni, Ag dan Mo. Analisis dari 49 contoh batuan dengan menggunakan alat Fluorimetri Jarell Ash diperoleh kadar U: 13 ppm - 31000 ppm, sedangkan dengan menggunakan alat Atomic Absorption Spektrometer diperoleh kadar Co: 1.5 ppm – 83.5 ppm, Ni: 15.2 ppm – 507.6 ppm, Ag: 1.2 ppm – 10.8 ppm dan Mo: 31.7 ppm – 10738 ppm. Untuk mengetahui hubungan antar unsur di dalam batuan perlu dilakukan dengan cara korelasi. Tujuan kajian adalah untuk mengetahui hubungan antara unsur U terhadap unsur Co, Ni, Ag, Mo. Metoda kerja yang digunakan adalah statistik regresi dan korelasi. Hasil koefisien korelasi R yang diperoleh antara U – Co = 0.23, U – Ni = 0.15, U – Ag = 0.50, U – Mo = 0.86. Koefisien korelasi R=0,86 dapat diinterpretasikan sebagai korelasi tinggi, hal ini menunjukkan bahwa unsur U berasosiasi kuat terhadap unsur Mo sedangkan U terhadap Co, Ni, Ag berasosiasi lemah. Jumbang I sector is a part of the basin Kalan, West Kalimantan. As the other areas in Kalan, Jumbang I also have geochemical anomalies of uranium element in Vein of quartzite rocks at several locations, with high grade and radioactivities value between 500 c/s - 15000 c/s. Besides of the uranium element there are other elements included Co, Ni, Ag and Mo. The analysis result of 49 rock samples using Fluorimeter Jarell Ash obtained grades of U: 13 ppm - 31000 ppm and by Atomic Absorption Spectrometer obtained grades of Co: 1.5 ppm - 83.5 ppm, Ni: 15.2 ppm - 507.6 ppm, Ag: 1.2ppm - 10.8 and Mo: 31.7 ppm - 10 738 ppm. To determine of element relationship in these rocks is using correlation method. The aim of this study is to determine of the relationship between U and Co, Ni, Ag, Mo elements. The methods of this study are statistical regression and correlation. The results of this study are obtained the correlation coefficient (R) between U – Co =0.23, U - Ni = 12.15, U - Ag = 0.50, U - Mo = 0.86. Correlation coefficient (R) 0.86 can be interpreted as a high correlation, it means that the U element has strong associate with Mo element and weak associate with Co, Ni, Ag elements.

Page 1 of 12 | Total Record : 111