cover
Filter by Year
Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
ISSN : -     EISSN : -
Articles
155
Articles
KAJIAN EKONOMI POLITIK DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN DI KABUPATEN PASER, KALIMANTAN TIMUR

Angi, Eddy Mangopo, Wiati, Catur Budi

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.29 KB)

Abstract

Pemerintah Kalimantan Timur (Kaltim) mengeluarkan kebijakan dan program Kaltim Green, Low Carbon Growth Strategy (LCGS), Strategi Rencana Aksi Provinsi Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus (SRAP REDD+), dan  Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAD GRK). Kebijakan ini untuk memperbaiki tata kelola hutan dan lahan (TKHL) untuk mendukung pemerintah menurunkan emisi GRK dunia melalui rencana aksi (mitigasi) sebesar 26% dan 41% hingga tahun 2020. Tujuan studi ini untuk menyampaikan hasil kajian sosial, ekonomi, budaya dan politik yang berkontribusi terhadap deforestasi, degradasi hutan dan lahan. Termasuk relasi aktor formal dan non formal dalam proses pengambilan kebijakan daerah serta isu-isu strategis TKHL terkait perencanaan tata ruang, proses kebijakan tata ruang, perijinan, dan penganggaran. Pengumpulan data dilaksanakan di Kabupaten Paser, Kaltim pada  periode tahun 2012-2013 dan dilanjutkan studi meja (desk study) tahun 2014. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam (dept interview), Kelompok Diskusi Terfokus (Focus Group Discussion/FGD) dan studi literatur. Metode analisis data menggunakan analisis masalah (analisis konteks dan kebijakan) dan analisis stakeholders (analisis aktor). Hasil studi menyebutkan bahwa deforestasi terbesar disebabkan karena izin-izin di bidang kehutanan dan perkebunan, sedangkan degradasi hutan dan lahan disumbangkan dari kegiatan pertambangan. Hal tersebut didukung dari struktur politik, legislatif memberikan kontribusi dukungan yang besar atas penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam bagi eksekutif. Kata Kunci: deforestasi, degradasi hutan dan lahan, Tata Kelola Hutan dan Lahan (TKHL), Kabupaten Paser 

KERAGAMAN JENIS VEGETASI PADA HUTAN BEKAS KEBAKARAN DI TAMAN NASIONAL KUTAI, KALIMANTAN TIMUR

Wahyudi, Agus, Susanty, Farida Herry, Lestari, Nurul Silva

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.634 KB)

Abstract

Vegetasi hutan tropika basah di Kalimantan pada umumnya didominasi oleh jenis dari famili Dipterocarpaceae. Namun dengan adanya kebakaran hutan di beberapa wilayah di Kalimantan, telah mengakibatkan berubahnya komposisi vegetasi penyusun hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis vegetasi pada hutan bekas kebakaran. Pengambilan data dilakukan di daerah Sangkima, Taman Nasional Kutai. Pengumpulan data keragaman jenis vegetasi dilakukan dengan membuat empat plot temporer berukuran 100 m x 100 m, yang di dalamnya terdapat 25 sub plot berukuran 20 m x 20 m. Vegetasi yang diamati adalah pohon berdiameter lebih dari 10 cm. Hasil menunjukkan bahwa pada hutan bekas kebakaran di Sangkima Taman Nasional Kutai terdapat 163 jenis yang termasuk dalam 44 famili. Jenis dominan yang terdapat di hutan Sangkima antara lain: Eusideroxylon zwageri, Cananga odorata dan Macaranga gigantea. Kepadatan populasi berkisar antara 253 - 372 pohon/ha dengan keanekaragaman jenisnya 61 – 91 spesies/ha dan bidang dasar tegakan 17,63 – 23,5 m2/ha. Kondisi hutan Sangkima Taman Nasional Kutai yang merupakan hutan bekas kebakaran merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kepadatan populasi dan keanekaragaman jenis vegetasi di dalamnya.Kata kunci: vegetasi, hutan bekas kebakaran, Sangkima, Taman Nasional Kutai

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN KOKANG (Lepisanthes amoena) SEBAGAI TABIR SURYA; EKSPLORASI KEARIFAN LOKAL KALIMANTAN TIMUR

Warnida, Husnul, Nurhasnawati, Henny

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.215 KB)

Abstract

Paparan sinar ultraviolet (UV) matahari yang kuat secara terus menerus dapat menyebabkan eritema, sunburn, penuaan dini dan kanker kulit. Diperlukan kosmetik tabir surya untuk melindungi kulit dari dampak buruk sinar UV. Secara empiris, daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) digunakan oleh etnik Kutai, etnik Dayak Tunjung, dan etnik Dayak Benuaq di Kalimantan Timur sebagai kosmetik dan obat untuk penyakit kulit. Daun kokang diolah menjadi bedak dingin (pupur) dan digunakan untuk melindungi kulit selama bekerja di ladang di bawah terik matahari. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas ekstrak etanol daun kokang sebagai tabir surya dengan metode spektrofotometri. Daun kokang diekstraksi dengan etanol 95% kemudian dilakukan pengukuran nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang antara 290-320. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kokang pada konsentrasi 700 ppm memiliki nilai SPF 50 termasuk kategori very high protection.

KUALITAS LEMAK TENGKAWANG HASIL PRODUKSI PROTOTIPE ALAT PRES TENGKAWANG BERTENAGA HIDROLIK

Fernandes, Andrian, Maharani, Rizki

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.505 KB)

Abstract

Pengolahan Tengkawang menjadi lemak diperoleh melalui proses ekstrasi biji tengkawang, yang mengandalkan pada proses pres biji tersebut. Tradisi pengolahannya masih tradisional sehingga rendemen maupun kualitas hasil olahan minyaknya belum optimal. Dalam studi ini diperkenalkan prototipe alat pres biji Tengkawang bertenaga hidrolik dengan bahan anti karat standar khusus kualitas bahan pangan (stainless stell for food grade) yang berkapasitas tekan hingga 1 ton. Selanjutnya kualitas lemak diuji menggunakan standar SNI 3748-2009 pendekatan uji kualitas lemak Kakao. Hasil uji lemak Tengkawang produksi prototipe ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rendemen optimum mencapai 42,68%. Sedangkan untuk kualitas lemak dilihat dari karakteristik uji menunjukkan nilai berat jenis lemak 0,90 g/cm3, indeks bias 1,45, titik leleh 310C, bilangan iodium 16,46 mg/kg, bilangan penyabunan 449,21 mg/g dan asam lemak bebas 10,07%. Karakteristik lemak Tengkawang hasil produksi prototipe alat mesin pres hidrolik ini sebanding bahkan lebih baik dari standard kualitas lemak Kakao uji dan dapat langsung diaplikasikan untuk diversifikasi produk lemak Tengkawang lainnya.

FREKUENSI DAN INTENSITAS SERANGAN Coptotermes Sp. PADA TANAMAN Shorea leprosula DI PULAU LAUT, KALIMANTAN SELATAN

Ngatiman, Ngatiman

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.033 KB)

Abstract

Meranti merah (Shorea leprosula Miq) merupakan salah satu jenis unggulan dan sudah banyak ditanam dalam rangka pembangunan hutan tanaman dipterokarpa.  Permasalahan yang ditemukan pada tanaman S. leprosula di areal PT Inhutani II, Pulau Laut, Kalimantan Selatan adalah adanya serangan rayap tanah Coptotermes  sp. yang mengakibatkan kematian.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi dan intensitas serangan rayap pada tanaman S. leprosula. Metode yang digunakan dengan membuat plot pengamatan pada beberapa petak tanam masing-masing seluas 0,5 ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi serangan rayap pada tanaman S. leprosula berkisar 0,0 – 8,6% dan intensitas serangan berkisar 0,0 – 8,6%. Untuk menekan serangan rayap pada tanaman S. leprosula perlu dilakukan pemeliharaan secara intensif dan merusak saramg rayap yang terdapat diantara jalur tanam.  Karena diantara jalur tanam tersebut ditemukan sarang rayap berupa gundukan tanah yang mempel pada batang pohon, serta serangan rayap juga ditemukan pada pohon S. leprosula yang tumbuh secara alami (pohon alam).

Sifat Kimia dan Warna Kayu Keruing, Mersawa dan Kapur

Lukmandaru, Ganis, Fatimah, Siti, Fernandes, Andrian

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.886 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat kimia dan warna  kayu keruing (Dipterocarpus humeratus), mersawa (Anisoptera laevis) dan kapur (Dryobalanops keithii) yang sampai saat ini relatif belum banyak diketahui. Sampel pohon diperoleh dari  hutan Muara Wahau, Kalimantan Timur. Bagian gubal dan teras diperoleh dari bagian pangkal pohon. Pengujian komponen kimia mengacu pada standar ASTM. Pengukuran warna dilakukan melalui sistem koordinat CIELAB. Hasil pengukuran kadar ekstraktif di 3 spesies pada nilai kadar ekstraktif etanol-toluena (KEET) menunjukkan kisaran pada kayu bagian gubal (KG) 2,37-4,60 % dan teras (KT) 2,58-4,81 %, kelarutan dalam air panas (KAP) sebesar 2,14-6,49 % (KG) dan 1,14-5,77 % (KT), kadar kelarutan dalam air dingin (KAD) adalah 1,61-6,39 % (KG) dan 1,063,26 % (KT). Kecenderungan dari gubal ke teras menunjukkan adanya kenaikan nilai KEET, dan penurunan nilai KAP dan KAD. Pengukuran komponen dinding sel pada kadar lignin berkisar 27,39 – 33,29 % (KG) dan 25,77- 34,19 % (KT), kadar holoselulosa berkisar 70,50-73,73 % (KG) dan 65,94-74,84% (KT), sedangkan kadar a-selulosa berkisar 45,83-49,62 % (KG) dan 44,23-52,32 % (KT). Dari gubal ke teras, perbedaan nilai kadar lignin dan selulosa relatif kecil. Kelarutan dalam NaOH 1 % berkisar 12,06-17,07 (KG) dan 11,85-20,79 % (KT), kadar abu sekitar 0,72-3,64 % (KG) dan 0,74-4,73 % (KT), sedangkan nilai pH berkisar 5,56-8,02 (KG) dan 7,09-7,96 (KT). Untuk sifat warna, kisaran nilai indeks kecerahan (L*), kemerahan (a*), dan kekuningan (b*) pada bagian gubal adalah 48-53, 6-11, dan 9-20, secara berturutan,, sedangkan pada bagian teras masing-masing  40-49, 9-16, dan 14-18.

Pola Pemanenan Buah Tengkawang (Shorea Machrophylla) dan Regenerasi Alaminya di Kebun Masyarakat

Fajri, Muhammad, Fernandes, Andrian

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.984 KB)

Abstract

Pemungutan buah tengkawang banyak dilakukan masyarakat di populasi alaminya, baik di kebun masyarakat, hutan adat maupun di hutan alam. Kenyataan yang dihadapi sekarang adalah adanya eksploitasi yang mengancam keberadaan pohon penghasil tengkawang. Permasalahan yang kedua adalah apakah selama ini masyarakat memanen biji tengkawang tersebut secara lestari, sehingga kedepannya keberadaan buah tengkawang tetap ada dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi dari masyarakat tentang  cara pemanenan buah, produktivitas pohon dan permudaan yang ada di areal penghasil tengkawang di Kabupaten Sanggau. Metode pengumpulan data di dilapangan yaitu : 1. wawancara dengan pemilik pohon tengkawang; 2. Pembuatan plot pada setiap pohon yang berbuah; 3. Inventarisasi tingkat semai, pancang, tiang dan pohon tengkawang.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanenan buah tengkawang terjadi pada bulan Desember, Januari, Pebruari dan diperkirakan berakhir di bulan Maret. Masa pembungaannya dimulai pada bulan Nopember, Desember dan Januari. Pemanenan buah tengkawang masih dilakukan secara tradisional. Untuk produksi rata-rata 206,14 kilogram buah/pohon. Untuk tingkat regenerasi alami yang paling banyak ditemukan adalah tingkat semai.

Perbandingan Model Kerusakan Tegakan Tinggal di Hutan Alam Dipterocarp Untuk Mendukung Mekanisme REDD Plus

Indrajaya, Yonky

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.953 KB)

Abstract

Pembangunan model kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan pembalakan hutan alam dilakukan untuk mengetahui pengaruh pohon ditebang terhadap kerusakan yang terjadi. Beberapa model kerusakan tegakan tinggal antara lain: (1) kerusakan tetap dan tidak terpengaruh oleh jumlah pohon ditebang, (2) kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon yang ditebang dengan proporsi kerusakan sama untuk semua kelas diameter, dan (3) matriks kerusakan, dimana proporsi kerusakan tegakan tinggal dipengaruhi oleh jumlah pohon ditebang dan berbeda tingkat kerusakannya untuk tiap kelas diameter. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis model-model kerusakan tegakan tinggal dan pengaruhnya terhadap pengelolaan hutan khususnya cadangan karbon hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembangunan model matriks kerusakan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: (1) model 1 memberikan hasil yang overestimate terhadap kerusakan yang terjadi pada teknik pembalakan CL, (2) model 2 memberikan hasil yang underestimate terhadap kerusakan tegakan tinggal pada teknik pembalakan konvensional (CL), dan (3)  model 3 memberikan gambaran yang lebih nyata akan proporsi kerusakan yang terjadi akibat kegiatan pembalakan.

Analisis Vegetasi Tengkawang di Kebun Masyarakat Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat

Fajri, Muhammad, Supartini, Supartini

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.635 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis vegetasi Tengkawang dan jenis-jenis lain dalam interaksinya di kebun masyarakat khususnya Dusun Tem’bak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Pembuatan plot secara purposive sampling seluas 2,16 ha pada 3 topografi (lembah, lereng, bukit). Hasil penelitian  menunjukkan bahwa di kebun masyarakat ditemukan 139 jenis yang terdiri dari 3 jenis Tengkawang (Shorea macrophylla, S. stenoptera, S. beccariana) dan 136 jenis lain bukan Tengkawang. 10 jenis tanaman dengan jumlah terbanyak yaitu Karet (Hevea braziliensis), Tengkawang putih (Shorea macrophylla), Tengkawang merah (Shorea stenoptera), Tikalung, Durian (Durio spp), Medang (Litsea sp.), Gerunggang (Cratoxylum spp.), Umpang, Pinang (Areca catechu) dan Laban (Vitex pubescens). S. macrophylla dan Karet adalah jenis Tengkawang dan bukan Tengkawang yang mendominasi di kebun masyarakat. INP tertinggi untuk jenis Tengkawang terdapat pada topografi lembah, sedangkan INP tertinggi untuk Karet terdapat pada topografi bukit. Kebun masyarakat memiliki keragaman dan kemerataan jenis yang tergolong tinggi, sedangkan pada tiap topografi memiliki keragaman jenis yang sedang dan kemerataan jenis yang tinggi.

Analisis Biaya dan Produktivitas Penyaradan Kayu Dengan Traktor Caterpillar D7G di Hutan Alam Tropika Basah PT Inhutani II, Kalimantan Utara

Muhdi, Muhdi

Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa
Publisher : Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.022 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produktivitas dan biaya penyaradan kayu dengan traktor Catterpillar D7G dengan teknik reduced impact logging (RIL) dan konvensional di hutan alam tropika, Kalimantan Utara.  Hasil penelitian menunjukkan produktivitas penyaradan kayu dengan traktor Catterillar D7G dengan teknik konvensional sebesar 21,78 m3/jam dan dengan teknik RIL sebesar 26,79 m3/jam. Biaya penyaradan dengan traktor Catterpillar D7G dengan teknik konvensional dan RIL masing-masing sebesar Rp 10.597,19/m3 dan Rp 8.695,39/m3.