cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 266 Documents
Cerita Humor Pak Andir Rohim, Rohim
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.745 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.21.85-95

Abstract

This study attempts to describe the meaning of comic tale "Pak Andir" with the perspective of hermeneutics. This study is focused on exploring the main character with the theory of functional models and aktan, developed by Greimas. The source of data is the story of "Pak Andir" from the community of South Bengkulu. From the analysis, it is concluded that the behavior of the husband as the central character has made the wife a victim. The husband’s arrogance in strictly practicing the patriarchal tradition makes the wife have no courage to be herself. The wife’s claim at the end of the story is a positive thing, but its too late. As a form of appreciation of literary work, the meaning of these stories need to be disseminated to the public, especially the residents in Bengkulu, that the husband and wife’s attitudes ares incorrect and need to be avoided. This study attempts to describe the meaning of comic tale "Pak Andir" with the perspective of hermeneutics. This study is focused on exploring the main character with the theory of functional models and aktan, developed by Greimas. The source of data is the story of "Pak Andir" from the community of South Bengkulu. From the analysis, it is concluded that the behavior of the husband as the central character has made the wife a victim. The husband’s arrogance in strictly practicing the patriarchal tradition makes the wife have no courage to be herself. The wife’s claim at the end of the story is a positive thing, but its too late. As a form of appreciation of literary work, the meaning of these stories need to be disseminated to the public, especially the residents in Bengkulu, that the husband and wife’s attitudes ares incorrect and need to be avoided Key Words: comic tale; aktan model; functional model; hermeneutic Abstrak: Penelitian ini berusaha mendeskripsikan makna cerita humor “Pak Andir” dengan perspektif hermeneutika. Kajian ini difokuskan untuk mengeksplorasi tokoh utama cerita dengan teori aktan dan model fungsional yang dikembangkan oleh Greimas. Sumber data penelitian ini adalah cerita “Pak Andir” yang berasal dari masyarakat Bengkulu Selatan. Dari hasil pembahasan diperoleh simpulan bahwa perilaku suami sebagai tokoh sentral mengakibatkan istri menjadi korban. Keangkuhan suami dalam memegang teguh tradisi patriarkat membuat istri tidak berani menjadi diri sendiri. Gugatan sang istri pada akhir cerita merupakan hal positif, tetapi sudah terlambat. Sebagai wujud apresiasi terhadap karya sastra, makna cerita ini perlu disebarluaskan ke masyarakat khususnya warga Bengkulu, bahwa sifat­‐sifat suami istri itu keliru dan perlu dihindari
Ludruk Wetanan: Strategi Adaptasi Menghadapi Kompetisi Industri Pasar Hiburan Taufiq, Akhmad; Sukatman, Sukatman
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.663 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.12.232-239

Abstract

This research aims to describe the adaptation strategy of the ludruk wetanan in facing the competition of entertainment market. With descriptive­‐qualitative method, the research examines, exposes, and describes the phenomenon of ludruk wetanan in facing the competition of entertainment market industry. The result of this research shows that there are some adaptation strategies applied by the group of ludruk wetanan in facing the competition in entertainment market industry, such as multimedia adaptation strategy, being more adaptive in customer service, entering other entertainment shows (such as dangdut, campursari, and loving art). By those strategies, hopefully, ludruk wetanan is able to survive in the middle of intense competition of entertainment market industry in this era. Key Words: ludruk wetanan; adoption strategy; entertainment market industry Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi adaptasi ludruk wetanan dalam menghadapi kompetisi pasar hiburan. Dengan metode deskriptif-kualititaf, penelitian menggali, mengungkap, dan mendeskripsikan fenomena ludruk wetanan dalam menghadapi kompetisi industri pasar huburan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan beberapa strategi adaptasi yang dilakukan ludruk wetanan dalam menghadapi industri pasar hiburan itu, antara lain strategi memasuki pasar multimedia, adaptif dengan permintaan pelanggan (penanggap), memasukkan seni hiburan lain misalnya dangdut, campursari, dan adegan roman-romanan. Dengan strategi seperti itu, diharapkan ludruk wetanan dapat bertahan di tengah derasnya kompetisi industri pasar hiburan saat ini.
Kritik Mitos Tentang “Hang Tuah” Karya Amir Hamzah Santosa, Puji
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.308 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.17.29-39

Abstract

This study reveals the myth criticism on rhyme "Hang Tuah", an Amir Hamzah’s work expressing Malay myth. The Malay myth found in the rhyme "Hang Tuah" is placed as a meeting place of myth criticism study which includes (1) the structure of the text, (2) figure with its ideology, (3) setting presenting the myth, (4) type of myth, (5) method the poet displays the myth, and (6) the benefit or function of myth. The six elements of the review are expected to contribute in exposing and describing the element of mythology in modern Indonesian poetry and its relevance to the present situation. It is identified that Hang Tuah has an ideology of Malay heroism loyalty able to be a resource in national character building: willing to sacrifice and resilient in defending the countrys sovereignty rights. The Malay heroic myth of Hang Tuah, delivered in the form of poetic ballads, adds to the classic aesthetic value. The present benefits of Hang Tuah myth, by his heroism in getting rid of European colonization, is certainly to boost the fighting spirit in defending the rights and dignity as an independent nation, free from occupation or colonialism.  This study reveals the myth criticism on rhyme "Hang Tuah", an Amir Hamzah’s work expressing Malay myth. The Malay myth found in the rhyme "Hang Tuah" is placed as a meeting place of myth criticism study which includes (1) the structure of the text, (2) figure with its ideology, (3) setting presenting the myth, (4) type of myth, (5) method the poet displays the myth, and (6) the benefit or function of myth. The six elements of the review are expected to contribute in exposing and describing the element of mythology in modern Indonesian poetry and its relevance to the present situation. It is identified that Hang Tuah has an ideology of Malay heroism loyalty able to be a resource in national character building: willing to sacrifice and resilient in defending the countrys sovereignty rights. The Malay heroic myth of Hang Tuah, delivered in the form of poetic ballads, adds to the classic aesthetic value. The present benefits of Hang Tuah myth, by his heroism in getting rid of European colonization, is certainly to boost the fighting spirit in defending the rights and dignity as an independent nation, free from occupation or colonialism Key Words: myth criticism; heroism; loyalty; fighting spirit Abstrak: Penelitian ini mengungkapkan kritik mitos sajak “Hang Tuah” karya Amir Hamzah yang menampilkan mitos Kemelayuan. Mitos Kemelayuan yang ditemukan dalam sajak “Hang Tuah” tersebut ditempatkan sebagai pumpunan penelaahan kritik mitos yang meliputi (1) struktur teks, (2) tokoh dengan ideologinya, (3) latar yang menghadirkan mitos, (4) jenis mitos, (5) cara penyair menampilkan mitos, dan (6) manfaat atau fungsi mitos. Dengan keenam unsur penelaahan kritik mitos itu diharapkan dapat diungkapkan dan dideskripsikan adanya unsur mitologi dalam puisi Indonesia modern dan relevansinya dengan keadaan masa kini. Ternyata Hang Tuah memiliki ideologi loyalitas heroisme Kemelayuan yang dapat menjadi pembentuk karakter bangsa: rela berkorban dan tangguh mempertahankan hak kedaulatan negeri. Mitos kepahlawanan Melayu Hang Tuah dengan cara disampaikan dalam bentuk balada yang puitis menambah nilai estetika klasik. Manfaat bagi kehidupan masa kini mitos Hang Tuah, atas kepahlawanannya mengusir penjajahan bangsa Eropa, tentu sebagai pemompa semangat juang mempertahankan hak dan martabat diri sebagai bangsa yang merdeka, bebas dari penjajahan atau kolonialisme
Penolakan Terhadap Tradisi Barat Dalam Raden Adjeng Moeria Karya Njoo Cheong Seng Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.809 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.8.178-190

Abstract

Karya Njoo Cheong Seng, Raden Adjeng Moeria (1934) memberikan pandangan terhadap penolakan tradisi Barat. Raden Adjeng  Moeria diasumsikan  sebagai bentuk tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial dari kelompok sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi  pandangan dunia dan kelompok sosial yang diwakili oleh Njoo Cheong Seng dan (2) mengeksplorasi hasil tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial yang berkembang pada era itu. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologi sastra. Hasil yang dicapai adalah bahwa (1) Njoo Cheong Seng mewakili kelompok sosial diaspora peranakan Tionghoa dan mendasarkan pandangan dunianya pada nilai dan tradisi leluhur (2) Raden Adjeng Moeria merupakan salah satu wujud perlawanan kultural terhadap persoalan modernisasi dan liberalisme di kalangan masyarakat itu. Perlawanan kultural itu merupakan satu cara dalam mempertahankan identitas yang didasarkan atas nilai dan tradisi kebudayaannya agar tidak terjebak pada identitas yang ditawarkan dunia Barat. Karya Njoo Cheong Seng, Raden Adjeng Moeria (1934) memberikan pandangan terhadap penolakan tradisi Barat. Raden Adjeng  Moeria  diasumsikan  sebagai  bentuk  tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial dari kelompok sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1)  mengidentifikasi  pandangan dunia dan kelompok sosial yang diwakili oleh Njoo Cheong Seng dan (2) mengeksplorasi hasil tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial yang berkembang pada era itu. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologi sastra. Hasil yang dicapai adalah bahwa  (1) Njoo Cheong Seng mewakili kelompok  sosial diaspora  peranakan Tionghoa  dan mendasarkan pandangan dunianya pada nilai dan tradisi leluhur (2) Raden Adjeng Moeria merupakan salah satu wujud  perlawanan kultural terhadap persoalan modernisasi dan liberalisme di kalangan masyarakat itu. Perlawanan kultural itu merupakan satu cara dalam mempertahankan identitas yang didasarkan atas nilai dan tradisi kebudayaannya agar tidak terjebak pada identitas yang ditawarkan dunia Barat.
Penyalinan Dan Penyaduran Naskah Pakualaman Pada Masa Paku Alam V (1878—1900) Saktimulya, S.R.
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.22.95-106

Abstract

The purpose of this study is to discover the purpose of Paku Alam V, the supreme ruler of Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878-1900) in initiating the recopying of classic manuscripts by changing a number their rěrěnggan (illustrations), while at the same time adapting texts from newspapers to be written in Javanese with Javanese characters. In this study, the researcher used philology and hermeneutics approach. Philology was used because the research objects were old manuscripts. Paul Ricoeurs hermeneutics was utilized as a means to understand the text. The results of the study show that the creation of a number of copies at that time reflects the policies of Paku Alam V. Some of the policies were in the fields of economics and education. The economic slump at the end of the reign of Paku Alam IV forced Paku Alam V to live frugally. Despite this situation, Paku Alam V worked hard to support his daughters to study overseas and sought for the welfare of his people by providing good examples to encourage them to work hard. They were driven to have a modern way of thinking, but they should still uphold Javanese teachings handed down from Pakualamans ancestors. The purpose of this study is to discover the purpose of Paku Alam V, the supreme ruler of Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878-1900) in initiating the recopying of classic manuscripts by changing a number their rěrěnggan (illustrations), while at the same time adapting texts from newspapers to be written in Javanese with Javanese characters. In this study, the researcher used philology and hermeneutics approach. Philology was used because the research objects were old manuscripts. Paul Ricoeurs hermeneutics was utilized as a means to understand the text. The results of the study show that the creation of a number of copies at that time reflects the policies of Paku Alam V. Some of the policies were in the fields of economics and education. The economic slump at the end of the reign of Paku Alam IV forced Paku Alam V to live frugally. Despite this situation, Paku Alam V worked hard to support his daughters to study overseas and sought for the welfare of his people by providing good examples to encourage them to work hard. They were driven to have a modern way of thinking but they should still uphold Javanese teachings handed down from Pakualamans ancestors. Key Words: copying; adaptation; rěrěnggan (illustration); Javanese teachings; a modern way of thinking Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui maksud Paku Alam V, penguasa tertinggi Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878—1900) memprakarsai penyalinan kembali naskah‐naskah adiluhung dengan mengubah sejumlah rěrěnggan ‘ilustrasi’­‐nya, sekaligus menyadur teks dari surat kabar untuk ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan filologi dan hermeneutika. Filologi digunakan karena objek penelitian adalah naskah karya masa lampau; sedangkan hermeneutika pemikiran Paul Ricoeur dimanfaatkan sebagai sarana untuk memahami teksnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan sejumlah naskah pada waktu itu mencerminkan kebijakan Paku Alam V, antara lain dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Keterpurukan ekonomi pada masa akhir Paku Alam IV menyebabkan Paku Alam V harus hidup hemat. Meski demikian, Paku Alam V berusaha keras memajukan pendidikan anak-anak perempuannya ke luar negeri dan menyejahterakan warganya dengan memberikan keteladanan agar mau bekerja keras. Mereka didorong berpikiran modern namun tetap harus memegang teguh piwulang Jawa yang diberikan oleh para leluhur Pakualaman
Struktur Naratif Cerita Rakyat Sumbawa Barat Alaini, Nining Nur
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.22 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.13.240-253

Abstract

Oral literature will always change according to the dynamic of their community. Some oral literary works in Indonesia are extinct already due to not yet documented. Oral literature is, actually, a cultural treasure of Indonesia able to show the rich variety of cultures and values and the incredible creativity of their community. Change and the loss of a variety of oral literature mean the extinction or change of property contained in them. One form of Indonesian oral literature still enjoyed today is folklores of West Sumbawa. Therefore, this study aims to document the oral literature of West Sumbawa in the form of folklores. Furthermore, the folklores collected will be analyzed by using Vladimir Propp’s theory of narrative structure. The result shows that the folklores of West Sumbawa have fourteen actor functions. The fourteen functions can be distributed into five environmental actions. Oral literatures will always change according to the dynamic of their community. Some oral literary works in Indonesia are extinct already due to not yet documented. Oral literature is, actually, a cultural treasure of Indonesia able to show the rich variety of cultures and values and the incredible creativity of their community. Change and the loss of a variety of oral literature mean the extinction or change of property contained in them. One form of Indonesian oral literature still enjoyed today is folklores of West Sumbawa. Therefore, this study aims to document the oral literature of West Sumbawa in the form of folklores. Furthermore, the folklores collected will be analyzed by using Vladimir Propp’s theory of narrative structure. The result shows that the folklores of West Sumbawa have fourteen actor functions. The fourteen functions can be distributed into five environmental actions. Key Words: oral literature; folklore; narrative structure Abstrak: Kehidupan sastra lisan akan selalu berubah sesuai dengan dinamika komunitas pemiliknya. Ada beberapa sastra lisan di Indonesia, yang telah hilang karena belum didokumentasikan, sedangkan sastra lisan adalah kekayaan budaya Indonesia yang kaya akan khazanah kearifan lokal dan merupakan kreativitas yang luar biasa dari komunitas pemiliknya. Perubahan dan hilangnya sastra lisan berarti punahnya kearifan lokal dan khazanah budaya yang terkandung di dalamnya. Salah satu bentuk sastra lisan Nusantara yang masih hidup hingga saat ini adalah cerita rakyat Sumbawa Barat. Cerita rakyat yang berhasil didokumentasikan dikaji struktur naratifnya berdasarkan pada struktur naratif yang dikemukakan oleh Vladimir Propp. Penelitian ini akan mendokumentasikan sastra lisandari Sumbawa Barat yang berwujud cerita rakyat. Dari hasil kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat Sumbawa Barat memiliki empat belas fungsi pelaku. Keempat belas fungsi pelaku tersebut dapat didistribusikan ke dalam lima lingkungan tindakan
A Prose Fiction Theory Of Javanese Literature Based on Folktales Soedjijono, Soedjijono; Susilo, Edy
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.93 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.18.41-54

Abstract

his study aims to build the theory of prose fiction of Javanese literature based on the study of folktale as a first step towards the development of the study of native literature. This study’s objects are ten pieces of folktale, consisting of 93 story’s episodes, which were published in Panjebar Semangat magazine between 2006-2010. This study uses structural­‐phenomenological-hermeneutic approach, by applying phenomenological reduction, eidetic reduction, and transcendental reduction. The results of phenomenological reduction are nine elements of the work: author, a title of the story, special object, language, setting, character, emotional event, plot, and idea. The results of eidetic reduction are opposition rule, internal relation rule, and external relation rule. The results of transcendental reduction are the values of holiness, truth, and kindness. his study aims to build the theory of prose fiction of Javanese literature based on the study of folktale as a first step towards the development of the study of native literature. This study’s objects are ten pieces of folktale, consisting of 93 story’s episodes, which were published in Panjebar Semangat magazine between 2006-2010. This study uses structural­‐phenomenological­‐hermeneutic approach, by applying phenomenological reduction, eidetic reduction, and transcendental reduction. The results of phenomenological reduction are nine elements of the work: author, a title of a story, special object, language, setting, character, emotional event, plot, and idea. The results of eidetic reduction are opposition rule, internal relation rule, and external relation rule. The results of transcendental reduction are the values of holiness, truth, and kindness. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membangun teori prosa fiksi sastra Jawa berbasis pada kajian cerita rakyat sebagai langkah pertama menuju pengembangan studi sastra kepribumian. Penelitian ini menggunakan objek kajian sepuluh buah cerita rakyat, terdiri atas 93 episode cerita, yang dimuat di majalah Panjebar Semangat antara tahun 2006-2010. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis struktura­‐fenomenologis-­hermeneutik, dengan menerapkan reduksi fenomenologis, reduksi eidetis, dan reduksi transendental. Hasil dari reduksi fenomenologis adalah sembilan unsur karya: pengarang, judul cerita, objek khusus, bahasa, latar cerita, tokoh cerita, peristiwa emosional, alur cerita, dan gagasan. Hasil dari reduksi eidetis adalah kaidah oposisi, kaidah relasi internal, dan kaidah relasi eksternal. Hasil dari reduksi transendental adalah nilai kekudusan, nilai kebenaran, dan nilai kebaikan. Kata-Kata Kunci: teori prosa fiksi sastra Jawa; cerita rakyat; pendekatan struktural-fenomeno logis-hermeneutik
Lingkar Struktur Novel Tarian Setan Anwar, M. Shoim
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.313 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.9.192-204

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan muatan politis dan ideologis dalam judul, tema dan alur, tokoh, serta amanat novel Tarian Setan karya Sadam Hussein dengan teori hermeneutik. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Tarian Setan (terjemahan dari novel Akhreej Minha Ya Mal’un karya Sadam Hussein) yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra tahun 2006. Penelitian menghasilkan temuan bahwa judul novel karya Saddam Hussein, Tarian Setan, dari perspektif hermeneutik, mengarah pada perilaku tokoh antagonis yang harus dilawan dan dijauhi. Kekuasaan manusia tidak abadi. Kekuasan yang diperoleh dengan cara culas akhirnya akan menyengsarakan, baik bagi penguasa maupun pihak-­pihak yang dikuasai. Dari sisi kekuasaan dan ideologinya, para tokoh akan berada dalam dua lingkaran, yaitu lingkaran positif dan lingkaran negatif sebagai pengemban amanat teks. Ketika ambisi politik dan kekuasaan tidak lagi meme gang etika, di mana pun dan kapan pun, akan menghancurkan sendi‐sendi kehidupan dalam masyarakat.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan muatan politis dan ideologis dalam judul, tema dan alur, tokoh, serta amanat novel Tarian Setan karya Sadam Hussein dengan teori hermeneutik. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Tarian Setan (terjemahan dari novel Akhreej Minha Ya Mal’un karya Sadam Hussein) yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra tahun 2006. Penelitian menghasilkan temuan bahwa judul novel karya Saddam Hussein, Tarian Setan, dari perspektif hermeneutik, mengarah pada perilaku tokoh antagonis yang harus dilawan dan dijauhi. Kekuasaan manusia tidak abadi. Kekuasan yang diperoleh dengan cara culas akhirnya akan menyengsarakan, baik bagi penguasa maupun pihak-pihak yang dikuasai. Dari sisi kekuasaan dan ideologinya, para tokoh akan berada dalam dua lingkaran, yaitu lingkaran positif dan lingkaran negatif sebagai pengemban amanat teks. Ketika ambisi politik dan kekuasaan tidak lagi meme gang etika, di mana pun dan kapan pun, akan menghancurkan sendi‐sendi kehidupan dalam masyarakat
Fungsi Teater Rakyat Ubrug Bagi Masyarakat Banten Seha, Nur; Bachtiar, Anitawati; Oktaviantina, Adek Dwi; Rukmini, Rukmini; Sehabudin, Sehabudin
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.23.107-120

Abstract

The purpose of this research is to describe the functions of the ubrug folk theater for Bantenese people. This study uses function theory and cultural studies. The data resources for the article is Mang Cantel’s Ubrug folk theater because it still often accepts the offer to perform on stage in wedding events in the area around Serang and Pandeglang. The method used in this research is a descriptive qualitative method. Meanwhile, the data collecting techniques are recording, interviewing, observing, making a transcription, and translating. The result of this research shows that ubrug folk theater has several functions for Bantenese people. The first function of ubrug is as a preservation media for Bantenese languages which are Serang Javanese and Banten Sundanese. Moreover, ubrug has become the media in moral education, media in a publicizing government program such as family planning (KB), and media of entertainment. Key Words: folk theater; function; ubrug Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fungsi teater rakyat ubrug bagi masyarakat Banten. Teori yang digunakan adalah teori fungsi dan kajian budaya. Sumber data penelitian ini adalah teater rakyat ubrug Mang Cantel karena ubrug Mang Cantel masih sering menerima tawaran pentas pada acara-acara hajatan di daerah sekitar Serang dan Pandeglang. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik perekaman, wawancara, pengamatan, transkripsi, dan terjemahan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa teater rakyat ubrug memiliki beberapa fungsi bagi masyarakat Banten. Ubrug berfungsi sebagai media pemertahanan bahasa Jawa Serang dan Sunda Banten. Bahasa yang digunakan tersebut menjadi ruh pertunjukan sehingga dapat menjadi alat untuk mempertahankan bahasa dan budaya Banten. Selain itu, ubrug dapat menjadi media penanaman pendidikan moral, media informasi program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), dan sebagai media hiburan
Cerita Pendek Anak Dalam Majalah Bobo Tahun 1980‐an Sebagai Bacaan Pendidikan Karakter Saptawuryandari, Nurweni
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.095 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.14.254-263

Abstract

This article aims to describe the national character values in children short stories in Bobo magazine. As a children magazine, Bobo always publishes children short stories in every issue. Data of this research is twenty-four children short stories in Bobo magazine published by Gramedia in 1983’s. The data was collected through librarian study. The method used is the descriptive-qualitative one which explains the writings based on the content. The result shows that children short stories in Bobo magazine contain national character values. Those values contain moral teaching. The short stories were written by adults. They describe lives, responsibility, religion, self-service, discipline, hard working and love of the environment. This article aims to describe the national character values in children short stories in Bobo magazine. As a children magazine, Bobo always publishes children short stories in every issue. Data of this research is twenty-four children short stories in Bobo magazine published by Gramedia in 1983’s. The data was collected through librarian study. The method used is the descriptive-­qualitative one which explains the writings based on the content. The result shows that children short stories in Bobo magazine contain national character values. Those values contain moral teaching. The short stories were written by adults. They describe lives, responsibility, religion, self-service, discipline, hard working and love of environment. Key Words: children story; adult; character values Abstrak: Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai karakter bangsa yang terdapat dalam cerita pendek anak-anak di majalah Bobo. Sebagai majalah anak-anak, Bobo dalam setiap terbitannya selalu memuat cerita pendek anak-anak yang mengandung unsur dulce et utile. Data penelitian ini adalah dua puluh empat cerita pendek anak-anak dalam majalah Bobo terbitan Gramedia tahun 1983. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang memaparkan tulisan berdasarkan isi karya sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita pendek anak-­anak yang ada di majalah Bobo mengandung nilai-nilai karakter bangsa yang berkaitan dengan pendidikan moral dan budi pekerti. Cerita yang ditulis orang dewasa itu menggambarkan masalah kehidupan dan mengandung nilai karakter jujur, tanggung jawab, religius, mandiri, disiplin, kerja keras, dan cinta lingkungan.

Page 1 of 27 | Total Record : 266