cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Medika Veterinaria
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Articles 227 Documents
RASIO KETEBALAN DINDING TERHADAP DIAMETER TULANG HUMERUS AYAM KAMPUNG (Gallus domesticus) DAN BURUNG MERPATI (Columba domestica) Nasution, Idawati; RM, Shinta Mutia; -, Hamny
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.349 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2264

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan ketebalan dinding terhadap diameter tulang humerus pada ayam kampung (Gallus domesticus) dan burung merpati (Columba domestica). Dua puluh tulang humerus yang berasal dari 10 ekor burung merpati jantan dipisahkan dari jaringan di sekitarnya, kemudian tulang humerus tersebut direndam dalam formalin 5% dan dipotong secara melintang dengan menggunakan gergaji tulang. Ketebalan dinding terhadap tulang humerus diukur dengan menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan ketebalan dinding dan diameter tulang humerus pada ayam kampung adalah 1 : 4,94 sedangkan pada burung merpati adalah 1 : 5,80. Tulang humerus ayam kampung lebih tebal dari pada burung merpati jika dibandingkan diameter tulang dari masing-masing unggas tersebut.Kata kunci: Gallus domesticus, Columba domestica, tulang humerus, rasio, diameter, ketebalan
ANALISIS PROKSIMAT KADAR LEMAK IKAN NILA YANG DIBERI SUPLEMENTASI DAUN JALOH YANG DIKOMBINASI DENGAN KROMIUM DALAM PAKAN SETELAH PEMAPARAN STRES PANAS Isa, M.; -, Rinidar; Btb, Tia Zalia; Harris, Abdul; -, Sugito; -, Herrialfian
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.35 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.3000

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar proksimat lemak pada ikan nila yang diberi suplemen tepung daun jaloh yang dikombinasi kromium dan dipapar stres panas. Sebanyak 30 ekor ikan nila dengan panjang 1,3-1,5 cm, dibagi menjadi enam perlakuan dengan lima kali ulangan yang terdiri atas pakan komersil pada suhu 29±1° C (P1S1), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 29±1° C(P2S1), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh dan kromium suhu pada 29±1° C (P3S1), pakan komersil pada suhu 35±1°C (P1S2), pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh pada suhu 35±1° C (P2S2), dan pakan komersil yang dikombinasi tepung daun jaloh dan kromium pada suhu 35±1° C (P3S2). Setelah 15 hari, dihitung kadar proksimat lemak menggunakan metode Soxhlet dan Folsch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan kadar proksimat lemak menurun. Berdasarkan uji statistik rancangan acak lengkap faktorial menunjukkan adanya pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) oleh suhu dan pakan serta interaksi suhu dengan pakan juga berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar proksimat lemak. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pakan komersil yang dikombinasikan daun jaloh dengan kromium dapat menurunkan kadar proksimat lemak ikan nila yang terpapar stres panas.
PENGARUH EKSTRAK ETANOL SARANG SEMUT (Myrmecodia sp. TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI GINJAL MENCIT (Mus musculus) JANTAN YANG HIPERURISEMIA -, Roslizawaty; Budiman, Hamdani; Laila, Hiqmah; -, Herrialfian
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 2 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.766 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i2.2947

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak etanol sarang semut (Myrmecodia sp.) terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit  (Mus musculus) jantan yang hiperurisemia. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit jantan dengan umur 10 minggu yang secara klinis dinyatakan sehat. Secara acak seluruh mencit dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok perlakuan terdiri atas 5 ekor mencit. Kelompok K0 adalah kelompok kontrol negatif yang diberikan pakan standar, K1 adalah kelompok kontrol positif yang diberikan pakanstandar dan diinduksi pakan purin tinggi, K2 adalah kelompok yang diberikan pakan standar, diinduksi pakan purin tinggi dan diterapi allopurinol, K3 dan K4 adalah kelompok yang diberikan pakan standar, diinduksi pakan purin tinggi dan diterapi dengan ekstrak etanol sarang semut masing-masing dengan dosis 100  dan 200  mg. Setelah perlakuan selesai pada hari ke-22,  organ ginjal diambil untuk dibuat preparat histologi dan diwarnai dengan metode haematoksilin eosin. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian (Anova). Rata-rata tubulus proksimal yang mengalami penyempitan pada kelompok K0; K1; K2: K3; dan K4 masing-masing adalah 32,95±1,37; 67,74±1,81; 75,53±2,68; 24,11±2,61; dan 13,50±2,90. Pemberian ekstrak etanol sarang semut berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap gambaran histopatologi ginjal mencit jantan dalam memperbaiki penyempitan lumen tubulus proksimal mencit jantan yang diinduksi pakan purin tinggi.  Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol sarang semut dengan dosis 200 mg memiliki efektivitas lebih baik dibandingkan dengan dosis 100 mg dalam memperbaiki penyempitan lumen tubulus proksimal.
INTERPRETASI UKURAN JANTUNG ORANGUTAN SUMATERA(Pongo abelii) BERDASARKAN FOTO RONTGEN TORAKS DI PUSAT KARANTINA ORANGUTAN SUMATERA UTARA Minati, Qaida; Sayuti, Arman; Nasution, Idawati
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 2 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.809 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i2.2936

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui ukuran jantung orangutan sumatera (Pongo abelii) berdasarkan foto rontgen toraks dengan proyeksi posterior anterior. Foto yang digunakan adalah foto rontgen orangutan sehat sebanyak 48 ekor di Pusat Karantina Orangutan Sumatera Utara yang terdiri atas 24 ekor jantan dan 24 ekor betina yang merupakan sitaan dari Mei 2003 hingga November 2011.  Foto rontgen dikelompokkanberdasarkan jenis kelamin dan tingkatan umur. Pengukuran ukuran jantung dilakukan berdasarkan foto rontgen toraks dan selanjutnya  dilakukanperhitungan dengan cardiothoracic ratio (CTR). Nilai rata-rata CTR pada orangutan jantan dengan kelompok umur  bayi (0-2,5 tahun), anak(2,5-7 tahun), remaja (7-10 tahun) masing-masing adalah 45,2;  41,6; dan 38,8% sedangkan untuk orangutan betina masing-masing adalah 45,6;42,1; dan 40,3%.  Bayi orangutan memiliki nilai CTR yang paling besar.  Cardiothoracic ratio (CTR) menurun pada setiap peningkatan umurdari kedua jenis kelamin
UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN SERNAI (Wedelia biflora) sebagai ANTITRIPANOSOMA PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) -, Eliawardani
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.262 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2990

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui penurunan persentase parasitemia darah tikus yang diinfeksi Trypanosoma evansi (T. evansi) dan diberi ekstrak daun sernai (Wedelia biflora). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Dua puluh ekor tikus jantan dibagi secara acak ke dalam 4 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri atas 5 ekor tikus. Kelompok K1 (kontrol positif) adalah tikus yang diinfeksikan dengan 103 T. evansi dan tidak diberikan ekstrak daun sernai, kelompok K2, K3, dan K4 adalah tikus yang diinfeksikan dengan 103 T. evansi dan diberikan ekstrak daun sernai secara oral dengan dosis masing-masing 30, 45, dan 60 mg/kg bobot badan selama 3 hari berturut-turut. Infeksi T. evansi dilakukan secara intra peritoneum sedangkan ekstrak diberikan secara oral selama 3 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ± SD persentase parasitemia tikus dari K2, K3, dan K4 lebih rendah dari K1. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa infeksi T. evansi meningkatkan persentase parasitemia dan pemberian ekstrak daun sernai berbagai dosis mampu menurunkan persentase parasitemia pada tikus.
TINGKAT KERENTANAN Fasciola gigantica PADA SAPI DAN KERBAU DI KECAMATAN LHOONG KABUPATEN ACEH BESAR Hambal, Muhammad; Sayuti, Arman; Dermawan, Agus
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.558 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2921

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang perbedaan tingkat kerentanan sapi dan kerbau terhadap Fasciola gigantica di Kecamatan Lhoong, Kebupaten Aceh Besar. Sampel diperoleh dari lima desa yang  terdapat di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Sampel terdiri atas 150 ekor  sampel  feses kerbau dan 150 sampel feses sapi segar, masing-masing terdiri atas 75 ekor sampel feses kerbau jantan, 75 ekor sampel feses kerbau betina,75 ekor sampel  feses sapi  jantan, 75 ekor sampel feses sapi betina. Identifikasi dan perhitungan telur Fasciola gigantica menggunakan metode sedimentasi modifikasi Borray. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Dari hasil penelitian terlihat perbedaan tingkat kerentanan sapi dan kerbau terhadap Fasciola gigantica di Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar dengan total prevalensi pada kerbau jantan; kerbau betina; sapi jantan; dan sapi betina masing-masing adalah 93,3; 90,6; 92,0; dan 89,3%. Rata-rata intensitas telur pada kerbau jantan; kerbau betina; sapi jantan; dan sapi betina masing-masing adalah 26,16; 29,11; 20,96; dan 10,29. Rata-rata intensitas telur pada kerbau dan sapi masing-masing 25,40 dan 14,24. Prevalensi pada kerbau umur 0-6, 7-12, dan >12 bulan masing-masing adalah 80, 96,  dan100%. Prevalensi pada sapi umur 0-6, 7-12, dan >12 bulan masing-masing adalah 78, 100, 94%. Intensitas telur pada kerbau umur 0-6; 7-12; dan>12 bulan masing-masing adalah 7,79; 19,49;  dan 51,27. Intensitas telur pada sapi umur 0-6; 7-12; dan>12 bulan masing-masing adalah7,38; 18,87; dan 19,24. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan adanya tingkat kerentanan terhadap Fasciola gigantica pada sapi dan kerbau di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.
STUDI INTERAKSI KURKUMIN-ARTEMISIN DAN TURUNANNYA TERHADAP RESEPTOR SARCOENDOPLASMA RETICULUM Ca+2 SECARA IN SILICO -, Frengki; Saura, Erda Rama; -, Rinidar
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 2 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.775 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i2.2952

Abstract

Penelitian ini bertujuan memodelkan interaksi molekuler enzim Sarcoendoplasmic Reticulum Ca+ (SERCA) oleh kurkumin-artemisin dan turunannya secara in silico. Penelitian ini menggunakan 10 senyawa obat yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dihidroartemsin, artemeter, artesunat dan ATP. Senyawa penambatan yang digunakan adalah 2EAS yang didapat dari situs Protein Data Bank (PDB). Senyawa ujinya yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dan turunannya. Semua ditambatkan menggunakan aplikasi ArgusLab 4.0.1. Proses penambatan dilakukan dengan metode ArgusDock. Hasil analisa menunjukkan semua senyawa uji mampu berikatan dengan reseptor SERCA. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa kurkumin dan analognya mampu menghambat  ikatan ATPreseptor secara kompetitif yang ditandai dengan energi Gibs (ΔG) yang lebih besar. Hal ini menunjukkan ikatan kurkumin dan analognya lebih stabil daripada ikatan ATP terhadap reseptornya, sedangkan artemisin dan turunannya mampu berikatan dengan SERCA pada site binding domain ion FePenelitian ini bertujuan memodelkan interaksi molekuler enzim Sarcoendoplasmic Reticulum Ca+ (SERCA) oleh kurkumin-artemisin dan turunannya secara in silico. Penelitian ini menggunakan 10 senyawa obat yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dihidroartemsin, artemeter, artesunat dan ATP. Senyawa penambatan yang digunakan adalah 2EAS yang didapat dari situs Protein Data Bank (PDB). Senyawa ujinya yaitu kurkumin, analog 1, analog 2, analog 3, analog 4, artemisin, dan turunannya. Semua ditambatkan menggunakan aplikasi ArgusLab 4.0.1. Proses penambatan dilakukan dengan metode ArgusDock. Hasil analisa menunjukkan semua senyawa uji mampuberikatan dengan reseptor SERCA. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa kurkumin dan analognya mampu menghambat  ikatan ATPreseptor secarakompetitif yang ditandai dengan energi Gibs (ΔG) yang lebih besar. Hal ini menunjukkan ikatan kurkumin dan analognya lebih stabil daripada ikatan ATP terhadap reseptornya, sedangkan artemisin dan turunannya mampu berikatan dengan SERCA pada site binding domain ion Fe+2
GAMBARAN HISTOPATOLOGI INSANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIPELIHARA DALAM TEMPERATUR AIR DI ATAS NORMAL Sipahutar, Luky Wahyu; Aliza, Dwinna; -, Winaruddin; -, Nazaruddin
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.182 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2912

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran histopatologi insang ikan nila yang dipelihara dalam temperatur air di atas normal. Dalam penelitian ini digunakan 12 sampel ikan nila yang dibagi atas 4 kelompok. Kelompok I adalah perlakuan kontrol dengan temperat ur air 28° C, sedangkan ikan pada kelompok II, III, dan IV dipelihara masing-masing pada temperatur 30, 32, dan 34° C selama 6 jam, mulai dari jam 09.0015.00  WIB. Kemudian insang sampel difiksasi dalam larutan Davidson 10% selanjutnya dilakukan pembuatan sediaan histologi dengan menggunakan pewarnaan humatoksilin dan eosin (HE). Pengamatan histopatologi dilakukan dengan mikroskop cahaya biokuler, kemudian dilakukan pemotretan dengan fotomikrograf. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil pemeriksaan histopatologi terhadap insangikan nila ditemukan adanya epitelium terlepas, hiperplasia lamella primer, hiperplasia lamella sekunder, nekrosis, dan fusi lamella pada insang ikan nila yang  dipelihara dalam temperatur air di atas normal.
INOKULASI Trypanosoma evansi PADA MENCIT Mus musculus STRAIN BALB-C YANG BERASAL DARI DARAH SAPI LOKAL Fahrimal, Yudha; Saad, Mecky Desca; Budiman, Hamdani
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 2 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.64 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i2.2943

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui keberhasilan inokulasi Trypanosoma evansi (T. evansi) pada mencit Mus musculus strain Balb-C yang berasal dari darah sapi lokal di Rumah Potong Hewan kota Banda Aceh. Dari 205 sampel darah sapi lokal, 15 sampel positif mengandung T.evansi dengan metode hematokrit dan semua darah disuntikkan masing-masing pada  mencit secara intraperitoneal untuk memperbanyak jumlah parasit. Semua mencit diperiksa secara regular 2 kali seminggu dengan mengambil darah dari ujung ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 mencit yang diinokulasi, satu ekor mati pada minggu ke-3, satu ekor mati pada minggu ke-5, satu ekor mati minggu ke-8, dua ekor mati minggu ke-9, dan tiga ekor mati pada minggu ke-14, sementara 7 ekor masih hidup sampai minggu ke-20. Dari ke-8 ekor yang mati semuanya tidak ditemukan berkembangnya T. evansi pada mencit
PENGARUH PENGGUNAAN GETAH BATANG PISANG KEPOK (Musaparadisiaca forma typica) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA OPERASI PADA ANJING LOKAL (Canis familiaris) Daud, Razali
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.709 KB) | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2996

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi getah batang pisang kepok dalam proses penyembuhan luka operasi. Penelitian ini menggunakan 10 ekor anjing lokal (Canis familiaris) sehat yang berumur rata-rata 6 bulan dengan bobot badan 6-7 kg. Sebelum perlakuan dilaksanakan, semua anjing diadaptasikan selama tujuh hari di dalam kandang individu, setiap anjing dilakukan operasi laparotomi. Anjing dibagi dalam dua kelompok secara acak. Kelompok I diinjeksi penisilin-G dan dioleskan salep oksitetrasiklin pagi dan sore sebagai kontrol, kelompok II dioleskan getah batang pisang kepok pagi dan sore hari sebagai perlakuan. Pengamatan dilakukan setiap hari pada pagi hari sampai luka operasi sembuh. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif berdasarkan pengamatan makroskopis terhadap luka kelompok I dan dibandingkan dengan kelompok II berdasarkan adanya kemerahan, kebengkakan, dan pertautan tepi luka. Pada kelompok II terjadi penyembuhan luka operasi yang sama dengan kelompok I. Dapat disimpulkan bahwa, penggunaan getah batang pisang kepok dapat menyembuhkan luka, sama halnya dengan proses kesembuhan luka yang menggunakan injeksi penisilin-G dan dioleskan salep oksitetrasiklin.

Page 1 of 23 | Total Record : 227