cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical & Health Communication (GMHC)
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : -
Core Subject : Health,
The Global Medical & Health Communication (GMHC) is journal that publishes research articles of medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include, but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, epidemiology, geriatric, histopathology, internal medicine, nutrition, obstetrics and gynecology, occupational health, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
Hubungan Antara Reactive Oxygen Species (ROS), Superoxide Dismutase (SOD) dengan Protein α-Sinuklein-larut Air pada Batang Otak Tikus yang Diinduksi Rotenon Yulianti, Arief Budi; Sumarsono, Sony Heru; Ridwan, Ahmad; Yusuf, Ayda T
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Parkinson adalah salah satu penyakit neurodegeneratif dengan ganggunan gerak bila kematian neuron dopaminergik lebih dari 70 %. Paparan neurotoksin diduga menjadi penyebab terjadinya Parkinson sporadik. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kondisi stres oksidatif pada batang otak tikus Wistar yang diinduksi rotenon. Metode: Penelitian eksperimental dengan menggunakan tikus Wistar jantan. Variabel bebas: kelompok tikus, lama perlakuan, waktu pengamatan, dan lokasi di batang otak. Variabel terikat: konsentari SOD, konsentrasi protein α-sinuklein-larut air, dan densitas ROS. Densitas ROS berbeda secara signifikan antara kelompok perlakuan (sig: 0,029), waktu pengamatan (sig: 0,0001), dan lokasi di batang otak (sig: 0,001). Konsentrasi SOD tidak berbeda secara signifikan antar kelompok perlakuan (sig:0,566), waktu pengamatan (sig:0,441) dan lokasi di batang otak (sig: 0,091). Konsentrasi protein α-sinuklein-larut air berbeda secara signifikan antar kelompok perlakuan (sig: 0,001), waktu pengamatan (sig: 0,001) tetapi tidak berbeda secara signifikan pada lokasi di batang otak (0,625). Densitas ROS relatif tertinggi pada hari ke-10 dan 40. Sementara itu konsentrasi SOD pada hari ke-10 dan 40 relatif rendah sedangkan konsentrasi protein α-sinuklein-larut air pada hari ke-10 relatif tinggi dibandingkan dengan hari ke-40. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa stres oksidatif pada batang otak tikus Wistar yang diinduksi rotenon berpengaruh pada struktur protein α-sinuklein.   Kata kunci: Batang otak, protein α-sinuklein, ROS, rotenon, SOD, stres oksidatif   Abstract Parkinson is the neurodegenerative disease with movement disordered, if the dopaminergic neurons dead more than 70%. Neurotoxins exposure is predicted cause sporadic Parkinson. The research aim is to determine oxidative stress stage in the brainstems Wistar rat’s treated-rotenone. Methods: An experimental study using male Wistar rats. The independent variable: groups of rats, long treatment, observation time, and location in the brainstem. The dependent variable: SOD concentration, concentration of protein α-synuclein-water soluble, and ROS density. ROS density significantly different among treatment groups (sig: 0,029), observation time (sig: 0.0001), and the location in the brainstem (sig: 0,001). SOD concentrations not significantly different among treatment groups (sig: 0.566), observation time (sig: 0.441) and the location in the brainstem (sig: 0.091). The concentration of protein α-synuclein-water soluble significantly different among treatment groups (sig: 0,001), observation time (sig: 0,001), but not significantly different at the location in the brainstem (0,625). ROS density relatively high at day 10 and 40. Meanwhile SOD concentration on day 10 and 40 are relatively low. And the concentration of α-synuclein protein-water soluble on day 10 is relatively higher than on day 40. The conclution is oxidative stress in the brainstem Wistar rat’s treated-rotenone effected on the protein α-synuclein structure Key word: α-synuclein protein, brainstem, oxidative stress, ROS, rotenone, SOD
Exploration of Methadone and HIV Treatment For Injecting Drug Users In West Java, Indonesia: Lessons from Practice Laere, Igor van; Hidayat, Teddy; Wisaksana, Rudi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Over the last decade, Indonesia became one of the fastest growing injecting drug user (IDU) driven HIV epidemics in Asia. Among strategies to prevent and control the HIV epidemic in Indonesia, methadone maintenance treatment (MMT) has been established and could become an entry point for HIV testing and treatment in IDUs. This study explored MMT and HIV treatment practices in West Java. An evaluation team visited six MMT clinics, interviewed staff and collected data on patient characteristics, methadone dose, and HIV testing and treatment practices. By October 2011, from 203 IDUs entering MMT (range 7-73 per clinic), 95% were male with the average age of 31 years (range 19-60 years), 92% had a senior high school or higher diploma, 47% had a regular income, and 55% were married. The mean methadone dose was 79 mg/day (range 13-208mg/day). About 85% of the MMT patients were tested for HIV, of whom 70% were found HIV positive (121/173), while 59% had a baseline CD4 count > 200 cells/mm3 and 65% were receiving ART.  In conclusion, few IDUs entered MMT in West Java and among those who did; high HIV and ART rates were reported, stressing the need for active linking between harm reduction services and integrated MMT and HIV treatment for IDUs.   Key words: injecting drug user; methadone; HIV; ART; clinical guideline; Indonesia
Knowledge about Byssinosis and the Use of Face-Masks Respati, Titik; Ibnusantosa, Ganang; Rachmawati, Meike
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The development of textile industry in Indonesia can potentially increase some occupational diseases that caused by waste products. One of those waste products from textile industry is cotton dust, which can cause byssinosis. There are several ways to reduce cotton dust exposure, such as using face mask. This research aim to describe the relationship between employees knowledge  about byssinosis with face mask utilization in spinning department of a textile factory.This research is a descriptive study with cross sectional approach. The subjects of this research are employees working on Spinning Department. Data gathered using questionnaire about byssinosis and the habit of using face mask.The result of this research shows that 52 (78.79%) of 66 respondents have excellent knowledge about byssinosis, meanwhile the other 14 (21.21%) show just enough knowledge. Almost all wear a face mask during working hour (92.42%). The result of chi square method shows that the relation between employees knowledge about byssinosis and face mask utilization is really weak (p=0,001, contingency coefficient = 0,381). The result of this research indicates that besides knowledge of byssinosis, there are other factors that can affect face mask utilization. Key word: Byssinosis, knowledge, face-masks
Nilai Mean Corpuscular Volume (MCV) Sebagai Petunjuk Ketaatan Minum Obat pada Penderita HIV Manullang, Rudolf Andean; Wisaksana, Rudi; Sumantri, Rachmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengobatan Anti Retroviral (ARV) pada penderita HIV merubah secara dramatis prognosis penderita HIV tetapi memerlukan ketaatan pengobatan yang sempurna. Hingga saat ini penilaian ketaatan pengobatan ARV merupakan hal yang sulit dikerjakan karena ketiaadaan metoda penilaian yang ideal tetapi dapat digunakan sehari-hari diklinik. Pada makalah ini akan diutarakan mengenai peranan Mean Corpuscular Volume (MCV) sebagai metoda penilaian ketaatan pengobatan ARV pada penderita HIV.   Kata kunci: ARV, HIV, Ketaatan minum obat
Konseling Adherence untuk Pengobatan Infeksi HIV/AIDS: Perlukah ? Kesuma, Nirmala
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengobatan Anti Retroviral (ARV) untuk infeksi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodefisiency Syndrome (HIV/AIDS) adalah pengobatan seumur hidup dengan tujuan menekan replikasi HIV dalam darah, sehingga tidak terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium dan pada akhirnya akan memperbaiki kualitas hidup penderita.  Kegagalan terapi masih sering terjadi oleh karena ketidak-patuhan (adherence) untuk minum obat ARV.  Kriteria minum ARV dengan adherence yang baik harus memenuhi : ketepatan waktu meminum obat, dosis obat yang benar dan jumlah pil yang harus diminum. Pengobatan dikatakan baik apabila dalam jangka waktu sebulan semua kriteria diatas mencapai 95 %. Untuk memastikan adherence minum ARV diperlukan konseling sebelum mulai minum obat. Konseling meliputi edukasi, informasi dan support emosional terhadap pasien. Sejak diberlakukannya konseling adherence di Klinik Teratai, angka kematian pasien menurun dari 13,6% pada tahun 2006  menjadi 4,3 % pada tahun 2009. Hasil penelitian di Klinik Teratai RS dr. Hasan Sadikin menunjukkan pentingnya pasien menjalani konseling adherence sebelum memulai terapi ARV. Kata kunci: adherence, ARV, konseling
Kegagalan Terapi Infeksi HIV/AIDS dan Resistensi Antiretroviral Sumantri, Rachmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Kegagalan pengobatan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditandai dengan kegagalan virologis, kegagalan imunologis, dan memburuknya keadaan klinis penderita. Kegagalan virologis mendahului kegagalan lainnya dan ditandai dengan viral load yang tidak menurun setelah 48 minggu pengobatan Anti Retro Viral (ARV). Kegagalan imunologis ditandai dengan CD4 yang menurun. Faktor yang berperan dalam kegagalan terapi ARV adalah kepatuhan, efek samping obat yang menyebabkan penghentian obat, absorbsi buruk, dosis suboptimal, serta resistensi virus. Virus HIV akan bermutasi dengan jenis mutasi yang khas untuk setiap jenis obat ARV. Pemeriksaan resistensi ARV terdiri dari dua cara, genotip dan fenotip. Pemeriksaan genotip adalah pemeriksaan terhadap mutasi, sedangkan pemeriksaan fenotip adalah pemeriksaan in vitro untuk melihat langsung suseptibilitas ARV. Mutasi virus untuk tiap obat berbeda, ditandai dengan penggantian asam amino pada suatu codon. Misalnya untuk lamivudine bila terdapat mutasi M184V, artinya metionin pada codon 184 diganti dengan valin. Pemeriksaan mutasi virus perlu dilakukan jika diduga terjadi virologic failure akibat resistensi ARV, obat ARV yang diberikan harus segera diganti.   Kata kunci:  ARV, HIV/AIDS, kegagalan pengobatan, mutasi
Herpes Genitalis dengan Gambaran Klinis Tidak Khas pada Penderita AIDS Istasaputri, Keni; Djajakusumah, Tony S; Rachmadinata, Rachmadinata; Rowawi, Rasmia
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dilaporkan sebuah kasus herpes genitalis dengan gambaran klinis yang tidak khas pada seorang laki-laki penderita Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) berusia 27 tahun. Penderita datang dengan lesi pada pubis, korpus penis, dan skrotum bagian 1/3 atas, berupa ulkus dangkal multipel,  dengan bentuk tidak teratur, tidak terdapat indurasi maupun nyeri tekan. Diagnosis kerja pada saat itu adalah ulkus genital nonspesifik yang ditegakkan setelah diagnosis banding berbagai etiologi disingkirkan melalui berbagai pemeriksaan penunjang. Pada bulan ke-6, tampak lesi baru di sekitar ulkus berupa vesikel, erosi, dan ekskoriasi, sehingga diagnosis kerja menjadi herpes genitalis. Pada pemeriksaan serologis ulang didapatkan hasil IgM anti virus herpes simpleks (VHS) (+), dan Ig G anti VHS-2 (+). Terapi topikal diberikan kompres, sedangkan untuk terapi sistemik diberikan antibiotik yang sesuai dengan hasil tes resistensi. Terapi asiklovir sistemik dengan dosis 5x400 mg/hari diberikan setelah diagnosis kerja menjadi herpes genitalis.   Kata kunci: AIDS, herpes genitalis,  terapi
Kondiloma Akuminata di Daerah Anus yang Disebabkan oleh Infeksi Human Papilloma Virus Tipe 6, 11, dan 16 Pada Seorang Laki Suka Laki dengan HIV Positif Achdiat, Pati Aji; Djajakusumah, Tony S; Rachmatdinata, Rachmatdinata
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Human papilloma virus (HPV) merupakan salah satu penyebab infeksi menular seksual terbanyak di seluruh dunia. Kondiloma akuminata (KA) merupakan salah satu manifestasi klinis infeksi HPV yang paling sering ditemukan. Risiko terinfeksi virus HPV multipel lebih tinggi pada penderita HIV, sedangkan risiko terinfeksi tipe ganas lebih tinggi pada laki suka laki (LSL). Dilaporkan satu kasus KA di daerah anus yang disebabkan oleh infeksi HPV tipe 6, 11, dan 16 pada seorang LSL dengan HIV positif. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang karakteristik berupa papula dan plak verukosa berbentuk seperti bunga kol. Hasil pemeriksaan histopatologis menunjang diagnosis KA namun tidak menunjukkan tanda-tanda keganasan. Pasien diberikan terapi bedah listrik dan trikloroasetat (TCA) 80% topikal. Faktor risiko KA multipel pada pasien ini kemungkinan disebabkan jumlah pasangan seksual yang banyak, LSL, dan infeksi HIV dengan hitung CD4 382 sel/uL. Hasil serotyping menunjukkan penyebab KA adalah HPV tipe 6, 11, dan 16. Pasien disarankan untuk melakukan screening sitologi setiap tahunnya.   Kata kunci: HIV, infeksi HPV multipel, kondiloma akuminata, LSL
Korelasi Jumlah CD4 Dan Total Lymphocyte Count (Tlc) pada Penderita HIV/AIDS dengan dan tanpa Terapi Antiretroviral Sulianto, Ivana Agnes; Indrati, Agnes R; Wisaksana, Rudi; Noormartany, Noormartany
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Jumlah CD4 merupakan parameter laboratorium yang digunakan untuk memulai dan memantau terapi antiretroviral (ART) pada penderita HIV/AIDS. Namun pemeriksaan jumlah CD4 membutuhkan peralatan laboratorium yang mahal dan tenaga terlatih. World Health Organization (WHO) merekomendasikan total lymphocyte count (TLC) sebagai pengganti CD4 dalam memulai terapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara jumlah CD4 dan TLC pada data dasar, pemantauan pertama dan kedua penderita HIV/AIDS sebagai dasar digunakannya TLC untuk pemantauan terapi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dan bagian dari penelitian kohort IMPACT (Integrated Management for Prevention And Care and Treatment of  HIV/AIDS) pada pasien HIV/AIDS di RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data tersebut dibagi menjadi kelompok tanpa ART dan dengan ART, masing-masing kelompok dibagi berdasarkan jenis kelamin. Analisis korelasi dilakukan pada data CD4 dan TLC dari tiap kelompok.Penelitian ini menggunakan 2239 data. Korelasi antara CD4 dan TLC pada data dasar pria tanpa ART adalah 0.644 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.74 (p=0.01), pria dengan ART 0.67 adalah (p=0.01), wanita dengan ART adalah adalah 0.601 (p=0.01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan pertama pria tanpa ART 0.56 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.606 (p=0.01), pria dengan ART adalah 0.569 (p=0.01), wanita dengan ART adalah 0.466 (p=0.01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan kedua pria tanpa ART adalah 0.697 (p=0.01), wanita tanpa ART adalah 0.306 (p=0.01), pria dengan ART adalah 0.556 (p=0.01), wanita dengan ART adalah 0.561 (p=0.01).  Kesimpulan :  terdapat korelasi yang baik antara jumlah CD4 dan TLC, sehingga TLC dapat digunakan sebagai alternatif pemantauan terapi sebelum penderita melakukan pemeriksaan CD4.   Kata kunci: CD4, HIV/AIDS, terapi antiretroviral, total lymphocyte count
Perbandingan Kadar C-Reactive Protein Kuantitatif dengan Hasil Deteksi Antigen Cryptococcus neoformans pada Penderita Human Immunodeficiency Virus Hendrajaya, Maenaka Smaratungga; Indrati, Agnes Rengga; Ganiem, Ahmad Rizal
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Infeksi Cryptococcus neoformans merupakan salah satu infeksi oportunistik pada penderita HIV yang dapat menyebabkan meningitis kriptokokus dan dapat dideteksi secara dini melalui antigen yang terdapat pada kapsul polisakarida. Ketersediaan pemeriksaan antigen ini sangat terbatas sehingga dibutuhkan parameter lain untuk mendeteksi secara dini kemungkinan terjadi meningitis kriptokokus. Parameter tersebut adalah C-reactive protein (CRP). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar CRP kuantitatif dengan hasil deteksi antigen   C. neoformans pada penderita infeksi HIV. Serum diambil dari penderita HIV di klinik Teratai   RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang baru pertama kali terdeteksi, CD4+ <100 sel/mm3, belum diterapi, serta tidak didiagnosis meningitis  kriptokokus.  Dilakukan  deteksi  antigen  menggunakan  Cryptococcal  antigen  latex  agglutination system (Meridian Diagnostics) dan pemeriksaan CRP kuantitatif. Desain penelitian analitik komparatif dengan analisis statistik menggunakan   statistical product and service solutions (SPSS) ver. 13, Uji Mann-Whitney U, dan dilakukan perhitungan sensitivitas dan spesifisitas serta penentuan cut-off CRP kuantitatif dengan kurva ROC. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna kadar CRP kuantitatif pada hasil CALAS positif dengan negatif. Kadar CRP pada CALAS positif lebih tinggi dibandingkan dengan CALAS negatif (p<0,05). Dari kurva ROC didapatkan sensitivitas 84,3% dan spesifisitas 42,4%, serta cut-off CRP >5,8197 mg/dL. Dari 14 sampel dengan CALAS positif, 12 (85,7 %) dengan CRP >5,8197 mg/dL dan  2 (14,3%)  dengan CRP ≤5,8197 mg/dL. Simpulan, CRP kuantitatif dapat  dipertimbangkan sebagai salah satu parameter untuk mendeteksi secara dini kemungkinan meningitis kriptokokus pada pasien HIV dengan menyingkirkan  kemungkinan lain yang dapat mengakibatkan peningkatan CRP.   Kata kunci: Cryptococcal antigen latex agglutination system, C-reactive protein, meningitis kriptokokus Comparison of Quantitative C-Reactive Protein Concentration and Cryptococcus neoformans Antigen Detection Results in Human Immunodeficiency Virus Patients   Abstract Cryptococcus neoformans infection is one of the opportunistic infections in HIV patients, it caused cryptococcal meningitis, which can be detected earlier using the antigen contained in the polysacharide capsule. The availability of this antigen test is very limited that other parameter are needed for early detection of cryptococcal meningitis. That parameter is C-reactive protein (CRP). The aim of this study was to compare the levels of quantitative CRP with the  C. neoformans antigen detection in HIV patients. This was a comparative analytical study design using serum taken from HIV patients who came to the Teratai Clinic RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. The inclusion criteria was subject on their first detection having  CD4 + <100 cells/mm3, have never been treated before and was not diagnosed with cryptococcal meningitis. Cryptococcal antigen detection using antigen latex agglutination system (Meridian Diagnostics) and quantitative CRP examination was performed. Data analysis used statistical analysis statistical product and service solution (SPSS) ver. 13 to calculate sensitivity and specificity and the determination of CRP cut-off by ROC curve. Results showed that there was significant differences in the levels of quantitative CRP from positive and negative CALAS results. CRP levels in CALAS positive results was higher than negative result (p<0.05). From ROC curve, the CRP had 84.3% sensitivity  and 42.4% specificity, and the cut-off was >5.8197 mg/ dL. Of 14 samples with positive CALAS result, 12 (85.7%) had CRP >5.8197 mg/dL and 2 (14.3%) with CRP ≤5.8197 mg/dL. In conclusion, quantitative CRP could be considered as a parameter for early detection of cryptococcal meningitis in HIV patients, by eliminating the possibilities that can lead to increased level of CRP.   Key words: C-reactive protein, Cryptococcal antigen latex agglutination system, cryptococcal meningitis 

Page 1 of 19 | Total Record : 190