Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 331 Documents
Infiltrasi Neutrofil pada Tikus dengan Periodontitis setelah Pemberian Ekstrak Etanolik Kulit Manggis Prasetya, Rendra Chriestedy; Purwanti, Nunuk; Haniastuti, Tetiana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Periodontitis adalah inflamasi kronis yang disebabkan oleh bakteri periodontopatogen. Pada periodontitis terjadi peningkatan infiltrasi neutrofil yang berfungsi untuk memfagositosis bakteri yang menginfiltrasi jaringan gingiva. Kulit manggis mempunyai bahan aktif yaitu xanton yang mempunyai efek antiinflamasi dengan jalan menghambat sintesis PGE2 sehingga akan menurunkan infiltrasi sel inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infiltrasi sel neutrofil pada periodontitis setelah pemberian ekstrak etanolik kulit manggis. Tikus wistar jantan sebanyak empat puluh delapan ekor diinduksi periodontitis dengan ligasi pada daerah subgingiva gigi anterior rahang bawah selama 7 hari. Setelah hari ke-7, ligasi dilepas selanjutnya tikus dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan yaitu ekstrak kulit manggis 30 mg/kg BB dan 60 mg/kg BB, ibuprofen dan saline. Tikus dikorbankan pada hari ke-1, 3, 5 dan 7 setelah perlakuan. Jaringan pada bagian anterior rahang bawah ditanam dalam paraffin dan dilakukan pemotongan serial kemudian diwarnai dengan hematoxylin eosin. Jumlah neutrofil dihitung di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x. Data jumlah neutrofil dianalisa dengan Two Way Anova. Hasil Two Way Anova menunjukkan perbedaan yang bermakna rerata sel neutrofil antar kelompok perlakuan (p<0,05) mengindikasikan pemberian ekstrak etanolik kulit manggis berpengaruh terhadap jumlah sel neutrofil. Dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanolik kulit manggis mampu menurunkan infiltrasi sel neutrofil pada tikus yang diinduksi periodontitis. ABSTRACT: Neutrophil infiltration in rats with periodontitis after the granting of Ethanolic Extract Skin Mangosteen. Periodontitis is a chronic inflammatory disease caused by periodontopathic bacteria. When periodontitis occurs are followed by neutrophil infiltration. Mangosteen rind contains xanthone, an anti-inflammatory substance which inhibits the synthesis of PGE2 and therefore reduces inflammatory cells infiltration. This research aimed to study neutrophil cells infiltration in experimental-induced periodontitis rats after mangosteen rind ethanolic extract administration. Forty-eight male wistar rats were induced the periodontitis by putting silk ligature subgingivally around the neck of the anterior lower teeth for seven days. After the ligation had been taken out, the rats were divided into four groups and treated orally with mangosteen rind extract 60 mg/kg BB, 30 mg/kg BB, ibuprofen, and saline. The rats were sacrificed on the 1st, 3rd, 4th, seventh day after the treatment. Their anterior lower jaws were processed for paraffin embedded tissue, cut serially and stained with hematoxylin-eosin. The neutrophil cells were observed and counted under the microscope (400x). The data were analyzed using Anova. Anova result showed a significant difference among group (p<0,05) indicating that mangosteen rind ethanolic extract affected the number of neutrophils. In conclusion, mangosteen rind ethanolic extract reduced the number of neutrophil infiltration in periodontitis rats.
Penatalaksanaan Fraktur Kompleks Zygomatikomaksilaris Sinistra dengan Miniplate Osteosynthesis Bernado, Pedro; Prihartiningsih, Prihartiningsih; Hasan, Cahya Yustisia
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wajah terletak lebih ke anterior secara anatomis oleh sebab itu mudah mendapatkan trauma. Os Zigoma merupakan tulang yang menonjol pada wajah dan akan menahan gaya bentur terbesar pada wajah. Tulisan ini melaporkan penatalaksanan fraktur kompleks  zigomatikomaksilaris sinistra dengan miniplate osteosynthesis.Seorang laki-laki 22 tahun dirujuk ke Bagian Bedah Mulut RSUP Dr Sardjito dengan riwayat kecelakaan lalulintas tiga minggu sebelum masuk RS. Pasien mengeluh daerah pipi kiri terasa tebal dan dirasa lebih datar dari pipi kanan. Pemeriksaan klinis terdapat parestesi nervus infraorbita sinistra, displace tulang daerah infraorbital rim sinistra, diskontinuitas regio sinus maksilaris sinistra.  Radiografis CT axial dan koronal serta CT Scan 3D tampak fraktur melibatkan infraorbital rim sinistra, fraktur sinus maksila sinistra, fraktur pada sutura zigomaticofrontalis dan pada sutura zigomatikotemporalis. Penatalaksanaannya dilakukan open reduction internal fixation (ORIF) fraktur kompleks zigomatikomaksilaris dengan miniplate osteosynthesis di bawah anestesi umum. Pasca operasi gejala parestesi berangsur- angsur berkurang, defek infraorbital rim terkoreksi dan pipi kiri tampak kembali prominen. Prognosis kasus ini dubia ad bonam. ORIF dengan miniplate osteosynthesis dapat memulihkan deformitas wajah dengan hasil malar eminensia kembali prominen dan membuat kondisi dekompresi nervus infraorbita sinistra yang mendukung proses pemulihan sensorisnya.ABSTRACT: Management of Zygomaticomaxillaris Sinistra Complex Fractures with Osteosynthesis Miniplate. Face lies in a prominent position so that this area is often susceptible to trauma. Os zygomaticum is an area that holds the heaviest impact on facial trauma. This paper reports one case about zygomaticomaxillary complex fractures management with miniplate osteosynthesis. A 22 years old man was referred to the Department of Oral Surgery Dr Sardjito Hospital with a history of traffic accident three weeks before admission. He felt that his left cheek was thick and flatter than the right one. Clinical examination found that the left infraorbita nerve was paresthesized, the bone on the left infraorbital rim region was displaced and the left maxillary sinus region was discontinued. Radiography examination using CT axial and coronal, and 3D CT scan showed  both of the left infraorbital rim and maxillary sinus were fractured, as well as the zygomaticotemporalis suture and the zygomaticofrontalis suture. An Open Reduction Internal Fixation (ORIF) of the zygomaticomaxillary complex fractures with miniplate osteosynthesis was performed under  general  anesthesia. The  result  showed  that  the  postoperative paresthesia  symptoms  were  gradually  diminished,  the infraorbital rim defects were corrected and the prominent left cheek was recontructed. The prognosis was dubia ad bonam. It can be concluded that ORIF with miniplate osteosynthesis reconstructs the facial deformity, recovers the malar eminence prominency. The nerves decompression will favor the recovery process of the left infraorbita sensory
Perawatan Impaksi Gigi Premolar Pertama Mandibula Pada Maloklusi Angle Klas II Divisi 2 Subdivisi Dengan Teknik Be Kusumasmara, Apreka Tigor
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Impaksi gigi terjadi karena gigi gagal untuk erupsi secara sempurna pada posisinya akibat terhalang oleh gigi lain maupun jaringan lunak atau padat di sekitarnya. Gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi geraham ketiga rahang bawah, gigi kaninus rahang atas, dan gigi premolar kedua. Impaksi premolar sering terjadi karena pencabutan prematur dari gig geraham desidui. Gigi premolar pertama jarang terjadi impaksi dibandingkan premolar kedua. Tujuan laporan kasus adalah untuk memaparkan penatalaksanaan perawatan untuk mengkoreksi impaksi gigi premolar pertama mandibula menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa prosedur bedah. Pria 21 tahun mengeluhkan gigi yang berjejal pada rahang atas dan rahang bawah. Gigi kaninus desidui kiri rahang atas dan rahang bawah belum tanggal. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle Klas II  divisi 2 bimaksiler protrusif dengan hubungan skeletal klas II, gigi anterior maksila retrusif, disertai impaksi gigi premolar pertama mandibula kiri. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat teknik Begg dan pencabutan gigi desidui, Kesimpulan, impaksi gigi premolar pertama mandibula dapat tercapai pada tahap pertama teknik Begg tanpa pendekatan tindakan bedah, tahap selanjutnya yang akan dicapai adalah tahap memperbaiki inklinasi aksial gigi.ABSTRACT: Treatment Of Class II Division 2 Angle Malocclusion With Mandibular Premolar Tooth Impaction Using Begg Technique. Tooth impaction is a tooth that fails to erupt perfectly to its position because of the other tooth, surrounding soft or hard tissue that blocks its eruption. Premolar often fails to erupt due to a premature extraction of deciduous molar. This case study aims to illustrate the treatment of mandibular first premolar impaction using Begg technique for fixed appliance. The experiment was conducted to a 21 year-old male patient who complained about his crowding of upper and lower teeth, also the persistence of his upper and lower left deciduous canine. The case was diagnosed as class II division 2 angle malocclusion with bimaxillary protrusion with class II skeletal relation, and maxillary anterior teeth retrusion. The left mandibular of first premolar teeth was impacted. The treatment using Begg technique has helped to fix the appliance with the extraction of the deciduous teeth. From the evaluation, it can be concluded that the treatment of impacted mandibular first premolar is achieved on the first stage of Begg technique without surgical approach. The next objective of the treatment is to correct the teeth axis.
Pembuatan Prothesa Telinga dengan Metode Pencetakan Tiga Lapis Fathurrahman, Helmi; Ismiyati, Titik; Saleh, Suparyono; Dipoyono, Haryo Mustiko
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Defek telinga unilateral ataupun bilateral dapat disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya trauma, kelainan pertumbuhan, atau prosedur pengangkatan kanker. Kondisi ini akan mempengaruhi psikologis pasien karena telinga merupakan organ vital yang membentuk estetika wajah. Salah satu perawatan rehabilitasi pada defek telinga adalah dengan pembuatan protesa telinga. Tahapan penting dari pembuatan protesa telinga adalah mendapatkan cetakan yang akurat untuk membuat pola malam. Teknik pencetakan dalam pembuatan prothesa telinga diantaranya metode reversible hydrocolloid dengan sendok cetak malam, irreversible hydrocolloid dengan sendok cetak kaku dan metode pencetakan tiga lapis. Keunggulan teknik pencetakan tiga lapis adalah mudah di lakukan dan akurasi hasil pencetakan yang baik. Tujuan laporan kasus ini adalah mengaplikasikan teknik pencetakan tiga lapis dalam pembuatan prothesa telinga.Perawatan dilakukan pada seorang pria berusia 14 tahun yang mengalami defek kongenital telinga dextra (unilateral). Langkah pertama dalam pembuatan prothesa yaitu pencetakan telinga normal dan defek, dilanjutkan pembuatan pola malam dan basis protesa, kemudian tahap try in pola malam, processing silikon, dan insersi. Prosedur pencetakan telinga dengan teknik tiga lapis yaitu mengaplikasikan irreversible hidrocolloid pada regio post aurale (lapisan pertama), regio pra aurale, permukaan internal, (lapisan kedua), dan permukaan luar telinga (lapisan ketiga). Hasil pencetakan telinga dengan teknik tiga lapis adalah tiga lapisan irreversible hidrocolloid yang solid dan mudah untuk dipisahkan sehingga menjamin akurasi hasil pengecoran. Kesimpulan laporan kasus ini adalah teknik pencetakan tiga lapis dapat diaplikasikan dalam pembuatan prothesa telinga.ABSTRACTS: Triple Layer Impression Method For Auricular Prosthesis. An unilateral or bilateral auricular defect can be caused by several factors including trauma, congenital malformation or surgical removal of neoplasm. These condition will affect patient psycologic because ear is a vital part of facial aesthetic. One of rehabilitation care of auricular defect is an auricular prosthesis. Important stage of making auricular prosthesis is to obtain accurate impression to make wax pattern. Impression technique including method of reversible hydrocolloid with wax collar, irreversible hydrocolloid with rigid tray and triple layer impression method. The excellence of the triple layer impression technique are easy to do and accuracy of good impression result. The aim of this case report is to apply triple layer impression method in the making of auricular prosthesis. The treatment was done in 14 years old male patient with chief compain of congenitally defect of external dextra ear. First step of making auricular prosthesis is making an impression of defect area and opposite ear, making prothesa basis and wax pattern, try in the wax pattern, sillicone processing, and insertion the prothesa. Triple layer impression method was done in three step, first the impression material was injected to post aurale region (first layer), than injected to internal surface of ear (second layer). Subsequently, the third layer of impression material was partially filled into the tray and external surface of ear.The result of triple layer impression method in the making of auricular prosthesis is triple layer of solid irreversible hydrocolloid but separatable completly. Conclusion of this case report is the triple layer impression method is suitable for making an auricular prosthesis.
Waktu Produksi Yolk Immunoglobulin (IGY) Kuning Telur Ayam yang Diimunisasi Streptococcus mutans Azis, Mufidana; N, Dhinintya Hyta; R, Aurita Siwi; M, Kristiyani Dwi; L, Norma Dias; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi karies di Indonesia menunjukkan angka yang tinggi. Karies diketahui sebagai penyakit multifaktorial rongga mulut yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus mutans. Salah satu metode terbaru pencegahan karies gigi, yaitu, melalui imunisasi pasif menggunakan antibodi kuning telur ayam (Yolk Immunoglobulin/IgY). Beberapa penelitian menunjukkan waktu produksi IgY bervariasi dengan perbedaan teknik pengujian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi IgY kuning telur ayam yang diimunisasi S. mutans. Metode penelitian menggunakan 4 ekor ayam Hysex Brown sebagai kelompok perlakuan dan 1 ekor ayam sebagai kontrol. Suspensi S. mutans diinjeksikan pada ayam saat minggu pertama hari ke-1,2,3, kemudian ditambahkan Freund Adjuvant pada minggu ke-2 hingga minggu ke-4. Koleksi kuning telur ayam dilakukan mulai minggu ke-2 setelah imunisasi. Untuk mengetahui efektivitas vaksinasi dan keberadaan S.mutans, kuning telur ayam selanjutnya diuji dengan AGPT (Agar Gel Precipitation Test) dan hasilnya dinyatakan positif apabila terbentuk presipitasi diantara  sumuran  antigen dan antibodi.. Hasil penelitian menunjukkan hasil positif pada kuning telur ayam minggu ke-5. Disimpulkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk produksi IgY spesifik S. mutans pada kuning telur ayam mulai minggu ke-5 setelah imunisasi.ABSTRACT: Production Time of Yolk Immunoglobulin (Igy) Yellow Chicken Egg Immunized with Streptococcus mutans. Dental caries prevalence in Indonesia appears in high rate. Caries is known as a multifactorial disease in oral cavity caused by Streptococcus mutans bacteria. The latest method to prevent dental caries is through passive immunization using chicken yolk antibody (Yolk Immunoglobulin /IgY). Some researches showed the variation of IgY production time using different testing technique. The purpose of this research is to determine the time required to produce IgY chicken yolk immunized by S. mutans. For the method, this research uses 4 chickens of Hysex Brown as the treatment group and a chicken as the control. S. mutans suspension is injected to the chicken from 1st, 2nd, and 3rdday in the first week; Freund Adjuvant was added in the 2ndtill 4thweeks. Collection of chicken yolk was started at 2ndweek after immunization. The chicken yolk then was tested using Agar Gel Precipitation Test (AGPT) to know the effectiveness of vaccination and the existence of S.mutans. The result of the test can be positive if it forms precipitation between antigen and antibody wells. The result has shown a positive response in chicken yolk in the 5thweek. From the test, it can be concluded that the time required for the production of IgY specific against S. mutans in chicken yolk is in the beginning of 5thweek after immunization.
Efektivitas Busur Multiloop Edgewise Pada Kasus Crowding Berat Disertai Palatal Bite Rasyid, Nolista Indah; Iman, Prihandini; Heryumani, Heryumani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mekanisme perawatan dengan Multiloop Edge Wise (MEAW) efisien dalam melakukan koreksi maloklusi berat dengan defleksi tekanan yang sangat rendah. Tujuan pemaparan kasus adalah evaluasi perawatan crowding berat disertai palatal bite menggunakan multiloop edgewise archwire. Seorang laki laki 15 tahun dengan maloklusi Angle kelas I tipe 1,4, skeletal kelas I dengan bimaksilari retrusif disertai bidental protrusif. Crowding berat pada regio anterior dan posterior serta palatal bite pada gigi 12, 11, 21, 22 terhadap 42, 41, 31, 32, scissor bite pada gigi 15 terhadap 45, overjet 6,21 mm dan overbite 6,04 mm. Bentuk lengkung gigi pada rahang atas parabola asimetri sedang pada rahang bawahomega asimetri. Lengkung gigi regio posterior mengalami kontraksi lateral dan lengkung gigi kearah anterior mengalami protraksi. Perawatan kasus dilakukan dengan menggunakan alat cekat teknik Edgewise dengan multiloop pada regio anterior dan posterior disertai pencabutan empat gigi premolar pertama. Hasil perawatan setelah 6 bulan menunjukkan crowding, palatal bite, dan scissor bite terkoreksi. Overjet menjadi 4,20 mm dan overbite 3,90 mm. Bentuk lengkung pada rahang atas dan rahang bawah menjadi parabola simetris. Jarak intermolar rahang atas bertambah sebesar 2,11 mm dan rahang bawah bertambah sebesar 1,22 mm. ABSTRACT: Effectiveness of multiloop edge wise arch in severe crowded case accompanied by palatal bite. MEAW appliance is a tehnique which is able to efficiently treat many cases including severe crowding with very low load deflection. The objectives of this study is to evaluate the treatment of severe crowding malocclusion with palatal bite using multiloop edgewise archwire. A 15 years old man with Angle class I type 1,4 malocclussion, class I sceletal with bimaxillary retrusion and bidental protusion. Severe crowding malocclusion in anterior and posterior region, palatal bite in 12, 11, 21, 22 to 42, 41, 31, 32, scissor bite in 15 to 45, overjet 6,21 mm and overbite 6,04 mm. asymmetry in both of dental arch, but the shape of the upper arch was parabola and lower arch was omega. Contraction of dental arch in posterior region and protraction in anterior region. This case was treated with extraction of four first premolar using multiloop edgewise arcwire tehnique, the loops were placed in anterior and posterior region. After six month of treatment the result showed that MEAW could correct severe crowding, palatal bite and scissor bite. Overjet became 4,20 mmand overbite became 3,90 mm. Shape of upper and lower dental arch became symmetric parabola. Upper intermolar increased 2,11 mm and lower intermolar 1,22 mm.
Overdenture dengan Pegangan Telescopic Crown Santoso, Pambudi; K, Heriyanti Amalia; Thahjanti, M.Th. Esti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaitan presisi merupakan alat retensi mekanis yang menghubungkan antara satu atau lebih pegangan gigi tiruan, yang bertujuan untuk menambah retensi dan/atau stabilisasi. Kaitan presisi dapat digunakan secara luas pada gigi tiruan cekat, gigi tiruan sebagian lepasan, overdenture, implant untuk retensi overdenture, dan protesa maksilo fasial. Overdenture dengan kaitan presisi dapat membantu dalam pembagian beban kunyah, meminimalkan trauma pada gigi pegangan dan jaringan lunak, meminimalkan resorbsi tulang, dan meningkatkan estetik dan pengucapan suara. Salah satu jenis dari kaitan presisi adalah telescopic crown, terdiri dari 2 macam mahkota, yaitu mahkota primer yang melekat secara permanen pada gigi penyangga, dan mahkota sekunder yang melekat pada gigi tiruan. Tujuan pemaparan kasus ini adalah untuk memberikan informasi tentang rehabilitasi pasien edentulous sebagian rahang atas dengan telescopic crown..  Pasien wanita berusia 45 tahun datang ke klinik prostodonsia RSGM Prof.Soedomo dengan keluhan ingin dibuatkan gigi tiruan. Pasien kehilangan gigi 11 12 15 16 17 21 22 24 25 26 dan 27 yang diindikasikan untuk pembuatan overdenture gigi tiruan sebagian lepasan (GTS) kerangka logam dengan pegangan telescopic crown pada gigi 13 dan 14 dengan sistem parallel-sided crown. Tahap-tahap pembuatan telescopic crown yaitu mencetak model study dengan catatan gigit pendahuluan. Perawatan saluran dilakukan pada akar gigi 13, dilanjutkan pemasangan pasak fiber serta rewalling dinding bukal. Gigi 13 dan 14 dilakukan preparasi mahkota penuh, dilanjutkan dengan pencetakan model kerja untuk coping primer dan kerangka logam dengan metode double impression. Coping primer disementasi pada gigi penyangga, dilanjutkan pasang coba coping sekunder beserta kerangka logam. Selanjutnya dilakukan pencatatan gigit, pencetakan model kerja, penyusunan gigi dan pasang coba penyusunan gigi pada pasien. Prosedur dilanjutkan dengan proses di laboratorium, serta insersi pada pasien. Perawatan GTS kerangka logam dengan kaitan presisi telescopic crown dipilih untuk meningkatkan estetik, retensi gigi, stabilisasi, dan mempertahankan gigi yang masih ada.ABSTRACT: Overdenture with Telescopic Crown. Attachment retained overdentures helps in distribution of masticatory forces, minimizes trauma to abutments and soft tissues, attenuate ridge resorption, improves the esthetics and retains proprioception. The purpose of this paper is provide information about the rehabilitation of partially edentulous maxilla patients with telescopic crowns. A 45 years old female came with mastication and aesthetic problems. She had missing teeth as in 11 12 15 16 17 21 22 24 25 26 and 27. In the upper jaw, the remaining tooth 13 and 14, were fabricated as  telescopic  crowns with parallel-sided system combined with metal framework denture. Fabrication of telescopic crown began by making of study model with preliminary bite record. As in preliminary treatment, root canal treatment was done on 13, proceeded with the cementation of fiber post and rewalling of missing buccal wall. Full crown preparation was done on 13 and 14, and impression was made with double impression technique. Laboratorium procedures for making the primary crowns, secondary crowns and metalwork denture base were finished and the primary crowns were cemented on the abutment teeth. Secondary crowns soldered with metalwork denture base were tried in the patient, bite registration was done, proceeded with impression taking which bite registration embedded inside of the impression. Artificial teeth were arranged and tried to the patient, continued with processing and insertion of the denture. Metal framework removable partial denture with telescopic crown is chosen for this case to improve retention and to preserve the healthy remaining tooth.
Perawatan Maloklusi Angle Kelas II Divisi 2 dengan Impaksi Kaninus Mandibula menggunakan Alat Cekat Begg Ruliyanto, Ruliyanto; Suparwitri, Sri; H, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang.  Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus mandibula adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan erupsi alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien perempuan, 17 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas II divisi 2 Angle, deep overbite, pergeseran midline gigi  rahang atas dan bawah ke arah kanan, overjet 2,49 mm dan overbite 5,45 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan pencabutan keempat gigi premolar pertama. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan bawah yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. General alignment dicapai dalam waktu 13 bulan, pergeseran midline terkoreksi, gigi kaninus kanan rahang bawah erupsi sempurna, relasi kaninus kelas I Angle, overjet 2,00 mm, overbite 2,68 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap koreksi kesejajaran akar gigi. Kesimpulan perawatan maloklusi angle klas II divisi 2 dengan berjejal parah dan impaksi kaninus mandibula dalam kasus ini membutuhkan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat teknik Begg. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 199-207.
Efek Pemberian Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Barbadensis Miller) pada Soket Gigi terhadap Kepadatan Serabut Kolagen Pasca Ekstraksi Gigi Marmut (Cavia Porcellus) Yuza, Fatma; Wahyudi, Ivan Arie; Larnani, Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindakan ekstraksi gigi menyebabkan terjadinya luka sehingga akan melibatkan proses penyembuhan luka padajaringan. Salah satu tahap penting dari proses penyembuhan luka pasca esktraksi gigi adalah terbentuknya serabutkolagen. Lidah buaya (Aloe barbadensis Miller) mengandung saponin, vitamin C dan acemannan yang diduga membantuproses pembentukan serabut kolagen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak lidah buayaterhadap kepadatan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi marmut (Cavia porcellus).Lidah buaya yang digunakan berasal dari Sleman, Yogyakarta. Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasidan pelarut air. Selanjutnya, dua puluh tujuh ekor marmut dibagi ke dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.Kelompok perlakuan terdiri dari kelompok ekstrak lidah buaya 45% dan 90%. Ekstrak lidah buaya sebanyak 0,05mlditeteskan kedalam soket gigi marmut pasca ekstraksi gigi pada kelompok perlakuan. Soket gigi marmut kelompokkontrol tidak diberi aplikasi zat aktif apapun. Tiga ekor subjek dari masing-masing kelompok dikorbankan pada hari ke-3,7, dan 14 setelah ekstraksi gigi. Preparat histologis kepadatan kolagen soket gigi marmut diamati dengan menggunakanmikroskop cahaya perbesaran 400x. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkandengan uji Post Hoc menggunakan uji Mann-Whitney untuk membandingkan kepadatan kolagen antar kelompok pascaekstraksi gigi marmut. Hasil uji statistik antar kelompok menunjukkan bahwa ekstrak lidah buaya 90% berpengaruh padapembentukan serabut kolagen jika dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0,05) pada hari ke-7 pasca ekstraksigigi marmut. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak lidah buaya 90% dapat membantu meningkatkan kepadatanserabut kolagen soket gigi hari ke-7 pasca ekstraksi gigi marmut. ABSTRACT: The Effect of Aloe Barbadensis Miller Extract to The Density of Collagen Fibers in The WoundHealing Process after Tooth Extraction of Guinea Pig (Cavia porcellus). Tooth extraction causes wound that wouldinvolve wound healing process on tissue. One of the important stages of wound healing process after dental extractionis the formation of collagen fibers. Aloe barbadensis Miller contains saponins, vitamin C and ace mannan that allegedlyassist the process of collagen fibers formation. The purpose of this study was to determine the effect of Aloe barbadensisMiller extract to the density of collagen fibers in the wound healing process after tooth extraction of guinea pig (Caviaporcellus). Aloe vera is used in this study came from Sleman, Yogyakarta. Extract is made with maceration method andwater as the solvent. Furthermore, twenty-seven guinea pigs were divided into a control group and treatment groups.The treatment groups consisted 45% Aloe barbadensis Miller extract group and 90% Aloe barbadensis Miller extractgroup. Aloe barbadensis Miller extract as much as 0.05 ml dropped into guinea pigs tooth sockets after tooth extractionin the treatment groups. Guinea pig’s tooth socket of the control group was not given any active substance. Three guineapigs of each group were sacrificed on day 3, 7, and 14 after tooth extraction. Histology preparations of guinea pig teethsockets density of collagen were observed using light microscope 400x magnification. Analyzing data is done by Kruskal-Wallis test followed by Post Hoc test using the Mann-Whitney test for comparing collagen density between groups.Statistically results between groups showed that the extract of 90% Aloe barbadensis Miller affected the formation ofcollagen fibers when compared to the control group (p <0.05) on day 7 after tooth extraction of guinea pig. The conclusionof this study was 90% Aloe barbadensis Miller extract increased the density of collagen fibers from the tooth socket sevendays after tooth extraction of guinea pig.
Profil Bibir dan Posisi Insisivus Perawatan Kasus Borderline Klas I dengan Pencabutan dan Tanpa Pencabutan Hanimastuti, Yenni; Pudyani, Pinandi Sri; Sutantyo, Darmawan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penentuan rencana perawatan ortodontik dengan pencabutan atau tanpa pencabutan masih menjadi perdebatan, terutama pada kasus borderline.Perawatan ortodontik dengan atau tanpa pencabutan dapat mempengaruhi profil wajah.Perubahan pada penampilan wajah terjadi akibat adanya perubahan posisi gigi anterior yang dapat mempengaruhi perubahan profil jaringan lunak wajah terutama pada daerah bibir.Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan perubahan profil bibir dan posisi gigi insisivus pada kasus borderline klas I antara perawatan dengan pencabutan 4 premolar kedua dan tanpa pencabutan. Penelitian dilakukan pada 28 sefalogram lateral kasus borderline klas I  yang dirawat dengan teknik straight wire, terdiri dari 2 kelompok (13 kasus dengan pencabutan dan 15 kasus tanpa pencabutan).Masing-masing sefalogram dilakukan pengukuran profil bibir,yaitu jarak bibir atas dan bawah terhadapVertical Reference Plane (VRP) dan sudut interlabial; serta posisi gigi insisivus, yaitu jarak gigi insisivus atas dan bawah terhadap Vertical Reference Plane (VRP), sebelum dan sesudah perawatan. Hasil penelitian menunjukkan pada tahap awal perawatan kedua kelompok memiliki karakteristik profil bibir dan posisi gigi insisivus yang sama (p>0,05). Terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) pada perubahan posisi bibir, sudut interlabial, dan posisi gigi insisivus antara kelompok yang dirawat dengan pencabutan dan tanpa pencabutan setelah perawatan ortodontik. Kesimpulan penelitian ini adalah profil bibir dan posisi gigi insisivus pada kasus borderline klas I yang dirawat dengan pencabutan 4 premolar kedua menjadi lebih retrusif daripada profil bibir dan posisi gigi insisivus kasus borderline klas I yang dirawat tanpa pencabutan.ABSTRACT, Lips Profile And Incisivus Position In Class Iborder Line Cases With Or Wthout Extraction. Determining whether an orthodontic treatment plan should be with or without extraction is still debatable, particularly for borderline cases. In fact, such a treatment could affect the facial profile. The change in facial appearance is caused by the reposition of anterior teeth which could cause facial soft tissue profile changes, particularly at the lips area. The aim of this study is to compare the changes of lips profile and incisors position in class I borderline cases which have been treated with extraction of 4 second premolars and non-extraction.The study was conducted on 28 lateral cephalograms of class I borderline cases which have been treated with straight wire technique, as divided into two groups (13 extraction and 15 non-extraction cases). Each cephalograms had measured on lips profile, which was the distance of upper and lower lips to Vertical Reference Plane (VRP) and interlabial angle; and the position of incisors, which was the distance of upper and lower incisors to Vertical Reference Plane (VRP), at pre and post-treatment. The results of this study have shown that at the initial treatment, lips profile and incisors position for both groups have similar characteristics (p>0,05). There are significant differences (p<0.05) on lips position, interlabial angle, and incisors position changes between the extraction and non- extractiion cases after orthodontic treatment. From this study, it can be concluded that lips profile and incisors position in class I borderline cases treated with the extraction of second bicuspid are more retruded than that of non-extraction cases

Page 4 of 34 | Total Record : 331