Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 331 Documents
Ekspresi COX-2 dan Jumlah Neutrofil Fase Inflamasi pada Proses Penyembuhan Luka Setelah Pemberian Sistemik Ekstrak Etanolik Rosela (Hibiscus sabdariffa) (studi in vivo pada Tikus Wistar) Kusumastuti, Endah; Handajani, Juni; Susilowati, Heni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Inflamasi merupakan respon alami tubuh terhadap adanya kerusakan jaringan. Salah satu medikamen untuk mengatasi inflamasi adalah antiinflamasi non steroid (AINS). Penggunaan AINS mempunyai beberapa efek samping dan dalam beberapa hal penggunaan tanaman obat dinilai lebih aman. Rosela merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai potensi sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian sistemik ekstrak etanolik rosela terhadap ekspresi COX-2 dan jumlah neutrofil fase inflamasi pada proses penyembuhan luka. Bunga rosela didapatkan dari perkebunan di Dusun Bulusari Desa Pojok Kecamatan Tarokan Kabupaten Kediri Jawa Timur. Pembuatan ekstrak rosela dilakukan di LPPT unit I UGM Yogjakarta dengan cara perkolasi. Tikus putih galur Wistar sebanyak 36 ekor diberi perlukaan dengan punch biopsi ɵ 3 mm pada mukosa bukal. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok 12 ekor tikus. Pembagian kelompok terdiri dari kontrol negatif (saline), kontrol positif (ibuprofen 20 mg/kg BB) dan perlakuan (ekstrak rosela 500 mg/kg BB). Pemberian minum sesuai kelompoknya sehari sekali selama 4 hari. Pada hari ke-1, ke-2, ke-3 dan ke-4 tikus dikorbankan lalu jaringan mukosa yang mengalami perlukaan dibuat preparat histologis. Pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) dilakukan untuk mengamati jumlah neutrofil. Ekspresi COX-2 diamati pada preparat dengan pewarnaan imunohistokimia menggunakan rabbit polyclonal antibody COX-2 (Lab Vision, USA). Jumlah neutrofil dan ekspresi COX-2 dihitung di bawah mikroskop cahaya lalu data dianalisi menggunakan ANAVA dan LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi COX-2 dan jumlah neutrofil lebih rendah pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pengamatan klinis pada hari ke-4 juga tampak luka seluruh subjek telah menutup sempurna setelah pemberian minum rosela. Disimpulkan bahwa ekstrak etanolik rosela mempunyai kemampuan menghambat ekspresi COX-2 dan menurunkan jumlah neutrofil sehingga dapat digunakan sebagai bahan anti-inflamasi. ABSTRACT: Expression of COX-2 and The Number of Neutrophil in Inflammation stage of Wound Healing Process after Systemic Administration of Ethanolic Extract Rosela. Inflammation is an initial stage of body’s natural response to tissue damage.The use  empirically plants often used for traditional medicine because it is easily found in the community and fewer side effects. Flavanoid presence of roselle (Hibiscus sabdariffa) is thought to have anti inflammatory effects. This study aimed to know the effect of systemic administration of Roselle ethanolic extract toward COX-2 expression and neutrophils number in the inflammatory phase of wound healing processes. Roselle was obtained from plantations in Bulusari hamlet, Tarokan, Kediri, EastJava. Making roselle extract was performed in LPPT unit 1 UGM Yogyakarta by percolation ways. Wistar rats were given a total of 36 injuries with ɵ 3 mm punch biopsy of the buccal mucosa. Subjects were divided into three groups, each group of 12 rats. The division consists of the negative control group (saline), positive control (ibuprofen 20 mg/kg) and treatment (roselle extract 500 mg/kg). Giving drink suitable group once daily for four days. On day 1, the 2nd, 3rd and fourth rats were sacrificed, and mucosal tissue injury was made histological preparat. Hematoxylin eosin staining (HE) was performed to observe the number of neutrophils. COX-2 expression was found in preparations for immunohistochemical staining using rabbit polyclonal COX-2 antibody (Lab Vision, USA). The number of neutrophils and expression of COX-2 is calculated under a light microscope data were analyzed using Two-way ANOVA and LSD. The results showed that the expression of COX-2 and neutrophil number were least in the treatment group compared to the control. Clinical observation on day four also appears around the wound has completely closed the subject after administration of roselle drink. It was concluded that the ethanolic extract of roselle can inhibit COX-2 expression and decrease the number of neutrophils that can be used as an anti-inflammatory ingredient. 
Deformasi Slot Beberapa Produk Braket Stainless Steel Akibat Gaya Torque Pada Kawat Stainless Steel Zairina, Atika; Siregar, Erwin; Ismaniati, Nia Ayu
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Deformasi slot braket dapat mengurangi besar gaya torque  yang akan dihantarkan ke gigi dan jaringan pendukungnya. Beberapa braket stainless steel yang beredar dipasaran belum pernah diteliti kualitasnya dalam perawatan ortodonsi. Tujuan penelitian adalah untuk membandingkan besar gaya torque akibat sudut puntir 30° 45°  kawat stainless steel dan deformasi slot permanen akibat gaya torque tersebut antara kelompok merk braket (3M, Biom, Versadent, Ormco dan Shinye). Penelitian dilakukan pada lima puluh braket stainless steel edgewise dari lima kelompok merk braket (n=10) di lem ke akrilik. Masing-masing braket dilakukan pengukuran tinggi slot dengan mikroskop stereoskopi lalu dipasang ke alat uji torque yang sudah dibuat untuk penelitian ini. Setelah dilakukan uji torque, braket di ukur kembali tinggi slotnya dan dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya untuk mengetahui adanya deformasi slot. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan bermakna besar gaya torque pada sudut puntir 30° dan 45° antara Biom dan Shinye dengan Omrco. Gaya torque paling besar yaitu pada merk braket 3M (30°= 442,12 gmcm dan 45°= 567,99 gmcm), sedangkan yang terkecil adalah Biom (30°= 285,50 gmcm, 45°=361,38 gmcm). Perbedaan deformasi slot braket terjadi hampir pada semua kelompok merk braket. Deformasi slot braket hanya terjadi pada merk braket Biom (2,82 µm) dan Shinye (2,52 µm). Kesimpulan, salah satu faktor yang mempengaruhi besar gaya torque dan terjadinya deformasi slot yaitu komposisi dan proses manufaktur dari braket stainless steel. Proses manufaktur yang tidak sesuai standar dapat menyebabkan kualitas braket yang buruk. Deformasi slot permanen dalam penelitian ini terjadi pada merek braket Biom dan Shinye.ABSTRACT: Slot Deformation of Various Stainless Steel Bracket Due to Torque Expression On The Wire. Bracket slot deformation can reduce the amount of torque that will be transmitted to teeth and supporting tissues. The quality of some stainless steel brackets in the market is still questionable for orthodontic treatments. This research aims to compare the amount of torque expression due to torsion angle of 30° and 45° at the stainless steel wire and bracket slot permanent deformation caused by the torque in each examined bracket brands (3M, Biom, Versadent, Ormco and Shinye). Fifty Stainless Steel Edgewise brackets from five different brands (n = 10) were attached onto an acrylic. Each bracket slot width was measured with a stereoscopic microscope and then mounted onto a torque apparatus that had been prepared for this study. Once the torque test was done, the width of bracket slot was re-measured to determine if there was a difference from initial bracket slot width at 45°. The results of ANOVA showed significant differences in the amount of torque at torsion angle of 30°and 45° between Biom and Shinye with Omrco. The 3M transmitted the highest load (30°= 442,12 gmcm and 45°= 567,99 gmcm), while the lowest was of Biom (300  = 285,50 gmcm and 450 = 361,38 gmcm). Differences in slot bracket deformation were found virtually in all groups of bracket brands. Deformation of bracket slots occurs only in Biom (2.82 µm) and Shinye (2.52 µm). From the observation, it is concluded that one of the major factors that affect torque and deformation of bracket slot is composition and manufacturing process of the stainless steel brackets. Manufacturing process that does not meet the standard can lead to a poor quality bracket. Permanent slot deformation in this study occurrs with Biom and Shinye bracket brands.
Perawatan Maloklusi Angle Kelas I disertai Impaksi Kaninus Maksila Menggunakan Alat Cekat Begg Suryani, Darmayanti Dian; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi kaninus sangat penting untuk estetika dan fungsi mastikasi seseorang. Impaksi gigi adalah gagalnya gigi untuk muncul ke dalam lengkung gigi yang dapat disebabkan karena kekurangan ruang, adanya sesuatu yang menghalangi jalur erupsi gigi atau karena faktor keturunan. Prevalensi impaks gigi kaninus maksila adalah 0,9-2,2%, sedangkan impaksi gigi kaninus mandibula lebih jarang terjadi. Alternatif perawatan gigi impaksi kaninus maksila adalah operasi exposure dan diikuti dengan kekuatan ortodontik untuk membantu erupsi dengan alat cekat ortodontik. Tujuan dari perawatan adalah untuk koreksi malrelasi dan malposisi gigi geligi, khususnya koreksi gigi kaninus impaksi menggunakan teknik Begg. Pasien laki-laki, 19 tahun, gigi sangat berjejal, gigi kaninus kanan kiri rahang atas dan gigi kaninus kanan rahang bawah impaksi, kelas I, deep overbite, overjet 3 mm dan overbite 8,8 mm. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat Begg dengan tanpa pencabutan. Operasi exposure dilakukan untuk membuka gigi kaninus kanan kiri atas yang impaksi yang diikuti perekatan braket ortodontik. Kawat busur multiloop, anchorage bend dan elastik intermaksiler klas II digunakan pada tahap leveling dan unraveling. Dalam waktu 14 bulan,overbite terkoreksi, gigi kaninus kanan kiri atas sudah erupsi, overjet 3,00 mm, overbite 3,00 mm. Saat ini perawatan masih berlangsung pada tahap leveling dan unraveling untuk koreksi kaninus yang impaksi. Perawatan maloklusi angle klas I dengan berjejal dan impaksi kaninus maksila dapat dilakukan dengan operasi exposure gigi kaninus impaksi diikuti alat cekat Begg. ABSTRACT: Orthodontic Treatment of Class I Malocclussion with Canine Impaction Using Begg Fixed Appliance. Canine is very important for aesthetic and masticatory function. Impaction refers to a failure of tooth to presence into the dental arch, usually due to either space deficiencies, the presence of an entity blocking the path of tooth eruption or due to hereditary factors. Prevalence of maxillary canines impaction is 0.9 to 2.2%, while the mandibular canine impaction is less common. Alternative dental care is impacted maxillary canine exposure surgery and followed by orthodontic force for help the eruption with fixed orthodontic appliance. The goal of treatment is to correct malrelation and malposition of teeth. Patient man, 19 years old, very crowded teeth, maxillary right and left canine and mandibular right canine impaction, Angle Class I, deep overbite, 3 mm overjet and overbite 8,8 mm. Treatments performed using Begg fixed appliances without extraction. Exposure surgery is done under the right and left maxillary canine impaction followed orthodontic bracket bonding. Multiloop arch wire, bend and elastic anchorage intermaksiler class II used at the stage of leveling and unraveling. Within 14 months, overbite was corrected, maxillaryr right and left canine eruption, Angle Class I canine relationship, 3.00 mm overjet, 3,00 mm overbite. Current treatment is still ongoing at leveling and unraveling stage. Treatment angle malocclusion class I with maxillary canine impaction can be done by exposure surgery followed by Begg fixed appliances.
Ekspresi Caspase-3 pada Sel Epitel Rongga Mulut (Kb Cell Line) setelah Paparan Ekstrak Kopi Hutomo, Suryani; Suryanto, Yanti Ivana; Susilowati, Heni; Rudolf Phym, Agustinus; Maheswara, Devi Chretella
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kopi adalah minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat sehari-hari. Telah diketahui bahwa kopi mengandung kafein seperti yang terdapat juga pada teh dan coklat. Kandungan terbanyak kafein terdapat pada kopi. Kafein mempunyai struktur kimia 1, 3, 7- trimethylxanthine dan merupakan derivat xanthine. Senyawa ini dapat menginduksi kematian sel yang mengarah pada apoptosis, namun mekanisme yang terlibat belum diketahui dengan jelas. Tingginya konsumsi kopi di dunia yang selalu meningkat mengindikasikan perlunya dilakukan penelitian untuk mengetahui efek kafein pada epitel rongga mulut yang berkontak langsung dengan kafein. Penelitian terdahulu melaporkan bahwa ekstrak kopi menyebabkan kerusakan sel yang sebagian besar mengarah pada apoptosis, tetapi mekanismenya belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis mekanisme kematian sel KB yang diinduksi oleh kafein melalui aktivasi caspase-3. Sel KB sebagai model epitel oral (5x10⁴sel) dikultur dalam DMEM menggunakan 24 wells microplate selama 24 jam sebelum perlakuan. Sel selanjutnya dipapar dengan kafein dengan konsentrasi 100 µg/ml, 200 µg/ml, 400 µg/ml dan diinkubasi selama 24 dan 48 jam dalam DMEM. Doxorubicin (0,5625 µg/ml) digunakan sebagai kontrol positif induksi apoptosis. Teknik imunositokimia terhadap caspase-3 dilakukan pada sel setelah dipapar kafein untuk mengamati adanya ekspresi caspase-3 sebagai ciri apoptosis. Identifikasi caspase-3 dilakukan menggunakan mikroskop fase kontras. Ekspresi protein caspase-3 terdeteksi pada sitoplasma sel KB. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya ekspresi caspase-3 aktif yang ditandai dengan warna cokelat dengan intensitas kuat pada sitoplasma sebagian besar sel setelah dipapar kafein dengan konsentrasi 100 μg/ml dan 200 µg/ml selama 24 jam. Disimpulkan bahwa ekstrak kopi menyebabkan apoptosis sel KB melalui jalur aktivasi caspase-3. ABSTRACT: The Expression of Caspase-3 in Oral Cavity (Kb Cell Line) after Exposure to Coffee Extract. People widely consume coffee in daily meals. It is known there is caffeine found in coffee like it is found in tea and chocolate. Caffeine is found in the greatest amount of coffee. This 1, 3, 7- trimethyl xanthine substance is a derivate of xanthine that is consumed by almost all people in the world. This substance could induce cell death that mainly is apoptosis, but how the mechanism has not been clearly understood. Considering that coffee is widely consumed in the whole world, it is necessary to conduct an experiment to find any possible effect of caffeine to oral epitel that make direct exposure to caffeine. This experiment is targeted to analyze the mechanism of cell death which caused by caffeine through activation of caspase-3. KB cells as oral epithelial model (5x1044 sel) were cultured in DMEM using 24 well microplate for 24 hours before treatment. Then caffeine was given with concentration of 100 µg/ml, 200 µg/ml and 400 µg/ml. Cells were then incubated for 24 and 48 hours period in DMEM. Doxorubicin (0,5625 µg/ml) was used as a positive control of apoptosis induction. Immunocytochemistry technique was then done to observe any caspase three expression as a marker for apoptosis. Identification of active caspase-3 was then done using contrast phase microscope. The results showed expression of caspase-3 in KB cells cytoplasm which observed as high intensity of brown colored molecules in cell cytoplasm after 100 μg/ml and 200 µg/ml caffeine exposure in 24 hours. It was concluded that coffee extract induce KB cells apoptosis through caspase-3 activation mechanism.
Perawatan Maloklusi Klas III Skeletal disertai Open Bite dengan Teknik Begg Anggaraeni, Putu Ika; Suparwitri, Sri; H, Soekarsono; SP, Pinandi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Overjet negatif pada maloklusi klas III dapat terjadi karena penyimpangan hubungan incisivus atas dan bawah, adanya malrelasi antara maksila dan mandibula, atau kombinasi keduanya. Maloklusi klas III dapat disertai dengan crowding, deep bite, maupun open bite. Tujuan perawatan adalah untuk mengoreksi cross bite dan open bite, memperoleh overjet dan overbite normal serta hubungan oklusal yang stabil. Pasien laki-laki usia 15 tahun dengan maloklusi Angle klas III dan relasi skeletal klas III, mandibula protrusif, cross bite anterior (overjet -3 mm), open bite 12-22 terhadap 43-34, cross bite posterior bilateral, dan pergeseran garis tengah inter incisivus rahang bawah kekanan 0,7 mm. Perawatan ortodontik dilakukan dengan alat cekat teknik Begg, diawali dengan pencabutan gigi 34 dan 44 serta grinding gigi anterior rahang atas. Elastik intermaksiler klas III, elastik cross posterior, dan elastik vertikal digunakan untuk koreksi cross bite anterior dan posterior serta open bite. Kesimpulan dari hasil perawatan dengan teknik Begg, cross bite anterior dan posterior serta open bite terkoreksi (overjet 2 mm dan overbite 2 mm). Garis tengah inter incisivus rahang bawah dan rahang atas sejajar dengan garis tengah wajah. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 192-198.
Pengaruh Lama Perendaman dan Jenis Minuman Beralkohol Bir dan Tuak terhadap Kekerasan Email Gigi Manusia (In Vitro) Magista, Malida; Nuryanti, Archadian; Wahyudi, Ivan Arie
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Erosi gigi merupakan hilangnya lapisan email gigi karena asam. Jenis asam, pH rendah, serta kandungan kalsium, fosfat, dan fluoride pada bir dan tuak diduga merupakan faktor kimiawi penyebab erosi gigi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lama perendaman dan jenis minuman beralkohol bir dan tuak terhadap kekerasan email gigi manusia (in vitro). Penelitian ini menggunakan 14 sampel gigi premolar pertama atas. Setiap gigi dibagi menjadi 2 bagian, bukal dan palatal. kemudian dibagi menjadi 7 kelompok perlakuan, yaitu kelompok (A1) perendaman dalam bir (ringan); (A2) kelompok perendaman dalam bir sedang; kelompok (A3) perendaman dalam bir berat, kelompok (B1): perendaman dalam tuak ringan, (B2): perendaman dalam tuak sedang, (B3): perendaman dalam tuak berat dan kelompok kontrol (C). Uji kekerasan email gigi dilakukan menggunakan Micro Vickers Hardness Tester. Pengujian kekerasan awal email gigi dilakukan sebelum perendaman gigi. Perendaman gigi premolar pertama atas pada bir dan tuak dilakukan selama 10 detik, 50 detik, dan 250 detik perhari dengan penyimpanan subjek penelitian pada saliva buatan. Uji kekerasan akhir email gigi dilakukan setelah perlakuan selama 30 hari. Nilai perubahan kekerasan email gigi merupakan selisih nilai kekerasan akhir dan nilai kekerasan awal email gigi. Sebagai tambahan data, pada bir dan tuak juga diukur kandungan pH, kalsium, dan fosfor. Data dianalisis menggunakan uji ANAVA dua jalur dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil analisis ANAVA dua jalur menujukkan bahwa jenis minuman dan lama perendaman berpengaruh bermakna terhadap kekerasan email gigi (p<0,05). Hasil uji LSD menunjukkan adanya perbedaan rerata yang signifikan (p<0,05) antar kelompok uji bir dan tuak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh jenis minuman beralkohol bir dan tuak dan lama perendaman terhadap kekerasan email gigi manusia (in vitro). ABSTRACT: The Effect Of Contact Time And Alcohol Beverages Beer And Tuak On Human Dental Enamel Hardness (In Vitro). Dental erosion is the loss of dental hard tissue, associated with acid. Acid type, low pH, and concentration of calcium, phosphate, and fluoride are being estimated as chemical factors of dental erosion. The purpose of this study was to determine the effect of contact time and alcohol beverages beer and tuak on human dental enamel hardness (in vitro).This study was using 14 samples maxillary first premolar. Each tooth was divided into two parts, buccal and palatal. Then divided into 7 treatment groups, i.e. groups of light beer “drinkers” (A1), moderate beer “drinkers” group (A2), heavy beer “drinker” group (A3), light tuak “drinker” group (B1), moderate tuak “drinkers” group (B2), the group “drinkers” heavy tuak (B3) and control group (C). Enamel hardness values were monitored using Micro Vickers Hardness Tester. Initial enamel hardness value was tested before the treatment. Maxilla first premolar teeth were exposed to beer and tuak for 10 seconds, 50 seconds, and 250 seconds per day for 30 days in the presence of artificial saliva. Final enamel hardness value was monitored after 30 days of treatment. Enamel hardness difference values were calculated by subtracting initial and final enamel hardness value. As supporting data, It was measured pH and concentration of calcium and phosphor in beer and tuak. Data was being analyzed by two-way ANOVA and LSD test. Results showed that contact time and alcohol beverage beer and tuak had a significant influence to enamel hardness value (p<0.05). LSD test showed that some groups had significant average difference (p<0.05). It was concluded that contact time and type of alcohol beverages beer and tuak had effect on human dental enamel hardness (in vitro).
Restorasi Resin Komposit Menggunakan Pasak Tapered Self Threading Pada Molar Ketiga Kiri Mandibula Krisanti, Ellen; Untara, Tri Endra
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Morfologi saluran akar gigi molar mandibula ketiga memiliki variasi yang lebih kompleks dibandingkan gigi molar lainnya.   Pada gigi molar ketiga sering dilakukan pencabutan, namun dalam keadaan tertentu gigi molar ketiga dapat dipertahankan. Perawatan saluran akar satu kunjungan merupakan pilihan untuk terapi kasus ini. Tujuan laporan kasus ini untuk memperlihatkan keberhasilan dari perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi molar ketiga nekrosis pulpa disertai restorasi resin komposit dengan pasak tapered self theading. Pasien wanita 20 tahun datang ke RSGM Prof Soedomo FKG UGM dengan keluhan sakit saat pengunyahan pada gigi molar ketiga dan positif pada perkusi. Gambaran radiografis menunjukkan restorasi yang tidak sempurna, terdapat celah antara kavitas dengan restorasi. Rencana perawatan pada kasus ini, perawatan saluran akar satu kunjungan dan resin komposit dengan pasak tapered self threading sebagai restorasi akhir. Kesimpulan dari perawatan saluran akar satu kunjungan memiliki rekontaminasi mikroorganisme yang lebih kecil dibandingkan dengan multi kunjungan sehingga menjamin keberhasilan perawatannya. Restorasi resin komposit secara direkdengan pasak tapered self threadingmerupakan restorasi alternatif pasca perawatan endodontikkarena lebih cepat dan kuat.ABSTRACT: Composite Resin Restoration Using Tapered Self Threading Poston Left Mandibular Third Molar. Root canal morphology of mandibular third molar has more complex variation than the other molars. In third molar, the extraction teeth are often executed; however, the third molar can be maintained in other conditions. One visit root canal treatment is a therapy option for this case. The purpose of this case report is to show the success of one visit root canal treatment in third molar with pulp necrosis by restoring the composite resin through tapered self-treading post. A 20 year-old female patient who came to the Prof Soedomo RSGM, FKG UGM complained about the pain when chewing food on her third molar and positive in percussion. The radiographs showed that there was an incomplete restoration. There was a gap between cavities with restoration. The treatment plan for this case was one visit root canal treatment and composite resin with tapered self-threading post as final restoration. From the case, it can concluded that one visit root canal treatment results in a smaller chance for microorganism recontamination than the multi-visit in order to ensure the success of the treatment. Direct composite resin restoration with tapered self-threading dowel is an alternative restoration after endodontic treatment because it works out faster and more retentive.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 1 Dentoskeletal Disertai Retrusi Mandibula Dengan Alat Fungsional Bionator Luthfianty, Afini Putri; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula dan lengkung rahang yang sempit dapat terjadi akibat dari faktor keturunan dan diperparah oleh kebiasaan buruk. Kondisi maloklusi tersebut ditandai dengan adanya palatal bite dan overjet yang besar. Perawatan maloklusi klas II divisi 1 pada masa pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat ortodontik fungsional, salah satunya adalah Bionator. Pemilihan bionator bertujuan untuk menuntun rahang bawah untuk bergerak ke posisi yang diinginkan dan memperlebar lengkung rahang. Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah menyajikan hasil kemajuan perawatan maloklusi klas II divisi 1 dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Pasien perempuan berumur 12 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju sehingga mengganggu penampilan. Diagnosa kasus adalah maloklusi klas II divisi 1 dentoskeletal disertai dengan retrusi mandibula, bidental protrusif, palatal bite, kontraksi lengkung rahang dan malposisi gigi individual. Pasien dirawat dengan menggunakan alat ortodontik fungsional Bionator. Perawatan setelah tiga bulan, secara klinis terlihat profil pasien terkoreksi, overjet berkurang, palatal bite hilang, dan open bite posterior.ABSTRACT: Treatment of dentoskeletal class II division I with mandibula retrussion using Bionator appliance. Malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion and contraction of arch could be happened by genetic and bad habit. It was showed with severe palatal bite and overjet. In the development and growth phase, the treatment for that condition is fuctional appliance, such as Bionator. Bionator arranged lower jaw to the good position and distraction the arch. The purpose of this case report is to present the treatment of malocclusion dentosceletal Class II division 1 with fuctional appliance Bionator. A 12 years old female patient complained of front upper teeth are protrusive. Diagnosis is malocclusion Class II division 1 dentosceletal followed with mandibular retrusion, bidental protrusive, palatal bite, contraction of jaw and malposition individual teeth. The patient treated with fuctional appliance Bionator. After 3 months treatment, patient`s profile corrected, decreased overjet, no palatal bite, and open bite posterior. 
Penggunaan Vertical Loop pada Perawatan Gigi Berjejal Parah dan Crossbite Anterior dengan Teknik Begg Nainggolan, Herna Juliana; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi berjejal dapat terjadi pada semua klasifikasi maloklusi. Perawatan gigi berjejal berat dengan teknik Begg menggunakan vertical loop untuk meningkatkan kelentingan busur labial supaya dapat terpasang pada gigi berjejal sehingga levelling dan unravelling gigi anterior dapat tercapai. Tujuan artikel ini untuk menerangkan manfaat dari vertical loop pada kasus gigi berjejal berat. Pada artikel ini disajikan dua kasus gigi berjejal parah dan crossbite. Kasus pertama: laki-laki 17 tahun tidak percaya diri karena berjejal dan gingsul. Diagnosis: maloklusi Angle klas III subdivisi tipe skeletal klas III dengan maksila retrusif dan mandibula prognatik, gigi berjejal parah dan crossbite anterior. Kasus kedua: perempuan 18 tahun, mengeluhkan gigi berjejal, sulit dibersihkan dan gusi sering berdarah. Diagnosis: Maloklusi Angle klas I tipe skeletal klas I dengan bimaksiler retrusif dan bidental protrusif  gigi berjejal berat dan crossbite anterior. Pada kedua kasus dilakukan perawatan dengan alat ortodontik cekat teknik Begg, pada tahap pertama digunakan archwire diameter 0,014” dengan vertical loop untuk koreksi gigi malposisi berupa gigi berjejal, membuka dan menutup ruang gigi anterior dengan menggerakkan gigi ke arah mesiolabial dan labiolingual sehingga gigi berjejal dan crossbite anterior dapat terkoreksi. Hasil: Koreksi inklinasi gigi-gigi rahang atas dan bawah, overjet dan overbite dipertahankan, penutupan sisa ruang, koreksi aksial gigi-gigi dan perbaikan interdigitasi sesuai dengan oklusi normal. Kesimpulan dari penggunaan vertical loop pada perawatan ortodontik cekat dengan teknik Begg menunjukkan sangat efektif dalam mengoreksi gigi berjejal berat dan crossbite anterior.
Composite Flowable Fabricated (CFF) Sebagai Alternatif Bahan Pasak Gigi Paska Endodontik Fatmawati, Dwi Warna Aju
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali, menganalisis dan membandingkan pasak CCF (plastis) dengan pasak NiTi logam (rigid) sebagai alternatif pasak gigi paska perawatan endodontik yang biokompatibel. Penelitian ini menggunakan sampel elemen gigi insisif rahang atas yang telah disesuaikan dengan kriteria penelitian. Semua sampel gigi diberi perlakuan sesuai dengan kelompoknya. Prosedur kelompok pasak CCF yaitu dengan mengaplikasikan komposit flowable pada saluran akar gigi yang telah dilakukan pengambilan gutta-percha sedalam 2/3 panjang saluran akar dan menyisakan 1/3 gutta-percha di daerah apikal, sampai seluruh saluran akar dan ruang pulpa terisi penuh. Komposit flowable dilakukan penyinaran (curing LED) selama 20 detik. Perlakuan pada kelompok pasak NiTi sama seperti pada kelompok pasak CCF,bedanya pasak NiTi diinsersi menggunakan bahan luting semen ionomer kaca tipe 1. Selanjutnya semua sampel gigi baik yang prefabricated maupun fabricated dilakukan uji three bending point dengan pengaturan sesuai dengan standart ISO10477. Secara deskriptif nilai rerata kelompok pasak NiTi (stiffness = 115,30 N/mm; modulus elastisitas = 9,31 Gpa; flexural = 812 Gpa) lebih besar dari nilai rerata kelompok pasak CFF (stiffness = 35 N/mm; modulus elastisitas = 3,45 Gpa; flexural = 475,8 GPa) dan secara statistik hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antarapasak prefabricated (NiTi) dengan fabricated (CFF). Sehingga dapat disimpulkan bahwa walaupun secara deskriptif dan statistik ada perbedaan, namun bahan komposit flowable dapat dijadikan sebagai bahan pasak alternatif dan perlupenelitian lebih lanjut yang sesuai standar keberadaannya sebagai bahan pasak alternatif. ABSTRACT: Composite Flowable Fabricated (CFF) as Enddodontic Dental Post alternative. Composite Flowable Fabrcated (CFF). CFF is composite resin that viscous and plastic which used as material to enhance the retention and stability of post endodontic treatment and restoration materials. NiTi post is prefabricated post endodontic that the insertion needs luting material. This study was to explore, analyze, and compare CCF (plastic) and NiTi (rigid) postendodontic as alternative of post endodontic that is compatible. This study used element sample of maxillary incisive tooth. All of teeth sample was taken treatment that was appropriate with the groups. the procedure of CFF post group was to make application of flowable composite in root canal up to full that had been done taking of gutta percha as deep as 2/3 of root canal length and left 1/3 gutta percha in apical area. Flowable composite was cured by LEDfor 20 seconds. Treatment of NiTi post group was same with CCF post group, the different NiTi post was inserted using glass ionomer luting type 1. Furthermore all of tooth sample, prefabricated and fabricated, was tested by threebending point with ISO10477. The result showed that mean of NiTi post (stiffness= 115,30 N/mm; modulus elastisitas = 9,31 Gpa; flexural= 812 Gpa) was higher than CFF post (stiffness = 35 N/mm; modulus elastisitas = 3,45 Gpa; flexural= 475,8 GPa); and there was significant different between prefabricated (NiTi) dengan fabricated(CFF) post statistically. Although composite flowable can be used as alternative of post endodontic and needs further research that is suitable with standard of post materials.

Page 3 of 34 | Total Record : 331