Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 331 Documents
Pengaruh Ritma Circadian Terhadap Produksi Volatile Sulfur Compounds (VSC) Oral Supriatno, Supriatno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Volatile sulfur compounds (VSCs) oral dihasilkan dari produk putrifikasi mikroba gas hidrogen sulfida (H2S), metil merkaptan (CH3SH) dan dimetil sulfida [(CH3)2S] yang merupakan gas utama penyebab halitosis. Ritma circadian mempunyai pengaruh terhadap fungsi beberapa organ tubuh termasuk sekresi saliva, produksi hormon, fungsi sistem tubuh, dan aktivitas mikroorganisma. Penelitian bertujuan menguji pengaruh ritma circadian terhadap produksi VSC oral yang diukur menggunakan OralChroma portable. Penelitian dilakukan dengan mengukur gas VSC individu yang sama pada pagi, siang dan malam hari di laboratorium riset terpadu FKG UGM. Hasil pengukuran H2S, CH3SH dan (CH3)2S diuji menggunakan analisis statistik Anava dua jalur dilanjutkan uji LSD dan uji korelasi Pearson dengan derajat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat bermakna antara produksi gas H2S, CH3SH dan (CH3)2S dengan waktu pengukuran (efek circadian) (p=0,000). Perbedaan sangat bermakna diketahui pula pada pengukuran gas H2S dan (CH3)2S antara pagi, siang dan malam (p=0,01 dan p= 0,00), serta pengukuran gas CH3SH siang dan malam (p=0,006), tetapi tidak pada CH3SH pagi hari (p=0,061). Produksi gas H2S tertinggi diketahui pada pagi hari (mean 1,198 ng/10 ml, CH3SH pada malam hari (mean 0,099 ng/10 ml), dan (CH3)2S pada siang hari (mean 1,216 ng/10 ml). Kekuatan hubungan pengukuran antara ke tiga gas dengan efek circadian diketahui sebesar r=0,738. Disimpulkan bahwa ritma circadian berpengaruh terhadap produksi VSCs oral. Produksi gas H2S dan (CH3)2S berbeda antara pagi, siang dan malam hari, sedangkan produksi gas CH3SH berbeda hanya pengukuran siang dan malam hari. Produksi gas H2S tertinggi diketahui pada pagi hari, gas CH3SH pada malam hari, dan gas (CH3)2S pada siang hari. Maj Ked Gi. Juni 2013; 20(1): 14 - 20.ABSTRACT: The Effect Of Circadian Rhythm To Oral Volatile Sulfur Compounds Production. Oral volatile sulfur compound (VSC) is produced from microbial purification of hydrogen sulfide (H2S), methyl mercaptan (CH3SH) and dimethyl sulfide [(CH32S] gases. They are the main gases that cause halitosis. Circadian rhythm influenced the function of several organs of the human body including salivary secretion, hormone production, the body’s systems function, and activity of microorganisms.The purpose of this research is to examine the influence of circadian rhythm to oral VSC production measured by using a portable Oral Chroma. The research was carried-out by measuring the individual VSC gases in the morning, afternoon and evening at the integrated research laboratory, Faculty of Dentistry, UGM. Gases of H2S, CH3SH and (CH3)2S were tested by two-way ANOVA followed by Post-hoc LSD and Pearson correlation test with 95% significance level. The results showed the positive significant differences among the production of H2S, CH3SH and (CH3)2S with circadian time (p=0.000). Highly significant difference was also detected in amount of H2S and (CH3)2S gases in the morning, afternoon and evening (p=0.01 and p=0.00), as well as the amount of CH3SH gas in the afternoon and night (p=0.006), but not in amount of CH3SH gas in the morning (p=0.061). The highest production of H2S gas was known in the morning (mean 1.198 ng/10 ml), CH3SH gas was detected in the night (mean 0.099 ng/10 ml), and (CH3)2S gas was observed in the afternoon (mean 1.216 ng/10 ml). The strength of relationship among amount of three gases with circadian effects was r = 0.738. It is concluded that circadian rhythm markedly influences the production of oral VSCs. H2S and (CH3)2S gases production were significantly different among in the morning, afternoon and evening. However, amount of CH3SH gas production was significantly different only in the afternoon and the night. The highest gas production of H2S, CH3SH, and (CH3)2S was observed in the morning, in the night, and in the afternoon, respectively.
Perawatan Gigitan Terbuka Anteroposterior Tipe Skeletal dengan Teknik Straightwire Mandala, Vega; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigitan terbuka merupakan maloklusi yang bercirikan tidak terdapatnya tutup menutup gigi rahang atas dan bawah, dapat terjadi pada regio anterior maupun posterior dan dapat melibatkan dental maupun skeletal. Maloklusi ini memerlukan ketelitian dalam penentuan diagnosis dan perawatan untuk mendapatkan hasil perawatan yang baik dan kestabilan jangka panjang. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk menginformasikan manajemen pasien dengan gigitan terbuka tipe skeletal. Pasien pria berumur 19 tahun datang ke Klinik Ortodonsia FKG UGM dengan keluhan utama gigi depan yang tidak rata dan tidak dapat digunakan untuk menggigit. Pemeriksaan klinis menunjukkan pasien memiliki kebiasaan menelan dengan menjulurkan lidah. Pemeriksaan model studi menunjukkan maloklusi Angle kelas I dengan gigitan terbuka anterior dari regio premolar kedua kanan ke kiri sebesar 10,7 mm disertai malposisi gigi individual dan pergeseran garis tengah rahang bawah ke kiri. Pemeriksaan sefalometri menunjukkan relasi skeletal kelas II dengan retrusif bimaksila, rotasi mandibula searah jarum jam dan gigitan terbuka skeletal. Pasien menolak tindakan bedah ortognatik sehingga dilakukan perawatan ortodontik kamuflase. Perawatan diawali dengan latihan miofungsional untukmelatih cara penelanan yang benar dilanjutkan dengan perawatan ortodontik teknik straightwire dengan pencabutan empat gigi molar pertama. Penutupan gigitan terbuka menggunakan elastic box anterior. Hasil evaluasi menunjukkanpengurangan besar gigitan terbuka dari 10,7 mm menjadi 1,25 mm. Kesimpulannya elastic box anterior dapat digunakan untuk mengoreksi gigitan terbuka yang etiologinya melibatkan intrusi gigi anterior.  ABSTRACT: Skeletal Anteroposterior Open Bite Treatment with Straight Wire Technique. Open bite is a malocclusion with characteristic no overlapping between maxillar and mandibular teeth. This malocclusion may occur in anterior or posterior region and involved dental or skeletal. This malocclusion needed precise diagnosis and treatment to get a good treatment result and long term stability. The aim of this case report was to inform management of patient with skeletal open bite. A 19 years old male came to orthodontic clinic Faculty of Dentistry Gadjah Mada University with the chief complaint anterior crowding, and anterior teeth cannot be used to bite. Clinical finding showed patient hadtongue thrusting habit. Study model analysis showed class I Angle malocclusion with 10.7 mm anterior open bite from right second premolar to left second premolar, with individual teeth malposition and mandibular midline shifting to the left. Cephalometric finding showed class II skeletal relationship with bimaxillar retrusive, clockwise mandibular rotation and skeletal open bite. This patient refused orthognatic surgery, so he received camouflage orthodontic treatment. This treatment was started with monofunctional exercise to correct the swallowing action then continued with straight wire orthodontic treatment with four first molar extractions. Anterior box elastic was used to close the bite. Evaluation result showed open bite was decreased from 10.7 mm to 1.25 mm. The conclusion was anterior box elastic could be used in open bite correction that involved anterior teeth intrusion as an etiology.
Perawatan Maloklusi Klas III dengan Reverse Overjet Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Purwaningsih, Yohana Retno Wikandari; Ardhana, Wayan; Christnawati, Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi klas III true skeletal merupakan kasus yang sulit dirawat dan  mudah terjadi relaps. Perawatan ideal kasus ini memerlukan tindakan bedah, namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan maka dilakukan perawatan kamuflase. Reverse overjet, atau gigitan terbalik, tipikal mempunyai penyimpangan posisi insisivus atas dan bawah akibat malrelasi maksila dan atau mandibula. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan ortodontik kamuflase menggunakan teknik Begg pada maloklusi ini. Pasien perempuan umur 24 tahun mengeluhkan gigi depan berjejal dan tidak nyaman untuk mengunyah makanan. Diagnosis kasus adalah maloklusi Angle klas III, hubungan skeletal klas III dengan protrusif bimaksilar, incisivus atas dan bawah retrusif, pergeseran median line rahang atas ke kanan, disertai edge to edge bite anterior, cross bite posterior dan openbite posterior. Pasien dirawat dengan  pencabutan gigi premolar kedua atas,dan premolar pertama  bawah untuk mengatasi kondisi kasus tersebut. Kesimpulan dua tahun setelah perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, reverse overjet terkoreksi, edge to edge bite, cross bite dan openbite terkoreksi.ABSTRACT: Treatment of Class III malocclusion with Reverse Overjet using Orthodontic Begg Technique. A true skeletal class III malocclusion is a difficult case to be treated as it can get easily relap. The ideal treatment of this skeletal types requires a surgery, but if it is not possible, an orthodontic camouflage can be conducted. Reverse overjet typically has upper and lower incisor position deviation due to the mesial position of the mandible in relation to the maxilla.The purpose of this article is to present camouflage orthodontic treatment using Begg orthodontic technique in Class III malocclusion case with reverse overjet. A 24 year-old female patient complained about her front teeth crowding and uncomfortable mastication. From the diagnosis, there was true dento skeletal class III malocclusion with bimaxilary protrusion, bidental retrusion and edge to edge bite. The lower incisors were shifted to the right. The posterior teeth were crossbite and openbite. The patient were treated with extraction of the right upper second premolars and lower first premolars.After 2 years of treatment, it is concluded that the interinsisal angle decreases and the reverse overjet, the edge to edge bite, the crossbite and the openbite are corrected as well.
Perawatan Ulang Saluran Akar Insisivus Lateralis Kiri Maksila dengan Medikamen Kalsium Hidroksida-Chlorhexidine Ariani, Ni Gusti Ayu; Hadriyanto, Wignyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan terapi endodontik antara lain pembersihan dan membentuk saluran akar yang tidak sempurna dan obturasi tidak hermetis sehingga menyebabkan kurangnya kemampuan untuk menghilangkan mikroorganisme yang ada. Saluran akar yang terinfeksi membutuhkan suatu medikamen untuk menunjang keberhasilan dalam perawatan saluran akar.Kalsium hidroksida merupakan salah satu bahan medikamen yang efektif karena memiliki sifat antibakteri dengan spektrum luas, pH tinggi, biokompatibilitas baik, mampu menetralkan endotoksin bakteri, memiliki sifat toksik yang paling rendah, serta menstimulasi pembentukan jaringan keras. Tujuan laporan kasus untuk menunjukan keberhasilan perawatan ulang saluran akar gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan lesi periapikal menggunakan medikamen kalsium hidroksida- chlorhexidine. Pasien wanita umur 53 tahun, gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan lesi periapikal.Radiografi tampak obturasi kurang hermetis dan radiolusen daerah periapikal. Perawatan ulang saluran akar,diikuti pemasangan pasak fiber frefabricated dan restorasi porselin fuse metal.Keseimpulan setelah evaluasi setelah enam bulan pasca perawatan ulang saluran akar, radiografi menunjukan radiolusen mengecil dan gigi dapat berfungsi dengan normal.ABSTRACT: Re-Treatment of Root Canal of Maxillary Left Lateral Incisor with Calcium Hydroxide-Chlorhexidine Medicament. There are many factors that cause failure of endodontic therapy. For instances, incomplete cleaning and shaping of root canal and inadequate obturation that results in difficulty to remove the microorganisms. Infected root canal requires a medicament for the success of the root canal treatment. Calcium hydroxide is one of the effective ingredients as medicament because it has broad spectrum antibacterial properties, high pH, good biocompatibility, and it is able to neutralize bacterial endotoxins, decrease tissue toxicity, and stimulate the formation of hard tissue. The purpose of this case report is to show the success of root canal treatment of the left maxillary lateral incisor with periapical lesions using calcium hydroxide-chlorhexidine medicaments. The patient was a woman aged 53, complaining about her left maxillary lateral incisor with periapical lesion. Based on the radiographic evaluation, there was less hermetic obturation and a radiolucent in the periapical. Root canal re-treatment was continued with fiber prefabricated post and porcelain fused to metal crown. After six months of evaluation and endodontic retreatment, it is found that there is a decrease of radiolucency periapical lesion, and her teeth are able to function normally.
Rehabilitasi Prostetik Protesa Jari dengan Bahan Silikon Rtv untuk Mengembalikan Bentuk dan Estetik Subiantari, Ayu Agung; Wahyuningtyas, Endang; Mustiko D, Haryo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tangan memiliki fungsi utama untuk menggenggam dan meraba. Organ ini dipergunakan untuk sarana komunikasi penting yang menunjukkan bahasa tubuh dan kontak sosial. Amputasi pada jari atau sebagian jari tangan merupakan kasus yang paling sering dijumpai sebagai bentuk hilangnya sebagian tangan yang dapat menimbulkan dampak buruk secara fisik, psikologis, maupun kerugian secara ekonomi bagi individu. Rehabilitasi prostetik pada  amputasi jari menjadi pertimbangan ketika rekonstruksi mikro vaskular merupakan kontraindikasi atau perawatan mengalami kegagalan. Tujuan dari studi kasus ini adalah  mengkaji rehabilitasi prostetik protesa jari menggunakan bahan silikon RTV untuk mengembalikan bentuk dan estetik. Pasien telah menyetujui kasusnya dipublikasikan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Pasien laki- laki, 24 tahun datang dengan keluhan kehilangan sebagian jari telunjuk kanan . Riwayat trauma disebabkan oleh tangan kanannya tergilas mesin bubut 6 tahun yang lalu. Tatalaksana kasus : Anamnesa, pemeriksaan klinis, dan rehabilitasi prostetik protesa jari dengan ahan silikon RTV. Protesa jari dengan estetik yang baik dapat memberi dukungan psikologis terhadap pasien.ABSTRACT: Rehabilitation Finger Prosthesis with RTV Silicone to Restore Form and Esthetic. The hand has basic functions like grasping and feeling. It is a mean of communication and is of mayor importance for body language and social contact. Finger and partial finger amputations are some of the most frequently encountered forms of partial hand loss causing devastating physical, psychosocial and economic damage to an individual.  Prosthetic rehabilitation of amputed finger is considered when micro vascular reconstruction is contraindicated or unsuccessful. The purpose of  case study is to review rehabilitation finger prosthesis with RTV silicone to restore form and esthetic. Case : A 24 year old male patient with the complaint of the partially lost right index  He had a history of trauma to his right hand on a mechanical  lathe 6 years ago : History talking, clinical examination, rehabilitation finger prosthetic with silicon RTV. A well fabricated esthetic prosthesis can help in providing the patient with psycological support
Perawatan Maloklusi Kelas I Bimaksiler Protrusi disertai Gigi Berdesakan dan Pergeseran Midline menggunakan Teknik Begg Rahmawati, Erna; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi Angle kelas I  dengan bimaksiler protrusi merupakan maloklusi yang paling sering dijumpai. Kelainan yang banyak menyertai maloklusi kelas I bimaksiler protrusi adalah gigi depan berdesakan dan pergeseran midline.  Adanya persepsi negatif di masyarakat terhadap gigi dan bibir yang protrusi mendorong pasien untuk melakukan perawatan ortodontik. Perawatan pada kasus ini bertujuan untuk  mengurangi kecembungan wajah dengan meretraksi gigi anterior atas maupun bawah, mengoreksi midline rahang atas dan bawah serta gigi berdesakan anterior dengan perawatan ortodontik teknik Begg sehingga dapat memperbaiki estetik wajah.  Pasien wanita usia  34 tahun mengeluhkan gigi depan atas dan bawah sangat berdesakan dan pasien mengalami  kesulitan dalam menutup mulut. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle kelas I dengan bimaksiler protrusi disertai gigi berdesakan anterior, pergeseran midline rahang atas dan rahang bawah. Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawatan dilakukan pencabutan gigi premolar pertama rahang bawah kanan dan kiri dan rahang atas kanan. Pada rahang atas kiri dilakukan pencabutan gigi insisivus lateral yang berada diluar lengkung. Kesimpulan perawatan setelah 2 tahun terlihat bimaksiler protrusi, gigi berdesakan anterior dan midline terkoreksi.
Implant Gigi One-Piece vs Two-Pieces dalam Praktek Sehari-Hari Kurnia, Dian Lestari; Ramadhani, Amilia; Hudyono, Rikko
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini, implant merupakan pilihan terbaik untuk menggantikan gigi yang tanggal, akan tetapi prosedur pemasangannya terbilang rumit dan memerlukan prosedur bedah kedua untuk pemasangan prostetik. Beberapa komplikasi sepertiscrew patah atau longgar dan adanya celah mikro pada batas pertemuan implant dan abutment dapat menyebabkan kegagalan implant. Studi kasus ini bertujuan untuk membahas mengenai keuntungan dan kerugian desain implant gigi one-piece dan two-pieces. Kasus pertama, seorang wanita berusia 43 tahun datang untuk mendapatkan perawatan implant pada region 16. Ketinggian tulang alveolar yang tersedia adalah 5 mm. Prosedur pengangkatan dasar sinustransalveolar dilakukan dengan pemberian allograft sebanyak 0,5 cc dilanjutkan dengan pemasangan implant gigi one-piece sepanjang 12 mm. Kasus kedua, seorang wanita 24 tahun datang untuk mendapatkan perawatan implant pada regio 46. Ketinggian tulang alveolar yang tersedia adalah 12 mm, kemudian dilakukan pemasangan implant gigi two-pieces sepanjang 10 mm. Implant gigi one-piece menawarkan berbagai keunggulan yaitu: hanya diperlukan sekaliprosedur bedah dan prosedur prostetik lebih sederhana. Desain ini juga meniadakan celah mikro pada perbatasan implant dan abutment. Desain implant gigi one-piece memiliki keterbatasan pada pilihan prosedur prostetik apabila dibandingkan dengan desain implant gigi two-pieces. ABSTRACT: One-Piece Versus Two-pieces Tooth Implant In Daily Practice. Implant had been a gold standard to replace missing tooth. However, implant marketed today was considered complex, and needs a second surgery. Complications may occur such as screw loosening or fracture and the presence of micro gap at implant-abutment-junction that is found causing fixture failure. The one-piece-implant design may offer some advantages. Purpose: this paper was aimed to discuss the pros and cons of one-piece-implants and two-piece-implants. Case 1 A 43-year-old woman came to place an implant on #16. The available bone height was 5 mm. A trans alveolar sinus lift procedure was performed with 0,5 cc allograft. A 12 mm one-piece-implant was inserted. Case 2 A 24-year-old woman came to place an implant on #46. The available bone height was 12 mm and a 10 mm two-piece-implant was inserted. Discussion: One-piece-implant offers some advantage. It needs no second surgery, easier placement protocol, and more natural prosthetic procedures. The design is preventing the failure in implant-abutment-junction failure. The absence of micro gap in one-piece-implant seems superior in preventing crestal bone resorption. However, the prosthetic option was limited in one-piece-implant. Two-piece-implant offers more choices in prosthetic abutment. Conclusion: One-piece-implant was easier and provide simple protocol with limited choice on prosthetic.
Perawatan Ortodontik Gigitan Terbuka Anterior Zen, Yuniar
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan gigitan terbuka anterior telah lama dianggap sebagai tantangan bagi ortodontis. Prevalensi gigitan terbuka anterior antara 3,5% hingga 11% terdapat pada berbagai usia dan kelompok etnis, serta ada sekitar 17% pasien ortodonti memiliki gigitan terbuka. Stabilitas hasil perawatan gigitan terbuka anterior sangat sulit, karena adanya kombinasi diskrepansi anteroposterior dengan gigitan terbuka skeletal sehingga dibutuhkan tingkat keterampilan diagnosis dan klinis yang tinggi. Etiologi gigitan terbuka anterior sangat kompleks karena dapat melibatkan skeletal, dental, dan faktor-faktor habitual. Eliminasi faktor etiologi merupakan hal yang penting dalam perawatan gigitan terbuka anterior. Berbagai cara perawatan untuk koreksi gigitan terbuka anterior diantaranya bedah ortognatik dan perawatan ortodontik kamuflase, seperti high-pull headgear, chincup, bite blocks, alatfungsional, pencabutan gigi, multi-loop edgewise archwires dan mini implan. Stabilitas hasil perawatan adalah kriteria yang paling penting dalam menentukan cara perawatan gigitan terbuka anterior. ABSTRACT: Orthodontic Treatment of Anterior Open Bite. An anterior open bite therapy has long been considered a challenge to orthodontist. The prevalence of anterior openbite range from 3,5 % to 11% among various age and ethnic groups and it has been shown that approximately 17% of orthodontic patients have open bite. Stability of treatment result of anterior open bite with well-maintained results is difficult, because the combination of anteroposteriorly discrepancy with skeletal open bite requires the highest degree of diagnostic and clinical skill. The etiology is complex, potentially involving skeletal, dental and habitual factors. The importance of an anterior open bite therapy is to eliminate the cause of the open bite. Various treatment modalities for the correction of an anterior open bite have been proposed, orthognatic surgery and orthodontic camouflage treatment such as high-pull headgear, chin cup, bite blocks, functional appliances, extractions, multi-loop edgewise arch wires and mini implant. The stability is the most important criterion in deciding the treatment method for anterior open bite malocclusion.
Intrusi Berat dengan Keterlibatan Multipel Gigi Insisivus Maksila akibat Trauma pada Anak Priyatama, Andhika; Rahajoe, Poerwati Soetji; Rahardjo, Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trauma gigi anak merupakan kasus yang sering dijumpai. Intrusi gigi merupakan salah satu akibat trauma berupa perpindahan gigi ke dalam soket alveolaris. Intrusi gigi permanen anak dengan pertumbuhan akar sempurna perlu segera ditangani untuk menghindari kerusakan permanen gigi dan jaringan pendukung. Reposisi secara bedah dipilih dengan pertimbangan kondisi umum, lama kejadian, keparahan dislokasi, kondisi mahkota dan pertumbuhan akar. Tujuan laporan ini adalah melaporkan keberhasilan pembedahan pada kasus fraktur dentoalveolar dengan multipel gigi intrusi. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan gigi masuk ke langit-langit setelah terjatuh kurang lebih 30 menit sebelum kedatangan. Keadaan umum baik, compos mentis,  GCS 15, tanda vital normal, rasa sakit pada gigi atas (VAS = 7), tidak dicurigai cedera kepala atau trauma di tempat lain. Pemeriksaan klinis menunjukkan vulnus laceratum pada gingiva anterior maksila, empat gigi incisivus maksila (12,11, 21, 22) mengalami intrusi. Gigi insisivus sentral dan lateral kanan terlihat sepertiga mahkota, gigi insisivus sentral dan lateral kiri mahkota tidak tampak. Pemeriksaan radiografis menunjukkan intrusi gigi insisivus maksila dengan kedalaman lebih dari 7 milimeter, akar gigi telah tumbuh sempurna, dan tidak terdapat fraktur akar, fraktur mahkota maupun fraktur rahang. Tindakan yang dilakukan adalah reposisi gigi intrusi dan fiksasi interdental maksila. Perawatan bedah dan fiksasi interdental memberikan hasil yang sangat  baik. Hasil kontrol pasca perawatan didapatkan oklusi normal, pasien mampu membuka dan menutup mulut tanpa ada gangguan, gigi-gigi intrusi dalam kondisi vital, mastikasi normal, dan estetika baik.ABSTRACT: Severe Traumatic Intrusions of Multiple Maxillary Incisors In Children. Dental trauma is one of the most common traumas during childhood. The report will discuss about a treatment of multiple severe traumatically  intruded maxillary incisors in children. A 10-year-old boy came to Prof. Soedomo Dental Hospital with a complaint of teeth intrusion after having accident in school thirty minutes before. The patient was in good general condition, compos mentis, the GCS score was 15, vital sign was normal, pain on anterior maxillary teeth (VAS was 7), no head injury or other traumas. The clinical examination showed that there was vulnus laceratum on maxillary gingival, and intrusion of the four maxillary incisors (12, 11, 21, 22). Only one-third crown of the right maxillary incisors was visible, meanwhile, the crowns of the left maxillary incisors were totally invisible. The supporting radiographic examination showed that the four maxillary incisors was apically intruded with more than seven millimeters in depth. The teeth’s root were well-developed (complete root formation), no fractures of the teeth’s root, crown, and the jaw. The patient underwent intruded teeth repositioning surgical treatment and maxillary inter dental fixation. Clinical evaluation (1 month and 2 months) after the treatments showed that the occlusion was achieved as the same as before the trauma. The patient was able to open and close the mouth normally without functional impairments. Furthermore, the intruded teeth were in a vital condition, no mastication pain, and with a good aesthetics.
Perawatan Satu Kunjungan pada Premolar Pertama Atas Menggunakan Protaper Rotary dan Restorasi Resin Komposit Diana, Sherli
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preparasi kemomekanik pada saluran akar meliputi instrumentasi mekanis dan irigasi antibakteri yang secara prinsip dapat langsung mengeliminasi mikroorganisme pada sistem saluran akar. sejak diperkenalkan pada tahun 1988, instrumen rotary nikel-titanium (niti) telah digunakan secara umum dalam perawatan endodontik karena kemampuannya membentuk saluran akar dengan prosedur komplikasi yang minimal. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk memaparkan perawatan saluran akar satu kunjungan menggunakan protaper rotary dan restorasi resin komposit gigi premolar. Penderita pria 21 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo UGM Yogyakarta mengeluhkan gigi belakang atas kiri yang berlubang tapi tidak sakit dan pasien ingin  dirawat.Gigi  Premolar satu atas  kiri terdapat kavitas disto oklusal dengan pulpa terbuka. Pemeriksan objektif pada gigi 24 sondasi, perkusi, palpasi, dan tes termal menunjukkan hasil negatif.Pemeriksaan radiografis tidak terdapat lesi, lamina dura tidak terputus dan saluran akar jelas dan lurus. Pada kasus ini dilakukan perawatan saluran akar dengan menggunakan ProTaper rotary ( X-Smart, Dentsply). Pasca perawatan saluran akar, gigi premolar satu atas kiri dilakukan tumpatan resin komposit kelas II.Hasil evaluasi klinik saat kontrol tidak ada keluhan rasa sakit, pemeriksaan objektif juga tidak ada rasa sakit, warna gigi serasi dengan warna gigi tetangga.prognosis pada kasus ini baik dan tidak ada keluhan. Kesimpulan paska perawatan saluran akar satu kunjungan dengan instrumenrotary, tidak terdapat keluhan.Penggunaan Instrumen rotary Nikel-Titanium (NiTi) sangat flexible dengan prosedur komplikasi yang minimal, dan hemat waktu.ABSTRACT: One Visit Treatment of Upper Premolar Tooth Using Rotary Protaper and Composite Resin Restoration. Chemomechanical preparation for root canal including mechanic instrumentation and anti-bacterial irrigation principally could eliminate microorganisms in root canal system. Many instruments and techniques have been described and developed for initial root canal treatment. Since first established in 1988, nikel-titanium (NiTi) rotary instrument has been used for endodontic treatment because of its capability in forming the root canal with minimal complication procedure. Clinically, safe use of NiTi instrument and understanding of the alloy basic metallurgy including fracture mechanism and its correlation with root canal anatomy in order to set the safe use of NiTi instrument are required. This research will explain about biological principal of root canal preparation with correct technique and instrumentation system using NiTi. A 21 year-old patient in RSGM Prof. Soedomo UGM Yogyakarta complained about his left side upper jaw, posterior teeth with cavity, painless and the patient wanted to treat the teeth. The left maxilla first premolar teeth has a distooclussal cavity, open pulp. Based on the radiograph test, there found no lession, lamina dura was fine, and root canal was clear and straight. In this case, the patient was treated with crown down rotary X-Smart (Dentsply) technique for root canal treatment. After the root canal treatment had been conducted, the teeth were restorated with class II composite resin. After the treatment, it is found that there is no pain in the teeth, the colour of teeth match with others, and the prognosis for this case is good.

Page 2 of 34 | Total Record : 331