Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 3 (2017): December" : 8 Documents clear
Gambaran kualitas hidup pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di RSGM Unpad Melati, Cindy Annisa; Susilawati, Sri; Rikmasari, Rasmi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.17834

Abstract

Description of quality of life on elderly patients with removable denture at RSGM Unpad. The elderlies are prone to the process of the gradual decreasing ability of the tissue for self-healing. This process greatly affects the dental structure and periodontal tissue leading to tooth decay. When it is not properly treated, it may disturb oral functions and activities influencing their life quality. This research, therefore, aims to obtain the description of quality of life on elderly patients with removable denture at the Prosthodontic Clinic RSGM Unpad. Research was conducted with a descriptive method using the consecutive technique sampling method. Data were collected from 31 elderly patients with removable denture at the Prosthodontic Clinic RSGM Unpad and quality of life was measured by GOHAI questionnaire. The results showed that the dimensions of physical function fell into the adequate criteria, while the dimensions of pain and inconvenience and psychosocial aspects were considered good. It can be concluded that the general quality of life on elderly patients with removable denture at the Prosthodontic Clinic RSGM Unpad were good. ABSTRAKPada lansia terjadi suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri yang disebut proses menua. Proses tersebut berpengaruh terhadap gigi dan jaringan periodontal sehingga mengakibatkan kehilangan gigi. Jika kehilangan gigi tidak diberi perawatan dapat mengganggu fungsi dan aktivitas rongga mulut sehingga akan mempunyaidampak pada kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di Instalasi Prostodonsia RSGM Unpad. Jenis penelitian adalah deksriptif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik populasi terjangkau dengan minimal sampling. Data dikumpulkan dari 31 pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di Instalasi Prostodonsia RSGM Unpad. Kualitas hidup diukur dengan menggunakan kuesioner GOHAI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi fungsi fisik berada pada kriteria cukup, dimensi nyeri dan ketidaknyamanan berada pada kriteria baik dan dimensi aspek psikososial berada pada kriteria baik. Kesimpulan penelitian menunjukkan kualitas hidup pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di Instalasi Prostodonsia RSGM Unpad dikategorikan baik.
Perbandingan porselen kedokteran gigi swa-sintesis berbahan baku pasir felspar Pangaribuan dan Sukabumi Gunawan, Joseph; Taufik, Dede; Takarini, Veni; Hasratiningsih, Zulia
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.22936

Abstract

Comparison self-synthesized dental porcelain between feldspar from Pangaribuan and Sukabumi. Dental porcelain material as one of the esthetic indirect restorations in Indonesia is mostly imported. In fact, Indonesia is really rich of natural raw materials, including feldspar, silica, and kaolinite. The aim of this study is to synthesize the dental porcelain made from Indonesia’s two different originates, which are Pangaribuan and Sukabumi. This study was prepared by fritting and sintering the mixture of 65% wt feldspar (from Sukabumi and Pangaribuan), 25% wt silica, 5% wt kaolinite, and 5% wt potassium salt. The porcelains obtained were evaluated using X-Ray Diffraction (XRD). The results revealed that quartz and leucite were found in the composition of Pangaribuan sand that successfully showed more translucencies compared to Sukabumi sand which only imparted quartz on its component. This study shows that dental porcelain from Pangaribuan sand is successfully self-synthesized, on the other hand Sukabumi sand has not been successfully synthesized. These findings develop on a good prospect of esthetic dental porcelain made from Indonesian natural sand. ABSTRAKBahan porselen kedokteran gigi sebagai salah satu restorasi indirek estetik di Indonesia kebanyakan didatangkan dari luar negeri. Indonesia sebenarnya sangat kaya dengan bahan baku porselen kedokteran gigi seperti felspar, silika, dan kaolin. Tujuan penelitian ini adalah melakukan sintesis porselen kedokteran gigi dari 2 jenis pasir alam Indonesia yaitu Pangaribuan dan Sukabumi. Komposisi yang digunakan yaitu 65% wt felspar, 25% wt silika, 5% wt kaolin, dan 5% wt garam kalium, dicampur kemudian dilakukan fritting serta sintering. Dua komposisi porselen dibuat dengan bahan dasar berbeda yaitu felspar dari Pangaribuan dan Sukabumi. Kedua porselen yang telah disintering kemudian dievaluasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). Hasilnya adalah kuarsa dan leusit ditemukan pada porselen dengan komposisi pasir Pangaribuan yang juga memberikan hasil lebih translusen secara visual dibandingkan dengan porselen dengan komposisi pasir Sukabumi yang hanya memperlihatkan hasil kuarsa. Hal ini menunjukkan bahwa porselen dengan komposisi bahan dasar pasir Pangaribuan berhasil disintesis dibandingkan komposisi bahan dasar pasir Sukabumi.Penemuan ini dapat memberikan peluang yang baik dalam pembuatan porselen kedokteran gigi yang berasal dari pasir alam Indonesia. 
Campuran kitosan dengan resin akrilik sebagai bahan gigi tiruan penghambat Candida albicans Ismiyati, Titik; Siswomihardjo, Widowati; Soesatyo, Marsetyawan Heparis Nur Ekandaru; Rochmadi, R.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.23721

Abstract

The mixture of acrylic resin and chitosan as denture material to inhibit Candida albicans. The inhibition of Candida albicans in denture resin has an important role to prevent the development of denture stomatitis. Chitosan is a natural polymer compound derived from shrimp waste which can function as an antifungal Acrylik resin cannot be mixed with chitosan. To obtain a homogeneous mixture, the mixture was added a coupling agen acrylic acid and acetone. The research objective was to study the mixture of acrylic resin and chitosan with solvent acrylic acid and acetone as a denture that can inhibit the growth of Candida albicans. Methods: The samples used discs in 10 mm diameter and 2 mm thickness, made from heat cured acrylic resin mixed with chitosan dissolved in acrylat acid and acetone. They were divided into 4 groups. Group 1 was acrylic resin without chitosan as a control, group 2, 3 and 4 were the mixture of acrylic resin and 5 ml chitosan in 0.5%, 1%, and 2% concentration respectively. The fourier transform irfrared spectroscopy (FTIR) and the digital optical microscope were used to synthesize and analyze. The Kruskal Wallis was used to analyze the data. The results showed that the mixture of acrylic resin with chitosan significantly inhibited the growth of Candida albicans. Conclusion: a mixture of acrylic resins and chitosan can be fungistatic, so it can be developed as an antifungal denture material. ABSTRAKPenghambatan Candida albicans pada gigi tiruan resin akrilik dapat memainkan peran penting dalam mencegah perkembangan denture stomatitis. Kitosan adalah senyawa polimer alam yang berasal dari limbah udang yang dapat berfungsi sebagai antijamur. Resin akrilik tidak dapat bercampur dengan kitosan. Untuk mendapatkan campuran yang homogen, campuran tersebut ditambah coupling agent asam akrilat dan aseton. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji campuran resin akrilik dan kitosan dan asam akrilat pelarut aseton sebagai bahan gigi tiruan penghambat Candida albicans. Spesimen penelitian berbentuk cakram berdiameter 10 mm dan tebal 2 mm dibuat dari resin akrilik kuring panas (QC 20) dicampur dengan kitosan dari cangkang udang yang ditambahkan asam akrilat dalam pelarut aseton. Spesimen dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1 terdiri dari resin akrilik tanpa kitosan sebagai kontrol, sedangkan kelompok 2, 3, dan 4 terdiri dari campuran resin akrilik dengan kitosan 5 ml pada konsentrasi 0,5%, 1%, dan 2%, secara berurutan. Hasil campuran resin akrilik dengan kitosan dianalisis dengan menggunakan Fourier Transform Infrared spectroscopy (FTIR), dan digital mikroskop optik. Efek antijamur diuji dengan menggunakan metode dilusi. Data yang didapat dianalisis statistik dengan Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran resin akrilik dengan kitosan signifikan menghambat pertumbuhan Candida albicans. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa campuran resin akrilik dan kitosan dapat bersifat fungistatik, sehingga dapat dikembangkan sebagai bahan gigi tiruan antijamur.
Perbandingan hasil pengukuran pada citra Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dengan objek sesungguhnya Indias, Ratihana Nurul; Shantiningsih, Rurie Ratna; Widyaningrum, Rini; Mudjosemedi, Munakhir
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15240

Abstract

The distance comparison of Cone Beam Computed Tomography (CBCT) image with the real object. Dentist use radiographs to establish diagnosis, treatment plan, prognosis, as well as to evaluate patient’s treatment. Accurate anatomical dimension is a pivotal point in radiography, especially in the field of oral surgery and dental implant planning. The information about distortion in radiograph is very important to prevent any misdiagnosis and incorrect treatment plan. The purpose of this study was to compare the metal marker distance in CBCT image with the real measurement in dried mandibles. Samples in this study were 40 CBCT images of human dried mandibles, which were produced by using Volux 3D dental CT (Genoray, Korea, 60 kVp, 60 mAs, 10s). Horizontal, vertical, and oblique measurements on CBCT image were done by using Volux 3D dental CT software (GDP-1 software Triana). Themeasurement on CBCT image was compared with the real measurement by using Wilcoxon signed rank test. Image distortion was calculated by subtracting the metal marker distance obtained from CBCT images by the real distance obtained by a direct measurement on dried mandible. The distortion was expressed as a percentage. There were some significant differences (p<0.05) between metal marker distance on CBCT image with a direct measurement in dried mandibles, except oblique measurements on anterior mandibular body that was done without involving mandibular base. The maximal distortion on panoramic view of CBCT image in this study was 8%, and the distortion was different in each part of the mandible. ABSTRAKPemeriksaan radiografi diperlukan oleh dokter gigi untuk menetapkan diagnosis, rencana perawatan, prognosis, dan evaluasi hasil perawatan. Radiograf yang memiliki ketepatan dimensi anatomi diperlukan pada tindakan bedah dan pemasangan implan. Informasi mengenai distorsi hasil pengukuran pada radiograf diperlukan untuk mencegah kesalahan penetapan diagnosis dan rencana perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jarak metal marker pada pengukuran horizontal, vertikal, dan oblique citra Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dengan objek sesungguhnya pada preparat mandibula kering. Sampel penelitian berupa 40 citra CBCT preparat mandibula kering yang dihasilkan oleh mesin Volux 3D dental CT (Genoray, Korea) dengan menggunakan tegangan 60 kVp, kuatarus 60 mAs, dan waktu paparan 10 detik. Pengukuran pada citra CBCT dilakukan dengan mengukur jarak terjauh antara kedua metalmarker secara horizontal, vertikal, dan oblique menggunakan software Volux 3D dental CT (GDP-1 software Triana). Hasil pengukuran pada citra CBCT dibandingkan dengan hasil pengukuran pada preparat mandibula dan dianalisis dengan menggunakan wilcoxon signed rank test. Distorsi dihitung dari perubahan hasil pengukuran pada citra CBCT dibagi dengan ukuran sesungguhnya pada objek, dan dinyatakan dalam satuan persen (%). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara hasil pengukuran jarak metal marker pada citra CBCT dibandingkan dengan objek sesungguhnya pada preparat mandibula kering, kecuali hasil pengukuran oblique tanpamelibatkan basis mandibula di bagian anterior mandibula. Rerata distorsi tertinggi pada citra CBCT panoramic view sebesar 8%, dengan nilai distorsi yang berbeda pada setiap bagian mandibula.
Gambaran histopatologi penyembuhkan luka pencabutan gigi pada makrofag dan neovaskular dengan pemberian getah batang pisang ambon Budi, Hendrik Setia; Soesilowati, Pratiwi; Imanina, Zhafirah
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.17454

Abstract

Tooth extraction healing on macrophages and neovascular histopathology induced by ambonese banana stem sap gel. Blood clotting is very important in the early wound healing process. Blood clots will soon be filled with a connective tissue due to the induction of growth factors as granulation tissue. The expression of platelet derived growth factors (PDGF)-BB using the Ambonese banana stem sap gel (Musa paradisiaca var. sapientum) can increase the proliferation of fibroblasts. Macrophages and neovascular support in the early phase of healing. The purpose of this research was to demonstrate that Ambonese banana stem sap gel (GEGPA) can improve the macrophages and neovascular in the socket wound healing. Thirty six wistar rats were used and divided into 3 groups. The mandibular left incisor was extracted. The first group as control was given HPMC 4% gel on socket, the second group was given GEGPA 60%, and third group was given gelatin sponge. Rats were sacrificed on day 3 and 5 for histopathology examination of neovaskular and macrophages on the socket. The results showed that there was significantly different in the control group on a number of neovascular and macrophages in socket on day 3 (p<0.05). No significant difference on day 5 in all groups of neovascular and macrophages number (p>0.05). It was concluded that the use of GEGPA 60% acceleratedthe wound healing of tooth extraction socket by means of macrophages and neovascular increasing.ABSTRAKPembekuan darah sangat penting pada proses awal penyembuhan luka. Bekuan darah akan segera diisi oleh jaringan granulasi yang berasal dari induksi faktor pertumbuhan. Ekspresi platelet derived growth factors (PDGF)-BB yang diinduksi oleh pemberian gel ekstrak getah batang pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum) dapat menunjukkan terjadinya peningkatan proliferasi fibroblas. Makrofag dan neovaskular sangat menunjang fase awal penyembuhan. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa pemberian gel ekstrak getah batang pisang ambon (GEGPA) dapat meningkatkan jumlah makrofag dan neovaskular pada penyembuhan luka soket. Tikus strain Wistar sebanyak 36 ekor digunakan pada penelitian ini yang terbagi menjadi 3 kelompok. Semua tikus dilakukan pencabutan gigi pada insisive kirimandibula. Kelompok pertama sebagai kontrol, pada soket diberi gel hidroksipropil metil selulosa (HPMC) 4%, kelompok kedua diberi GEGPA 60%, dan kelompok ketiga diberi gelatin sponge. Tikus dikorbankan pada hari ke-3 dan 5 untuk pemeriksaan histopatologi neovaskular dan makrofag pada soket. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kelompok kontrol pada jumlah neovaskular dan makrofag soket pada hari ke-3 (p<0,05). Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada jumlah neovaskular dan makrofag hari ke-5 (p>0,05). Disimpulkan bahwa pemberian GEGPA 60% dapat mempercepat penyembukan luka pencabutan gigi melalui peningkatan jumlah makrofag dan neovaskular.
Pengaruh variasi berat polimer terhadap sifat fisik Patch NaF Fatmasari, Diyah; Ningtyas, Endah Aryati Eko; Subekti, Ani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.18121

Abstract

Influence of weight polymer variation towards sodium fluoride patch physical properties. Fluoride has been proven as a material for strengthen teeth. Many fluoride modalities are available nowadays, and the recent is sodium fluoride (NaF) patch which delivers fluoride via transdermal. No report was found about the physical properties of NaF patch based on polymer variation used. Research purpose was to find NaF patch with polymer variation which has good physical properties. Research design was quasy experimental with post test group research as research approach. Dependent variables included polymer variation and stored time; independent variable included patch thickness; resistance of folding; weight; drug content; percentage of moisture uptake and percentage loss on drying. NaF Patch manufacturing used solvent casting method the polymer PVA and PVP mixed in 2 ml aquabidest inwater bath until polymer dissolved; 100 mg of NaF mixed in 2 ml aquabi 0,1 ml oleic acid; 0,1 ml IPA mixed in glass tube and dissolved in 3,8 ml aquabidest. Three kinds of NaF patch with polymer variation were made. All materials were mixed in glass tube and stirred until dissolved, then pour into petry disc and allowed for 3 days until it dry. Research result showed a difference of physical properties among three NaF patch. Patch with variation PVP : PVA = 1 : 2 resulted in the best physical properties. Storing patch in aluminum foil did not cause any differences of physical properties. NaF patch with good polymer variation can be developed for further research. ABSTRAKFluorida sudah terbukti sebagai bahan untuk memperkuat permukaan gigi. Berbagai sediaan fluoride sudah banyak ditemukan. Sediaan fluoride yang terbaru adalah dalam bentuk plester yang melepaskan ion fluorida lewat kulit. Sediaan plester sodium fluorida (NaF) sudah ditemukan tetapi belum ada lapran mengenai sifat fisik plester berdasarkan variasi polimer yang digunakan. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan plester dengan variasi berat polimer yang menghasilkan sifat fisik yang baik. Desain penelitian adalah quasy experimental dengan post test groupresearch design sebagai rancangan penelitian. Variabel pengaruh adalah variasi polimer dan lama penyimpanan (1 dan 7 hari), variabel terpengaruh adalah ketebalan, daya tahan terhadap lipatan, berat, kandungan obat, persentase moisture uptake dan persentase loss on drying. Pembuatan plester NaF menggunakan solvent casting method PVA; PVP dipanaskan dalam water bath sampai polimer larut; NaF 100 mg diaduk dalam 2 ml aquabides; 0,1 ml asam oleat; 0,1 ml IPA dicampur menjadi satu dalam tabung kacadan dilarutkan dalam 3,8 ml aquabides. Dibuat 3 jenis plester NaF dengan konsentrasi polimer bervariasi. Semua bahan kemudian dicampur menjadi satu dalam tabung kaca dan diaduk sampai larut, dituang dalam cawan petri dan didiamkan selama ± 3 hari. Jika sudah kering maka matriks diambil dengan pisau khusus dan disimpan dalam alumunium foil sampai digunakan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan sifat fisik pada ke tiga jenis plester NaF. Plester dengan perbandingan PVP : PVA = 1 : 2 menghasilkan sifat fisik paling baik. Penyimpanan dalam alumunium foil tidak menyebabkan terjadinya perbedaan sifat fisik plester NaF. Plester NaF dengan variasi polimer yang baik dapat dikembangkan untuk penelitian selanjutnya. Perlu dikembangkan plester NaF dengan variasi polimer terbaik.
Aktivitas antibakteri ekstrak etanolik kulit batang jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) terhadap Staphylococcus aureus Harsini, H.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.17498

Abstract

Antibacterial activity of cashew stembark (Anacardium occidentale Linn) on Staphylococcus aureus. Microbial activity acts as a sign of disruption of bacterial growth. The bark of cashew (Anacardium occidentale Linn.) contains phenolic compounds such as flavonoids, tannins and anacardic acid which have an activity as antimicrobial. One of the Gram positivebacteria in the oral cavity was Staphylococcus aureus (S. aureus). The aim of the study was to observe the bacterial activity of ethanolic extract of the cashew to a metal ion, i.e. Ca2+ and K+ leakage from S aureus. This research used one ose bacteria S. aureus at a density of 106 standard Brown as much as 10 mL and centrifuged at a speed of 3500 rpm for 20 minutes. The filtrate discarded, pellets in the tube was washed using phosphate buffer pH 7.0. Furthermore the ethanolic extract of the bark of the cashew stembark was added in the concentrations of 3.5% and 7% without any extract as a control, each of which was in 5 tubes, incubated in an incubator for 24 hours. The suspension was centrifused with a speed of 3500 rpm for 20 minutes prior to be filtered. Supernatant liquid was taken and measured absorbance using AAS. Data were analyzed using one way Anova p = 0.05. The results showed that leakage of Ca2+ was  at concentrations of 0%, 3%, 5% and 7% were 2.42 ± 0.82; 32.87 ± 1.97; 49.10 ± 3.33; 66.73 ± 3.29, respectively while for the K+ metal was 15.28 ± 0.46; 606.36 ± 14.14; 895 ± 9.5; 1251 ± 11.54. Anova one way showed a significant effect (p <0.050) ethanolic extract of the bark of cashew against leakage of metal ions Ca2+ and K+ at S aureus bacteria. LSD test showed a significant difference among all treatment groups. It was concluded that there was antibacterial activity of ethanolic extract of the cashew stembark on bacteria S. aureus based on leakage of metal ions Ca2+ and K+ The highest leakage of metal ions was at the concentrations of 7%. ABSTRAKAktivitas antibakteri merupakan tanda terganggunya pertumbuhan bakteri. Kulit batang tanaman jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) mengandung senyawa fenolik seperti flavonoid dan tanin serta asam anakardat yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Salah satu bakteri gram positif dalam mulut yang patogen adalah Staphylococcus aureus (S.aureus). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri kulit batang jambu mete (anacardium occidentale Linn.) terhadap S.aureus yang ditandai dengan kebocoran ion logam. Penelitian menggunakan sebanyak 1 ose dengan kepadatan 106  CFL/mL disentrifuse dengan kecepatan 3500 rpm selama 20 menit. Filtrat dibuang, pellet dalam tabung dicuci menggunakan buffer fosfat pH 7,0. Ekstrak etanolik kulit batang jambu mete konsentrasi 3; 5 dan 7% serta tanpa ekstrak sebagai kontrol, masing-masing dalam 5 tabung, diinkubasi dalam inkubator goyang selama 24 jam. Suspensi kemudian disentrifuse dengan kecepatan 3500 rpm selama 20 menit lalu disaring. Cairan supernatan diambil diukur absorbansinya menggunakan AAS (Atomic absorption Spectroscopy). Data dianalisis menggunakan Anava satu jalur. Hasil menunjukkan kebocoran Ca2+ pada konsentrasi 0, 3, 5 dan 7% berturut-turut adalah 2,42 ± 0,82; 32,87 ± 1,97; 49,10 ± 3,3; 66,73 ± 3,29, sedangkan logam K+ adalah 15,28 ± 0,46; 606,36 ± 14,14; 895 ± 9,5; 1251 ± 11,54. Hasil analisis statistik Anava menunjukkan terdapat aktivitas antibakteri ekstrak etanolik kulit batang jambu mete. Hasil LSD menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antar seluruh kelompok perlakuan. Kesimpulan terdapat aktivitas antibakteri ekstrak etanolik kulit batang jambu mete terhadap S.aureus dilihat dari kebocoran ion logam Ca2+ and K+. Kebocoran tertinggi pada konsentrasi ekstrak 7%. 
Pendidikan dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan gigi tiruan lepasan Haryani, Wiworo; Purwati, Dwi Eni; Satrianingsih, S.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.26806

Abstract

Education and economic status with removable denturescare users’ obedience. Indonesian usually less maintains dental and oral hygiene increasing 24% in prevalence edentulousness. In oral health, especially to avoid disturbances occurring due to loss of the tooth, it would require the replacement of missing teeth with artificial teeth. Removable denture care users’ obedience is supported by the level of education and economic status. The aim of this study is to determine the correlation between education and economic status with removable denture care wearers’ obedience. This research used observational analytic survey method with cross sectional design. The research location is in Puskesmas Pembantu Tompeyan, Tegalrejo, Yogyakarta working area. The population covers all residents who meet the inclusion criteria which are in the age of more than 20 years old, have their own income, have the will to be respondents, and can work together. The research time was on September until November 2016. The sampling technique is using saturated sampling technique and the sample’s number are 43. The research instrument is removable denture care users’obedience questionnaire in the form of 10 statement checklists.The results of the research were respondents with college education level have the greatest obedience was 13 people (30.2%), while respondents with middle economic status having the biggest obedience were 10 people (23.3%). According to Kendalls Tau test results, this research has a significant relationship between level of education and removable denture care users’ obedience of (p=0.049) and economic status andremovable denture care users’ obedience of (p=0.004). It can be concluded that there is a relationship between level of education and economic status with removable denture care users’ obedience. ABSTRAKDalam kesehatan gigi dan mulut terutama untuk menghindari gangguan-gangguan yang dapat terjadi akibat kehilangan gigi tersebut, maka diperlukan penggantian gigi yang hilang dengan gigi tiruan. Kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan didukung oleh tingkat pendidikan dan status ekonomi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan. Metode penelitian ini menggunakan survei observasional dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas Pembantu Tompeyan, Tegalrejo, Yogyakarta. Populasi meliputi seluruh warga yang memenuhi kriteria inklusi yaitu berusia lebih dari 20 tahun dan menggunakan protesa, sudah memiliki penghasilan, bersedia menjadi responden dan bisa bekerja sama. Waktu penelitian pada bulan September sampai dengan November 2016. Teknik pengambilan sampel dengan teknik total sampling dan jumlah sampel ada 43. Instrumen penelitian adalah kuesioner kepatuhan perawatan gigi tiruan berupa checklist 10 pernyataan. Hasil penelitian menunjukkan responden dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi memiliki kepatuhan terbesar yaitu 13 orang (30,2%) sedangkan responden dengan status ekonomi sedang yang memiliki kepatuhan terbesar yaitu 10 orang (23,3%). Hasil uji Kendall’s Tau menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan (p=0,049) dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan (p=0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan kepatuhan perawatan pemakai gigi tiruan lepasan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8