Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : -     EISSN : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2017): August" : 8 Documents clear
Prevalensi periodontitis pada pasien diabetes mellitus (Studi observasional di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito) Sari, Rezmelia; Herawati, Dahlia; Nurcahyanti, Rizky; Wardani, Pramudita Kusuma
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11241

Abstract

Prevalence of periodontal diseases in patients with  diabetes mellitus (An observational study     at internal medicine polyclinic in  Dr.  Sardjito General Hospital). Diabetes Mellitus (DM) is a  chronic disease    with an increasing prevalence and causes complications. The most frequent complication found in the oral cavity of patients with diabetes mellitus is periodontal diseases is characterized by the loss of tissue attachment. There have been numerous studies on the association of DM with periodontal diseases but there has not been any data on the prevalence of periodontal diseases in diabetic group, especially in Yogyakarta and Central Java. Dr. Sardjito General Hospital is a referral hospital in DIY and Central Java, so this study is expected to provide a picture regarding the level of periodontal tissue health among people in Yogyakarta and Central Java. This research was an observational study, involving 36 patients with DM according to criteria of the subjects: suffering from type 2 diabetes, being cooperative  and willing to sign an informed consent. The controlled variables: being 40 – 60 years of age, having good oral hygiene (OHI) according to Green and Vermillion, taking neither antibiotics nor anti-inammatory drugs in the last 3 months, not having a history of other systemic diseases. Oral hygiene exams were carried out, followed by examination using probe WHO to determine if there is CAL. The data were presented descriptively. The results showed that the prevalence of periodontal diseases in patients with DM at Internal Medicine Polyclinic in Dr. Sardjito General Hospital is 88.24% with a mean of CAL distance of 4.6 mm. The conclusion of this study is that the prevalence of periodontal diseases in patients with DM is high although the oral hygiene status is good. ABSTRAKDiabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis menahun dengan prevalensi yang semakin meningkat dan menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang paling sering terjadi di rongga mulut pasien DM adalah periodontitis yang ditandai dengan kehilangan perlekatan jaringan. Penelitian tentang hubungan DM dengan periodontitis banyak dilakukan namun belum ditemukan data mengenai prevalensi periodontitis pada kelompok  DM  khususnya di DIY dan  Jawa Tengah.  RSUP Dr. Sardjito merupakan rumah sakit rujukan DIY dan Jawa Tengah sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran mengenai tingkat kesehatan jaringan periodontal di masyarakat DIY dan Jawa Tengah. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan melibatkan 36 orang pasien DM sesuai kriteria subjek yaitu menderita DM tipe II, kooperatif dan bersedia menandatangani informed consent. Variabel terkendali yaitu usia 40 – 60 tahun, kebersihan mulut (OHI) menurut Green and Vermillion dalam kriteria baik, tidak menggunakan antibiotik dan antiinamasi dalam 3 bulan terakhir dan tidak memiliki riwayat penyakit sistemik lain. Dilakukan pemeriksaan kebersihan mulut dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan probe WHO untuk menentukan ada tidaknya CAL. Data disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi periodontitis pada pasien DM di Poli Klinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito adalah 88,24% dengan rata-rata jarak CAL adalah 4,6 mm. Kesimpulan penelitian ini adalah prevalensi periodontitis pada pasien DM tinggi walaupun status kebersihan mulut tergolong dalam kriteria baik.
Plester sariawan efektif dalam mempercepat penyembuhan stomatitis aftosa rekuren dan ulkus traumatikus Amtha, Rahmi; Marcia, M; Aninda, Anggia Irma
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.22097

Abstract

Mouth ulcer plaster is effective in accelerating the healing of recurrent aphthous stomatitis and traumatic ulcers. Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is one of the most commonly occurring oral diseases. The prevalence of oral ulceration worldwide is 4%, with RAS having the largest proportion (25%). Recurrent aphthous stomatitis is oral ulceration which has a self-limiting disease, but the specific medication to reduce pain caused by lesion is still less varied nowadays. This study aimed to examine the differences in the effectiveness between topical application of hyaluronic acid (HA), mouth ulcer plaster (MUP) and 0.1% triamcinolone acetonide (TA) as a positive control in the healing of RAS and traumatic ulcers (TU). This was a quasi-experimental study by measuring the lesion diameter as well as visual analogue scale (VAS) pre- and post-administration of three types of medication. Kruskal-walis test results show that there are differences in effectiveness (p=0.000) of the three types of medication to cure RAS and TU. There are signicant differences in the reduction of RAS and TU lesion diameter (p = 0.015) and VAS (p = 0.038) with the use of HA and MUP on the 4th day. There is no signicant difference in effectiveness (diameter and VAS) of MUP and TA medication on the fourth day (p = 0.880 and p = 1.000 respectively). There is no signicant difference among HA, MUP and TA on the healing of the lesions on the seventh day (p>0.05). It can be concluded that the effectiveness of MUP is similar to that of topical medications containing corticosteroids in the healing of RAS and traumatic ulcers.ABSTRAKStomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan salah satu penyakit mulut yang paling umum terjadi. Prevalensi ulserasi mulut di seluruh dunia adalah 4%, dengan SAR menempati urutan terbesar yaitu 25%. Stomatitis aftosa rekuren merupakan ulserasi mulut yang memiliki self-limiting disease, namun sediaan obat yang spesifik untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan lesi sampai saat ini masih kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas antara aplikasi topikal asam hialuronat (AH), plester sariawan (PS) serta triamcinolone acetonide 0,1% (TA) sebagai kontrol positif dalam menyembuhkan SAR dan ulkus traumatikus (UT). Jenis penelitian eksperimental klinis kuasi dengan mengukur diameter lesi serta skala visual analog (VAS) pra dan paska pemberian tiga jenis obat. Hasil uji Kruskal-walis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitas (p=0,000) ketiga jenis obat terhadap penyembuhan SA dan UT. Terdapat perbedaan bermakna penurunan diameter lesi (p = 0,015) dan VAS (p = 0,038) SAR dan UT dengan penggunaan AH dan PS pada hari ke-4. Tidak ada perbedaan bermakna efektivitas (diameter dan VAS) obat PS dan TA pada hari ke-4 (p = 0,880 dan p = 1,000 secara berurutan). Tidak ada perbedaan bermakna antara masing-masing obat AH, PS dan TA terhadap penyembuhan lesi pada hari ke-7 (p >0,05). Kesimpulan efektivitas PS sama dengan obat topikal yang mengandung kortikosteroid dalam menyembuhkan stomatitis aftosa dan ulkus traumatikus.
Analisis radiograf periapikal menggunakan software ImageJ pada granuloma periapikal pada perawatan endodontik Thomas, Ali; Firman, Ria Noerianingsih; Azhari, A.
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.10472

Abstract

Analysis of periapical radiographs using ImageJ software on periapical granuloma in endodontic treatment. The assessment of the success rate of endodontic treatment on teeth with periapical granuloma is currently still using the conventional method, that is using a viewer as the tool which is then interpreted subjectively by dentist. This may lead to the possibility of signicant differences in the assessment between inter and intra-observers. The objective of this study was to demonstrate the differences in picture and the relationship of lesion size, and the number and size of trabecular particles on periapical granuloma cases before and after endodontic treatment with digitized periapical radiographs using ImageJ software. This study was conducted using observational analysis method. The sample  in this study consisted of 30 data before endodontic treatment and 30 data after endodontic treatment that had been digitized. The results of this study showed a decrease in the average size of periapical granuloma lesions from 16,400 ± 2.2924 mm2  to 13.860 ± 2.1250 mm2, an increase in the average number of particles from 70.167 ± 7.2258 to 99.733 ± 7.4089 and an increase in the particle size from 14.033 ± 1.4452 mm2 to 19.017 ± 1.4223 mm2. The conclusion of this study is that there are different pictures and relationship between the size of lesions, the number and size of trabecular particles in periapical granuloma cases before and after endodontic treatment through digitized periapical radiographs using ImageJ software.ABSTRAKPenilaian tingkat keberhasilan perawatan endodontik pada gigi yang mengalami granuloma periapikal, saat ini masih menggunakan metoda konvensional yaitu dengan menggunakan viewer sebagai alat bantu dan diinterpretasi secara subjektif oleh dokter gigi. Keadaan ini mengakibatkan peluang terjadinya perbedaan penilaian cukup besar secara inter dan intra-observer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan gambaran dan hubungan nilai luas lesi, jumlah dan luas partikel trabekula pada kasus granuloma periapikal sebelum dan sesudah perawatan endodontik melalui digitalisasi radiograf periapikal menggunakan software ImageJ. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis observasional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 30 data sebelum perawatan endodontik dan 30 data sesudah perawatan endodontik yang telah dilakukan digitalisasi. Hasil penelitian ini adalah terjadi penurunan rata-rata luas lesi granuloma periapikal dari 16.400 ± 2.2924 mm2 menjadi 13.860 ± 2.1250 mm2, peningkatan rata-rata jumlah partikel dari 70.167 ± 7.2258 menjadi 99.733 ± 7.4089 dan peningkatan luas partikel dari 14.033 ± 1.4452 mm2 menjadi 19.017 ± 1.4223 mm2. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan gambaran dan hubungan nilai luas lesi, jumlah dan luas partikel trabekula pada kasus granuloma periapikal sebelum dan sesudah perawatan endodontik melalui digitalisasi radiograf periapikal menggunakan software ImageJ.
Kekerasan mikro resin komposit packable dan bulkfill dengan kedalaman kavitas berbeda Ratih, Diatri Nari; Novitasari, Andina
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.22798

Abstract

Microhardness of packable and bulkfill composite resin with different cavity depths. Bulkfill composite resin restorations are increasingly popular because the material can be irradiated with a thickness reaching 4 mm, making it easier to apply. The objective of this study was to determine the differences in the microhardness between packable and bulkfill composite resin restorations with a cavity depth of 2 mm and 4 mm. This study was done using 32 Teon molds (5 mm diameter), and grouped randomly into 4 groups in which each consisted of 8 samples. Group 1A, packable composite resin was applied to the mold with a cavity depth of 2 mm. Group 1B, bulkfill composite resin was applied to the mold with a cavity depth of 2 mm. Group 2A, packable composite resin was applied with a depth of 4 mm. Group 2B, bulkfill composite resin was applied with a depth of 4 mm. Each sample was immersed in articial saliva with a pH of 6.8 and stored in an incubator at a temperature of 37°C for 24 hours. The hardness of each sample was tested using Vickers indenter microhardness tester. The data obtained were then analyzed by using two-way ANOVA, followed by Tukey’s test. The results showed that bulkfill composite resin with a cavity depth of 2 mm has the highest average of microhardness (31.09 ± 2.02 VHN), followed by packable composite resin with a depth of 2 mm (17.52 ± 1.25 VHN), bulkfill with a depth of 4 mm (11.97 ± 1.23 VHN) and packable with a depth of 4 mm (3.18 ± 0.85 VHN). The two-way ANOVA analysis showed that there are significant differences between the types of composite resin and cavity depths (p < 0.05), and there is interaction between the types of composite resin and cavity depth (p<0.05). In conclusion, the microhardness of packable composite resin is lower than that of bulkfill at a cavity depth of 2 and 4 mm. ABSTRAKRestorasi resin komposit dengan bulkfill semakin populer karena material tersebut dapat disinar dengan ketebalan sampai 4 mm, sehingga mudah diaplikasikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekerasan mikro restorasi resin komposit packable dan bulkfill dengan kedalaman kavitas 2 mm dan 4 mm. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 32 cetakan Teflon (diameter 5 mm), dan dikelompokkan secara random menjadi 4 kelompok yang masing-masing terdiri dari 8 sampel. Kelompok 1A, cetakan diaplikasikan resin komposit packable dengan kedalaman kavitas 2 mm. Kelompok 1B, diaplikasikan komposit bulkfill dengan kedalam 2 mm. Kelompok 2A, diaplikasikan komposit packable dengan kedalaman 4 mm. Kelompok 2B, diaplikasikan komposit bulkfill dengan kedalaman 4 mm. Setiap sampel direndam dalam saliva buatan dengan pH 6,8 dan disimpan dalam inkubator dengan suhu 37 °C selama 24 jam. Setiap sampel diuji kekerasannya menggunakan Vickers indenter microhardness tester. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dua jalur, dilanjutkan uji Tukey’s. Hasil penelitian menunjukkan resin komposit bulkfill dengan kedalaman kavitas 2 mm memiliki rerata kekerasan mikro tertinggi (31,09 ± 2,02 VHN), diikuti oleh resin komposit packable dengan kedalaman 2 mm (17,52 ± 1,25 VHN), bulkfill dengan kedalaman 4 mm (11,97 ± 1,23 VHN) dan packable dengan kedalaman 4 mm (3,18 ± 0,85 VHN). Analisis ANOVA dua jalur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara jenis resin komposit dan antara kedalaman kavitas (p < 0,05), serta terdapat interaksi antara jenis resin komposit dan kedalaman kavitas (p < 0,05). Kesimpulannya, kekerasan mikro resin komposit packable lebih rendah dibandingkan bulkfill baik pada kedalaman kavitas 2 dan 4 mm.
Penatalaksanaan emergensi pada trauma oromaksilofasial disertai fraktur basis kranii anterior Sastrawan, Agus Dwi; Sjamsudin, Endang; Faried, Ahmad
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.12606

Abstract

Emergency management of oromaxillofacial trauma with anterior cranial base fracture. Oromaxillofacial trauma with cranial base fracture is a case that is quite commonly found in the ER of Oral and Maxillofacial Surgery Department at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Emergency management aims to take any appropriate action, prevent complications, and consult to other departments involved. A man aged 28 years came with bleeding from the mouth due to a motorcycle accident approximately 6 hours before admission to the hospital. Physical examination showed facial asymmetry, bilateral periorbital edema and hematoma, rhinorrhea, and stitches in labiomental area. Intraoral examination showed maxillary, palatal, parasymphisis, dentoalveolar fractures, lacerated wound on the upper lip, lower lip, palate, gingival, difficulty in opening the mouth, and malocclusion of the teeth. Immediate and rapid surgical and maxillofacial surgical emergency was performed with minimal maxillary intervention, aiming to prevent persistent spontaneous cerebrospinal fluid leak, and prevent infection. The management of soft tissue and hard tissue injury is by reduction, fixation and immobilization of fractures, management of pain and administration of antibiotics. In conclusion, the emergency management of oromaxillofacial trauma with cranial base fracture is promptly and rapidly carried out with minimal intervention.ABSTRAKTrauma oromaksilofasial disertai fraktur basis kranii merupakan kasus yang cukup banyak ditemukan di Instalasi Gawat Darurat Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penatalaksanaan emergensi bertujuan untuk melakukan tindakan yang tepat, mencegah komplikasi, serta konsultasi kepada bagian lain yang terkait. Seorang laki- laki usia 28 tahun datang dengan keluhan perdarahan dari mulut akibat kecelakaan motor kurang lebih 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik ditemukan wajah asimetris, edema dan hematoma pada regio periorbita bilateral, terdapat rhinorrhea, serta bekas jahitan pada regio labiomental. Pemeriksaan intra oral tampak fraktur pada daerah maksila, palatum, parasimfisis, fraktur dentoalveolar, vulnus laserasi pada bibir atas, bibir bawah, palatum, gingiva, kesulitan membuka mulut, dan maloklusi gigi geligi. Tindakan emergensi bedah mulut dan maksilofasial dilakukan segera dan cepat dengan minimal intervensi pada rahang atas bertujuan untuk mencegah kebocoran cairan serebro spinal persisten, dan mencegah terjadinya infeksi. Manajemen luka jaringan lunak dan jaringan keras, melakukan reduksi, fiksasi dan imobilisasi fraktur, manajemen nyeri serta pemberian antibiotik. Penatalaksanaan emergensi pada trauma oromaksilofasial disertai fraktur basis kranii dilakukan segera dan cepat dengan minimal intervensi.
Efek antikaries ekstrak gambir pada tikus jantan galur wistar Puspa Dewi, Siti Rusdiana; Marlamsya, Dina Oktaviani; Bikarindrasari, Rini
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.17407

Abstract

Anti-caries effect of gambier extract on male wistar rats. Several previous studies have mentioned that gambir extract can inhibit the growth of Streptococcus mutans (S. mutans) because it contains active substances of catechins and tannins. The objective of this study was to explore the anti-caries effect of gambir extract on male Wistar rats. Thirty-six Wistar rats were inoculated with S. mutans, given cariogenic foods and divided into 4 groups according to the doses of gambir extract, namely 6 mg, 12 mg, 24 mg and placebo. After 60 days, the rats were euthanized, then the number of caries on the mesial or distal and occlusal surfaces was counted by using the Keyes’ method. The data were analyzed using Kruskal Wallis test. The results revealed that caries was found only in occlusal surfaces with an enamel depth. There is no significant difference among all the groups, so it can be concluded that gambir extract at 6 mg, 12 mg and 24 mg doses do not have anti-caries effect on the teeth of male Wistar rats. ABSTRAKBeberapa penelitian terdahulu mengatakan bahwa ekstrak gambir dapat menghambat pertumbuhan Steptococcus mutans (S. mutans) karena mengandung zat aktif katekin dan tanin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efek antikaries ekstrak gambir pada tikus jantan galur Wistar. Tiga puluh enam ekor tikus galur Wistar diinokulasi dengan S.  mutans, diberikan makanan kariogenik dan dibagi menjadi 4 kelompok, yakni, kelompok yang diberi dosis ekstrak gambir 6 mg, 12 mg, 24 mg dan plasebo. Setelah 60 hari, tikus di eutanasia, kemudian dihitung jumlah karies pada permukaan halus dan oklusal dengan menggunakan metode Keyes. Data dianalisa dengan menggunakan tes Kruskal Wallis. Hasil penelitian diketahui bahwa karies ditemukan hanya pada pemukaan oklusal dengan kedalaman email. Tidak ada perbedaan signifikan antar semua kelompok, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak gambir dengan dosis 6 mg, 12 mg dan 24 mg tidak memiliki efek antikaries pada gigi tikus jantan galur Wistar.
Pengaruh konsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L.) terhadap inflamasi gingiva pada pasien ortodonti cekat (kajian jumlah leukosit cairan sulkus gingiva) Prayitno, P.; Listyaningrum, Anggy Natya
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.11331

Abstract

Effect of taking mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L.) supplement on gingival inflammation in fixed orthodontic patients (A study of leukocyte count of gingival crevicular fluid). Patients with fixed orthodontic appliances have a high risk of gingival inflammation. Gingival inflammation is characterized by an increase in leukocyte count of gingival crevicular fluid resulting in proinflammatory cytokines that are capable of damaging the gingival tissue. Mangosteen peel (Garcinia mangostana L) contains xantone which has anti-inflammatory properties. The objective of this study was to determine the effect of consuming mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L) supplement on gingival inflammation in patients with fixed orthodontic by studying the leukocyte counts of gingival crevicularuid. Twenty patients with fixed orthodontic appliances were divided into two groups: 10 subjects in the control group and 10 subjects in the treatment group. They were selected based on the following criteria: age 18-24 years, suffering from mild to moderate gingivitis, and using fixed orthodontic appliances in the final phase. The subjects in both groups underwent initial therapy in the form of scaling, then the subjects in the treatment group took 2 capsules of mangosteen peel extract supplements three times a day for seven days. The sampling of gingival crevicular fluid of both groups was taken on day 0 and 8 in the lower anterior region, that is 3 samples of gingival crevicular fluid per subject. Leukocytes were seen from the results of staining with Turk’s reagents through microscope with a magnification of 400 times. The average leukocyte counts were analyzed using Pair T-test and Independent Sample T-test. The results showed that taking mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L) supplements has significant effect on the decrease in leukocyte counts of gingival crevicular fluids (p<0.05). The conclusion of this study is the consumption of mangosteen peel extract (Garcinia mangostana L) supplement signicantly influences the reduction of gingival inflammation in patients with fixed orthodontic appliances, evident from the decline in the leukocyte counts of gingival crevicular fluids. ABSTRAKPasien pemakai ortodonti cekat memiliki resiko tinggi mengalami inflamasi gingiva. Inflamasi gingiva ditandai dengan meningkatnya jumlah leukosit cairan sulkus gingiva yang menghasilkan sitokin proinflamasi yang mampu merusak jaringan gingiva. Kulit manggis (Garcinia mangostana L) mengandung xantone yang memiliki sifat antiinflamasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostanaL) terhadap inflamasi gingiva pada pasien ortodonti cekat dengan kajian jumlah leukosit pada cairan sulkus gingiva. Dua puluh pasien ortodonti cekat dibagi menjadi dua kelompok, 10 subjek pada kelompok kontrol dan 10 subjek pada kelompok perlakuan yang diseleksi berdasarkan kriteria: usia 18-24 tahun, menderita gingivitis ringan hingga sedang, dan menggunakan alat ortodonti cekat pada fase akhir. Subjek pada kedua kelompok dilakukan initial therapy berupa scaling, kemudian subjek pada kelompok perlakuan mengkonsumsi suplemen ekstrak kulit manggis 2 kapsul 3 kali sehari selama 7 hari. Pengambilan sampel cairan sulkus gingiva kedua kelompok dilakukan pada hari ke-0 dan ke-8 pada regio anterior bawah sebanyak 3 sampel cairan sulkus gingiva tiap subjek. Leukosit dilihat dari hasil pewarnaan reagen Turk melalui mikroskop dengan perbesaran 400 kali. Hasil rerata jumlah leukosit dianalisis menggunakan uji Pair T-test dan uji Independent Sample T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L) berpengaruh terhadap penurunan jumlah leukosit  cairan sulkus  gingiva secara signifikan  (p < 0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsumsi suplemen ekstrak kulit manggis (Garcinia mangostana L) berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan inflamasi gingiva pada pasien ortodonti cekat dilihat dari penurunan jumlah leukosit cairan sulkus gingivanya.
Hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori pada lansia penghuni Panti Sosial Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi Kota Bandung Sari, Kartika Indah; Darjan, Murnisari; Rakhmilla, Lulu Eva
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.15497

Abstract

Correlation between tooth loss and cognitive and memory function in elderly residents at Social Home Tresna Werdha (PTSW) Senjarawi, Bandung City. Tooth loss is reported to be linked with Alzheimer’s disease and dementia. This study aimed to identify the correlation between tooth loss, cognitive and memory functions examined using a MMSE (mini-mental state examination) test to the elderly residents at Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi, Bandung. The research method used cross sectional design. The sampling was selected using concecutive sampling technique. The sample was selected according to the inclusion criteria including physical health (marked by their ability to perform daily activities independently) and ability to communicate well, at least 60 years of age, and independent. The results of the examination on 19 elderly people consisting of 12 females and 7 males showed that the research subjects fall in the category of having a decline in their cognitive and memory function, that is at the average age (75.89; 76.32), education level of elementary school (66.7%; 77.8%), female (41.7%; 66.7%), physical activity in the form of light exercise (50%; 66.7%) and having hypertension (58.3%; 75%), having musculoskeletal disorder (50%; 75%). Pearson chi-square test showed that there is no signicant correlation between tooth loss and cognitive function p = 1.318 (p > 0.05). Similarly, Pearson chi-square test of p = 0.333 (p> 0.05) indicates that there is signicant correlation between tooth loss and memory function. It can be concluded that there is a tendency of a decline in both cognitive function and memory function in tooth loss, but this is not evident statistically. Future research involving a larger number of samples is needed to obtain homogeneous and well-distributed data.ABSTRAKKehilangan gigi dilaporkan berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan demensia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi dan fungsi memori yang diperiksa menggunakan lembar MMSE (mini mental state examination) pada lansia di Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel concecutive sampling. Sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi meliputi sehat fisik (yang ditandai dengan dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri) dan mampu berkomunikasi dengan baik, usia minimal 60 tahun, dan mandiri. Hasil pemeriksaan pada 19 orang lansia yang terdiri dari 12 orang wanita dan 7 orang laki-laki menemukan karakteristik subjek penelitian pada kelompok penurunan fungsi kognisi dan penurunan fungsi memori yaitu usia rata-rata (75,89; 76,32), tingkat pendidikan SD (66,7%; 77,8%), jenis kelamin perempuan (41,7%; 66,7%), aktivitas fisik berupa olahraga ringan (50%; 66,7%) dan penyakit yang diderita berupa hipertensi (58,3%; 75%), penyakit muskuloskeletal (50%; 75%). Melalui uji Pearson chi square tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi kognisi p = 1,318 (p>0,05). Begitu pula melalui uji Pearson chi square, p= 0,333 (p>0,05) dapat dijelaskan bahwa tidak terlihat hubungan yang signifikan antara kehilangan gigi dengan fungsi memori. Simpulan terdapat kecenderungan penurunan fungsi kognisi dan fungsi memori pada kehilangan gigi, namun hal ini secara statistik tidak terlihat korelasi yang signifikan. Penelitian lanjutan diperlukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak sehingga diperoleh data yang homogen dan terdistribusi dengan baik.

Page 1 of 1 | Total Record : 8